Kamis, 19 Mei 2016

2016 #53: Cerita dibalik Segelas Teh

























Judul asli: The China Tea Book
Penulis:  Luo Jialin
ISBN-10: 1608871568
ISBN-13: 978-1608871568
Halaman: 212
Cetakan: Pertama-November, 2012
Penerbit: Earth Aware Editions
Rating: 3/5

Tea isn't a drink.  
The cup,  that you hold in your hand,  is the culmination of over five thousand years of history.

Buku ini menggoda mata saya saat BBW karena kata China dan Tea. Kedua hal tersebut memang selalu mampu membuat rasa penasaran saya tergelitik. Ditambah dengan warna kover yang mengusung nuansa hitam sehingga membuat gambar terlihat kontras. Saya membayangkan buku ini berada di rak buku saya, pasti cantik *ego penimbun buku*

Pertama kali melihat, masih 
ragu untuk membeli. Alasan utama adalah  karena harganya nyaris sama dengan anggaran maksimal Rp 200.000. Kedua sepertinya pernah lihat buku ini dalam koleksi perpustakaan kantor. Kalau ada yang bisa dipinjam buat apa beli, anggaran bisa disisihkan untuk yang lain. Ketika menemukan buku ini untuk kedua kalinya saat datang lagi, diputuskan untuk memindahkan dalam keranjang belanjaan. Dari pada menyesal nanti.

Kalimat pertama yang saya baca, langsung menyeret saya dalam pesona isi buku ini, "A copy of The Book of Tea from the Qing dynasty (1644-1911). It begins, “Tea is from a grand tree in the south…The flower is like that of the wild red rose turned white…Its liquor is like the sweetest dew of Heaven.”

Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi dua bagian utama. Namun sebagai perkenalan diberikan bagian yang berjudul dari   From Myth to Reality. Terbayangkan apa isinya bagian ini.
Pertama adalah mengenai teh, diberi judul Tea. Pada bagian Overview diuraikan berbagai hal mengenai produksi teh. Mulai dari memetik, pelayuan, pememaran, penggilingan, hingga proses penyimpanan. 

Meski sudah diolah secara baik dan menghasilkan teh bermutu tinggi, ternyata urusan penyimpanan juga harus diperhatikan dengan benar. Kesalahan dalam penyimpanan bisa membuat teh tidak seperti yang diharapkan.

Ada empat macam teh yang dibahas dalam bagian ini, meliputi hijau, oolong, hitam, dan teh pu-erh. Sepertinya hal ini pasti akan kita temui dalam tiap buku yang membahas tentang teh. Meski demikian, bagian ini tetap menarik untuk dibaca. Jangan dilewatkan ya.

Tiap teh memiliki karakteristik sendiri. Sepertinya Green tea  disukai kaum muda karena dirasa cocok dengan kepribadian mereka yang energik.  Teh Oolong digemari oleh mereka yang berusia matang, terutama karena dianggap mampu melunturkan atau menekan perkembangan beberapa zat yang tidak baik bagi tubuh. 

Sementara itu teh hitam atau Black Tea juga dikenal dengan nama red tea karena warna seduhannya. Untuk masayarakat China dibedakan karena warna hasil seduhan teh. Sementara di Inggris karena warna daunnya yang agak gelap menyerupai warna hitam. Teh jenis ini sering dianggap sebagai ungkapan kasih seorang.

Sementara itu, Teh Pu-erh merupakan teh yang berasal dari  daerah Yunnan. Teh mulai muncul tahun 1970. Bisa dikatakan seperti inkarnasi dari orang tua yang bijak dengan banyak cerita

Selanjutnya, atau bagian kedua adalah mengenai Tea Culture. Bagian ini menguraikan tentang prinsip dalam menikmati teh. Tidak hanya main tenggak saja ternyata. Ternyata pada budaya China, jika terkait teh,maka akan membahas juga mengenai  tentang waktu, lokasi penanaman, perlengkapan minum teh, serta suasana yang tepat untuk menikmatinya.

Selain untuk dinikmati dengan cara diminum, ternyata dalam masyarakat China, teh juga bisa dinikmati dengan cara lain. Teh  ternyata juga berpengaruh pada karya seni berupa puisi, kaligrafi dan seni lukis. Unik ya

Diuraikan juga mengenai hubungan antara zen dengan minum teh. Teh dianggap minuman yang mampu menahan kantuk, hingga sering disajikan saat meditasi. Meski perlu dipertimbangkan, sekali lagi, pemakaian bahan campuran seperti gula dan susu saat menikmati teh.

Terdapat juga informasi manfaat minum teh bagi  seseorang. Semakin mengetahui segala hal seputar teh, semakin pula menghargai dan menikmati teh. Teh tidak hanya sekedar minuman, tapi sudah berkembang menjadi gaya hidup. 

Meski buku ini memanjakan pembaca dengan aneka gambar yang menawan, namun sepertinya urusan tata letak perlu lebig diperhatikan. Banyak bagian yang dibiarkan kosong. Misalnya, pada satu halaman, yang terisi dengan foto dan tulisan hanya 1/3 saja.
Pemilihan huruf juga harus mendapat perhatian. Penggunaan huruf yang cenderung kecil dan tipis membuat mata menjadi tidak nyaman saat membacanya. Sayang, padahal masih banyak tempat yang tersisa, kenapa tidak sedikit mengubah urusan huruf.

Sampai buku ini selesai saya baca, terus terang, saya masih agak bingung kenapa harganya bisa lebih mahal dibandingkan dengan buku-buku lain. Bukan tidak suka, tapi menurut saya informasi dalam buku ini tidak sebegitu istimewanya dibandingkan dengan buku lainnya.  Mungkinkah karena alasan tahun terbit,? Tapi banyak yang terbih belakangan dijual dengan harga lebih murah. Entahlah, mungkin karena kertas dan banyaknya ilustrasi berwarna yang ada di dalam.

Bagaimana juga, layak untuk dikoleksi.


















Jumat, 13 Mei 2016

2016 #52: Seputar Sejarah Penyiksaan

Judul asli: The Illustrated History of Torture

Penulis: Jack Vernon
ISBN-10: 847328385
ISBN-13: 9781847328380
Halaman: 64
Cetakan: Pertama- Juli 2011
Penerbit: Carlton Books Limited
Rating: 4/5

Buku tentang  sejarah penyiksaan?
Maksudnya tentang aneka alat penyiksaan  yang sering dipakai,  seperti yang sering ada terlihat di film?  Pasti seram nih isinya

Begitu pikiran saya ketika pertama kali melihat buku di iklankan di http://www.bigbadwolfbooks.com/. Karena penasaran, mulainya mengunjungi situs yang memuat buku, Goodreads. Wah, bintang 4.16, lumayan bagus juga. Baiklah masukan buku ini dalam daftar belanja, kebetulan salah satu teman juga meminta untuk dibelikan. Untunglah, saya bisa menemukan buku ini mengingat ternyata jumlah yang tresedia di BBW  hanya sedikit (dilihat dari tingginya tumpukan saat itu).

Meski hanya berisi 64 halaman, namun buku ini padat akan kisah menyeramkan, sesuai dengan judulnya. Dimulai dari model penyiksaan dari zaman Roma yang dilakukan secara fisik hingga  siksaan  zaman moderen, yaitu secara psikologi. 

Tentunya aneka cara penyiksaan bisa kita temukan di sini. Mulai dari sekedar melempari dengan batu, merajam, digantung, mutilasi, potong, dibakar, setrum, tusuk,  ditakuti dan sebagainya. Lumayan menyeramkan juga ya.

Supaya bisa memahami seberapa menakutkannya, coba kita simak isi buku ini, tentunya dengan mengikutkan Introduction, Index dan Credits.  Dimulai dari  bagian pertama Beating, Whipping, and Stoning, lalu Mutilation, Flaying, Gladiators serta Hanging, Drawing, and Quartering. Selanjutnya ada Cutting and Sawing, Burning and Branding, Flogging, dan Piercing. Tak ketinggalan juga ada Drugs and Psychochemicals, dan Electric Shock Turtere. Itu baru sebagian, lumayan seram bukan.

Cara penyiksaan digantung mungkin sering kita temui dalam aneka kisah  cowboy. Atau ada juga dengan cara mengguyur tubuh terpidana dengan ter lalu  menguangkan bulu bebek. Cara ini sering sekali disebutkan dalam kisah Lucky Luke. Biasanya mereka yang kedapatan curang saat bermain kartu menerima hukuman ini, atau gantung.

Disebutkan juga mengenai teknik introgasi dengan cara waterboarding. Caranya adalah dengan mengikat tangan dan kaki lalu memasukan kepala ke dalam semacam kantong (pada intinya kepala harus tertutup rapat). Kemudian air  dituangkan di atasnya. Seolah-olah orang tersebut berada dalam posisi akan tenggelam.

Selain urusan penyiksaan, terdapat pula bagian yang mengisahkan tentang perburuan mereka yang dituduh sebagai penyihir. Salah satu yang paling terkenal adalah The Salem Witch Trial . Kejadian yang berlangsung antara bulan Februari 1692 hingga Mei 1693 ini sering dijadikan ide dalam pembuatan film. 

Selain itu, terdapat juga kisah tentang beberapa orang yang mengalami penyiksaan hebat, seperti Joan of Arc, Guy Fawkes dan Dr. Frank Olson. Ada juga sekelumit kisah  tentang Khalid Sheik Mohammed seorang anggita Al Qaeda, yang menyebutkan bahwa ia memberikan pengakuan agar penyiksanya mau berhenti. Ia disiksa dengan cara waterboarding.

Tata letak menarik, selain aneka gambar seram tentunya, juga bisa kita temukan dalam buku ini. Sebanyak empat buah yang bisa kita katakan mirip dengan amplop dokumen,  menyajikan informasi dengan cara yang berbeda. Disajikan dengan nuansa meyeramkan, warna putih dengan bercak darah, membuat yang melihat akan tergoda untuk menilik apa yang ada di dalamnya.

Di halaman 57, dokumen yang bisa kita temukan adalah dua buah postcard yang dibuat oleh tawanan saat perang Vietnam, perintah khusus yang ditandatangani oleh Presiden Barack Obama di tahun 2009, serta Universal Declaration of Human Right

Jika masih merasa informasi yang diberikan dalam buku ini kurang, pada halaman 60 disajikan daftar buku dan websites yang bisa diakses terkait topik yang disajikan dalam buku ini.

Masih merasa penasaran? Tengok halaman 61. Terdapat nama dan alamat beberapa tempat yang bisa dikunjungi baik berupa museum  atau tempat bersejarah lainnya. Ada Kepulauan Alcatraz, San Francisco, USA, lalu ada Museum of Historic Torture Devices, Wisconsin Dells, USA.  Salah seorang sahabat saya merekomendasikan The Hoa Lo Prison aka Hanoi Hilton, Vietnam. 

Sepertinya buku ini lebih banyak mengisahkan tentang penyiksaan di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Untuk versi moderen memang membahas tentang Amerika. Untuk kawasan Asia sepertinya tidak terlalu banyak. Padahal saya lebih penasaran dengan kisah di Asia berdasarkan kedekatan emosional.

Oh ya, jangan melirik ke bagian bawah jika ingin mencari  halaman. Untuk halaman, dicetak di bagian tengah sisi lebar. Jadi bukan di pojok kanan atau kiri bawah. Desain untuk halaman juga tidak bisa, mengambil setengah bagian dari pisau cukur. Makin menambah kesan seram bukan? 

Uniknya, selain mempergunakan kover dengan nuansa mencekam, bagian sisi buku juga dibuat sedemikian rupa sehingga mudah ditekuk, seolah-olah menjadi sebuah kotak segi empat.  

Buat yang merasa memiliki kemampuan bahasa Inggris biasa-biasa saja, jangan khawatir. Buku ini tetap bisa dinikmati karena penulisnya mempergunakan bahasa yang mudah dipahami. Andai kata pembaca tetap merasa tidak memiliki kemampuan untuk membaca dan memahami isinya secara baik dan benar, tetap tak perlu khawatir. Ada banyak gambar yang juga bercerita banyak. 

Torture bisa kita artikan sebagai penyiksaan, sebuah tindakan yang  dilakukan secara sengaja, bertujuan untuk menciptakan rasa sakit atau penderitaan hebat baik secara jasmani maupun rohani terhadap seseorang.  Tujuannya adalah untuk mengintimidasi, balas dendam, hukuman, mendapatkan informasi, pengakuan, atau tujuan politik dan lainnya. Secara singkat, bisa dikatakan bahwa penyiksaan adalah tindakan sengaja guna menimbulkan rasa sakit fisik atau psikologis  untuk memenuhi  keinginan penyiksa atau memaksa  korban untuk melakukan hal yang diinginkan oleh penyiksa. 

Dalam  Diderot Encyclopedia, disebutkan bawa penyiksaan pada  abad ketujuh belas dikenal dengan istilah  "question".  Maknanya berasal dari penggunaan penyiksaan di kasus pidana. Terdakwa disiksa, kemudian penyiksa  akan mengajukan pertanyaan. 


Penyiksaan dianggap sebagai pelanggaran berat Hak Asasi manusia seperti yang dinyatakan dalam Deklarasi Hak Asasi manusia.  Penandatangan Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan I dan II dari Juni 1977 8 resmi setuju untuk tidak menyiksa orang yang  ditangkap dalam konflik bersenjata, baik dalam cangkupan internasional atau internal.  Artinya tidak boleh melakukan penyiksaan terhadap orang yang dilindungi, yaitu warga sipil dam tawanan perang

Di negara kita, urusan penyiksaan juga mendapat perhatian.  Pada http://www.persamaankata.com, disebutkan bahwa pandanan kata dari penyiksaan adalah penganiayaan.  Dalam situs berikut disebutkan bahwa  menurut yurisprudensi, maka yang diartikan dengan “penganiayaan” yaitu sengaja menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka. Menurut alinea 4 pasal ini, masuk pula dalam pengertian penganiayaan ialah “sengaja merusak kesehatan orang”. 

Pertanyaan yang diberikan terkait pembahasan membuat saya tertawa, apakah istri yang menggosok cabe di wajah pacar suami masuk dalam penganiayaan?. Hati-hati kalau cemburu, jangan sampai dianggap  melakukan penganiayaan.  Sementara perihal Peraturan polisi yang  mengakomodasi masalah penyiksaan dalam sepuluh (10) pasal yang berbeda bisa dibaca pada situs berikut.


Untuk review kali ini, saya tidak akan memasukan gambar-gambar yang terdapat dalam buku. Terlalu menakutkan. Lebih baik dibaca atau dilihat sendiri gambar-gambar tersebut ^_^

Seharusnya ada peringatan usia yang diperkenankan membaca buku ini. Mengingat isi yang lumayan menyeramkan. Jangan sampai juga buku ini dijadikan inspirasi oleh orang tidak bertanggung jawab.

Menakutkan tapi juga menambah pengetahuan.







Senin, 09 Mei 2016

2016#51: How to Select Chinese Tea



Penulis: Ernie Xie
ISBN-10: 7508514858 
ISBN-13: 978-7508514857
Halaman: 154
Cetakan: Pertama-2009 
Penerbit: China Intercontinental Press
Rating: 3/5

China berkembang dengan pesat. Sebagai salah satu tujuan wisata, tentunya para turis ingin membawa sesuatu sebagai oleh-oleh.  Pertanyaan yang sering muncul adalah barang apa yang sebaiknya dibawa sebagai oleh-oleh? Barang yang sering disarankan adalah  batu Giok, bordiran, kaligrafi serta lukisan, souvenir berupa barang-barang manis serta teh. Guna menjawab pertanyaan tersebut maka seri ini dibuat.

Sebagai negara tempat lahirnya teh, tentunya banyak turis yang ingin membawa teh sebagai souvenir. Tapi teh seperti apa yang cocok, di mana bisa membelinya, berapa harganya, serta bagaimana memilih teh yang baik tentunya membutuhkan pengetahuan tersendiri. Memang ada ilmu khusus untuk itu, tapi para turis tak punya banyak waktu untuk belajar semuanya. Mereka butuh sebuah petunjuk praktis untuk itu.  

Meski mungil namun padat isi, buku ini memberikan petunjuk praktis bagi pembacanya mengenai segala informasi yang diperlukan guna memilih serta membeli teh di China. Termasuk  bagaimana cara memilih teh yang baik, serta di mana bisa membeli teh yang terjamin mutunya. Tentunya acuan harga yang memudahkan 

Terbagi menjadi lima bagian. Dimulai dengan Why Chinese Tea, Categories of Tea,  Sharp Eyes, tea ceremony & Teasets, Shopping Spots dan tentunya Appendix

Pembaca akan menemukan berbagai informasi mengenai asal muasal teh, kenapa teh digemari, bagaimana perkembangan teh di China serta masuknya ke dunia barat. Tak ketinggalan, sebuah bagian yang menguraikan tentang pilihan untuk meminum teh atau kopi. Hal tersebut berada pada bagian Why Chinese Tea.

Pastinya, juga ada bagian yang membahas mengenai jenis-jenis teh. Sepertinya bagian ini akan ada di setiap buku dengan topik seputar teh. Namun bagian favorit saya justru juga mengenai jenis teh pada buku ini. Ada di halaman 65-74. Menarik karena memuat mengenai gambar daun teh kering siap olah, berikut asal daerah, ciri khas daun serta harga jual.

Bagian Shopping Spots berisi aneka alamat toko yang menjual teh. Calon pembeli tinggal memilih mana yang dirasa paling dekat dengan lokasi. Terdapat juga informasi mengenai perlengkapan untuk minum teh seperti teko dan cangkir. Tentunya bisa menjadi semacam oleh-oleh yang mengesankan.

Tak kalah pentingnya, pada appendix, pembaca bisa menemukan bagaimana pelafalan kata yang tepat   dalam  bahasa Mandarin. Dalam kosakata Mandarin, tidak ada pelafalan b, yang ada adalah p. Sementara  p menjadi ph. Oh, ya ada juga petunjuk mengenai bagaimana bertanya dalam bahasa Mandarin. Para turis sebaiknay mempersiapkan diri karena ada juga pemilik toko yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris.  Hal ini tentunya sangat berguna bagi para turis yang kurang fasih berbicara bahasa Mandarin namun  harus melakukan proses berkomunikasi dengan penjual.

Sebenarnya buku ini sama sekali tidak butuh pembatas atau pemberi tanda. Cukup lihat dari bagian sisi samping saja. Setiap bagian diberi warna yang berbeda, misalnya untuk appendix berwarna abu-abu, perihal upacara minum teh serta perlengkapannya berwarna merah, untuk kategori teh dengan ungu, sementara untuk bagian yang mengulas mengapa memilih teh cina dipergunakan warna hijau. Pembaca hanya perlu memperhatikan warna yang menandai bagian yang sedang dibaca. Atau andaikata lupa sama sekali, tinggal lihat perbagian.

Pada setiap lembar di balik halaman yang menandakan bagian baru, tercetak tulisan yang menarik untuk disimak. Bukan saja karena mempergunakan bahasa yang indah namun serat akan makna. Tulisan tersebut merupakan kutipan dari Donna Fellman, Lhasa Tizer   penyusun buku Tea Here Now: Relax and Rejuvenate with a Tea Lifestyle. Sayangnya tulisan tersebut dicetak dengan huruf sambung yang lumayan kecil serta tipis. Agak sulit membacanya.

Beruntung saya mendapatkan buku ini hadiah dari seorang sahabat. Selain pengetahuan  seputar teh saya bertambah, saya juga dimanjakan dengan aneka ilustrasi seputar teh . Ada juga ilustrasi mengenai perlengkapan minum teh yang tak kalah menariknya. Iseng meluncur ke situs penjualan buku secara online dan menemukan informasi seputar buku ini. Lumayan juga harganya, termurah $23,74+ $3,99 shipping. 

Teh menurut sejarah berasal dari  provinsi Yunnan, bagian barat daya Cina. Iklim wilayah itu tropis dan sub-tropis yang hangat dan lembab menjadi tempat yang sangat cocok bagi tanaman teh. Di sana secara keseluruhan merupakan hutan zaman purba hingga bisa ditemukan teh liar yang berumur 2,700 tahun serta teh yang sengaja ditanam yang usianya sudah mencapai 800 tahun.

Saat zaman pemerintahan dinasti Han (221 SM – 8 M), teh mulai diolah dengan cara yang  terbilang sederhana.  Dibentuk membulat lalu dikeringkan,  baru disimpan.  Setelah zaman Dinasti Ming, banyak ragam jenis teh  ditemukan dan dikembangkan. 

 Aksara hanzi  untuk teh adalah 茶, tapi diucapkan berbeda-beda dalam berbagai dialek bahasa Tionghoa. Penutur bahasa Hokkien dari Xiamen menyebutnya sebagai te, sedangkan penutur bahasa Kantonis di Guangzhou dan Hongking menyebutnya sebagai cha. Penutur dialek Wu di  Shanghai dan sekitarnya menyebutnya sebagai zoo

Ah, jadi ingat pengalaman saat memesan teh di bandara internasional Suvarnabhumi, Bangkok. Sengaja saya dan rombongan memesan di salah satu gerai teh milik warga Malaysia. Pertimbangannya adalah unsur halal. Dengan yakinnya kami memesan teh hangat. Lupa bahwa teh di Indonesia beda dengan di Malaysia. Maka yang datang adalah sejenis teh tarik, padahal saat itu yang sangat kami inginkan hanyalah seduhan teh dengan gula saja.  Sejak itu, jika memesan teh maka kami akan menyebutkan spesifik apa yang diinginkan. Teh manis dengan gula saja, atau es teh dengan gula tanpa susu. 

Teh, bisa jadi menenangkan namun bisa jadi membingungkan ^_^



Sabtu, 07 Mei 2016

2016#50: The Miracle of Tea


Penulis : Mark "Dr.TEA"Ukra
Penerjemah: Arfan Achyar
Penyunting: Laura Khalida
Penyelaras aksara: Nuning Zuni Astuti
Penata aksara: elcreative
ISBN : 9786029225051
Halaman: 330
Cetakan: Pertama-2011
Penerbit : Qanita
Rating: 3/5

Buku tentang teh sepertinya sudah banyak kita temui dijual. Tapi ada ulasan khusus kenapa saya tertarik dengan buku ini. Apa lagi tahun terbitnya sudah bisa dikatakan agak lama.  Selain mengupas tentang teh, buku ini juga memberikan paduan tentang diet dengan teh secara lengkap. Berbagai petunjuk seputar diet teh diuraikan dengan bahasa yang mudah dipahami namun sangat informatif.  Terdapat juga 14 menu yang disarankan guna membuat sarapan, makan siang dan makan malam.

Disebutkan juga bahwa dalam rencana penurunan berat badan ala The Ultimate Tea Diet, ada beberapa hal yang sebaiknya diminum. Pertama minumlah teh sepanjang hari. Juga sebelum, saat, dan di antara jam makan. Kedua, tak masalah jenis teh apa yang diminum selama itu teh asli. Jika minum teh yang bukan asli, maka tambahkanlah teh asli dalam minuman guna mendpatkan manfaat yang dapat menurunkan berat badan dan kesehatan. Terakhir, kenali dan belilah teh yang berbeda-beda untuk menggantikan kudapan/cemilan, hidangan penutup, dan makanan kesukaan

Beberapa kisah mengenai mereka yang berhasil menjalankan diet teh juga bisa ditemukan dalam buku ini. Mereka disebut sebagai  Teman Minum Teh. Profil serta bagaimana dan apa yang mereka lakukan seputar diet teh yang mereka lakukan dicetak dengan tata letak khusus. Hal ini membuat kisah mereka bisa terlihat dengan jelas.

Meski semua teh berasal dari satu tanaman, Camellia Sinensis, tapi penikmat teh perlu mengetahui tentang Tisane. Secara garis besar, Tisane merupakan istilah yang dipergunakan dalam industri untuk apa saja yang menyerupai teh namun tidak berasal dari tumbuhan teh. Seterusnya yang disebut teh hanyalah empat   kategori utama teh yaitu teh putih, hijau, oolong dan hitam.

Kunci utama dari manfaat teh adalah kombinasi zat yang terkandung dalam teh yang tidak dimiliki oleh tanaman lainnya. Zat tersebut adalah kafein, L-theanine, dan EGCG. Ketiga zat tersebut bersinergi sehingga dapat memberikan banyak manfaat bagi yang meminumnya. Misalnya saja meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menurunkan gula darah dan koletrol, melindungi otak dan mengurangi risiko struk hingga 69%, melindungi kulit dan memperlambat proses penuaan dan masih banyak lagi.
 
Ada tiga fakta mengenai teh yang disebutkan memiliki tiga unsur mengagumkan yang mempengaruhi proses kimiawi tubuh dalam meningkatkan metabolisme, menurunkan selera makan dan membantu menstabilkan gula darah. 

Mungkin yang perlu diingatkan walau minum teh sangat dianjurkan, tapi perhatikan juga untuk gula yang dikonsumsi. Teh manis sepertinya menjadi minuman yang paling akrab dengan masyarakat di tanah air. Memang tidak ada larangan untuk minum teh manis hangat atau es teh manis. Tapi ingat penggunaan gula. 

Tentunya jika akan melakukan diet teh perihal gula harus diperhatikan. Penulis sepertinya membuat buku ini dengan mempertimbangan situasi serta pengalaman mengelola toko teh di Los Angeles, Amerika Serikat. Untuk di tanah air tentunya akan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus.

Gambar cangkir teh dengan nomor yang menandakan nomor halaman di bagian tubuh cangkir membuat buku ini seakan mendapat sentuhan khusus. Seakan memberikan tekanan bahwa ini memang buku yang hanya membahas segala hal tentang teh. Posisi yang diletakkan di bagian pinggir tengah sisi kanan dan kiri kertas menambah sentuhan manis. Biasa nomor halaman ada di pojok kanan atau kiri bawah.

Sayangnya keseluruhan isi buku ini mempergunakan warna tinta hijau, demikian juga dengan tata letak dimana beberapa bagian diberi latar dengan warna nuansa hijau juga. Dengan kertas yang berwarna agak coklat,  warna tinta hijau menjadi kurang nyaman dibaca. Secara artistik mungkin indah, tapi untuk dibaca menjadi tidak nyaman dimata.

Ditambah dengan ketebalan kertas yang sepertinya agak minim sehingga kadang saat membaca kita seakan bisa melihat tulisan yang ada di baliknya. Hal ini membuat pembaca bisa merasa tidak nyaman membaca. Bukan tidak mungkin mereka memutuskan untuk tidak meneruskan buku yang mereka baca. Hal ini tentunya akan sangat disayangkan.
Hem... jadi penasaran ingin mencoba.
Minum teh tanpa campuran apapun untuk diet.
Kira-kira sukses tidak ya.
Dicoba ah, siapa tahu jodoh he he he. 

2016 #49: The Magic of Tea

Saya penikmat teh.
Sepertinya sudah banyak yang tahu kalau saya menyukai teh. Buktinya setiap pergi ke suatu tempat, selain buku LW dan Alice, para sahabat juga sering membawakan teh buatan lokal. Ada yang membawakan 1 kotak ada yang hasil "beres-beres" dari hotel. Tidak masalah buat saya, yang penting niat baik mereka *peyuq-peyuq terima kasih*

Agak malu juga sebagai penikmat teh namun belum pernah mengulas buku tentang teh. Ada beberapa buku tentang teh di rak buku saya, tapi selama ini hanya dibaca  saja, belum direview. Gara-gara tergoda membeli buku tentang teh di ajang Big Bad Wolf kemarin, jadi kepingin membaca ulang dan membuat review singkat. 

Jadi, mari kita mulai membaca beberapa buku yaa.
Supaya tidak terlalu panjang, dibuat dalam beberapa tulisan. 

Penulis: HP Melati
Penyunting: Dyota Lakhsmi
Desin cover: Henny Indriaty
Tata letak: el Creative
Ilustrator:  Henny Indriaty
ISBN: 9789791142564
Halaman: 280
Cetakan: Pertama-2009
Penerbit: Hikmah
Rating: 3/5 

Menurut buku ini, semua jenis teh berasal dari tanaman Camellia sinesis, yang membedakannya adalah proses pembuatan. Setiap karakter aroma dan rasa ditentukan berdasarkan tempat, iklim, kondisi tanah dan proses oksidasi saat pengolahan daun teh.

Dengan mengusung tema healthy, beauty and fun, buku ini mampu menyajikan informasi lengkap  namun mempergunakan bahasa bertutur yang  ceria sehingga mudah dicerna. Ada tentang asal mula daun teh, manfaat teh, jenis teh, mengenali jenis teh dari negara asalnya, tata cara minum teh, tasseografi hingga tempat ngeteh yang bisa dikunjungi.

Jenis teh menurut buku ini ada Teh Hitam (English Breakfast tea, Irish Breakfast, Caravan,  Earl Grey, Darjeeling, Keemun, Lapsang Souchong), Teh Hijau, Teh Putih serta Teh Oolong. 

Konon Teh Oolong adalah sampanye-nya teh. daun-daun teh ini selalu utuh tidak akan patah walau digulung. Fermentasinya menghasilkan rasa buah-buah seger sehingga tidak perlu campuran apapun.

Teh putih ternyata memiliki potensi antikanker paling besar.  Belakangan teh ini juga dijadikan campuran salah satu susu kemasan dengan gambar hewan. Pantas, saya bisa menikmati susu ini.

Teh sering disajikan dalam acara formal, maksudnya supaya terjadi keakraban diantara para peserta. Sering kali orang diajurkan minun teh hangat ketika butuh sesuatu yang bisa menenangkan. Namun ternyata teh juga bisa mengakibatkan perang, peristiwa Boston Tea Party sebaga contoh.

Ketika terjadi krisis keuangan usai perang, Inggris menaikan pajak teh guna menutupinya. Hal ini menimbulkan kerusuhan di Amerika yang ketika itu masih merupakan koloni Inggris. Dengan mempergunakan pakaian ala Indan Mohican, beberapa orang merampok kapal-kapal East India Company dan membuang sekitar 342 peti teh ke laut. Ini memicu perang kemerdekaan Amerika pada tahun 1775-1783. 
 
Dengan adanya ilustrasi, buku ini menjadi lebih terkesan manis. Selain itu, sangat membantu pembaca yang ingin mengetahui segala hal penting terkait dengan teh. Cukup memperhatikan ilustrasi, maka pembaca bisa mendapatkan informasi, walau hanya dalam taraf sekedarnya saja. 

Beberapa bagian juga diakali dengan cara ditulis dengan huruf miring. Sebenarnya dengan tata letak yang berbeda, pembaca langsung bisa mengetahui bahwa apa yang disampaikan adalah hal yang perlu diperhatikan. Sayangnya ukuran yang agak kecil membuat pembaca bisa mengalami kesulitan saat membacanya.

Bagian tasseografi mengingatkan saya pada salah satu kisah HP.Tasseografi sering juga disebut tasseomansi atau tassologi, merupakan ramalan dengan mempergunakan daun teh. Dahulu diperkenalkan sebagai permainan saat menerima tamu.

Belakangan dengan bermunculan tempat bersantai dengan menyajikan teh  sebagai minuman utama, tentunya makin banyak variasi minuman yang bisa kita nikmati. Asal jangan lupa, minum teh dengan bijak karena sesuatu yang berlebihan justru tidak memberikan kebaikan.