Jumat, 01 Agustus 2014

Review 2014# 40: Jubah Baru Sang Durjana


Judul: Jubah Tengkorak
Penulis: Vivian French
Ilustrasi: Ross Collins
Penerjemah: Jia Effendie
Penyunting: Nadia Luwis
Penyelaras Aksara: M. Sidik Nugraha
Pewajah Isi: Aniza Pujiati
ISBN: 978-602-14402-2-3
Penerbit: Atria
Harga: Rp 39.000 


Lady Lamora,Sang Durjana, seorang penyihir yang tinggal di atas Gunung Fracture sangat menginginkan gaun baru. Rok dalam berwarna merah darah yang berkeresak saat berjalan. Dipadukan dengan gaun beludru hitam bermotif perak dengan jaring-jaring laba-laba sungguhan serta sulur-sulur ivy. Lipatan hem bertatahkan perak dibordir dengan tengkorak berbagai ukuran dan bentuk. 



Gaun sudah dirancang, pesanan kepada Para Pitarah Purba sudah dilakukan melalui jasa seekor kelelawar bergigi  tajam, biaya sudah mulai dihitung sepertinya semua berjalan dengan sesuai dengan rencana Lady untuk mendapatkan sebuah gaun baru. Hanya saja, ternyata ada sebuah kendala. Peti karta karun Sang Durjana kosong!

Jika kosong bagaimana ia bisa membayar pesanannya? Belum lagi deposit bagi keledai yang mengantarkan pesanannya. Memang koin dalam pecahan berapapun diterima. Namun sungguh sial, bahkan tak ada sebuah koin pun dalam peti harta itu. Sebuah rencana jahat segera disusun. Semuanya demi membayar pesanan gaun.

Di tempat lain, sebuah ruang bawah tanah seorang gadis pemalu bernama Gracie Gillypot sedang meratapi nasibnya. Ia tak berani menangis kencang karena itu sama artinya membuat sang ayah tiri Mange Undershaft dan kakak tirinya yang kejam Foyce bahagia. 

Sang ibu yang sedang tidak enak badan suatu saat pergi dan kembali dengan bersama seorang pria dan gadis remaja. Tak berapa lama sang ibu meninggal, laki-laki itu Mange, mengatakan pada tetangga yang memiliki banyak anak akan menjaganya. ia juga langsung mengklaim kepemilikan rumah. Tak ada yang melawannya.

Suatu malam, seekor kelelawar mengajaknya bercakap-cakap dan bertanya apakah ia mau menerima jika ditawari sebuah posisi? Sesuatu yang berbeda, perubahan pekerjaan, bidang berbeda, majikan berbeda tentunya. Sebuah tawaran yang segera diterima oleh Gracie. Apapun asal bisa jauh dari keluarga tirinya. Butuh beberapa hari untuk kelelawar itu kembali dan membantu Gracie melarikan diri. Ternyata bukan pelarian yang mulus.


Pangeran Marcus urutan kedua tahta Kerajaan Gorebreath lebih memilih perpustakaan berdebu dengan buku-buku tebal sarat  cerita kuno dan peta menarik dari pada harus mengikuti acara kerajaan. Ia lebih memilih dihukum tetap berada di istana dari pada harus mengikuti acara berkunjung ke kerajaan lain. Baginya menjelajah negeri dengan berpedoman pada peta yang ditemukan di perpustakaan kerajaan lebih menarik dari pada beramah tamah dengan sesama bangsawan.

Ia memang sangat berbeda dengan saudara kembar lebih tua sepuluh menitnya, Arioso. Arry melakukan apa pun yang diperintahkan dan tidak pernah mengeluh melakukannya. Ia berpergian dengan orang tuanya dalam kereta kencana, membungkuk dan melambai pada kerumunan yang memujanya.Ia bahkan rela membiarkan dirinya dicum wanita tuda berkumis atas nama sopan santun.


Ok, jadi kita punya beberapa hal penting.
Kita punya kelelawar sebagai utusan, lalu kakak tiri kejam yang bisa berlari begitu cepat laksana angin, penyihir yang menginginkan peti harta terisi emas guna membayar pesanan gaun baru, pangeran yang ingin berpetualang serta terpenting ada  beberapa ekor katak dan Sang Purba. Lalu ada konspirasi guna mendapatkan keinginan kedua belah pihak, dendam karena dicampakan serta urusan dengan jiwa sejati.

Semua unsur tersebut diracik dengan apik oleh sang penulis hingga menjadikan sebuah kisah yang tidak biasa. Beberapa tokoh memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Saling membawa pengaruh bagi kebaikan.


Selain mengajarkan bahwa kebaikan pada dasarnya akan tetap menang dan kejahatan tak akan berjaya lama, buku ini juga memberikan pelajaran bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki jiwa yang bersih. 

Lady Lamora berusaha mendapatkan keinginannya, memang merupakan hal yang benar. Tapi menggunakan cara-cara yang salah menyebabkan pencapaian tujuan tersebut menjadi salah. Bukan keinginan yang salah tapi cara mendapatkan yang bisa saja salah.

Mendapat empat bintang di Goodreads buku ini berarti layak untuk dibaca. Meskipun diperuntukan bagi pembaca usia belia. Mungkin itu juga yang membuat saya merasa ada beberapa hal yang tidak pas, tapi belum bisa menguraikan dengan pas di bagian mana. Apa hanya perasaanku saja karena peruntukan penulisan buku ini ya.

Seri  Tales From Five Kingdoms ini terdiri dari lima buah kisah, yaitu:
Buku 2: The Bag of Bones
Buku 3: The Heart of Glass
Buku 4: The Flight of Dragons 
Buku 5: The Music of Zombies 
Semoga tidak ada hambatan sehingga penerbit mampu menerbitkan keseluruhan kisah dalam seri ini. Untuk yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang seri ini, silahkan kunjungi
http://www.vivianfrench.co.uk/tales_from_the_five_kingdoms/books/

Sudah lama saya tidak mendengar tawa menakutkan ala Jia Effendie....
Kali ini terdengar merdu. Pasti ada yang salah dengan kepala saya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar