Sabtu, 24 Desember 2016

2017 #137: Kisah Mata Hari

Penulis: Paulo Coelho
Alih bahasa: Lulu Wijaya
ISBN: 9786020336138
Halaman: 187
Cetakan: Pertama- 2016
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
harga: Rp 50.000
Rating:3/5

Nama sandimu H21. Ingat itu: Kau akan selalu menandatangani suratmu dengan H21.

Nama Margaretha Geertruida "Grietje" Zelle mungkin jarang didengar orang, tapi nama Mata Hari sepertinya lebih dikenal orang. Kisahnya bahkan sudah sering menjadi inspirasi para pembuat film dan  penulis besar. Salah satunya Paulo Coelho.

Tidak banyak informasi baru tentang sosok Mata Hari yang bisa diperoleh dari buku setebal 180 halaman ini. Bisa disimpulkan, ia merupakan wanita yang lahir pada waktu yang salah dan tak ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaikinya.

Dikisahkan Mata Hari tertarik akan iklan yang menyebutkan mengenai seorang pria angkatan laut yang akan bertugas ke Indonesia dan membutuhkan seorang istri. Ia merasakan tantangan hidup di dunia baru. Ia menjawab iklan itu, tak butuh lama pernikahan berlangsung. Pernikahan tersebut membuahkan dua orang anak, salah satu meninggal keracunan saat baru berusia beberapa bulan.

Di Indonesia, kehidupan tidak seperti yang ia harapkan. Sang suami sering melakukan kekerasan, tak jelas apa sebabnya tapi ada kisikan karena sang suami takut pada pesona sang istri. Nyaris tak ada yang mampu melawan pesonanya. Bahkan atasan sang suami, memandangnya dengan kagum, sementara sang istri menatapnya dengan ngeri, sebelum akhirnya melakukan hal yang menakutkan!


http://mashable.com/2016/04/01/mata-hari/
Untuk mengisi waktu, Mata Hari (menurut pengakuannya) belajar mengenai kebudayaan setempat, terutama mengenai tarian. Dengan tarian ia mencoba peruntukan di Paris. Ia membawakan tarian yang dianggap berbeda sehingga tak butuh lama untuk membuat namanya melambung. Melalui tarian juga ia bisa berhubungan dengan banyak kalangan, hal ini yang membuatnya direkrut untuk menjadi mata-mata.

Sampai nyaris setengah buku, saya masih penasaran dengan uraian di awal buku yang menyebutkan bahwa Mata Hari merasa ia dihukum karena perbuatan yang tak ia lakukan, ia dihukum karena perbuatan yang tak berarti. Penasaran, saya semakin bersemangat ketika menemukan bagian terkait tinta rahasia. Ternyata memang perbuatan yang ia lakukan mungkin saja dilakukan oleh setiap orang yang berada dalam kesulitan dan butuh uang. Hanya dalam kasus ini, apa yang ia lakukan berakibat fatal.

Selain menyuguhkan uraian bagaimana situasi dan kondisi sekitar PD II, bagian bagaimana Mata Hari harus memutar otak agar bisa bertahan hidup pada saat itu merupakan hal yang menarik untuk disimak. Bukan hal yang mudah, salah bersikap, salah berucap maka kemewahan yang ia peroleh akan hilang sekejab mata.

Secara cerdik Mata Hari menunjukan bahwa pengamatannya pada sikap pria akan sangat membantu dalam berbagai situasi.  Menurutnya laki-laki paling suka menjelaskan, dan mereka punya pendapat untuk segala sesuatu. Maka ia sering membiarkan kekasihnya menjelaskan banyak hal, sambil ia melancarkan rayuan untuk memperoleh keinginannya. Belakangan tindakan itu yang menyebabkan ia dituduh sebagai mata-mata, mendengarkan penjelasan dan menjelaskannya pada yang lain.

Terdiri dari prolog, tiga bagian dan  epilog, buku ini bisa menjadi bacaan ringan, apa lagi jumlah halaman juga tak terlalu banyak. Bahasa yang dipergunakan juga mudah dipahami sehingga bisa dibaca setiap golongan. Oh, ya meski disebutkan banyak pihak bahwa Mata Hari juga berprofesi sebagai pelacur, tidak ada urusan terkait hal yang tidak senonoh dalam buku ini. Semua sangat aman.

Karena permohonannya ditolak, maka Mata Hari harus menjalani hukuman mati dengan tuduhan sebagai mata-mata. Banyak pihak yang mempertanyakan hukuman tersebut mengingat tidak ada bukti nyata yang menguatkan dugaan ia adalah seorang agen ganda. Dengan berani ia mempersiapkan diri dengan berhias sedikit dan menolak mempergunakan penutup mata saat dieksekusi.
 
Mata Hari dikecam karena apa yang oleh masyarakat disebut dosa-dosa kedagingan.  Tapi karena dia juga penuli sekaliber Paulo Caelho berkenan menuliskan kata sapaan bagi para pembacanya di tanah air pada halaman depan buku ini. 

Terlepas dari apa yang ia lakukan atau bagaimana ia dihukum mati, seandainya porsi bagian dalam buku ini yang mengisahkan tentang kehidupan Mata Hari di tanah air lebih banyak, dengan mengisahkan kebudayaan dan kondisi alam yang cantik, tentunya akan lebih baik lagi. Hitung-hitung promosi tentang tanah air. Menurut dosen saya saat kuliah dulu (maaf saya lupa nama beliau), hal buruk sekalipun bisa diolah untuk menjadi sebuah promosi yang menawan. 

Jadi, jika ada yang bertanya apa kelebihan buku ini? Maka jawabannya adalah mengenai sosok perempuan yang berusaha bertahan hidup dengan mempergunakan otak dan kecantikannya. Juga dengan menyebutkan negara kita sebagai bagian dari lokasi kisah.  Sementara mengenai kekurangannya, ini hanya sebuah buku yang memuat informasi umum  mengenai Mata Hari, dimana sebenarnya info tersebut bisa ditemukan dengan mudah. Kebetulan saja ditulis oleh seorang penulis terkenal.

Sang penulis, Paulo Coelho lahir pada 24 Agustus 1947 di Rio De Janeiro, Brasil. Karyanya sudah banyak dibaca di dunia saat ini. Novel The Alchemist merupakan karyanya yang  paling terkenal dan telah diterjemahkan dalam 67 bahasa.  Beberapa penghargaan internasional juga sudah diraih, termasuk Crystal Award ,  Best Fiction Corine International Award 2002 untuk The Alchemist,  Distinction of Honour from the City of Odense (Hans Christian Andersen Award) dan lainnya.

Sebuah penggalan bagian yang saya suka dalam buku ini adalah,
Ketika seorang  wanita atau pria dicampakkan oleh orang yang mereka cintai, mereka hanya terpusat pada kepedihan mereka sendiri. Tidak ada yang mengambil waktu untuk memikirkan apa yang terjadi kepada orang satunya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar