Sabtu, 05 Juli 2014

Review 2014# 34: Serdadu Pantai, SEMANGAT!!!!!


Penulis: Laode M. Insan
Penyunting: Hermawan Aksan
Penyelaras Aksara: Emi Kusmiati
Desain Sampul: Dwi Annisa A.
Desain Isi: Anisa Meilyasari
Penata Aksara: Nurul M. Janna
ISBN: 9786027816633
Halaman: 392
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 64.000


Dayan, Surman, Poci dan Suman  merupakan empat anak lelaki yang tinggal di Pulau Buton. Mereka hidup di desa nelayan, sebagai anak nelayan yang menghabiskan nyaris seluruh hari di laut, pantai atau tempat pelelangan ikan.


Dayan merupakan tokoh yang bercerita dalam buku ini. Sosoknya pada kover digambarkan membawa sebuah biola. Suman merupakan sosok yang dewasa sebelum waktunya. Anak kecil yang tahu sekali betapa beratnya hidup serta siap bekerja keras demi menjalani kehidupan yang keras di Buton. Poci berlawanan dengan Suman. Ia selalu bertingkah laku konyol. Semua hal sering dianggapnya enteng. Sementara Odi adalah anak yang lugu. Ia hanya melihat segala sisi dari hitam dan putih. Semua terlihat hanya dari sisi baik atau salah, kadang ia berkesan naif.

Buton sebagai lokasi kisah ini adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara  yang terkenal akan produksi aspalnya. Letaknya hanya 1,5 meter dari permukaan tanah dan kadarnya lumayan tinggi 10-40 persen. Namun jangan mengira tanah ditempat mereka tinggal teraspal rapi. Justru kondisinya menyedihkan. Ironi sekali, di pulau yang dikenal sebagai penghasil aspal terbaik, justru banyak jalan yang tidak atau rusak aspalnya.

Kehidupan keempat anak tersebut juga tidak bisa dibilang baik. Mereka jarang melihat nasi terhidang. Ikan sudah menjadi makanan utama, kadang ditambah hasil laut lainnya. Mengumpulkan kerang dan bulu babi menjadi kegiatan rutin demi mengisi perut. Kenikmatan menyantap makanan tergantung pada keterampilan memasak kaum ibu. Menyelam demi sebuah koin yang dilempar turis dari kapal yang lewat  tanpa peduli bahaya, merupakan kesempatan mendapatkan uang. Meski demikian mereka tetap berusaha menjalani hidup dengan takwa dan penuh tawa.

Walau begitu, keempat anak tersebut tidak mau ketinggalan pendidikan. Mereka tetap rajin bersekolah.
Mereka juga beranggapan belajar bisa dilakukan kapan sana dan dimana saja. Bahkan kehidupan sehari-hari seperti di pantai, tempat pelelangan ikan bahkan pasar juga bisa menjadi kelas, tergantung bagaimana kita mengambil pelajaran dari kehidupan ini.

Ibu Guru mereka, Ibu Ros mengajar tanpa pamrih. Kondisinya sendiri tidak lebih baik dari anak-anak didiknya. Baju kebesaran mengajarnya hanyalah sebuah atas coklat yang sering ditisik karena sudah termakan usia. Aneka kain bermotif bunga dipakai untuk menutipi bagian yang sering ditisik. 

Melalui buku ini, penulis berkisah tentang kehidupan di Pulau Buton saat aspal menjadi tulang punggung ekonomi hingga aspal tidak mampu menjadi sandaran banyak penduduknya.  Penulis cukup piawai bercerita. Gambaran tentang keindahan laut dan pantai di Pulau Buton tergambar dengan jelas. Kemiskinan yang dialami oleh keempat anak sebagai tokoh utama juga mampu membangkitkan rasa iba. Pilihan kata yang dipakai juga menunjukan kadar intelektual penulis.

Sepertinya tidak adil membandingkan buku ini dengan buku dengan tema serupa yang juga diterbitkan oleh anak perusahaan Mizan, Tentralogi Laskar Pelangi. Kenikmatan saya membaca buku ini menjadi agak berkurang.  Buku tersebut memang sudah menginspirasi banyak orang, tak terhitung penulis yang juga bersemangat membuat kisah serupa dengan mengambil latar belakang kehidupannya. Tapi tidak berarti beberapa bagian juga harus sama khan.


Mau tidak mau saya terbawa untuk membandingkannya. Pada awalnya saya sama sekali tidak mengingat tentang kisah Ikal dan kawan-kawannya. Secara otomatis niat membandingan itu muncul ketika sosok Ibu Ros muncul. Entah mengapa sosoknya seakan sama persis dengan sosok Ibu Muslimah. Beberapa bagian memang menunjukan perbedaan, tapi cara penulis menceritakan sosoknya sungguh mirip dengan sosok Bu Muslimah. Kenapa harus bu guru? Atau memang kebetulan para ibu guru yang memiliki hati begitu mulianya di Belitung dan Buton?

Salah satu tokoh, Odi dikisahkan memiliki radio dengan mengandalkan baterai yang berulang kali dijemur. Mirip sekali dengan salah satu tokoh dalam Laskar Pelangi. Lalu sosok sarjana bujang lapuk penggemar dangdut, juga mengingatkan pada pimpinan orkes dalam Laskar Pelangi. Kenapa tidak mengusung kesenian setempat selain musik dangdut? Misalnya penari tradisonal terbaik.

Kenapa judulnya Serdadu Pantai? Serdadu mirip dengan Laskar. Hal ini kian menggiring ingatan saya pada buku sejenis. Judul lama, Negeri Sepati akan membuat buku ini berbeda. Mungkinkah penerbit sengaja memberikan judul tersebut dengan harapan mampu mengekor kesuksesan buku terdahulu? Setiap buku memiliki saripati kisah sendiri, pembaca sendiri dan keberuntungannya sendiri. Sayang sekali jika kreativitas penulis diarahkan hanya demi mengekor kesuksesan buku sejenis.

Walau begitu, penulis layak diacungi jempol saat mengolah sosok tokoh Suman. Seorang anak kecil, belum lulus SD harus menanggung beban hidup sedemikian besar. Berkat campur tangan Sang Pencipta maka banyak hal bisa terselesaikan dengan baik. Meski demikian unsur kebetulan yang melibatkan seorang rentenir dan anaknya perlu dibuat dengan lebih menawan lagi.

Membaca buku ini,kita juga mendapat pengetahuan tambahan mengenai kehidupan masyarakat Buton. Penulis cukup rajin memberikan catatan kaki sehingga pembaca bisa kian menikmati kisahnya. Contohnya tentang penambahan kata. Kata  la untuk laki-laki dan wa untuk perempuan, meski demikian ada nama yang langsung menambahkan kata la dan wa. Maka bisa kita tebak penulis buku ini adalah seorang pria.
Landak laut atau disebut juga bulu babi (Echinoidea) merupakan hewan laut yang berbentuk bundar dan memiliki duri pada kulitnya yang dapat digerakkan.Duri-duri inilah yang dipakai untuk bergerak, mencapit makanan dan melindungi diri.Bulu babi memiliki cangkang yang keras dan bagian dalamnya bersisi lima simetris.  Hewan ini dapat ditemukan mulai dari daerah pasang surut sampai di kedalaman 5.000 meter. 

Hewan ini bisa diolah menjadi panganan yang lezat.Maka tak heran jika keempat anak dalam kisah ini bersemangat mengumpulkannya. Tentunya dengan hati-hati mengingat duri yang ada tidak hanya menusuk namun mampu membuat meriang yang tertusuk.

Dalam  https://www.facebook.com/notes/jaringan-pengusaha-muslim-indonesia disebutkan bahwa bila kita masuk ke warung-warung sushi , produk bulu babi berupa telur, yang dikenal dengan “uni” dan harganya sangat mahal. Untuk satu kilogram uni di Jepang harganya berkisar antara 50 sampai $ 500 US, tergantung warna dan teksturnya. Meskipun demikian, kegilaan masyarakat Jepang untuk mengkonsumsi uni ini sangat tinggi. Terbukti dengan 90 % produk bulu babi dunia, dikonsumsi oleh masyarakat Jepang. Disebabkan karena adanya penangkapan bulu babi yang berlebihan di Jepang, yang telah berlangsung dari sekitar 100 tahun lalu, kini mereka harus mengimpornya dari Amerika Serikat, Chile, Russia, Kanada dan Korea Selatan. 


Buku yang tidak saja menghibur namun juga inspiratif dan menambah pengetahuan.


Sumber gambar:http://sip-alamnusantara.blogspot.com

Rabu, 02 Juli 2014

Review 2014#33: The Bliss Bakery Trilogy #3: Bite-Sized Magic



Penulis: Kathryn Littlewood
Penerjemah: @putronugroho
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Penyelaras Aksara: Herlinawati Sitorus, Lani Rachmah
Penata Aksara: Nurul M Janna
ISBN: 978-602-1306-00-0
Halaman: 345
Penerbit: Mizan Fantasi (Noura Books, Imprint Mizan Media Utama)
Harga: Rp 58.000

"Kalau saja aku tidak perlu membuat roti lagi."


Hati-hati mengucapkan  apa yang kau inginkan, terutama jika menjelang ulang tahun. Harapan yang diucapkan sebelum ulang tahun sering menjadi suatu hal atau peristiwa  tak terduga.  

Setidaknya begitulah yang terjadi terhadap Rose. Keinginannya bisa dimaklumi. Setelah menjadi Chef termuda yang pernah menjuarai Gala des Gateaux Grands kehidupannya menjadi berubah total.


Sering kali saat ia membuka kamar tidurnya yang terlihat adalah segerombolan pencari berita yang ribut meneriakan berbagai pertanyaan. Ketenangan  dan kedamaian jauh dari kehidupannya. Musim panas kali ini memberikan suasana yang berbeda bagi Rose, dan tentu saja keluarganya. 


Tidak hanya para wartawan, surat-surat penggemar yang berisi beragam permintaan. Sage dan Ty, kedua saudara laki-laki Rose bertugas menyortir surat-surat tersebut. Isinya beragam. Dari Presiden Spanyol yang menginginkan sepotong kue, Majelis Umum PBB yang ingin dibuatkan cupcake pada pertemuan selanjutnya untuk setiap duta besar yang dihiasi bendera masing-masing negara dengan cita rasa kampung halaman setiap duta besar dalam setiap gigitan, hingga artis Katy Perry yang begitu menginginkan kue buatan Rose.


Setelah berhasil mengalahkan Bibi Lily Le Fay, Rose mengira urusannya dengan sang bibi setesai sudah.  Buku resep keluarga memang telah kembali.  Namun ada yang tidak ada, Apokrif Albatross. Bagian tersebut berisi resep-resep jahat yang membawa pengaruh buruk. Biasanya diselipkan di kantong sampul belakang Bliss Cookery Booke. Namun saat  Lily mengembalikan Booke sesuai perjanjian jika ia kalah pada Gala des Gateaux Grands, Apokrif tersebut tidak ada. 

Ternyata ada pihak lain yang berniat menguasai dunia melalui roti. Mereka nekat menculik Rose setelah gagal mendapatkan Booke. Rose dipaksa membuat roti-roti yang mengerikan dengan menyempurnakan resep yang sebelumnya telah dibuat  oleh Lily dengan bantuan Apokrif. Dengan kecerdikannya  Rose berhasil menemukan Apokrif, yang ternyata selain memuat resep sihir jahat  juga mencantumkan resep penawarnya. Dunia berhutang terima kasih pada Rose.


Ironi memang. Selama ini Follow Your Bliss Bakery berusaha menciptakan sesuatu guna membantu orang lain terutama warga Calamity Falls. Ada  Kukis Kebenaran untuk Ny. Havegood yang suka berbohong, Pastel-Apel-Petualangan untuk Perhimpunan Pustakawati, Shortbread Mata-Melihat bagi Florence sang penjual bunga yang nyaris buta, dan masih banyak lagi warga kota. Pihak lain justru menciptakan hal yang merugikan seperti kegemukan, gigi berlubang dan berbagai penyakit lainnya akibat terlalu banyak makan kue.


Ada lima resep PKMM yang harus diselesaikan Rose dalam waktu singkat. PKMM, Produk Konsumsi Mirip-Makanan. Disebut begitu dikarenakan campuran bahan pengawet dan zat kimia yang digunakan oleh pihak yang menawan Rose, oleh pemerintah dianggap sebagai Bukan Makanan, tapi Mirip Makanan. Sungguh berbeda dengan yang disajikan oleh keluarga Rose, semuanya tanpa bahan pengawet.


Dalam buku ini aneka bahan ajaib masih kita temukan. Penulis dengan piawai memberikan sebuah resep dengan sihir jahat dan memberikan penawarkan yang jika dipikir lebih dalam memang saling terkait. Misalnya saja untuk melawan Objek Antipati, maka Rose harus membuat roti dengan bahan ajaib Kasih Ibu. Kasih sayang seorang ibu terkenal mampu meruntuhkan banyak hal buruk.


Dibandingkan dengan buku pertama, buku ini lebih menonjolkan sosok Rose. Penulis memempatkan Rose pada posisi yang sulit dimana banyak keputusan penting harus diambilnya sendiri. Memang ada keluarga yang mendukungnya, tapi sepenuhnya beban berada di pundak Rose.


Agak tidak masuk akal juga seorang gadis remaja diberi beban untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan yang bakal ditimbulkan oleh roti! Pada beberapa bagian, Rose seakan menjelma bukan menjadi gadis remaja tapi seorang wanita muda. Beberapa tindakan dan cara berpikirnya digambarkan bukan untuk seorang gadis remaja.


Beberapa hal juga berkesan kebetulan sekali. Misalnya saat Rose berhasil menemukan Apokrif. Ia bisa menemukan dengan mudah. Padahal di sana ada banyak tempat yang mungkin dijadikan tempat persembunyian.

Menurut pihak penerbit buku ini merupakan buku pamungkas, namun saya masih penasaran dengan bagaimana nasib Penggilas Adonan, musuh bebuyutan keluarga  Bliss? Mungkinkan penulis  mengeluarkan buku keempat yang berisi pertarungan final antara keduanya. 


Kover buku ini masih konsisten dengan menampilkan cupcake di beberapa bagian. Warna biru mendominasi kover, bahkan  halaman dari sisi samping yang diberi warna biru membuat buku ini kian menarik dan menggoda.


Untuk urusan terjemahan, Lulu Fitri Rahman tidak diragukan lagi kemampuannya. Buku ini menjadi kian menarik untuk dibaca. Saya tertawa lepas membaca terjemahan di Bab 17 paragraf ke-3 kalimat pertama. Kalimat yang diteriakan oleh Tn Butter. Bisa-bisanya mengalihkan menjadi kalimat tersebut. Kocok dan menghibur.
Sebuah kalimat yang saya yakini banyak disukai oleh para pembuat kue terdapat dalam buku ini, " Kehidupan tanpa sesekali sepotong kue adalah... kehidupan yang hampa."  Kehampaan hidup adalah hal yang berusaha disingkirkan oleh Keluarga Bliss melalui resep-resepnya.
Kadang saat melihat sepotong kue yang dihias dengan begitu indah, ada rasa sayang untuk memakannya, saat akhirnya memutuskan untuk memakan, gigitan pertama memberikan sensasi kenikmatan luar biasa. Butuh lama untuk membuat sepotong kue, tak lama waktu untuk menghabiskan. Tapi efek yang ditinggalkan dri sepotong kue yang dibuat dengan cinta kasih akan bertahan lama.


Penasaran akan Pastel-Apel-Petualangan  yang dibuat untuk Perhimpunan Pustakawati. Saya lebih sering mendengar Pustakawin untuk menjelaskan petugas perpustakaan yang wanita.  Rupanya dari buku pertama hingga ketiga, masih dimasukan dalam kategori  sosok yang membosankan. Andai penulis ini berkunjung ke tempat saya, bisa dilihat betapa dinamisnya sosok-sosok di sini. SEMANGAT!!!!!

Minggu, 29 Juni 2014

Review 2014 #32: Black Flag

Penulis: Oliver Bowden
Penerjemah: Melody Violine
Penyunting: Aramis
Penata Letak: Gigitzs
Pendesain Sampul: Def
ISBN: 978-602-7689-886
Halaman: 526
Penerbit: Fantasious

"Buku tante sama dengan game saya," seorang anak laki-laki berkata sambil sibuk menunjuk buku yang sedang saya baca. Sementara sang ibu yang duduk di sebelahnya sibuk berusaha mendiamkan dan memberikan tatapan maaf kepada saya. Saat itu saya sedang berada di pesawat dalam rangka workshop. Saya duduk di kursi 33D, sementara anak lelaki yang tidak bisa diam itu duduk di 33B, sang ibu duduk di 33C.

"Mau lihat?"saya segera menyodorkan buku tersebut. Anak  pintar dan pemberani, batin saya. Ia tidak duduk manis tapi sibuk melihat keadaan pesawat serta bertanya macam-macam  hal yang menarik perhatiannya pada sang ibu . Ia juga tidak malu mengungkapkan suatu hal yang ada di pikirannya. Kover buku ini memang menggoda mata untuk melirik.

Dengan cepat anak itu menyambar dan segera membuka halamannya. Wajah penasaran segera beralih menjadi kecewa. Dikembalikan buku tersebut sambil berkata, "Ngak seru tan, ngak ada gambarnya. Seruan game saya" Sang ibu kembali memberikan teguran halus, sementara saya cuman bisa tertawa lepas.

Buku ini memang dibuat berdasarkan game. Sang penulis Oliver Bowden alias Anton Gill merupakan sosok sejarawan renaisans yang menulis sejak 1984.  Novel Assassin's Creed merupakan novel yang karakterknya dikembangkan dari versi game-nya.

Templar dan Assassin, keduanya merupakan musuh sejak dahulu. Dalam buku yang lain kita akan menemukan sosok Assassin yang sedang menjalankan misinya, dimana bisa dipastikan juga ada bagian yang mengisahkan pertempuran dengan Templar.


Buku ini justru mengisahkan tentang sosok Edward Kenway sang privatir yang belakangan menjadi seorang bajak laut. Pada awalnya Edward hanya pria biasa yang jatuh cinta pada wanita yang salah. Salah karena Caroline Scott adalah putri seorang eksekutif East India Company, dengan kata lain anak orang kaya. Sementara Edward hanyalah anak seorang peternak domba. Pernikahan mereka pastinya ditentang oleh ayah Caroline, Emmett Scott.     Hal tersebut dibuktikan dengan menolak membayarkan mahar bagi putrinya.

Ia berusaha keras mencari kekayaan dan kejayaan agar tidak mampu memberikan kehidupan layak yang sebelumnya dimiliki Caroline. Saat seseorang menyebutkan menjadi privatir bisa memberikan apa yang diinginkannya, segeralah ia bergabung dengan kapal Emperor, bisa dikatakan sebagai anggota termuda dibandingkan yang lain.

Edward Kenway adalah seorang privatir, tadinya. Privatir adalah seseorang yang diberi persetujuan oleh pemerintah Inggris berdasarkan letter of marque untuk menyerang kapal-kapal musuh terutama kapal armada Spanyol dan mengambil hartanya. Sang kapten dan anak buahnya mendapat komisi dari tindakan tersebut. Seiring waktu ia mengubah haluan menjadi seorang bajak laut demi memperkaya dirinya agar bisa kembali ke kampung halaman dengan mendongak.

Edward cukup piawai menjadi bajak laut. Dengan mentor Benjamin Hornigold dan  Edward"Blackbeard" Teach  siapa yang tidak menjadi hebat.  Benjamin Hornigold dulu adalah mentor Blackbeard, lalu bersama Blackbeard menjadi mentor Edward. Bisa dikatakan Edward berada di tangan para ahli. 

Apapun yang bisa menghasilkan uang menarik perhatiannya, termasuk ketika ia menemukan jalan pintas guna mendapatkan uang dengan menyamar menjadi sosok salah satu pria yang hendak membawa sesuatu barang yang akan dihargai sangat memuaskan oleh Gubenur  Havana, Laureano Torres y Ayala.

Sayangnya, kali ini ia berada di tempat yang salah! Pria tersebut ternyata anggota sebuah ordo dengan kedudukan yang cukup lumayan. Ia berkhianat dengan menyeberang ke pihak lawan. Ke pihak yang memiliki prinsip "Membimbing semua jiwa yang tersesat sehingga mereka mencapai jalan yang tenang."

Celaka bagi Edward. Alih-alih mendapatkan harta, ia malah diburu banyak pihak yang mengincar benda berharga yang disangka ia bawa, dimana ia sendiri tidak tahu benda berharga apa yang dimilikinya. Serta pihak-pihak yang merasa dikhianati, tanpa ia tahu pengkhianatan apa yang dituduhkan padanya

Kehidupan berat di laut membuat Edward harus selalu waspada. Nasibnya ditentukan dengan kecermatannya memandang sekitar. Ia harus pandai menilai mana lawan dan kawan. Musuh dari musuhku adalah temanku, menjadi prinsipnya.

Seiring waktu, Edward menemukan dimana sesungguhnya ia harus berada. Ia bergabung dengan sebuah ordo yang dulu pernah digunakannya untuk meraih keuntungan dari Gubenur  Havana. Dendam masa lalunya juga terbalaskan. Kekuatan yang dulu bagaikan momok bagi kedua orang tuanya kini adalah musuh terbesarnya. Dan ia tidak merasa takut!

Melihat bagaimana Edward akhirnya menentukan dipihak mana ia berada cukup memberikan banyak pelajarean bagi kita. Pada dasarnya kehidupan merupakan penjabaran dari apa yang kita pilih. Mau apa, melangkah ke mana serta bagaimana. Sebab dan akibat yang terjadi menjadi konsekunesi diri masing-masing tanpa ada campur tangan pihak lain.

Buku ini memuat tentang banyak seputar bajak laut dan privatir. Bagaimana saat itu bajak laut beroperasi dijabarkan dengan sungguh menawan. Meski melakukan penjarahan namun mereka tetap memiliki semacam kode etik. Contohnya, saat berdiri di sebuah kapal yang sedang terbakar, maka ada beberapa point yang harus diperhatikan:
1. Jika hendak membunuh, tuntaskan
2. Kalau tidak bisa membunuhnya sebaiknya tidak meminta tolong dari orang yang hendak dibunuh
3. Jika terpaksa meminta tolong, sebaiknya tidak marah kepadanya

Beberapa bajak laut yang disebutkan dalam buku ini nyata adanya. Calico Jack Rackham terkenal sebagai pelopor bendera Jolly Roger, yaitu bendera khas bajak laut dengan gambar tengkorak dan dua tulang bersilang. Ia adalah   seorang pelaut hebat yang memiliki  punya dua orang letnan. Bukan hal hebat sebenarnya memiliki letnan, namun keduanya adalah perempuan Anne Bonny dan Mary Read. Keduanya berhasil kabur dari penjara saat meminta penundaan hukuman mati dengan alasan sedang hamil.

Edward Teach, alias Blackbeard, adalah seorang bajak laut yang terkenal akan terornya di Laut Karibia yang berlangsung selama awal abad ke-18, suatu masa disebut sebagai masa keemasan bajak laut. Blackbeard awalnya memulai karir pelautnya sebagai privatir untuk kerajaan Inggris selama Perang Suksesi Spanyol atau  Perang Ratu Anne (Perang Suksesi Spanyol 1701-1713)   Kapalnya yang terkenal adalah Queen Anne's Revenge. Blackbeard sering bertarung dengan menggunakan banyak pedang, pisau, dan pistol. Dilaporkan bahwa ia juga sering menyalakan korek api ke janggut hitam besarnya selama pertempuran untuk mengintimidasi musuh-musuhnya.


Pada umumnya buku ini cukup menghibur. Kisah cinta yang membuat Edward nekat menjadi semacam benang merah yang menghubungkan aneka peristiwa dalam kehidupan Edward. Semua yang dikerjakan pada akhirnya mengacu pada suatu tujuan, guna menjadi sosok yang berguna dan terpandang.

Beberapa bagian menurut saya terlalu mengada-ngada, namun bukannya tidak mungkin terjadi. Saat Sang Pembawa Pesan bagi Edward berhasil menyelesaikan misinya sebagai contoh. Bagaimana ia bisa selamat dalam  situasi yang membahayakan dimana banyak pihak yang mengincar dan ingin membuat Edward celaka. Belum lagi situasi dan kondisi perairan yang bisa dikatakan berbahaya baginya.


Ilustrasi yang ada di bagian kover depan memberikan efek luar biasa. Sepertinya Edward adalah seorang kapten kapal dan seorang assassin yang handal. Dengan bilah tersembunyi di tangan kiri dan senjata api di tangan yang lain, ia menghabisi lawannya dengan hitungan detik dalam jumlah yang banyak. Edward menjadi sosok yang menakutkan dengan gayanya sendiri.


Judul yang dipilih Black Flag, bendera hitam bisa merujuk pada bendera hitam yang biasa dipakai oleh para bajak laut, dasar hitam dengan tengkorak putih. Dengan membaca judulnya saja, pembaca bisa menduga pasti ada kaitannya dengan bajak laut.


Bajak laut memang merupakan topik yang lumayan menarik. Dari film, buku hingga aneka asesoris dengan tokoh bajak laut bisa kita ketemui. Peter Pan dengan musuh bebuyutannya, Trio Detektif mengusung tema bajak laut dalam beberapa bukunya, Pirate Latutudes besutan Muchael Chrichton yang terakhir juga mengusung tema bajak laut.  bahkan animasi one peace pada dasarnya juga mengambil sosok bajak laut.

Bajak Laut+Assassin= Edward

KEREN.................!





Sumber Gambar:
http://carakata.blogspot.com/2012/07/black-beard-legenda-bajak-laut-paling.html





Senin, 23 Juni 2014

Review 2014 #31: Semua Untuk Hindia



Penulis: Iksana Banu
Perancang Sampul: Yuyun Nurrachman
Ilustrasi: Yuyun Nurrachman
Penata Letak: Suwarto
ISBN-9789799107107
Halaman: 154
Penerbit: KGP (Kepustakaan Populer Gramedia)
Harga: Rp 40.000

Buku ini berjodoh dengan saya dengan cara yang unik. Bermula dari keinginan untuk memborong buku favorit saya LW saya melangkah dengan semangat ke toko buku di kawasan GI. Apa daya buku yang saya cari harus dipesan terlebih dahulu, sementara kover lain ternyata tidak ada dalam  persediaan mereka.

Pantang pulang dengan tangan kosong, saya melangkah ke toko buku lokal di kawasan yang sama. Menyedihkan sekali suasananya. Padahal dulu toko itu sempat menjadi toko buku yang laris dan paling bergensi di Jakarta.

Di pintu masuk, sudah terlihat banner buku ini. Saya tertarik? sedikit karena melihat ilustrasi  kamera yang tergelantung di leher salah satu sosok. Belakangan saya baru tahu bahwa ini merupakan ilustrasi dari kisah   Semua Untuk Hindia, dimana dalam kisah tersebut yang disajikan ilustrasi dalam warna hitam putih. Soal isi nanti dulu, sebagai bukan penggemar buku sejarah dan sejenisnya buku ini bukan menjadi skala prioritas untuk dibeli.

Sekedar iseng, mulai membuka lembar-lembar awal. Mendadak menemukan nama Ibu Peri Endah Sulwesi serta Mas Kurnia "Kef" Effendi. Rasa penasaran membuat buku ini berada dalam keranjang belanjaan dan ikut menemani selama menempuh perjalanan di pesawat. Tak butuh lama tugasnya menemani saya.

Sedikit agak susah bagi saya untuk membuat review buku ini. Sebenarnya sebuah review sudah selesai, namun mendadak entah kenapa saya melanggar kebiasaan dengan membaca kata pengantar atau apapun namanya, yang dalam buku ini dibuat oleh Nirwan Dewanto.

Sudah saya duga!
Begitu selesai membacanya maka porak-porandalah review saya. Itu sebabnya saya jarang membaca bagian tersebut. Umumnya bagian tersebut memuat tentang beberapa hal terutama tanggapan terhadap buku tersebut.

Dalam kasus ini, nyaris sebagian besar komen saya memiliki kesamaan makna dari beliau. Soal mengkaji materi jelas saya masih jauh. Tapi kurang lebih begitulah saya menangkap isi tiga belas cerita yang tersaji dalam buku ini. Kisah tersebut adalah  Selamat Tinggal Hindia; Stambul Dua Pedang; Keringat dan Susu; Racun untuk Tuan; Gudang Nomor 012B; Semua untuk Hindia; Tangan Ratu Adil; Pollux; Di Ujung Belati; Bintang Jatuh; Petunjuk Jalan; Mawar di Kanal Macan serta Penabur Benih. 

Ketiga belas kisah  dalam  buku ini  menjadikan AKU sebagai tokoh. Sosok AKU pada tiap kisah berbeda satu dengan yang lainnya. AKU pada kisah Mawar di Kanal Macan adalah  Letnan Dapper, AKU adalah sosok Letnan Fabian Grijs,  AKU pada Semua untuk Hindia adalah Bastiaan de Wit,  dan masih banyak lagi. Penulis seakan ingin membuat kesan pembaca sedang membaca kisah yang ditulis oleh pelakunya langsung dengan menggunakan kata AKU. 

Kisah Racun Untuk Tuan dan beberapa kisah sejenis membuat saya teringat pada buku Nyai dan Pergudikan di Hindia Belanda  besutan Reggie Baay. Sosok seorang Nyai identik dengan kebaya putih berenda. Sehingga saat    Imah diberhentikan sebagai Nyai, ia segera mengganti kebaya putih berendanya  dengan kebaya berwarna ungu. 

Entah atas dasar profesionalisme sebagai seorang pengurus rumah tangga atau sikap pengabdian yang tulus Imah terbukti cakap dalam mengurus rumah tangga. Pagi buta ruangan sudah bersih. Aroma kopi panas kental menggoda lengkap dengan roti panggang, selai dan telur rebus. Siang serantang makan siang siap dihantar. Jendela kaca ruang tamu yang bersih, bebas debu dengan korden berlipit-lipit yang dikelantang sempurna. Buku-buku tersusun rapi tanpa ada debu di permukaannya. Di sudut ruangan sebuah kursi malas dengan selimut dan bantal kecil menjadi saksi bisu bagaimana Imah mengurus tuannya yang menderit malaria selama satu bulan.


Tidak hanya  mengurus rumah dengan sempurna, namun  Imah juga  mengurus keperluan lain Tuan Aachenbach.  Malam hari Umah akan memainkan jarinya dari ujung kepala hingga ujung kaki sang tuan yang telah dilumuri minyak gosok. Menghilangkan seluruh rasa penat setelah seharian bekerja.  Sering kali kegiatan tersebut menimbulkan kegiatan lain sehingga Imah memberikan sepasang anak, Joost dan Kaatje  bagi Tuan Aachenbach.

Hanya enam tahun saja Imah menjadi seorang Nyai sebelum sang tuan menggantikannya dengan perempuan dari bangsanya. Meneydihkan memang. Nasib kedua anaknya juga menjadi tidak jelas. Dari pandangan pihak sang ayah mereka dianggap rendah karena lahir dari rahim seorang pribumi, sementara dari pihak ibu, apapun alasannya mereka memiliki darah Belanda. Sehingga tidak sama kedudukannya dalam masyarakat. 

Kopral Joris Zonderboots dalam kisah Keringat dan Susu misalnya. Masa kecilnya  sungguh sulit, di kalangan Belanda tidak diterima sementara di lingkungan pribumi menjadi cemooh. Sang ayah meninggal saat perang Aceh dan tak ada  tuan Belanda yang mau meneruskan menjadi suami sang ibu sehingga ia harus keluar dari tangsi dan menitipkan anak-anaknya di panti asuhan. Belakangan kabar menyebutkan sang ibu mati dirajam penduduk karena dianggap pelacur  dan pengkhianat karena pernah hidup bersama Belanda.

Memang ada juga peranakan yang sedikit beruntung seperti  Hans Peter Verblekken dalam kisah  Gudang Nomer 012B. Seorang jawara setempat, sepupu ibunya, Mang Acim, dengan hati terbuka membantu menanggung keperluannya sejak kecil. Tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab sang ayah. Namun kerendahan hati serta kebanggannya bisa membesarkan seorang keturunan Eropa membuat Mang Acim menjaga jarak. Seakan mengingatkan walau bagaimana ia setingkat dibawah sang keponakan.

Atau sosok Sarni alias NyonyaVan Rijk. Ia dijadikan istri resmi oleh  Maathjs Adelaar Van Rijk tanpa perduli cemooh rekan-rekannya dalam Stambul Dua Pedang. Ia menjadikan Sarni tidak hanya sebagai teman tidur namun istri resmi dimana ia bisa berbagi banyak hal tidak hanya tempat tidur. Di mana dukungan dan pertimbangannya juga diperlukan. Terlebih Sarni dicintai karena menyukai  buku dan opera, kesukaan yang ditularkan oleh Van Rijk. 

Sayangnya, ia justru  ingin meninggalkan semuanya hanya demi kenikmatan duniawi dan sebuah cinta konyol seorang bintang panggung.  Apakah  benar cinta konyol yang membutakan Sarni atau,  urusan sex yang sudah menjadi kebutuhan dasar manusia yang membutakannya. Yang pasti bukan karena keinginan untuk menjadi istri seorang pribumi.

Di tempat lain, para Nyai berjuang keras, berdoa tanpa henti demi masa depannya serta anak-anak dari hasil hubungannya.Pada buku Gelang Giok Naga, salah satu tokoh memilih berhenti menjadi Nyai dengan alasan ketidakjelasan masa depan. Sarni justru melepaskan apa yang diimpikan banyak Nyai saat itu, menjadi istri resmi seorang Belanda. Begitulah manusia.

Sungguh ironi, dahulu seorang anak peranakan menjadi tidak jelas keberadaannya dalam masyarakat. Sering direndahkan, dicela dan dikucilkan. Sekarang, jusrtu masyarakat kita sangat mengagumi mereka yang lahir sebagai peranakan. Bahkan banyak yang dengan sadar memilih menikah dengan orang asing demi memiliki anak-anak peranakan yang umumnya memiliki postur tubuh memukau. Alasan yang sangat berbeda dengan yang dimiliki oleh perempuan pribumi yang dahulu menjadi Nyai.

Ilustrasi pernah dipublikasikan di
Koran Tempo, 26 Februari 2012

Keringat dan Susu  yang mengisahkan tentang ibu susu seorang   Kisah Selamat Tinggal Hindia. Kedua kisah mengingatkan pada Buku  Oeroeg dari Hella S. Haasse, dimana tokohnya  menghabiskan masa kecil dengan bersahabat dengan pribumi. Kedua tokoh hidup  dalam kedua kisah tersebut juga  besar di Hindia Belanda. Bagi keduanya, kenangan akan Hindia Belanda sudah terpatri begitu kuat.

Beberapa kisah membuat saya terkagum-kagum akan kecintaan para tokoh utama akan tanah air. Hal ini mirip beberapa kisah dalam dunia nyata. Misalnya seorang pesinden dari negara lain yang lebih Jawa dari pada mereka yang lahir di pulau Jawa. Sementara para remaja tanah air justru kebanyakan bangga bisa menjadi vokalis band dari mana belajar nyinden.

Geertje dalam Kisah Selamat Tinggal Hindia menyebutkan," Ini tanah airku. Ini Rumahku. Apapun yang ada  di ujung nasib, aku tetap tinggal di sini. Sementara Letnan Pieter Verdragen mimiliki ibu susu hingga usianya lima tahun. Ibu kandungnya meninggal tak lama setelah melahirkan. Ia melepaskan seorang anak kurang waras yang mimpi menjadi tentara karena melihat sang ibu yang baru melahirkan menagis di hadapannya dengan perutnya yang terlilit kencang kain putih banyak tali dan buah dadanya yang hanya tertutup kebaya. Bau ASI dan keringat membuatnya mengenang masa kecil.

Selain mengenai kisah dengan latar belakang kehidupan sosial, pemberontakan guna membebaskan tanah air tercinta juga menjadi bahan kisah dalam buku ini. Beberapa sosok yang dikenal cukup  merepotkan Belanda juga diangkat sebagai kisah. Sosok   Pangeran Jawa berhati Singa dalam kisah Pollux mengacu pada Pangeran Diponegoro. Sementara pada Petunjuk Jalan, Pangeran kebatinan bisa langsung diduga adalah sosok Untung Surapati.

Penulis membuat kisah Bintang Jatuh guna menghormati para korban Tragedi Mei 1998. Saya justru menjadi teringat pada kisah pembataian Etnis Tionghoa pada 9–22 Oktober 1740, 1740. Ada yang  menyebutnya sebagai Geger Pecinan, Tragedi Angke,  dan Chinezermood. Beberapa tempat memiliki nama yang mungkin merupakan dampak dari peristiwa tersebut.  Rawa Bangke bisa saja diambil guna mengenang banyaknya mayat atau bangke yang terbunuh di sana. Tanah Abang bisa bermakna tanah merah, sebagai daerah yang banyak terkena darah  orang Tionghoa.

Secara keseluruhan, saya tidak merasa membaca buku dengan tema sejarah. Saya menikmatinya sebagai sebuah buku yang mengambil setting cerita saat penjajahan. Jika ada fakta sejarah disampaikan dengan cara yang tidak membosankan, namun dijadikan sebagai bagian yang memberikan nyawa bagi cerita tersebut. Andai pelajaran sejarah disampaikan dengan cara yang serupa ini, tentunya makin banyak yang menyukai membaca buku sejarah. Saya salah satunya,   pasti itu.

Cara penulis menggunakan kata "mijn God" membuat saya tersenyum. Bukan karena katanya, namun penempatannya. Untuk menunjukkan sesuatu yang sangat mengejutkan atau sangat luar biasa, penulis menggunakan kata tersebut. Sehingga pembaca menjadi kian  ikut merasakan suasana yang dibangun pada cerita tersebut. 

Menambah pengetahuan dan menghibur tentunya. Sangat dianjurkan dibaca bagi kaum muda agar lebih memiliki rasa bersyukur hidup di zaman merdeka seperti saat ini