Rabu, 15 Februari 2012

Perempuan


Sebuah kenangan dari masa lalu menghampiriku, masa saat kuliah dahulu
Sebuah  buku dari serial favoritku dengan selembar kertas juga dengan warna favoritku berada di atas meja kantin  sesaat setelah kutinggal mengambil minuman. Sahabat yang ada tak mau berkompromi hanya memberikan senyuman misterius saat kutanya siapakah yang memberikan semuanya.

Perempuan memang makhluk yang paling misterius
Suatu waktu ia akan setegar karang dan sekuat samson
dilain waktu ia bisa menangis layaknya  anak kecil  
serta merasa tak berdaya bagaikan bayi 

Ibuku seorang perempuan
Demikian juga dengan adikku
Tetap saja ku tak bisa sepenuhnya memahami perempuan
Bantu aku.....
Jadilah perempuanku 

Aku hanya meringis membaca tulisan itu. Tulisan yang dibuat oleh seseorang yang bahkan tak kukenal secara dekat. Bertemu pun hanya 2 jam  setiap minggu di saat kami sama-sama mengambil kelas fotografi. Tapi siapa yang bisa mengatur jika berurusan dengan perasaan.

Sosok perempuan memang sungguh misterius.  Apalagi jika menyangkut perasaan, siapa yang bisa mengira. Aku meneteskan air mata lebih dari dua kali saat membaca buku Sayap Cahaya, sebuah hadiah ulang tahun dari Mbak Sanie B Kuncoro. Kumcer setebal 233 halaman, ISBN  978-602-00-1589-7,  terbitan Elex Media Komputindo

Seroja sang anak tunggal selalu mendapat yang terbaik dari ayahnya sejak ibunya berpulang. Ia sangat memuja ayahnya. Baginya ayah adalah pusat kehidupannya. Betapa terpukulnya ia sangat tahu sang ayah tidak sempurna. Demi menyenangkan hati putri kesayangannya, sang ayah melakukan sebuah kebohongan. Kebohongan yang menyakitkan! Untung ada kunang-kunang dan sahabat yang menyadarkan beruntungnya ia sekarang. Kebohongan sang ayah justrumembawa kedamaian di hatinya kini.

Ndaru sang penjaja kenikmatan dunia  memohon maaf karena mengabaikan ajuran Langit, ibu pembina. Ia harus kembali demi membayar hutang daster yang raib digondol orang. Upahnya hanya sepersekian jasanya, tapi halal. Demi perubahan nasibnya. Walau ia sangat tahu, tak semua yang ia inginkan bisa didapatinya dalam hidup ini. Perempuan yang sangat ingin mengubah nasib.

Keputusan terbaik macam apa yang bisa dipilih seorang menantu untuk ibu mertuanya?  Aku sungguh tak pernah ingin menjadi menantu seseorang. Aku hanya ingin menjadi "anak perempuan" bagi sebuah keluarga. Apakah keinginanku untuk memiliki dua pasang orang tua terlalu muluk? Beruntunglah dia yang bisa mendapat senyum sang mertua, menghapus kutuk yang pernah diucapkan. 

Flamboyan membenci ibunya! Kesalahan akibat gejolak jiwa muda membuatnya harus menanggung benih seorang pria tanpa ikatan. Saat sang bayi lahir, secepat kilat ia dipisahkan dari Flamboyan atas perintah sang ibu. Pertemuan di stasiun kereta api dengan seorang wanita menyadarkan betapa ia seharusnya mengucap terima kasih, alih-alih membenci sang ibu. Petaha mengatakan seorang ibu selalu benar dan hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. hanya saja sering kali cara yang beliau tempuh aneh di mata orang lain.

Lembayung galau! Ia sangat paham betapa pertingnya arti beasiswa bagi Bumi kekasihnya. Tapi andai ia tetap mempertahankan buah kasih mereka artinya Bumi harus kehilangan kesempatan mendapat beasiswa yang sangat diimpikannya. Memutuskan yang lain ia ragu. Seorang gadis kecil dengan boneka berkepang menyadarkan dirinya. Lebih baik berterus terang dan mencari pemecahan masalah berdua dari pada memutuskan sendiri. 

Bersyukur  jagoan neonku bukan Gading. Ia justru selalu memaksaku mencari papa baru untuknya. Kadang kami mengomentari lelaki yang sama. Aku lebih beruntung dari pada ibunda Gading.

Kisah dalam buku ini membuatku  mengenang masa lalu. Beberapa kisah sangat mirip  perjalanan hidupku. Mungkin juga perjalanan hidup perempuan-perempuan yang lain. Itu juga yang membuatku meneteskan air mata. Padahal selama ini banyak yang menyebut betapa dinginnya hatiku hanya karena tidak mudah terharu.

Perempuan memang makhluk misterius.
Sungguh aku bangga menjadi perempuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar