Jumat, 20 Februari 2015

2015 #26: Mengenal Camera Branding



Judul asli: Camera Branding, Cameragenic Vs. Auragenic
Penulis: Prof.  Rhenald Kasali, Phd
Desain: Diana Kusnati, Rico Waas
ISBN: 978-979-22-9556-6
Halaman: 406
Cetakan: Pertama-Mei 2013
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 150.000



Pengantar buku ini, yang memuat kisah tentang seorang asing  membuat saya merenung cukup lama (pengantar bisa dilihat di http://richardbejah.com/2014/04/17/the-stranger-.aspx). Saya memang sudah teramat sangat jarang menonton televisi, tapi masih tetap menyalakannya sekedar agar ada suara pengusir sepi.  

Istrinya, komputer adalah sahabat karib saya dahulu sebelum istri muda  alias  madunya  yang bernama laptop muncul. Anak pertama mereka Cell phone menjadi belahan jiwa saya. Sementara para cucu menemani keseharian saya dengan setia, Android, Twiter, Facebook.  Anak kedua iPod berserta cucu yang lain, iPad, Line, bersama dengan Android, Twiter, Facebook menemani Jagoan saya.

Tidak terbayang bagaimana rasanya jika satu hari saja mereka tidak ada.  Saya semakin jarang bergabung dalam kegiatan alam karena takut tidak bisa dihubungi keluarga dan kerabat. Padahal dulu saya tenang saya pergi ke daerah yang tidak ada jaringan telepon. Jagoan merasa kurang eksis jika mendadak raib dari sosmed. Kami, maksudnya saya dan Jagoan sudah sangat terikat dengan keluarga besar mereka, sepertinya Anda juga.

Saat memilih anak pertama untuk menemani, kamera menjadi salah satu pertimbangan. Minimal buat Jagoan yang hobi foto narsis meski sudah ada kamera digital. Begitu selesai foto bisa langsung upload di sosmed, bukti eksistensi diri. Seperti sekarang setiap orang sudah sangat sadar kamera.

Saya jadi ingat  teman kantor yang sangat hobi swafoto alias selfie. Sampai ada yang berujar, jika mau mengetahui sudah ada di kantor belum tak perlu  cek absen, cukup lihat saja sosmednya jika ada foto baru artinya ia sudah hadir. Belakangan hobi itu menular hingga banyak yang sibuk berfoto saat pagi
 
Mengutip perkataan Rhenald Kasali , sekarang adalah peradaban kamera, di mana setiap orang memiliki kamera (termasuk kamera ponsel) dan membentuk brand-nya. Orang juga makin sadar kamera. Begitu ada kamera gaya bicara Cinta Laura langsung berubah, padahal tadinya ia cukup fasih berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Buku Camera Branding ini terdiri dari  empat bagian yaitu Televisi membentuk Karakter dan Pasar, Pergulatan Televisi Publik Indonesia, Pembentukan Jati Diri, serta Keep Cracking. Buku ini tidak saja memberikan pengetahuan tentang camera branding, cameragenic vs auragenic,  tapi juga tentang situasi televisi nasional kita.

Bisa dikatakan bahwa Camera Branding merupakan kajian terhadap 1.200 berita yang ada di televisi pada perilaku public figure di dunia politik atau keartisan (selebritis) dalam peradaban kamera ini.

Camera Branding merupakan sebuah teknik serta peradaban untuk mengangkat keluar sebuah nama dari kerumunan menjadi a branded name. A branded name merupakan sebuah kekuatan intangible yang tak kelihatan namun mempunyai daya pengaruh yang lebih kuat dari nama biasa

Ada dua dasar kuat yang harus dipenuhi guna menciptakan Camera  Branding yaitu cameragenic dan auragenic. Cameragenic menyangkut attractiveness subjek di hadapan kamera, sebuah  kesan yang ditangkap dari tampilan fisik. Merupakan sebuah keunikan seseorang yang membuatnya tampak menyenangkan ketika dilihat orang banyak. Para aktor tentunya lebih memperhatikan cameragenic.

Auragenic menimbulkan aura kekuatan perubahan, keindahan, atau kesenangan bagi pemirsa televisi. Secara sederhana bisa dikatakan sebagai sebuah rasa yang ditangkap dari interaksi. Merupakan keunikan seseorang yang membuat orang tersebut mampu membuat orang lain merasa bahagia, tenang, nyaman hanya dengan melihat atau mendengarkan kata-katanya. Contohnya adalah Ahok yang lebih dikenal karena kebiasaannya yang suka marah dari pada wajahnya.

Rhenald Kasali menjelaskan saat ini ada pergeseran trend, dari cameragenic ke auragenic. Menurutnya, saat ini penampilan fisik bukan lagi hal yang menentukan pilihan masyarakat. Justru yang "laku" adalah mereka yang bisa menampilkan sesuatu yang asli, jujur dan prososial.
 
Peremajaan brand bisa dilakukan dengan menggunakan  camera branding serta mempercepat kelahiran brand UKM tanpa menghabiskan biaya besar. Perilaku evil juga dapat terbentuk dengan membandingkan tokoh-tokoh dan perilaku kontroversia . Tapi dapat juga mentransformasi perilaku-perilaku buruk tersebut menjadi perilaku prososial dengan memunculkan heroism.
 
Ada sepuluh prinsip membangun camera branding, yaitu authentic, keunikan , Intangibles, fokus, gallery mindset,  connected, , meaningful, consistently deliverd, flavor dan terakhir sustainable.

Selanjutnya kita akan diajak membahas tentang televisi nasional yang ada di tanah air. Dengan berkembangnya aneka televisi swasta, posisi televisi nasional kita nyaris ditinggalkan. Hal yang menyedihkan tapi harus diatasi. 

Saat kecil, saya selalu menunggu acara Aneka Ria Anak-anak yang dengan dua tokoh sebagai host, Kak Seto Mulyadi dan Kak Heni Purwonegoro. Saya ikut menari, bernyanyi dan asyik mendengarkan dongeng. Selanjutnya seiring waktu, saya bersemangat menonton Asia Bagus, salah satu ajang pencarian bakat, Aneka Ria Safari plus Unyil sebagai hiburan. Semoga kejayaan tersebut bisa kembali hadir.
 
Dilengkapi dengan contoh kasus yang dekat dengan kehidupan kita, buku ini menjadi mudah dipahami. Teori yang ada langsung dibahas penerapannya terkait contoh kasus tersebut. Bahasa yang dipergunakan cukup mudah dipahami membuat buku ini menjadi buku pelajaran yang tidak bersifat textbook dan menggurui.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar