Kamis, 09 Juni 2011

Legenda FitzChivalry Farseer, si Anak Haram dari Six Duchies


Penulis            : Robin Hobb
Penerjemah     : Barokah Ruziati
Penyunting      : Lulu  Fitri Rahman
Korektor        : Tendy Yulianes
Halaman         :  532
Penerbit         : Matahati


Anak Haram!
Si anak haram!
Dasar anak haram!
Aku bukan pangeran sejati. Aku anak haram!

Sepanjang hidupnya,  Fitz selalu dikenal sebagai anak haram dari Chivalry, calon raja berikutnya. Kehadirannya jelas menjadi bahan pergunjingan diseluruh Kastel. Sudah bukan rahasia umum jika Putra Mahkota  Chivalry dan Lady Patience belum juga  atau bahkan tak bisa memiliki anak. Kehadiran  seorang anak lelaki, walau pun anak haram jelas  merupakan topik yang menarik untuk dibahas.

Nasib memang seakan tidak berpihak pada dirinya. Diseret ke kota yang asing dari pelukan hangat ibunya, ditinggal oleh ayah kandung yang belum pernah ditemui dan hanya diurus  oleh  anak buahnya. Sang ayah demi menjaga perasaan istrinya, memilih mengundurkan diri dan pindah ke pedesaan dari pada menjadi raja dan bertemu dengan Fitz. Terakhir, ia  harus kehilangan satu-satunya sahabatnya yaitu seekor anak anjing.

Fitz berada di bawah pengawasan  Burrich, abdi pangeran yang setia. Tugas sehari-harinya adalah mengurusi hewan peliharaan sang pangeran.  Fitz sendiri adalah panggilan untuk anak lelaki berdasarkan garis keturunan, terutama di luar pernikahan raja dan pangeran. Bagaimana juga darah Chivalry mengalir di dalam tubuh Fitz. “ .... kau memiliki darah keturunan raja. Anak haram atau bukan, kau putra kandung Chivalry,dari garis yang tua....”

Entah mana yang lebih baik baginya, dipanggil Fitz seolah mempertegas asal-usulnya atau dibanggil bocah saja.  Bagi anak berusia 6 tahun sepertinya tak ada bedanya, asal ia bisa makan cukup serta memiliki tempat berteduh. Syukur jika ada yang mau mengajari sesuatu keahlian.Sehari-hari Fitz hanya berkeliaran disekitar kastel tanpa ada yang memperdulikannya, kecuali saat sedang menjadi bahan percakapan.

Sang kakek , Raja Shrewd justru memiliki pemikiran yang berbeda tentang Fitz.  Sekarang mungkin saja Fitz hanya seorang bocah lugu yang berpenampilan kotor.  Namun dengan mengambil dan membentuknya, maka Fitz akan menjadi sosok yang setia, alih-alih sosok anak haram yang tak bahagia yang bisa  dibujuk untuk menggoyahkan takhta. Fitz akan menjadi sosok yang loyal, terikat dengan jiwa dan darah.

Mulai saat itu, Fitz diakui sebagai sosok yang unik.  sosok yang merupakan keturunan sekaligus bukan keturunan raja. Lihat saja lambang yang ada di pakaiannya, lambang kepala rusa jantan dengan benang perak, nyaris mirip dengan  anak-anak sang raja. Bedanya adalah adanya  jahitan benang merah yang memotong lambang tersebut secara diagonal, menutupi gambarnya. Tanda sebagai keturunan raja yang diakui, tapi tetap saja anak haram!

Ternyata dugaan sang raja  benar! Fitz berguna dalam banyak hal. Perlahan tapi pasti ia menunjukkan  sumbangsihnya sebagai anggota kerajaan. Setiap perintah yang seakan tak masuk akan dikerjakannya dengan serius hingga menghasilkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi kerajaan.  Setiap tindakannya dilakukan tanpa bertanya mengapa sebuah perintah diberikan. Yang ada dikepalanya adalah bagaimana cara menjalankan perintah, bukan mengapa.Sepertinya selama ini tanpa sadar ia diajar untuk patuh tanpa bertanya apapun. Ditambah dengan kemujuran-kemujuran yang selalu menyertainya, siapapun yang dulu meragukan kemampuan dan memandang rendah Fitz, sekarang memandangnya dengan hormat, walau sedikit.

Maka dimulailah kisah petualangan FitzChivalry Farseer  dari kerajaan Six Duchies yang penuh dengan intrik dan tipu daya. Dimana saja, kekuasaan selalu mengundang rasa iri dan dengki! Dan pastinya ada misteri percintaan yang seakan menjadi momok bagi kaum bangsawan.

Buku ini merupakan buku yang unik!
Tengok saja nama-nama yang membidani  kelahiran buku ini. My beloved sis Uchi, belobed manajer  Sil serta editor yang mumpuni, Lulu. Minimal ada jaminan mutu untuk terjemahan dan typo he he he. Jika urusan kisah  pastilah menjadi bagian sang tukang cerita.

Awalnya saya kurang menyukai cara bercerita dalam buku ini. Alurnya lamban sekali! Nyaris saya menyerah jika tidak ada dorongan semangat. Apalagi saya bukan pembaca yang gemar melahap narasi panjang lebar. Sampai nyaris setengah buku isinya lebih banyak narasi  seputar Fitz saja. Kisah tentang bagaimana ia menghabiskan waktu luangnya saja bisa lebih dari 2 halaman, duh membuats aya lelah membacanya. Perincian yang menurut saya tidak perlu justru bertebaran dimana-mana. Aduhhhhhhhhhhhhhhhhhh!

Untungnya kian kebelakang, kisah nya mendaak berubah 360 derajat!  Fitz tidak lagi tertatih-tatih, tapi ia berjalan cepat bahkan berlari di beberapa bagian. Uraian yang semula saya anggap tidak penting justru di belakang malah menjadi kunci utama guna memahami suatu hal. Kadang saya terpaksa mundur ke halangan belakang jika merasa lupa ini bagian dari kisah yang mana ya...

Penulis rupanya sengaja menceritakan banyak hal di awal kisah agar pembaca bisa memahami bagaimana tepatnay sebuah peristiwa terjadi. Tidak ada yang tersisa dari rangkaian rincian penjabaran di awal-awal bab. Semuanay terkemas dalam untaian kisah menawan. Sungguh pengorbanan yang sangat layak!

Selain mendapat pengetahuan tentang bagaimana kehidupan kerajaan pada zaman itu. Urusan politik kadang mendominasi segala aspek kehidupan dalam lingkungan kerajaan. Setiap tindakan seseorang disengaaj atau tidak bisa membahayakan dirinya, terutama jika bersinggungan dengan penguasa. Tengok bagaimana saudara ayah Fitz dalam bersikap, atau bagaimana pengasuhnya membelanya demi darma pada sang tuan

Kita juga mendapat banyak kalimat indah penuh petuah yang diselipkan dalam cerita. Misalnya saja "Buang kerinduanmu padanya. Dengan begitu tidak akan terlalu sakit."  Kalimat ini diberikan oleh  Burrich saat menasehat Fitz yang bersedih kehilangan anak anjing peliharaannya. Atau kalimat, " Belajar  tidak pernah salah. Bahkan belajar untuk membunuh tidaklah salah. Atau benar, itu hanya satu hal untuk dipelajari." Kalimat yang diterima Fitz saat akan belajar menjadi seorang pembunuh.
 
