Minggu, 16 Agustus 2020

2010 #33: Sapardi Djoko Damono dan Rendra

Setiap orang memilik cara tersendiri untuk menghabiskan waktu, termasuk menunggu kantuk datang.  Bagi saya, caranya dengan membaca buku. Itulah sebabnya selalu ada buku di sebelah tempat tidur saya.

Demikian juga untuk beberapa malam lalu. Gara-gara belum mengantuk juga, mulai ambil buku terdekat dan mulai membaca. Dari satu buku, berlanjut buku selanjutnya. Lumayan  jadi babat timbunan kalau begini.

Entah kebetulan, kedua buku yang saya baca sambil menunggu kantuk ternyata tentang  biografi sosok penyair yang terkenal di tanah air. Rasanya belum lama informasi perihal sosok Sapardi Djoko Damono-SDD berpulang meramaikan jagat sosial media tanah air. 

Aneka kutipan karyanya bertebaran dengan berbagai kreasi tambahan penggemarnya. Berbagai kegiatan secara daring sebagai penghormatan juga banyak digelar.  Mereka yang semula kurang mengenal sosoknya, mulai tertarik untuk lebih tahu. Kepergiannya merupakan sebuah kehilangan besar bagi bangsa kita.

Dr. Willibrordus Surendra Broto Rendra, S.S.,  M.A alias Rendra,  tak perlu diragukan lagi kiprahnya di tanah air.  Pendiri  Bengkel Teater  pada tahun 1967 di Yogyakarta, sebelum akhirnya memindahkannya ke Depok pada tahun 1985, telah banyak menghasilkan karya. Bahkan seorang pakar sastra dari Australia,  Profesor Harry Aveling, telah menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”.

Selain itu, Profesor Rainer dari Jerman  menjadikan karya Rendra  sebagai disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Sekedar mengingatkan kata biografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu bios yang berarti hidup dan graphien yang berarti tulis. Istilah  biografi merupakan gabungan kedua kata tersebut, yang berarti tulisan mengenai kehidupan seseorang. 

Kita dapat menemukan hubungan, sebuah mistri yang melingkupi hidup seseorang, dan penjelasan mengenai tindakan  atau perilaku dalam hidupnya (https://umar-danny.blogspot.com/. Maka sangat  tepat jika penerbit memasukkan kedua buku ini dalam genre biography (begitu yang tertera di bagian belakang).
Judul: Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya
Penulis:  Bakti Soemanto
ISBN: 9786024524555
Hal: 255
Cetakan: Pertama -2017
Penerbit: Grasindo
Rp 72.000
Rating: 3/5

Menilik judulnya, sudah pasti isi buku ini berkisah tentang sosok Sapardi Djoko Damono-SDD. Dengan membaca buku ini, diharapkan pembaca akan mendapat tambahan informasi mengenai sosok SDD. Termasuk karya beliau dan bagaimana menikmati karya-karya tersebut.

Buku ini terdiri dari 5 bab, dimana tiap bab terdiri dari beberapa bagian.  Bab pertama berisikan uraian tentang siapakah sosok SDD, termasuk dari mana ilham diperoleh. Terkait hal ini, pada  bagian awal penulis  sudah memberikan informasi perihal perbedaan antara puisi dan sajak dengan puisi (kata puisi yang ditukis dengan garis miring).  


Puisi atau sajak merupakan genre yang wujud  isualnya jelas. Sementara puisi semacam roh, inti rahasia yang tersimpan dalam karya seni. Plato menyebutnya mousike, sementara SDD sepertinya tidak memberikan perbedaan yang jelas antara puisi dan prosa.

Bab kedua perihal puisi dan cerita menurut SDD. Selanjutnya bab ketiga mengenai puisi-puisi awal, duka-Mu abadi, dan akuarium. Bab keempat berisi empat kumpulan puisi, serta beberapa cerita pendek. Bagian terakhir, bab kelima agak unik karena berisi rangkuman. Tak biasa saja menurut saya ada buku yang memuat rangkuman.

Membaca buku ini membuat orang makin mengenal sosok SDD. Termasuk kekuatan kepenyairan beliau yang ternyata berasal dari kepiawian memainkan kata dan makna sehingga menjadi suatu ungkapan yang otentik khas seorang SDD.

Sekedar informasi di Goodreads Indonesia, bintang buku ini adalah 3.60. Buat yang penasaran bisa dicek di sini.

Jusul asli: Rendra: Karya dan Dunianya
Penulis: Bakdi Soemanto
ISBN: 9786024524548
Hal: 274
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp 65.000
Rating: 3/5

Siapa yang tak pernah mendengar nama Rendra, Sang Burung Merak. Sejak lama sosok Rendra dipandang sebagai seniman yang kontroversial. Terutama karena puisi-puisinya yang bertema sosial mengandung komentar sosial dan lakon-lakon bernada sindiran.

Sebagian besar buku ini mengisahkan tentang perubahan diri serta proses kreatif Rendra sejak kembali dari Amerika Serikat. Menurut penulis, kunci memahami  semua karya Rendra setelah kembali dari Amerika Serikat adalah kesigapannya untuk selalu berada dalam konteks.

Dalam 273 halaman, yang terdiri dari lima bab, pembaca akan diajak untuk lebih mengenali sosok Rendra.  Bagaimana latar kehidupannya, awal mula berkarier, kumpulan sajak serta aneka cerita pendek, serta kiprahnya dalam masyarakat.


Misalnya tentang Rendra yang menciptakan sandiwara atau drama radio  berjudul Dataran Lembah Neraka. Aneka efek suara unik yang muncul dari karya tangan dinginnya membuat drama tersebut menjadi banyak digandrungi masyarakat.

Penulis menyebutkan tentang kesulitan melakukan penelitian karena sulitnya mendapatkan  cetakan karya Rendra. Saya jadi ingat, dulu ketika berbelanja buku  untuk kepentingan kantor, justru kumpulan puisi karya Renda (maaf saya agak lupa hanya puisi atau karya lengkap) yang kami beli ternyata merupakan terbitan dari penerbit tetangga. Ironi bukan! Tapi begitulah adanya.

Untuk buku perihal Rendra ini, di situs Goodreads ratingnya adalah 3.50. Bisa dilihat di sini.

Secara keseluruhan kedua buku di atas perlu dibaca oleh mereka yang menyukai dunia puisi dan sastra. Para pekerja teks komersial-meminjam istilah sahabat, tentunya juga perlu membaca kedua buku di atas agar memiliki tambahan wawasan dalam menjalankan tugasnya.

Hanya, sepertinya penulis lebih perlu memasukkan hal-hal yang lebih spesifik lagi mengenai kedua penulis dalam masing-masing buku biografi. Sehingga pembaca tidak hanya membaca ulang informasi yang sudah umum dalam format beda. Namun juga mendapat informasi baru, syukur yang sifatnya eksklusif.

Lumayanlah buat menemani menunggu kantuk.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar