Jumat, 20 Februari 2015

2015 #25 :Kisah Hidup Perempuan Purworejo di Amerika




Penulis: Dian Nugraheni
Editor: Tingka Adiati
Perancang sampul: Wiko Haripahargio
Foto isi: Dokumentasi Dian Nugraheno 
ISBN-9789797097295
Halaman: 310
Penerbit:  Penerbit Buku Kompas
Harga: Rp 59.000

Banyak badai sudah datang padaku,
berkali-kali pelangi menghiburku,
bintang berkelip dan rembulan sering berbagi keindahannya denganku,

Matahari pun selalu bersedekah hangat padaku...
Jalani saja hidup apa adanya,
bekalilah dengan semangat menuju sesuatu yang lebih baik,
iklas dan berbagi senyuman tulus...

Maka, hidup akan terasa lebih indah...
Tak perlu baca garis tangan, Mam...
It;s my life ..., my own life ...
Salam Si Peramal

(Kena Tangkap Peramal)

Buku ini berjodoh dengan saya dengan cara yang unik. Pertama gambar hamburger yang menggoda perut saya, apalagi saat itu pukul 11.30 WIB pas khan. Kedua kata  yang membuatku teringat pada dua perempuan hebat yang aku kenal, MD dan DKW, mereka sama-sama perempuan  berasal dari serta  tinggal di daerah yang sama. Tentunya akan memberi inspirasi membaca tentang bagaimana perjuangan Dian menjalani hidup.  Tak butuh waktu lama guna menuntaskan buku ini tapi efek yang ditinggalkan saya yakin akan bertahan lama

Kisahnya tentang bagaimana seorang wanita bernama Dian Nugraheni yang memenangkan undian Green Card dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Dengan Green Card tersebut maka ia dan keluarga bisa tinggal secara legal di Amerika Serikat. Mereka juga bisa bekerja, bersekolah, melakukan hal lain secara dengan warga asli. Nyaris semuanya sama. Kecuali mengikuti pemilihan presiden. 


Ada enam bagian dalam kisah ini yang kurang lebih merangkum bagaimana kehidupan Dian bersama keluarganya di sana. Tiap bagian memiliki judul yang menggambarkan inti dari beberapa kisah yang ada dalam tiap bagian. Judul-judul tersebut adalah  "GE" Swalayan; Delli, Kedai Sandwich; Orang Amerika, Alam Amerika; Budaya Amerika; Sekolah di Amerika.

Dalam "GE" Swalayan dan  Delli, Kedai Sandwich Dian berkisah mengenai suka-duka bekerja pada kedua tempat tersebut. Budaya kerja yang sangat berbeda dengan yang Dian temui di tanah air membuatnya belajar untuk bersikap lebih profesional. Misalnya menolak tips karena hanya mengantarkan seorang wanita tua ke mobil. Senyum wanita tersebut lebih berharga bagi Dian dibandingkan tip.

Sikap sang bos baik di "GE" Swalayan atau Delli, Kedai Sandwich membuat Dian melihat bagaimana mereka melakukan pekerjaan dengan maksimal. Tak segan turun ke lapangan langsung. ".... manajer di sini kerjanya bukan duduk dan rapat, tapi tiap hari turun ke lantai toko." Padahal manajer tersebut menggunakan dasi dan jas gaya namun tak segan membantu pelanggan, memilih barang yang tidak layak jual.

Membaca bagian tentang Delli, Kedai Sandwich tidak saja membuat kita mengetahui betapa kerja keras, kecepatan serta kerja sama sangat dibutuhkan dalam pekerjaan terkait makanan cepat saja. Tapi pembaca juga mendapat pengetahun tentang aneka  daging, sayuran serta Sandwich. Misalnya jika ingin Sandwich yang sama sekali tidak mengandung babi mintalah Kosher Sandwich, meski memasaknya belum tentu aman

Favorit saja adalah kisah Ketika Aku di Kamar Mandi pada halaman 179-184. Kisahnya sebenarnya sederhana tentang bagaimana ritual Dian membersihkan kamar mandi. Kamar mandi sepertinya menjadi tempat berkumpul yang hangat bagi keluarga mereka. Rak besi stainless yang ada penuh dengan buku-buku dan perlengkapan untuk kamar mandi seperti tisu. Dian dan suaminya sering duduk mengobrol sambil makan makanan ringan dan merokok di sana. Maka konsekuensinya ia harus membersihkan atap yang menguning terkena tar dari asap rokok. Kamar mandi bukan menjadi tempat yang jorok tapi justru di sana keluarga ini membina keakraban dan kebersamaan.
 
Ada juga bagian yang membuat kita meringis terharu. Misalnya ketika beberapa pekerja mengetahu Dian adalah seorang sarjana. Menurut mereka aneh saja seorang sarjana mau melakukan pekerjaan seperti mereka yang tidak bisa baca tulis di "GE" Swalayan. Mereka sempat melecehkan Dian. Berkat campur tangan sang manajer suasana bisa kembali seperti semula. Dian mendapat julukan Mrs Lawyer Chocking the corn karena peristiwa itu.

Kisah Bule Itu Pelit pada bagian Orang Amerika memberikan pelajaran pada saya untuk lebih bisa mengatur uang. Dulu saya begitu ketat mengatur uang karena keterbatasan dana, sekarang setelah agak tenang saya justru seakan ingin menebus saat itu, terlalu longgar. Dian memberikan saya pelajaran bahwa irit itu beda dengan pelit. Bule di sana tidak malu memunguti uang receh yang jatuh, membayar sesuai harga dan meminta kembalian meski hanya uang receh. Di tanah air, orang takut memungut uang jatuh karena beranggapan akan menderita karena itu uang "panas" belum lagi rasa malu.  

Jika ada yang pernah mendengar bagaimana seorang Melly Goeslow membeli bodylotion untuk kulit keringnya dengan uang receh yang dikumpulkannya ketika ia dan Anto Hoed tidak memiliki uang. Atau ada yang ingat tentang Koin untul Prita? Uang receh yang sering dianggap sepele justru berguna jika dikumpulkan dalam jumlah besar.

Saya bisa mengerti kenapa kedua anak Dian lebih menyukai tinggal dan bersekolah di sana. Bagaimana tidak, pada kisah  Senyum Sang Monalisa di bagian Sekolah di Amerika, dikisahkan bahwa setiap anak diharuskan menerbitkan buku sendiri. Entah itu kumpulan puisi, kumpulan gambar bahkan komil. Masing-masing anak akan membukukan karyanya dengan tampilan kertas berkilap dan hard cover. Kemudian anak-anak yang berbakat akan mendapat guru yang sesuai dengan bakatnya. Dan semuanya bebas biaya. 

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugus membuat kisah ini justru menarik. Saya serasa tidak membaca sebuah buku tapi bercerita, curhat dengan sesama perempuan. Dari cara penulisan judul di kover saja kita bisa merasakan keceriaan seorang Dian. Tengok kata "Beibeh" yang ditulis dengan cara pengucapan.

Amerika memang sering identik dengan hamburger. Pada kover tercetak gambar hamburger. Setelah membaca buku ini saya menyadari kedekatan Dian dengan hamburger. Pas sekali menempatkan hamburger pada kover, selain ikon Amerika juga mengisyaratkan peranan hamburger dalam kehidupan Dian.

Saya tertawa saat membaca bagaimana Dian salah menyebutkan Foggy Bottom menjadi Bikini Bottom. Saya ikut panik ketika harus membantu memilih nanas yang manis bersama Dian di "GE" Swalayan. Terharu bersama Dian ketika membaca kartu Hari Ibu yang disiapkan oleh kedua anaknya. Terharu ketika mengetahui kedua anak manis tersebut terlalu sungkan meminta baju dan sepatu baru padahal yang lama sudah tidak muat. 

Pada tiap akhir kisah, Dian menuliskan semacam kesan atau pesan terkait kisah yang baru saja ditulisnya. Justru hal ini yang makin membuat kisahnya menjadi luar biasa.

Sebenarnya saya merasa Dian orang yang sangat berkompromi dengan kehidupan ini. Kisah dukanya mengenai kehidupan di sana selalu dibarengi dengan kisah bagaimana ia membuat duka menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bagaimana Dian mengubah rasa pegal sehabis seharian mengupas jagung menjadi sesuatu yang menyenangkan misalnya.

Dian juga tidak malu mengakui bahwa kemampuan bahasanya minim hingga sang anak yang harus menjadi pendamping saat menghadiri pembagian rapor. Bahasa yang sering dianggap kendala terbesar oleh mereka yang ingin mengadu nasib di luar negeri menjadi hal yang mudah bagi Dian. Bagi Dian nekat berbicara membuatnya cepat pandai dari pada diam ketakutan dan tak mau bicara.

Sayangnya saya kurang menemukan hal apa yang sangat membuat kehidupan di sana berat. membaca buku ini membuat saya merasa bahwa semua kesulitan yang ada tidaklah sebegitu sulitnya.Entah karena kepribadian Dian yang pantang menyerah atau memang begitu. 

Padahal Dian bisa mengungkapkan kisahnya dengan lebih mendalam lagi. Hingga tidak hanya kesenangan dan kompromi menjalani kehidupan yang disuguhkan pada pembaca, tapi juga beratnya kehidupan di sana.

Dian juga tidak mengungkapkan hal-hal apa saja yang harus dipersipakan sebelum berangkat, serta berbagi ilmu tentang  proses bagaimana ia memenangkan undian.

Meski bersifat pribadi, tapi saya sangat ingin tahu bagaimana kondisi Dian menghadapi situasi dimana suaminya meninggal. Bagian ini memang merupakan rana pribadi, tapi maafkan saya jika menjadi usil ingin tahu. Hal ini disebabkan pada beberapa bagian Dian menyebutkan tentang suaminya, namun di bagian yang lain sama sekali tidak menyebutkan tentang suaminya. Justru jika Dian berkenan berbagi kisah, bagian ini yang membuat saya penasaran.

Seorang ibu tunggal membesarkan dua anak di negara adidaya bukanlah hal yang mudah. Tapi tentunya hal tersebut bisa mengansipirasi banyak pembaca untuk hidup tegar.

Foto-foto Dian bersama kedua anaknya di bagian akhir buku membuat saya tersenyum. Terlihat sebuah keluarga bahagia. Sayangnya foto yang ada kurang banyak. Akan lebih menyenangkan jika pada tiap kisah terdapat foto sehingga pembaca kian merasa dekat dan menghayati  kisah yang Dian uraikan.

Pada salah satu pembuka kisah, terlihat sekali kecintaan dan kerinduan Dian akan tanah air.
"Aku dan anak-anakku pindah ke sebuah rumah mungil di bawah kaki gunung di kota kami, beberapa bulan sebelum kami hijrah ke Amerika. Rumah mungil itu berada di sebuah perumahan.... Bila pagi datang, tampak kabut pegunungan masih membungkus alam sekitar, udaranya masih sangat sejuk." Sepertinya saya tahu gunung apa yang dimaksud.   

Undian Green Card diciptakan oleh pemerintah AS untuk diversifikasi penduduk Amerika . Hal ini dilakukan dengan memberikan 50.000 kartu hijau setiap tahun ke negara-negara yang tidak biasanya mengirim banyak imigran ke AS. Selain persyaratan geografis ini ,  juga harus memiliki setidaknya pendidikan sekolah tinggi atau , dalam lima tahun terakhir , dua tahun pengalaman kerja dalam pekerjaan yang membutuhkan setidaknya dua tahun senilai pelatihan atau pengalamanMasa pendaftaran untuk undian  ini adalah dari Oktober sampai awal  Desember. hasilnya akan muncul sekitar bulan Mei, Terpenting tidak dipungut biaya.  Untuk lebih lanjut perihal hal ini silahkan mengunjungi  http://www.usagreencardlottery.org

Dian Nugraheni lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 7 Desember 1969. Sarjana Hukum di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1994. Saat ini, penulis tinggal di Virginia, Amerika Serikat, bersama kedua anaknya Cedar Iman dan Almasita Nan Pekerti

Sumber gambar:
http://latrinews.blogspot.com/2010/04/bukit-menoreh.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar