Selasa, 24 Maret 2015

2015 #40: Kitchen #1



Penulis: JO Joo-hee
Penerjemah: Mayang Ratu Negara

Penata aksara: Nurul Miftahul Jannah
Desain sampul: Kim Hee-gyonh (Design Plus)
ISBN: 978-602-1306-05-5
Halaman: 164 

Cetakan: Pertama-Februari 2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 59.000



Raihlah cinta suamimu melalui masakan yang enak

Sering saya dengar para tetua memberikan nasehat tersebut. Maksudnya secara harafiah adalah agar para istri mengurus suami dengan baik, tidak membiarkannya kelaparan di rumah. Dengan demikian sang suami akan merasa betah di rumah. Akan lebih baik lagi jika mampu menyajikan masakan yang lezat, sehingga suami tidak perlu jajan di luar. 

Bertolak belakang dengan hal tersebut, teman-temah tokoh utama kisah Tidak Sulit malah berkata agar tidak boleh menyajikan masakan spesial kepada para lelaki. Tawarkan saja mereka mie  instan dengan cuek, itu sudah cukup, menruut yang lainnya. Padahal tokoh utama kita sangat menyukai kegiatan  memasak.

Baginya menyiapkan masakan lezat merupakan cara untuk menunjukkan bagaimana ia mencintai seorang pria. Dengan segala kemampuannya dibuatkan seporsi masakan lezat. Tiap kali bertemu, masakan yang disajikan berbeda.  Aroma yang sedap dan berwarna serta memiliki rasa-rasa baru merupakan ungkapan isi hari dan perasaannya.

Sayangnya, kadang masakantersebut harus dibuang karena pria itu mengatakan bahwa ia membuatnya agak sedikit sesak. Cara halus untuk memutuskan hubungan. Meski demikian ia tak lantas menjadi putus asa. Baginya kemampuan memasaknya membuatnya percaya diri. Karena tidak ada hal yang tidak mungkin.

Kisah Untukmu yang Terakhir Kali  meski berbeda kisah namun mengusung tema yang nyaris sama, memasak bagi pria yang dicintainya.  Memulai kisah cinta dengan baik, maka sang wanita bertekat mengakhiri dengan baik pula. Ia ingin memasak untuk terakhir kali sebelum mereka berpisah dan tak akan bertemu lagi. karena pria mantannya merupakan sosok yang sopan, maka ia tak menolak keinginan tersebut. 

Semula saya mengira akan membaca kisah mengharukan. Sang wanita akan mengerahkan seluruh kemampuan memasaknya, lalu sang pria akan makan dengan rasa bersalah. Mereka berpisah dengan haru. Atau bisa saja sang pria jadi membatalkan niatnya untuk berpisah.

Ternyata saya salah, awal kisah yang dimulai dengan haru justru berakhir dengan kocak. Aduh...! Saya tertawa sampai mengeluarkan air mata melihat bajah dingin sang wanita dan wajah ketakutan sang pria. Ok..ok sedikit bocoran yaa. Saat makan bersama dalam diam, sang wanita tiba-tiba mengatakan bahwa ini merupakan makan bersama yang terakhir kali bagi mereka, tentunya pria itu memberikan persetujuan.

"Tetapi, apa kau tahu? Sebenarnya, di dalamnya ada racun." kata sang gadis. Bisa dibayangkan betapa kagetnya sang pria mendengar ucapan. Ia segera memuntahkan masakan yang ada di mulutnya dan berusaha memuntahkan yang sudah ada dalam perut. Sang gadis tetap makan dengan tenang, wajahnya terkesan dingin. Tak lama sesudah si pria berlari ketakutan ke luar, wajah si gadis berubah menjadi ceria, ia tertawa lepas hingga jatuh dari kursi. Ternyata itu hanya akal-akalannya saja guna menjahili mantan pacar. Kreatif juga idenya

Terdapat delapan kisah dalam buku ini. Dimulai dengan Alasan Menjadi Teman,Cita Rasa Kangwondo, Tidak Sulit, Cara Merebus Dwaenjang Jjigas, Donkkase Kecil, Untukmu yang Terakhir Kali, Perang Dunia 1: Perang  Rajungan, dan diakhiri dengan Kehangatan Tubuh.

Mungkin karena ini  buku pertama, masih ada kesan malu-malu untuk mengekspersikan sebuah kejaadian. Padahal detail dalam mimik para tokoh yang membuat buku ini makin menarik.

Misalnya mimik tokoh wanita dalam kisah Cheese Cake . Ia digambarkan begitu menyukai Cheese cake hingga tak mampu menahan diri ketika melihat ada sebuah kue yang begitu menggoda disaat ia lapar. Kue tersebut milik  rekan senior di kantornya. 

Meski menahan lapar, ia tak ingin menghancurkan bentuk kue yang menggoda imannya itu. Karena itu merupakan karya yang sangat sempurna menurutnya.  Namun ketikan sang pemilik kue yang menghancurkan dan mulai memakannya, maka lepas kendalilah wanita tersebut.

Oh ya kali ini ada tokoh pria yang memasak. Memang pria memasak bukan hal asing, tapi di buku 1 dan 2 jumlah pria yang memasak relatif sedikit hingga perlu mendapat perhatian khusus bagi kisah yang mengusung pria sebagai juru masak.

Sehabis sebuah kisah, kita akan menemukan epilog. Tentunya terkait dengan kisah yang ditulis. Untuk ilustrasi, penulis mempergunakan sosok dirinya sendiri. Tentunya dibuat dengan gaya lucu. Padahal di halaman belakang foto penulis terlihat menyenangkan, jauh dari kesan konyol yang ditampilkan dalam buku.

Kisah Alasan Menjadi Teman yang mengusung teman bersahabat dengan kesamaan kesukaan menyantap tiram, pada bagian epilog dikisahkan mengenai masa muda penulis yang juga suka berkumpul dengan tema-teman wanitanya. Ditambah dengan adegan yang menggambarkan betapa sukanya ia pada tiram.

Sementara untuk Cheese Cake, sudah bisa diduga, epilognya tentang kesukaan penulis akan cheese cake. Bahkan ia menggambarkan dengan kocak bagaimana malam-malam ia makan cheese cake sambil berdiri di depan kulkas yang terbuka. Sang suami yang tak ingin istrinya merasa malu karena terpegok, dengan arif diam-diam kembali ke kamar. 

Ternyata saya lebih menyukai buku pertama dari pada buku kedua. bagi saya kisah dalam buku ini lebih beragam dibanding buku kedua, meski secara keseluruhan keduanya sama-sama menawan.

Konon jika perut kenyang segala hal bisa diatasi dengan mudah. Beberapa orang yang saya kenal sering melakukan lobi sambil makan bersama. Dan biasanya hasilnya memuaskan. Tentunya dengan perut kenyang kemampuan pikiran juga bisa dimaksimalkan.

Seperti buku yang lain, kembali penulis mampu membuat saya tertawa, terharu dan merenung melalui sebuah kisah sederhana tapi memukau yang terkait dengan urusan masakan. Cocok jika judulnya Kitchen, dapur, karena segala masakan diolah dengan rasa kasih sayang di dapur.

Hayuh coba intip resep membuat Tteobokki
Bahan yang diperlukan:

  • Fish cake korea (bisa diganti otak-otak)
  • Rice cake korea
  • Kol secukupnya
  • ½ bawang Bombay
  • ½ wortel
  • 1 daun bawang
Bahan untuk Kaldu


  • ½ gelas air
  • 6 potong kelp (rumput laut)
  • 6-7 potong ikan teri asin
Bahan untuk Saos
  • ½ bawang putih cincang
  • 3 sdm red pepper paste
  • 2 sdm corn syrup
  • ½ sdm gula pasir
  • 1 sdm kecap asin
  • Biji wijen secukupnya (untuk garnish

Cara Memasak Kaldu

1. Rebus ikan teri, fish cake, dan kelp (rumput laut kasar)
2. Kalau sudah matang (empuk) pisahin kuah dari ikan teri, fish cake, dan kelp.
Cara Membuat Isian Tteobokki
1. Persiapkan kol, cincang kasar.

2. Siapkan wortel, kupas dan potong tipis memanjang.
3. Siapkan bawang putih, keprek supaya aroma harum keluar saat diolah lalu cincang.

Cara membuat tteobokki 
1. Masukan bawang putih cincang, red pepper paste, bubuk cabe seukupnya, kecap asin dan gula pasir dalam kuah kaldu.
2. Tunggu 5 menitan sambil diaduk-aduk.
3. Masukin rice cake
4. Tambahkan corn syrup
5. Masukin semua isian sayur (kol dan wontel yang tadi)
6. Tungggu sampai kuahnya menyerap dan kental
7. Potong fish cake memanjang, masukan
8. Setelah dihidangkan, tambahin biji wijen
9. Tteobokki Anda siap  disajikan.




http://rohmatullahh.blogspot.com/


















Senin, 23 Maret 2015

2015 #39: Kitchen #2

Penulis: JO Joo_Hee
Pemerjemah: Mayang Ratu Negara
Penata Aksara: Nurul Miftahul Jannah
Desain sampul: Kim Hee-gyong (Design Plus)
ISBN 10: 6021306511
ISBN 13: 9786021306512 
Halaman: 175
Cetakan: Pertama- Feberuari 2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 59.000 

Secangkir kopi hitam yang pahit mengajarkan kita soal hidup yang tak selalu manis. Barbeque vegetarian yang penuh warna seolah bercerita tentang keceriaan hidup. Kue kenari yang mungil dan manis bisa jadi saksi cinta pertama. Dan, makanan tradisional yang mewah mengenalkan kita pada akar budaya tanah air.

Apa cerita makanan favoritmu? Nikmati kelezatan kisah hidup penuh rasa di seri kedua Kitchen ini.

Hemmmm 
Cerita makanan favorit saya adalah sayur asem, balado ikan tongkol dan oncom plus loncak. Eh tapi tidak ada kisah tentang itu ya dalam buku ini. Biarlah sebagai bocoran semata. 

Dulu saya tidak menyukai sayur asam, dengarnya saja sudah tidak suka. Maklum kesan yang didapat sebagai seorang anak singkong pasti sayur ini rasanya asam sekali. Suatu saat, sehabis ada acara di rumah saya baru sadar bahwa saya belum makan sama sekali. Saat perut mulai berontak, yang ada hanya sayur yang saya tidak tahu namanya. Hangat, harum menggoda. Dicampur sambal rasanya pas buat membuat perut berontak menjadi tenang. Ternyata itu sayur asam. Sejak saat itu mulailah saya mencintai sayur asam.

Stop! 
Sudah urusan makanan kesukaan saya, kembali ke buku. Dalam buku ini ada sepuluh kisah yang disampaikan oleh penulis. Ada Makanan Penambah Umur, Bibimbap (Nasi Kampur) Kami, Anak Bangsawan, Pertemuan yang Tidak disangka-sangka, Gadis Penjual Kopi, Seperti Tteokpokki, Barbeque Vegetarian, Penghormatan Pertama setelah Menikah, Pertemuan Tripartit, Natal Kuil di Gunung, serta bonus kisah Temukan Rasa Terbaik.

Setiap kisah mengandung pesan moral yang disampaikan dengan manis melalui kisah yang berkaitan dengan masakan. Ada kisah yang disampaikan dengan jenaka, tapi ada juga yang dibuat serius. Namun bagaimana cara penyampaiannya tidak mengurangi keindahan gambar dan kisah.

Episode 17 dengan judul Makanan Penambah Umur, berkisah tentang pernikahan antar bangsa. Paul diajak berkunjung ke rumah keluarga tunangannya saat tahun baru. Sepanjang perjalanan, sang tunangan menceritakan tentang makanan yang biasa mereka makan saat tahun baru. Salah satunya Sup Kue Beras. Dengan memakan semangkuk sup sampai habis maka umur mereka akan bertambah satu tahun. Menolak makan artinya bersikap tidak sopan.

Paul ternyata menikmati sup tersebut. Ia juga menikmati suasana kekeluargaan di rumah tunangannya. Baginya ada sensasi tersendiri saat menikmati sup dikelilingi oleh samak-saudara yang dipanggil tidak dengan nama melainkan dengan sapaan. Paul menemukan filosopi suasana akrab keluarga tersebut dalam semangkuk sup. Ia merasa diterima dengan terbuka.

Saya agak bingung, sebenarnya itu tunangan atau istri Paul ya? Pada halaman 7 tertulis, "Korea adalah tanah kelahiran calon istriku." Lalu pada halaman 9 tertulis, "Sambil mendengarkan cerita tunanganku ...." Baiklah calon istri bisa saja tunangan atau pacar yang akan dilamar. Tapi pada halaman 13 tertulis, " Selamat atas pernikahan kalian." Demikian juga pada halaman 17, "Ini adalah putriku dan suaminya, Paul, mereka sudah menikah selama 4 bulan." Jadi bingung saya akan status si Paul dan pasangannya.

Kisah Gadis Penjual Kopi membuat saya tertawa lepas, meski sesudah itu meringis sedih. Kisahnya tentang tiga orang anak perempuan yang memanggil penjaja kopi keliling. Ketiga memesan kopi ketika para orang tua tidak ada di rumah.

Ketiga anak tersebut sangat penasaran akan rasa kopi yang sering diminum oleh ayah, paman serta kakek mereka. Ketiganya sudah mengumpulkan uang sesuai dengan harga tiga cangkir kopi, masing-masing mendapat satu cangkir kopi.

Karena terlanjur datang, maka gadis penjual kopi terpaksa melayani mereka dengan persyaratan agar minum dengan cepat. Ternyata melayani mereka tidaklah mudah. Ketiganya sibuk mengkhayal menjadi orang dewasa dan pergi ke Seoul.

Entah kenapa, mungkin karena mendengar celoteh polos ketiga anak tersebut, penjual kopi naik pitam dan merasa menyesal menjual kopi pada mereka bertiga. Ia menasehati ketiganya agar jangan berkhayal untuk pergi ke Seoul  naik kereta api, mereka harusnya belajar rajin hingga menjadi dewasa dengan sendirinya.

"Kalian pikir rasa kopi itu manis kan? Itu karena gula dan krim! Kehidupan itu sebenarnya pahit seperti rasa asli kopi itu!" Nasehat yang disampaikan dengan emosi tersebut sangat dalam maknanya. Meski disampaikan dengan gambar yang lucu tapi pesan yang disampaikan penulis sangat menyentuh perasaan.

Masakan yang ada dalam buku ini memang merupakan masakan Korea, tapi kita bisa mengerti apa artinya melalui terjemahan yang ada di bagian bawah halaman. Beberapa mungkin sudah bisa kita temui di restoran Korea di tanah air.

Bibimbap ternyata berarti nasi campur. Kisah favorit saya pada halaman 25. Kisahnya tentang seorang gadis, Yeong Ok, yang ibunya melarikan diri dengan pria lain. Karena mereka tinggal di sebuah desa kecil, tak butuh lama untuk membuat seluruh desa mengetahui kisah keluarganya. 

Suatu ketika, ketika istirahat makan siang, sahabat-sahabat Yeong Ok membuat nasi campur dengan mempergunakan bahan dari bekal bersama. Sekejab bekalnya sudah bercampur dengan bekal teman-temannya.  Bekalnya sudah tidak terlihat sebagai bekal  lauk anak tanpa ibu. Kebersamaan dan upaya para sahabatnya untuk menghibur dan mendukungnya patut diacungi jempol. Menyentuh.

Kekuatan kisah dalam buku ini adalah kedekatan peristiwa dengan pembaca. Seperti yang penulis sebutkan dalam pengantar bahwa semua kisah terinspirasi dari pengalamannya sendiri atau mendengar dari kisah orang lain.

Buku serius-santai ini sangat berguna bagi bathin pembaca. Dengan gambar lucu yang membuat tertawa pembaca, hati-hati membacanya jangan sampai dilirik orang.

Hayuh coba Bibimbap Tuna Pedas Alacin dari situs https://dapurmasak.com dan rasakan  nuansa persahabatan seperti Yeong Ok dan sahabatnya.

Bahan:
Nasi putih panas atau nasi merah        secukupnya
Tuna kaleng pedas                              1 kaleng
Wortel (iris korek api)                         secukupnya
Bayam                                                secukupnya
Ketimun (iris korek api)                       secukupnya
Tauge (cuci bersih, tiriskan)                 secukupnya
Telur (goreng mata sapi)                1 buah
Saus sambal botolan                2- 3 sdm
Blackpepper                1 - 2 sdt
Cabe rawit                 4 - 5 biji

Cara membuat:
1. Rebus sebentar secara bergantian wortel, bayam, tauge. Tiriskan. Tata di satu piring bersama dengan ketimun dan telur mata sapi.
2.  Aduk rata tuna, blackpepper, cabai rawit, dan saus sambal di tempat terpisah.
3. Masukkan nasi panas ke dalam mangkuk. Ratakan.
4. Tata topping sayur dan tuna di atas nasi kemudian tambahkan telur mata sapi. Sajikan 

Mirip nasi goreng ya...
Duh jadi lapar 
------------------>
Thx untuk kirimannya Noura Books.
Semula ingin membaca dan mereview buku pertama namun teledor tertinggal di kantor.  Jadilah dibaca  buku kedua dulu. Sepertinya tidak masalah karena kisah dalam buku ini tidak bersambung. Kita bisa mulai membaca kisah secara acak, tidak berurutan.

































2015 # 38: Scary Tales #3: Good Night, Zombie





Penulis: James Preller
Penerjemah: Nuraini  Mastura
Penyunting: Noor H. Dee
Penyelaras aksara: Lian Kagura, Novia  Fajriani
Penata aksara:Aniza Pujiati
Perancang sampul: Papersand Studio
ISBN: 9786020989419
Halaman: 114
Cetakan : Pertama-2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 34.000


Kau datang untuk menolong kami," ujar Esme. 
"Mengapa?" tanya Esme
Pria tua itu memandangi kabut. "Aku adalah petugas jaga malam,' ucanya, seakan-akan itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Sekitar 120 tahun yang lalu Sekolah Dasar Buzz Aldrin  didirikan. Lokasi tempat sekolah itu berada sungguh sempurna, sebuah padang rumput lapang di atas sebuah bukit. Hanya.... ada sebuah masalah yang menyebabkan malapetaka setiap 18 tahun. Ada sebuah kuburan terbengkalai di dekat lapangan bermain sekarang, kuburan tersebut terusik oleh pembangunan sekolah. Maka, setiap 18 tahun arwah yang mati bangkit untuk menghantui sekolah. Zombie. Hanya satu malam selama 18 tahun.Esok hari, begitu fajar menyingsing, kutukan tersebut akan hilang hingga 18 tahun lagi. Begitu seterusnya.

Carter, Esme dan Arnold tidak saling mengenal. Mereka memiliki kesamaan berada pada waktu yang salah di sekolah karena ingin mengambil benda yang tertinggal. Carter mengambil sepatu basket, Esme mengambil tugas sekolah, sementara Arnold mengambil buku pelajarannya. Mereka tanpa sengaja terkunci justru saat arwah-arwah tersebut bebas berkeliaran.

Mereka berusaha menyelamatkan diri dengan segala daya, termasuk nekat mengirim Carter untuk pergi mencari bala bantuan. Sayangnya mereka nyaris celaka akibat gagak yang mematuk kepala Carter dan menemukan darah serta daging segar di sana. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali bertahan hingga pagi hari.

Untunglah, seorang penjaga sekolah bernama Mr Van Der Klemp berada di sana membantu mereka. Ia yang menceritakan tentang kutukan tersebut. Ia juga yang membantu menyelamatkan Carter yang nyaris tertangkap Zombie. Sepertinya Mr Van Der Klemp sudah pernah berada dalam situasi serupa sehingga mampu bersikap sangat tenang.

Semula mereka mengangap Mr Van Der Klemp hanya mengarang cerita guna menakuti-nakuti mereka. Ketika tanpa sengaja mereka melihat beberapa sosok berjalan dalam kegelapan dengan menggunakan pakaian model lawas seperti untuk pergi ke pemakaman dengan beberapa burung gagak yang sibuk mematuki kepala, barulah mereka sadar bahwa  Mr Van Der Klemp tidak berbohong.

Ketiga anak tersebut harus mampu bertahan hingga matahari muncul dari peraduan. Bukan hal yang mudah mengingat mereka terkunci sejak pukul enam sore. Jika tidak.... ah jangan dibayangkan apa yang bakalan terjadi menimpa mereka. 

Semula bersembunyi di sekolah merupakan hal teraman menurut ketiganya. Apalagi setelah upaya Carter mencari bantuan gagal. Ternyata para zombie mengetahui keberadaan mereka yang menyerbu sekolah. Sekolah porak-poranda akibat peristiwa itu.
Dibandingkan dengan buku pertama, saya lebih menyukai kisah pada buku pertama. Lebih terasa kengeriaannya. Mungkin karena faktor U juga. Kisah dalam buku ini memang cukup seru, tapi kengerian yang ditimbulkan akibat rasa ketakutan selama satu malam kurang terasa. Aura menyeramkan dalam kisah ini tidak begitu terasa seperti kisah pada buku pertama, meski tetap seram.
Ilutrasi tetap menjadi hal yang menawan. Nuansa hitam putih yang dipadukan dengan aksen hijau makin membuat suasana menyeramkan yang diharapkan timbul tercapai.

Zombi yang biasanya terkesan menakutkan justru kurang begitu digambarkan menyeramkan. Keberadaan kawanan gagaklah yang membuat suasana menyeramkan terbangun.

Saya malah terusik dengan keberadaan sosok Mr Van Der Klemp yang bisa begitu tenang menghadapi keributan yang terjadi. Agak aneh saja. Bagi saya justru sosok yang seperti itu yang harus membuat kita waspada.

Disebutkan juga tentang Klaustrofobia  yang diderita oleh salah satu dari tiga anak tersebut.  Klaustrofibia adalah ketakutan terhadap tempat-tempat sempit dan berada di dalanya. Misalnya takut berada dalam lift, berada dalam peti dan sebagainya. Ketakutan tersebut akan hilang secara perlahan ketika penderita sudah tidak berada dalam kondisi yang menakutkannya. 

Sebagai bonus, terdapat bocoran buku keempat.
Penasaran seperti apa yaaa.
Menegangkan.






















-




2015 #37: Kretek dalam Kisah Cinta seorang Gadis



Judul asli: Gadis Kretek
Penulis: Ratih Kumala
ISBN: 9789792281415
Halaman: 275
Cetakan: Pertama-Maret 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 58.000

Rara Mendut merokok merupakan perwujudan dari penolakan untuk memenuhi keinginan Wiraguna untuk menjadikannya selir. Sebagai wanita dari kalangan rakyat biasa, Mendut juga ingin merasakan kebebasan menentukan pasangan hidup.

Dengan merokoklah, Rara Mendut menunjukkan perlawanan terhadap kesewenangwenangan Wiraguna. Merokok menjadi simbol perlawanan Mendut terhadap pengekangan terhadapnya. Perlawanan terhadap pihak oposisi yang mengurangi kebebasan dalam menentukan arah hidup.

(http://bukukretek.com/files/ju138g/perempuan-bicara-kretek.pdf)

Persahabatan Soedjagad dan  Idroes Moeria  awalnya merupakan persahabatan dengan dinamika persahabatan biasa. Tapi sejak muncul nama Roemaisa, maka keduanya bagaikan musuh bebuyutan. Tidak saja memperebutkan cinta tapi terus bersaing menjadi pemilik pabrik rokok terbesar.

Ketika Idroes membungkus  klobot  buatannya dengan kertas payung lalu memberi merek dagang dengan tulisan tangannya, Soedjagad mengeluarkan produk dengan kemasan sejenis. Sewaktu Idroes membuat rokok dengan merek  "Merdeka" karena saat itu kata tersebut sedang ramai diucapakan, maka Soedjagad  membuat merek "Proklamasi". Persaingan keduanya kadang menjadi tidak sehat tapi begitulah jika cinta sudah bicara.

Lintingan kretek putri Idroes  yang bernama Dasiyah  ternyata  jauh lebih nikmat daripada semua kretek yang dihasilkan oleh ayahnya. Dasiyah pun dianggap sebagai titisan Roro Mendut, yang ludahnya membuat rokok kretek buatannya menjadi bercita rasa tinggi. Dasiyah dan Idroes kemudian mengeluarkan produk baru yang diberi nama "Kretek Gadis".

Ternyata urusan persaingan keduanya juga menurun pada putri mereka. Dasiyah  sudah mempersiapkan penikahannya dengan seorang pemuda bernama Soeraja ketika mereka diciduk dengan tuduhan anggota PKI. 

Selama ini Soeraja memproduksi kretek dengan lambang  arit atas bantuan dari partai tersebut. Kretek Tjap Arit Merah. Ia hanya membayangkan jika produksinya dibuat dengan mempergunakan lambang yang sama dengan partai yang mau memberinya modal tentunya pengikut mereka akan membeli produknya. Meski faktanya ia tidak ikut partai tapi karena produknya maka ia dianggap mendukung setia. 

Dasiyah dan keluarnya dibebaskan karena ia dianggap hanya sebagai korban karena bertunangan dengan Soeraja. Julukan Gadis Kretek yang sudah melekat pada dirinya membuat ia bisa bebas. Namun sang ayah dilarang memproduksi rokok Merdeka lagi. Mereka benar-benar hidup dalam suasana sangat hati-hati.

Karena sesuatu dan lain hal, Soeraja justru menikah dengan putri Soedjagad. Ia bahkan mampu membuat namanya tertera di kemasan rokok yang diproduksi oleh Soedjagad. Apa peristiwa tersebut, dibaca saja dalam buku ini ya, seru lho.

Dalam usia tua dan sakit, Pak Raja justru menyebut nama  Jeng Yah. Nama tersebut membuat sang istri cemburu. Apalagi saat  mereka menikah, Dasiyah sempat membuat keributan. Sementara ketiga putranya Tegar, Karim dan Lebas  yang semula tidak mengetahui latar belakang sejarah keluarga, menanggap ini merupakan permintaan terakhir sang ayah sehingga mereka berupa untuk memenuhi impian terakhir sang ayah, mencari dan menemukan Jeng Yah.

Buku ini juga mengisahkan bagaimana upaya ketiganya mencari Jeng Yah hingga ke pelosok desa. Perburuan mereka  justru menemukan sebuah fakta menakutkan tentang asal-usul kekayaan keluarga mereka. Cinta sekali lagi terbukti mampu membutakan seseorang dari segala hal.

Dari sisi kover, buku ini menawarkan sesuatu yang sangat berbeda. Sosok seorang gadis yang sedang merokok. Ingatan saya langsung mengarah pada soso legendaris Rara Mendut. Ternyata kisah dalam buku ini juga bersinggungan dengan Rara Mendut meski hanya sedikit, pada bagian Dasiyah dianggap sebagai titisan Rara Mendut.

Halaman di balik kover depan dan belakang juga menawarkan nuansa masa lalu yang kental. Aneka gambar kemasan  kretek dipajang dengan latar coklat mengantar imajinasi kita menelusuri zaman kemasan produk-produk tersebut.

Halaman awal sudah berisi kalimat peringatan yang dahulu tercetak di bungkus rokok. Kalimat  peringatan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Meski buku ini berkisah tentang rokok kretek namun penulis tetap merasa perlu mencantumkan peringatan tersebut.

Dahulu ada anggapan  kretek klobot dapat menyembuhkan asma. Hal tersebut terkait dengan cengkeh yang terkandung di dalamnya. Jika ingin sembuh asma maka hisaplah kretek. Dikisahkan tentang awal mula terciptanya rokok kretek melalui percakapan Soeraja dengan Dasiyah. Pada tahun 1880-an hiduplah seorang lelaki bernama Jamari. Suatu ketika Jamari mengalami sesak napas, dan dia mencari cara untuk memasukkan cengkeh ke dalam paru-parunya. Jamari kemudian merajang cengkeh dan mencampurkannya dengan tembakau kemudian dilinting dengan klobot. Ketika api mulai menyulut dan menghabiskan lintingan itu, terdengar suara kretek-kretek akibat pembakaran cengkeh. Demikianlah asal mula rokok kretek. 

Saya juga sempat merasakan klobot karena penyakit asma yang saya derita, Tapi jangan tanya kenikmatan seperti apa yang saya rasakan. Menyalakannya saja membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa. Belum lagi mengisapnya. Atau karena pada dasarnya saya bukan seorang perokok jadi tidak bisa menikmati sensasi cengkeh masuk ke dalam paru-paru saya.


Pembaca juga diberikan tambahan pengetahuan mengenai kretek, sejarah kretek, cara membuat kretek mulai dari penggunaan daun jagung yang dikeringkan-klobot,  diisi tembakau plus cengkeh, klobot klembak menyan, hingga akhirnya menggunakan papier, kertas pembungkus campuran tembakau. Semuanya dijabarkan secara lengkap dalam buku ini.


Selain itu, pembaca juga mendapat gambaran mengenai persaingan usaha kretek saat itu, bagaimana taktik dagang agar mampu bertahan serta menjadi yang utama. Tengok apa yang dilakukan oleh  Dasiyah selama membuka stand di pasr malam.  Dasiyah memperkerjakan teman-teman gadis Rukayah, bukan penjaga laki-laki, untuk menawarkan rokok. Dengan demikian terkesan Kretek Gadis ditawarkan oleh para gadis.  Stand mereka ramai dikunjungi oleh pembeli karenanya. Startegi  tersebut bertahan hingga saat ini. Tengok saja para sales promotion rokok, sebagian besar merupakan sosok perempuan.

Dari sisi kisah, bagi saya penulis terlalu banyak memberikan porsi bagi urusan cinta segitiga antara Soedjagad-Idroes Moeria-Roemaisa. Bagaimana kedua pemuda tersebut bersaing, bagaimana ayah Roemaisa memberikan test bagi calon suami putrinya, sikap Idroes Moeria-Roemaisa ketika diundang menghadiri pernikahan Soedjagat. Bahkan hingga kisah bagaimana Idroes melampiaskan energi marahnya pada Soedjagad saat menggauli istri. 

Seharusnya porsi Gadis Kretek lebih banyak. Dengan demikian kisahnya menjadi lebih pas dengan judul yang ada. Bagaimana persaingan kedua gadis memperebutkan cinta Soeraja menjadi lebih seru.  Termasuk gambaran kekacauan yang ditimbulkan Dasiyah saat pernikahan Soeraja.

Uniknya penulis mengisahkan sebuah kejadian dari dua sisi, dimana jika ditelaah keduanya tidak terdapat titik kesamaan. Misalnya perihal  Idroes Moeria yang dikhabarkan ditanggap Jepang  hingga menelantarkan secara tidak sengaja  Roemaisa. Sementara dari sisi Soedjagad, justru Idroes pengecut karena melarikan diri karena takut pada Belanda hingga membuat Roemaisa menderita. Tiap bulan, Soedjagat memberikan uang belanja bagi Roemaisa sebagai bentuk tanggung jawab serta rasa kasihan. Sementara dari sisi Idroes, Soedjagat yang menggoda istrinya. 

Tapi begitulah sejatinya kisah jika diceritakan dari dua sisi, tidak akan ada kesamaan kisah dan persepsi. Tinggal yang mendengar, membaca yang memutuskan sendiri mana bagian yang benar dari tiap kisah.

Saya agak terganggu pada beberapa hal yang ada dalam buku ini. Misalnya penyebutan Kota M, kenapa tidak langsung menyebutkan nama kota yang dimaksud? Lalu ada beberapa bagian yang serasa tidak konsisten. Ketika iseng melihat review di GRI, saya menemukan sebuah link yang dapat mewakili ejanggalan yang saya rasakan.
Link tersebut adalah
https://www.facebook.com/notes/fajar-s-pramono/intrik-kretek-dalam-novel/10150758910257437
Terlepas dari seluruh kekurangan, buku ini sangat layak dibaca dan dikoleksi.

Sejak mulai membaca halaman pertama, saya merasa buku ini merupakan buku yang sangat layak dinikmati tapi susah untuk direview. Susah karena terlalu banyak hal indah yang terkandung hingga membuat saya bingung mau menonjolkan bagian yang mana. Semuanya menawan.

Dulu saya gagal mendapatkan buku ini karena munculnya bertepatan dengan salah satu buku yang merupakan genre saya. Belakangan melihat buku ini tergeletak menggoda di area diskon, langsung saya pindahkan dalam tas belanjaan. Jodoh memang tidak kemana.

Rokok kretek sempat mengalami kemunduran sebelum akhirnya bangkit seperti saat ini. Dalam http://www.sampoerna.com/ dikisahkan mengenai sejarah kretek.  Haji Jamhari wafat sebelum era produksi massal dari rokok kretek. Hal ini justru diteruskan oleh seorang warga Kudus yang lain, yaitu Nitisemito. Ia mengubah industri rumahan tersebut menjadi produksi massal melalui dua cara. Pertama, ia menciptakan mereknya sendiri, yaitu Bal Tiga, dan membangun citra merek tersebut. Pengembangan label-label produknya dicetaknya di Jepang dan berbagai hadiah diberikan secara cuma-cuma kepada perokok setianya bila mereka menyerahkan bungkus kosong produknya. Kedua, ia mulai mengerjakan berbagai tugas melalui subkontrak. Misalnya ada pihak yang menangani para pekerja, sedangkan Nitisemito menyediakan tembakau, cengkeh dan sausnya. Praktik bisnis seperti ini cepat diadopsi oleh pabrik rokok kretek yang lain dan berlanjut hingga pertengahan abad ke-20, ketika perusahaan-perusahaan mulai merekrut para karyawan sendiri untuk menjamin kualitas dan loyalitas. Pada era 1960-an, konsumsi kretek mandek dibandingkan rokok putih, karena dianggap memberikan para perokoknya citra yang lebih prestisius. Namun pada era 70-an, industri kretek mengalami revolusi, sehingga kretek dapat berjaya hingga hari.


Beberapa kali dalam buku ini disebutkan tentang Museum Kretek di Kudus. jadi tergoda buat ke sana. Apalagi biaya masuknya sangat murah! Kudus memang disebutkan sepakai tempat kretek berkembang. Dulu saat masih kuliah, beberapa teman saya merupakan atlet bulu tangkis dari beberapa klub di Kudus. Setiap pulang kampung mereka pasti membawa oleh-oleh kretek yang tidak ada di Jakarta. Dan laris manis jadi rebutan. Meski tidak dihisap, banyak yang menjadikannya sebagai koleksi semata. Begitu juga bekahan jiwa saya yang setiap berkunjung ke mana pun pasti membeli rokok untuk dikoleksi.


Jangan lupa mengunjungi http://komunitas kretek.or.id/. Komunitas menyuka kretek di tanah air jika tidak salah tanggap saya. Kita bahkan bisa membaca ebook terkait kretek dengan gratis dalam situs tersebut.

Sumber gambar: http://id.wikipedia.org