Senin, 13 Maret 2017

2017 #18: Ahangkara, Prahara di Tanah Jawa






























Penulis: Makinuddin Samin
Penyunting: Joni Sujono
Penyelaras Akhir: Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara; Jenny M . Indarto
Penggambar Sampul: Imam Bucah
ISBN: 9786026799135
Halaman: 496
Cetakan: Prrtama- Februari 2017
Penerbit: Javanica
Harga: Rp 95.000
Rating:4/5

Siasat Sama-Beda-Danua
Siasat itu bertumpu pada tiga unsur: Galang sekutu, pecah belah musuh, dan pukul musuh pada titik paling lemah di saat yang tepat
~hal 258-259~

Banyak orang bijak yang mengatakan bahwa dibalik kesuksesan seorang pria, ada wanita hebat dibelakangnya.  Hal serupa juga berlaku dalam buku ini. Dibalik kesuksesan dalam berperang (apapun tujuan dan alasannya) terdapat sosok-sosok telik sandi hebat. Kekalahan dalam perang, juga bisa terjadi akibat lemahnya jaringan telik sandi yang mereka miliki.

Mungkin saya akan dianggap nyeleneh karena selesai membaca buku ini, ingatan saya justru tertuju pada salah satu film Mr Bond, Tomorrow Never Dies. Sebagai agen rahasia, Mr Bond menjadi memiliki dua sisi kehidupan. Satu sisi ketika ia menjadi seorang pria bernama James Bond, sementara sisi lainnya ketika ia bertugas. Kadang ia harus melakukan hal yang ia tak sukai demi tugas. Namun tak jarang juga ia bersenang-senang sambil bertugas. Contohnya ketika M dengan jelas memberikan instruksi untuk mendekati istri Elliot Carver, mantan pacar Bond. Pergunakan pesonamu,  jika perlu "pompa" agar informasi yang dibutuhkan bisa diperoleh, begitu instruksi M.  Kejam? Mungkin begitulah dunia mata-mata.

Demikian juga dengan Sagara. Sosok Sagara jelas berbeda dengan Mr Bond yang memiliki aneka alat canggih dan kemewahan. Ia hanyalah  seorang telik sandi Demak,  namun pesonanya mampu membuat selir kesayangan Adipati Tuban yang bernama Ayu Awindya rela melakukan gandarwa wiwaha, kawin lari. Sesungguhnya ia  melakukan dengan tujuan utama menahan  sang selir sehingga adipati mau tunduk dan menyerah. Meski tak mencintai sang selir, namun demi kecintaan pada tanah air maka ia rela melakukan hal tersebut. Termasuk kehilangan pujaan hatinya. 

Peperangan tidak hanya soal berapa jumlah pasukan, ilmu kanuragan, formasi menyerang, taktik yang dipergunakan,  tapi juga urusan orang tak terlihat, tak bernama alias para telik sandi. Mereka adalah orang-orang yang berada dibalik keberhasilan peperangan.  Demikianlah yang bisa ditarik kesimpulan dari kisah dalam buku ini.

Sebanyak 488 halaman, pembaca akan disuguhi mengenai prahara yang terjadi di bumi tercinta. Uniknya buku ini terbagi menjadi dua bagian dengan jarak latar belakang kisah selama 19 tahun!  Bagian pertama  memuat kisah yang terjadi sekitar  tahun 1527 M dengan judul Kupu-kupu di Atas Candi. Sedangkan bagian yang lain memuat kisha yang terjadi pada tahun  1546 hingga 1549 M dan diberi judul Kunang-kunang diatas Kubah Masjid. Penulis dengan piawai mampu membuat irama kisah tetap stabil dan konsisten. Para tokoh tetap dengan kepribadian yang sama, hanya mengalami sedikit perubahan dikarenakan faktor usia. Lokasi juga mengalami perkembangan, namun lebih karena tuntutan perjalanan waktu.

Pemilihan judul kisah ini sangat mewakili  isi kisah. Banyak pihak yang menjadikan peperangan bukan hanya perang kecerdikan dan kekuatan, namun juga perang antara tatanan lama dan baru. Tatanan kehidupan yang semula sesuai dengan tatanan Majapahit, akan diganti dengan tatanan baru Demak.  Perihal kekuasaan dan kepercayaan terjadi sudah ada sejak zaman dahulu. Mirip dengan kondisi belakangan ini.

Melihat peta mengenai luasnya Majapahit  masa pemerintahan Hayam Wuruk dalam buku Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian karya  Agus Aris Munandar, bisa dibayangkan betapa sulitnya upaya mengganti tatanan lama dengan yang baru. Memang penguasa bukan lagi Hayam Wuruk dalam kisah ini, tapi Majapahit masih bisa dikatakan sebagai kerajaan dengan kekuatan dan pengaruh yang luas. Makin diperlukan upaya telik sandi untuk bisa mengetahui bagaimana situasi dan kondisi kota lainnya

Pemilihan kata Ahangkara juga mengundang rasa penasaran.  Ternyata Ahangkara  terjadi karena awidya, ketidaktahuan serta samkara, kotoran jiwa. Tidak ada manusia yang terlepas dari ahangkara, yang bisa dilakukan adalah  terus-menerus berusaha memupus hingga ajal tiba.  Uraian mengenai makna Ahangkara disampaikan oleh orang yang dituakan di Ambulu, bisa dibaca di halaman 238-240.

Selain urusan telik sandi, pembaca juga akan mendapat pencerahan mengenai penyebaran agama yang dilakukan secara damai oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus.  Beliau berdua tidak menolak unsur budaya Jawa, namun justru memanfaatkan tanpa merusak akidah. Misalnya dengan mempergunakan wayang sebagai sarana berdakwah. Seni pewayangan dan tetembangan dianggap sebagai sarana syiar. Demikian juga perihal pemasangan kemenyan,  tujuannya untuk mengusir nyamuk dan menciptakan udara harum bukan hal lain.   Uraian lengkap mengenai hal ini dibahas pada halaman 121-124.

Beliau berdua juga menanamkan ajaran bahwa yang kita warisi dari Kanjeng Rasul adalah ajarannya, isi kebenaran di dalamnya, bukan budaya dan rancang bangunnya. Menjadi penganut ajaran Kanjeng Rasul tidak harus menjadi Arab. Tidak juga harus meninggalkan budaya leluhur dang menghilangkan kejawaan kita, begitu menurut Umar Said putra Sunan Kalijaga di  halaman 282-283. Setuju!

Meski merupakan novel sejarah, pesan moral dalam buku ini cukup  relevan dengan kondisi saat ini. Bagian yang mengajarkan untuk menghormati kepercayaan dan keyakinan orang lain patut ditiru. Bahkan ketika di medan pertempuran, Sunan Kudus melarang melakukan pembunuhan pada musuh yang berbeda keyakinan, beliau bahkan mendampingi saat musuh menjemput ajal.  

Demikian juga toleransi dalam kehidupan bermasyarakat juga diuraikan dengan indah. Candi Ambulu sebagai contoh. Candi yang dibangun sekitar 250-500 tahun lalu (ada dua versi yang beredar di sana) merupakan candi pemujaan Batara Siwa, namun tetap dipelihara oleh seluruh warga sekitar meski kiblat telah berubah dari Majapahit ke Demak. bagi mereka, candi adalah warisan leluhur yang harus dipelihara. Mangku Candi Ambulu dan pengasuh Pesantren Gading juga sering bertemu untuk berdiskusi. Maka, banyak yang merasa sedih dan hancur perasaannya ketika candi tersebut harus dikubur karena hasutan dan pemikiran beberapa orang. 

Bagi mereka yang kurang memahami bahasa Jawa, tak perlu risau, ada catatan kali yang sangat membantu. Bisa dikatakan pembaca bisa dengan mudah menemukan catatan kali dalam buku ini. Ada tujuh di halaman 15,  enam di halaman 29,  empat di halaman 97,  lima di  halaman 92  dan masih banyak lagi halaman yang memuat catatan kaki tidak sedikit. Jika tidak menemukan catatan kaki, coba simak lagi kalimat yang memuat kata asing yang tidak dipahami. Beberapa bagian menempatkan penjelasan langsung di sebelah kata tersebut. Pembaca akan mendapat manfaat penambahan kata dengan membaca buku ini. 

Seperti yang disebutkan di atas, kisah dalam buku ini memiliki rentang waktu yang cukup lama. Beberapa kali disebutkan mengenai masa tanam, paceklik dan lainnya. Seingat saya, ada kearifan lokal mengenai pertanian dan perikanan yang disebut Pranata Mangsa. Sempat membaca versi singkat, penasaran mencari dan menemukan versi yang lebih lengkap. Silahkan baca di sini. Ternyata, membaca buku ini membuat saya tertarik membaca buku yang lain ^_^.

Jangan khawatir dengan urutan kejadian serta banyaknya tokoh dalam kisah ini. Pemahaman singkat bisa ditemui dalam bagian Linimasa Kekuasaan di Tanah Jawa. Sementara hubungan antara satu tokoh dengan yang lain bisa dipahami melalui berbagai silsilah yang juga ada dibagian belakang buku. 

Sepenggal bagian dari kisah ini mengingatkan saya pada buku dengan judul Kode Untuk Republik. Isinya mengenai sepak terjang para telik sandi saat  perang kemerdekaan plus sejarah mengenai telik sandi di negara tercinta ini. Reviewnya ada di sini.

Sebenarnya ada kelebihan buku ini yang juga menjadi kekurangan untuk saya. Bagi saya yang bukan pembaca sejarah, berbagai fakta sejarah yang baru saya ketahui memenuhi isi kepala saya dengan cepat. Saya jadi sedikit mengalami kesulitan untuk mengikuti kisah, terutama pada bagian awal. Namun perlahan, saya bisa menikmati. Bagi para penyuka buku sejarah, tentunya akan melahap dengan rakus berbagai informasi yang disajikan dalam buku ini. Sekali-kali mencoba yang beda tak ada salahnya bukan? 

Banyak kalimat bijak dan indah bisa kita temukan dalam buku ini.  Kalimat-kalimat tersebut  membuat kita menjadi lebih bisa waspada dan membuka pikiran terhadap sekitar. Juga cocok dengan kondisi saat ini. 

Kalimat yang saya sukai ada di halaman 22. Seakan menjadi pengingat pada diri sendiri untuk selalu mawas diri dengan mengukur kemampuan. Merasa mampu merupakan hal yang wajar, namun jangan sampai memaksakan diri.
Kadang rembulan memaksa terbit meskipun matahari masih menggantung di langit barat 
Apakah kalian rembulan yang ingin melawan matahari?  Hingga untuk bisa melakukannya memakai berbagai cara termasuk perlu mengetahui apa yang terjadi kelak? Ah, jika begitu, ada baiknya menyimak perkataan seorang bijak di halaman 280, "... bahwa kita tidak perlu tahu apa yang akan terjadi di masa depan agar kita bisa menyiapkan diri lebih baik."

Sumber Gambar:
1. Buku Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian karangan Agus Aris Munandar, Komunitas Bambu.
2. Koleksi Pribadi

================================ 


GIVEAWAY


Mau novel Ahangkara GRATIS? Nah, kebetulan ini Penerbit JAVANICA  menghadiahkan DUA novel Ahangkara secara cuma-cuma untuk dua calon pembacanya. Tapi, ikutan kuisnya dulu ya. Berikut ini syarat dan cara ikutan kuisnya:

1. Silakan di-follow dulu akun fanpage Penerbit Javanica   (link ini)  dan akun FB penulisnya Makinuddin Samin  (klik di sini)

2. Share/bagikan info giveaway ini di Facebook atau twitter. Boleh mention saya atau penerbitnya.

3.  Silakan dijawab pertanyaan berikut di komentar postingan ini:
Menurut teman-teman, kemampuan apa yang harus dimiliki oleh seorang telik sandi? Sertakan alasannya.
4. Dimohon hanya menjawab satu kali saja. Format jawaban adalah sebagai berikut:

Nama:
Akun twitter/Facebook:
Email: 
Jawaban:

5. Kuis ini akan ditutup pada 19 Maret 2017 pukul 23.59 WIB. Saya akan memilih DUA PEMENANG yang akan mendapatkan masing-masing satu buku ini gratis. Satu pemenang akan dinilai dari jawabannya, sementara satu pemenang lagi dari hasil undian seluruh jawaban yang masuk dengan bantuan random.org.

Pengumuman pemenang akan dicantumkan di komen postingan ini. Pemberitahuan resmi akan dikirim via email yang bersangkutan.

Jika dalam waktu 3 hari (hingga tanggal  22 Maret 2017) pemenang tidak memberikan alamat pengiriman maka hadiah akan diberikan pada calon pemenang berikutnya.

6. Giveaway ini hanya berlaku untuk peserta yang berdomisili atau memiliki alamat kirim di wilayah NKRI. 

7. Tidak ada korespondesi dalam GA ini (jie.. sekali-kali galak ah)

Hayuh, ini kesempatan terakhir guna mendapatkan buku ciamik ini dengan cuma-cuma. Kerahkan segala daya, kapan lagi!


Selasa, 07 Maret 2017

2017 #17: Pranata Mangsa, Memahami Kearifan Lokal



























Judul asli: Pranatamangsa, Astrologi Jawa Kuno
Penulis: Anton Rimanang
Penerjemah: Andreas Tri Preasetya
Setting & Tata Letak: Winengku Nugroho
ISBN: 9786023560912
Halaman:45
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Kepel Press
Rating:3.25/5


Suta Manut Ing Bapa

Alam Paceklik makin menajam
ketika manusia memasuki
mangsa katelu, yang wataknya
adalah suta manut ing bapak
(anak menuruti ayah)

The nature becomes drier
and drier when entering
season III whose characteristic
is'suta manut bapak
(child obeys father)

~Pratanamangsa Astrologi Jawa Kuno, hal 26~

Gara-gara membaca buku Ahangkara,  saya jadi tertarik untuk mencari referensi mengenai  Pranata Mangsa, pengetahuan tradisional masyarakat Jawa tentang pengaturan musim. Dalam kisah Ahangkara beberapa kali disebutkan mengenai pergantian musim, entah untuk mulai bercocok tanam, panen bahkan musim kering. Untung ada satu buku baru pada koleksi perpustakaan tempat saya bekerja dengan nomor panggil 959.82 ANT p yang bisa dipinjam. Langsung menjadi bacaan malam minggu ^_^.

Sejak zaman dahulu, nenek moyang kita sering mengamati beberapa peristiwa alam lalu menjadikannya sebagai tanda sebuah musim. Misalnya saat daun muali bergururan, kayu mengering, belalang mulai masuk ke tanah berarti saatnya bagi petani untuk membakar jerani dan menanam palawija. Ketika burung Belibis mulai terlihat ditempat berair maka para petani sebaiknya mulai menyebarkan benih padi di tempat pembenihan. 

Sekedar membagi informasi, Pranata Mangsa berarti ketentuan musim, semacam penanggalan terutama terkait dengan kegiatan bercocok tanam perikanan dengan berdasarkan pada peredaran matahari serta siklusnya. Juga memuat aneka aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan pertanian maupun persiapan menghadapi bencana yang timbul pada waktu tertentu. 

Ciri khusus dari kalender ini  adalah umur mangsa yang bervariasi, terpendek hingga 3 hari sementara terpanjang bisa mencapai 20 hari. Hal ini dikarenakan mempergunakan gejala-gejala alam fisik maupun biologis, sehingga umur mangsa tergantung keberadaan gejala-gejala tersebut.

Terbagi dalam dua bagian, buku ini tidak saja menguraikan mengenai Pranata Mangsa saja, namun juga mengenai apa itu Pranata Mangsa, serta bagaimana manfaat dalam kehidupan. Membaca buku ini membuat kita jadi mengetahui banyak hal mengenai antroplogi Jawa kuno, terutama dalam hal bercocok tanam dan berternak. Mungkin ada yang masih ada yang sering diterapkan oleh masyarakat, ada juga yang sudah tidak. Tapi tak ada salahnya mengetahui mengenai warisan leluhur nenek moyang.

Pada pengantar buku ini disebutkan keuntungan mengetahui dan memahami Pratana Mangsa. Antara lain jadi mengetahui kearifan yang dimiliki oleh nenek moyang.  Terkait dengan pengembangan pengetahuan, jangan sampai hal yang sebenarnya sudah ditemukan sejak dulu malah dianggap baru. Lengkapnya bisa dibaca di halaman 4. 

Keunikan lain buku ini adalah  terdapat nama penerjemah. Buat apa ada penerjemah jika ini merupakan buku berbahasa Indonesia? Tentu banyak yang akan bertanya begitu.  Ternyata terjemahan yang dimaksud adalah dari Indonesia ke Inggris. Tanda buku dikerjakan secara profesional.

Karena disajikan dengan dua bahasa, buku ini bisa menjadi duta budaya bagi bangsa kita. Misalnya dengan menjadikan souvenir saat berkunjung ke luar negeri, membagikan sebagai hadiah ke perpustakaan di luar negeri, hadiah ke perwakilan negara. Bahkan layak juga dibagikan untuk perpustakaan dalam negeri sehingga mereka yang bukan berasal dari Suku Jawa bisa mengenal kebudayaan Pranata Mangsa sekaligus belajar bahasa asing.

Ilustrasi yang menawan juga membuat buku ini menjadi menarik untuk dibaca.  Dengan halaman penuh warna, mata pembaca tak akan bosan menikmati gambar yang ada. Uraian singkat yang ada di bawah gambar mendukung pembaca untuk lebih bisa menikmati bacaan.  Pola mega mendung denganwarna hijau yang ada di bagian awal dan akhir kisah sangat sesuai untuk filosofi buku ini, perihal  cocok tanam. 

Semula saya agak bingung dengan judul buku ini. Apakah Pranatamangsa atau Pranata Mangsa, karena tulisan yang tercetak di kover berbeda dengan yang ada di dalam. Ternyata, penulisan berbeda karena mempergunakan bahasa Jawa dan Indonesia.

Lumayan untuk menambah ilmu. Jadi ingat pernah membaca buku serupa namun dengam penjelasan yang agak berbeda. Review mengenai buku sejenis ada di link sini.

Sumber gambar:
1.http://primbon.infoberguna.com/2012/12/tanda-dan-ciri-pranata-mangsa-warisan.html
2. Buku Pranatamangsa, Astrologi Jawa Kuno

Senin, 20 Februari 2017

2017 #15-16: Jang Tersisih & Bulan Dibawah Air


















Gara-gara  menemani seorang mahasiswa mencari buku di rak, saya jadi tertarik untuk membaca dua buku tipis ini. Menurut saya ini merupakan buku yang unik. Pertama karena halaman kedua buku ini  hanya terdiri dari enam belas halaman. Singkat bukan? Beda jauh dengan beberapa buku yang saya baca belakangan. Bayangkan, seorang penulis harus mampu memukau pembaca dengan halaman yang lumayan sedikit ini.

Kedua, tahun terbitnya lumayan lawas. Kondisi kedua buku ini lumayan terawat, sepertinya sudah mengalami preservasi. Namun tetap saja, saya sangat berhati-hati membuka halamannya. Plus membaca dengan jarak yang agak jauh mengingat alergi debu yang saya miliki. 

Ketiga,  otomatis ejaan yang dipergunakan merupakan ejaan lama sehingga membutuhkan konsentrasi dan kesabaran saat membacanya. Kecepatan membaca harus diturunkan agar tidak salah memahami makna yang terkandung dalam sebuah kalimat. Saya jadi merasa tertantang.

Lumayan untuk menemani akhir pekan

Judul:  Seri Batjaan Remadja: Jang Tersisih
Penulis: Ajaptrohaedi
Gambar kulit: Dachlan Djazh
Halaman: 15
Cetakan: 1965
Penerbit: P.N Balai Pustaka
No Panggil: 

Lalu pergilah dia ke makam ibunja. Menanti ibunja keluar dari lahadnja. Dia duduk diatas tanah makam ibunja. Mentjokeli tanah hingga bertumpuk didepan kakinya. Matanja terus menatap kearah nisan jang terpantjang, lantaran menurut pikirannja, dari situlah ibunja bakal keluar.

Mengapa ibutiri selalu kedjam terhadap anaktirinja?

Entah kenapa yang namanya kisah antara ibu tiri dan anak tiri selalu bekutat dengan kesedihan. Ibu tiri kejam yang menyiksa anak tirinya. Padahal tidak semua ibu tiri seperti itu. Tapi apa mau dikata susah menghilangkan pandangan masyarakat umum.

Kisah dalam ini juga demikian. Seorang anak yang kehilangan ibu pada usia belia. Sang ayah menikah lagi. Anak yang kurang paham pada awalnya merasa bahagia karena ibunya sudah kembali. Ingatan samar pada sosok sang ibu membuatnya percaya bahwa ibu yang sekarang adalah ibunya yang kembali dari pergi jauh.

Seperti kisah yang lain, kasih sayang sang ibu tiri ternyata hanya sesaat. Jangankan ia dipangku, ditemani tidur sambil mendongeng, bersikap manis pun jarang. Untunglah dalam kisah ini tidak ada saudara tiri yang bisa membuat kisah makin penuh dengan urusan menyiksa anak kecil!

Seiring waktu, sang anak ingat pada sosok ibunya. Ditambah dengan cerita orang sekitar mengenai pribadi ibu kandungnya. Ia sering bertanya pada sang uwa mengenai perbedaan perilaku ibu yang sekarang, yang baru kembali dari pergi jauh dengan ibu yang dahulu pergi. Konsep meninggal belum sepenuhnya ia pahami.

Bagian yang mengisahkan bagaimana ia menunggu sehatian dengan harapan sang ibunya muncul dari kuburannya, membuat saya terharu. Penulis mampu menciptakan rangkaian kata yang menunjukan betapa sang anak merasa kesepian dan haus kasih ibunya.

Sementara bagian yang mengisahkan bagaimana sang ibu tiri dengan culasnya menguasai seluruh gaji sang suami yang tetap diterima walau berada dalam tahanan, mampu membuat saya gemas. Licik sekali perempuan itu! Dikuasainya seluruh gaji dengan cara mengirimkan ke kampung halamannya, sementara ia memerankan peranan istri yang menderita. Bahkan ia tega numpang hidup dengan mertuanya.

Sempat saya merasa penulis mungkin berlebihan, adakah perempuan seperti itu. Atau sekedar untuk menguatkan karakter,  menimbulkan kesan sosok ibu tiri yang kejam seperti anggapan orang banyak. Mendadak saya jadi teringat kisah seorang kenalan yang nyaris serupa. Bukan ibu tiri memang, tapi sang istri tega menguntit uang belanja untuk dikirimkan ke rumah orang tuanya. Ia selalu mengeluh kurang belanja sehingga si suami harus banting tulang bak sapi perahan. Kelakuannya terbongkar ketika sang ibu mertua tanpa sengaja mengisahkan perihal televisi lebar yang baru mereka beli hasil menabung uang kiriman sang istri. Padahal di rumah mereka, televisi hanyalah berukuran kecil dan model lama. Bukan memberikan uang pada orang tua yang disesalkan suami, tapi cara sang istri.  Eh kok saya jadi melantur ^_^

Sungguh, kisah dalam buku ini membuat hati menjadi sedih dan kasihan pada sosok anak kecil yang kehilangan ibu. Pesan moral yang bisa kita ambil adalah agar berhati-hari mencari jodoh. Karena apa yang indah terlihat belum tentu seperti itu sesungguhnya.

Iseng, saya mulai mencari informasi mengenai buku ini melalui dunia maya, dan menemukannya di ini. Ternyata  buku yang terbit tahun 1965 merupakan cetakan kedua. Lumayan diminati sepertinya kisah ini.

Judul:  Seri Sastra Modern: Bulan dibawah Air
Penulis: S. Hadisantoso
ASIN: B0000D7JH5 
Halaman: 16 
Terbit: 1964
Penerbit: P.N Balai Pustaka
No Panggil: 800.221 HAD b(1)

Kisah dibuka dengan adegan sepasang kekasih,  Hadi dan Ima yang asyik memandu kasih sambil menikmati bayangan bulan yang jatuh seakan-akan berada di bawah air. Sosok Ima yang digambarkan sangat sensitif, mudah terharu oleh hal kecil, sangat bertolak belakang dengan Hadi yang periang dan lebih memakai logika. Justru perbedaan tersebut membuat mereka bisa cocok.

Nasib baik ternyata tidak memihak mereka, Ima menderita sakit tipes hingga usianya tak panjang. Jangan lupa, dahulu sakit seperti itu sangatlah berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.  Sebelum meninggal Ima masih berkeinginan untuk menikmati cahaya bulan dari jendela kamarnya.

Setelah sekian lama, Hadi kembali ke lokasi dimana dahulu ia dan Ima memadu kasih sambil menikmati cahaya bulan yang terpantul di air. Saat itu ia bertemu dengan sosok PSK yang wajahnya sangat mirip dengan  Ima, Kenangan masa lalunya kembali. Ia setuju pergi dengan wanita itu, lebih tepatnya ia merasa pergi dengan Ima. 

Ternyata wanita itu bukankah sosok PSK sembarangan. Kisah ini berakhir dengan kejutan yang tak terkira. Bisa dikatakan Hadi berada diwaktu dan tempat yang salah karena sibuk mengenang kisah cintanya dengan Ima.  

Kisah yang sederhana namun menunjukan betapa cinta bisa membuat seseorang melakukan hal yang tak masuk akal.Buku ini memberikan kesan moral agar kita tak terlalu terlena dengan kenangan masa lalu. Apa pun yang terjadi dengan orang terkasih, kita harus kuat dan meneruskan hidup. Karena, bagaimana juga yang sudah berpulang tak akan hidup

Pada bagian akhir, penulis memberitahu pembaca melalui tokoh wanita PSK bahwa Hadi adalah seorang astronot dari squadron sebelas. Sementara dari pembicaraan Hadi dan si wanita, diketahui bahwa Ima adalah pelajar diperguruan tinggi publisistik tingkat pertama. Maka tulisan P.A.U Adi  Sutjipto makin terasa hubungannya dengan kisah ini.

 Saya tidak menemukan data mengenai buku ini di halaman depan yang biasa memuat  informasi mengenai buku tersebut. Sepertinya halaman tersebut sudah tidak ada ketika buku ini mengalami  perbaikan. Hanya pada akhir kisah saya menemukan tulisan P.A.U Adi Sutjipto, sepertinya itu lokasi pembuatan kisah ini. Sementara untuk jumlah halaman, sebenarnya pada kover sudah tertera tulisan  yang menyebutkan halaman buku ini.

Iseng, saya menuju ke sini, dan menemukan informasi dasar mengenai buku. Minimal tahu nama menulisnya adalah S. Hadisantoso. Masih penasaran mencoba mencari informasi melalui si mbah dan menemukan data tahun terbit serta ASIN di link berikut.


Tanpa sengaja, kedua buku yang saya baca memiliki kesamaan dalam hal unsur kematian. Pada kisah  Jang Tersisih, kematian sang ibu dari tokoh utama yang membuat kisah ini terbentuk. Sementara pada kisah Bulan Dibawah Air, kesedihan akan meninggalnya kekasih hati yang membuat Hadi jadi bersikap aneh selama beberapa saat di jembatan.

Kedua penulis sepertinya mengambil ide kisah dari hal-hal yang dianggap menarik pada saat itu. Peristiwa yang terjadi di sekitar mereka bisa dijadikan ide bagi sebuah karya. Kedekatan emosi antara pembaca dengan latar belakang kisah, lokasi dan sebagainya membuat kisah lebih cepat diterima.

Jika buku kedua tidak ada ilustrasi, maka buku pertama menyajikan beberapa ilustrasi yang lumayan menarik. Meski tak berwarna seperti kover, namun mampu menimbulkan efek mempertegas kisah. Besarnya juga lumayan, menghabiskan satu halaman. 

Kedua buku tersebut  semula dijilid dengan cara dijahit. Memang kondisinya sekarang sudah dijilid rapi, tapi benang yang dipakai untuk menjilid buku masih terlihat. 

Baik buku pertama maupun buku kedua, terdapat tulisan Pr 16 halaman PN BP di kover depan. Bisa kita simbulkan bahwa ini merupakan buku dengan ketebalan enam belas halaman (meski ada yang 15) terbitan Perusahaan Negara Balai Pustaka.

Menginspirasi.