Rabu, 07 Desember 2016

2016 #129-131,138: Hayuh Memahami Mode




























Banyak cara untuk memahami berbagai hal, salah satunya dengan membaca. Bacaan tidaklah harus setebal bantal, kadang buku tipis juga bisa menyajikan informasi dasar yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya dari seri MODE dalam sejarah.

Dengan membaca MODE dalam sejarah, diharapkan pembaca bisa mendapat informasi mengenai banyak hal terkait mode. Mulai dari pakaian dari kulit, asesoris yang sempat dilarang dipergunakan, berbagai jenis sepatu, kapan pertama kali orang mempergunakan pakaian dalam, dan masih banyak hal lain seputar sejarah mode.

Menurut link  berikut, mode adalah gaya penampilan yang dianggap indah pada suatu masa, di gemari dan diikuti oleh orang banyak. Mode akan berubah dari masa ke masa. Apabila mode baru muncul,maka mode yang sebelumnya dianggap kuno dan lambat laun akan ditinggalkan. Mode dapat berulang kembali setelah beberapa tahun. Mode baru bertitik tolak pada mode sebelumnya dan tampil kembali dengan variasi baru.

Sementara KBBI dalam link ini, menyebutkan bahwa mode merupakan ragam (cara, bentuk) yang terbaru pada suatu waktu tertentu (tentang pakaian, potongan rambut, corak hiasan, dan sebagainya): ia selalu berpakaian mengikuti --; atelir -- , tempat membuat pakaian yang dilengkapi dengan ruangan khusus untuk mencoba pakaian, mengukur pakaian, serta perlengkapan lain.

Dengan demikian bisa kita katakan bahwa mode merupakan ragam (pakaian, potongan rambut, tas, perhiasan, dan lainnya)  yang dianggap indah dan menarik serta digemari pada suatu masa. Mode bisa saja berulang seperti apa adanya, namun bisa juga mengalami perubahan sesuai dengan zaman.

Sebagai orang yang kurang paham mode, buku ini memberikan pencerahan bagi saya, bahwa urusan mode ternyata tidak cukup hanya memahami baju yang sedang ramai digemari, sepatu yang sedang digandrungi, pakaian yang nyaman namun sesuai dengan tempat dan peristiwa, dan banyak hal lain. Selama ini mode versi saya adalah nyaman, gaya belakangan.  Ternyata ada hal lain yang tersembunyi dari penggunaan korset, misalnya.

Seri ini terdiri dari tujuh buku, jika menilik daftar yang ada di bagian belakang buku. 
1. Gaun &Rok
2. Sepatu
3. Jaket & Celana
4. Baju Dalam
5. Topi & Gaya Rambut,
6. Riasan Wajah & Tubuh
7. Perhiasan & Aksesori

Ketujuh buku tersebut menyebutkan bahwa pembuat buku adalah Helen Reynolds. Desainer yang ikut membantu penerbit buku adalah Julie Joubinaux, penerjemah yaitu Selyana Sari,  sementara penyunting adalah Ratna Dyah Wulandari. Merupakan terbitan dari Kepustakaan Populer Gramedia (KGP).

Sayangnya, hasil berburu saya hanya bisa membuahkan tiga buku saja. Lumayan dari pada tidak dapat sama sekali ^_^ Dan ketiganya dalam kondisi prima alias segel saat ditemukan.

Judul: Gaun & Rok
ISBN: 9789799102546
Halaman: 32
Cetakan: Pertama-September 2010

Banyak yang kurang paham apa beda gaun dan rok, buku ini tidak saja memberikan penjelasan mengenai perbedaannya, namun juga mengisahkan tentang sejarah pakaian. Mulai dari gaun yang terbuat dari kulit, tunik Yunani yang tidak membutuhkan banyak jahitan, hingga gaun mini dengan serat sintesis dari PVC atau lycra yang lentur.

Salah satu perubahan bentuk wanita  Eropa yang sangat mencolok terjadi pada masa Renaisans. Saat itu pinggang terlihat ramping, sementara rok bertumpuk  dipakai di bawahnya.  Gaun anak mencerminkan kondisi masyarakat tempat mereka dibesarkan.

Saya menemukan bab unik yang membahas mengenai Pria dan Rok. Beberapa negara masih mempergnakan rok sebagai pakaian adat nasional.  Di Yunani Fusranella menjadi bagian dari seragam tentara nasional Yunani.

Orang mengenal mesin jahit, namun masih sedikit yang mengetahui bahwa mesin jahit pertama ditemukan oleh Elias Howe (1819-67). Penemuan tersebut dipatenkan pada tahun 1846.

Judul: Perhiasan & Aksesori
ISBN: 9789799102966
Halaman: 32
Cetakan: Pertama-Januari 2011

Sejak zaman prasejarah, nenek moyang kita sudah menghiasi diri dengan mempergunakan manik-manik atau ornamen lainnya. Kalung dibuat dari tumbuhan, cangkang, tanduk  dan tulang hewan, mereka menguntainya di tali yang terbuat dari serat tumbuhan atau sayatan kulit binatang.

Pada abad ke-13, di Eropa sempat ada undang-undang yang melarang orang biasanya mempergunakan perhiasan dari logam mulia dan batu permata. Hanya kalangan tertentu saja yang boleh mempergunakannya.

Gelang tidak saja merupakan asesoris wanita, pada tahun 1960-an sempat populer gelang pengenal sebagai asesoris pria. Demikian juga dengan anting dan giwang pada beberapa negara.

Dibahas juga mengenai mahkota, anting dan giwang, cincin bahkan peniti. Seiring waktu, aksesoris juga berkembang, ada yang berbentuk elektronik seperti handphone dan walkman. Pada tahun 1980-1990, agenda organisator elektronik sangat digemari. 

Judul: Pakaian Dalam
ISBN: 9789799102850
Halaman: 32
Cetakan: Pertama-2010

Kapan orang mulai mempergunakan pakaian dalam? Sebuah pertanyaan yang menggelitik. Pakaian dalam pertama bentuknya berupa cawat atau tunik sederhana. Pada zaman pertengahan, penduduk Eropa Utara memakai Brales yang dikembangkan dari cawat untuk kaum pria. Sementara bagi wanita, mempergunakan Chemise, turunan dari tunik.

Pakaian dalam dipakai untuk melindungi tubuh agar tetap bersih dan nyaman. Serta untuk melindungi pakaian dari keringat dan bau tubuh kita. Beberapa jenis pakaian dalam tidak bisa dicuci hingga perlu perlakuan khusus dalam merawatnya.

Pada tahun 1920-an bra dianggap dapat membantu memberikan bentuk tabung pada tubuh wanita. Selanjutnya pada  akhir  1940-an, bra tanpa tali bahu untuk dikenakan dengan gaun malam tanpa tali muncul dan mendapat sambutan bagus. 

Awalnya pakaian dalam dibuat dari linen dan wol, baru pada abad ke-19 katun dan sutra digunakan. Chemise dan drawers dapat dicuci, namun korset dan crinoune dibuat dari bulu kuda, tulang paus dan batang kayu serta kulit baja yang tidak memungkinkan untuk dicuci.

Semua pasti tahu t-shirt. Tapi mungkin tak banyak yang tahu bahwa t-shirt rajut dari katun awalnya dikeluarkan untuk dikenakan oleh para prajurit Amerika Serikat dibalik seragam Perang Dunia I (1914-1918).  Pamornya semakin melonjak ketika beberapa arkor pria memakainya dalam film.


Lumayan juga informasi yang bisa kita peroleh dari buku ini. Untuk mempermudah memahami buku, pada akhir bagian, kita akan memperoleh informasi mengenai Alur Waktu, Daftar Istilah, serta Indeks. Pada alur waktu, pembaca akan menemukan semacam kronologis peristiwa terkait buku tersebut. 

Kekurangan buku seri ini adalah sedikitnya uraian mengenai mengenai suatu hal. Ada suatu hal, misalnya mengenai tunik, maka tunik akan dbahas lumayan banyak. Sementara itu dalam pembahasan tunik membahas mengena hal lain, misalnya jubah, maka jubah akan dibahas dalam 1-2 baris saja. Akan lebih baik jika tiap informasi disajikan dalam porsi yang sama. Karena, mungkin informasi yang penting bagi seseorag justru tidak penting bagi yang lain.

Buku mungil yang menarik!

---------------------->
Menemukan tanpa sengaja sebah buku dari seri ini. Makin senang karena warnanya dominan biru he he he
 
Judul: Topi & Model Rambut
Penyuting: Ratna Dyah Wulandari
                 Yemima Lintang Khastiti 
ISBN: 9789799102928
Halaman: 32
Cetakan: Pertama-November 2010

Jika kita pergi ke salon, sering kali kta melihat ada semacam poster yang terpasang di dinding. Di sana terlihat ada beberapa sosok dengan aneka potonga rambu yang beragam. Mungkin ada yang merasa potongan rambut yang ada pada gambar tersebut ketinggalan zaman, tapi percayalah, pernah suatu saat mode tersebut begitu digemari.

Hingga masa PD I, rambut panjang wanita masih terus menjadi mode. Hingga Irene Castle memotong rambunya dengan model bob ala anak laki-laki. Mulai tahun 1920-an banyak wanita muda yang memotong pendek rambutnya. Selanjutnya bermunculan aneka potongan rambut pendek lainnya.

Tata rambut tradisional Jepang tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Rambut panjang diberi minyak lalu ditahan dengan sisir dan tusuk rambut elegan.  Geisha Jepang mempergunakan sisir hias mewah dan jepit rambut yang disebut kanzashi.
 
Jika melihat film dengan setting abad pertengahan, kita akan melihat wig yang diberi bedak putih. Bedak tersebut dipergunakan untuk memberantas kutu yang ada. Para tukang cukur juga menjual serit dari gading atau tulang untuk membersihkan kutu yang ada.
 
Para pria-pria Arab  mempergunakan pembungkus kepala yang dikenal dengan nama Kaffiyeh untuk memberikan perlindungan dari badai pasir dan matahari gurun yang menyengat.  
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar