Jumat, 22 Agustus 2014

Review 2014 #45: Si Dul Anak Jakarta

Penulis: Aman Datuk Madjoindo
Gambar Isi: Dahlan Djazh
Desain Sampul: David Harlen
ISBN:  979-666-556-5
Halaman: 86
Penerbit: Balai Pustaka

 ...
Aduh sialan, nih Si Doel anak sekolahan
Kerjaannye sembayang mengaji
Tapi jangan bikin die sakit hati
Die beri sekali, Huh.. orang bisa mati
...

Masih ingat penggalan lagu tersebut? Lagu tersebut merupakan  OST sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang dibintangi oleh Rano Karno, Cornelia Agatha, Maudy Koesnaedi, Mandra, dan lainnya.  Si Doel Anak Sekolahan berhasil menjadi sinetron terlama yang ditayangkan di televisi, dengan 7 season dan 162 episode.Dan satu-satunya sinetron yang saya ikuti dengan rela dan iklas (halah)

Sinetron tersebut terinspirasi dari sebuah buku karangan Aman Datuk Madjoindo.Kisah tersebut telah diangkat beberapa kali ke layar lebar maupun dijadikan sinetron. Bukunya sendiri sudah beberapa kali dicetak ulang. Versi yang saya baca adalah cetakan ke-21 pada tahun 2000. Buku ini saya temukan diantara buku yang akan diolah di kantor, dibaca saat piket lalu dibawa pulang untuk direview, Senin sudah harus dikembalikan pada petugas.

Keluarga Si Doel Versi Sinetron
Kisah dalam buku ini tentunya sangat berbeda dengan kisah dalam sinetron. Nama ibu si Dul dalam  buku ini adalah Empok Amne, sementara dalam sinetron disebutkan Lela. Dalam buku sinetron dkisahkan ada Atun, sementara di buku ini Dul tidak mempunyai saudara kandung. Walau begitu perbedaan tersebut tidak membuat kurangnya keseruan membaca buku ini.

Ada delapan bagian dalam buku ini. Seluruhnya menceritakan tentang kehidupan seorang anak lelaki yang hidup dalam lingkungan Betawi yang kental.

Abdul Hamid biasa dipanggil si Dul merupakan anak satu-satunya dari sebuah keluarga sederhana keturunan Betawi. Mereka tinggal di Pisangan Baru. Seharinya bapak si Dul bekerja sebagai supir otobus (KBBI-mobil besar angkutan umum yg dapat memuat banyak penumpang), sementara sang ibu adalah ibu rumah tangga biasa.

Setiap hari  selain bermain, Dul juga mengaji. Ia belajar mengaji pada Uak  Salim yang merupakan kakeknya dari pihak ibu. Meski merupakan cucu, Dul tidak mendapat keistimewaan sama sekali. Ia tetap harus membayar biaya mengaji serta membantu mengurus  pekarangan dan kambing peliharaan Uak Salim.  Bukan pekerjaan yang mudah apalagi ia harus melakukannya bersama dengan anak lain yang sering menjahilinya.

Kehidupan Dul berubah saat ayahnya meninggal akibat kecelakaan. Ia harus hidup berdua dengan ibunya saja sejak itu. Sang kakek yang merasa kesal karena ditolak keinginannya untuk mengajak Dul dan ibunya tinggal bersama bersikap  keras. Ia tak mau memberikan bantuan dari segi finansial. Bahkan saat ibu Dul meminta ijin untuk bekerja ia kian marah. Singkat kata hanya ia yang benar dan semua keinginannya harus dikuti. Benar-benar watak kakek tua yang keras kepala dan egois!

Untunglah sang ibu segera bangkit dan memulai hidup baru dengan berjualan panganan. Mereka berbagi tugas. Sang ibu membuat panganan lalu Dul yang menjajakan keliling kampung. Hasilnya cukup lumayan sehingga mereka bisa mandiri.

Sebelum sang ayah meninggal, Dul sudah mengutarakan keinginannya untuk bersekolah. Namun  hal tersebut dianggap hal yang tidak biasa. Menurutnya Dul adalah anak kampung yang seharusnya mengaji saja, tidak usah masuk sekolah yang lain. Walau begitu ia bersedia mempertimbangkan permintaan Dul yang tidak biasa.

Selanjutnya silahkan baca sendiri ya.......

Membaca buku ini kita akan mendapat gambaran mengenai kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Betawi. Selain kebudayaan kita juga bisa mengetahui bagaimana pandangan mereka akan kehidupan ini. Tentunya sekarang beberapa hal sudah berubah.

Tokoh utama kita, Si Dul  digambarkan sebagai  seorang anak kecil yang gemar bermain, ceria, agak cepat emosi terbukti dengan banyaknya adegan perkelahian antara Dul dan anak yang lain. Hal tersebut bisa kita baca pada kalimat yang tercantum pada halaman 21, “Tentang berkelahi si Dul jangan ditanya lagi, memang kesukaannya berkelahi itu, lagi berani dan tak mau kalah.”

Meski begitu Doel juga digambarkan sebagai sosok yang taat beragama, santun dan takut pada orang tua. “Memang si Dul sangat takut pada ibu bapaknya, jangankan melawan, membantah pun ia tiada mau.” Bahkan pada kakeknya yang begitu galak dan sering seakan tidak memperhatikan Dul dan ibunya pun ia menghormati.


Selain mengajarkan tentang tolong menolong, dalam buku ini diuraikan dengan kisah tentang seorang wanita yang menawarkan pekerjaan bagi ibu Dul,  serta tetangga yang membantu saat penguburan bapak si Dul, juga diajarkan tentang sifat pantang menyerah.

Mpok Amne, dikisahkan berusaha keras menghidupi keluarga dengan berjualan panganan. Ia tidak mau hanya diam dan menangisi nasib tapi segera bangkit dan membenahi hidup. Dul membantu dengan semangat karena ia menyadari hanya itulah pendapatan keluarga.

Sifat boros yang digambarkan dalam kesukaan membakar petasan sebaiknya tidak ditiru. Meski menyadari pemborosan yang dilakukan tapi Mpok Amne tidak kuasa menolak permintaan anak semata wayangnya

Beberapa adegan membuat saya tertawa. Tapi yang paling membuat saya penasaran adalah tentang Toko Lapan Belas Sen. Hemm, mungkin tidak beda jauh dengan factory outlet atau toko serba sepuluh ribu dan sejenisnya. Dalam Toko Lapan Belas Sen banyak barang yang dijual dengan harga murah. Umumnya merupakan produk yang agak lama atau sedikit ketinggalan mode sehingga dijual murah.

Buku ini cukup  unik jika dilihat dari sejarahnya. Awalnya judul yang digunakan adalah Si Doel Anak Betawi. Penulisan Doel menggunakan ejaan lama  yang dibaca menjadi Dul.  Sesuai dengan perkembangan Zaman maka judul diganti menjadi Si Dul Anak Jakarta.

Dari penggunaan bahasa juga bisa dikatakan unik, Buku terbitan Balai Pustaka yang lainnya menggunakan bahasa Melayu tinggi, sementara buku ini tidak. Kisah dalam buku ini menggunakan bahasa Betawi (penulis menyebutnya bahasa Jakarta). Penulis  sengaja melakukannya karena  ingin memperkenalkan bahasa Betawi  kepada pembaca di luar Jakarta.

Jangan khawatir tidak bisa  menikmati kisahnya karena kendala ketidakpahaman bahasa. Penulis khusus menerangkan tentang pemakaian  bahasa Betawi,  pada pembaca. Maksudnya agar pembaca yang tinggal di luar Jakarta atau  kurang mengerti logat yang digunakan bisa mengerti dan menikmati kisah dalam buku ini. Uraian panjang lebar dalam pendahuluan menjelaskan bagaimana  logat mempengaruhi kata. Misalnya awalan me dalam percakapan tidak dipakai. Kata membeli  berubah menjadi beli, kata mengaji menjadi ngaji. Sementara awalan ber diucapkan tanpa huruf r, contohnya berdiri menjadi bediri, berjalan menjadi bejalan dan lainnya.

 

Sumber foto:
http://pensildimas.wordpress.com/2011/04/27/kemana-si-doel-anak-betawi/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar