Kamis, 31 Maret 2016

2016 #35-36: Cergam Lima Sekawan

Mereka yang besar pada era 80-90 pasti mengenal sosok Julian, Dick, George, Anna dan Tim. Kirrin bersaudara dan seekor anjing, Lima Sekawan. Petualangan mereka lahir melalui sosok Enid Blyton pertama kali pada tahun 1942. Di negara asalnya, Inggris, kisah mereka dikenal dengan nama The Famous Five.

Awalnya hanya menuliskan 6 sampai 8 buku cerita Lima Sekawan, namun karena tingginya angka penjualan dan antusiasme pembaca, maka serinya berkembang sampai 21 buku. Kisah ini begitu terkenalnya sehingga diadaptasi menjadi serial televisi di Inggris. Seingat saya, remaja kita juga pernah sempat menikmati film serial ini setiap hari Sabtu sore.

Kisah Lima Sekawan dikenal di tanah air melalui buku-buku terbitan Gramedia. Ternyata,  selain menerbitkan versi bermain Gramedia juga menerbitkan versi cergam. Versi ini dibuat berdasarkan kisah Lima Sekawan karangan Claude Voiler, seorang penulis dari Perancis. Kisah Lima Sekawan begitu diminati di sana sehingga setelah 21 judul selesai ditulis oleh Enid Blyton, pada tahun 1980 munculah versi Voiler.

Lima Sekawan tulisan Claude Voilier yang sudah diterbitkan di Indonesia adalah:
1. Mencari Warisan Ratu
2. Menaklukkan Agen Rahasia
3. Penculikan Bintang Televisi
4. Di Kota Hantu
5. Patung Dewa Aneh
6. Di Gua Kelelawar
7. Melacak Topeng Hitam
8. Menyergap Penyelundup Mutiara
9. Harta Karun Di Galiung Kencana
10. Bahaya Di Tanjung Badai
11. Warisan Sang Pangeran
12. Harta Karun Rockwell
13. Pembajakan Pesawat Udara
14. Dan Sinar Z
15. Misteri Beruang Biru
16. Misteri Surat Warisan
17. Mengarung Samudra
18. Kontra Spionase Mat
19. Di Bukit Setan

Duh jadi kangen sama koleksi yang raib digondol orang hiksss. Oh ya ada beberapa judul lagi yang tidak dialih bahasa ke dalam bahasa Inggris.  Jika pada kisah karya Enid Blyton keempat anak mendapat porsi yang sama, maka dalam karya Voiler, sosok George terlihat menonjol dibandingkan saudara-saudaranya. Ia memang masih digambarkan sebagai cowek tomboy, tapi tidak seperti dalam karya Enid Blyton. Contohnya, George dalam versi ini tidak ngotot bercita-cita menjadi anak laki-laki. Kadang ia memakai pakaian atau asesoris seperti anak Anna. Hal itu terlihat dari ilustrasi yang ada dalam buku.

Coba kita nikmati kedua cergam yang saya peroleh melalui salah satu toko langganan saya Mela Deni.

Harta Karun di Galiung Kencana
Skenario: Serge Rosenzweig
Gambar: Bernard Dufosse
Diindonesiakan oleh : Ina Sophiaan Hadianto
Halaman: 46
Cetakan: Pertama-1985
Penerbit: PT Gramedia
Rating: 3/5

Seperti biasa, Lima Sekawan sedang menikmati liburan sekolah di Pulau Kirrin ketika tanpa sengaja mereka terseret dalam bahaya. Mereka menemukan harta yang disembunyikan oleh sekelompok pencuri. Ternyata tersedia uang hadiah  lumayan besar bagi mereka yang berhasil menemukan harta tersebut. Lima Sekawan harus berurusan denga penjahat yang sangat berbahaya.

Beberapa adegan yang menjurus kekerasan juga ada dalam buku ini. Misalnya ketika keempat anak tersebut bertarung melawan tiga pria dewasa. Sebenarnya konyol juga melihat adegan mereka berkelahi. Anak-anak itu sepertinya tidak sadar akan bahaya yang mereka hadapi jika berkelahi melawan orang dewasa. Atau mereka terlalu percaya diri akan bisa melawan pria dewasa.  Mungkin juga sifat serakah ketiga pria dewasa dalam buku ini sudah begitu kuat sehingga tak peduli akan siapa yang mereka hadapi, bahkan jika anak-anak sekali pun.

Salah satu adegan yang memperlihatkan salah seorang penjahat terjatuh membuat saya terheran-heran. Kok bisa ya seseorang masih bisa berdiri tegak setelah jatuh dalam kondisi begitu. Bukankah ia bisa mengalami patah tulang leher.  Ya namanya cerita memang apa saja bisa, tapi tak ada salahnya juga membuat cerita seru menjadi lebih masuk akal khan.

Patung Dewa Aneh
Skenario: Serge Rosenzweig
Gambar: Bernard Dufosse
Diindonesiakan oleh : Ina Sophiaan Hadianto
Halaman: 46
Cetakan: Pertama-1985
Penerbit: PT Gramedia
Rating: 3/5

Sebuah museum di Bolivia kehilangan sejumlah barang langka yang tak ternilai harganya. Barang-barang tersebut diduga dijual di luar wilayah Bolivia. Salah satu yang hilang adalah Matahari Inka. Lima sekawan secara tak sengaja terlibat dalam hal ini karena berteman dengan seorang pedagang barang antik di Kiriin, James Forrester.

Toko James Forrester sering mendapat kiriman barang antik dari berbagai tempat, salah satunya dari Bolivia. Salah satu barang yang ada di toko James adalah Patung Dewa Matahari yang bisa bicara dari Bolivia.  Sebenarnya itu hanya patung biasa yang memiliki rongga sehingga seakan bisa berbicara dengan suara menggelegar. Bukan patung itu yang membuat Lima Sekawan menjadi curiga pada Forrester, tapi untuk apa membuat iklan tentang patung yang tak bisa dijual. Ditambah lagi tingkah lakunya yang mendadak aneh.

Mungkin karena sudah terlalu lama berkenalan dengan sosok Lima Sekawan, begitu ada sedikit yang berbeda menjadi hal yang mengganjal buat saya. Untuk versi Voiler memang hanya sedikit butuh penyesuaian. Terutama sekali melihat sosok George yang lebih menonjol dibanding yang lain.

Tapi untuk versi cergam, saya merasa tidak nyaman melihat goresan wajah mereka. Bagi saya, Julian, Dick, George dan Anne menjadi sosok remaja yang jahil, suka betingkah seenaknya, sedikit bengal. Intinya sosok lembut, cinta sesama dan ramah hilang. Mau bagaimana lagi. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda terhadap sosok Lima  Sekawan. Mungkin begitulah yang ada dalam bayangan ilustrasi cergam ini.

Saya mencari informasi mengenai cergam Lima Sekawan di GRI. Di sana masih ada satu cergam lagi. Judulnya Orang-Orang Asing dari Daratan, Siluman Belut, Burung Ajaib. Judul yang cukup unik. Penelusuran saya di dunia maya malah menemukan sebuah cergam lagi, judulnya Kuburan Para Raksaksa. Buku ini mungkin sudah cukup langka. Jadi ya lumayan mahal. Meski saya sangat menyukai kisah Lima Sekawan, sepertinya masih harus berpikir panjang jika harus menebus buku seharga itu. Beda dengan LW mungkin he he he.  Seri ini total kurang lebih ada empat ya. Mungkin ada lagi yang bisa menambahkan?

Mulai tahun 2004, tambahan 16 buah novel Lima Sekawan yang ditulis oleh Sarah Bosse telah diterbitkan di Jerman, namun tidak diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Sayang juga, padahal bisa menjadi pelipur rasa kangen.

Saat kecil, saya selalu membayangkan bisa seperti mereka. Piknik di pulau, menyalakan api unggun, tidur di tenda. Ok, dari sanalah impian saya punya tenda berasal hi hi hi. Sungguh membuat masa kecil menjadi lebih berwarna. Meski begitu, ternyata tidak selamanya kisah Lima Sekawan bisa diterima dengan tangan terbuka. Simak saja artikel di sini

Hayuh, menikmati tarcis dan limun jahe ^_^



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar