Selasa, 27 Desember 2016

2016#142-144: Seputar Serat Centini

Siang ini, beberapa mata menatap saya dengan aneh ketika mengetahui saya sedang mencari Serat Centhini di rak koleksi. 

Masih banyak yang mengira bahwa isi serat ini tak jauh dari urusan arus bawah. Padahal isinya merupakan segala macam ilmu pengetahuan dan budaya Jawa, kebetulan ada beberapa bagian yang menguraikan tentang hal tersebut. Salah satu cara melestarikan ilmu pengetahuan dan budaya agar tidak punah adalah melalui serat ini. Penyampaiannya dalam bentuk tembang. 

Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan wujud keinginan dari  Sunan Pakubuwana V untuk menghimpun segala pengetahuan lahir bathin masyarakat Jawa ketika itu, tentunya termasuk keyakinan dan penghayatan terhadap agama. Upaya menghimpun dipimpin oleh Pangeran Adipati Anom, serta dibantu oleh tiga orang pujangga istana yang mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Raden Ngabehi Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian Timur,  Raden Ngabehi Yasadipura II menjelajahi Jawa bagian Barat. Sementara  Raden Ngabehi Sastradipura ditugaskan untuk menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuan agama Islam. Perlu diingat, naik haji saat itu tidak seperti saat ini, butuh waktu yang lama.

Tema-tema seks dalam Serat Centhini tersebar dalam tiap jilid, namun terlihat dominan pada beberapa jilid sama (antara lain jilid 2, 8,dan 10), yaitu mengisahkan perjalanan Cebolang, dan kawan-kawan.  Perihal seks yang ada  juga menekankan untuk keharmonisan rumah tangga serta pengetahuan.
 
Jika ingin mendapatkan versi online bisa menuju situs ini.t. Beberapa buku berikut mengambil inspirasi dari Serat Centhini.


Judul: Pustaka Centhini, Ikhtisar Seluruh Isinya
Gubahan: Ki Sumidi Adisasmita
Alih bahasa: Drs Darusuprapta
Halaman: 124
Cetakan: Ketiga-1979
Penerbit: UP Indonesia

Semula buku ini ditulis dalam Bahasa Jawa, berkat peran Drs Darusuprapta seorang dosen Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, terbit mengalihkan dalam Bahasa Indonesia. Tujuannya tak lain untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat luas mengenai Pustaka Centhini.

Para pembaca buku ini tidak saja akan mendapat informasi mengenai isi tiap jilid secara jelas, tapi juga memudahkan ketika mencari mengenai suatu hal. Biasa dikatakan ini merupakan petunjuk praktik.

Meski disajikan secara ringkas, namun isi cerita dan jalan cerita keseluruhan Pustaka Centhini sebanyak dua belas jilid sudah terangkum. Hal ini terlihat dari halaman yang merupakan ikhtisar  tiap jilid.

Judul: Rahasia Seks Lelulur Jawa
Penulis: Yudhi AW
Editor: Adiar Taga
ISBN:9786022555308
Halaman: 263
Cetakan: Pertama-April 2014
Penerbit: Diva Press

Penulis membuat buku ini dengan menjadikan Serat Centhini sebagai sumber rujukan utama untuk memberikan gambaran tentang dunia seks orang Jawa. Disebutkan lebih lanjut bahwa seks dalam Serat Centhini setidaknya memiliki dua fungsi utama. Pertama sebagai bagian dari pengetahuan untuk memberikan penjelasan seputar seks dalam kerangka pengetahuan yang diarahkan demi keharmonisan rumah tangga.   Kedua sebagai saran humor.

Terdapat lima bagian besar dalam buku ini. Dimulai dengan Serat Chentini Sebagai Kitab Seks Jawa, Perempuan Jawa Dalam Dunia Seksualitas, Seks dalam Kehidupan Perkawinan Orang Jawa, Penyimpangan seksual serta Seks sebagai Ajaran Kemuliaan. 

Meski judul mengandung urusan tentang seks, namun jangan harap ada reka adegan syur. Benar-benar pengetahuan semata. Dalam bab Perempuan Jawa Dalam Dunia Seksualitas misalnya, yang diulas malah watak yang sebaiknya dimiliki oleh seorang istri, tipe ideal wanita Jawa dan lainnya.

Cara penyampaian secara populer membuat buku ini mudah dipahami.


Judul: Amongraga & Tembanglaras
Penulis: Misni Parjiati
ISBN: 9786022790563
Halaman: 344
Penerbit: Diva Press
Cetakan: Pertama-Oktober 2013

Bagus Jayengresmi yang telah berganti nama menjadi Amongraga, sudah cukup lama berguru pada Ki Ageng Jambu Karang di Padepokan Ujung Kulon Jawa. Guna menambah ilmu, ia diutus berguru pada sahabat masa muda sang guru, Ki Bayi Panurta di Padepokan Wanamarta yang terletak di kaki Gunung Lawu.

Di Padepokan Wanamarta ia jatuh hati dan menikah dengan Niken Tambanglaras, putri sulung Ki Bayi Panurta.  Meski ada kalimat Empat Puluh Malam di Pelaminan, buku ini sangat jauh dari dari urusan adegan syur. Justru yang ada adalah kisah mengenai Amongraga selama empat puluh malam membagikan pengetahuan pada istri terkasih.


Buku ini dibuat dengan mempergunakan bahasa yang sederhaha namun tepat sasaran. Penulis seakan ingin menyampaikan hasil pemikirannya dengan tepat dan singkat. Meski demikian, pembaca tetap bisa menemukan nuanasa humor dalam buku ini.

Oh ya, kenapa saya mencari Serat Chentini? Untuk referensi, apa lagi. Ada sahabat yang bertanya mengenai adat Jawa terkait kelahiran seorang bayi. Baik bagi sang bagi maupun bagi ibunya. Terus terang ada beberapa bagian yang agak terlupakan. Saya berharap menemukannya dalam buku tersebut. Jika sudah ketemu, pasti saya sampaikan pada yang bertanya. Bagaimana selanjutnya, terserah yang bersangkutan saja ^_^.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar