Minggu, 24 Agustus 2014

Review 2014# 47: Max Havelaar


Penulis: Multatuli
Penerjemah: Inggrid Dwijani  Nimpoeno
Penyunting: Susanti Priyandari
ISBN: 978-602-1637-45-6
Halaman: 480
Penerbit: Qanita

Membaca buku  Max Havelaar mungkin belum banyak dilakukan orang, Tapi minimal ada yang pernah mendengar atau membaca  bahkan menonton  kisah tentang Saidjah dan Adinda, yang merupakan bagian dari  buku ini.

Kisah ini ditulis  oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten  Residen Banten Kidul/Banten Selatan (penduduk pribumi menyebuknya Lebak), pada abad ke-19. Ia menggantikan petugas sebelumnya yang meninggal terbunuh. Sebelumnya, Havelaar bertugas sebagai Asisten Residen di Natal (sekarang masuk Provinsi Sumatra Utara). 

Meski merupakan pejabat pemerintah namun ia menentang sistem tanam paksa. Sistem tanam paksa yang diterapkan oleh pemerintah Belanda mengusik hatu nuraninya. Menurutnya sistem tersebut membuat pribumi menderita. Penindasan. Pengalaman selama di Sumatra serta pengamatannya di Banten diceritakan kembali dengan mempergunakan nama Multatuli.

Nama pena Multatuli diartikan sebagai aku yang menderita. Hal tersebut dipakai karena ia meneriakan penderitaan rakyat. Penyebab rakyat menderita tidak saja karena pemerintah Belanda tapi juga karena sifat arogansi para pejabat pribumi yang kurup.Pemerintah Belanda bukan tidak mengetahui hal tersebut. Mereka lebih bersikap menfaatkan kelakuan para penguasa setempat bagi kepentingan pemerintah. 

"Di setiap departemen, asisren residen dibantu oleh seorang pejabat pribumi berkedudukan tinggi yang bergelar "bupati". Bupati walaupun hubungannya dengan pemerintah dan departemennya adalah sebagai pejabat bayaran; selalu berasal dari golongan bangsawan tinggi di daerahnya, dan sering kali dari keluarga pangeran yang telah menerintah wilayah itu atau daerah sekitarnya sebagai penguasa independen. Politik Belanda memang menanfaatkan pengaruh feodal kuno pangeran-pangeran, yang di Asia pada umumnya sangat besar dan dipandang oleh sebagian besar suku sebagai bagian dari agama mereka." (halaman 81)

Pendapatan pembesar Jawa juga tergantung dari empat hal yang secara tidak langsung membuat Belanda bisa campur tangan. Pertama mereka mendapat upah bulanan; kedua sejumlah tetap penggantian pembelian hak-hak mereka oleh pemerintah Belanda; ketiga premi dari hasil produksi kabupaten mereka; terakhir penggunaan tenaga dan harta rakyat mereka secara sewenang-wenang.

Unsur keempat yang paling menonjol dalam kisah Saidjah dan Adinda. Dengan semena-mena penguasa merebut kerbau yang dipergunakan untuk membajak sawah. Keluarga keduanya memang hanya rakyat biasa. Menolak membuat mereka dihukum, membiarkan sawah tanpa kerbau akan membuat mereka tidak bisa memanen tanaman yang wajib ditanam. Serba salah.

Bagian  dari buku yang memuat drama tentang Saijah dan Adinda merupakan yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung. Konon film tersebut tidak diperbolehkan untuk ditayangkan di Indonesia sampai tahun 1987.

Kisah Saidjah dan Adinda pertama kali saya baca melalui sebuah cergam anak-anak. Sebagai seorang anak berusia 9 tahun membaca kisah tersebut membuat saya berada dalam persimpangan bathin. Di sisi yang lain saya bersyukur karena berada dalam keluarga yang tidak harus menderita, jika hidup di zaman itu. Tapi, sisi lain membuat saya malu. Sungguh memalukan kelakuan kaum saya pada zaman itu. Menindas rakyat yang seharusnya kita bela, mengikuti petuah Eyang saya. 
.Secara garis besar buku ini sangat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah perjuangan bangsa dan bagaimana kehidupan masyarakat kita pada zaman tanam paksa. Khususnya masyarakat di daerah Lebak. 

Bahasa yang dipergunakan juga mudah dicerna namun menyentuh. Penerjemah sudah sangat berhasil memilih kata yang tepat. Saya yang tidak menyukai kisah sejarah bisa memahami apa yang dipaparkan. Di lain saat begitu  terhanyut akan amarah dan kepedihan ketika membaca sebuah bagian.

Misalnya  halaman 397 yang mengisahkan saat Saidjah bergabung dengan lelaki Badur, bukan untuk bertempur melawan Belanda tapi mencari Adinda belahan jiwanya. "Dia berkeliaran seperti hantu di antara rumah-rumah yang belum terbakar, dan menemukan mayat ayah Adinda dengan luka bayonet di dada. Di dekatnya Saidjah melihat tiga adik laki-laki Adinda yang terbunuh, masih muda-masih anak-anak. Sedikit lebih jauh lagi tergeletak mayat Adinda, teraniaya secara mengerikan... Secarik kecil kain biru menembus luka menganga di dadanya, luka yang tampaknya mengakhiri pergulatan panjang...

Hanya butuh satu bulan untuk menuntaskan buku ini. Judul asli buku ini adalah Max Havelaar of de Koffijveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappj diterjemahkan menjadi Max Havelaar Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda. Sejak  diterbitkan pada tahun 1860, kisah ini telah diterjemahkan dalam banyak bahasa. HB. Jassin menerjemahkan karya ini dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia pertama kali tahun 1972.

Bagi yang ingin mengetahui tentang kisah ini, silahkan mengunjungi http://readingmultatuli.blogspot.com/2011/05/oleh-ragil-nugroho-1-sastra-yang.html

...
Nanti bangkehku di liat bidari,
Pada saudarah menunjuk jari,
Liat di lupa seoraang mati,
Mulutnya kaku cium bunga melati,
"Mari kit 'angkat ia di saorga,

"Nyang sampeh matti nanti Adinda
"Jangan sungoh tingal di situ
"Nyang punya hati cinta begitu".-
Dan seklali mulutku buka
Panggil Adinda nyang hatiku suka;
Cium lagi sekali melati bunga
Dia nyang kassi-Upi Adinda!
(Lampiran 2 dari buku)

Sumber Gambar:
http://id.wikipedia.org/wiki/Max_Havelaar
http://engkongyudo.wordpress.com/2012/02/26/max-havelaar-sebagai-bentuk-komunikasi-politik/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar