Senin, 20 Februari 2012

Lomba Tulis Cerpen - Peri-peri Xar & Vichattan






Hari sudah menjelang petang, ketika Antessa dan keenam pimpinan peri duduk di tepian Mata Air Para Peri untuk berdiskusi. Niteo Lucis dari singgasana Cahaya, Exuro Flamma dari api, Solum Humus dari tanah, Arbustus Plantoria dari tanaman, Flumen Aqua dari air, dan Ventosus Flaman dari udara--adalah para pemimpin baru pasca wafatnya keenam pemimpin peri terdahulu.

Belum lama berselang sejak para peri harus bertarung mati-matian di depan Kuil Cahaya. Peperangan besar yang telah banyak memakan korban. Sejak itu, banyak sekali yang harus dilakukan di Mata Air Para Peri. Selain memilih kembali para pemimpin peri, Antessa dan para pimpinan peri juga berusaha untuk memulihkan kembali aktivitas sehari-hari para peri yang kacau balau dengan banyaknya fungsi fungsi kemasyarakatan di Mata Air Para Peri yang hilang. Dan untuk itulah mereka bertujuh sekarang berkumpul.

"Baiklah," ucap Antessa memulai. "Kita sudah kehilangan banyak sekali rekan-rekan kita. Satu hal yang pasti, para peri selama ini sudah mengemban tugas yang sangat penting di dalam menjaga keseimbangan alam. Dan bagaimana pun juga fungsi itu harus tetap berlanjut. Tetapi hanya itu yang aku tahu. Aku tidak begitu paham tradisi, kebiasaan, ataupun sihir-sihir apa yang kalian, para peri, biasa lakukan, untuk tahu apakah ada fungsi-fungsi yang telah hilang dengan gugurnya banyak peri Mata Air Para Peri."

Para pemimpin peri, dengan perkecualian peri tanah yang memang lebih banyak memilih untuk diam, segera berbicara hampir bersamaan. Serempak mereka mulai bercerita tentang berbagai macam hal, yang justru membuat Antessa semakin bingung.

"Whoa! Satu-satu!" sentak Antessa menengahi.

"Aku duluuuuu! Akuuu duluuu!" ucap Ventosus, sang peri udara, bersemangat. Tubuhnya yang hanya sebesar genggaman tangan orang dewasa, tampak diselimuti oleh awan-awan kecil dengan percikan-percikan halilintar mini. Dengan cepat ia terbang berputar-putar mengitari Antessa, meminta giliran untuk bicara.

"Hrmmm. Pamer!" geram Exuro, sang peri api, yang kerap kali dikesalkan oleh tingkah laku peri udara yang menurut mereka sangatlah berlebihan.

Antessa tersenyum, lalu berkata, "Silahkan, Ventosus."

Ventosus pun mulai bercerita dengan gaya bicara yang mengalun panjang--khas peri udara--tetapi dengan makna kata yang hanya sepotong-sepotong--juga khas peri udara--yang pada akhirnya membuat Antessa dan kelima pimpinan peri lainnya ternganga bingung.

"Arghh ... Stop!" ujar Exuro. Lidah-lidah api di seputar tubuh kecil sang peri api membara. "Kau sama sekali tidak membantu!"

"Ehhhhh ... tetaaapiiii ..."

"Maafkan aku, Ventosus. Tapi aku memang malah jadi bingung mendengar ceritamu tadi," ucap Antessa dengan wajah yang memelas. "Bagaimana dengan yang lain? Mungkin kau, Flumen?" Antessa memalingkan wajahnya ke arah peri yang berbusanakan aliran air.

"Oh aku ... mungkin aku dapat mulai dari kisah sebelum kita masuk ke dalam Void. Oh tidak. Mungkin aku ... hmm ... aku mulai dari cerita sehari-hari saja. Oh ... terlalu banyak yang bisa kuceritakan. Aku bingung mau mulai dari mana."
Mendengar komentar peri air, peri api mendelik, sementara Antessa menghela napas panjang. Para peri air memang adalah para peri yang terpintar apabila dibandingkan peri-peri yang lain. Karena itulah Antessa berharap untuk dapat mendengar banyak dari Flumen. Tetapi ia telah lupa bahwa mereka selalu labil dan kurang berpendirian.

Antessa mengalihkan pandangan ke arah Solum, sang peri tanah yang hampir selalu diam, sebelum mengarahkan pandangannya kepada Arbustus, sang peri tanaman, dan Niteo, peri Cahaya. "Kalian bagaimana?" tanya Antessa.
"Sebetulnya Flumen benar. Memang banyak sekali yang dapat diceritakan," ucap Arbustus dengan nada yang tenang dan bersahaja. Bunga-bunga kecil yang menghiasi busana hijaunya yang terbuat dari dedaunan, tampak mengembang-menguncup. "Tradisi, budaya, dan kebiasaan kita akan sangat sulit untuk dapat diceritakan, apalagi apabila hanya dari mulut satu orang. Aku mungkin akan dapat menceritakan satu atau dua atau bahkan seratus cerita. Tetapi aku ragu apakah itu akan cukup."

"Tidak apa-apa, Arbustus," sahut Antessa menanggapi. "Tidak apa-apa walaupun hanya satu atau dua cerita yang kita dapatkan, tetapi paling tidak kita sudah memulai."

"Kalau begituuuu ... aku ceritaa lagiiii?" seru Ventosus girang.

Antessa tersenyum geli melihat tingkah Ventosus yang berjumpalitan di udara, sementara Exuro memicingkan matanya yang berapi-api dan berkata, "Arggg ... jangan! Jangan kau yang mulai! Kau nanti saja ... terakhir!

"Hmm ... kurasa ada cara yang lebih baik daripada kita masing-masing bercerita tentang kehidupan para peri. Akan memakan waktu yang lama sekali bagi kita untuk menyelesaikan cerita kita satu per satu, dan belum lagi, kemungkinan kita untuk dapat mengingat semua cerita yang disampaikan adalah kecil," tandas Niteo, sang peri cahaya, mencoba menengahi.

"Apa saranmu, Niteo?" tanya Antessa.

Niteo tampak berpikir sejenak. Bulatan-bulatan cahaya tampak berputar-putar mengelilinginya. Dan kemudian ia pun berkata, "Bagaimana kalau masing-masing dari kita menuliskan cerita yang kita ingat tentang kehidupan peri? Ini dapat dilakukan oleh seluruh penghuni Mata Air Para Peri, dan bahkan juga siapapun juga yang pernah berinteraksi dengan kita. Semua cerita kita coba kumpulkan dalam waktu sebulan ini. Aku yakin ini akan lebih efektif daripada kita seorang demi seorang menceritakan tentang pengalaman kita."

"Ide yang bagus!" Antessa bangkit berdiri dengan wajah yang berseri. "Dengan itu, semuanya akan tercatat, dan akan lebih mudah untuk mengingatnya nanti!"

"Tetapi, cerita mana yang mau kami tuliskan?" tanya Flumen dengan kening berkerut.

"Apa saja yang berkaitan dengan dunia kalian, para peri Mata Air Para Peri," tanggap Antessa.

"Bahkan hal-hal kecil?" balas Flumen.

"Kurasa bahkan dari hal-hal kecil kita akan bisa belajar banyak mengenai tradisi dan kebudayaan kita," ucap Arbustus.

Dan semua pun menanggapinya dengan anggukan.

"Bagaimana prosedurnya?" Solum, sang peri tanah, akhirnya berkata.

"Niteo, mungkin kau dapat membantu dengan prosedur?" pinta Antessa.

Niteo mengangguk. "Prosedurnya adalah begini ..."

***
Lomba Tulis Cerpen - Peri-peri Xar & Vichattan
  1. Cerita pendek mengisahkan sekelumit cerita yang berhubungan dengan para peri di Xar & Vichattan.
  2. Cerita ditulis di dalam Bahasa Indonesia, dengan panjang maksimum (tidak termasuk judul dan biodata penulis) 3000 kata, dan minimum 1500 kata.
  3. Cerita harus dimuat di dalam facebook, dengan men-tag minimum 10 orang sahabat, dan juga tiga orang juri di dalam lomba ini: penulis buku seri Xar & Vichattan: Bonmedo Tambunan, Editor Xar & Vichattan - Empat Tubuh Statera: Silvero Shan, Blogger Indonesia: Truly Rudiono
  4. Notifikasi berisi link cerita di facebook, biodata penulis, dan juga lampiran cerita dalam bentuk *.doc harus dikirimkan ke email xarvichattan@yahoo.com, cc: bonmedo@yahoo.com
  5. Cerita harus sudah dikirimkan dan sampai ke email yang tertera di atas selambat-lambatnya tanggal 31 Maret 2012, pukul 24:00 WIB.
  6. Cerita boleh memuat gambar/art work original dari penulis. Hal ini akan mempengaruhi penilaian, hanya saja titik berat penilaian adalah tetap dari isi cerita itu sendiri.
  7. Setiap peserta hanya diperbolehkan untuk memasukkan satu buah cerita.
  8. Pengumuman pemenang akan dilakukan selambat-lambatnya 30 April 2012.
  9. Hadiah: Pemenang 1-3 akan mendapatkan merchandise Xar & Vichattan dan Voucher Belanja, dengan total keseluruhan hadiah sebesar 1 juta Rupiah.
  10. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Di malam harinya, Antessa menghubungi Kara melalui Tali Ikatan Cahaya--media komunikasi bawah sadar yang hanya dimiliki oleh para pengikut Cahaya. Antessa menceritakan perihal penulisan cerita para peri ini kepada Kara. Penyihir kutu buku ini langsung tertarik.

"Waahh, menarik sekali! Eh, kalau begitu, ada baiknya kalian bergabung di Kastil," ucap Kara.

"Kastil?"

"Ya, Kastil Fantasi. Ini tempat berkumpulnya para penulis dan penggemar fantasi. Mungkin malah kita dapat mendiskusikan ide-ide kita seputar penulisan kisah peri ini di sana. Mereka juga aktif mengadakan lomba cerpen bulanan, loh!"

"Waah! Bagaimana cara bergabungnya?"

"Cukup bikin account di http://www.goodreads.com lalu klik ke sini: http://www.goodreads.com/group/show/63141.Kastil_Fantasi dan gabung deh."

"Cukup mudah, ya! Aku akan sampaikan kepada yang lain."

Dan hubungan Tali Ikatan Cahaya pun ditutup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar