Kamis, 21 Agustus 2014

Review 2014 # 44: Kidung Saka Bandungan


Penulis: Rini Tri Puspohardini

Penerjemah: Sosiawan Leak
ISBN-10: 9791853398 
ISBN-13: 9789791853392
Halaman: 128
Penerbit: Elmatera Publishing
Harga: Rp.20.000

Kidung:
1 nyanyian, lagu (syair yg dinyanyikan);
2 puisi; me·ngi·dung v bersenandung dng kidung; bernyanyi; me·ngi·dung·kan v mengidung;
ki·dung·an n nyanyian yg bersifat lirik (yg melukiskan suatu perasaan): dialog-dialognya dilakukan dng ~ (http://artikata.com/arti-335141-kidung.html)

Kidung adalah hasil karya sastra jaman Jawa Pertengahan (Majapahit akhir), menggunakan bahasa Jawa Tengahan, bentuknya tembang, baik nama maupun metrum yang dianut seperti halnya Tembang Macapat. 

Metrum adalah sebuah istilah dalam ilmu kesusastraan yang mendeskripsikan pola bahasa dalam sebuah baris puisi. 

Sementara Bandungan adalah nama sebuah Desa di Kecamatan Bandunan, Kabupaten Semarang. Bandungan memiliki luas wilayah 434,335 Km2. Suasana di sana sangat sejuk. Sebuah  obyek wisata yang cukup terkenal yaitu Candi Gedongsongo. 
 
Candi Gedong Songo terletak di
Desa Candi, Bandungan, Semaran
g
Asal nama Bandungan memiliki cerita sendiri. Dikisahkan dari Pasutri K. Sanggem yang memperoleh wangsit untuk mencari sumur di lereng   Gunung Ungaran, yaitu sumur yang airnya mengalir seperti sungai agar dia dapat memiliki anak. Setelah sumur ditemukan dan dia memiliki banyak anak, lalu dia mendapatkan wangsit lagi untuk menutup (membendung) sumur tersebut agar tidak menyebabkan malapetaka bagi kampong dibawahnya, dengan konsekuensi di desanya tidak akan ada sumber mata air dan akhirnya sumur tersebut di tutup dengan gong. Desa tersebut akhirnya di kenal dengan Bandungan (bendungan). Makam Kyai Sanggem berada di belakang Kantor Kecamatan Bandungan. Bagi Penggemar karya Nh. Dini pasti mengenai sebuah buku yang juga menyebutkan Bandungan.

Lalu apa hubungan antara Kidung dan Bandungan? Rini Tri Puspohardin dengan manisnya membuat sebuah buku dengan judul Kidung Saka Bandungan. Buku setebal 128 halaman ini memuat 48 coretan beliau sejak tahu 2002 hingga 2011. 

Bukan rentang waktu yang singkat, tapi secara pribadi yakin diantara waktu yang berlalu banyak karya yang dihasilkan. Sementara yang berada dalam buku ini hanya merupakan sebagian kecil saja dari karya-karya yang lain.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa karya Rini Tri Puspohardin merupakan guritan.  Geguritan, berasal dari  bahasa Jawa Tengahan merupakan bentuk puisi yang berkembang di kalangan penutur  Jawa dan Bali. Geguritan  berasal dari kata dasar: gurit, berarti "tatahan", "coretan" . Sedangkan dalam kamus Bali-Indonesia berasal dari kata “gurit artinya gubah, karang, sadur. Sementara dalam Kamus Umum Indonesia dijelaskan “geguritan itu berasal dari kata gurit artinya sajak atau syair. Secara sederhana Geguritan itu puisi berbahasa jawa.  Cara membaca dan menuliskannya  tidak jauh berbeda dengan membaca puisi.

Dalam Kidung Saka Bandungan kita bisa menemukan aneka tema. Dari rasa seputar cinta , binatang dalam Kucing Rembes, hingga sosial. Rasa amarah, semangat dan juga mendambakan sesuatu terungkap dengan lugas dalam rangkaian kata dalam buku ini. Beberapa perbandingan akan suatu keadaan atau hal memberi nuansa tersendiri dalam karyanya. 

Karya yang paling saya suka adalah  Mantra Layung dibuat pada tahun 2003. Berikut isinya:
daksambat lekasing ngaurip
       kakang kawah adhi ariari
       sedulur papat lima pancer
       rilanana kadangmu munggah akasa
       ngupado jatining suksma

asu mbaung tengah wengi
kaya aweh tengara sinandi
wektune nyebar kembang mlati
kareben nganthi jiwaku
ngawiyat sumusul langit biru

akh
aku gumeter
nyipati peteng kang limeng
kekitrang ing suwung
ijen tanpa rowang
ngenteni Yama mapag tekaku

ora!!

iki dudu dalanku
iki dudu papanku
najan donyaku ketaman lindhu
omahku kebak lebu

isih ana wektu
ngresiki jember kang isih mbader
      : aku kudu bali
Gusti
apuranen pepasing atiku
mantra layung
wurung daklakoni

Membaca bait-bait di atas awalnya saya tertawa. Bukan! Bukan mentertawakan isi namun selama ini saya lebih mengenal bahasa Jawa lisan bukan tulisan. Sehingga saat melafalkan tulisan di atas menjadi agak aneh. Apalagi ada huruf "e" ( dulu kata guru saya namanya  pepet dan taling) dibaca berbeda walau penulisan sama. Baru setelah dibaca untuk kedua kalinya saya bisa menikmati pesan yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Tidak mengerti artinya? Jangan kuatir berikut terjemahannya

MANTRA KEMATIAN


     kakang kawah adhi ari-ari
saudara empat arah, yang kelima inti
relakan saudaramu terbang ke angkasa
memburu sukma sejati

anjing melolong malam hari
serupa memberi tanda terbungkus sandi
sudah waktu menebar kembang melati
agar gandeng jiwaku
menyusul menuju langit biru

ah,..aku gemetar
menemu gelap nan pekat
galau dalam kekosongan
sendiri tanpa teman
menunggu Yama* menjemput kedatanganku

tidak!
bukan ini jalanku
bukan ini tempatku
meski diterjang gempa, bumiku
penuh debu, rumahku

nasih ada waktu
membersihkan kotoran yang memabukkan
:aku musti kembali
Gusti
ampuni lunglai hati
mantra kematian
urung kulakoni (ini memang tidak diterjemahkan apa terlupa?)

Menyentuh bukan?


Saya tidak secanggih itu hingga mampu penerjemahkan sebuah teks ke bahasa Indonesia namun tetap membuat pesan dan kata yang disampaikan mengena.

Membaca Mantra Kematian membuat bulu kuduk saya berdiri. Penulis seakan sedang mempertimbangkan apakah akan pasrah  menunggu  Dewa Yama menjalankan tugasnya atau bangkit dan kembali bersemangat menjalani kehidupan.


Ternyata tidak hanya saya yang menyukai Mantra Layung. Sebuah tulisa di dunia maya menyebutkan tentang analisis Mantra Mayang berdasarkan teori simbolisme. “Geguritan “Mantra Layung” karya Rini Tri Puspohardini apabila diananlisis berdasarkan teori simbolisme yang menekankan pada kombinasi bunyi baik bunyi vokal maupun konsonan yang disusun sedemikian rupa. Dari bunyi-bunyi tersebut kemudian dapat mengalir perasaan, imaji-imaji dalam pikiran atau pengalaman-pengalaman jiwa pendengar atau pembacanya.” Lebih lengkap bisa dibaca di http://ainia79.blogspot.com/2013/05/analisis-geguritan-mantra-layung-karya.html
 
Keunikan dari buku ini adalah dibuat dalam dua bahasa. Pertama dalam bahasa Jawa dan ditutup dengan menyertakan biodata sang penulis. Lalu jika dibalik, maka kita akan menemukan versi bahasa Indonesia yang diterjemahkan dengan apik oleh Sosiawan Leak. Batas buku yang memuat versi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia adalah biodata keduanya yang dicetak diatas kertas dengan latar hitam dan tinta warna putih. 

Hal ini tentu sangat berguna untuk membantu mereka yang tidak mengerti bahasa Jawa tapi ingin menikmati karya Rini Tri Puspohardin. Pada versi bahasa Indonesia kita juga akan mendapatkan catatan kaki mengenai point yang dirasa perlu diperjelas.

Pada Mantra Kematian contohnya, ada catatan mengenai makna kakang kawah adhi ari ari.  Serta tentang Yama, sang dewa kematian dalam pewayangan. Pada Kesanggupan atau Kesaguhan atau dalam versi bahasa Jawa disebutkan tentang rungkut asri, nama salah satu kompleks perumahan di Surabaya. Harata, sebuah ungkapan tanpa arti dalam bahasa Jawa, untuk menggambarkan praduga yang akhirnya terbukti atau terjadi bisa ditemui dalam Edan.

Perbedaan juga bisa dilihat pada kover. Untuk versi yang menggunakan bahasa Jawa, tulisan judul  mempergunakan tinta warna merah dan mencantumkan nama sang penulis. Sementara untuk versi bahasa Indonesia mempergunakan warna putih dan mencantumkan nama penerjemah di bawah judul dan tetap penulis nama sang penulis di pojok kanan atas. Menawan.

Terlepas dari bagaimana isi dan penyajiannya. upaya yang dilakukan sang penulis dan penerjemah patut diacungi jempol. Buku ini memperkaya geliat buku di tanah air.


--------------------------------

Perkenalan saya dengan Rini Tri Puspohardini adalah melalui teman-teman Sastra Pawon. Kebetulan saya pernah bercerita mencari buku yang menggunakan bahasa Jawa guna keperluan melengkapi koleksi di kantor.

Saat membeli beberapa buku, pertimbangan pemilihan berdasarkan rekomen dari beberapa pihak. Salah satunya mbah Google. Begitu buku tiba dan sedang dilakukan pengecekan baru sadar kalau nama pengarang Kidung Saka Bandungan sama dengan nama salah satu teman di FB, orang yang paling sering ak repoti jika berurusan buku berbahasa Jawa.


Si mbak ini terlalu rendah hati untuk berkata bahwa ada buku hasil karyanya diantara buku-buku yang dipesan. Jika tahu khan bisa minta tanda tangan. Hadehhhhhh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar