Rabu, 30 Maret 2016

2016 #34: Let's Think Like A Freak

Judul asli: Think Like a Freak
Penulis: Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner
Penerjemah: Adi Toha
Penyunting: Ida Wajdi
Penyunting aksaea: Lian Kagura, Putri Risdoana
Penata aksara: Puthut TS
Perancang sampul: Muhammad Usman
ISBN: 9786023850075
Halaman: 300
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 74.000
Rating: 3,75/5


"...menyakini Anda benar tidak sama dengan Anda benar."

Baiklah. Saya yakin kalau saya benar, padahal mungkin saja saya tidak benar. Keputusan yang saya ambil  menurut saya adalah hal yang benar, tapi pada kenyataannya bisa jadi itu bukan hal yang benar.

Kurang lebih begitulah filosofi dalam buku Think Like A Freak. Sebuah buku dengan judul yang menarik. Sering kali orang tidak ingin terlihat beda. Bahkan ada yang mau melakukan apa saja agar bisa menjadi sama dengan lingkungan sekitar. Buku ini justru mengajak kita untuk berpikir dengan tidak biasa, Think out of the box, cara berpikir kita yang berbeda dari yang lainnya, diluar rutinitas yang dilakukan, berpikir diluar dari yang umumnya. Dengan berpikir secara tidak biasa maka hasil yang diperoleh juga akan luar biasa.

Buku ini berisikan hal tentang perilaku yang kita perlukan serta mengatasi berbagai trik dan masalah yang dunia lemparkan kepada kita. Penulis memiliki cara untuk itu. Hanya saja memang tidak biasa. Pembaca dibawa ke alam pemikiran seorang anak kecil, mendongak, menatap trik pengangkat ganda. Bebaskan diri, terimalah penjelasan sederhana, bahkan mungkin sangat sederhana hingga tak pernah terbayangkan, biarkan diri berkelana melintasi dimensi ruang dan waktu.

Terdapat sembilan bab dalam buku ini. Mulai dari Apa Maksud Berpikir seperti Orang Aneh?, Tiga Kata yang Paling Sulit Diucapkan, Apa Masalah Anda?, Kebenaran di dalam Akar, Berpikir seperti Anak-anak, Seperti memberi Permen kepada Balita, Apa Kesamaan Raja Sulaiman dan David Lee Roth?, Cara Membujuk Orang yang Tidak Mau Dibujuk, dan Sisi Baik dan Berhenti.  Judul bab yang unik ya. Tiap bab diberikan uraian yang menarik. Untuk beberapa kata yang dianggap perlu mendapat perhatan khusus, diberikan semacam tata letak yang menarik sehingga tidak berkesan sebuah buku teks yang membosankan.

Beberapa uraian, membuat saya memahami beberapa hal yang selama ini menggelitik rasa ingin tahu saya tapi tidak bisa saya temukan jawabannya. Misalnya mengenai kenapa penipuan di internet selalu menyebutkan Nigeria sebagai asal negara. 

Ayolah, bukankah surel seperti   itu sering mampir? Sering kali satu nama mengirim berulang kali. Belakangan malah ada yang mempergunakan bahasa Indonesia. Tidak pernahkah Anda merasa penasaran, kenapa Anda yang dijadiksan sasaran? Penjelasannya ada di halaman 163

Kunci utama belajar adalah umpan balik. Hampir mustahil untuk mempelajari apa pun tanpa hal itu. Untuk mengetahui apakah sebuah iklan benar-benar efektif perlu ada umpan balik yang dilakukan oleh para penerima iklan. Sebuah studi dalam buku ini menyebtkan bahwa tanpa iklan pada sebuah halaman koran, pembelian tetap akan berlangsung. Lalu untuk apa tetap mempertahankan iklan jika umpan balik berupa pembelian tidak seperti yang kita harapkan? Sebnarnya, dalam kasus tersebut pelajaran yang diperoleh adalah iklan tidak mempengaruhi angka pembelian. Sehingga keputusan untuk tidak memasang iklan merupakan hal yang wajar mengingat besarnya biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan yang diperoleh. Tapi para petinggi di perusahaan itu takut akan atasan mereka yang bisa murka jika tidak melihat iklan di halaman surat kabar. Ego atau bisnis yang bicara.

Hal menarik lain bagi saya adalah perihal seseorang yang mampu menghabiskan makanan dengan cepat dalam sebuah lomba adu cepat dan adu banyak makan. Jadi ingat lomba makan ayam cepat saji yang memakan korban belum lama berselang.  

Takeru Kobayashi berpikir berbeda dengan peserta lain. Umumnya mereka memikirkan bagaimana cara makan lebih banyak. Sementara Kobayashi memikirkan bagaimana membuat makanan lebih mudah dimakan. Dengan mudah dimakan otomatis membuatnya mampu memakan dalam jumlah besar. Cara berpikir Kobayashi yang berbeda membuatnya memenangkan berbagai penghargaan. Dan uniknya ia tak harus mengeluarkan banyak tenaga seperti peserta lainnya. Bisa dikatakan ia sudah menguasai manajemen lomba makan terbanyak dan tercepat. 

Kisah tentang Van Halen, sebuah band yang cukup terkenal pada halaman 148 membuat saya terkagum-kagun akan kecerdikan pihak manajemen mereka. Dalam kontrak tur band tersebut ada pasal yang memuat mengenai persyaratan makanan dan minuman. Pada halaman 40 bahkan memuat mengenai camilan, yaitu adanya kripik kentang, kacang-kacangan, pretzel dan M&M's namun jangan sampai ada warna coklat.

Banyak yang menganggap hal ini merupakan sekedar tingkah polah para bintang. Belakangan cara ini justru merupakan cara sederhana tapi cerdik untuk mengetahui apakah penyelenggara sudah membaca pasal tambahan setebal lima puluh tiga halaman. Manajemen perlu memastikan promotor di sebuah pertunjukan sudah mengikuti petunjuk poin demi poin agar tidak ada kesalahan teknis yang fatal sehingga membahayakan nyawa seseorang. Cara untuk memastikan promotor telah membaca klausal khusus dan mengikuti semua prosedur keselamatan yang mereka tentukan adalah dengan melihat isi mangkuk M&M's yang disediakan.

Mengertikan maksudnya? Jika dalam ditemukan ada M&M's coklat, maka itu artinya pihak promotor tidak membaca  klausal tambahan dengan teliti. Untuk itu pihak manajemen akan melakukan pengawasan ketat pada banyak hal seperti tata panggung, keselamatan di atas panggung hingga memastikan peralatan berfungsi dengan baik.

Sungguh menarik dan inspiratif. Buku ini tidak saja mengajak seseorang untuk berpikir dengan cara yang berbeda agar memperoleh hasil maksimal, tapi juga memberikan alasan kenapa seseorang harus memikirkan cara yang berbeda tersebut. Berbagai kemungkinan yang bisa diperoleh dari aneka cara berpikir yang berbeda mengenai sebuah hal, juga membuat seseorang akan menjadi lebih kreatif.

Pastinya buku ini membuat saya tidak ragu untuk melakukan sesuatu hal yang agak atau malah sama sekali berbeda dengan orang lain. Tak perlu ragu dan malu berpikiran berbeda demi hasil terbaik.

Jika memang bagus kenapa saya tidak memberikan rating 4 bahkan lima? Pasti banyak yang bertanya begitu. Bagi saya, seandainya kover dibuat lebih menarik, lebih menonjolkan unsur "freak" tentunya buku ini akan lebih menggoda.  Seperti yang diterbitkan dalam bahasa Rusia dan Hebrew. Jika hanya ada tulisan freak, agak susah bagi seseorang untuk menebak seberapa freak yang dimaksud penulis dalam buku ini.

Orang freak macam apa yang ingin membuat seekor anjing Dalmatian memiliki bulu putih polos tanpa bintik hitam? Ide gila apa yang ia miliki guna mewujudkan mimpi itu. Gambaran seperti itu yang saya peroleh saat melihat kover versi bahasa Hebrew di Goodreads. Membuat penasaran untuk membaca.

Selain itu, meski menarik, penulis memiliki kecenderungan untuk menyampaikan hal yang tidak perlu dengan panjang lebar. Singkat kata, ada beberapa bagian yang diuraikan dengan bertele-tele sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi melebar dan tidak tepat sasaran.

Kalimat yang paling saya suka dalam buku ini adalah,"Anak-anak membaca buku, bukan ulasan. Mereka tidak peduli sama sekali dengan kritik. Ketika sebuah buku membosankan, mereka menguap terang-terangan, tanpa rasa malu atau takut pada pihak berwenang. anak-anak tidak mengharapkan penulis kesukaan mereka menyelamatkan umat manusia (halaman112).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar