Minggu, 16 Agustus 2020

2010 #33: Sapardi Djoko Damono dan Rendra

Setiap orang memilik cara tersendiri untuk menghabiskan waktu, termasuk menunggu kantuk datang.  Bagi saya, caranya dengan membaca buku. Itulah sebabnya selalu ada buku di sebelah tempat tidur saya.

Demikian juga untuk beberapa malam lalu. Gara-gara belum mengantuk juga, mulai ambil buku terdekat dan mulai membaca. Dari satu buku, berlanjut buku selanjutnya. Lumayan  jadi babat timbunan kalau begini.

Entah kebetulan, kedua buku yang saya baca sambil menunggu kantuk ternyata tentang  biografi sosok penyair yang terkenal di tanah air. Rasanya belum lama informasi perihal sosok Sapardi Djoko Damono-SDD berpulang meramaikan jagat sosial media tanah air. 

Aneka kutipan karyanya bertebaran dengan berbagai kreasi tambahan penggemarnya. Berbagai kegiatan secara daring sebagai penghormatan juga banyak digelar.  Mereka yang semula kurang mengenal sosoknya, mulai tertarik untuk lebih tahu. Kepergiannya merupakan sebuah kehilangan besar bagi bangsa kita.

Dr. Willibrordus Surendra Broto Rendra, S.S.,  M.A alias Rendra,  tak perlu diragukan lagi kiprahnya di tanah air.  Pendiri  Bengkel Teater  pada tahun 1967 di Yogyakarta, sebelum akhirnya memindahkannya ke Depok pada tahun 1985, telah banyak menghasilkan karya. Bahkan seorang pakar sastra dari Australia,  Profesor Harry Aveling, telah menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”.

Selain itu, Profesor Rainer dari Jerman  menjadikan karya Rendra  sebagai disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Sekedar mengingatkan kata biografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu bios yang berarti hidup dan graphien yang berarti tulis. Istilah  biografi merupakan gabungan kedua kata tersebut, yang berarti tulisan mengenai kehidupan seseorang. 

Kita dapat menemukan hubungan, sebuah mistri yang melingkupi hidup seseorang, dan penjelasan mengenai tindakan  atau perilaku dalam hidupnya (https://umar-danny.blogspot.com/. Maka sangat  tepat jika penerbit memasukkan kedua buku ini dalam genre biography (begitu yang tertera di bagian belakang).
Judul: Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya
Penulis:  Bakti Soemanto
ISBN: 9786024524555
Hal: 255
Cetakan: Pertama -2017
Penerbit: Grasindo
Rp 72.000
Rating: 3/5

Menilik judulnya, sudah pasti isi buku ini berkisah tentang sosok Sapardi Djoko Damono-SDD. Dengan membaca buku ini, diharapkan pembaca akan mendapat tambahan informasi mengenai sosok SDD. Termasuk karya beliau dan bagaimana menikmati karya-karya tersebut.

Buku ini terdiri dari 5 bab, dimana tiap bab terdiri dari beberapa bagian.  Bab pertama berisikan uraian tentang siapakah sosok SDD, termasuk dari mana ilham diperoleh. Terkait hal ini, pada  bagian awal penulis  sudah memberikan informasi perihal perbedaan antara puisi dan sajak dengan puisi (kata puisi yang ditukis dengan garis miring).  


Puisi atau sajak merupakan genre yang wujud  isualnya jelas. Sementara puisi semacam roh, inti rahasia yang tersimpan dalam karya seni. Plato menyebutnya mousike, sementara SDD sepertinya tidak memberikan perbedaan yang jelas antara puisi dan prosa.

Bab kedua perihal puisi dan cerita menurut SDD. Selanjutnya bab ketiga mengenai puisi-puisi awal, duka-Mu abadi, dan akuarium. Bab keempat berisi empat kumpulan puisi, serta beberapa cerita pendek. Bagian terakhir, bab kelima agak unik karena berisi rangkuman. Tak biasa saja menurut saya ada buku yang memuat rangkuman.

Membaca buku ini membuat orang makin mengenal sosok SDD. Termasuk kekuatan kepenyairan beliau yang ternyata berasal dari kepiawian memainkan kata dan makna sehingga menjadi suatu ungkapan yang otentik khas seorang SDD.

Sekedar informasi di Goodreads Indonesia, bintang buku ini adalah 3.60. Buat yang penasaran bisa dicek di sini.

Jusul asli: Rendra: Karya dan Dunianya
Penulis: Bakdi Soemanto
ISBN: 9786024524548
Hal: 274
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp 65.000
Rating: 3/5

Siapa yang tak pernah mendengar nama Rendra, Sang Burung Merak. Sejak lama sosok Rendra dipandang sebagai seniman yang kontroversial. Terutama karena puisi-puisinya yang bertema sosial mengandung komentar sosial dan lakon-lakon bernada sindiran.

Sebagian besar buku ini mengisahkan tentang perubahan diri serta proses kreatif Rendra sejak kembali dari Amerika Serikat. Menurut penulis, kunci memahami  semua karya Rendra setelah kembali dari Amerika Serikat adalah kesigapannya untuk selalu berada dalam konteks.

Dalam 273 halaman, yang terdiri dari lima bab, pembaca akan diajak untuk lebih mengenali sosok Rendra.  Bagaimana latar kehidupannya, awal mula berkarier, kumpulan sajak serta aneka cerita pendek, serta kiprahnya dalam masyarakat.


Misalnya tentang Rendra yang menciptakan sandiwara atau drama radio  berjudul Dataran Lembah Neraka. Aneka efek suara unik yang muncul dari karya tangan dinginnya membuat drama tersebut menjadi banyak digandrungi masyarakat.

Penulis menyebutkan tentang kesulitan melakukan penelitian karena sulitnya mendapatkan  cetakan karya Rendra. Saya jadi ingat, dulu ketika berbelanja buku  untuk kepentingan kantor, justru kumpulan puisi karya Renda (maaf saya agak lupa hanya puisi atau karya lengkap) yang kami beli ternyata merupakan terbitan dari penerbit tetangga. Ironi bukan! Tapi begitulah adanya.

Untuk buku perihal Rendra ini, di situs Goodreads ratingnya adalah 3.50. Bisa dilihat di sini.

Secara keseluruhan kedua buku di atas perlu dibaca oleh mereka yang menyukai dunia puisi dan sastra. Para pekerja teks komersial-meminjam istilah sahabat, tentunya juga perlu membaca kedua buku di atas agar memiliki tambahan wawasan dalam menjalankan tugasnya.

Hanya, sepertinya penulis lebih perlu memasukkan hal-hal yang lebih spesifik lagi mengenai kedua penulis dalam masing-masing buku biografi. Sehingga pembaca tidak hanya membaca ulang informasi yang sudah umum dalam format beda. Namun juga mendapat informasi baru, syukur yang sifatnya eksklusif.

Lumayanlah buat menemani menunggu kantuk.




2020 #32: Memahami Dunia Lumut

Judul asli:Ensiklopedia Biologi Dunia Tumbuhan #6: Lumut
Penyusun: Drs Budi Subono
Editor: Yersy Wulan
ISBN: 9789793535968
Halaman: 193
Penerbit: PT Lentera  Abadi
Rating: 3.5/5

Sering kali saya menyebutkan, perjodohan  saya dengan sebuah buku kadang terjadi melalui jalan yang unik. Misalnya  karena tertarik tentang buku mengenai seragam tentara  seluruh dunia di area BBW, saya membeli buku tersebut. Reviewnya ada di sini.

Belakangan buku tersebut dibeli oleh seseorang untuk hadiah bagi temannya yang hobi membuat action figure. Saya tak kenal dia! justru karena mencari buku tersebut makanya dia menghubungi blog saya.

Kebetulan sekali! Saya yang sedang dalam kondisi keuangan pas, sangat ingin membantu salah satu sahabat yang terkena bencana gempa. Akhirnya buku terjual, uang pembelian plus ongkir ditransfer ke rekening sahabat saya. Unik bukan!

Demikian juga dengan buku ini. Saat melihat tertumpuk pada  sebuah pameran buku, saya tertarik akan judul serta ukurannya yang tak biasa. Harganya lumayan mahal untuk ukuran obralan, diatas Rp 100.000. Tapi jika dibandingkan dengan halaman yang menyajikan aneka gambar penuh warna, serta kertas yang dipakai, harga obralan tersebut menjadi sangat murah.

Angka 6 yang ada pada pojok atas, membuat saya penasaran mencari nomor lainnya. Sayangnya saya tidak beruntung saat itu. Buku ini pun hanya tersedia beberapa saja dalam timbunan. Sepertinya saya kalah cepat .

Naluri saya langsung menyerukan untuk mengamankan dalam keranjang belanjaan he he he.Jika isinya tidak sesuai, banyak cara untuk memindahtangankan buku ini. Yang penting beli dulu ^_^. Ingat Hukum Kekekalan Timbunan, jangan sampai meneysal tidak membeli.
Lumut Daun Gunung Gede

Sesuai dengan judulnya, buku ini memberikan informasi yang mendalam tentang lumut. Konon di tanah air terdapat berbagai jenis lumut. Bagi orang awam, mungkin lumut terlihat sama semua, namun bagi mereka yang paham, ternyata lumut memiliki berbagai macam jenis.

Ingatan saya tentang lumut tak jauh dari pelajaran biologi saat sekolah dahulu. Lumut bisa dikatakan sebagai tumbuhan pelopor. Sebelum ada tumbuhan lain pada suatu tempat, lumut akan hidup  terlebih dahulu. Meski kecil, lumut dapat melebar membentuk koloni yang luas.

Kemudian, teringat  juga bahwa hirarki tumbuhan terdiri dari Kingdom (semacam pengelompokan besar), lalu kelas, bangsa, dan suku. Bagian menghafal nama-nama latin ini yang membuat saya mundur memilih jurusan A-2 saat sekolah dulu (ketahuan umurnya ^_^).

Plus sedikit pengalaman tentang bertahan hidup. Lumut seingat saya selalu tumbuh menghadap ke arah barat. Sebenarnya tumbuhan yang membutuhkan sinar matahari untuk fotositensis cenderung menghadap ke arah timur dimana sinar matahari lebih banyak. Karena lumut lebih menyukai tempat yang cenderung gelap, maka keberadaannya cenderung mengarah ke bagian yang kurang mendapat sinar matahari. Mungkin juga salah, maafkan saya yang sudah lupa.

Pada bagian Pengantar Penerbit, terdapat informasi bahwa Ensiklopedia Biologi Dunia Tumbuhan ini terdiri dari 8 jilid yang terbagi dalam 2 bagian. Bagian pertama terdiri dari jilid 1 hingga 5, merupakan terjemahan dari buku plant. Isinya mengungkap tentang keanekaragaman tumbuhan dari seluruh dunia.  Sementara bagian kedua, terdiri dari jilid 6 hingga 8. Isinya tentang kekayaan tumbuhan runjung, jamur, paku, dan lumut di tanah air.

Meski demikian, ternyata  dalam buku ini disebutkan juga tentang Lumut Tanduk Bulat dan Lumut Tanduk Sedang di halaman 15, serta Lumut hati Alaska  di halaman 33 yang belum ditemukan di tanah air


Notothylas javanica alias Lumut tanduk Jawa  juga ditemukan di Himalaya, Cina daratan, Malaysia, Jepang, Filipina, dan Pantai Gading Afrika. Bangga juga ada tanaman yang ditemukan pertama kali di tanah air. 

Dengan talus ripis berbentuk lembaran membuka atau lonjing yang melekat di atas tanah dengan bantuan rizoid. Bentuk talus tiap lumut konon berbeda, agar memudahkan untuk membedakan bisa dilihat pada bentuk sporanya. Mengingat setiap spesies lumut memiliki bentuk spora yang berlainan.

Selanjutnya pembaca akan menemukan Lumut daun Gunung Gede (Sphagnum gedeanum) di halaman 73. Lumut tersebut hidup di daerah lembab dan terlindung, misalnya di tanah cadas sekitar air terjun Curug  Cibereum yang bisa dicapai dengan mendaki sejauh 1 km dari Kebun Raya Cibodas.

Heteroscyphus denticulatus alias Lumut Hati Gigi Kecil, talus limutnya berbentuk seperti daun di sisi kanan dan kiri. Lembar daunya mirip barisan gigi kecil. Menurut info yang ada di halaman 43, umumnya jenis ini tumbuh dalam populasi yang cukup besar.

Lumut Daun Brauni, Dicranoloma Braunii ditemukan oleh Heinrich Braun seorang ahli botani Australia.  Daunnya berwarna hijau, hijau kekuningan dengan bentuk lanset atau menjarum dengan ujung lancip berukuran 2-6 mm dan memiliki banyak kloroplas. Bisa ditemukan di Sulawesi, Kalimantan, Sumatra dan beberapa tempat lain di dunia.
Lumut Daun Jawa

Lumut Daun Jawa, Homaliodendron javanicum tumbuh subur di  batang pohon yang tumbuh di pengunungan dengan ketinggian lebih dari 1.300 m yang sejuk dan lembap di Pulau Jawa, serta di tanah berhumus. Bisa merayap di tanah atau menggantung di batang pohon. Warna daunnya hijau karena mengandung kloroplas, baik berwujud hijau terang atau hijau tua.

Lumayan juga informasi yang diperoleh dari buku ini. Minimal bagi saya,  jadi paham bahwa lumut itu beragam tidak hanya satu saja. Meski untuk membedakannya butuh pengetahuan sendiri. Buku ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia tumbuhan. Peneliti, mahasiswa serta mereka yang tertarik pada dunia tumbuhan perlu membaca.

Saya jadi terbayang, andai ada seorang penulis fantasi yang mengambil setting dunia lumut, tentunya akan seru. Misal di balik Lumut  Sphagnum Gedeanum yang tumbuh di Curug Cibereum tinggal sekelompok makhluk.Mereka akan mengunjungi kerabat yang tinggal di Branchymenium Indicum. 

Kekacauan mulai muncul ketika saya mencoba melihat Diviso Marchantiophyta di halaman 31. Ternyata yang tertera adalah  uraian tentang Lumut Hati mirip lumut (Haplomitrium mnioides). Baiklah, mari kita cari yang lain, bagaimana jika Bangsa Jungermanniales (Lumut Hati Berdaun) yang menurut Daftar Isi ada di halaman  45. Saya malah menemukan  gambar serta uraian perihal Lumut Hati Segi Empat!

Baiklah! Mari kita abaikan Daftar Isi, sepertinya ada yang salah. Hasilnya saya menemukan Dvisio Marchantiophyta ada di halaman 27! Maju beberapa halaman.  Bangsa Jungermanniales (Lumut Hati Berdaun) ada di halaman 41. Pantas jadi tidak klop!

Bagi yang merasa asing dengan kata-kata yang ada dalam buku ini, bisa mencari maknanya pada bagian Glosarium mulai halaman  183. Misalnya disebutkan bahwa Anther (kepala sari) merupakan bagian dari stamen (benang sari) yang memproduksi polen (serbuk sari); biasanya ditunjang oleh filamen (tangkai sari). Ada pula Patogen  berupa mikroorganisme yang menimbulkan penyakit.

Sebuah buku unik yang sungguh sayang kurang dikerjakan dengan maksimal.


Sumber gambar:

Buku Ensiklopedia Biologi Dunia Tumbuhan #6: Lumut

Selasa, 11 Agustus 2020

2020 #31: Kisah Rin dalam Perang Opium (sedikit spoiler)


Judul asli:  The Poppy War
Penulis: R.F Kuang
Alih  bahasa: Meggy Soedjatmiko
Editor: Anastasia Mustika Widjaja
ISBN: 9786020634951
Halaman: 568
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: Pt Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 135.000
Rating:4.5/5

Kita tidak bisa dibilang mati, melainkan kembali ke kehampaan. Kita terurai. Kita tak lagi punya ego. Kita berubah dari hanya menjadi satu hal, menjadi segalanya. Setidaknya sebagian besar dari kita

~ The Poppy War,  Halaman 236

Kisah yang sunguh mengagumkan!
Buku setebal   568 halaman ini akan mengajak pembaca untuk mengikuti langkah  Fang Runin-Rin menemukan jati diri yang sesungguhnya. Tepatnya dalam 568 halaman 3 bagian, 26 bab, dimana bab pertama hingga kesembilan berada di bagian pertama. Selanjutnya bab-10 hingga bab-20 berada pada bagian dua. Bagian terakhir, berisi bab-21 hingga bab-26.

Pada bagian pertama, dikisahkan mengenai perjuangan Rin untuk menaikkan taraf hidupnya.  Sejak kecil Rin diangkat anak oleh keluarga Fang guna memenuhi titah Maharani  agar keluarganya yang memiliki anak kurang dari tiga orang untuk mengadopsi anak yatim-piatu korban Perang Opium Pertama. Dan nasib membawa Rin bergabung dengan keluarga Fang.

Sehari-hari ia bekerja menjaga toko sehingga 
paham apa dan bagaimana sebenarnya usaha yang  dikelola oleh Keluarga Fang.  Banyak hal yang ia peroleh selama berada bersama keluarga  Fang. Dari Bibi Fang, Rin  belajar cara bernegosiasi yang handal. Suatu keahlian yang sangat berguna kelak.

Seiring waktu, mulai terjadi benturan kepentingan diantara mereka. Tujuan utama  hidup Rin adalah  Akademi militer yang ada di Sinegard. Sementara  Keluarga Fang ingin segera mencarikan jodoh Rin.

Sang bibi, ingin menikahkan Rin dan membuatnya kaya sehingga keluarga mereka juga bisa ikut menikmati sedikit saja kekayaan yang dimiliki oleh suami Rin. Ia bahkan sudah memberikan petunjuk pada Rin bagaimana cara menaklukan suami.

"Beri semakin lama semakin banyak hingga dia sepenuhnya tergantung, dan juga pada dirimu. Biarkan candu itu menghancurkan tubuh dan pikirannya. Memang, pada akhirnya kau kurang-lebih bersuamikan mayat hidup, tapi kau bakal memegang kekayaannya, estatnya, dan kekuasaannya," Begitu  yang tertera di halaman 25. Jika Rin, kaya,  Keluarga Fang berharap juga bisa ikut menikmati kekayaan sang suami.

Rin lulus dengan nilai tertinggi! Keluarga Fang harus mengubur keinginannya.  Di akademi, Rin banyak belajar berbagai hal.Termasuk untuk tutup mulut dan mengikuti saja apa yang diajarkan Jiang, tutornya. Prestasinya lumayan menonjol. 

Ada 7 master dengan keahlian yang mampuni. Para murid harus menunjukkan bakatnya agar bisa mendapat lamaran menjadi murid magang. Sekian lama, baru Rin seorang yang mendapat lamaran untuk menjadi murid magang di Adat dan Pengetahuan di bawah Master Juang Ziya. 

Bagian ini banyak mengutip tentang ajaran  Sunzi. Saya jadi ikutan lapar ketika membaca perihal makanan  Sup Tujuh Hartu Karun dan Kepala Singa yang dinikmati Rin dan Kitay di halaman 181. Sup Tujuh Harta Karun merupakan bubur manis lezat diracik dari buah jujube, kastanye salur madu, biji teratai, dan  sejenis bahan lainnya. Sementara Kepala Singa adalah masakan sejenis  bakso dicampur dengan tepung dan direbus di tengah irisan-irisan tipis tahu putih.
Bagian kedua mengisahkan tentang peperangan yang terjadi antara   kaum Nikan yang berperang demi Maharani dengan pihak Federasi. Ren bukan murid magang lagi, ia prajurit sekarang. Ia berada dalam divisi khusus beranggotakan orang-orang yang dianggap aneh karena memiliki kekuatan seperti dirinya,  kemampuan memanggil dewa-Pasukan Cike.

Rin mulai mencoba mengendalikan dan mempergunakan kemampuannya untuk memanggil dewa. Ada yang menyebut kemampuannya sebagai syaman. Istilah tak penting  bagi Rin.

Setiap kali ia akan memanggil dewa, Rin butuh racikan tanaman poppy. Ia juga selalu merasa melihat ada bayangan wanita yang menahan kekuatannya. Menurutnya  jika ia memanggil para dewa sama saja dengan ia membawa neraka turun ke bumi. Hal ini membuatnya gamang.

Chaghan,  salah satu sosok yang cukup paham bagaimana dirinya juga memberikan saran agar ia tahu bagaimana harus bersikap. "Tidak ada yang bisa meramalkan masa depan," kata Chaghan.  "Masa depan selalu bergeser, selalu bergabung pada pilihan-pilihan individu. Tapi  Talwu bisa memberitahumu kekuatan-kekuatan yang terlihat. Bentuk-bentuk yang mendasari semuanya. Warna dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.  Masa depan merupakan pola yang bergantung pada pergerakan-pergerakan di masa kini, tapi Talwu manpu membaca arusnya untukmu, sama seperti pelaut yang berpengalaman mampu membaca samudra. Kau hanya perlu mengajukan pertanyaan."

Ternyata, tanggung jawab Rin tidak hanya bagaimana cara memanggil dewa sehingga bisa memenangkan peperangan.  Ada hal lebih besar dibalik itu semua.  Ren akhirnya tahu ada penghianat yang menyerahkan diri dan para sahabatnya. 

 Bagian ketiga berkisah tentang bagaimana Rin berusaha untuk mencari siapa sesungguhnya si pembuat kerusakan sehingga muncul perang. Termasuk bagaimana ia harus menerima kenyataan bahwa sekarang ialah komandan Cile, serta hidup dengan fakta seseorang merelakan nyawa agar ia selamat.

Rin mulai memahami dari mana sungguhnya ia berasal. Ia juga sudah mulai bisa mengendalikan dan membangkitkan kekuatannya yang tersembunyi. Permintaannya pada  Dewa  Phoenix terpenuhi. Konsekuensinya ia harus siap menerima akibat yang timbul.

Meski menawan, buku ini sebaiknya dibaca untuk usia 18+. Banyak adegan kekerasan dalam kisah ini. Simak saja ucapan salah seorang tokoh di halaman 435,"Akan kubakar kau sedikit demi sedikit.... Aku akan mulai dari telapak kakimu. Akan kuberi kau rasa sakit satu per saru, supaya kau tak akan pernah hilang kesadaran. Luka-lukamu akan langsung terbakar begitu berwujud, jadi kau tidak akan mati karena kehabisan darah. Ketika kedua kakimu hangus, sepenuhnya hitam gosong, aku akan pindah ke jari-jari tanganmu. Akan kubuat jarimu rontok satu per satu. Akan kujajarkan potongan-potongan tubuh yang hangus itu pada tali untuk digantungkan ke lehermu. Saat aku selesai dengan anggota tubuhmu, aku akan pindah ke testikelmu. Akan kubakar keduanya dengan begitu lambat, sampai kau bakal gila akibat penderitaan. Saat itulah kau akan bernyanyi."

Suasana pertempuran memang digambarkan dengan sangat mencekam. Penulis mendeskripsikan dengan baik sehingga saya selaku pembaca ikut merinding merasakan kengerian.  Misalnya ketika Rin dan rombongan melihat ada berbagai barang tergeletak di jalan, dengan kalimat, "Saat keputusasaan mengalahkan kelekatan mereka pada harta benda, orang-orang Nikan membuang harta milik mereka saru persatu." Duh makin terasa seramnya.
Termasuk  bagian bagaimana Rin dan beberapa orang yang menerapkan symanisme perlu mempergunakan opium atau campuran lainnya agar bisa menjalankan tugasnya berkomunikasi dengan dewa. Jangan sampai ditiru oleh remaja kita. Menganggap teler itu keren.

Tak semua bagian kisah menegangkan. Sepenggal kisah di halaman 253 membuat saya tertawa
Membayangkan wajah Rin dan sahabatnya yang kesal karena kelakuan seorang  magistrat. Saat dia dianggap penting sehingga harus diungsikan, bukannya menenangkan anak buah, ia justru sibuk memerintahkan poci-poci teh dan vas kesayangannya diangkut dengan aman.
Saya membayangkan, jika ini jadi bagian adegan sebuah film,  bagian yang mengisahkan bagaimana Kitay menghancurkan barang-barang sang magistrat pasti seru. Tentunya ia membayangkan sedang menghancurkan pikiran si magistrat yang ajaib.

Bagi mereka yang menyukai kisah sejarah, buku ini layak dikoleksi karena mengambil latar Perang Opium.  Dalam buku History of  China dari Ivan  Taniputera, disebutkan bahwa Perang Opium (dalam buku disebut Perang Candu) terjadi pada tahun 1840-1842, sedangkan tahap kedua pada tahun 1856 dan 1860 (mungkin maksudnya 1856 hingga 1860). Sekedar mengingatkan tentang perang pertama, serta informasi perihal perang kedua, langsung klik saja ya.

Semoga dua buku selanjutnya juga bisa terbit di tanah air. Kisah yang menawan ini sangat sayang jika tidak diikuti hingga tamat.

Sumber gambar:




Selasa, 04 Agustus 2020

2020 #30: Tentang Yang Terkutuk

Judul: Terkutuk dan Kisah-Kisah Mengerikan Lainnya
Penulis: Yudhi Herwibowo
Penyunting: Fidyastria Saspida
Desain sampul: Erson
ISBN: 9786230016486
Halaman: 156
Cetakan: Pertama-Juli 2020
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Harga; Rp 70.000
Rating:4/5

Kami  ada di tempat yang tak pernah kau bayangkan. Tempat yang mungkin sudah terhapus di peta dan terlupakan sejak lama.  Tempat yang seperti tiada dan tak lagi disambangi manusia. Di situlah kami memilih tinggal. Bersemayam. Hingga, mungkin, sampai akhir dunia.
~Terkutuk, Yudhi Herwibowo, Halaman 57~

Ketika mendapat bisikan bahwa Mas Yud-begitu saya biasa menyapa penulis, akan segera muncul  buku baru, tak sadar saya jadi makin rajin menengok beranda sosial media beliau. Menanti kapan sang anak lahir.

Akhirnya, muncul polling pendapat mengenai kover untuk buku baru yang dimaksud. Bertepatan dengan rencana kegiatan sebuah acara di kantor. Momen yang pas! Saya dan beberapa sahabat sepakat untuk "memaksa" Mas Yud menjadi pembicara workshop penulisan.

Penulis yang satu ini sepertinya mampu menciptakan kisah dari berbagai genre. Terbukti dari puluhan buku karyanya yang sudah diterbitkan. Teorinya, beliau akan dipaksa untuk membocorkan bagaimana trik dan tips membangun suasana dalam berkisah. Jika mengacu pada buku ini, bagaimana kesan horor dan mencekam bisa begitu terasa dalam kisahnya. Terlepas dari ke-globok-an saya yang teledor membaca buku ini jam 02.00 dini hari!

Rencana boleh dibuat, tapi pelaksanaan tergantung pada kehendakNYA. Si corona-19 datang! Nyaris seluruh acara selama setahun dibatalkan. Rugi juga tak bisa mendapat bocoran ilmu. Semoga masih ada kesempatan lain waktu.

Terdapat lima belas kisah dalam buku ini. Sembilan kisah sudah pernah dimuat pada beberapa media, misalnya Sebuah Ayunan dari Tanah Mati yang diterbitkan di The Jakarta Post pada 12 Februari 2018 dengan judul Sway of the Swing. Ada lagi Terkutuk, yang dijadikan judul buku ini, pernah diterbitkan di Koran Tempo pada 23 September 2017. Juga kisah Penjaga Tiga Pintu yang muncul di majalah Horison tahun 2018 lalu.

Sementara enam kisah baru (minimal saya belum pernah membacanya ^_^) adalah Asu Baung; Anjing-anjing Pulau Merah; Jangan bertukar Sepatu Saat Kau Sedih; Suanggi; Pernah Ada yang Mati di Kamar ini; serta Setelah Tahun Baru.

Beberapa kisah memberikan "kesempatan" bagi  hewan untuk ikut ambil peranan dalam cerita. Untuk anjing, ada kisah Asu Baung di halaman 10,  serta Anjing-Anjing Pulau Merah di halaman 49

Bertepatan dengan selesai membaca kisah Asu Baung,  saya mendengar suara lolongan anjing. Lirik jam, wah jam 02.15 WIB dini hari! Mendadak jadi ingat perkataan banyak orang, jika ada anjing yang mengeluarkan suara seperti melolong-membaung   artinya ia melihat  makhluk halus. Bukan tak mungkin ia juga sebenarnya makhluk jejadian. Baiklah! Bacanya dilanjutkan besok saja kala begini. 

Lanjut  membaca kala siang hari^_^. Ternyata Kucing juga mendapat jatah peran. Mereka bisa ditemukan dalam  kisah Kucing ketiga Madam Soekotjo di halaman 27. Tapi jangan tertipu dengan bayangan kucing yang umumnya lucu dan menggemaskan. Kucing dalam cerita ini justru berkesan menyeramkan. 

Mendadak saya teringat sebuah buku tentang kehidupan hewan. Disebutkan bahwa di negara tertentu, hewan beracun justru memiliki tampilan yang menggemaskan sebagai peringatan agar tidak ada yang mengganggu mereka. Jangan-jangan begitu juga Bupi-nama Kucing ketiga Madam Soekotjo, perlu bertanya pada yang pernah melihatnya.

Sementara Ular ikut berperan pada kisah Kitab Ular di halaman 40 serta Ular-ular Merah Dalam Tubuh Kakek di halaman 118. Sebagai makhluk yang diidentikan dengan manusia yang tak  bisa dipercaya, kisah Ular-ular Merah Dalam Tubuh Kakek memberikan kita pesan, bahwa kita tak akan pernah tahu siapakah sebenarnya sosok yang ada di hadapan kita. Mirip kisah dengan The Stolen Child besutan Keith Donohue.

Ada dua persepsi tentang pintu dalam kisah yang ada di buku ini. Pada kisah Terkutuk di halaman pertama, yang dimaksud dengan pintu,  sebagai jalan masuk ke lorong gelap yang ada di dinding pada bagian belakang rumah. 

Hanya pada saat tertentu saja pintu itu akan terbuka. Seperti ketika Ibu tokoh utama kita tak sengaja berjalan ke bagian belakang rumah hingga sampai ke dinding,  dimana tangan-tangan yang keluar dari dinding segera menariknya masuk ke dalam lorong yang gelap. Menutup,  sebelum  sang tokoh bisa berbuat sesuatu.

Sementara pada kisah Pintu di halaman 20, merupakan pembatas  antara tanah yang aman untuk ditinggali oleh penduduk,  dengan tanah yang merupakan bagian dari sebuah hutan. Tanah terlarang yang menyeramkan! 

Pintu tersebut berada di halaman  belakang rumah salah seorang penduduk, tersembunyi di antara pohon-pohon besar.  Jangan coba-coba melangkah memasuki tanah tersebut, celakalah dirimu! Mereka akan dengan gembira merangkapmu begitu kakimu melangkah ke tanah itu!

Terkait dengan kata tersebut, rasanya  tepat jika disebutkan batasan usia yang pantas untuk membaca buku ini adalah 18 tahun keatas.  Memang ada kisah yang sering berurusan dengan makhluk tak kasat mata, horor dalam arti menakutkan terkait makhluk astral.

Namun ada juga kisah yang horor bermakna  kengerian yang ditimbulkan akibat kelakukan manusia yang menyeramkan. Misalnya kisah yang ada di halaman 150! Mengingatkan pada kisah nyata tentang suatu kasus serupa yang terjadi di tanah air beberapa saat lalu. Sungguh bikin mual perut saya! 

Salah satu keunikan cara berkisah Mas Yud adalah membiarkan  pembaca ikut berimajinasi menentukan akhir kisah menurut versinya masing-masing. Pada kisah Kasus, saya menebak tokoh penjahat adalah si X.  

Iseng, saya coba wa Mas Yud, menanyakan siapakah sebenarnya yang menjadi penjahat. Jawabannya malah bikin meringis. Menurut beliau, tidak ada tebakan yang salah karena multitafsir. Tapi persoalan tiap orang bisa menjadi pembunuh, bisa begitu bisa juga tidak. Hem...bagi yang sudah membaca, menurut kalian siapa pelakunya?

Dari seluruh kisah yang disajikan dalam buku ini, saya jatuh hati pada Setelah Tahun Baru. Selain topiknya yang tak biasa, kisah ini menawarkan sensasi kengerian yang berbeda. Perlahan namun konsisten, sehingga unsur kengeriannya terasa lebih lama.

Cara bercerita yang unik bisa ditemukan pada kisah Suanggi di halaman 108-117. Jika kita biasanya kita membaca kisah denga irama maju-mundur, atau maju terus, kali ini dibuat dengan cara bercerita mundur. Dari tiga hari sebelumnya, sembilan hari sebelumnya, enam belas hari sebelumnya,  hingga tiga puluh tujuh hari sebelumnya. Jadi dari akhir kisah, menuju kenapa sampai terjadi hal tersebut. 

Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca oleh mereka yang mengaku sebagai penggemar kisah horror. Ada nuansa kengerian yang berbeda pada setiap kisah yang disajikan. 

Awal tiap kisah baru sengaja disajikan dengan ilustrasi halaman  bernuansa gradasi gelap, menambah kesan menakutkan. Cocok dengan kata Horror Novel yang disematkan pada  pojok kanan bawah bagian belakang buku.

Sayangnya, tak ada ilustrasi dalam buku ini. Padahal pada kisah yang pernah dimuat pada beberapa media selalu diberikan ilustrasi yang menawan.  Saya berharap  pihak penerbit bisa menemukan seorang tukang ilustrasi yang mumpuni.

Beruntung saya bisa memesan langsung sehingga bisa mendapat coretan di halaman awal. Meski sebenarnya yang diharapkan adalah cap jempol wkwkwk. Saya jadi penasaran, apa sih yang tak bisa dibuat oleh Mas Yud?

Sumber gambar
Fb Yudhi Herwibowo


























Jumat, 31 Juli 2020

2020 #29: Mengenal Risk Management BUMN

Penulis: Wawan Zulmawan
ISBN: 9786232180994
Halaman: 340
Cetakan: Pertama-Mei 2019
Penerbit: Prenadamedia Group
Harga: Rp 106.000
Rating: 3.5/5

Akibat ketiban tugas mengurusi manajemen risiko di kantor, serta efek mengikuti beberapa pelatihan terkait manajemen risiko, membuat saya jadi tertarik dengan berbagai hal terkait dengan manajemen risiko. Salah satunya yang terkait dengan penerapan manajemen risiko pada BUMN.

Kebetulan, secara tak sengaja saya menemukan buku ini. Dilihat dari judul dan isinya sepertinya menarik. Mengintip blurd juga menawarkan sesuatu yang menarik,  harga juga terjangkau. Jadi sesekali boleh dung belanja buku yang agak beda he he he.

Terdiri dari 6 bab, buku ini  menelaah perihal aspek hukum manajemen risiko di BUMN menggunakan teknik analisis  berupa metode content analysis. Tinjauan dan analisis yuridis atas buku ini disesuaikan dengan teori Nilai Hukum oleh Gustav Radbruch dan Efektivitas Hukum oleh Lawrence M. Friedman dianalisis dengan metode Economic Analysis of Law berupa Regulatory Impact Assassment (RIA) dan Cost and Benefit Analysis (CBA).

Diuraikan mengenai manajemen risiko untuk dunia usaha, termasuk ISI 31000-2018 serta manajemen risiko perbankan yang diatur dalam based system.  Juga terlihat bagaimana penerapan manajemen risiko di BUMN di tanah air, termasuk  substansi hukum dan struktur hukum manajemen risiko di BUMN.

Terdapat juga perihal penerapan manajemen risiko pada kegiatan usaha BUMN untuk meminimalisasi risiko hukum. Termasuk menguraikan tentang faktor-faktor yang memengaruhi penerapan manajemen bagi BUMN ditinjau dari teori  efektivitas Lawrence M. Friedman, dan kegiatan usaha BUMN dan risiko hukumnya.

Tak ketinggalan terdapat konsep aturan hukum manajemen risiko di BUMN yang cocok  dalam mengatur manajemen risiko pada kegiatan usaha BUMN. Menguraikan  perihal konsep aturan baru manajemen risiko bagi BUMN seta pentingnya makna aturan tersebut dalam pengoperasian BUMN. 

Manajemen risiko di Indonesia, pertama kali diterapkan oleh Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia  (PBI) Nomor: 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bank Umum. Peraturan tersebut belakangan diubah menjadi PBI  Nomor  11/25/PBI/2009. Sedangkan untuk BUMN disinggung pertama kali dalam Keputusan Mentri BUMN Nomor: Kep-117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Praktik Good  Corporate Governance (GCG), pada Pasal 14 ayat (3) yang berbunyi, " Komisaris/Dewan Pengawas BUMN dapat mempertimbangkan untuk membentuk Komite lain yang terdiri dari Komite Nominasi, Komite Remunerasi, serta Komite Asuransi dan Resiko Usaha guna menunjang pelaksanaan tugas Komisaris/Dewan Pengawas."

Risiko tentu saja dapat muncul dari berbagai macam sumber, ketidakpastian pasar keuangan, ancaman dari kegagalan proyek (selama desain, pengembangan, atau produksi), kewajiban hukum, risiko kredit, kecelakaan, ataupun bencana alam. Risiko-risiko tersebut tentu saja juga dapat memakan korban dengan jumlah besar dari sisi keuangan. Maka bersandingan dengan Peraturan Mentri Negara BUMN Nomor: Per-01/MBU/2011, munculah ISO  31000-2009, kemudian diperbaharui dengan ISO 31000-2018.

Isi dari  ISO 31000:2018 memuat  bahwa penciptaan dan perlindungan terhadap nilai organisasi menjadi maksud dari keseluruhan penerapan manajemen risiko di lingkungan organisasi. Penerapan manajemen risiko dimulai dan menjadi bagian dari tata kelola organisasi. Praktik manajemen risiko harus diintegrasikan dengan proses-proses organisasi. Keberadaan kerangka kerja manajemen risiko ditujukan agar organisasi dapat melaksanakan integrasi tersebut.

Meski sudah menerapkan manajemen risko sebagai bagian dari Good  Corporate Governance, tidak membuat Direksi begitu saja bisa bebas ketika muncul suatu masalah hukum. Butuh banyak sumber daya untuk bisa menjelaskan dan membuktikan bahwa kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya; telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggungjawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan; tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan.

Sementara, pandangan tiap orang mengenai itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggungjawab, benturan kepentingan, serta tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan tidaklah sama. Bagi seorang Direksi  mungkin yang ia lakukan telah memenuhi semua kriteria apalagi dengan masukan dari unit manajemen risiko yang ada. Tapi bagi pihak lain, bisa saja bermakna beda.

Harus ada kesamaan persepsi untuk penafsiran hal tersebut, jika tidak, tak akan ada orang yang mau menjadi Direksi. Karena dalam menjalankan tugasnya akan selalu berada dalam kondisi yang tidak nyaman, selalu merasa khawatir apakah tindakannya benar atau salah, apakah akan merugikan negara yang  bisa berdampak bagi diri dan keluarganya. Jika sudah demikian, tentunya akan mempengaruhi kinerja.

Bidang hukum dan ekonomi berasal  subdisiplin sendiri, namun terlah bergabung menjadi paradigma baru yang bersal   dari akar yang berbeda. Tapi tetap harus ada kesamaan pemahaman dalam hal perlindungan seorang Direksi dalam menjalankan tugasnya guna menambah

Secara garis besar, buku ini memberikan tambahan wawasan tentang bagaimana manajemen risiko pada BUMN.  Walau saya tidak memiliki latar belakan pendidikan dalam bidang hukum, namun buku ini  mudah dipahami. Apalagi dengan pemberian beberapa contoh kasus.

Sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana pelaksanaan manajemen risiko di BUMN. Cocok bagi ASN terutama pada level direksi, para pelaku usaha di tanah air serta mereka yang berkecipimpung dalam bidang hukum.






2020 #28: Diplomasi Cinta Ala Ngadiyo

Penulis: Ngadiyo
ISBN: 9786027498525
Desain Sampul: Na'imatur R
Halaman: 144
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Diomedia
Rating: 3/5

Salah satu cara mendukung sahabat dunia buku adalah dengan cara membeli karyanya dan membuat ulasannya. Beli ya bukan minta ^_^. Persoalan saya dikasih itu lain cerita, tapi saya berprinsip dengan membeli juga sudah membantu yang bersangkutan.

Selanjutnya, dukungan dilakukan dalam ulasan yang berimbang, apa adanya tanpa memandang pertemanan. Teman yang baik akan saling memberikan kritik dan menerimanya dengan lapang hati. Ulasan tersebut akan menjadi cambuk bagi dirinya untuk selalu mengasah kemampuan diri. 

Salah satunya adalah buku karangan Ngadiyo ini. Saya yang teledor! Dengan ukuran  yang tak seberapa besar, serupa dengan  ukuran buku Agatha Christie (kira-kira 11 X 18 cm) halaman yang 144, membuat buku ini dengan mudah tertindih aneka buku lainnya. Baru ketika sedang beres-beres total semua rak buku, saya menemukan buku ini nyaris berada di bawah timbunan buku bantal. Maafkan saya ya. 

Dalam buku  Diploma Cinta ini   terdapat sebelas kisah, mulai dari  Burung Kenari di Malam Hari; Runtah; Jarak; Obsesi; Diploma Cinta; dan Sakum dan Nasilah. Tiap kisah dibuat  dengan latar belakang dan tokoh yang unik. 

Membaca kisah Runtah, membuat emosi saya teraduk-aduk. Kisahnya cukup mengharukan, apa lagi saya membacanya dikesunyian malam. Dua orang wanita, Runtah dan si Mbok, menempuh perjalanan  dengan berjalan kaki dari pengunungan Baturaden, ujung utara Purwokerto demi sedikit uang yang mereka butuhkan untuk membeli baju Lebaran, serta harapan  mendapatkan uang dari upah cuci. 

Keduanya harus menahan malu, mau bagaimana lagi mereka butuh uang.  Harapannya mereka hanyalah belas kasihan dari Bu Carik, mantan majikan  Mbok.  Kelelahan sepanjang perjalanan dikalahkan dengan harapan dan keyakinan si Mbok bahwa Bu Carik akan membantu mereka. 

      "Nanti aku akan bilang Bu Carik, minta uang."
      "Memang akan diberi, Mbok?"
      "Pasti. Bu Carik orangnya baik. Priyayi seperti  
       beliau selalu memberi."

Kita butuh banyak sosok seperti Bu Carik!
Mereka disambut dengan hangat. Dibiarkan mengisi perut terlebih dahulu, memulihkan tenaga yang dihabiskan selama perjalanan. Dengan santun mereka mengambil makan sendiri. Seperlunya, tidak aji mumpung bisa makan.

Selain mendapatkan uang, Runtah juga berhasil mendapat kesempatan untuk mencucikan pakaian anak-anak kost  Bu Carik.  Bahkan Bu Carik sendiri yang menanyakan langsung pada mereka apakah ada pakaian yang hendak dicuci. Untuk sabun cuci dan lainnya, Runtah dipersilakan mempergunakan milik Bu Carik. 

Tak butuh lama, terkumpul beberapa ember cucian. Sekian ember kali lima ribu rupiah! Banyak nilainya bagi Runtah tapi tak seberapa bagi orang lain. Saya mendadak jadi melow, melirik buku yang baru saya beli, setara dengan sekian puluh ember cucian bagi Runtah. Semprul Ngadiyo!Kenapa saya jadi merasa bersalah pada sosok ciptaannya ini.

Kedua harapan Mbok dan Runtah dengan memenuhi Bu Carik memang terpenuhi. Mereka bisa mendapatkan uang untuk membeli baju Lebaran dan upah mencuci baju anak kost bahkan tetangga Bu Carik.

Namun Runtah tetap merasa orang memandangnya dengan jijik. Saya jadi berpikir, sekejam inikah masyarakat kita? Lahir dari korban pemerkosaan membuat  Runtah sering merasa rendah hati. Sang Mbok yang sebelumnya bekerja di rumah Carik juga menjadi korban cibiran masyarakat. Padahal ia yang dihamili, kenapa dia yang dianggap sampah?

Sementara sosok pembantu yang bertugas memanjat pohon kelapa-yang menghamili Mbok Runtah malah bebas berkeliaran. Sungguh tidak elok menimpakan kesalahan semuanya hanya pada Si Mbok semata. 

Sungguh, kita memang  butuh banyak sosok berhati mulia seperti Bu Carik. Agar makin banyak Runtah-Runtah lain yang bisa memiliki baju baru saat Lebaran tiba. Keingan sederhana seorang anak yang menjadi mewah jika menilik keadaan mereka.

Kisah Diploma Cinta yang dijadikan judul buku, sebenarnya sederhana saja tapi mengandung pesan yang dalam. Mengisahkan tentang rasa kagum seorang wanita pada seseorang pria bernama Morizon. Dari gambaran penulis, sosok pria tersebut memang layak dijadikan idola banyak wanita. Tapi begitulah kisah cinta, tak selalu berakhir bahagia bukan?

“Kita lebih baik berteman. Sangat diplomatis kan jawabanku? Karena kita sama-sama satu komunitas sastra. Tidak perlu suka-sukaan begitu ya? Bisa saja seperti kamu berteman dengan yang lain

Kisah ini unik.  karena penulis yang merupakan pria  menuliskan kisah dari sudut pandang sang tokoh yang berjenis kelamin perempuan. Unsur serta rasa "perempuan" sangat pas. Tidak berkesan berlebihan juga memaksa. Bagaimana sang gadis tertarik dan berusaha melirik Morizin ketika berada dalam suatu cara, mengingatkan saya akan tingkah beberapa sahabat ketika sedang tertarik pada seorang pria.  

Meski  begitu, bagian yang memuat bagaimana sang gadis menyatakan cintanya langsung membuat kedua alis saya bertemu. Entah. Mungkin zaman sudah berubah. Namun sebagai orang yang dididik dengan adat Jawa, saya selalu diingatkan untuk lebih bisa memendam rasa, terutama pada lawan jenis. Silakan memberikan sinyal-sinyal namun jangan terlalu terus terang. Mungkin, saat ini   bukan hal yang aneh jika seorang gadis menyatakan rasa cinta pada seorang pria. Mungkin saja.

Bagian yang mengisahkan tentang aktivitas Komunitas Sastra di Solo, seakan akrab bagi saya. Beberapa nama, meski berbeda seakan merujuk pada para sahabat yang sangat saya kenal. Bisa dikatakan bahwa kisah ini terinspirasi dari kegiatan menonton film yang diadakan oleh komunitas tersebut. Ide memang bisa berasal dari mana saja.

Untuk kover buku, bisa dikatakan sesuai dengan selera pembaca remaja, target pembaca buku ini. Ditambah dengan nuansa merah muda yang sering dianggap mewakili nuansa cinta, buku ini akan menarik perhatian calon pembaca jika dipasang di toko buku. harganya juga seingat saya cukup bersahabat bagi kantong. 

Saya agak bingung dengan model kover yang sekan dibuat dengan model jaket. Pada halaman belakang, ada informasi tentang dirimu penulis. Namun jaket pada bagian awal hanya berupa halaman kosong. Lalu kenapa tidak data penulis saja yang diletakkan di bagian depan? Bagian belakang,  biarlah dibuat seperti kover biasa tanpa jaket.

Bagi teman-teman yang merasa memiliki naskah menarik atau ingin membuat buku, bisa langsung menghubungi Ngadiyo di 0856 4376 2005 atau ke  pustakadiomedia@gmail.com. Bakalan ada solusi seru yang diberikan olehnya. 

Sumber gambar:
Fb Ngadiyo