Sabtu, 05 Juli 2014

Review 2014# 34: Serdadu Pantai, SEMANGAT!!!!!


Penulis: Laode M. Insan
Penyunting: Hermawan Aksan
Penyelaras Aksara: Emi Kusmiati
Desain Sampul: Dwi Annisa A.
Desain Isi: Anisa Meilyasari
Penata Aksara: Nurul M. Janna
ISBN: 9786027816633
Halaman: 392
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 64.000


Dayan, Surman, Poci dan Suman  merupakan empat anak lelaki yang tinggal di Pulau Buton. Mereka hidup di desa nelayan, sebagai anak nelayan yang menghabiskan nyaris seluruh hari di laut, pantai atau tempat pelelangan ikan.


Dayan merupakan tokoh yang bercerita dalam buku ini. Sosoknya pada kover digambarkan membawa sebuah biola. Suman merupakan sosok yang dewasa sebelum waktunya. Anak kecil yang tahu sekali betapa beratnya hidup serta siap bekerja keras demi menjalani kehidupan yang keras di Buton. Poci berlawanan dengan Suman. Ia selalu bertingkah laku konyol. Semua hal sering dianggapnya enteng. Sementara Odi adalah anak yang lugu. Ia hanya melihat segala sisi dari hitam dan putih. Semua terlihat hanya dari sisi baik atau salah, kadang ia berkesan naif.

Buton sebagai lokasi kisah ini adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara  yang terkenal akan produksi aspalnya. Letaknya hanya 1,5 meter dari permukaan tanah dan kadarnya lumayan tinggi 10-40 persen. Namun jangan mengira tanah ditempat mereka tinggal teraspal rapi. Justru kondisinya menyedihkan. Ironi sekali, di pulau yang dikenal sebagai penghasil aspal terbaik, justru banyak jalan yang tidak atau rusak aspalnya.

Kehidupan keempat anak tersebut juga tidak bisa dibilang baik. Mereka jarang melihat nasi terhidang. Ikan sudah menjadi makanan utama, kadang ditambah hasil laut lainnya. Mengumpulkan kerang dan bulu babi menjadi kegiatan rutin demi mengisi perut. Kenikmatan menyantap makanan tergantung pada keterampilan memasak kaum ibu. Menyelam demi sebuah koin yang dilempar turis dari kapal yang lewat  tanpa peduli bahaya, merupakan kesempatan mendapatkan uang. Meski demikian mereka tetap berusaha menjalani hidup dengan takwa dan penuh tawa.

Walau begitu, keempat anak tersebut tidak mau ketinggalan pendidikan. Mereka tetap rajin bersekolah.
Mereka juga beranggapan belajar bisa dilakukan kapan sana dan dimana saja. Bahkan kehidupan sehari-hari seperti di pantai, tempat pelelangan ikan bahkan pasar juga bisa menjadi kelas, tergantung bagaimana kita mengambil pelajaran dari kehidupan ini.

Ibu Guru mereka, Ibu Ros mengajar tanpa pamrih. Kondisinya sendiri tidak lebih baik dari anak-anak didiknya. Baju kebesaran mengajarnya hanyalah sebuah atas coklat yang sering ditisik karena sudah termakan usia. Aneka kain bermotif bunga dipakai untuk menutipi bagian yang sering ditisik. 

Melalui buku ini, penulis berkisah tentang kehidupan di Pulau Buton saat aspal menjadi tulang punggung ekonomi hingga aspal tidak mampu menjadi sandaran banyak penduduknya.  Penulis cukup piawai bercerita. Gambaran tentang keindahan laut dan pantai di Pulau Buton tergambar dengan jelas. Kemiskinan yang dialami oleh keempat anak sebagai tokoh utama juga mampu membangkitkan rasa iba. Pilihan kata yang dipakai juga menunjukan kadar intelektual penulis.

Sepertinya tidak adil membandingkan buku ini dengan buku dengan tema serupa yang juga diterbitkan oleh anak perusahaan Mizan, Tentralogi Laskar Pelangi. Kenikmatan saya membaca buku ini menjadi agak berkurang.  Buku tersebut memang sudah menginspirasi banyak orang, tak terhitung penulis yang juga bersemangat membuat kisah serupa dengan mengambil latar belakang kehidupannya. Tapi tidak berarti beberapa bagian juga harus sama khan.


Mau tidak mau saya terbawa untuk membandingkannya. Pada awalnya saya sama sekali tidak mengingat tentang kisah Ikal dan kawan-kawannya. Secara otomatis niat membandingan itu muncul ketika sosok Ibu Ros muncul. Entah mengapa sosoknya seakan sama persis dengan sosok Ibu Muslimah. Beberapa bagian memang menunjukan perbedaan, tapi cara penulis menceritakan sosoknya sungguh mirip dengan sosok Bu Muslimah. Kenapa harus bu guru? Atau memang kebetulan para ibu guru yang memiliki hati begitu mulianya di Belitung dan Buton?

Salah satu tokoh, Odi dikisahkan memiliki radio dengan mengandalkan baterai yang berulang kali dijemur. Mirip sekali dengan salah satu tokoh dalam Laskar Pelangi. Lalu sosok sarjana bujang lapuk penggemar dangdut, juga mengingatkan pada pimpinan orkes dalam Laskar Pelangi. Kenapa tidak mengusung kesenian setempat selain musik dangdut? Misalnya penari tradisonal terbaik.

Kenapa judulnya Serdadu Pantai? Serdadu mirip dengan Laskar. Hal ini kian menggiring ingatan saya pada buku sejenis. Judul lama, Negeri Sepati akan membuat buku ini berbeda. Mungkinkah penerbit sengaja memberikan judul tersebut dengan harapan mampu mengekor kesuksesan buku terdahulu? Setiap buku memiliki saripati kisah sendiri, pembaca sendiri dan keberuntungannya sendiri. Sayang sekali jika kreativitas penulis diarahkan hanya demi mengekor kesuksesan buku sejenis.

Walau begitu, penulis layak diacungi jempol saat mengolah sosok tokoh Suman. Seorang anak kecil, belum lulus SD harus menanggung beban hidup sedemikian besar. Berkat campur tangan Sang Pencipta maka banyak hal bisa terselesaikan dengan baik. Meski demikian unsur kebetulan yang melibatkan seorang rentenir dan anaknya perlu dibuat dengan lebih menawan lagi.

Membaca buku ini,kita juga mendapat pengetahuan tambahan mengenai kehidupan masyarakat Buton. Penulis cukup rajin memberikan catatan kaki sehingga pembaca bisa kian menikmati kisahnya. Contohnya tentang penambahan kata. Kata  la untuk laki-laki dan wa untuk perempuan, meski demikian ada nama yang langsung menambahkan kata la dan wa. Maka bisa kita tebak penulis buku ini adalah seorang pria.
Landak laut atau disebut juga bulu babi (Echinoidea) merupakan hewan laut yang berbentuk bundar dan memiliki duri pada kulitnya yang dapat digerakkan.Duri-duri inilah yang dipakai untuk bergerak, mencapit makanan dan melindungi diri.Bulu babi memiliki cangkang yang keras dan bagian dalamnya bersisi lima simetris.  Hewan ini dapat ditemukan mulai dari daerah pasang surut sampai di kedalaman 5.000 meter. 

Hewan ini bisa diolah menjadi panganan yang lezat.Maka tak heran jika keempat anak dalam kisah ini bersemangat mengumpulkannya. Tentunya dengan hati-hati mengingat duri yang ada tidak hanya menusuk namun mampu membuat meriang yang tertusuk.

Dalam  https://www.facebook.com/notes/jaringan-pengusaha-muslim-indonesia disebutkan bahwa bila kita masuk ke warung-warung sushi , produk bulu babi berupa telur, yang dikenal dengan “uni” dan harganya sangat mahal. Untuk satu kilogram uni di Jepang harganya berkisar antara 50 sampai $ 500 US, tergantung warna dan teksturnya. Meskipun demikian, kegilaan masyarakat Jepang untuk mengkonsumsi uni ini sangat tinggi. Terbukti dengan 90 % produk bulu babi dunia, dikonsumsi oleh masyarakat Jepang. Disebabkan karena adanya penangkapan bulu babi yang berlebihan di Jepang, yang telah berlangsung dari sekitar 100 tahun lalu, kini mereka harus mengimpornya dari Amerika Serikat, Chile, Russia, Kanada dan Korea Selatan. 


Buku yang tidak saja menghibur namun juga inspiratif dan menambah pengetahuan.


Sumber gambar:http://sip-alamnusantara.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar