Jumat, 20 Februari 2015

2015 #25 :Kisah Hidup Perempuan Purworejo di Amerika




Penulis: Dian Nugraheni
Editor: Tingka Adiati
Perancang sampul: Wiko Haripahargio
Foto isi: Dokumentasi Dian Nugraheno 
ISBN-9789797097295
Halaman: 310
Penerbit:  Penerbit Buku Kompas
Harga: Rp 59.000

Banyak badai sudah datang padaku,
berkali-kali pelangi menghiburku,
bintang berkelip dan rembulan sering berbagi keindahannya denganku,

Matahari pun selalu bersedekah hangat padaku...
Jalani saja hidup apa adanya,
bekalilah dengan semangat menuju sesuatu yang lebih baik,
iklas dan berbagi senyuman tulus...

Maka, hidup akan terasa lebih indah...
Tak perlu baca garis tangan, Mam...
It;s my life ..., my own life ...
Salam Si Peramal

(Kena Tangkap Peramal)

Buku ini berjodoh dengan saya dengan cara yang unik. Pertama gambar hamburger yang menggoda perut saya, apalagi saat itu pukul 11.30 WIB pas khan. Kedua kata  yang membuatku teringat pada dua perempuan hebat yang aku kenal, MD dan DKW, mereka sama-sama perempuan  berasal dari serta  tinggal di daerah yang sama. Tentunya akan memberi inspirasi membaca tentang bagaimana perjuangan Dian menjalani hidup.  Tak butuh waktu lama guna menuntaskan buku ini tapi efek yang ditinggalkan saya yakin akan bertahan lama

Kisahnya tentang bagaimana seorang wanita bernama Dian Nugraheni yang memenangkan undian Green Card dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Dengan Green Card tersebut maka ia dan keluarga bisa tinggal secara legal di Amerika Serikat. Mereka juga bisa bekerja, bersekolah, melakukan hal lain secara dengan warga asli. Nyaris semuanya sama. Kecuali mengikuti pemilihan presiden. 


Ada enam bagian dalam kisah ini yang kurang lebih merangkum bagaimana kehidupan Dian bersama keluarganya di sana. Tiap bagian memiliki judul yang menggambarkan inti dari beberapa kisah yang ada dalam tiap bagian. Judul-judul tersebut adalah  "GE" Swalayan; Delli, Kedai Sandwich; Orang Amerika, Alam Amerika; Budaya Amerika; Sekolah di Amerika.

Dalam "GE" Swalayan dan  Delli, Kedai Sandwich Dian berkisah mengenai suka-duka bekerja pada kedua tempat tersebut. Budaya kerja yang sangat berbeda dengan yang Dian temui di tanah air membuatnya belajar untuk bersikap lebih profesional. Misalnya menolak tips karena hanya mengantarkan seorang wanita tua ke mobil. Senyum wanita tersebut lebih berharga bagi Dian dibandingkan tip.

Sikap sang bos baik di "GE" Swalayan atau Delli, Kedai Sandwich membuat Dian melihat bagaimana mereka melakukan pekerjaan dengan maksimal. Tak segan turun ke lapangan langsung. ".... manajer di sini kerjanya bukan duduk dan rapat, tapi tiap hari turun ke lantai toko." Padahal manajer tersebut menggunakan dasi dan jas gaya namun tak segan membantu pelanggan, memilih barang yang tidak layak jual.

Membaca bagian tentang Delli, Kedai Sandwich tidak saja membuat kita mengetahui betapa kerja keras, kecepatan serta kerja sama sangat dibutuhkan dalam pekerjaan terkait makanan cepat saja. Tapi pembaca juga mendapat pengetahun tentang aneka  daging, sayuran serta Sandwich. Misalnya jika ingin Sandwich yang sama sekali tidak mengandung babi mintalah Kosher Sandwich, meski memasaknya belum tentu aman

Favorit saja adalah kisah Ketika Aku di Kamar Mandi pada halaman 179-184. Kisahnya sebenarnya sederhana tentang bagaimana ritual Dian membersihkan kamar mandi. Kamar mandi sepertinya menjadi tempat berkumpul yang hangat bagi keluarga mereka. Rak besi stainless yang ada penuh dengan buku-buku dan perlengkapan untuk kamar mandi seperti tisu. Dian dan suaminya sering duduk mengobrol sambil makan makanan ringan dan merokok di sana. Maka konsekuensinya ia harus membersihkan atap yang menguning terkena tar dari asap rokok. Kamar mandi bukan menjadi tempat yang jorok tapi justru di sana keluarga ini membina keakraban dan kebersamaan.
 
Ada juga bagian yang membuat kita meringis terharu. Misalnya ketika beberapa pekerja mengetahu Dian adalah seorang sarjana. Menurut mereka aneh saja seorang sarjana mau melakukan pekerjaan seperti mereka yang tidak bisa baca tulis di "GE" Swalayan. Mereka sempat melecehkan Dian. Berkat campur tangan sang manajer suasana bisa kembali seperti semula. Dian mendapat julukan Mrs Lawyer Chocking the corn karena peristiwa itu.

Kisah Bule Itu Pelit pada bagian Orang Amerika memberikan pelajaran pada saya untuk lebih bisa mengatur uang. Dulu saya begitu ketat mengatur uang karena keterbatasan dana, sekarang setelah agak tenang saya justru seakan ingin menebus saat itu, terlalu longgar. Dian memberikan saya pelajaran bahwa irit itu beda dengan pelit. Bule di sana tidak malu memunguti uang receh yang jatuh, membayar sesuai harga dan meminta kembalian meski hanya uang receh. Di tanah air, orang takut memungut uang jatuh karena beranggapan akan menderita karena itu uang "panas" belum lagi rasa malu.  

Jika ada yang pernah mendengar bagaimana seorang Melly Goeslow membeli bodylotion untuk kulit keringnya dengan uang receh yang dikumpulkannya ketika ia dan Anto Hoed tidak memiliki uang. Atau ada yang ingat tentang Koin untul Prita? Uang receh yang sering dianggap sepele justru berguna jika dikumpulkan dalam jumlah besar.

Saya bisa mengerti kenapa kedua anak Dian lebih menyukai tinggal dan bersekolah di sana. Bagaimana tidak, pada kisah  Senyum Sang Monalisa di bagian Sekolah di Amerika, dikisahkan bahwa setiap anak diharuskan menerbitkan buku sendiri. Entah itu kumpulan puisi, kumpulan gambar bahkan komil. Masing-masing anak akan membukukan karyanya dengan tampilan kertas berkilap dan hard cover. Kemudian anak-anak yang berbakat akan mendapat guru yang sesuai dengan bakatnya. Dan semuanya bebas biaya. 

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugus membuat kisah ini justru menarik. Saya serasa tidak membaca sebuah buku tapi bercerita, curhat dengan sesama perempuan. Dari cara penulisan judul di kover saja kita bisa merasakan keceriaan seorang Dian. Tengok kata "Beibeh" yang ditulis dengan cara pengucapan.

Amerika memang sering identik dengan hamburger. Pada kover tercetak gambar hamburger. Setelah membaca buku ini saya menyadari kedekatan Dian dengan hamburger. Pas sekali menempatkan hamburger pada kover, selain ikon Amerika juga mengisyaratkan peranan hamburger dalam kehidupan Dian.

Saya tertawa saat membaca bagaimana Dian salah menyebutkan Foggy Bottom menjadi Bikini Bottom. Saya ikut panik ketika harus membantu memilih nanas yang manis bersama Dian di "GE" Swalayan. Terharu bersama Dian ketika membaca kartu Hari Ibu yang disiapkan oleh kedua anaknya. Terharu ketika mengetahui kedua anak manis tersebut terlalu sungkan meminta baju dan sepatu baru padahal yang lama sudah tidak muat. 

Pada tiap akhir kisah, Dian menuliskan semacam kesan atau pesan terkait kisah yang baru saja ditulisnya. Justru hal ini yang makin membuat kisahnya menjadi luar biasa.

Sebenarnya saya merasa Dian orang yang sangat berkompromi dengan kehidupan ini. Kisah dukanya mengenai kehidupan di sana selalu dibarengi dengan kisah bagaimana ia membuat duka menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bagaimana Dian mengubah rasa pegal sehabis seharian mengupas jagung menjadi sesuatu yang menyenangkan misalnya.

Dian juga tidak malu mengakui bahwa kemampuan bahasanya minim hingga sang anak yang harus menjadi pendamping saat menghadiri pembagian rapor. Bahasa yang sering dianggap kendala terbesar oleh mereka yang ingin mengadu nasib di luar negeri menjadi hal yang mudah bagi Dian. Bagi Dian nekat berbicara membuatnya cepat pandai dari pada diam ketakutan dan tak mau bicara.

Sayangnya saya kurang menemukan hal apa yang sangat membuat kehidupan di sana berat. membaca buku ini membuat saya merasa bahwa semua kesulitan yang ada tidaklah sebegitu sulitnya.Entah karena kepribadian Dian yang pantang menyerah atau memang begitu. 

Padahal Dian bisa mengungkapkan kisahnya dengan lebih mendalam lagi. Hingga tidak hanya kesenangan dan kompromi menjalani kehidupan yang disuguhkan pada pembaca, tapi juga beratnya kehidupan di sana.

Dian juga tidak mengungkapkan hal-hal apa saja yang harus dipersipakan sebelum berangkat, serta berbagi ilmu tentang  proses bagaimana ia memenangkan undian.

Meski bersifat pribadi, tapi saya sangat ingin tahu bagaimana kondisi Dian menghadapi situasi dimana suaminya meninggal. Bagian ini memang merupakan rana pribadi, tapi maafkan saya jika menjadi usil ingin tahu. Hal ini disebabkan pada beberapa bagian Dian menyebutkan tentang suaminya, namun di bagian yang lain sama sekali tidak menyebutkan tentang suaminya. Justru jika Dian berkenan berbagi kisah, bagian ini yang membuat saya penasaran.

Seorang ibu tunggal membesarkan dua anak di negara adidaya bukanlah hal yang mudah. Tapi tentunya hal tersebut bisa mengansipirasi banyak pembaca untuk hidup tegar.

Foto-foto Dian bersama kedua anaknya di bagian akhir buku membuat saya tersenyum. Terlihat sebuah keluarga bahagia. Sayangnya foto yang ada kurang banyak. Akan lebih menyenangkan jika pada tiap kisah terdapat foto sehingga pembaca kian merasa dekat dan menghayati  kisah yang Dian uraikan.

Pada salah satu pembuka kisah, terlihat sekali kecintaan dan kerinduan Dian akan tanah air.
"Aku dan anak-anakku pindah ke sebuah rumah mungil di bawah kaki gunung di kota kami, beberapa bulan sebelum kami hijrah ke Amerika. Rumah mungil itu berada di sebuah perumahan.... Bila pagi datang, tampak kabut pegunungan masih membungkus alam sekitar, udaranya masih sangat sejuk." Sepertinya saya tahu gunung apa yang dimaksud.   

Undian Green Card diciptakan oleh pemerintah AS untuk diversifikasi penduduk Amerika . Hal ini dilakukan dengan memberikan 50.000 kartu hijau setiap tahun ke negara-negara yang tidak biasanya mengirim banyak imigran ke AS. Selain persyaratan geografis ini ,  juga harus memiliki setidaknya pendidikan sekolah tinggi atau , dalam lima tahun terakhir , dua tahun pengalaman kerja dalam pekerjaan yang membutuhkan setidaknya dua tahun senilai pelatihan atau pengalamanMasa pendaftaran untuk undian  ini adalah dari Oktober sampai awal  Desember. hasilnya akan muncul sekitar bulan Mei, Terpenting tidak dipungut biaya.  Untuk lebih lanjut perihal hal ini silahkan mengunjungi  http://www.usagreencardlottery.org

Dian Nugraheni lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 7 Desember 1969. Sarjana Hukum di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1994. Saat ini, penulis tinggal di Virginia, Amerika Serikat, bersama kedua anaknya Cedar Iman dan Almasita Nan Pekerti

Sumber gambar:
http://latrinews.blogspot.com/2010/04/bukit-menoreh.html

Kamis, 19 Februari 2015

2015 #24: Berani bermain Erebos?

Penulis: Ursula Poznanski
Penerjemah: Puti Kellerman
Penyunting: Putra Nugroho
Penyelaras aksara: Nur Irawan
Penata Aksara: Axin Makruf
Desain cover: Vincen
ISBN: 9786021606889
Halaman: 588
Cetakan: Pertama-Januari 2015 

Penerbit: Noura Books
Harga: Rp: 79.000

Pada akhirnya, kita semua akan mati. Aneh, kenapa banyak orang yang membesar-besarkan kematian, apakah terjadi lebih cepat atau lambat. Waktu mengalir seperti air dan kita ikut mengalir, walaupun kita berusaha keras untuk berenang melawan arus. 

Pernah berada dalam situasi yang aneh di sekolah? Banyak yang sibuk berbisik-bisik, saat kau mendekat mereka langsung mengalihkan topik. Ada yang bergegas membubarkan diri seakan-akan kau adalah semacam virus mematikan yang harus dihindari.Bahkan sahabat karibmu juga berbuat hal yang sama. Pernah?

Nick Dunmore  pernah!
Bermula dari rasa penasarannya ketika Colin sahabatnya mendadak bertingkah aneh, bahkan rela meninggalkan latihan basket yang sangat digemarinya. Belum lagi fakta sang sahabat mendadak menjadi akrab dengan siswa yang selama ini tidak masuk dalam jajaran sahabatnya. Semuanya menjadi serba misterius.

Keanehan tersebut menjadi jelas ketika Nick mendapat sebuah CD dari seorang gadis bernama Brynne. Ternyata CD itu yang menyebabkan keanehan yang terjadi di sekolah. Selama ini nyaris seluruh sekolah terkena dampak dari tentang CD tersebut yang katanya berisi sebuah permainan canggih.

Permainan tersebut diberi nama Erebos. Ada empat peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap pemain.
1. Setiap pemain hanya punya satu kali kesempatan untuk bermain. Jika menyia-nyiakan, karakternya     mati atau melanggar peraturan maka permainan akan dihentikan dan sang pemain tidak bisa           
melanjutkan. 
2. Apabila sedang bermain pastikan sedang sendiri. Jangan pernah menyinggun nama asli di  
permainan, jangan pernah menyinggung nama karakter permainan di luar permainan.
3. Permainan tersebut bersifat rahasia. Jangan pernah membicarakan dengan siapapun terutama 
mereka yang tidak bermain. Dengan sesama pemain diperkenankan membahas jika duduk di api 
unggun. Dilarang pula menyebarkan informasi tentang permainan ini.
4. Simpan CD tersebut di tempat yang aman dan jangan menggandakannya kecuali diperintahkan. 

Butuh waktu lumayan untuk mulai bermain. Semula Nick mengira ada yang salah dengan program atau komputernya. Proses instalasi berjalan lambat.  Ia lalu mengetik "p#434<3xxq0jolk->fi0er entah kebetulan atau memag sudah selesai proses unduh, permainan segera dimulai. Dalam permainan tersebut Nick menjadi Dark Elf.

Erebos seperti bisa membaca pikiran pemainnya.
Permainan tersebut menjadi suatu yang menakutkan. Nick sudah terikat dengannya. Sepulang sekolah ia langsung bermain bahkan kadang hingga nyaris dini hari. Nick bermain tak kenal waktu, tidak peduli situasi sekitar. Bahkan Nick mulai melakukan hal-hal yang tidak biasa atas perintah Pembawa Pesan agar ia bisa naik level.

Aneka rintangan juga ditemui dalam permainan tersebut. Ada juga yang berurusan dengan pembasmian hewan menakutkan, wujudkan kadang tak terduga, seperti domba misalnya. Sekilas wujudnya seperti domba. Namun moncongnya lebar dan maju ke depan dengan gigi setajam jarum di mulut. Gigi-gigi tersebut terbuat dari besi sepanjang pisau daging. Jika bernasib sial terkena gigitannya maka bisa dipastikan akan berada dalam kondisi menyedihkan atau mati, yang berarti harus meninggalkan permainan tersebut.

Jika memang dalam pertarungan, pemain akan memperoleh sebuah Kristal yang membuat sang penarung boleh meminta apa saja. Bahkan jika permintaannya berhubungan dengan dunia luar. Karakter Nick tidak menginginkan apapun tapi Nick Dunmore punya keinginan.

Nick Dunmore berharap Emily Carver, gadis yang menawan hatinya berpisah dari Eric Wu. Dia ingin agar mereka tidak lagi berpacaran.  Erebos mewujudkan harapan Nick, tapi dengan cara yang menkutkan hingga Nick sendiri berharap ia tidak pernah mengajukan keinginan.

Tujuan permainan itu sangat jelas. Mencari prajurit terkuat, terbaik dan tidak peduli orang lain. Mereka harus melawan siapa saja yang ingin menghentikan Erebos, serta mempersiapkan diri untuk pertempuran akhir menghancurkan monster jahat bernama Ortolan.

Jangan harap bisa mengelabui game tersebut. Jika gagal menjalankan perintah maka seorang pemain akan ditendang dari game.  Dan itu artinya ia sudah tidak bisa bermain lagi Karena peraturan dengan jelas menyebutkan hanya ada satu kali kesempatan untuk bermain. Mick sudah pernah membuktikannya.

Belakangan, Nick merasa ada yang aneh dengan teman-temannya yang memainkan permainan tersebut. Beberapa berada dalam kondisi menyedihkan seakan takut akan sesuatu hal. Ditambah rasa bersalahnya pada Eric Wu, membuat ia berada dalam dilema. Mau meneruskan tapi takut, mau mundur tapi ia terlanjur menyukai permainan tersebut. Permainan yang semula menyenangkan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Untuk menggambarkan betapa menakutkannya permainan tersebut, penulis  menghadirkan sosok seorang gadis Turki berjilbab. Aisha, nama gadis itu begitu terjerat dengan Erebos, ia begitu ketakutan dikeluarkan dari permainan.  Terlalu takut hingga mau melakukan apa saja agar bisa bertahan, jika bisa naik beberapa level. Ia menyebarkan kabar bohong bahwa ia digrayangi, nyaris diperkosa oleh salah seorang murid. Sosoknya yang selama ini dikenal santun membuat orang percaya saja pada ceritanya. 

Bagian tersebut membuat saya merenung. Apakah tidak menimbulkan masalah penulis menciptakan sosok Aisha? Meski secara pribadi jika saya dalam berada di sana, saya bisa saja percaya pada Aisah yang bercerita sambil menintikan air mata. Semoga tidak ada yang beranggapan penulis melakukan pelecehan karakter dengan menciptakan sosok Aisha. walau bohong, meski bukan perbuatkan yang baik bahkan dilarang, bisa dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh seorang gadis Turki.

Kisahnya memang mengambil seting sebuah permainan komputer atau dikenal dengan games. Tapi sesungguhnya penulis memberikan sebuah pelajaran bahwa hidup ini harus dijalani dengan jujur. Sekali berbohong maka akan ada kebohongan-kebohongan lagi. Akan ada akibat fatal yang harus kita terima dari perbuatan tersebut. Berbuat curang dengan mengakui hasil karya orang lain bisa berdampak buruk tidak saja bagi diri pribadi juga bagi pihak yang karyanya dicuri serta keluarganya. 

Kasih orang tua memang tiada tandingan. Bahkan kadang diwujudkan dengan cara yang salah. Tapi tidak ada yang bisa menyebutkan kasih seorang ayah pada anaknya adalah sebuah kesalahan. Yang salah hanyalah cara mewujudkan rasa kasih sayang itu dalam sebuah tindakan.

Di beberapa halaman, kita bisa menemukan semacan renungan dari orang ketika, pengamat. Isinya jika ditelaah lebih dalam berisi tentang petuah kehidupan yang terkait dengan peristiwa yang terjadi dalam bab tersebut. Hal yang unik jika menilik pada bagian awal bab tersebut pembaca disuguhi dengan kisah baku hantam dalam permainan tersebut. 

Saya juga mendapat pengetahuan tentang kata baru seperti Unting  dan Merepih. Setidaknya perbendaharaan kata saya bertambah dua.

Kekurangannya adalah penulis terlalu berkonsentrasi pada berlangsungnya permainan tapi membuat akhir yang kurang dramatis. Memang kisahnya diakhiri dengan sesuatu yang menawan, tapi saya merasa seharusnya bisa lebih spektakuler lagi. Terutama bagian bagaimana akhirnya Nick dan teman-temannya bisa mengungkap siapa yang berada di balik permainan itu.

Karena saya bukan penggemar permainan komputer agak susah bagi saya untuk mencerna informasi tentang bagaimana permainan ini berlangsung, serta bagaimana seseorang bisa begitu terobsesi pada permainan ini. Tapi hal tersebut tidak menjadi kendala bagi saya untuk menikmati kisah yang menarik ini. Suatu kisah yang menyegarkan setelah sekian lama berurusan dengan tema nyaris seragam.
Sang Penulis

Pada kover tertulis Pemenang Penghargaan buku di Jerman. Ada baiknya disebutkan penghargaan apakah itu sehingga pembaca bisa lebih mengetahui. Rasa kagum pada penulis bisa bertambah dengan mengetahui bahwa buku yang dibacanya ternyata pendapat penilaian dalam bidang tertentu.

Saya memberikan bintang empat dari lima bintang. bagi pembaca kisah fantasi yang bosen berurusan dengan sang terpilih, pembasni kejahatan ala super hero, maka buku ini sangat layak dibaca dan dikoleksi.
Erebos dalam mitologi Yunani merupakanDewa Kegelapan dan personafikasinya. Perlambang bagi kegelapan, terkait dengan dunia bawah, alam kematian. Erebos lahir dari kedalaman kegelapan tak bercahaya.  Jika menilik kover buku ini, maka klop sudah. Nuansa menakutkan sudah terwakili dalam kover ini.

Sumber gambar:
http://thegang.mediaspice.net/180313/erevos-vivlio-thriler-gia-pio-mystiriodes-videogame-olon-ton-epohon

Jumat, 13 Februari 2015

Review 2014#23: Tales From The Five Kingdoms #2: The Bag of Bones

Penulis: Vivian French
Ilustrasi: Ross Collins
Penerjemah: Jia Effendi
Penyunting: Riendias
Pewajah isi: Nurhasanah Ridwan
ISBN: 978-602-14402-6-1

Halaman: 252
Cetakan: 1-Januari 2015  
Penerbit: Atria
Harga: Rp 45.000

Dua Jiwa Sejati bekerja sama, kekuatan tak terkalahkan.

Dua Jiwa Sejati bisa menjadu kombinasi yang kuat dan bisa mengubah jalan sihir Dalam

Kembali Gracie, Gubble, Pangeran Marcus, Marlon serta Alf berada dalam sebuah petualangan seru di Lima Kerajaan. Kali ini ada seorang tokoh tambahan, Loobly Higgins seorang anak yang berada dalam pengawasan Buckleup Brandersby yang kejam.

Looby diletakan di depan pintu panti dengan menyebutkan kalimat "Looby Kotor" berulang kali. Satu-satu benda yang ada dalam keranjang tempat ia dibawa hanyalah sebuah sepatu dari bahan satin.

Kisahnya dimulai dari Penyihir Agung Wadingburn yang sedang merayakan Festival Belanga  dengan penyihir lainnya. Salah seorang penyihir, Nona Scurrilous mengajak neneknya yang sedang tinggal sementara untuk ikut menghadiri festival tersebut. Ternyata sang nenek,  Truda Hangnail merupakan Penyihir Dalam Sangat Dalam. Hal ini agak mengkhawatirkan yang lain karena mempraktekan Sihir Dalam tidak diperkenankan di Lima Kerajaan. 

Dalam Festival Belanga, penyihir Agung Wadingburn Evangeline membawa  Loobly Higgins untuk membantunya. Alih-alih membantu, Loobly malah sibuk mengurus tikus yang dibawanya.  Tapi karena kesibukannya itu maka ia aman dari pengaruh Sihir Dalam dan berhasil kabur dari kejaran Truda. 

Tugasnya sekarang berubah. Ia harus menuju ke Pitarah Purba untuk mencari pertolongan.  Untungnya Marlon serta Alf  berada dekat tempat kejadian hingga bisa membantu Loobly.  Sang Purba sudah merasakan ada sesuatu yang janggal. Gracie, Gubble sertaPangeran Marcus berusaha menyelidiki apa yang terjadi. 

Tujuan utama Truda adalah membuat Ratu Bluebell Kedua Puluh Delapan memilihnya sebagai penggantinya dan mengumumkannya di Pesta Dansa Deklarasi. Sang ratu yang tidak memiliki ahli waris perempuan.  Putri melarikan diri dan sang ratu hanya memiliki cucu laki-laki. Dan ia sama sekali tak ingin mengubah tradisi yang ada dengan mengangkat raja. Untuk itu pada perayaan ulang tahun ke delapan puluh  ratu ingin mengumumkan siapa anak perempuan yang menjadi penggantinya.

Ternyata siasat Truda sangatlah licik. Ia mengubah para penyihir menjadi seukuran tikus dan memaksa mereka untuk menyusup ke istana Ratu Bluebell untuk mengacaukan pesta yang dirancangnya. 
Jadi siapa yang dipilih oleh Ratu Bluebell? Tebak dan temukan jawaban yang benar dalam buku ini. Tebakan saya akan sosok yang menggantikan sang ratu ternyata salah.

Bagi saya, buku ini mengusung tema yang berbeda dengan buku pertama. Tokoh memang ada yang sama, setting cerita apa lagi. Kisah kali ini lebih mengusung tema bahwa kita tidak pernah tahu siapkah diri kita sebenarnya, bahkan kadang kita adalah sosok yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan. 

Pesan moral yang terkandung tetap sama, pada dasarnya setiap kebaikan akan menang melawan kejahatan. Kebaikan akan menghasilkan buah yang manis. Pertolongan bisa saja diperoleh dari pihak yang tak terduga. 

Tokoh jahat bagaimana juga akan mendapat balasannya. Sosok pengelola panti yang kejam  tidak saja kehilangan uang tapi juga mendapat hukuman dari ratu atas perlakuan kejamnya pada anak-anak.


Mungkin hanya perasaan saya saja, tapi saya lebih menyukai kisah pada buku pertama dibandingkan yang kedua. Penulis seakan memaksakan keberuntungan seseorang. Seperti semua sudah sewajarnya berjalan seperti itu. 

Karakter Loobly rasanya tidak cukup greget. Ia seakan ada sebagai salah satu bagian dari kisah hanya agar  ada dua anak perempuan yang bisa dikatakan sebagai dua Jiwa Murni.

Meski demikian, ini merupakan kisah yang layak dibaca. Menghibur. 
















Senin, 09 Februari 2015

Review 2015 #22: Sekolah Kebaikan vs Sekolah Kejahatan

Judul: The School For Good And Evil
Penulis: Soman Chainani
Pengalih bahasa: Kartika Sofyan
Penyunting: Agatha Tristanti
Penata letak: Veranita
Desain: Yanyan Wijaya
Ilustrator: Iacopo Bruno
ISBN-10:6022497566 
ISBN13: 9786022497561
Halaman: 580
Cetakan: 2-Desember 2014
Penerbit: Bhuana Sastra
Harga: Rp 84.000


Dua menara bagai kepala kembar
Satu untuk yang tulus,
Satu untuk yang keji,
Sia-sia mencoba kabur
Satu-satunya jalan keluar adalah
Melalui dongeng ....

Garis antara dogeng dan kehidupan nyata memang sangat tipis

Lucu!
Menghibur kisahnya. Saya tertawa lepas membaca kisah tingkah polah dua gadis yang sibuk meyakinkan dunia. Yang satu sibuk membuat seluruh orang di sekolah percaya dia adalah anak baik dan layak menjadi putri. Sementara yang lain sibuk mengajak pulang ke desa dan mempererat persahabatan keduanya.

Jadi setiap empat tahun, malam kesebelas pada bulan kesebelas Desa Gavaldon bersiap menyambut kedatangan Sang Guru. Akan ada dua anak yang dibawa untuk ditempatkan ke Sekolah Kebaikan serta Sekolah Kejahatan lalu setelah mendapat pelajaran yang sesuai keduanya lulus sebagai dongeng.  Begitu seorang anak dipilih, maka ia tak akan menemui keluarganya lagi. Bagaimana akhir dongeng tersebut tergantung sang anak. 

Salah satu alumnus Sekolah Kebaikan yang tersebut  adalah Jack, yang terkenal dengan kisah kacang ajaibnya. Sementara dari Sekolah Kejahatan ada Serigala dalam kisah  Si Tudung Merah.

Jika anak-anak lainnya di Gavaldon takut diculik, maka tidak dengan Sophie. Ia memimpikan diculik dan dibawa ke Sekolah Kebaikan. Sophie merupakan gadis yang sangat memperhatikan penampilannya. Rutinitas perawatannya bisa menghabiskan waktu yang cukup lama. Dimulai dengan   mengulaskan telur ikan pada kulitnya guna menghilangkan noda di wajah, pemijatan menggunakan labu dan dibilas susu kambing. Selanjutnya masker melon dicampur kuning telur puyuh. Tak ketinggalan meminum jus timun guna membuat kulitnya menjadi halus dan lembab. 

Bertolak belakang dengan Sophie, Agatha merupakan gadis yang tidak  memperhatikan penampilannya. Rambut Agatha hitam berbentuk kubah konyol tampak seperti dilumuri minyak. Gaun hitamnya mengembung tanpa lekukan, kulitnya pucat menyeramkan dengan tonjolan tulang. Wajahnya cekung dengan mata kepik. 

Penculikan berlangsung tanpa bisa dihindari. Celakanya Sophie dikirim ke Sekolah Pendidikan Kejahatan Dan Pengembangan Dosa untuk belajar menjadi penyihir kejam atau troll buntung serta cara menerapkan kutukan dan merapalkan mantra jahat. sementara Agatha dikirim ke Sekolah Pencerahan Dan Pesona Kebaikan untuk belajar cara menjadi pahlawan dan putri, bagaimana cara memimpin kerajaan secara adil, bagaimana cara menemukan Kebahagiaan Abadi. Bertolak belakang dengan apa yang selama ini diperkirakan.

Bagaimana saya tidak tertawa. Sophie mematahkan anggapan bahwa murid Sekolah Kejahatan harus berpenampilan buruk. Ia berlenggak-lenggok dengan gaun hitam modifikasi berbagai bahan. Rambutnya berkilau terkena cahaya. Ia menumpahkan air di lantai sebagai ganti cermin yang tak ada di Sekolah Kejahatan. Sophie merupakan penampakan sosok jahat yang memukau. Sementara Agatha menjadi sosok kebaikan yang bisa-biasa saja. Ia malah tidak mengikuti kelas kecantikan yang menjadi favorit para putri yang ada di Sekolah Kebajikan.

Seluruh kisah dalam buku ini memang mengisahkan tentang bagaimana Sophie berusaha membuktikan ia baik yang berarti ia berada di sekolah yang salah, plus ia berharap bisa memikat hati seorang pangeran jika pindah sekolah. Sementara Agatha yang merasa ia berada di sekolah yang salah meski tidak ingin berada di Sekolah Kejahatan terus berupaya mengajak Sophie kembali ke desa. 

Tapi terlepas dari unsuran hiburan yang diusung dalam kisah ini, sebenarnya jika ditelaah lebih dalam ada filsafat kehidupan dalam kisah ini. Tengoklah Agatha yang selama ini dianggap jahat karena penampilannya tidak cantik justru berulang kali membantu dan menyelamatkan Sophie. Hal ini memberikan sentilan pada pembaca agar tidak selalu menilai seseorang dari tampilannya saja. Hanya Jahat yang sangat kejam yang mampu menyerupai Kebaikan, merupakan ungkapan yang harus kita maknai dengan bijak. Tidak selamanya sosok yang cantik, enak dipandang menawarkan kebaikan. Bisa sebaliknya jika menilik kasus Sophie dan Agatha.

Pada awalnya saya sempat bingung dengan urusan penculikan dua anak tersebut. Tapi kita akan diberikan penjelasannya nyaris pada tengah kisah. Agak terlambat juga, tapi minimal bisa membuat pembaca lebih mengikuti jalan ceritanya. Terutama memahami asal muasal terjadinya penculikan anak-anak di desa mereka.

Tokoh favorit saya dalam buku ini adalah Sophie. Mungkin dalam diri kita ada bagian kecil Sophie tanpa kita sadari. Sophie pantang mundur berusaha meraih apa yang ia inginkan. Ambisius, cerdik dan pantang mundur. Berapa diantara kita yang pantang mundur mendapatkan sesuatu? Tidak mau menerima kenyataan bahwa yang kita peroleh ternyata berbeda jauh dengan yang kita harapkan? Sepanjang saat Sophie menolak kenyataan dia sangat cocok mencerminkan siswa Sekolah Kejahatan hanya karena ia menjaga penampilannya.

Makin ke belakang saya makin menangkap pesan serius yang ingin disampaikan penulis tentang bagaimana sebaiknya kita menilai seseorang. Bisa saja musuh justru berada dekat dengan kita. Tertawa memang masih tapi tidak sebanyak awal kisah. Saya justru jadi merenung. Penulis menyampaikan pesan mengenai kehidupan dengan cara yang unik.

Hanya saja, sebentar. Mendadak kok saya mulai merasa tidak nyaman mulai pada halaman 578. Sebuah ciuman memang ada harganya, seperti kisah Putri Salju yang dihidupkan berkat ciuman pangeran. Tapi siapa yang mengira ciuman tersebut dilakukan oleh pohak yang tak terduga. Mengagetkan!

Meski saya sangat menghormati urusan hati, tapi apakah layak buku ini diperuntukan semua umur? Bukankah lebih baik ditulis untuk 17+ mengingat bagian akhir kisah menunjukan kisah percintaan yang tidak umum. Kalimat, "Siapa yang butuh pangeran dalam dongeng kita." bisa menjadi petunjuk apa yang saya maksud.

Sebagai selingan, buku ini juga mengandung ilustrasi menarik yang bisa kita temui disetiap pergantian bab. Ilustrasi tersebut dibuat dengan mengambil salah satu bagian yang paling menarik dari bab tersebut. Meski bentuknya tidak besar hanya menempati pojok kanan bawah halaman tapi lumayan menghibur mata.

Kabarnya kisah ini sudah diterjemahkan dalam 22 bahasa. Dan dalam waktu dekat kita bisa menikmati versi layar lebarnya melalui sentuhan tim dari Universal Studio. Saya tak sabar ingin melihat bagaimana Sophie mengubah seragam hitam Sekolah Kejahatan menjadi sebuah gaun elegan dan berkelas. Bagaimana upaya ia menarik hati pangeran pujaannya. Juga bagaimana ia yang mengaku baik ternyata mendapat peringkat pertama di kelas kejahatan. Kocak.