Sabtu, 21 Februari 2015

2015 #27: Poster FIlm Indonesia: Masa Sesudah kemerdekaan





Penyusun: Adi Pranajaya

Editor: Woro Titi Haryati, Dina Isyanti
ISBN: 978-979-008-360-8
Halaman:76
Cetakan: Pertama-2010
Penerbit: Perpustakaan Nasional



Poster Film adalah poster yang dibuat dengan tujuan untuk mempopulerkan suatu film yang diproduksi dalam industri perfilman. (http://asalmadu.blogspot.com/2013/05/pengertian-macam-tujuan-dari-poster-dan.html)

Poster film merupakan salah satu media untuk mempromosikan film kepada masyarakat.  Meski sudah ada media promosi lain seperti televisi, baliho, dan situs tetap saja penggunaan poster film dipakai guna mempromosikan sebuah film. 

Tengok saja jika kita datang ke bioskop. Pasti pengunjung akan berdiri di depan poster film yang dipasang dalam display kaca. Baik untuk melihat film apa saja yang diputar, sebagai acuan mau menonton film yang mana, bahkan sebagai informasi akan film yang kelak akan diputar. 

Bisa dikatakan poster film merupakan bagian yang tak terpisahkan dari produksi film. Dengan demikian keberadaan poster film sangat penting sebagai wujud karya grafis.  Sebagai karya grafis tentunya dapat mengungkap bagaimana proses pertumbuhan dan perkembangan seni grafis itu sendiri di tanah air.

Buku ini  merupakan buku kedua tentang poster film, buku pertama berjudul Poster Film Indonesia: Masa Sebelum Kemerdekaan. Selain tentang poster film dibahas juga tentang ciri yang menonjol pada poster film sesudah kemerdekaan. Pertama lebih berani dalam mengungkapkan ide dan gagasan sesuai apa yang ingin disampaikan terkait film yang dipublikasikan. Kedua, tegas dalam menggunakan teknik yang ada, seperti antara lukisan atau foto-foto yang digunting lalu ditempelkan sesuai apa yang dimaksudkan. Ketiga, dicetak berwarna yang diperkirakan sesuai dengan perkembangan teknologi cetak saat itu.

Ada tiga puluh poster film yang  ada dan diberikan diberikan keterangan singkat dalam buku ini. Antara lain Tuan Tanah Kedawung (1970), Bulan di Atas Kuburan (1973), Jimat Benyamin (1973), Ateng Mata Keranjang (1975), Laki-laki binal (1978), Bukan Sandiwara (1980) dan lainnya.


Wajah Rana Karno dan Benyamins S menghiasi poster Si Doel Anak Betawai. Kisah ini diproduksi tahun 1973 oleh PT Matari Film, dengan sutradara serta skenario oleh Sjuman Djaja. Film ini dibuat berdasarkan novel karya Aman Datoek Madjoindo terbitan Balai Pustaka. Novel tersebut berkisah tentang semangat Doel seorang anak betawi untuk bersekolah agar bisa maju dan memiliki prestasi.
Film ini membuat nama Rano Karno melejit. 

Belakangan Rano Karto mengangkat kisah Si Doel menjadi sinteron yang banyak mendapat pujian. Rating serta serinya pun bagus. Review saya tentang buku yang menjadi inspirasi film ini bisa dilihat di http://trulyrudiono.blogspot.com/2014/08/review-2014-45-si-dul-anak-jakarta.html


Si Doel (Rano Karno) dibesarkan olah ibunya (Tuti Kirana) dan ayahnya (Benyamin S.) mengikuti budaya Betawi asli. Karena sebuah kecelakaan, ayahnya meninggal hingga ia hidup berdua dengan ibunya. Si Doel membantu ibunya berjualan untuk meneruskan hidup. Pada suatu saat datang sebuah bantuan dari Asmad (Sjuman Djaya), pamannya yang kemudian diterima sebagai ayahnya. Asmad memberi kesempatan pada si Doel untuk bersekolah, juga sekaligus untuk menolak anggapan jelek anak Betawi karena banyak yang tidak bersekolah. Jika tertarik silahkan menonton http://youtu.be/5N0m7qOgHOE
 
Tiada Maaf Bagimu  lagu yang dipopulerkan kembali oleh Yuni Shara ternyata juga menjadi judul film tahun 1971 disutradarai oleh Motinggo Boesje. Idris Sardi  bertugas mengurus musik. Judul tersebut mengambil judul dari lagu pop karya Jessy Wenan. Merupakan film pertama yang menghadirkan adegan lesbian.

Kisahnya tentang Tante Nana (Tuty S.), yang punya dua anak, tidak jelas kemana suaminya, tapi hidupnya bebas. Sebagai pemilik klab malam, sebuah gudang dan punya hubungan dagang dengan Hongkong, maka hidupnya mewah. Nana seorang tante yang "buas". Kalau tak ada lelaki, maka sekretarisnya yang cantik (Noortje Supandi) pun bisa jadi pelampiasannya. Dino Hehanusa (Farouk Afero) adalah pria yang berhasil merebut hati sang tante dan juga harta kekayaannya, hingga Nana jatuh melarat. Suatu saat Dino ditemukan meninggal tertembak. Pengadilan bingung Nana ataukah anaknya (Gatot Teguh Arifianto), yang sejak lama pergi sebagai awak kapal karena konflik dengan ibunya  yang menembak Dino. Kesaksian seorang pengemis tua (Bissu) yang membuat penembak sesungguhnya berhasil diketahui. Bagi yang tertarik menonton, silahkan mengunjungi http://youtu.be/BQzkkV89ej8

Melihat aneka poster yang ada, bisa ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar poster menonjolkan tokoh utama, menghadirkan suasana atau keadaan sebagaimana isi film, serta menjelaskan pula tokoh pendukung yang terlibat melalui foto atau gambar.

Bagi mereka yang menyukai film lawas, dengan melihat poster film yang ada dalam buku ini mungkin bisa menjadi masukan tentang film mana yang belum pernah ditonton. Begitu juga bagi menikmat film lawas.

Mereka yang menyukai dunia grafis, selayaknya membaca buku ini karena mendapat banyak pengetahun terkait poster yang bisa diperoleh dalam buku ini. Misalnya mengetahui bagaimana ciri poster yang turut menghadirkan suasana atau keadaan sebagaimana isi cerita dan sekaligus tokoh pendukungnya, mana poster yang dibuat dengan pendekatan lukisan dan lainnya.

Nyaris tidak dijumpai kata-kata promosi baik terkait dengan isi atau cerita film, termasuk juga teknik film yang digunakan. Penekanan promosi pada judul yang dicetak sangat besar nyaris menonjol. Juga lewat gambar tokoh utamanya.

Pada film  keterangan mengenai  film Intan Perawan Kubu yang terdapat di halaman 25, sepertinya sama dengan keterangan untuk film Dr. Siti Pertiwi pada halaman 63. Jika menilik  poster serta kalimat yang ada maka seharusnya keterangan pada halaman 25 yang salah

Sayangnya yang ada dalam buku ini hanya memuat tentang poster film dan data sangat singkat seperti kapan diputar serta penghargaan apa yang diperoleh. Akan lebih menarik jika ada sinopsis film, sehingga generasi sekarang bisa mengetahui film tersebut berkisah tentang apa. Lebih menarik lagi jika ada link dimana film itu bisa ditonton kembali.

Film Indonesia pertama adalah Loetoeng Kasaroeng yang disutradarai oleh L. Heuveldrop dengan fotografer G. Krugers dalam bentuk film bisu pada tahun 1926. Para pemainnya  antara lain Martoanan dan Oemar yang merupakan anak-anak Wiranatakusumah, Bupati Bandung saat itu.

Hari Film Nasional  tanggal 30 Maret  ditetapkan berdasarkan tanggal shooting hari pertama film Darah dan Doa pada 30 Maret 1950. Film tersebut merupakan Film Nasional pertama dengan sutradara Usmar Ismail. Hal ini disebabkan karena film tersebut dikerjakan oleh Perusahaan Nasional Pertama, didukung oleh permodalan sendiri, seluruh kru dan artis yang terlibat berasal dari dalam negeri. Sungguh sayang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar