Senin, 11 November 2013

Home, Kisah tentang "Truly"


Cintaku
Belahan jiwaku
Bagaimana kabarmu saat ini

Belakangan entah mengapa rasa rindu begitu mendera. Kian terasa saat kemarin aku kembali dari bookfair sendiri. Biasanya, saat engkau ada kita pasti pergi bersama. Mendebatkan  sebuah buku apakah layak dibeli. Lalu siapa yang harus menyimpannya. Bahkan hal tak penting seperti kenapa penerbit x membuka sekian stand sementara yang lain hanya sekian.

Selesai mengunjungi pameran kita akan duduk manis di kafe langganan kita. Sibuk membongkar belanjaan sambil bergurau. Dirimu sangat tahu kadang telapak kakiku terasa sakit jika terlalu lama berdiri atau berjalan. Tanpa malu, sering kali kau urut telapak kakiku dengan mengacuhkan godaan para sahabat Terima kasih belahan jiwaku untuk rasa nyaman yang kau berikan. Rasa nyaman yang membuatku kian merindukanmu malam ini.
 
Pandanganku mendadak tergoda melihat paket di meja. Kiriman buku pastinya
 Selesai mandi mulai ku berkunjung ke halaman-halaman menawan. Akan ku bagi dengan dirimu pandanganku tentang buku ini. Sebelum buku ini kukirim  untuk juga kau baca

Cintaku
Belahan jiwaku
Entah bagaimana penulis bisa mendapatkan ide soal nama. Nama tokoh utama dalam kisah ini sama dengan nama panggilanku.  Yang makin membuatku tertarik justru karena penulisannya juga sama. Masih ingat ceritaku tentang penulisan namaku yang sering salah? Sering kali aku kesal karena banyak yang salah menuliskan namaku. Bahkan saudaraku sendiri. Ada yang menuliskan dengan dua L, ada yang dengan I alih-alih Y


Buku ini menawarkan kisah dengan nuansa yang berbeda dibandingkan buku lainnya. Kisahnya dimulai dengan keinginan sang papa untuk menjual rumah mereka. Rumah keluarga mereka berada di kawasan elite Menteng. Masalahnya bukan soal uang, alasan umumnya seseorang menjual miliknya yang paling berharga. Walau harganya pasti tinggi tapi bukan itu alasan utama sang papa menjual rumah.

Bagi sang papa rumah tersebut memenjarakannya dengan kenangan yang tak bisa dimiliki. Semuanya memang sudah tidak sama lagi. Enam orang anak yang semuanya laki-laki sudah memiliki keluarga sendiri. Berbagai kesibukan dan urusan membuat mereka jarang bisa sekedar menyapa apa lagi berkunjung. Hanya sosok Truly, menantu sulung yang membuat keduanya merasa masih berarti. Menantu yang paling mau mengerti dan berhati tulus. Kuharap aku juga seperti dirinya-hapus cengiran jahilmu!

Ide menjual rumah itu sungguh mengusik hati Wisnu si anak sulung dan Truly. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak mereka. Kenapa rumah tersebut harus dijual padahal itu rumah keluarga, tempat siapa saja tinggal saat berkunjung ke Jakarta. Sejatinya rumah tersebut juga merupakan tempatnya pulang kepada kerinduan masa kecil mereka. Rumah itu bukan hanya sarang namun juga pengikat seluruh darah daging dan sejarah. Ada luka yang ditorehkan, pedih memang. Tapi ada juga kebahagiaan yang dibagi dari rumah itu.

Persoalannya ternyata tidak hanya seputar urusan penjualan rumah belaka. Serta pernak-perniknya. Maklum kawasan rumah itu berada merupakan kawasan dimana bangunan yang ada dilestarikan. Contohnya rumah nenek-kakek sahabatku saat kuliah yang sering kita juluki Puri Misteri di Menteng. Ternyata  ada hal yang lebih krusial. 

Menghadapi keluarga besar memang membutuhkan trik khusus. Bisakah Cintaku bayangkan bagaimana situasi saat ke seluruh ipar Truly bertemu, ipar perempuan pula. Terbayangkan bagaimana ramainya suasana  rumah Menteng saat seluruh keluarga besar berkumpul? lebih dari 30 keluarga. Itu makanya butuh sebuah rumah yang mampu menampung sebuah keluarga besar, betapa ironinya justru apa yang ada justru nyaris dilepas.


Rumah tersebut hanyalah sarana. Banyak persoalan yang timbul di rumah itu. Dari sang papa yang dianggap otoriter, bersikap ala Nazi, hingga tuduhan perselingkuhan. Lalu sosok sang mama yang benar-benar tipikal ibu bangsawan jaman dahulu, menerima semua keputusan suami tanpa bertanya, menjadi jembatan antara anak dan suami. Anak-anak yang merasa diacuhkan, pernikahan terlarang hingga penderita Major Depression Disorder.

Tokoh dalam buku ini, Truly dan Wisnu memulai cinta dari persahabatan. Seperti juga kita. Wisnu merasa sayang dan  terlengkapi olehnya karena telah lama mengenal sosok Truly sebagai sahabat. Ia mendapat rasa aman dan nyaman dari sosok ceroboh dan terus terang Truly. Walau dari sisi strata sosial mereka berbeda tapi cinta melalui persahabatan telah menemukan jalannya dengan manis. Pernikahan membuat mereka saling melengkapi, melalui proses panjang seumur hidup  tentunya.

Sosok Truly dalam kisah ini digambarkan menjadi jembatan antara para menantu dan golongan kaum  muda dengan mertua mereka serta sesepuh yang lain. Sifat ceroboh dan ceplas-ceplosnya justru membuatnya diterima disetiap golongan. Disayang mertuanya dan dihormati saudaranya.

Aku selalu ingin menjadi anak perempuan di sebuah keluarga, bukan menantu. Acap kali ada rasa iri jika mengingat bagaimana Eyangku memperlakukan mamaku.  Memiliki anak lelaki tunggal justru membuat Eyang menjadikan mamaku "anak" bukan menantu.  Bahkan tak sedikit yang mengira justru mamalah yang anak kandung akibat kedekatan beliau berdua.

Ada saat aku pernah menjadi menantu sebuah keluarga,mantan menantu sekarang.
Orang akan mengatakan mana ada mantan menantu.  Faktanya begitu aku bukan apa-apa mereka. Jangankan dikabari saat kakek jagoan meninggal,  jagoan pun diberitahu via telepon saat sudah menginjak hari ke delapan.  Apa lagi hal lain. Bagi mereka aku adalah hal  yang harus disingkirkan. Dan aku tidak mau repot-repot mencari tahu  atau melakukan konverensi tentang berbagai hal. Aku tak perduli apa anggapan mereka tentangku. Masa lalu biarkan berlalu.

Sungguh berbeda dengan tokoh dalam buku ini. Ia menjadi kesayangan kedua mertua. Awal kehadirannya justru ditentang oleh sang ayah. Namun sering waktu, ia menjadi anak perempuan yang diharapkan ada. Anak perempuan bermata   indah yang hilang telah kembali ke rumah. 

Hubungan kita memang belum membahas sampai sejauh itu. Namun saat mengenal bapak aku seakan memiliki orang tua. Perhatian dan sayang yang beliau berikan melebihi dari yang pernah aku dapatkan saat menjadi menantu di sebuah keluarga. Padahal hubungan kita  berada di titik nadir.

Sosok sang papa ternyata tidak seperti yang digambarkan pada awal kisah. Sering waktu banyak rahasia yang terkuak. Penilaianku berubah dari menanggapkan sebagai sekedar tokoh dalam kisah ini menjadi seorang yang sangat berperan dalam kehidupan keluarga besar tersebut. Sungguh sosok yang patut diteladani. Kuharap kelak kasihmu padamu seperti kasih Kurt dan Bee.

Cintaku
Belahan jiwaku
Aku menangis bersama "Truly" saat ia panik menyadarkan Wisnu yang mabuk. Takut bersama saat melihat amarah di matanya. Merasakan bahagia bersama saat menikmati waktu berharga dengan sang papa mertua yang ternyata tidak sesangar penampilannya. Berpikir ala detektif bersama saat sibuk mencari cara menghimpun seluruh keluarga besar untuk mau mengupayakan agar rumah itu tidak jadi dijual. Tertawa menyadari kekonyolannya lupa meninggalkan kedua metuanya di mall karena mendadak ingat harus menjemput anaknya dari sekolah.

Sosoknya mengalami perubahan dari perempuan muda yang seenaknya, nyablak istilah sekarang menjadi sosok yang anggun dan penuh pengertian. Apalagi sejak ia berhijab. Sifat hangat dan bersahabatnya kian kental seiring dengan sifat pelupanya yang tak juga berubah. Sepertinya ia harus belajar bahwa tak mudah membuat semua orang senang dan bahagia. Tapi jika berhasil tentunya akan menjadi amal bagi dirinya. Beruntung keluarga itu memilikinya.

Buku ini ditulis dengan gaya yang unik. Banyak sudut pandang yang diambil. Ada bagian yang menguraikan pandangan sang papa lalu bagian lain menguraikan tentang pandangan sang mama. Ada juga dari sisi Truly dan Wisnu serta keluarga yang lain.  Gaya penulisan juga berbeda layaknya reportase, penyelidikan sebuah kasus. Setiap orang diberikan kesempatan yang sama untuk menguraikan suatu hal.

Sayangnya aku sedikit merasa jenuh membaca perihal susunan keluarga mereka yang lumayan besar. Penulis seakan ingin memberikan keterangan seberapa "besar" jumlah anggota keluarga mereka. Menurutku mereka yang tidak disebut-sebut lagi atau tidak berperan dalam kisah ini tak perlu disebutkan secara rinci walau hanya nama, jumlah anak dan nama. Entah jika kisah ini sedikit mirip dengan kehidupan penulis dan mereka yang disebutkan merupakan anggota keluarga yang layak mendapat penghormatan dengan dicantumkan namanya dalam kisah ini.


Aku makin merindukanmu. Terutama  karena menemukan banyak tempat yang kukenal, tempat yang sering kita datangi bersama dalam buku ini. Juga beberapa lagu yang sering diputar di tempat kita menghabiskan waktu bersama.


Sempat punya ide jahil. Kenapa tidak sekalian saja penulis ini minta sponsor dari berbagai merek produk yang disebutkan dalam kisah ini? Lalu meminta tempat makan yang disebutkan dalam kisah ini menyediakan tempat dan makanan untuk acara Gathering pembaca bukunya? Imbal baliknya silahkan buat ucapan terima kasih, atau ilustrasi dengan menyertakan produk tersebut, atau sekalian pasang iklan di bagian akhir buku. Kekayaan bacaan dan luasnya pergaulan penulis terlihat pada buku ini.

Oh ya buku ini mengingatkanku pada Painted House karya Jhon Grisham. Tentang rumah di pedalaman yang tak pernah dicat  di perkebunan kapas. Cat merupakan barang mewah hingga penduduk jarang ada yang mengecat rumah. Hanya orang kaya yang mampu mengecat rumahnya. Entah apa yang menyebabkan Luke Chandler sangat ingin mengecat rumahnya. Seperti kisah dalam  buku ini, konflik yang ada membuat kisah tidak hanya berputar mengenai rumah yang akan dicat tapi lebih pada perihal kehidupan orang yang berada di dalam dan di dekat rumah yang akan dicat. Kisahnya juga  sudah difilmkan dan bisa diintip di  http://en.wikipedia.org/wiki/A_Painted_House


Cintaku
Belahan jiwaku
Sosok Truly dan Wisnu sudah menemukan "Home" bagi kisah cinta mereka. Sementara itu kisah cinta kita masih harus menunggu. Butuh proses panjang serta kekuatan agar salah satu mampu bertindak mengakhiri atau meneruskan dengan perubahan yang signifikan. Selama itu belum terjadi biarkan semua mengalir seiring waktu. Karena tak ada yang pasti saat bicara soal cintaSeperti ungkapan dalam buku ini, "Kita memang masih harus belajar memberi  dan menerima kasih sayang, mesti dari bagian yang terpahit sekaligus"

Segera ku kirim buku ini agar dirimu juga bisa menikmatinya
Love u

TR
----> Terinspirasi dari buku


Penulis : Iva Afianti
Editor : Ariani  Hidajati
ISBN : 9786022553007
Halaman : 388 

Penerbit : DIVA Press 
Harga : Rp. 50000

Sempat  bingung membaca nama penulis. Kok jadi IVA yah bukannya IFA. Apa aku yang salah mengingat namanya. Ternyata urusan interen penerbit. Kesalahan kecil tapi fatal ini baru bisa diperbaiki saat cetak ulang, untuk itu marilah kita berdoa agar buku ini segera bisa cetak ulang. Agar  seorang bapak yang bersedih karena nama anaknya salah cetak bisa terobati. Aamiin 

Perihal Major Depressive Disorder  walau hanya disebut sekilas namun memegang peranan besar dalam kisah ini bisa diintip di http://en.wikipedia.org/wiki/Major_depressive_disorder
http://www.mentalhealth.com/dis/p20-md01.html

Selamat membaca.
Sekedar saran siapkan sebuah saputangan atau handuk kecil guna mengusap air mata, yang pastinya tidak bisa diatasi dengan HANYA sekotak tissue saja.






6 komentar:

  1. Wah, nyesel kemaren liat ini gak beli... >.<

    BalasHapus
  2. Baca review ini, seperti baca kisah 1001 malam. Ada cerita dalam cerita :)

    BalasHapus
  3. gak nyesel baca ni bukuu,.. di akhir cerita yg mengharu biru

    BalasHapus
  4. terharu, seakan masuk dalam jiwa Truly, dan teringat akan almarhum Papa dan Mama

    BalasHapus
  5. @ ini_ceritaku Semoga beliau berdua diberikan kemudahan Aamiin YRA

    BalasHapus