Selasa, 04 Agustus 2020

2020 #30: Tentang Yang Terkutuk

Judul: Terkutuk dan Kisah-Kisah Mengerikan Lainnya
Penulis: Yudhi Herwibowo
Penyunting: Fidyastria Saspida
Desain sampul: Erson
ISBN: 9786230016486
Halaman: 156
Cetakan: Pertama-Juli 2020
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Harga; Rp 70.000
Rating:4/5

Kami  ada di tempat yang tak pernah kau bayangkan. Tempat yang mungkin sudah terhapus di peta dan terlupakan sejak lama.  Tempat yang seperti tiada dan tak lagi disambangi manusia. Di situlah kami memilih tinggal. Bersemayam. Hingga, mungkin, sampai akhir dunia.
~Terkutuk, Yudhi Herwibowo, Halaman 57~

Ketika mendapat bisikan bahwa Mas Yud-begitu saya biasa menyapa penulis, akan segera muncul  buku baru, tak sadar saya jadi makin rajin menengok beranda sosial media beliau. Menanti kapan sang anak lahir.

Akhirnya, muncul polling pendapat mengenai kover untuk buku baru yang dimaksud. Bertepatan dengan rencana kegiatan sebuah acara di kantor. Momen yang pas! Saya dan beberapa sahabat sepakat untuk "memaksa" Mas Yud menjadi pembicara workshop penulisan.

Penulis yang satu ini sepertinya mampu menciptakan kisah dari berbagai genre. Terbukti dari puluhan buku karyanya yang sudah diterbitkan. Teorinya, beliau akan dipaksa untuk membocorkan bagaimana trik dan tips membangun suasana dalam berkisah. Jika mengacu pada buku ini, bagaimana kesan horor dan mencekam bisa begitu terasa dalam kisahnya. Terlepas dari ke-globok-an saya yang teledor membaca buku ini jam 02.00 dini hari!

Rencana boleh dibuat, tapi pelaksanaan tergantung pada kehendakNYA. Si corona-19 datang! Nyaris seluruh acara selama setahun dibatalkan. Rugi juga tak bisa mendapat bocoran ilmu. Semoga masih ada kesempatan lain waktu.

Terdapat lima belas kisah dalam buku ini. Sembilan kisah sudah pernah dimuat pada beberapa media, misalnya Sebuah Ayunan dari Tanah Mati yang diterbitkan di The Jakarta Post pada 12 Februari 2018 dengan judul Sway of the Swing. Ada lagi Terkutuk, yang dijadikan judul buku ini, pernah diterbitkan di Koran Tempo pada 23 September 2017. Juga kisah Penjaga Tiga Pintu yang muncul di majalah Horison tahun 2018 lalu.

Sementara enam kisah baru (minimal saya belum pernah membacanya ^_^) adalah Asu Baung; Anjing-anjing Pulau Merah; Jangan bertukar Sepatu Saat Kau Sedih; Suanggi; Pernah Ada yang Mati di Kamar ini; serta Setelah Tahun Baru.

Beberapa kisah memberikan "kesempatan" bagi  hewan untuk ikut ambil peranan dalam cerita. Untuk anjing, ada kisah Asu Baung di halaman 10,  serta Anjing-Anjing Pulau Merah di halaman 49

Bertepatan dengan selesai membaca kisah Asu Baung,  saya mendengar suara lolongan anjing. Lirik jam, wah jam 02.15 WIB dini hari! Mendadak jadi ingat perkataan banyak orang, jika ada anjing yang mengeluarkan suara seperti melolong-membaung   artinya ia melihat  makhluk halus. Bukan tak mungkin ia juga sebenarnya makhluk jejadian. Baiklah! Bacanya dilanjutkan besok saja kala begini. 

Lanjut  membaca kala siang hari^_^. Ternyata Kucing juga mendapat jatah peran. Mereka bisa ditemukan dalam  kisah Kucing ketiga Madam Soekotjo di halaman 27. Tapi jangan tertipu dengan bayangan kucing yang umumnya lucu dan menggemaskan. Kucing dalam cerita ini justru berkesan menyeramkan. 

Mendadak saya teringat sebuah buku tentang kehidupan hewan. Disebutkan bahwa di negara tertentu, hewan beracun justru memiliki tampilan yang menggemaskan sebagai peringatan agar tidak ada yang mengganggu mereka. Jangan-jangan begitu juga Bupi-nama Kucing ketiga Madam Soekotjo, perlu bertanya pada yang pernah melihatnya.

Sementara Ular ikut berperan pada kisah Kitab Ular di halaman 40 serta Ular-ular Merah Dalam Tubuh Kakek di halaman 118. Sebagai makhluk yang diidentikan dengan manusia yang tak  bisa dipercaya, kisah Ular-ular Merah Dalam Tubuh Kakek memberikan kita pesan, bahwa kita tak akan pernah tahu siapakah sebenarnya sosok yang ada di hadapan kita. Mirip kisah dengan The Stolen Child besutan Keith Donohue.

Ada dua persepsi tentang pintu dalam kisah yang ada di buku ini. Pada kisah Terkutuk di halaman pertama, yang dimaksud dengan pintu,  sebagai jalan masuk ke lorong gelap yang ada di dinding pada bagian belakang rumah. 

Hanya pada saat tertentu saja pintu itu akan terbuka. Seperti ketika Ibu tokoh utama kita tak sengaja berjalan ke bagian belakang rumah hingga sampai ke dinding,  dimana tangan-tangan yang keluar dari dinding segera menariknya masuk ke dalam lorong yang gelap. Menutup,  sebelum  sang tokoh bisa berbuat sesuatu.

Sementara pada kisah Pintu di halaman 20, merupakan pembatas  antara tanah yang aman untuk ditinggali oleh penduduk,  dengan tanah yang merupakan bagian dari sebuah hutan. Tanah terlarang yang menyeramkan! 

Pintu tersebut berada di halaman  belakang rumah salah seorang penduduk, tersembunyi di antara pohon-pohon besar.  Jangan coba-coba melangkah memasuki tanah tersebut, celakalah dirimu! Mereka akan dengan gembira merangkapmu begitu kakimu melangkah ke tanah itu!

Terkait dengan kata tersebut, rasanya  tepat jika disebutkan batasan usia yang pantas untuk membaca buku ini adalah 18 tahun keatas.  Memang ada kisah yang sering berurusan dengan makhluk tak kasat mata, horor dalam arti menakutkan terkait makhluk astral.

Namun ada juga kisah yang horor bermakna  kengerian yang ditimbulkan akibat kelakukan manusia yang menyeramkan. Misalnya kisah yang ada di halaman 150! Mengingatkan pada kisah nyata tentang suatu kasus serupa yang terjadi di tanah air beberapa saat lalu. Sungguh bikin mual perut saya! 

Salah satu keunikan cara berkisah Mas Yud adalah membiarkan  pembaca ikut berimajinasi menentukan akhir kisah menurut versinya masing-masing. Pada kisah Kasus, saya menebak tokoh penjahat adalah si X.  

Iseng, saya coba wa Mas Yud, menanyakan siapakah sebenarnya yang menjadi penjahat. Jawabannya malah bikin meringis. Menurut beliau, tidak ada tebakan yang salah karena multitafsir. Tapi persoalan tiap orang bisa menjadi pembunuh, bisa begitu bisa juga tidak. Hem...bagi yang sudah membaca, menurut kalian siapa pelakunya?

Dari seluruh kisah yang disajikan dalam buku ini, saya jatuh hati pada Setelah Tahun Baru. Selain topiknya yang tak biasa, kisah ini menawarkan sensasi kengerian yang berbeda. Perlahan namun konsisten, sehingga unsur kengeriannya terasa lebih lama.

Cara bercerita yang unik bisa ditemukan pada kisah Suanggi di halaman 108-117. Jika kita biasanya kita membaca kisah denga irama maju-mundur, atau maju terus, kali ini dibuat dengan cara bercerita mundur. Dari tiga hari sebelumnya, sembilan hari sebelumnya, enam belas hari sebelumnya,  hingga tiga puluh tujuh hari sebelumnya. Jadi dari akhir kisah, menuju kenapa sampai terjadi hal tersebut. 

Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca oleh mereka yang mengaku sebagai penggemar kisah horror. Ada nuansa kengerian yang berbeda pada setiap kisah yang disajikan. 

Awal tiap kisah baru sengaja disajikan dengan ilustrasi halaman  bernuansa gradasi gelap, menambah kesan menakutkan. Cocok dengan kata Horror Novel yang disematkan pada  pojok kanan bawah bagian belakang buku.

Sayangnya, tak ada ilustrasi dalam buku ini. Padahal pada kisah yang pernah dimuat pada beberapa media selalu diberikan ilustrasi yang menawan.  Saya berharap  pihak penerbit bisa menemukan seorang tukang ilustrasi yang mumpuni.

Beruntung saya bisa memesan langsung sehingga bisa mendapat coretan di halaman awal. Meski sebenarnya yang diharapkan adalah cap jempol wkwkwk. Saya jadi penasaran, apa sih yang tak bisa dibuat oleh Mas Yud?

Sumber gambar
Fb Yudhi Herwibowo


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar