Minggu, 19 Februari 2012

19. Playing "God"


Penulis   : Rully Roesli
Penyunting : Rini Nurul Badariah
ISBN: 978-602-9225-31-0
Halaman:200
Penerbit : Qanita

Hidup adalah pilihan.
Sesuatu yang saya dan banyak orang yakini.  Apakah kita memutuskan mengambil pilihan ini, alih-alih yang lain semuanya terserah pada kita.  Kelak keputusan itu merupakan rangkaian konsekuensi yang harus kita hadapi .Maka memilihlah dengan bijak agar tidak ada penyesalan kelak,

Tapi bagaimana jika kita menjadi orang yang harus menentukan hidup seseorang? Tentunya bukan suatu hal yang menyenangkan. Saat sebuah pilihan diambil, maka satu nyawa terselamatkan tapi yang lain menghilang. Rasa sesal akan selalu membayangi walau apapun pilihannya. Yang harus dilakukan adalah mempertimbangkan semaksimal mungkin agar pilihan menyelamatkan satu nyawa merupakan pilihan yang paling benar, mengingat pengorbanan nyawa lainnya.

Pilihan tidak nyaman itu terpaksa dilakukan oleh Rully Roesli. Kematian memang pada akhirnya akan menghampiri setiap insan, tapi bagaimana jika kita yang harus menjadi perantara soal hidup mati seseorang. Sangat tidak menyenangkan rasanya. Bak makan buah simalakama.  " Aku tidak tahu, mengapa harus begini. Dulu, niatku menjadi dokter ahli ginjal dan mendirikan rumah sakit semata dilandasi kepedulian terhadap sesama. Mengapa setiap hari Jumat aku harus terjebak perang bathin"

Buku ini mengisahkan bagaimana pergolakan bathin seorang manusia yang berprofesi sebagai dokter. Kisah ini dimulai dari  RS Khusus Ginjal (RSKG) R.A Habibie, Bandung.  Setiap Jumat, Rully mengumpulkan staf yang terdiri dari dokter, apoteker, pekerja sosial, perawat, bagian keuangan serta wakil dari yayasan yang kebetulan seorang ahli hukum. Agenda rapat adalah memutuskan pasien mana yang mendapat bantuan bebas biaya. Setiap kasus akan ditelaah secara mendalam sebelum memutuskan pasien mana yang terselamatkan karena mendapat kesempatan bebas biaya. Yang tidak terpilih bisa saja meninggal kehabisan biaya.Saat itu program bantuan pemerintah untuk khalayak tidak mampu belum ada. Ditambah dengan situasi ekonomi yang tak menentu membuat nilai mata uang guna membeli mesin cuci darah melonjak. Bantuan pembebasan biaya cuci darah merupakan dambaan bagi pasien gagal ginjal.

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah buku berjudul Huda,  kisahnya mengenai seorang pasien gagal ginjal yang terus berjuang hidup. Jika Huda dibuat dengan mengambil sudut pandang pasien, maka buku ini mengambil sudut pandang seorang dokter. Bagaimana  seorang Rully harus melakukan pilihan. Kadang  seakan hati nurani tidak ada lagi. Tapi mau bagaimana,banyak pasien yang membutuhkan bantuan sementara kemampuan terbatas maka pilihan harus benar-benar tepat. Di beberapa  bagian, ada juga kisah bagaimana seorang Rully harus melakukan kebohongan-kebohongan kecil demi kemanusiaan. Semuanya dilakukan demi kepentingan pasien semata.

Simak kisah mengenai seorang pemilik angkutan. Sang bapak rela jika harus menjual angkutan yang selama ini menafkahi keluarga demi kesembuhan sang anak bungsu. Rully dengan sabar memberikan pengertian dan pilihan pada sang bapak. Apakah akan menjual angkutan tersebut untuk menyambung nyawa sang anak bungsu selama beberapa bulan ke depan namun membuat seluruh keluarga kehilangan satu-satu tempat menggantungkan hidup. Atau berpasrah diri dan mengharapkan yang terbaik demi sang anak. Tidak ada yang meragukan kasih sayang seluruh keluarga pada sang anak bungsu, tapi bagaimana juga pilihan harus diambil.

Kisah dalam buku ini  terdiri dari  lima bagian. Bagian pertama mengisahkan bagaimana Rully harus berperan dalam menentukan nasib seorang pasien. Apakah pasien tersebut  bisa mendapat bantuan atau tidak. Bagian kedua mengenai kehidupan pasien yang beragam. Ada yang terlalu khawatir terhadap kesehatan sehingga malah stres, tapi ada juga yang terlalu masa bodoh sehingga berakibat fatal.

Bagian ketiga berisi bagaimana seorang pasien bisa selamat dengan cara yang misterius. Campur tangan Tuhan dengan cara yang misterius membuat seseorang  bisa selamat. Misalnya saja kasus seorang anak berusia 21 tahun yang ternyata bisa terus mendapat bantuan cuci darah .  Padahal seharusnya bantuan dihentikan saat ia berusia 21 tahun. Bagian keempat mengajak pembaca mengenal sosok seorang dokter. Walau bagaimana dokter  juga manusia. Terakhir kita akan diajak untuk sesaat merenung mengenai kematian. Penulis mengisahkan bagaimana kematian pada akhirnya akan menghampiri kita tanpa pandang bulu. Bahkan  seorang dokter sekali pun tak bisa mencegah saat kematian sudah menjemput orang terkasih.

Banyak contoh kasus yang diuraikan dengan manis dalam buku ini. Membuat pembaca bisa kian memahami bagaimana tegarnya sosok Rully saat harus memutuskan bantuan yang berpengaruh secara tak langsung pada kehidupan seseorang. Menyentuh. Pembaca juga dibuat lebih bersyukur akan anugrah kesehatan yang diterima, serta diajak untuk lebih memperhatikan kesehatan.

Sosok ibu yang menjadi inspirasi i terlihat sekali dalam buku ini. Betapa kuat pengaruh ibu serta bagaimana bakti seorang Rully terpancar dalam banyak untaian kata. Demikian juga rasa kasih sayang terhadap keluarga terasa kental dalam kisah Adikku Harry.

Pembaca juga akan mendapat tambahan informasi mengenai  Euthanasia. Euthanasia adalah praktik pencambutan kehidupan manusia (atau hewan) dengan cara yang baik.  Ini merupakan pilihan tindakan pada pasien yang sudah tidak memiliki harapan hidup (misalnya keadaan koma atau mati batang otak), kesakitan yang amat sangat (misalnya penyakit kanker stadium lanjut), atau penyakit kronis yang dan belum ditentukan obatnya. Ada juga Euthanasikon, penyebab utamanya bukan penyakit tapi situasi dan kondisi keluarga terutama dari sisi keuangan. 

Hidup memang pilihan. Walau seorang Rully sekali pun tidak pernah ingin berada dalam situasi yang membuatnya harus melakukan pilihan yang sulit. Tapi itu merupakan rangkaian proses dari pilihannya dahulu, “Niatku menjadi dokter ahli ginjal dan mendirikan rumah sakit semata dilandasi kepedulian terhadap sesama.”

Teruslah peduli terhadap sesama Prof
Sebongkah krikil tak ada artinya dibandingkan sebongkah besar kebaikan.

Mari kita merenung  Lagu religius oleh Harry Roesli & RAF

Ya Tuhan, ya Rahman
Bawalah kami ke sana

Ke jalan lurus tanpa belokan
Datar merentang  dan memanjang
ke Ridhlo Tuhan dan kenikmatan
Ke Pengampunan

Bawa aku bersama-MU
Hingga ku kelak pulang
Sampai tempat kami datang
Bawa.....bawa.....bawa

Ya Tuhan, ya Rahman
Bawalah kami ke sana
Bimbinglah kami ke sana

Bawa kami ke sana
Dan bimbinglah kami ke sana
Bimbinglah kami ke sana
Amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar