Kamis, 02 Juni 2011

Jangan Coba-coba Bertarung Melawan Kematian!


Judul           : Mortlock
Penulis        : Jon Mayhew
Penerjemah : Leinovar
Editor          : Heni Setiani
Genre          : Novel Petualangan Fantasi,
                     Thriller, Horror
ISBN           : 979-1122-79-2
Halaman       : 386
Penerbit        :  LiniKata
Harga            : Rp 75.000

"Demi cacing-cacing yang menjadi teman tidurku,
Tanah dingin yang menjadi selimutku,
Dan ketika badai menerpa,
Tubuhku tergelak dan tidur."

Siapa pun akan merinding ketakutan jika berbicara soal kematian! Sedikit yang menyadari bahwa setiap hari ulang tahun yang kita lewati berarti  kian mendekatkan kita akan kematian. Jika bisa, banyak yang ingin  lolos dari kematian. Itu sebabnya manusia terus berusaha menemukan kekuatan untuk bertarung melawan kematian. Aneka legenda seputar itu juga berkembang, mulai  dari pil abadi, air  panjang umur hingga Bunga  Amarant.

Tiga orang sahabat Sebastian Mortlock, Thorlough Corvis dan Edwin Chrimes menjelajah hingga ke gurun pasir penuh jebakan di ujung dunia untuk menemukan bunga ini. Konon menurut  berita yang tersebar, bunga ini memiliki kekuatan untuk menghidupkan yang sudah tak bernyawa. Sebuah kekuatan besar dalam sesuatu yang sangat rapuh, kekuatan dari kehidupan dan kematian!

Mereka memang berhasil menemukan bunga itu. Tinggi Bunga Amarant  sekitar satu kaki, memiliki kelopak-kelopak lembut seperti beludru membungkah ke atas, nyaris menyerupai tulip. Bunga itu bercahaya, dan cahayanya berdenyut menghasilkan seberkas cahaya merah  berkedip dan menerangi permukaan kelopak bunga. Sungguh bunga yang cantik.

Namun sesuatu hal yang menakutkan menimpa  mereka disana!  Mereka merasa diawasi!  Tanaman rambat mengeluarkan suara bergemerisik di sekeliling mereka. Sosok-sosok samar kemudian menyembul di antara bayangan. Aroma manis meruap di udara. Dan muncul wajah sangat tirus yang menyeringai di antara tanaman rambat! Mereka dicekan kengerian yang luar biasa!

Mereka diserang oleh para penjaga Amarant! Untungnya mereka bisa lolos.  Membawa bunga  itu keluar dari habitatnya ternyata sangat berbahaya. Ketiganya lalu melakukan sumpah darah, mereka tidak akan membawa Amarant keluar dari tempatnya berada. Bunga cantik itu ternyata  membahayakan!

Tapi sumpah hanyalah sumpah! Salah seorang dari mereka bertiga berkhianat!  Semula sahabat, sekarang mereka berseteru saling menuding  siapa yang mengambil bunga itu. Bunga itu ternyata membawa dampak tanpa mereka sadari. Setiap yang pernah berada  di dekatnya menjadi  memiliki kemampuan istimewa. Hidup mereka tidaklah sama jika pernah berada di dekat Amarant

Salah satunya Corvis yang telah menjadi  Lord Corvis. Ia mampu menghidupkan makhluk yang sudah tak bernyawa dan menjadikannya sebagai  pasukan.  Lord Corvis  menghimpun pasukan dari kaum ghul-gagak malam, pemakan bangkai dengan tujuan yang sangat jelas, mencari si pencuri Amarant  serta menggunakan Amarant menjaga ketertiban dunia (katanya!)

Secara garis besar, ceritanya lumayan menarik. Idenya segar, selama ini saya baru beberapa kali membaca sebuah kisah dengan mengambil bunga sebagai latar belakang cerita.Bunga Amarant sebenarnya merupakan bunga jenis biasa, tetapi warga Yunani kuno percaya bunga ini abadi, mereka mengaitkan tanaman itu kepada Artemis dan  Diana, dua dewi pemburuan dalam keyakinan Yunani dan Romawi.

Kovernya juga menawan. Penerbit seakan sengaja membuat edisi hardcover. Saat melihat di tumpukan buku baru, terus terang kover memang yang pertama menarik perhatian saya. Saat diperhatikan  sisi pinggir kertas yang sengaja diberi warna hitam kian menambah nuansa menyeramkan tapi sangat sesuai dengan tulisan yang ada di kover, "Kematian bukanlah sebuah akhir..."

Disetiap  bergantian bab, kita akan menemukan aneka kalimat yang diambil dari berbagai sumber.  Kesamaannya hanya satu, kalimat tersebut menyebutkan seputar kematian. Ada yang bernada suram, menakutkan namun ada juga yang lucu, tapi tetap saja semuanya  membicarakan hal seputar kematian. Contohnya kalimat berikut, " Apabila aku mati  dan berada dalam kubur, diselimuti tanah dingin, Burung Kutilang akan datang dan menyanyi. Dan hari pun berlalu."

Sayangnya, kertas yang digunakan   tipis dan berkerut di beberapa bagian. Hal ini mungkin saja terjadi mengingat  nyaris setiap sisi pinggir mendapat sentuhan warna hitam kelam. Kertas juga jadi berbayang, sehingga saat kita membaca sebuah halaman, isi halaman di belakangnya  juga ikut terlihat secara sama-samar. Seandainya dipakai kertas yang lebih tebal tentunya kian menarik. Layak sekali dibandingkan  dengan harga jual yang ikut naik karenanya.

Beberapa bagian  menggelitik nalar saya. Misalnya  saja kisah di halaman 141.  "Gagak merah dengan busana kebesaran mengepak dengan gagahnya ....sosok perempuan jangkung keluar dari kereta...." Saya menangkapnya sang gagak berubah menjadi sosok seorang perempuan jangkung dan berjalan turun dari kereta menghampiri... (sensor!)

Tapi tak jauh dari kalimat tersebut tertulis, " Kemudian ghul itu berubah dan berjalan dengan langkah-langkah panjangnya ke kereta kuda...." Saya jadi bingung nih! Tadi sosok ghul berubah menjadi seorang perempuan, lalu disebutkan berubah lagi. Berarti kembali menjadi ghul .   Lalu bagaimana ghul bisa  berjalan dengan langkah-langkah panjang ke kereta kuda????? Bukannya ia menjadi burung gagak?  Duh saya kok tidak menemukan penjelasannya dalam buku ini, apa saya yang kurang teliti saat membaca.


Alur ceritanya memang cocok untuk anak-anak sesuai dengan sasaran penulisnya. Pesan moralnya jelas. Tapi kesan Dark Gothick Fantasy kok sedikit mengkhatirkan bagi saya. Nuansa suram dan horornya yang tidak biasa apakah bsia diterima oleh anak-anak kita?  Memang makin ke belakang kesan suramnya kian berkurang, mungkin harus didampingi oleh orang tua saat mereka membaca buku ini.

Saat pertama membaca,  saya sempat dicekam ketakutan, terbawa suasana yang dihadirkan oleh buku ini. Apalagi buku ini saya baca lewat tengah malam. Berawal dari tidak bisa tidur, iseng saya ambil salah satu buku dari tumpukan pekerjaan rumah saya. Kok yang terambil ini. Walhasil saya jadi kian sulit tidur.

Silahkan ditilik  www.jonmayhew.co.uk untuk mengetahui  lebih lanjut hal-hal seputar buku. Selain buku ini penulis  juga menulis The Demon Collector


Sebaris kalimat bijak yang ada dalam buku ini layak diperhatikan. Kematian tidak ada artinya apabila kau tidak bisa mengendalikannya  Sebaiknya memang mempersiapkan diri menghadapi kematian, alih-alih sibuk bertempur melawan hal yang sudah pasti.
Sudah siapkah Anda?????

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar