Selasa, 27 Desember 2016

2016 #139-141: Sinema Dalam Sejarah

Setelah mendapatkan beberapa buku seri dari MODE dalam Sejarah, jadi tertarik untuk mencari seri lain. Masih ada MODE Abad-20, MUSIK dalam Sejarah, serta  SINEMA dalam sejarah.

Begitulah jika penimbun buku berburu, semangat tiada tara ^_^. Kemari  saya menemukan tiga buku yang termasuk dalam seri Sinema. Seri ini mengajak pembaca untuk menelusur sejarah berbagai genre film, termasuk soal teknologi, acuan dan sejenisnya.

Ada beberapa buku dalam seri ini,
1. Fiksi Sains & Fantasi
2. Horor
3. Laga dan Petualangan
4. Komedi
5. Perang & Epik
6. Gangster & Detektif
Sayangnya, saya hanya berhasil mendapatkan tiga buku, padahal justru naksir berat pada Fiksi Sains & Fantasi. Semoga bisa berjodoh kelak.

Seperti seri sebelumnya, untuk penulis, desainer, penerjemah dan perancang sampul seri ini adalah orang yang sama. Hanya penyunting yang berbeda-beda. Penulis buku adalah Mark Wilshin, desainer buku adalah Gary Jeffrey, terjemahan merupakan hasil kerja tata!. Sementara untuk sampul dikerjakan oleh ZOMBEM. 


Judul: Horor
Penyunting: Dias Rifanza Salim
ISBN: 9789799102522
Halaman: 32
Cetakan: Pertama-September 2010

Ada orang yang menyukai kisah roman, tapi ada juga yang menyukai menonton film horor. Dengan caranya yang unik, film horor memberikan kenikmatan-kenikmatan janggal. Takut, tapi penasaran dengan mengintip dari sela-sela jari. Senang menonton film horor namun sesudah itu takut berada dalam kegelapan sendiri, bahkan tidur sendiri.

Film horor muncul melalui karya Georges Melies sutradara Perancis melalui karyanya The Devil's Castle (1986). Melalui film The Cabinet of Dr Caligari (1920) barulah ketegangan horor sebagai sebuah kenikmatan tersendiri muncul. Vampir, Zombie dan aneka hal lainnya juga mengalami perkebangan seiring zaman. Vampir tidak lagi menjadi sosok seram, malah sangat tampan dalam  The Lost Boys (1987) dan seri Twilight. 

Saya jadi tahu (maaf jika terkesan kuper bagi yang sudah lama tahu) bahwa Film Noir adalah genre film yang diasosiakan dengan kekerasan dan kejahatan. Umumnya adegan film-film ini sering terjadi pada malam gelap di jalan-jalan yang basah oleh hujan. Film Slasher adalah film horor yang menunjukkan orang dibunuh dengan sangat kejam menggunakan benda tajam.


Judul: Perang & Epik
Penyunting: Hardian Putra & Dias R.
ISBN: 9789799102911
Halaman: 32
Cetakan: Pertama-November 2010

Genre ini muncul pertama kali di Italia pada era film bisu. Biasanya menceritakan perang dan intrik Romawi Kuno hingga fim Cleopatra. Film epik sering mempergunakan sejarah dan perang sebagai latar dramatis. bagi cerita kepahlawan dan asmara. Sedangkan film perang berpusat di area pertepuran penuh bergelimpangan korban, parit berlumpur dan desingan peluru guna menggambarkan teror dan tragedi dunia saat perang.

Film Cleopatra (1963) didukung ribuan pemain hingga membuat studio yang memproduksi bangkrut. Film epik ini mengakhiri era pedang dan sandal untuk sementara waktu. Melalu Gladiator (2000) dan Troy (2004) upaya mengembalikan kejayaan tersebut dilakukan.

Epik dari timur juga memeriahkan dunia film. Crouching Tiger Hidden Dragon (2000) merupakan film epik yang bercerita mengenai cinta terpendam serta pendekar pedang berhati mulia.Adegan meluncur di udara, berlarian di dinding dan berdiri dengan anggun di puncak bambu memenuhi film ini. 

Dahulu, untuk mendapatkan latar yang sesuai, lukisan kelir adalah salah satu efek khusus yang pertama.  Caranya dengan menggabungkan cuplikan gambar nyata dari aktor-aktor dengan pemandangan yang dilukis pada kaca. Selembar kaca dilukis lalu ditempatkan antara kamera dan aktor yang tampil di latar set yang lebih kecil.  

Judul: Gangster & Detektif
Penyunting: Hardian Putra & Dias R.
ISBN: 9789799102959
Halaman: 32
Cetakan: Pertama-Desember 2010

Film gangster umumnya diangkat dari aksi sensasional para gangster dalam kehidupan nyata, misalnya Al Capone, John Dilliner, Lucky Luciano dan lainnya. Keseruan menonton aksi para gengster sempat terhenti pada tahun 1934. Ketika itu badan sensor melarang Hollywood menjadikan gengster sebagai pahlawan dalam film. Hal ini dikarenakan mereka dianggap terlalu bengis. Untuk selanjutnya, banyak produser beralih membuat film tentang polisi. Sosok polisi yang keras, tangguh dan sesinis para gengster diciptakan.

Mobil-mobil yang melaju kencang dan senapan mesin yang berseding dalam film gengster membangkitkan animo penonton saat film bersuara muncul. Bagian yang memuat Mob alias Mafia spontan membuat saya teringat pada film The Gadfather, film yg pertama muncul tahun 1972. Film mafia jenis baru mengekspos kejahatan terorganisasi dan politisi korup muncul di tahun 1950-an.

Polisi tidak selalu digambarkan sebagai sosok yang baik. Ada juga sosok yang digambarkan jahat dan korup. Dengan menghilangnya tempat bagi film mafia, polisi yang semula digambarkan sebagai sosok tak berdaya diubah menjadi pahlawan yang berjuang dengan gigih tanpa putus asa. 


Sosok detektfi swasta yang sinis dan berbicara dengan cepat menjadi sosok idola dalam film noir. Jika para polisi menangkap gangster, maka para detektif swasta  yang misterius ini menyelidiki sisi amoral kehidupan moderen seperti pengkhianatan dan pemerasan.  Beberapa versi film  Sherlock Holmes juga dibahas dalam buku ini.

Di akhir buku, saya menemukan bahwa kata "caper" dalam buku ini bermakna aktivitas yang tidak jujur. Beda jauh dengan makna saat ini ^_^. Pada lain hal, yang dimaksud dengan Peraturan Produksi Hays adalah peraturan yang digariskan sebaga standar umum untuk selera yang baik dan mengatur pada apa yang boleh dan tidak boleh ditampilkan dalam film-film Amerika. Peraturan ini diciptakan pada tahun 1930 dan diberlakuan mulai 1934.



Buku ini memberikan pencerahan bagi saya terkait dengan film. Hanya saja, karena umumnya buku-buku tersebut terbit pada tahun 2000-an maka contoh film yang diambil juga tak jauh dari film tahun 2005. Hal ini menjadikan buku ini kurang kekinian jika melihat perkembangan kemunculan aneka film baru.

Untuk urusan kover, entah kenapa ketiga buku yang saya punya mengusung nuansa agak suram. Mungkin maksudnya dibuat dengan menyesuaikan segala hal terkait film. Namun bisa kan tetap  dibuat dengan lebih ceria, penuh nuansa warna jika perlu.
 
Dalam Wikipedia disebutkan bahwa Sinema (akar kata dari cinema = kinematik = gerak). Film sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di dunia para sineas seluloid. Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera V. 

Namanya saja versi ringkas, tentunya informasi yang diperoleh juga hanya sedikit. Tapi lebih baik sedikit dari pada tidak. Siapa tahu, kelak butuh referensi singkat seputar sinema. Bisa langsung buka seri ini ^_^.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar