Senin, 13 April 2015

Happy Ultah BBI ke- 4: Aku dan BBI


 Sis, mau join Bloger Buku Ngak? 
Aku baru joint.


Kalimat tersebut dikirim oleh sahabat saya sis Noviane Asmara melalui BBM. Awalnya sempat bingung. Apa pula itu Bloger Buku? Jauh dari paham. Dan blog pun masih dalam proses pembuatan.

Ceritanya waktu itu kita berdua sedang merangkak membuat blog guna menampung aneka review yang kita buat. Sebagai member dari Ordo Buntelan (sekumpulan sahabat semangat mencari buntelan) jelas banyak buku yang harus dibaca dan direview.

Bedanya, Sis Ine mendapat bantuan profesional untuk membuat blog, sementara saya hanya perlu merayu jagoan. Kebetulan dia baru mendapat pelajaran tentang blog di sekolah. Lalu salah satu tugas adalah membuat blog. Dan langsunglah otak komersil-nya bekerja.

"Mami belum punya blog khan? Ntar aku bikinin jadi review mami bisa ditaruh di sana. Bisa pakai gambar segala macam lho." Rayuan tingkat dewa dikeluarkan.

"Nanti aku aja yang pindahin, mami cuman perlu ngasih uang jajan Rp 50.000. Murah khan?" Nah mulai ketahuan maunya. Tapi berhubung saya tidak ada waktu dan masih agak gaptek terpaksa menyetujui tawaran yang diberikan secara paksa itu.

Dalam prosesnya, tetap saja harus saya harus memantau sudah sejauh mana migrasi review saya. Jangan ditanya biaya tambahan yang harus dikeluarkan he he he.

Setelah blog jadi dan pendapat pencerahan dari Sis Ine. Mulailah saya melakukan pendekatan ke salah satu pendiri guna mengajukan diri untuk melamar menjadi karyawan eh menjadi anggota ^_^

Gayung bersambut. Tak lama kemudian, resmilah saya menjadi bagian dari keluarga besar BBI. Nomor keanggotaanku adalah BBI 1301038.  

Dalam berorganisasi tentunya ada suka dan duka, hal itu yang membuat kehidupan menjadi penuh warna. Untuk duka biarlah disimpan sendiri saja ya (mendadak melo), sementara untuk suka sangat layak untuk dibagi.

Berdikusi tentang buku dengan sesama penyuka buku tentunya sudah menjadi hal yang menyenangkan.  Bagi saya, selain itu, hal yang juga menyenangkan  adalah bisa berbagi dengan mereka yang membutuhkan buku sehingga bisa membagikan semangat membaca di seluruh tanah air.

Dengan menjadi anggota BBI,  hal tersebut memudahkan saya untuk merangkul penerbit untuk berpartisipasi memudahkan akses membaca serta meningkatkan minat baca.

Melalui BBI Berbagi, banyak yang bisa kita lakukan. Mulai dari sekedar mengumpulkan uang untuk membeli buku dengan harga khusus dari penerbit lalu mengirimkan. Ada penerbit yang malah dengan semangat ikut mengirimkan sumbangan buku untuk kegiatan BBI Berbagi, gratis dari buku hingga ongkos kirim.

Memilih ke mana bantuan harus dikirim juga susah-susah gampang. Pilihan ke Palu misalnya. Untuk siapa yang harus membantu distribusi jelas mudah. Melalui Sis Jenny, BBI percaya buku akan sampai pada yang membutuhkan.  Masalahnya, biaya kirim ke Palu nyaris sama dengan biaya pembelian buku. Sempat ada wacana untuk mengirim dana saja. Tapi ternyata justru akses membeli buku yang agak sulit. Untuk salah satu penerbit sahabat BBI bersedia membantu. Masalah selesai dengan indah.

TBM Rumah Gunung saya temukan tanpa sengaja. Bermula berkenalan di FB terjadilah diskusi singkat. Meski letaknya juga di Pulau Jawa, tapi taman bacaan ini merupakan swakelola dari Mas Subari dan istrinya. 

Setiap ada kelebihan rezeki pasti mereka alihkan untuk mengembangkan perpustakaan mereka.  Terakhir, saya mendapat khabar  dengan uang hasil  memenangkan  lomba disain sebesar Rp 3.000.000, mereka membangun perpustakaan yang lebih besar di sebidang tanah milik keluarga. Selama ini perpustakaan mengambil bagian dari rumah tinggal.

Bahkan guna mengenalkan perpustakaan dengan harapan menimbulkan minat membaca, mereka juga memberikan les tambahan gratis. Anak-anak yang semula hanya datang untuk mendapat pelajaran tambahan, perlahan mulai ikut menikmati koleksi bacaan di sana.

Berbagi itu indah.
Mereka-mereka mengajarkan bahwa buku yang kita miliki dan tidak akan kita koleksi akan lebih berguna dan bermanfaat di tempat lain dari pada hanya ditimbun dan dibiarkan rusak oleh waktu.

Dan.....,
Saya tidak mau jadi salah seorang yang menghancurkan buku tanpa sengaja. Hanya menimbun buku ternyata merupakan salah satu hal yang bisa menghancurkan buku. Ihhh.

Hal lain yang terjadi sejak bergabung dalam BBI adalah meningkatnya jumlah koleksi Little Women saya dengan sangat pesat he he he.

Teman-teman sepertinya sangat tahu betapa saya bersemangat mengoleksi buku karangan Louisa May Alcott tersebut. Sebuah keisengan yang merubah menjadi obsesi.

Mereka dengan bersemangat langsung memberi tahu jika ada buku LW yang dijual oleh para pedagang OL. Atau jika mereka melihat di toko buku bahkan lapak buku bekas mereka langsung memberi tahu saya dan sangat bersedia untuk membelikan dulu. Akses untuk mengembangkan koleksi menjadi lebih mudah. 

Sering kali saya bahkan memanfaatkan jasa teman yang sedang memesan untuk titip 1-2 buku. Maklum kalau saya sendiri yang melakukan transaksi selain agak gaptek juga bisa kalap he he he.

Jadi pingin mengucapkan terima kasih kepada Busyra yang telah memperkenalkan BWB serta Evyta yang sudah bersedia menjadi akuntan pribadi saya. Juga mereka yang sudah sering saya recoki dan titipi. Love you all!

Oh ya tulisan tentang koleksi LW  serta kuis ada di
http://trulyrudiono.blogspot.com/2014/09/review-2014-aku-dan-101-little-women-1.html
http://trulyrudiono.blogspot.com/2014/09/aku-dan-101-little-womene-2-koleksi-lw.html
http://trulyrudiono.blogspot.com/2014/10/kuis-little-women-2014-berhadiah-10.ht


Untuk urusan buku, menjadi anggota BBI membuat saya mengetahui beragam buku yang bukan dari genre favorit saya.

Saya memang bukan penyukai buku sejarah, tapi melalui Helvry misalnya, saya bisa menemukan beberapa buku sejarah yang layak dibaca dan dijadikan referensi saat membuat review.

Ada Dion, King of Galau and Timbunan yang selalu bersedia menampung buku-buku yang tidak saya baca. Biarlah  jika dia mau menjadi orang yang menghancurkan buku asal bukan saya ^_^

Mereka membuat saya mau keluar dari zona nyaman dan mengembangkan kemampuan serta minat saya untuk membaca. Membuat saya sadar dan kembali membaca untuk dinikmati bukan sekedar menambah jumlah buku yang sudah dibaca tapi tidak merasa bahagia.

Sayangnya, kondisiku saat ini membuatku sering melewatkan kegiatan BBI. Sering terlewat posting bersama, opini bareng bahkan jadwal sekedar duduk bersama pun sering harus terabaikan. Tapi buat aku pasti 1000% mendukung BBI *kembali sok melo*

Happy Ultah BBI
Terima kasih untuk warna kehidupan yang diberikan.
Big Hug


----------
Harapanku dalam Hut BBI kali ini,
selain BBI selalu eksis dan menjadi salah satu penggiat semangat membaca dan mereview, semoga Sis Ine bisa kembali eksis mereview. Meluangkan sedikit waktu disela-sela urusan pribadi, keluarga dan kantor.

Merindukan reviewmu sis *hug*






Jumat, 10 April 2015

2015 # 42: Beyond Sherlock Holmes

Penulis: M. Esfand
Edtor: lis Sutinah
Proof Reader: Tim Redaksi visimedia
Editor Grafis:RNuruli KWM
ISBN: 979-065-216-X
Halaman: 158
Cetakan: Pertama-2014
Penerbit: Visimedia
Harga: Rp 41.500
Tidak ada yang ganjil dalam kasus ini. Kau akan melihat bahwa dengan alasan inilah misteri ini dianggap gampang, padahal seharusnya dianggap sulit mencari solusinya
~Edgar Allan Poe~ 

Kisah detektif menjadi sahabat saya sejak kecil. Ada Lima Sekawan, empat saudara yang sibuk memecahkan sebuah misteri diantara liburannya. Pasukan Mau Tahu, sekumpulan anak-anak yang mengisi liburan sekolah dengan aneka kegiatan penyelidikan dan bersaing dengan polisi desa. Trio Detektif yang mempergunakan paduan otak,otot dan riset dalam memecahkan misteri. Berkelana bersama sel-sel kelabu guna memecahkan sebuah misteri. 

Petualangan Tintin, wartawan yang berusaha memecahkan aneka kasus makin meramaikan bacaan saya.  Tintin atau kisah para pengacara yang sibuk memecahkan kasus, mungkin bukan kisah detetif bagi banyak orang. Tapi bagi saya pribadi, kisah yang mengandung unsur memecahkan sebuah misteri, keanehan atau teka-teki adalah kisah detektif.

Buku ini, menjawab beberapa pertanyaan dasar saya tentang aneka kisah detektif yang pernah saya baca. Pertama, apakah kisah-kisah yang mereka buat terinspirasi dari kisah nyata yang ada di masyarakat. Kedua bagaimana jika mereka, para penulis kisah detektif dihadapkan pada sebuah kisah nyata, apakah mereka berhasil memecahkan kasus tersebut? Jika bisa bagaimana caranya? Ketiga, bagaimana proses penulisan kisah detektif, sehingga penulis bisa membuat pembaca (kadang) tidak mengenali petunjuk yang diberikan?
Sudah tahu dong mana M Esfand

Ditemani segelas teh hangat favorit, sama seperti minuman favorit penulis (yang saya tidak kira bahwa DIALAH orangnya!-Terlalu rendah hati), mari kita simak bagaimana kiprah para penulis kisah detektif di dunia nyata.

Ada beberapa tokoh yang diulas dalam buku ini. Dari Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, PD James, Patricia Cornwell, Edgar Allan Poe hingga Steven Hodel. Khusus untuk sosok Sir Arthur Conan Doyle mendapat "jatah" dua.

Pencipta Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle medadak dihubungi seorang pengacara yang mengaku mewakili kliennya untuk meminta bantuan. Klien tersebut bernama Oscar Slater, seorang yang cukup lama malang-melintang di dunia hitam. Oscar menjadi tersangka kasus pembunuhan yang terjadi di Queens Terrace. 

Seorang wanita kaya berusia 82 tahun, Marion Gilchrist,  ditemukan meninggal dalam kondisi yang mengenaskan di ruang duduk. Helen Lembie pelayan muda yang biasa menemaninya adalah orang yang pertama menemukan tubuh Marion Gilchrist, bersama seorang tetangganya Arthur Adams. Kakak-beradik Adams tinggal di bawah flat Marion Gilchrist

Anehnya perhiasan indah milik Marion Gilchrist aman di dalam tempat penyimpanan. Begitu juga uang tunai. Yang hilang justru beberapa berkas dan sebuah bros kecil yang harganya tak seberapa.

Oscar Slater menjadi tersangka karena ia  menggadaikan sebuah bors permata beberapa saat sebelum kejadian. Tak lama setelah Miss Gilchrist tewas, Oscar ternyata meninggalkan Skotlandia. Ia menjadi tersangka.

Fakta bahwa tidak ada tanda-tanda pelaku masuk secara paksa, pencuri mengetahui kebiasaan Helen pergi belanja setiap malam, hanya sebuah bros yang hilang, serta adanya sosok yang berpapasan dengan Helen dan Arthur, tidak membuat pihak kepolisian bergeming. Mereka sudah sangat yakin  Oscar adalah pelakunya. Penyelidikan langsung mengarah pada Oscar. 

Sir Arthur Conan Doyle diam-diam melakukan penyelidikan sendiri. Kejanggalan-kejanggalan yang ada membuatnya tergelitik. Ia menelusuri kasus dari awal. Penyelidikan mengarah pada APA YANG TIDAK ADA dalam laporan kepolisian.

Menariknya, dalam buku ini pembaca diajak mengikuti cara kerja sang detektif. Ada petisi, gambar bros yang dicuri, peta lokasi kejadian, foto TKP, hingga arsip surat kabar yang memuat berita tentang kasus Marion Gilchrist, 

Terdapat juga tempat untuk kita mencatat petunjuk yang kita temukan sendiri.  Penulis sepertinya ingin pembaca mempergunakan sel-sel kelabu dan melakukan pengamatan sendiri hingga kita tidak menemukan hal-hal apa yang harus kita cermati  saat membaca sebuah kasus.

Meski demikian, ide ini patut diajungi jempol. Buku ini sangat cocok dibaca untuk mereka yang tertarik mencoba memecahkan sebuah kasus. Berlatih menjadi seorang detektif. Semacam log book. Tidak hanya dalam kasus yang mendapat perhatian dari Sir Arthur Conan Doyle tapi juga kasus-kasus yang lain.

Beberapa penulis memberikan analisa mengenai suatu peristiwa misterius. Agatha Christie justru menjadi pelaku dari sebuah kisah misterius. Ia menghilang selama 11 hari.

384469_f260.jpgAgak aneh menemukan kalimat sebagai berikut, " Jumat pagi, 3 Desember 1926, setelah naik ke lantai atas rumahnya untuk memberikan kecupan selamat tidur kepada putri tunggalnya, Rosalind, sekitar pukul 21.45 Agatha Christie terlihat memacu mobil Morris Cowley hijau meninggalkan rumahnya di Styles.”  Menemukan sesuatu yang janggal? Betul! Kata Jumat pagi dan sekitar pukul 21.45.  

Mobil Agatha Christie  ditemukan kosong  di dekat sebuah danau yang disebut "The Silent Pool".  Akhirnya Agatha Christie ditemukan menginap di hotel Swan Hydropathic di Harrogate. Ia menginap  dengan menggunakan nama Teresa Neele. Agatha Christie mengaku menderita amnesia yang disebabkan gangguan urat syaraf setelah ditinggal ibunya dan masalah perkawinan. 

Sir Arthur Conan Doyle, salah satu sahabat Agatha Christie juga ikut bereaksi atas berita tersebut. Ia dikenal sebagai orang yang tertarik akan dunia paranormal, maka bukan hal aneh ketika ia memberikan sarung tangan Agatha Christie pada salah satu paranormal. 

Kisah lengkap menghilangnya Agatha Christie bisa disimak di http://www.ns8.kompas.web.id/2011/02/misteri-11-hari-yang-hilang-dari.html

Diantara kata yang berisi aneka petunjuk samar, terselip kalimat yang agak unik menurut saya. Kalimat tersebut berada diantara kisah Poe dan kasus Ganjil Mary Rogers di halaman 122. "Bayangan Mary mungkin saja mengalami kecelakaan mulai berkecamuk dalam kepala sang ibu. Itulah luar biasanya seorang ibu, apa-apa yang membuat buah hatinya menderita, dirasakannya dua kali lipat lebih dalam. Beri hirmat pada seluruh ibu di muka bumi."

Bagi saya kalimat tersebut tidak saja menunjukan kedekatan sang ibu dengan Mary, tapi juga menunjukan rasa sayang, penghormatan serta kedekatan si penulis dengan ibunya. 

Singkat kata,  buku ini tidak saja menambah pengetahuan kita mengenai para penulis tapi juga fakta bahwa suatu kejahatan bisa menimpa siapa pun, tanpa mengenal waktu dan tempat.  Kadang, ada juga misteri yang tidak terpecahkan. Tapi ada juga misteri yang sangat mudah dipecahkan, hanya butuh ketelitian.

Tidak ada hal yang lebih mengecoh daripada fakta yang sudah jelas
~Sherlock Holmes~

Sering kali fakta yang sudah sangat jelas ada di hadapan kita, terabaikan justru karena dianggap hal yang biasa, yang sudah sewajarnya begitu. Mulailah lebih memperhatikan sekitar, jangan-jangan kita sudah menjadi saksi  sebuah peristiwa misterius tanpa kita sadari, atau malah menemukan sebuah kasus.

Menarik!
Cocok dibaca sambil menikmati secangkir teh hangat di senja hari.

Sumber Gambar:
http://www.amazon.com
http://www.ns8.kompas.web.id

Rabu, 08 April 2015

Berani Ikut Sayembara Penulisan Resensi 3 Novel?



Membuat resensi bisa menghasilkan uang. Tidak percaya? Ini bukan hoax lho. Mengikuti sayembara penulisan resensi misalnya, merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan guna mendapatkan uang dari resensi.

Selain mendapatkan uang yang nomimalnya cukup menggoda, kita juga bisa mengasah keterampilan membuat review.

Salah satu yang layak dicoba adalah lomba resensi berikut ini:




Hadiah bagi pemenang lumayan lho,
Pemenang 1: Rp 1.500.000,-
Pemenang 2: Rp 1.000.000,-
Pemenang 3: Rp 500.000,-



Andai belum menang masih ada hadiah non uang tunai

Pemenang 4: Paket Buku dari Penerbit Exchange
Pemenang 5: Paket Buku dari Penerbit Exchange

Cuman punya satu buku bukan berarti tidak bisa mengikuti lomba. Atau hanya tertarik dengan salah satu buku yang ada. Tetap bisa ikutan lomba kok.


Ketentuan dan Persyaratan:
1. Peserta bisa memilih 1 dari 3 judul novel yang hendak diresensi: 4 Musim Cinta, ToBa Dreams, dan A Girl Who Loves A Ghost. 
2. Tidak ada batasan panjang resensi.
3. Resensi diunggah di blog/website pribadi peserta atau di akun media sosial peserta seperti FB, Goodreads, Kompasiana, dll. dengan menampilkan kover buku yang diresensi. 
4. Peserta boleh membuat lebih dari 1 resensi. 
5. Yang dinilai hanyalah kualitas konten resensi.


Kirimkan email berisi link resensi Anda dan biodata Anda ke: ptkaurama@gmail.com, cc: bunda_laksmi@yahoo.com dan fiksiexchange@gmail.com, paling lambat 25 Mei 2015. Cantumkan tulisan "Sayembara Resensi 3 Novel" di judul email. Pemenang akan disiarkan di situs Penerbit Exchange (www.kaurama.com) dan via email peserta pada 05 Juni 2015

Tunggu apa lagi! 
Mumpung masih tanggal muda, hayuh segera ke toko buku bagi yang belum punya buku.







SEMANGAT!!!!!







Jumat, 03 April 2015

2015 #43: Batik Tulis Tradisional Kauman, Solo: Pesona Budaya Nan Eksotis




Naskah: Heriyanto Atmojo, S.Sn

Desainer: Heriyanto Atmojo, S.Sn 
Rendra TH
Fotografer: D. Eka Timbol P
Heriyanto Atmojo, S.Sn
Fajar Yoga
Wisnu Wardana, S.Sn
ISBN: 978-979-045-109-4
Halaman: 112
Cetakan: Pertama-Juni 2008 
Penerbit: Tiga Serangkai


Batik dan Solo

Dua kata yang membuat saya nyaris meninggalkan seluruh buku yang  dipilih dengan susah bayah demi buku yang mengandung kata batik dan Solo.

Ceritanya, saat mengunjungi diskon heboh di salah satu toko buku di jakarta Pusat, saya menemukan berbagai buku lawas yang menggoda hati. Semangat juang membeli, apalagi harga murah sangat. Mendekati kasir, saya menemukan buku ini. Langsung masuk tas belanjaan.

Antrian yang panjang membuat saya nyaris meninggalkan semua belanjaan. Ternyata ada masalah dengan jaringan, harga yang tertera di komputer kasir atau apalah sehingga antrian lumayan panjang. Belum lagi ditambah dengan belanjaan pedagang buku yang memborong berkardus-kardus buku dengan total nominal yang fantastis.

Ternyata.....
Masalah berlanjut! Untuk sementara hanya menerima uang tunai. Lahh pigimenong ini. Justru momen seperti inilah gunanya debit, kartu kredit dan kartu sejenis dibawa. Kalau pun bisa ternyata hanya kartu yang dikeluarkan oleh bank tertentu saja yang bisa, dan itu pun kadang bisa-kadang tidak bisa. Hadehhhh!

Terpaksa kami, para pembeli sibuk membongkar uang tunai yang ada. Pilah-pilih, mikir lama. Akhirnya saya memutuskan buku ini, satu novel, serta dua buku untuk ponakan,  total Rp 150.000 mendekati jumlah uang tunai yang saya punya Rp 159.500. Untunglah saat nyaris sampai pada giliran saya, semua sistem pembayaran berfungsi normal. Tak pernah sebahagia ini saya membayar menggunakan kartu debit.

Cukup membahas proses pembelian buku ini hingga sampai ke rak buku saya. Sekarang marilah kita nikmati isi buku ini sambil menghirup teh hangat ditemani Brem Solo. Nikmat

Pada halaman awal, kita akan disuguhi Peta Wisata Surakarta. Jika ingin menikmati kota Solo cukup Di sana terlihat ada dua kampung batik. Kampung Batik Kauman serta Kampung Batik Laweyan. Untuk mencapai daerah Kampung Batik Kauman cukup menyusur Jl Alun-alun Utara arah ke Barat, belok kanan pada pertigaan ketiga untuk masuk ke Jl Wijaya Kusuma dan lalu berhenti pada pertigaan dengan Jl Cakra. Jika tidak mau repot, bisa mempergunakan jasa becak yang siap mengantar ke sana. Bahkan menurut saya mereka lebih bersemangat mengantar ke kampung batik dari pada ke tempat lain.

Meski sama-sama kampung batik, tapi kedua kampung tersebut memiliki perbedaan pada produk yang dihsilkan. Kampung Batik Kauman menyajikan batik dengan warna cenderung gelap, seperti coklat kehitaman. Sementara Kampung Batik Laweyan menggunakan warna lebih terang. 

Ada dua macam motif batik tulis di Solo, motif geometri dan nongeometris.  Yang termasuk motif geometris antara lain banji, ceplok, kawung serta garis miring. Untuk motif nongeometris semen, buketan dan terang bulan.


Sesuai fungsinya, motif  batik dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu motif tradisional yang dipergunakan untuk upacara,umumnya berupa motif larangan seperti parang rusak, kaung, serta udan liris.  Sementara motif yang dipakai untuk sehari-hari berupa nitik, galaran dan  lainnya. 

Menengok halaman selanjutnya, kita akan disuguhi Daftar Isi. Banyak pihak yang memberikan pengantar dalam rangka penerbitan buku ini. Salah satunya Wali Kota Surakarta saat itu Ir. H. Joko Widodo. 

Selanjutnya pembaca akan disuguhi uraian sekilas tentang Karaton Surakarta, Mesjid Agung Surakarta, Pasar Klewer, Kampung Kauman, Rumah Peninggalan Saudagar Batik Tempo Dulu, Berbelanja Batik Tulis Tradisional di Kauman, Keunikan Batik Tulis Tradisional Solo, Proses Pembuatan Batik Tulis Tradisional di Kauman, serta Kegiatan Belajar Membatik di Kauman.

Sepertinya buku ini juga mengusung tentang tempat yang wajib dikunjungi di kota Solo selain membahas Batik Kauman. Hal ini terlihat adanya pembahas tentang Karaton Surakarta, Mesjid Agung Surakarta, serta Pasar Klewer. Tapi jika diperhatikan lebih jauh, sepertinya penulis memasukan tempat-tempat dimana batik sering dipergunakan atau ditemukan dengan mudah. Dalam keraton, pastinya kain batik tulis merupakan pakaian yang sering dipergunakan. Di Pasar Klewer kita juga bisa menemukan aneka produk Batik Kauman.

Kampung Kauman memiliki hubungan erat dengan sejarah perpindahan keraton. Masyarakat kaum (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk membuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. 

Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga keraton

Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu batik klasik motif pakem/batik tulis, batik murni cap serta model kombinasi antara tulis dan cap. Mengingat awal mula berdirinya kampung ini maka tak heran jika batik tulis dengan motif pakem yang terinspirasi dari seni batik kraton Kasunanan merupakan produk unggulan kampung batik kauman.


Kita juga akan menemukan bagaimana cara proses pembuatan batik tulis Kauman dalam buku ini.Batik merupakan kain bergambar yang pembuatannya dilakukan dengan melukis malam dengan mempergunakan canthing pada kain.

Pengobeng, orang yang pekerjaannya membatik, sebelum memulai proses membatik harus mencairkan malam secara sempurna. Malam tersebut yang dijadikan seperti cat saat membatik. Ternyata terdapat juga aneka jenis malam.  Informasi mengenai aneka jenis malam bisa diperoleh dalam buku ini juga. 

Setelah malam cair proses selanjutnya adalah membatik kerangka, ngisen-iseni, nerusi, nembok, bliriki, medel, mbironi, disoga, nglorod. Proses lengkap bisa dilihat di halaman 99-105 dalam buku ini.

Batik sejak 2 Oktober 2009 sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan unutk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity), Keberadaannya perlu kita lestarikan.

Buku ini menurut saya lebih mengarah coffee table book. Isinya penuh dengan gambar dan sedikit uraian kata. Meski demikian kalimat yang ada merupakan kalimat yang singkat dan padat isi. Langsung menguraikan hal inti saja. Jadi jangan harap bisa menemukan aneka uraian panjang lebar dalam buku ini. Kadang gambar bicara lebih banyak dari pada rangkaian kata-kata.

Bahkan bagian tentang Kegiatan Belajar Membatik di Kauman hanya terdiri dari tiga halaman. Halaman yang berisi uraian kegiatan tersebut sebanyak satu halaman, sementara dua halaman sisanya berisi foto sehalaman tentang anak-anak yang sedang belajar membatik. Tapi melihat foto yang ada, kita bisa merasakan semangat belajar, rasa ingin tahu dan antusias mereka.

Seya berharap menemukan aneka pakem batik tulis dalam buku ini, namun ternyata hanya beberapa. Meski begitu sudah menambah pengetahuan saya tentang aneka motif batik. Lumayan bermanfaat guna memilah batik tulisan warisan eyang putri saya he he he.  

Oh ya, satu yang tidak ada dalam hal ini adalah bagaimana merawat batik tulis. Jika sudah punya batik tulis tentunya seseorang ingin merawat dengan baik, apa lagi mengingat harga batik tulis yang lumayan. 

Seingat saya, jika kita membeli batik di Kampung Batik Kauman, akan ada semacam lebel yang memberikan petunjuk bagaimana cara merawat batik yang dibeli. Saya tidak tahu apakah semua toko melakukan hal tersebut. Tapi dua toko langganan saya melakukannya.

Koleksi batik tulis saya cukup dibilas sebentar dengan air klerek. Itu sebabnya jika saya ke Solo pasti membeli cairan klerel. Memang salah satu produsen bubuk pencuci juga sudah menyediakan versi moderennya, tapi saya lebih menyukai bau asli klerek. Belakangan saya juga mencuci dengan mempergunakan air teh. konon bisa membuat batik lebih awet.

Para penulis patut diajungi jempol akan niat baiknya melestraikan budaya bangsa, batik tulis. Dengan buku ini, mereka juga sudah memperkenalkan keberadaan Kampung Batik Kauman ke seluruh nusantara.  Mungkin mereka bisa membuat buku sejenis mengenai hal lain yang ada di Jawa Tengah, Kota Sola khususnya. Sehingga generasi muda bisa lebih memahami kebudayaan bangsa.

Kecil-kecil eh tipis-tipis mantap isinya.
Tidak menyesal membeli buku ini.

Sumber gambar: 
http://www.thearoengbinangproject.com/kampung-batik-kauman-solo/