Kamis, 27 Desember 2018

2018 #29 : Kasus Hilangnya Naskah Antik
















Judul asli: Pulau Camino
Penulis:  John Grisham
Alih bahasa: Lily Maryanti
Editor: Anastasia Mustika W.
ISBN: 9786020398648
Halaman: 336
Cetakan: Pertama-2018
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 79.000
Rating 3.5/5

Siapa yang bisa mengikuti jejak semua buku edisi pertama di negeri ini? Buku tidak meninggalkan jejak, Mercer. Banyak yang diwariskan seperti perhiasan-tidak selalu diperhitungkan, jika Kau tahu apa yang kumaksud
~ Pulau Camino, halaman  214 ~

Kegiatan perusahaan asuransi  sepertinya menjadi topik yang kembali diangkat oleh penulis. Sebelumnya ada Rainmaker yang cukup seru (atau ada tema asuransi lain yang terlewat oleh saya?). Untuk  kisah kali ini,  pembaca akan diajak melihat asuransi dari sisi yang berbeda.  Sebuah tim penyelidikan dibentuk untuk mencari naskah asli penulis terkenal yang dicuri.

Sekelompok pencuri berhasil menggondol 5 naskah   tulisan tangan  karya F. Scott Fitzgerald, yaitu The Beautiful and Damned, Tender Is the Night, The Last Tycoon, Paradise dan The Great Gatsby. Dengan skenario yang cermat, mereka berhasil membawa naskah tersebut tanpa ada masalah yang berarti. Rencananya, jika situasi aman mereka akan menjual naskah tersebut.
https://www.goodreads.com

Tak diduga , sebuah  kesalahan kecil yang diuraikan pada halaman 23, membuat seluruh operasi menjadi kacau. Ada yang tertangkap dan ada juga yang selamat setelah sukses menyembunyikan diri, hasil latihan bertahun-tahun. Namun siapa yang mengira, sikap serakah membuat salah seorang berkhianat. Ia menyembunyikan hasil curian untuk dirinya sendiri. Bagian ini, bisa dianggap yang mendominasi seluruh kisah.

Lalu urusannya dengan perusahaan asuransi? Sederhana saja, naskah-naskah tersebut nilai asuransinya lumayan besar,  25 juta dollar! Walau kerugian yang timbul akibat hilangnya naskah tak bisa diganti dengan sejumlah uang. Penyelidikan dilakukan secara gencar oleh pihak asuransi yang  berupaya keras menemukan naskah tersebut agar tidak  harus membayar 25 juta dollar, dan pihak berwajib yang merasa kecolongan.

Pihak  asuransi menduga Bruce Cable pemilik toko buku di Santa Rosa, Pulau Camino, Florida, terkait dengan naskah-naskah yang hilang tersebut. Dan untuk menggali informasi lebih banyak,  mereka berhasil meyakinkan Mercer Mann-seorang penulis yang sudah melewati tenggat menyelesaikan novelnya,  untuk menjadi mata mereka di sana. Mercer memiliki latar belakang yang sangat tepat untuk membantu mereka.

Jadi, di mana sebenarnya naskah-naskah tersebut berada? Berhasilkah Mercer menjalankan misinya? Lalu apa peranan Bruce Cable dalam hal ini? Beli dan baca sendiri saja ya. Dijamin tak mengecewakan ^_^.
https://www.goodreads.com

Dibandingkan dengan buku John Grisham lainnya, bisa dikatakan ini yang paling memiliki ritme berkisah paling tenang (versi saya lho). Dalam artian, tak ada urusan  baku hantam yang berarti, kejar-kejaran ala jagoan, intimidasi, hingga upaya menyembunyikan diri dengan selalu khawatir ditemukan. Kisah berjalan dengan ritme yang cukup santai. Meski demikian, para penggila buku tak perlu khawatir, karena mereka akan  menemukan banyak keseruan dalam kisah.

Hanya penggila buku yang paham perasaan senangnya menyentuh dan mencium bau  buku yang baru,  sensasi menyusun buku di rak, menemukan tanda diskon (walau tidak yakin ingin membeli sesuatu),  membeli buku saat acara penandatanganan  tanpa yakin apakah akan membaca buku tersebut, hingga merasa    sedih ketika melihat ada  buku yang disingkirkan dari rak karena tak laku. Penggila  buku tak diragukan lagi pastinya akan menyukai buku ini.

Kondisi bisnis toko buku yang beberapa tahun belakangan mulai terasa sulit, juga diuraikan pada buku ini. Dengan menganalogikan kondisi bisnis toko buku di Pulau Camino,  penulis mengisahkan penyebab keruntuhan toko buku independen. Suatu hal yang belakangan juga mulai merambah bisnis buku di tanah air.

https://www.goodreads.com
 Meski digambarkan sebagai bisnis yang kurang menguntungkan, namun penulis juga menguraikan bahwa banyak pelaku bisnis dibidang ini yang melakukan atau dasar kecintaan pada buku. Mereka menganggap pekerjaan tersebut adalah sebuah panggilan mulia. Mereka menyukai literatur, penulis, seluruh kegiatan penerbitan, dan menghabiskan banyak waktu dengan pelanggan yang juga menyukai buku.

Untuk kover, entah kenapa semula saya mengira kisah ini terkait dengan mafia.  Harap maklum, gambar kastel yang ada yang sering digambarkan sebagai tempat tinggal pihak yang sering digambarkan kurang baik.  Minimal kisahnya mengenai  kehidupan tokohnya di Pulau Camina. Judulnya pun tidak menggambarkan tentang buku. Kesan tersebut muncul sebelum saya membaca blurb. Jika tidak ada nama John Grisham, mungkin saya tak akan melirik buku ini.

Dari seluruh kover yang ada di Goodreads,   versi Bahasa Czech yang paling mampu menggambarkan isi kisah dari sudut pandang saya. Gambarannya sesuai dengan bagian yang menyebutkan tentang dicurinya naskah tulisan tangan seorang penulis terkenal. Secara lebih jelas, bisa dilihat di sini.

Mungkinkah sedang tren buku dengan tema toko buku yang berada di pulau? Sehingga  penulis terinspirasi dan membuat kisah ini.  Belakangan  ini saya menemukan beberapa, salah satu yang paling saya ingat adalah  The Storied Life of A.J Fikry dari penerbit yang sama.
https://www.goodreads.com

Selain mendapat hiburan melalui kisah, pembaca juga mendapat pengetahuan  seputar kura-kura Gopher.  Mercer digambarkan sering menghabiskan hari bersama neneknya untuk melindungi keberadaan kura-kura tersebut. 

Pada http://ssturtleindonesia.blogspot.com, disebutkan bahwa Gopherus adalah genus kura-kura fosil yang biasa disebut kura-kura gopher. Kura-kura gopher dikelompokkan dengan kura-kura darat yang berasal dari 60 juta tahun yang lalu, di Amerika Utara. Sebuah penelitian genetik telah menunjukkan bahwa kerabat terdekat mereka berada di genus Asia Manouria. Kura-kura gopher hidup di Amerika Serikat bagian selatan dari Gurun Mojave California sampai ke Florida, dan di beberapa bagian di utara Meksiko. Kura-kura Gopher dinamakan demikian karena kemampuan mereka menggali liang besar yang dalam; Kura-kura Gopher bisa panjangnya hingga 40 kaki (12 m) dan kedalaman 10 kaki (3,0 m).  Liang ini digunakan oleh berbagai spesies lain, termasuk mamalia, reptil, amfibi, dan burung lainnya.  Kura-kura Gopher berukuran 20-50 cm (7,9-19,7 in), tergantung pada spesiesnya.  Semua lima spesies ditemukan di habitat xeric.

Sang penulis yang digambarkan karyanya curi, Francis Scott Key Fitzgerald, lahir di St. Paul, Minnesota, Amerika Serikat,  pada 24 September 1896. Meninggal  pada usia  muda, 44 tahun di Hollywood, California, Amerika Serikat, pada 21 Desember 1940.  Fitzgerald menjadi terkenal lantaran bukunya yang berjudul This Side of Paradise, The Beautiful and Damned, Tender Is the Night dan The Great Gatsby. Naskah tulisan tangan karya tersebut,  memang disimpan di Princenton  University. Perihal kehidupannya yang penuh warna, bisa dibaca di sini.


Dan secara pribadi, saya mendapat semacam pencerahan mengenai koleksi buku cetakan pertama. Lumayan banyak yang dibubuhi tanda tangan penulisnya, ada juga yang bisa menjadi berharga karena dicetak terbatas. Dan ada yang penulisnya sudah berpulang. Bisa dipertimbangkan untuk dijual, atau saya terlalu egois untuk menyimpan dan menikmatinya sendiri. Hem....


Sumber  Gambar:
https://www.goodreads.com

Kamis, 20 Desember 2018

2018 # 28: Catatan Harian Gadis Penjaga Perpustakaan Keluarga


Judul asli: A Librarian's Diary
Penulis: Athira Matsya
Editor: Pradita Seti Rahayu
ISBN:9786020486390
Halaman: 202
Cetakan: Pertama-2018
Penerbit:  PT Eex Media Komputindo
Harga: Rp 53.800
Rating: 3/5

Kurasa aku adalah cewek terbego sedunia.  Cewek terbego sedunia, yang merupakan penjaga perpustakaan keluargaku sendiri, yang diminta cowok yang kusuka buat meramaikan aksi penembakannya.
~A Librarian's Diary, halaman 95~

Penggila buku mana yang tak akan tergoda melihat buku ini. Kover yang penuh dengan ilustrasi buku dan kata Librarian's, punya efek daya tarik kuat. Abaikan urusan target pembaca, 15+, minimal  pembaca mendapat hiburan melalui kisah  dengan teman perpustakaan. Kurang lebih begitu harapan saya.

Diary secara umum, setidaknya bagi teman-teman sewaktu saya ABG he he he, bisa dianalogikan sebagai  catatan harian. Menurut KKBI, catatan harian adalah:
         1. buku tulis yang berisi catatan tentang kegiatan  
            yang harus dilakukan dan kejadian yang dialami  
            setiap hari
Maka, saya menduga, buku ini berisikan catatan harian seorang gadis ketika bertugas menjaga perpustakaan.

Pada awal kisah, pembaca sudah menemukan fakta bahwa keluarga tersebut, terutama sang Mama sangat menyukai buku. Pada halaman 3 tertulis, “Menurut cerita orangtuaku, Mama-lah yang memiliki ide untuk membangun Istana Baca. Katanya, sejak kecil Mama sudah ingin membentuk perpustakaan di rumah karena Mama mengoleki banyak buku. Selain itu, Mama juga ingin orang-orang yang tidak punya uang untuk membeli buku tetap bisa membaca.”

Tapi jangan berharap selain sang Mama, tokoh utama dan saudaranya juga menyukai buku. Tak ada bagian kisah yang bisa menggambarkan kecintaan mereka pada buku. Bahkan pada  bagian belakang buku, tertulis alasan kenapa tokoh utama kisah yang berusia 16 tahun tidak menyukai tugas menjadi penjaga perpustakaan sekolah. 

Sungguh ironi. Teori yang menyebutkan anak akan menyukai buku jika orang tuanya juga suka dan mengenalkan buku sejak kecil, sepertinya tidak terbukti pada keluarga mereka.

Selanjutnya, penuliskan menguraikan kisah dengan mengambil tema khas remaja, urusan percintaan. Bagaimana seorang remaja tertarik pada yang lain, proses pendekatan, dua hati bersatu di sekolah hingga munculnya kisah kasih terlarang di sekolah.  Ah, kalau cinta sudah bicara, kondisi jadi bisa berubah rumit.

Jika membaca judul, saya berharap penulis akan mengisahkan tentang suka-duka selama ia bertugas menjaga perpustakaan. Segala peristiwa yang ia amati, kegiatan dan lainnya. Seperti tingkah laku peminjam, buku yang paling dicari, kesulitan menagih uang denda keterlambatan pengembalian buku, proses pengembangan koleksi dan sejenisnya. Apa saja terkait perpustakaan. 

Ternyata dugaan saya meleset. Buku ini justru berkisah mengenai kehidupan seorang gadis yang kebetulan adalah sedang mendapat tugas menjaga perpustakaan sekolah demi mendapatkan uang jajan lebih.

Sementara urusan perpustakaan sendiri mendapat porsi yang kecil, menurut saya. Memang ada bagian yang mengisahkan mengenai bagaimana sang tokoh bertugas menjaga perpustakaan keluarga yang diberi nama Istana Baca. Ada bagian ia melayani peminjaman, membereskan perpustakaan dan mengurus denda. Tapi porsinya  sangat sedikit dibandingkan dengan apa yang diharapkan dari judul.

Ditambah dengan penulis hanya menjadikan perpustakaan sebagai lokasi pendekatan salah satu kisah cinta, serta tempat ia mulai tertarik dan jatuh cinta pada seorang pria yang memiliki nama sama dengan gunung tertinggi di Jawa. Sebagian kisah malah  mengambil lokasi peristiwa di sekolah. Saya jadi berpikir, sepertinya salah judul kisah ini. Atau mungkin saya yang tak paham kisah ABG saat ini.

Putri, sang tokoh utama yang memiliki dua kakak kembar, harusnya bisa diolah dengan lebih baik sehingga karakternya lebih kuat. Minimal ada keterkaitan antara kesukaan Mama mereka terhadap buku dengan kehidupan sehari-hari anggota keluarga yang lain. Tidak hanya sebatas bahan percakapan di meja makan semata.

Meski begitu, cara bertuturnya bisa dikatakan sudah terarah. Misalnya ketika menjelaskan mengenai  Detektif Conan di halaman  146, pembaca yang semula tidak mengenal dan mengetahui sosok Conan, bisa mendapat gambaran singkat dan memahami kenapa bagi salah satu tokoh, kisahnya menarik.

Penulis sepertinya harus lebih fokus pada apa yang ingin ia ceritakan, sehingga tak terjadi pelebaran ide yang bisa menyebabkan pembaca bingung akan apa sebenarnya yang hendak diunggkapkan oleh penulis. Pemilihan kata juga bisa menjadi lebih efisiensi.

Ilustrasi tumpukan buku di pojok halaman, membuat buku ini menjadi tidak membosankan. Anggaplah pelipur lara  dari rasa kecewa saya karena ada ketidaksesuain antara judul dan isi kisah. Demikian juga dengan ilustrasi yang lainnya, cukup membuat buku ini menjadi tidak membosankan.

Untuk debut remaja, buku ini bisa dikatakan lumayan.

Sumber foto:
Buku 
A Librarian's Diary


Selasa, 18 Desember 2018

2018 #27: Sudi Bertemu, Siap Jua Berpisah

Judul asli: Hello Goodbye
Penulis: Dita Amelia Saraswati
Penyunting: Teguh Afandi & Yuli Pritania
Desain sampul: Bilal Surya & Dilidita
Ilustrasi isi: Dita Amelia Saraswati
ISBN: 9786023855841
Halaman: 168
Cetakan: Pertama-Oktober 2018
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 119.000
Rating: 3.5/5

Mirip  judul lagu Beatles
Kesan pertama yang muncul ketika saya memperoleh buku ini.Yups, saya memang termasuk penggemar lagu jadul. Jaduleres, begitu istilah teman-teman di GRI bagi mereka yang menyukai lagu lama.

Namun bagi penulis,  kalimat tersebut sepertinya memiliki makna  yang berbeda. Jika kita berani mulai bertemu dengan seseorang, maka kita juga harus siap jika suatu saat kita berpisah dengannya. Saya sok tahu? Bocorannya ada kok,  bisa dilihat pada coretan di bagian belakang buku, "When you say hello, are you ready to say goodbye?"


Keunikan buku ini dimulai dengan penulis yang membuat sebuah tulisan berisi ucapan terima kasih bagi orang-orang yang mendukungnya.  Judulnya Unsent Letter.  Saat membaca, saya lebih merasa ini adalah catatan harian sang penulis, bukan semacam pendahuluan.  Terasa sekali unsur pribadinya.

Selanjutnya ada cerita pendek dengan judul Bincang, yang mengisahkan tentang kesiapan penulis melepas karyanya untuk dinikmati publik. Artinya, seiring pujian, tentunya juga ada kritikan pedas yang menyertainya. Dua sisi mata uang yang harus siap ia terima. Hebat! Jarang ada penulis yang siap menerima kritik dengan hati lapang.

Selanjutnya pembaca akan menikmati beberapa  kisah pendek, puisi, serta kalimat singkat yang mirip kata kata mutiara. Anggaplah kalimat yang muncul dari hasil perenungan sang penulis. Kisahnya beragam, benang merah kisah ini adalah tokohnya yang kebanyakan perempuan, urusan mium kopi  dan teh, serta kisah cinta,

Kisah favorit saya, bisa ketebak sepertinya he he he, kisah seputar perpustakaan. Mendadak saya jadi ingat sebuah film pendek tentang kisah cinta di perpustakaan. Film ala Thailand tersebut mengambil setting perpustakaan seperti kisah Setengah Lima yang ada di halaman 89-91. Cinta, dan patah hati, bisa datang kapan saja dan melalui cara yang tak biasa.

Sempat merasa penasaran, di halaman biodata, penulis mengakui menyukai kereta (asumsi saya kereta api), tapi kenapa saya tidak menemukan sebuah kisah mengenai kereta api? Atau saya yang terlewat ya? Umumnya, penulis akan mampu bercerita dengan baik jika menyangkut kegemarannya. Saya jadi berangan-angan, ksiah tentang apa yang akan ia tulis. Lebih tepat, ilustrasi seperti apa yang akan ia buat.

Selain hiburan, buku ini memberikan tambahan ilmu bagi pembacanya. Misalnya di halaman 5, terdapat makna temu, makna rumah di halaman 121, serta heliosentris di halaman145. Saya sempat merasa, penggiat pengguna Bahasa Indonesia pasti bangga ada penulis yang melakukan hal ini. Tapi, saya langsung teringat betapa tidak sukanya mereka pada penggunaan kata asing. Sayangnya, banyak kata tersebut  bertebaran dalam buku ini. Buku ini bisa jadi buku yang dicinta dan dibenci sekaligus ^_^.

 
Untuk urusan ilustrasi, keran habis! Saya mulanya agak kaget melihat harga buku ini. Walau pun dibuat dalam versi hard, tapi melihat tipisnya halaman, harus ada sesuatu spesial yang ditawarkan oleh penulis. Sehingga pembaca merasa harga yang harus dibayar sangat sesuai. Selain isi  serta tata letak, lustrasi cantik yang sangat memanjakan mata menjadi nilai lebih tersebut.

Sesungguhnya saya berharap penulis yang ternyata jago membuat ilustrasi, menghasilkan sebuah karya seperti model Wondestruck besutan Brian Selznick. Menurut saya, sebagai orang yang jago ilustrasi, tentunya mudah bagi penulis membuat buku seperti itu. 

Membaca buku ini hanya membutuhkan waktu yang singkat. Tapi menikmati tiap goresan ilustrasi hal yang berbeda. Duh, jadi pingin dibuatkan karikatur.

Bisa dikatakan buku ini merupakan buku yang ramah untuk dibawa-bawa. Ukurannya yang tidak terlalu besar, halaman yang sedang, hard cover, memudahkan buku ini dibaca di mana saja. Bahkan dalam perjalanan. 

Tapi, saya merekomendasikan buku dibaca saat santai, menikmati  suara rintik hujan (musimnya pas), sambil meminum secangkir minuman hangat sesuai selera Anda (selera saya teh hangat pastinya). Baca perlahan halaman yang ada, nikmati aneka warna dan tulisan yang disajikan.

Apa lagi sambil mendengarkan lagu Hello Godbye dari The Beatles di bawah ini.



Rabu, 05 Desember 2018

2018#26: Berjuanglah Terus Tella

 Judul asli:  Caraval #2: Legendary
Penulis: Stephanie Garber
Penerjemah: Jia Effendi
Penyunting: Yuli Pritania
ISBN: 9786023855544
Halaman: 484
Cetakan: Pertama-Oktober 2018
Penerbit: Noura Publishing
Harga: Rp 94.000
Rating: 3.25/5

Aku membuat kesalahan, Scar. Aku tidak pernah ingin merasakan ini terhadap siapa pun, tetapi kurasa aku sudah jatuh cinta kepada Legend.
~halaman 450~

Bertemu lagi dengan dua gadis cantik, Scarlett dan Tella. 
Banyak yang terjadi sejak  mereka ikut menjadi pemain di Caraval yang lalu. Meski Scarlett  berhasil memenangkan Caraval,  dengan pengorbanan yang besar pastinya, ternyata mereka masih harus berurusan kembali dengan sang Legend  pemilik Caraval.

Memenangkan permainan, kadang membuat pemenang harus membayar sesuatu yang bukan tak mungkin akan ia sesali kelak.  Bukan mustahil jika imbalan tersebut bahkan bisa membahayakan jiwa si pemain. Harga yang dibayar bisa lebih berharga, dibandingkan dengan apa yang mereka kira sangat mereka inginkan.  Tella seharusnya ingat akan hal tersebut ketika memutuskan untuk kembali ikut bermain dalam Caraval

Pemenang Caraval bisa membuat keinginan seseorang terwujud. Keinginan Tella  adalah menemukan sang ibu. Meskipun sudah tujuh tahun berlalu sejak ibu mereka, Paloma,  menghilang, Tella tak pernah berhenti berharap bisa bertemu

Begitu inginnya ia bertemu dengan sang ibu hingga yakin bahwa desas-desus yang ia dengar adalah benar. Sang ibu masih hidup di suatu tempat. Hanya dengan memenangkan Caraval, maka ia bisa bertemu dengan sang ibu,  begitu menurut sosok misterius yang selalu menyebut dirinya sebagai "seorang teman".

Ternyata urusan berkembang menjadi makin membahayakan keselamatan kedua gadis tersebut. Dalam lima hari, Tella tidak saja harus  menang, tapi juga memberikan nama asli Legend sebagai ganti informasi keberadaan sang ibu.

Sungguh bukan hal yang mudah mengingat di Caraval semua ilusi nyaris nyata. Tella harus sangat waspada agar tidak terhanyut dalam permainan yang mampu membuatnya kehilangan akal sehat. Itulah alasan mengapa banyak yang menyukai Caraval, fantasi yang menjadi nyata. Pada akhirnya, semua hanyalah permainan semata.

Celakanya, Tella nyaris melupakan hal tersebut. Terjabak dalam kebohongan yang dibuat tanpa sengaja, membuatnya  mendapat ciuman yang sepadan dari kematian.   Segalanya berubah, ia harus menang tidak hanya demiinformasi tapi juga nyawanya. 
Versi Bahasa China

Begitulah Caraval. Jalannya Caraval ternyata mirip jalannya takdir yang sering kali tak terduga. Banyak kejutan ditiap malam. Kawan dan lawan bisa satu sosok yang sama, musuh dalam selimut. Atau lawan yang mendadak berbaik hati. Jangan percaya pada siapapun, bahkan pada bayanganmu sendiri. Tak ada yang gratis di sana, semua ada bayarannya.

Dibandingkan dengan kisah pertama, kisah dalam buku ini lebih terasa menantang.  Bisa dikatakan dalam buku ini perkembangan karakter Tella sangat terlihat. Sementara sang kakak bisa dikatakan pemegang peranan yang kecil dalam kisah kali ini. 

Mungkin karena sosok Tella  awalnya selalu digambarkan sebagai gadis yang lebih spontanitas dan sering bertindak tanpa berpikir panjang. Jangan tantang dia, karena apapun resikonya ia  akan menerima tantangan tersebut. Singkatnya, Tella sangat bertolak belakang dengan kakaknya. 

Sementara dalam kisah kali ini,  untuk bisa menang ia harus bertindak cerdik dan hati-hati. Menyelaraskan antara hati dan pikiran. Celakanya, beberapa kali ia berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan karena sifat cerobohnya. Dan pastinya ia perlu memperhitungkan siapa saja yang layak dijadikan sekutu, dan siapa yang harus menajdi musuhnya.  
Versi Bahasa Bulgaria

Mengikuti perkembangan psikologis Tella yang unik, membuat pembaca tidak menyadari bahwa penulis menyisipkan banyak petunjuk dalam kisah. Misalnya mengenai siapa sosok Legend sebenarnya, siapakah yang selama ini menjadi sahabat misterius Tella.

Caraval bisa dikatakan merupakan sebuah kisah fantasi yang mengambil seting kisah tidak biasa (jelaslah, makanya disebut kisah fantasi he he he). Tempat kejadian bisa di mana saja, berpindah sesuai  dengan kehendak Legend, kali ini bukan di kapal lagi ya (ups.. bocoran).  Oh ya guna memanjakan pembaca dalam menikmati kisah, pada halaman awal sudah tersedia peta lokasi dimana kisah ini berlangsung.

Keunikan  utama kisah ini (bagi saya) ada pada racikan unsur psikologis yang diramu dengan apik. Bahkan urusan percintaan juga tidak sekedar menjadi kisahah romantis biasa. Bacalah, maka Anda akan bisa memahami apa maksud saya.

Dan sepertinya sangat tepat jika saya menggantikan Sang Legend mengucapkan, “ Selamat, selamat datang di Caraval, pertunjukan paling agung di daratan maupun lautan. Di dalam, kau mungkin akan bertatap muka dengan Takdir, atau mencuri potongan-potongan takdir-"

Mari kita tunggu buku selanjutnya.