Rabu, 21 Desember 2016

2016 #132: Buku dan Kelamin Dalam Pertaruhan

Judul : Perpustakaan Kelamin, Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti

ISBN : 978-602-14549-3-0 
Halaman: 229
Cetakan: Pertama-Mei 2016
Penerbit : Semesta
Rating: 4/5

Edan
Edan
Edan

Penulis yang sering mempergunakan ungkapan edan, dan pembaca iseng yang menghitung berapa jumlah kata edan dalam buku ini. Sampai hitungan kesekian saya berhenti ^_^

Kisahnya mengenai seorang ibu yang membesarkan anak semata wayang dengan cara yang unik. Seorang diri, sang ibu memicu rasa penasaran anak pada sebuah ruangan penuh dengan buku. Setelah mencintai buku, selanjutnya bersama-sama mendiskusikan isi sebuah buku. Bisa dipastikan seluruh hidupnya diperuntukan untuk menikmati buku. Jangan tanya berapa jumlah uang yang ia habiskan. Sekian tahun, menyisihkan uang panen tentunya menghasilkan jumlah buku yang lumayan.


Sang ibu, Ambu Harian, juga tidak mengirim anaknya, Hariang ke sekolah. Pelajaran diberikan melalui buku-buku yang ada dalam koleksinya. Hal yang sangat luar biasa bagi saya, orang tua yang tidak mengirim anaknya sekolah di zaman ini. Meski demikian, pengetahuan Hariang cukup mumpuni. Tinggal serumah dengan ibu yang sangat paham mengenai banyak hal dan dikelilingi buku yang melimpah membuat Hariang menjadi sosok yang unik. 

Meski kagum pada sosok Hariang, saya nyaris lupa ia juga manusia biasa yang memiliki kekurangan. Hingga rasa kagum tersebut mendadak berkurang membaca bagian yang menyebutkan mengenai Hariang dan Kekasihnya. Penulis sepertinya sengaja menciptakan sosok Hariang sebagai sosok yang seimbang, baik namun memiliki kekurangan yang manusiawi.

Membaca buku ini, tidaklah mudah (bagi saya). Tiap lembarnya memberikan informasi yang lumayan padat. Kepala saya yang agak kurang pandai butuh waktu untuk mencerna informasi yang saya peroleh. Perlahan tapi pasti, akhirnya buku ini selesai juga. Rasanya seperti sedang mempersiapkan diri untuk menjalani ujian sertifikasi pengadaan.

Para penggila buku akan sangat dimanjakan dengan berbagai informasi mengenai buku. Dari asal mula buku, buku yang mengubah hidup banyak orang, ditemukannya kertas yang membuat buku menjadi lebih ramah bagi pembacanya. Tentunya juga terdapat judul buku-buku bagus yang layak dibaca namun sepertinya kurang publikasi.

Buku karangan Fernando Baez, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa diulas khusus dalam buku ini. Penulis menjadikannya sebagai bahan diskusi PAKU (Pasukan Anti Kuliah), komunitas pencinta buku yang diikuti Hariang.  Lumayan panjang diuraikan diskusi tesebut. Seandainya saya belum membaca buku itu, mungkin saya akan mengurungkan niat untuk membeli dan membacanya. Untuk apa? Cukup membaca bagian yang memuat tentang diskusi buku tersebut, intinya nyaris sama dengan yang saya peroleh ketika membaca buku itu. Terdapat juga uraian mengenai nama-nama penulis papan atas yang karyanya wajib dibaca. Buku yang sangat memanjakan penulis dan karyanya.

Bagian yang mengisahkan kebiasaan Hariang buang hajat sambil membaca buku di halaman 26 membuat saya meringis. Hayuh, mengaku, bukankan banyak diantara penggila buku yang begitu hanyut dalam kisah sehingga enggan melepaskan buku yang ia baca. Hingga akfivitas buang hajat sekali pun dilakukan bersama buku yang sedang dibaca. 

Jadi ingat kegiatan Kepergok Membaca beberapa waktu lalu. Salah satu foto yang paling menarik memuat seorang pria yang terkejut ketika pintu kamar mandi dibuka dan ia dipotret. Kondisinya saat itu ia sedang duduk di kloset dan memegang buku, kurang lebih begitu. Ekspresi kagetnya sungguh menarik he he he. Untung tidak ada bagian pribadi yang terfoto, bisa kena pasal pornografi nanti.

Demikian juga dengan keengganan sang ibu untuk memiliki pesawat televisi. Sudah dua tahun sang ibu menjualnya. "Kalau ibu melihat acara-acara televisi, bangsa Indonesia semakin terlihat tidak bermutu." Setuju bu! Mari membaca saja. Walau belakangan ada beberapa acara yang mengandung unsur pendidikan yang tinggi, jumlahnya masih teramat sangat sedikit.


Daftar Pelarangan Buku di Indonesia yang ada di halaman 196-205 membuat saya merasa minder. Ternyata saya tidak cukup mengenal dunia perbukuan di tanah air. Beberapa buku pernah saya baca judul dan berita tentang pelarangannya. Namun masih banyak yang juga belum pernah saya dengar.

Sekedar iseng, saya meluncur ke ruangan UIANA, sebutan bagi tempat penyimpanan seluruh karya civitas UI. Mulai mencari pada kataloq, menelusuri rak dan menemukan skripsi yang disebutkan dalam buku ini. Kondisi seperti kena angin topan kata salah satu sahabat. Maklum usia sudah cukup lumayan.  Tidak masalah kondisinya, terpenting isinya.

Dengan membaca judul saja, seseorang akan tergelitik untuk (minimal) bertanya-tanya. Apa hubungan kelamin dengan buku? Apakah buku ini memuat berbagai hal seputar kelamin dalam sebuah perpustakaan? Atau perpustakaan yang isi tak lain adalah kelamin? Banyak lainnya. Penulis mampu membuat siapa saja yang melihat judul buku ini tertegun sesaat.    

Sayangnya, akhir kisah ini membuat penilaian saya yang lumayan tinggi menjulang, turun tiada tara (halah sok lebay kali). Saya sempat menduga ada orang yang mengambil kesempatan dari kesulitan orang lain.  Bahkan bukan tidak mungkin ada orang yang sengaja menciptakan suasana yang menyulitkan orang lain. Ketika dugaan saya terbukti benar, langsung merasa kesal. Kenapa kisah yang seru harus diakhir ala film begini. 

Oh, apa hubungannya kelamin dengan buku dalam kisah ini? Sungguh terkait! Justru itu inti dari kisah ini. Gara-gara kelamin, sebuah perpustakaan hancur, dan untuk perpustakaan juga sebuah kelamin harus dikorbankan! Lebih lengkap silahkan baca saja langsung ya ^_^

Membaca uraian mengenai Penggandrungan Buku di halaman 27-28, maka saya bisa dikategorikan dalam:
1. Bibliofil = orang yang membeli buku dan membacanya. Terbukti dengan jumlah buku yang saya baca dan review.
2. Biblionarsis = orang yang mengoleksi buku, penuh dengan ensiklopedia lengkap, dan menempatkannya di rak khusus. Tengoklah koleksi Little Women dan Alice in Wonderland saya ^_^
Untungnya belum sampai menjadi Bibliokleptomania, pencuri buku!

Jika kalian, masuk golongan yang mana?

1 komentar: