Kamis, 16 Oktober 2014

Review 2014# 55: The Clock Three

Penulis: Matthew Kirby
Ahli Bahasa: Julanada Tantani
ISBN: 978-602-03-0815-9
Halaman: 448
Penerbit: Gramedia
Harga: Rp 88.000


Tiga anak
Tiga Latar belakang
Bersatu demi satu tujuan hidup

Giuseppe, Hannah, serta Frederick merupakan tiga orang anak yang memiliki latar belakang kehidupan yang sangat berbeda. Mereka tidak saling mengenal satu sama lainnya pada awalnya, takdirlah yang membuat mereka bertemu, bersahabat bahkan saling jatuh cinta.

Terdapat 25 bab serta sebuah penutup dalam buku ini. Pada bagian awal, kita akan disuguhi kisah seputar sosok setiap anak. Pada Bab Biola Hijau, kita akan berkenalan dengan sosok  Giuseppe. Giuseppe pandai memainkan alat musik, ia memainkan biola untuk mencari nafkah. Suatu saat, ia menemukan biola berwarna hijau dari kapal karam. Ia sangat menyukai biola itu sehingga tak rela jika  sampai jatuh ke tangan  tuannya yang kejam, Stephano. Butuh beberapa saat agar untuk sampai ke markas Stephano di Crosby Street. Cukup waktu untuk menyembunyikan biola temuannya itu. Biola tersebut ternyata mampu menghasilkan musik yang amat menawan sehingga ia dengan cepat bisa mendapatkan uang. 

Frederick, ternyata adalah anak yatim yang beruntung menjadi asisten seorang pembuat jam. Bakatnya dalam memperbaiki sesuatu sangat luar biasa.  Seorang tukang jam mengetahui bakatnya dan mengambilnya dari rumah yatim piatu tempat ia diasuh dengan kejam.  Nasibnya lebih baik dari Giuseppe bahkan Hannah karena sang tukang jam memperlakukannya dengan sangat manusiawi. Diam-diam ia sedang merancang sesuatu yang hebat terkait jam. Ia juga berusaha mencari tahu siapa dan dimanakah ibu yang telah melahirkannya berada. Hal itu bisa kita temui dalam  Bab 2 Peluncur Batu Bara dan Mesin Jam. 

Satu-satunya anak gadis, Hannah, merupakan sosok tumpuan keluarga. Sang ayah hanya bisa terbaring di tempat tidur, ibunya harus sering memiringkan bolak-balik  tubuhnya agar tidak berada dalam satu posisi yang samda dalam waktu lama. Adik-adiknya butuh biaya untuk sekolah, keluarga butuh makan maka jadilah ia sebagai tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai pelayan di hotel. Satu-satunya hiburan yang dimiliki adalah dengan membaca buku Peri Biru berulang kali, karena hanya ada buku itu yang tersisa di rumah  mereka. Menemukan harta karun akan sangat membantu keluarganya. Kisah Hannah berada di Bab 3 Tamu yang Aneh.

Suatu saat, tanpa sengaja mereka bertemu dengan terlibat dalam berbagai hal yang menegangkan.  Mereka sadar bahwa dengan membantu yang lain maka keinginan mereka akan tercapai. Hannah bisa mendapatkan uang untuk berobat sang ayah,  Frederick mampu menciptakan jam berbentuk manusia, Dan Giuseppe bisa membeli tiket untuk kembali ke Italia. Mereka sepakat saling bekerja sama.

Kisahnya mungkin sederhana, mengenai tiga orang anak yang berusaha mencari kebahagian dan keberuntungan guna membahagiakan keluarganya. Jalan yang harus mereka tempuh, kendala yang harus dihadapi, serta hal-hal lain membuat upaya mereka menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca. Nilai-nilai kehidupan seperti mencintai keluarga, berbagi, bekerja dengan jujur, mencintai lingkungan dan sebagainya terjalin menjadi sebuah kisah yang menawan dalam buku ini. Sinopsis yang ada di bagian belakang buku sebenarnya sudah cukup memberikan gambaran menegnai kisah yang ada. bahkan mengandung unsur spoiler ^_^

Urusan lingkungan hidup juga terdapat dalam buku ini. Dimulai dari hutan yang nyaman, keseimbangan kehidupan di sana hingga peran manusia dalam ikut menjaga keseimbangan ekosistem. Agak sedikit tidak masuk akal bagi saya tapi  jika tujuannya untuk mengajak anak muda agar ikut prihatin dan melestarikan lingkungan hidup, maka layak diacungi jempol. 

Ada beberapa hal yang membuat saya penasaran selain urusan huruf yang tidak ramah bagi mata.  Salah satunya ketika Giuseppe disebutkan diculik. Kenapa disebutkan diculik? Jika menyimak kalimat pada halaman 16, ".... Aku ingat pondok pamanku yang baru, lalu seorang pria datang membawa uang dan bersalaman dengan pamanku, Aku ingat kakakku menjerit, lalu pamanku menamparnya, dan pria itu menarik tanganku. Aku pergi bersama pria itu, dan hal terakhir yang kuingat sebelum kapal dan laut adalah adik perempuanku menangis di tengah jalan." Buat saya maknanya  Giuseppe dijual oleh sang paman bukan diculik.

Tertulis pada halaman 187, " Giuseppe melirik Hannah dan mengangkat bahu kembali. Hannah tersenyum dan mereka bahu mengikuti Frederick. " Mungkinkan yang dimaksud adalah lalu? karena kata lalu lebih pas pada kalimat tersebut. Atau maksudnya mengikuti bahu Frederick?


http://en.wikipedia.org/wiki/The_Clockwork_Three memuat tulisan, "Hannah is a twelve-year-old girl who had to...." Sementara pada buku ini di halaman 49-50 ketika Madame Pemeroy, salah seorang tamu bertanya berapa umurnya, Hannah menjawab empat belas tahun. Jadi bagaimakah yang sebenarnya? 

Ide untuk The Clockwork Three diperoleh penulis ketika ia membaca sebuah kisah tentang seorang anak bernama Joseph di surat kabar dari 1873 [ 3 ] Yusuf telah diculik dari Italia dan harus bermain biola di jalan-jalan Inggris untuk mendapatkan uang untuk tuannya, sampai akhirnya ia melarikan diri. Hal ini yang menjadi latar belakang kisah kehidupan Giuseppe. 

Kekerasan yang harus dihadapi oleh Giuseppe juga banyak terjadi di sekitar kita. Tak terhitung anak kecil yang mengamen demi suap nasi bagi keluarganya. Bahkan ada yang melakukannya agar tidak mendapat siksaan dari  tuannya. Penculikan anak banyak terjadi, banyak yang berakhir sebagai pengemis atau pengamen dan berhasil ditemukan oleh keluarganya. Namun ada juga yang tak tentu rimbanya. 

Kover buku ini mengingatkan saya pada kisah lain tentangs eorang anak lelaki  yang menemukan eh mencuri  mata ajaib hingga akhirnya mengalami aneka petualangan seru. Gambarnya memang beda namun ciri khasnya terlihat sekali. Terutama penggunaan warna biru. 

Secara garis besar buku ini layak dibaca. 


Sumber gambar:
1.http://en.wikipedia.org/wiki/The_Clockwork_Three
2.  http://www.kingsenglish.com/event/matthew-kirby-and-clockwork-three

Jumat, 10 Oktober 2014

Review 2014 # 54: Kendalikan Pikiran Terkelammu

Judul: The Darkest Minds
Penulis: Alexandra Bracken 
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Abduraafi Andrian
proofreading: Regina
Pewajah Sampul: Defi Lesmawan
Pewajah isi: eNKa
ISBN: 9786020900056 
Halaman: 586
Penerbit: Fantasious
Harga: Rp 89.000


Biru 

Hijau
Kuning
Oranye
Merah

Urutan warna favoritku.

Waktu kecil saya paling kesal kalau mendapat oleh-oleh benda berwarna merah. Setelah mengucapkan terima kasih, benda tersebut saya letakan begitu saja. Sudah berulang kali saya katakan bahwa saya tidak suka warna merah. Namun para orang tua yang memberikan barang malah terheran-heran. menurut mereka seharusnya anak perempuan menyukai warna merah, anak laki-laki menyukai warna biru. Duhhh tertulis dimana peraturan seperti itu?
 
Sementara hijau, biru, kuning, oranye dan merah merupakan warna-warna yang ada di  Thurmond. Warna tersebut dipergunakan untuk mengelompokkan anak-anak yang diduga mengidap Idiopathic Adolescent Acute Neurodegeneration alias Degenerasi Saraf Akut Remaja Idiopatok-IAAN. Urutan tersebut menunjukan seberapa "parah"  seorang anak menderita IAAN.

Anak-anak berada di sana guna menjalani pengobatan, begitu menurut pihak terkait. Thurmond dianggap sebagai kamp rehabilitasi.  Mereka menggunakan seragam putih dengan tanda X yang berbeda di punggung dengan angka yang dituliskan dalam warna hitam di atasnya. Suasana di sana tidak seperti rumah sakit atau balai pengobatan pada umumya.  Mereka yang menggunakan tanda hijau dan biru bebas berkeliaran. Sementara yang bertanda kuning, oranye atau merah dipasangi borgol besi, serta terhubung dengan sesama melalui sebuah untaian rantai panjang. Bahkan oranye mendapat tambahan asesoris berupa sebuah masker mirip berangus.  Tidak aneh jika yang sering berusaha kabur adalah anak-anak dari kelompok Merah, Oranye dan Kuning. Mereka memiliki kemampuan dan bakat mental yang begitu aneh,  tak bisa dijabarkan. Gerenasi Aneh, tak heran jika anak-anak tersebut diklasifikasi sebagai generasi Psi.


Ruby  Tuesday disortir dan dikelompokkan sesuai hasil test. Ia dianggap memiliki kecerdasan abnormal. Saat Ruby berusia mendekati sepuluh tahun serangkaian peristiwa aneh terjadi di sekitarnya. Beberapa anak meninggal tanpa sebab. Orang tuanya mengira ia juga menderita IAAN. Sehari setelah ulang tahun kesepuluhnya Ruby "dijemput"


Alexandra Brachen membuat urutan warna guna menandakan tingkat kemampuan anak-anak Psi bukan sembarangan. Urutan serta pembagian didasarkan pada Homeland Security Advisory System (HSAS) yang pernah berlaku di Amerika Serikat. HSAS adalah kode warna yang menunjukkan skala ancaman terorisme. Warna yang berbeda memicu tindakan tertentu oleh badan-badan federal dan pemerintah negara bagian. Sistem ini diciptakan oleh Homeland Security pada tanggal 11 Maret 2002, dalam menanggapi serangan 11 September. Sistem HSAS sudah dihapus dan digantikan oleh National Terrorism Advisory System (NTAS) yang mulai berlaku tanggal 26 April 2011. 

Dalam buku tentang Feng Shui oleh Mas Dian menyebutkan bahwa warna juga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kejiwaan dan sikap seseorang apabila mereka terlibat dalam dimensi lingkungan warna-warna tertentu. Akibat daya pengaruh yang ditimbulkannya, warna juga bisa diuraikan sebagai bahasa jiwa dan rasa terhadap kondisi yang berlangsung. Hal ini dapat terjadi karena warna memiliki karakteristik ssifat yang secara tegas mempengaruhi psikis seseorang, serta dapat memberikan berbagai inspirasi yang membangkitkan reaksi emosi.

Warna merah memberi stimulasi dan dominan. Erat kaitannya dengan sifat hangat serta kemakmuran, tetapi juga menggambarkan kemarahan, malu dan kebencian. Hijau adalah warna menenangkan dan menyegarkan, sementara biru selain damai dan menyejukkan juga bisa dimaknai sebagai  kesabaran. Kuning erat kaitannya dengan pencerahan dan intelektualitas, sifatnya menstimulasi otak. Oranye memiliki sifat dinamis dan berani tampil beda. Sering digunakan untuk menyembuhkan paru-paru dan meningkatkan energi


Buku ini seakan terbagi dalam dua bagian. Bagian awal menyajikan alur kisah yang agak lambat. Menguraikan hal-hal biasa. Misalnya bagaimana bersikap menghadapi orang asing. Bisa dibilang bagian awal mengisahkan tentang bagaimana Ruby berjuang untuk kabur hingga sampai di East River. Disarankan untuk terus bertahan melawan kebosanan karena seperempat sebelum tamat buku ini menyuguhkan aneka keseruan aksi para tokohnya. Ini bisa dibilang bagian kedua, dimana Roby harus berjuang bertahan hidup di East River. Juga mempertahankan cintanya pada seseorang.


Bisa saja orang tua Ruby tidak ingin ia ada diantara mereka sehingga mengirim Ruby ke kamp. Tapi ada juga orang tua yang tetap mencintai sang anak bagaimana juga kondisinya. Salah satunya anak yang berteman dengan Ruby. Ia dan orang tuanya berkomunikasi dengan cara tersebut. Hal tersebut bisa disimak dalam kalimat berikut,"Aku di luar tidak bisa kontak bisa bertemu di mana sebut nama dan tempatnya rindu kalian cinta kalian." Sungguh kreatif, memanfaatkan segala cara untuk bisa berkomunikasi. Ini merupakan bagian favorit saya.

Serta bagian dimana Ruby harus  merelakan orang yang dikasihi pergi dengan tetap hidup dan selamat, demi kebagikan orang terkasihnya. Adegan Ruby mempergunakan kekuatannya sungguh menyentuh hati. Cinta tak harus memiliki. Mengetahui orang yang kita cintai hidup dengan damai tapi berada jauh lebih berarti dari pada melihatnya hidup  dibawah siksaan  di dekat kita.

Ada hal yang membuat saya penasaran. Misalnya soal Ruby menyembunyikan pil-pil yang berada dalam kantong bening mungil ke bra sport standar yang dikenakannya (pada halaman 54). Lalu ia meraba kemasan pil-pil itu (halaman 64).  Selanjutnya tercetak, "Aku membuka tas dan menjatuhkan pil-pil kecil itu ke tanganku. Kantong jernihnya kukembalikan ke dalam bra,...." (halaman  66). Jika menyimak kalimat terakhir maka saya menangkap Ruby sempat menyimpan pil-pil yang tersimpan dalam kantong jernih ke dalam tas. Selanjutnya ia membuka dan mengeluarkan pil-pil tersebut  dari tas serta  meminumnya. Selanjutnya ia menyimpan kembali kantong bening dalam bra. Agak membingungkan, karena dari halaman 64 hingga 66 tidak disebutkan Ruby sempat menyimpan  pil-pil tersebut dalam tas. Apakah  Ruby memindahkannya saat melakukan kegiatan rutin malam itu  (halaman 65). Salah satu kegiatannya adalah ke Kamar Mandi dengan demikian Ruby pasti harus membuka bra dan mencari tempat penyimpanan lain bagi pil-pilnya. Atau dalam edisi asli tertulis bag yang juga bisa berarti kantong? Jika begitu akan sinkron dengan kalimat selanjutnya, dimana ia menyimpan kembali kantong jernih dalam bra. 

Cetakan pada halaman 318 tertulis, " .... Dia sama gembiranya dengan kami berdua ketika ikut mendengarkan siaran itu, tetapi perlahan, dalam waktu beberapa jam saja, suasana hatinya berubah murah."  Mungkin saya yang salah menangkap mana kalimat tersebut, tapi menurut saya seharusnya buka kata "murah" melainkan "muram"

Begitu plastik pembungkus dibuka, kita akan disuguhi dengan  dua kover yang dibuat bertumpuk. Kover yang pertama, mengusung simbol dengan cuttingan yang menawan, memperlihatkan warna hitam kontras dengan warna kuning yang ada disekitar simbol. Kover kedua berwarna hitam,  yang terlihat dari cuttingan kover pertama. Simbol tersebut juga merupakan wujud dari pembatas buku dari buku ini. Menawan memang, tapi karena bahan yang dipergunakan kurang tebal maka saat dipegang tidak bisa berada dalam posisi tegak.  Meleyot, kata anak sekarang. Untuk pembatas juga kurang  menandai halaman, karena dengan kondisi yang tipis akan dengan mudahnya terselip diantara halaman tanpa menimbulkan berbedaan signifikan  bahwa halaman itu yang terakhir dibaca. 


Kita bisa mengambil makna kehidupan dari kisah yang disajikan dengan apik. Kita harus mengenali siapa dan bagaimana diri kita, apa kelebihan, kekuatan dan apa kekurangan kita. Berusaha menguasai dan mengontrol kelebihan dan kekuatan kita serta berusaha menekan semua kekurangan. Seperti juga Ruby yang belajar menerima bagaimana kondisinya dan menjalani hidup dengan berkompromi pada banyak hal.

Sumber gambar:https://www.facebook.com/fantasiousbooks




Kuis Little Women 2014 Berhadiah 12 Buku Free Ongkir

“I want to do something splendid…
Something heroic or wonderful that won’t be forgotten after I’m dead…
I think I shall GIVE books.”

(Plesetan kalimat dari Louisa May Alcott)
Mau kayak ini?


Sepertinya seluruh dunia (halah pe de habis) tahu bahwa saya mengoleksi Little Women dalam aneka versi. Mulai bahasa yang beragam, tahun terbit, kover ,hingga  adaptasi yang dilakukan berdasarkan kisah ini. Hingga hari ini, Jumat, 10 Oktober 2014 sudah ada sekitar 105 buku.

Kisah tentang  saya dan Little Women bisa dibaca di link berikut:  

http://trulyrudiono.blogspot.com/2014/09/review-2014-aku-dan-101-little-women-1.html

http://trulyrudiono.blogspot.com/2014/09/aku-dan-101-little-womene-2-koleksi-lw.html


Sementara yang tertarik pada e-booknya bisa diintip di http://www.gutenberg.org/ebooks/514


Sesuai janji......

Dari pada rebutan nunggu timpukan buku, maka biar adil dan merata dibuatkan kuis.
Jika bukunya tidak menarik disarankan tetap ikut, biasa buat modal bookswap di IRF nanti. Atau mau disumbangkan ke Taman Bacaan juga boleh.

Kuisnya gampang banget:

1.  Harus sudah "ngintilin" alias follow alias members blogku
2.  Buat  semacam note dengan tema hal tergila/terekstrim apa yang  
      kalian lakukan terkait  dengan buku. Misalnya saya pernah  
     terjun  ke sungai demi mengambil buku saya yang jatuh, sehari kalap  
     belanja hingga menghabiskan xxx rupiah, nginap di depan toko buku  
     demi jadi baca yang pertama, merawat koleksi dengan cara ekstrim dan  
     lainnya
3. Jumlah karaktek sebanyak 750 termasuk spasi  PAS (1 x aja ketuknya   
    lho).  Judul tidak dihitung. Biar seragam, buat saja di word baru kopas.
4. Pilih salah satu kover Little Women favoritmu yang ada di album  Little  
    Women di FBku. Linknya https://www.facebook.com/truly.rudiono 
Begini Juga ok khan
5. Karena ada gambar  maka 1 gambar  dihitung  
    3  karakter. Silahkan tambahkan gambar jika  
    ada, misalnya foto basah kuyup saat keluar  
    dari sungai demi  mengambil buku yang  
    hanyut. Diperbolehkan mempergunakan  
    gambar sebanyak 3,termasuk kover LW. Jadi     dijinkan maksimal mempergunakan 1 kover  
    LW + 2 gambar.  Gambar bisa berupa kover  
    buku, foto serta ilustrasi. Intinya yang bukan  
    tulisan deh. Jika bukan karya/milik sendiri  
    jangan lupa mencantumkan dari mana
    sumbernya. 
6. Tag minimal 20 orang teman. Bagikan  
    semangat mengikuti  
    kuis (^_^).
7. Kopas link note  fb ke bawah posting ini
8. Jika menang, harap berfoto dengan  
    buku-buku hadiah serta memberikan ijin  
    untuk  mempergunakan foto tersebut bagi  
    kegiatan promosi kuis di bloq ini dilain waktu.
9. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat. 

Waktu

Kuis ini diselenggarakan mulai Sabtu, 11 Oktober 2014 jam 10.00 WIB hingga Jumat 17 Oktober 2014. Diumumkan pada Senin, 20 Pktober 2014 pukul 09.00 WIB

Juri

Ada beberapa orang yang rela membantu jadi juri. Salah satunya Evyta Air.




Hadiahnya adalah:
1. He was cool 1 , Guiyeoni
2. He was cool 2 , Guiyeoni
3. Middle School: My Brother is a Big, Fat Liar, James Patterson
4. Middle School: Get Me Out of Here,  James Patterson5. Istana Kaca, Jeannette Walls
6. The Count of Monte Cristo, Alexander Dumas (Eng)
7. The Beatrix Potter Collection Vol 1, Beatrix Potter (Eng)
8. The Beatrix Potter Collection Vol 2, Beatrix Potter (Eng)
9. Until th End of Time, Daniel Steel (Eng)
10.I Love You, Sarangbae
11. Assassin's Creed Black Flag & kartu games-nya
12. The Summons, Jhon Grisham (Eng)

Khusus nomer 11 adalah sumbangan dari Penerbit Fantasious & Muthia Esfand pribadi. terima kasih *peluk-peluk*

Kemungkinan bertambah jika ada sponsor dari penerbit *mari berdoa*

Gampang bangetkan? 

Hayuhhhhhhhhh mulai berpikir mau menulis apa. 
Tapi jujur lho jangan mengada-ada.
SEMANGAT!!!!


Jumat, 03 Oktober 2014

Review 2014#53: Bacaan Wajib Sertifikasi Ahli Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Penulis: Samsul Ramli
Penyunting: Zulfa Simatur
Disain sampul & isi: Balerina
ISBN: 979-065-211-9
Halaman: 374
Penerbit: VisiMedia Pustaka
Harga: Rp 69.000,-

Lebih susah ujian Sertifikasi  Ahli Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dari pada ujian tesis. Itu pendapat saya setelah 2x mengikuti ujian Sertifikasi Ahli Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Tesis merupakan karya saya, sehingga saya bisa sangat mengingat dan paham apa yang saya tulis. Bab ini isinya apa, bab itu tentang apa, semua bisa saya uraikan dengan lancar saat sidang. Tapi berbeda saat ujian Setifikasi  Ahli Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.


Bayangkan selama 3 hari mendapat pelatihan yang padat, hari keempat langsung ujian. Semua materi berupa bagian dan pasal harus sudah berada dalam kepala. Meski boleh membuka buku, namun dengan begitu banyak soal yang harus dijawab serta waktu yang mendesak, belum tentu kita ada waktu untuk membuka-buka peraturan. 

Hasilnya? Alhamdullilah untuk 2X ujian, saya lulus 2X. Keberuntungan menyertai saya dan membuat kerja keras saya terbayarkan. Saya pastinya harus berterima kasih kepada mereka yang memberikan saya tips jitu. Juga pada mereka yang menyemangati dengan perkataan ," Tenang, banyak yang ngak lulus jadi ngak perlu malu kalau tidak lulus." Sebuah tantangan bagi saya!

Saat melihat isi buku ini, makin terasa  kebutuhan sebuah buku yang mudah dibaca namun tidak menyimpang dari ketentuan peraturan. Beberapa buku yang ada hanya merupakan  cetakan tentang Perpes. Sementara buku ini tidak demikian.


Buku ini memberikan penjalasan dan uraian yang memudahkan bagi pembaca memahami pengadaan barang dan jasa. Uraian panjang pastinya akan banyak terdapat dalam buku ini. Namun jangan kuatir, uraian tersebut tidak bersifat kaku atau menggurui tapi memberikan penjelasan  mengenai suatu hal dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengerti dan bagan yang sangat membantu.

Untuk hal-hal yang dirasakan harus mendapat perhatian lebih, pembaca akan diberikan ilustrasi berupa kalimat yang dicetak lebih besar, dictak dengan huruf tebal atau dengan huruf kapital. Hal tersebut mempermudah membaca mengetahui bagian mana yang harus dipelajari dengan lebih teliti lagi

Strategi yang saya pergunakan guna menempuh ujian ada dua macam. Pertama persiapan sebelum pelatihan serta saat pelatihan. Setelah saya tahu bahwa saya terdaftar sebagai peserta maka saya segera mencari informasi mengenai materi yang akan diberikan. Ternyata berupa Perpes yang bisa diunduh dari internet.

Untuk memudahkan membaca, saya print seluruh peraturan dan penjelasannya. Lalu mulailah saya bermain gunting-tempel. Penjelasan yang ada saya gunting dan tempel dekat dengan pasal yang ada. Misalnya ada penjelasan mengenai pasal 11, maka saya akan menggunting uraian penjelasan tersebut dan menempelnya  dekat dengan pasal 11. Jika letaknya agak jauh maka saya akan memberikan semacam garis penghubung  antara pasal 11 dengan uraian mengenai pasal 11.

Saat pelatihan, saya menempelkan aneka tanda guna mempermudah mencari suatu hal. Misalnya pada halaman yang memuat tentang Pejabat Pembuat Komitmen, maka saya akan menempelkan semacam petunjuk yang menandai bahwa di halaman tersebut ada uraian mengenai Pejabat Pembuat Komitmen. Alhasil saya seakan memiliki sebuah buku yang penuh dengan tempelan dan aneka kertas penanda. Hal ini akan sangat berguna, akan memudahkan kita jika masih memiliki waktu luang dan ingin mencari jawaban dari buku.

Persiapan kedua adalah saat ujian. Persiapan mental sudah pasti, banyak yang takut menempuh ujian ini, karena banyak yang gagal. Tapi jangan berkecil hati, yang penting usaha secara maksimal. Siapkan diri secara lahir dan bathin. Jika tidak tahan dingin, pergunakan baju hangat saat ujian. Sering bolak-balik ke kamar kecil, upayakan mengantisipasinya dengan mengurangi minum. Raut  beberapa pinsil sehingga tidak perlu meraut lagi jika pinsil yang kita gunakan patah.

Selain berdoa, saya menghadapinya dengan enteng. Sedikit nyeleneh memang, tapi saya merasa saya sudah berusaha sebaiknya jika gagal artinya saya memang belum mampu memahami materi yang diberikan. Plus menghibur diri dengan menyatakan yang gagal saja banyak jadi kalau saya gagal ya memang belum jodoh he he he. 

Ada 90 soal yang  terdiri dari 3 bagian dan harus diselesaikan selama 2 jam. Bagian pertama soal benar atau salah dengan nilai 2, kedua pilihan ganda dengan nilai 3, bagian terakhir mengenai kasus pengadaan dalam bentuk pilihan ganda dengan nilai 4. 

Pertama isi dulu soal-soal yang bernilai 4, lalu yang bernilai 3, terakhir yang bernilai 2. Jika masih tersisa waktu coba cari jawaban terkait dengan soal dengan nilai 4 jika ada yang belum dijawab. Tidak ada pengurangan jika salah, maka sebaiknya diisi saja siapa tahu tebakan anda benar. Menurut informasi syarat kelulusan adalah 65 %. 

Meski diijinkan untuk membuka buku, namun dianjurkan melakukannya saat masih tersisa waktu dan memiliki pandangan dimana harus mencari jawaban yang pasti. Jangan sia-siakan waktu untuk mencari jawaban yang belum pasti keberadaannya.

Buku ini memuat contoh soal ujian sehingga mereka yang akan menempuh ujian sertifikasi bisa mendapat gambaran bagaimana kelak soal yang akan dihadapinya. Sebelum ujian ada baiknya menguji kemampuan dengan melakukan simulasi ujian menggunakan soal dalam buku ini. Kunci jawaban yang tersedia bisa dipergunakan untuk mengukur berapa nilai yang didapat.

Point N tentang Korupsi dalam Pengadaan Barang/Jasa pada halaman 45 bisa menjadi pencerahan mengenai berbagai hal yang bisa dikategorikan dalam korupsi dalam pengadaan barang/jasa.  Dikutip dan disarikan dari buku panduan Mencegah Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Publik terbitan Transparency internasional Indonesia 2006 disebutkan bahwa dalam pengadaan barang dan jasa si pemerintah ada beberapa bentuk korupsi, bentuk yang yang paling sering dilakukan dan terang-terangan adalah penyuapan dan pemberian uang pelicin. bentuknya bisa berupa uang rokok, uang bensin hingga bentuk yang lebih halus. Waspadalah jangan-jangan kiriman makan siang juga bisa masuk dalam kategorsi korupsi.

Pengadaan barang dan jasa pasti dilakukan dibanyak instansi. Perbedaannya jika  pengadaan barang dan jasa di instansi pemerintahan lebih rumit karena berhubungan dengan perhitungan APBN/APBD yang digunakan untuk membayar barang atau jasa tersebut. Terlebih lagi ada beberapa aturan yang mengatur proses pengadaan barang tersebut. Sementara di instansi swasta lebih fleksibel.
Pengadaan barang/jasa pemerintah dimulai sejak perencanaan kebutuhan, penyusunan rencana, pelaksanaan pengadaan, pemilihan penyedia, penandatanganan kontrak, pelaksanaan dan pengendalian kontrak hingga diterimanya barang/jasa tersebut. Walau sepertinya sederhana namun dalam prakteknya tidak sesederhana itu. Butuh penanganan dan keahlian khusus.

Saya sempat bingung menemukan point tentang Ruang Lingkung Perpres 54/2010. Setahu saya sudah ada Perpres 70/2012 yang merupakan Perubahan Kedua atas Perpres 54. Lalu kenapa tidak dijabarkan tentang ruang lingkup atau perubahan signifikan apa yang terdapat dalam Perpres 70/2012? Padahal dalam  bagian Sumber Bacaan penulis mencantumkan Perpres 70/2012 sebagai salah satu sumber bacaan dalam menyusun buku ini

Ada beberapa perbedaan antara Perpres 70/2012 dengan Perpres 54/2010. Misalnya pengadaan langsung pada Perpres 54/2010 untuk pengadaan barang/pekerjaan kontruksi  dan jasa lainnya hingga 100 juta sedangkan pada Perpres 70/2012 hingga 200 juta. Metode pemasukan dokumen pada Perpres 54/2010 tidak dapat dipergunakan untuk pengadaan Pekerjaan Konstruksi. Sementara pada Perpres 70/2012  dapat dipergunakan untuk semua jenis pengadaan. Jika ingin memahami lebih lanjut mengenai perbedaan kedua Perpres tersebut, matriks perbedaan  bisa dilihat pada http://www.khalidmustafa.info 

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (disingkat LKPP) adalah salah satu dari 28 Lembaga Pemerintah Non-Kementrian (LPNK) yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden  RI. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, LKPP dikoordinasikan oleh Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas. LKPP dibentuk pada tanggal 6 Desember 2007, melalui Peraturan Presiden RI Nomor 106 Tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan Pengembangan Barang/Jasa Pemerintah.
Tulisan saya mengenai ujian ada di https://www.facebook.com/notes/truly-rudiono/ayo-kenalan-dengan-peraturan-presiden-ri-nomor-54-tahun-2010-tentang-pengadaan-b/10150231242342279

SEMANGAT!!!
PASTI BISA!!!

Kamis, 25 September 2014

Review 2014# 52: Aku Malala, Aku Berhak Sekolah!

  

Judul Asli: I Am Malala
Pengarang: Malala Yousafzai dan Christina Lamb
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno

Penyunting: Esti A. Budihabsari

Halaman: 383 
Penerbit: Mizan 
Harga: Rp 70.000,-



"Terkadang kupikir lebih mudah untuk menjadi vampir Twilight daripada menjadi seorang anak perempuan di Swat"
Seorang remaja putri, memang bisa kita temui dimana saja, kapan saja. Tapi Malala spesial.  Bukan karena ia seorang anak gadis yang menyampaikan pidato  pada Forum Majelis Kaum Muda PBB dengan menggunakan kerudung milik mendiang Benazir Buttho, atau  sebagai calon penerima nobel perdamaian termuda, juga bukan karena ia tertembak. Malala berbeda karena ia berjuang untuk bisa sekolah, karena ia ingin mendapatkan pendidikan. Tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi anak perempuan yang lain di desanya.
Buku setebal 383 halaman ini mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis bernama Malala Yousafzai, gadis yang berjuang untuk pendidikan. " Aku tak ingin dianggap sebagai anak perempuan yang ditembak oleh Taliban, tapi anak perempuan yang berjuang untuk pendidikan," ungkapnya.  Bagaimana Malala berjuang untuk bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan. Juga tentang bagaimana kehidupan masyarakat di Swat. Seluruh kisah Malala terbagi dalam lima bagian.

Bagian pertama, Sebelum Tahiban mengisahkan tentang kehidupan keluarga Malala di desa sebelum masuknya Taliban. Bagaimana kedua orang tuanya bertemu, jatuh cinta lalu menikah.  Kemiskinan yang mereka derita tidak membuat niat sang ayah untuk mendirikan sekolah dan memajukan dunia pendidikan. Tidak perduli untuk anak laki-laki atau perempuan.

Ayah Malala bisa menerima jika hidup dalam kondisi kekurangan. Ia tak malu menjalani kehidupan kekurangan, tapi ia malu karena harus meminta jatah diskon  untuk pembayaran kegiatan olah raga dan pramuka yang merupakan hak sebagai anak guru. Jika tak ingin menjadi buta huruf ia harus menahan malu mendatangi murid terbaik ayahnya untuk meminta buku yang sudah tidak dipakai lagi.  "Bukannya melangsurkan buku itu praktik yang buruk, aku hanya sangat menginginkan buku baru, yang tidak ditandai oleh murid lain dan dibeli dengan uang ayahku sendiri."  Susahnya mendapat pendidikan pada masa kecil membuat ayah Malala bertekat untuk memberikan pendidikan terbaik pada anak-anaknya, serta anak yang berada di Swat. 
Bagian kedua, Lembah Kematian mengisahkan tentang kehidupan Malala dan keluarganya. Saat Taliban memasuki desa banyak hal yang berubah dengan cepat. Situasi Swat tidak lagi senyaman dahulu. Malala merasakan kesulitan untuk mendapat pendidikan.  Taliban menentang pendidikan karena menurut mereka seorang anak yang membaca buku, belajar bahasa Inggris atau sains akan menjadi ke-Barat-Baratan.  

Sementara bagi Malala dan juga ayahnya, pendidikan bukanlah Timur atau Barat, tapi manusiawi. "Berani sekali Taliban merampas hak dasarku untuk mendapatkan pendidikan," kalimat tersebut merupakan kalimat pertama yang diucapkan Malala di depan umum terkait urusan pendidikan.  
Suatu ketika BBC Urdu berkeinginan untuk mencari seorang murid atau guru perempuan untuk membuat semacam buku harian yang mengisahkan tentang kehidupan yang dijalani ketika berada di bawah Taliban. Malala mengajukan diri, namun ia harus menggunakan nama samaran atas dasar keselamatan.

Melalui kegiatan menulis Malala bisa menyampaikan apa yang selama ini terpendam dalam hatinya. Ia bercerita secara mendetail tentang betapa mengerikannya hidup di bawah pemerintahan Taliban serta upaya mereka untuk menguasai lembah. Malala juga menuliskan pandangannya tentang pendidikan untuk anak perempuan.  

Buku harian tersebut banyak mendapat perhatian,  beberapa koran mencetaknya, BBC membuat rekaman dengan menggunakan suara anak lain. Malala mulai menyadari bahwa kata-kata bisa jauh lebih kuat daripada senapan mesin dan tank. "Ketika seseorang merampas penamu, kau akan menyadari betapa pentingnya pendidikan itu." 

Insiden penembakan ada pada bagian ketiga, Tiga Anak Perempuan, Tiga Peluru.  Pada tanggal 9 Oktober 2012, saat kembali pulang di bus sekolah, seorang pria mengangkat pistol colt.45 dan menembak dengan tangan gemetar tiga kali beruntun ke Malala, ia ditembak di kepala an leher. Peluru pertama menembus rongga mata kiri dan keluar dari bawah bahu kiri. Dua peluru lainnya mengenai anak yang lain. Malala terkulai ke depan menjatuhi salah satu anak. Darah keluar dari telinga kirinya.  

Begitu si supir bus, Usman Bhai Jan menyadari apa yang terjadi ia segera melarikan bus tersebut ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Seorang polisi yang tidak mengetahui apa yang terjadi menghentikan bus yang mengebut dan mengajukan banyak pertanyaan hingga seorang gadis dengan berani berteriak padanya dan memberitahu kondisi Malala.

Peristiwa penembakan Malala sempat menggegerkan dunia. Di Pakistan sendiri ada sebuah kelompok yang terdiri dri 50 orang ulama yang mengeluarkan fatma menentang penembakan tersebut. Pemimpin Taliban, Adnan Rasheed mengungkapkan penyesalannya atas penembakan tersebut. Malala ditembak karena sikapnya terhadap Taliban, bukan karena ia memperjuangkan pendidikan bagi anak perempuan.  Meski menyesal, ia tidak menyampaikan permintaan maaf, bahkan menyarankan agar Malala kembali ke Pakistan dan meneruskan pendidikan di Madrasah yang diperuntukan bagi perempuan. 

Perjuangan Malala untuk hidup berada pada bagian keempat, Antara Hidup dan Mati. Dahulu Malala belajar berjuang. Berjuang untuk mendapatkan pendidikan tidak hanya bagi dirinya tapi bagi anak perempuan yang lain. Tenggat waktu yang diberikan Taliban semakin dekat, Anak perempuan harus berhenti sekolah, walau entah bagaimana mereka bisa menghentikan 50 ribu anak perempuan bersekolah. Malala dan keluarganya bertekat bahwa sekolah Kushal menjadi yang terakhir berhenti berdering. Bahkan Madam Maryam salah satu guru segera menikah agar bisa tinggal dan mengajar di Swat. Seluruh keluarganya telah pindah, sebagai perempuan ia tak bisa tinggal sendiri.
Maka selanjutnya Malal harus berjuang untuk hidup. Tidak hanya Malala yang harus berjuang tapi keluarganya juga harus berjuang berada dalam situasi seperti itu. Awalnya Malala dirawat di rumah sakit yang ada di Pakistan. Namun mengingat kondisinya, ia segera diterbangkan ke Birmingham, Inggris. Kondisi Malala memang mengkhawatirkan, namun semangatnya untuk hidup serta dukungan orang-orang yang terus berdatangan membuat kondisinya perlahan membaik. 

Selanjutnya bagaimana kehidupan Malala setelah penembakan berada pada bagian  kelima, Kehidupan Kedua. Malala terbangun  dengan mengucap syukur ia masih hidup. Meski tak lama ia menangis memikirkan bagaimana keluarganya bisa melunasi biaya rumah sakitnya. Untunglah salah seorang dokter yang merawat Malala menenangkannya.


Malala menjadi terkenal karena peristiwa itu. Banyak karangan bunga dan hadiah mengalir ke rumah sakit tempat ia dirawat. Banyak yang mengirimkan hadiah dengan menyebutkan nama. Tapi ada juga yang hanya menuliskan, "Untuk Anak Perempuan yang ditembak Kepalanya, Birmingham" Dengan menulis begitu pun hadiah tersebut juga sampai kepadanya.

Meskin mendapat hadiah berlimpah, Malala merindukan buku-bukunya yang tersimpan dalam lemari di rumahnya. Hadiah yang paling ia sukai adalah kiriman dari anak-anak mendiang Benazir Buttho, dua buah syal. Belakangan Malala menemukan sehelai rambut hitam panjang pada salah satu syal.

Malala sangat terinspirasi dengan perkatan pendiri Pakistan Jinnah. "Ada dua kekuatan di dunia ini; yang satu pedang, dan  satu lagi pena. Ada kekuatan ketiga yang lebih kuat daripada keduanya, yaitu kekuatan kaum perempuan." Karena ia juga seorang perempuan, maka Malala yakin dirinya juga memiliki kekuatan untuk menggapai apa yang selama ini diidam-idamkannya, mendapat pendidikan yang layak.

 
Malala, kedua adik dan orang tuanya hidup dengan susana saling mengasihi sesama di Swat, bahkan kepada kedua ekor ayam yang merupakan peliharaan keluarga. Seusai selamat dari penembakan mereka hidup di Inggris. Butuh banyak penyesuaian bagi keluarga tersebut.

Buku ini sangat menarik karena kita bisa belajar bagaimana gigihnya seorang anak berjuang untuk mendapatkan pendidikan. Berjuang untuk dapat  melakukan hal yang paling membahagiakannya yaitu pergi sekolah. Kita yang bisa mendapatkan pendidikan dengan seluasnya wajib bersyukur dan menjadikan peristiwa yang menimpa Malala sebagai dorongan untuk terus memperkaya diri dengan ilmu dan pengetahuan. Dari Malala kita bisa belajar mahalnya harga sebuah keinginan guna mendapat pendidikan. Belajar jika kita menginginkan sesuatu hal demi kebaikan dan kemajuan kita, maka kita harus berjuang dengan sepenuh hati.
Mulanya saya sedikit mengalami kesulitan memahami mengapa harus ada kisah panjang lebar tentang latar belakang kehidupan keluarga Malala. Untuk apa mengetahui ayahnya adalah anak kepala sekolah yang dengan malu harus meminta potongan biaya atau ibunya yang menjual semua buku. Belakangan baru terasa hubungannya. Hal tersebut dipergunakan sebagai landasan guna memahami sikap ayah Malala dan bagaimana mereka menjalani kehidupan. Sikap keras sang ayah akan pendidikan dan semangatnya membangun sekolah merupakan tempaan kehidupan masa muda.

Pada tiap pergantian bagian, akan ditemui penggalan kalimat cantik. Maknanya kalimat tersebut cukup dalam. Jika kita telaah lebih lanjut, hal tersebut merupakan ungkapan mengenai sari dari kisah yang ada dalam bagian tersebut. Meski dengan menggunakan huruf Arab, namun di bawahnya akan kita temui terjemahan dalam bahasa Indonesia. Beberapa kalimat berkesan sedih, namun ada juga mengungkapkan emosi yang meledak-ledak.

Waktu yang saya habiskan untuk membaca buku ini lebih tidak selama membuat reviewnya. Hal tersebut dikarena banyak hal yang harus diperhatikan dan dipilah agar tidak berkesan mendukung atau membenci suatu kelompok atau gerakan tertentu,  tidak mengusung nuansa politik serta SARA.
Bagi saya buku ini mengisahkan tentang perjuangan seorang anak gadis untuk  bisa pergi ke sekolah. Jika ada yang menangkap pesan lain tersirat dalam kisah ini, maka hal tersebut tergantung pada bagaimana  individu tersebut memaknai kisah yang ada. 
Malala mengingatkan saya  pada sahabat keluarga yang berasal dari Pakistan. Mereka menikah atas dasar perjodohan ala moderen. Pihak orang tua memberikan foto calon pasangan pada anak mereka. Diikuti dengan beberapa kali pertemuan. Jika cocok maka mereka menikah, jika tidak mereka tetap menjaga hubungan pertemanan.

Uniknya, keluarga tersebut selalu memilih menantu perempuan dengan mempertimbangkan latar belakang pendidikan. Menantu pertama bersekolah di Inggris hingga setara DIII, menantu yang lain walau bersekolah di Pakistan memiliki gelar sarjana. Bagi keluarga itu pendidikan adalah hal yang penting. Dari ibu yang memiliki akhlak baik serta didukung dengan pendidikan yang baik, maka anak keturunannya lebih mudah diarahkan menjadi baik. Meski demikian, bagi saya ada juga ibu yang mau membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tinggi meski latar belakang pendidikannya biasa saja.

Kisah Malala dilirik penerbit untuk dijadikan sebuah buku. Dalam http://www.beritasatu.com/ disebutkan Penerbit Weidenfeld and Nicolson mengatakan memoar juga akan berkisah tentang hari gadis itu ditembak "dan kisah yang menginspirasi orang atas tekadnya tidak mau diintimidasi kaum ekstremis "menandatangani kontrak penulisan buku senilai US$3 juta (Rp 29 miliar).
Lebih lanjut dikatakan Malala, 15, yang sekarang berkampanye bagi pendidikan anak-anak, mengatakan memoar yang akan dibuat buku adalah cerita tentang dirinya sendiri dan jutaan anak lainnya yang tak mendapat kesempatan untuk bersekolah.
Perihal syal yang diterima Malala, banyak orang yang menyangka bahwa syal, scraft serta stola merupakan barang yang sama namun memiliki banyak nama. Padahal mereka berbeda.

Pada http://pashminee.blogspot.com/2012/07/perbedaan-scarf-syal-pasmina-dan-stole.html disebutkan mengenai perbedaan diantaranya. "Pengertian kain scarf, stole dan syal adalah sehelai kain yang dipakai dileher, kepala atau pundak, dengan tujuan untuk memberi rasa hangat, fashion, atau alasan religius. Yang membedakannya terletak pada ukurannya
  • Scarf, ukurannya 30×150 cm.
  • Stole, ukurannya 70×200 cm
  • Syal, ukurannya 90×200 cm
Lalu bagaimana dengan Pasmina? Istilah ini merujuk pada tipe kain wol cashmere dan semua kain yang terbuat dari bahan tersebut. Pasmina berasal dari kata pashm (Persia) yang berarti wol."
Malala Yousafzai  lahir  pada 12 Juli 1997. Namanya diambil dari nama seorang pejuang wanita suku Pusthun. Ayahnya sangat mengiginkan pendidikan, sementara sang ibu memegang peranan sebagai ibu rumah tangga yang hebat.  Keberaniannya dalam menulis berkat bimbingan ayahnya yang juga penyair, pemilik sekolah, sekaligus aktivis pendidikan. Ayahnya menjalankan beberapa sekolah yang dinamai Khushal Public School.  Meski Malala memiliki dua adik laki-laki, kedua orang tuanya tidak pernah membedakan kasih sayang yang mereka berikan. Kedekatan Malala dan sang ayah membuatnya ia seperti saat ini. Saat ini Ayahnya ditunjuk sebagai penasihat pendidikan PBB.

Pada tanggal 12 Juli 2013, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 16, Malala berpidato di depan Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat. Ada tiga hal penting yang terkandung dalam pidato tersebut, yaitu hak perempuan, perlawanan terhadap teroris serta kebodohan. PBB juga mendeklarasikan hari tersebut sebagai hari Malala

Pidato Malala secara lengkap bisa dilihat pada http://www.tempo.co/read
Berikut bagian yang saya sukai, 
...
Saudara saudariku,
Kita menyadari pentingnya cahaya ketika melihat kegelapan. Kita sadar pentingnya bersuara ketika kita dibungkam. Begitu juga, di Swat, di utara Pakistan, kami sadar pentingnya pulpen dan buku, ketika kami melihat senjata api.

Satu murid, satu guru, satu buku, satu pena, bisa mengubah dunia.
Pendidikan adalah satu-satunya solusi. Pendidikan harus diutamakan. Terimakasih

Sumber gambar:
1. http://kyosotoy.blogspot.com/2012/10/mensyukuri-pendidikan-belajarlah-dari.html
2. Buku  I Am Malala terbitan Mizan

----------

Review ini khusus untuk Mbak Esti yang sudah bersedia diganggu sekedar untuk mendiskusikan buku ini via telepon. Juga buat sang pemberi buku, Peter. Selalu senang mendapat buntelan dari mereka. Inspiratif, mengibur dan mendapat tambahan ilmu.

Dan untuk Malala-malala lain yang sedang memperjuangkan pendidikan di seluruh penjuru dunia. SEMANGAT!!!!