Upssssssssssss! Saya spoiler.
Habis mau bagaimana, kisahnya menggoda untuk dibagi sih. ^_^

Termasuk kata-kata umpatan yang biasanya jarang ada di sebuah novel di halaman 321 he he he

Sejujurnya saya sangat  membenci kelakuan para penghuni kastel Six Duchies! Teganya mereka memperlakukan Fitz dengan begitu kejam. Membiarkan seorang anak tidur di tempat sembarangan, makan semaunya bahkan mungkin makanan yang tak layak bagi anak-anak. Mendengar mereka mengumpat dan mengintimidasinya sebagai seorang anak haram yang tak berguna! Bukan salahnya jika ia lahir tidak dari pernikahan resmi orang tuanya, tapi seakan-akan seluruh kastel ingin membuat ia sadar dimana posisinya. Sungguh kehidupan yang berat bagi anak kecil!

Satu hal yang menonjol dalam kisah ini  adalah unsur persahabatan. Persahabatan yang dibina Fitz dengan sang pelawak terbukti telah menyelamatkan dia dalam berbagai bahaya. Persahabatannya dengan anjing kesayangannya telah menyelamatkan jiwanya. Persahabatan denga anak-anak lain telah menempa Fitz menjadi anak yang tangguh.

Robin Hobb adalah nama pena dari novelis Margaret Astrid Lindholm Ogden. Penulis ini  lahir  pada tahun 1952 di California dan menghabiskan masa kecilnya di Alaska. . karyanya terutama adalah fiksi fantasi , walaupun dia telah menerbitkan beberapa fiksi ilmiah .  Nama Robin Hobb mulai digunakannya pada tahun 1995 untuk karya tradisional Fantasy epik Abad Pertengahan Eropa. .

Karya-karya sebagai  Megan Lindholm antara lain:
The Ki and Vandien Quartet
  • Harpy's Flight (1983) ISBN 0-00-711252-1
  • The Windsingers (1984) ISBN 0-00-711253-X
  • The Limbreth Gate (1984) ISBN 0-00-711254-8
  • Luck of the Wheels (1989) ISBN 0-00-711255-6
Tillu and Kerlew
  • The Reindeer People (1988) ISBN 0-00-711422-2
  • Wolf's Brother (1988) ISBN 0-00-711434-6
Other Books
  • Wizard of the Pigeons (1985)
  • Cloven Hooves (1991) ISBN 0-553-29327-3
  • Alien Earth (1992) ISBN 0-553-29749-X
  • The Gypsy (1992) with Steven Brust ISBN 0-7653-1192-5
Short stories
  • Cut (Read online)
Karyanya sebagai Robin Hobb
The Farseer Trilogy
  • Assassin's Apprentice (1995)
  • Royal Assassin (1996)
  • Assassin's Quest (1997)
Liveship Traders Trilogy
  • Ship of Magic (1998)
  • The Mad Ship (1999)
  • Ship of Destiny (2000)
The Tawny Man Trilogy
  • Fool's Errand (2002)
  • Golden Fool (2003)
  • Fool's Fate (2003)
 The Rain Wilds Chronicles
  • Dragon Keeper (2009)
  • Dragon Haven (2010)
  • City of Dragons (to be released in 2012)
  • Dragon Blood (to be released in 2012)
Soldier Son Trilogy
  • Shaman's Crossing (2005)
  • Forest Mage (2006)
  • Renegade's Magic (2008)
Short stories
  • "The Inheritance" (The Realm of the Elderlings) in Voyager 5: Collector's Edition.
  • "Homecoming" (The Realm of the Elderlings) in Legends II, edited by Robert Silverberg.
  • "Words Like Coins" (The Realm of the Elderlings)
  • The Triumph, a historical story in the Warriors anthology.
  • "Blue Boots" (The Realm of the Elderlings) in Songs of Love and Death, edited by George R. R. Martin and Gardner Dozois.
Collections
  • The Inheritance & Other Stories (2011)
Gambar dari :
http://aworldofmakebelieve.blogspot.com/2011/05/assassins-apprentice.html

Senin, 06 Juni 2011

Jangan Lewatkan Lelang Campur sari!

THX to Silvero yang jadi pelaksana he he he

 Kenapa namanya campur sari? Karena buku yang mau dilelang campur-campur temanya. Ada fabel, romance, fantasi, juga horor.
Lelang akan berlangsung selama 30 menit. Dan lelang akan selesai begitu Admin mengatakan STOP.
 
Aturan main LELANG:
(0) Follow blog Truly Rudiono. Ini linknya: http://trulyrudiono.blogspot.com/  Jangan sampe ga follow yah, kalo pemenang ketauan ga follow bakal didiskualifikasi loh ^^
(1) setiap member grup boleh menawar lebih dari sekali
(2) harga tertinggi yang akan memenangkan lelang
(3) penawaran tidak boleh lebih dari Rp.3000,- dari penawar tertinggi sebelumnya
(4) lelang akan diadakan pada hari Rabu, 08 Juni 2011, lelang akan dibuka mulai pukul 12.00 dan ditutup 12.30 WIB, atau setelah admin menyatakan STOP
(5) pemenang lelang mengonfirmasi ke inbox Truly Rudiono
(6) barang akan dikirim setelah pemenang mentransfer ke rekening yg akan diberitahukan
(7) ongkos kirim ditanggung oleh Truly Rudiono
(8) pemenang yg tidak konfirm transfer sampai hari Senin akan dialihkan penawar tertinggi di bawahnya, syukur-syukur bisa selesai hari ini
(9) silakan ajukan penawaran kamu dengan cara komen di status yang ditentukan nanti
(10) penawaran kami buka dengan harga 5.000 rupiah. Abaikan penawaran yg lompat kejauhan karena berarti melanggar aturan dan tidak akan masuk hitungan.
 
Buku-buku yang akan dilelang:
 1. Tetra Mars 
Lanjutan buku Aggelos. Buku yang akhir-akhir ini sangat heboh di kalangan fiksi Indonesia. Lanjutan kisah cinta Slaven dan Viola dibeber di buku kedua ini. Kita juga diajak mengintip dunia malaikat yang sungguh menakjubkan. Tapi ternyata Slaven bukanlah satu-satunya pria yang ada di kehidupan Viola, semuanya ada 4 (tetra) siapa sajakah mereka? Semuanya akan terungkap di Tetra Mars
Oh ya buku ini ada tanda tangan pengarangnya loh. Jadi limited edition! Siapa cepat dia dapat!

review Tetra Mars:
http://trulyrudiono.blogspot.com/2011/05/kisah-cinta-abadi-viola-mondru-dan.html


2. Guardian of Ga'Hoole 3: The Rescue

Ini adalah lanjutan petualangan Soren dan teman-temannya. Kali ini guru favorit mereka, Ezylryb hilang. Soren dan kawan-kawan bertekad mencari dan menyelamatkan guru mereka tersebut. Berhasilkah mereka?

review The Rescue:
http://trulyrudiono.blogspot.com/2011/04/soren-segera-selamatkan-ezylryb.html








3. The Forest of Hand and Teeth

The Forest adalah buku dengan tema yang nggak biasa karena buku ini mengambil tema zombie. Kisah cinta segitiga di tengah belantara tangan dan gigi zombie. Seperti apa jadinya? Beranikan dirimu melangkah masuk ke belantara tangan dan gigi dan berpetualang bersama Merry.

Review The Forest:
http://trulyrudiono.blogspot.com/2011/04/forest-of-hand-and-teeth.html


 Buku favoritku!







Total harga asli buku  Rp.177.000, dilelang mulai 5 ribu saja!
Free Ongkir seluruh Indonesia!
Siapakah yang beruntung mendapatkan buku2 ciamik tersebut?

Siaga 1 untuk Hari Rabu yahhhh!

Minggu, 05 Juni 2011

Kisah Pertemuan Viola dan Slaven


Judul                       : Aggelos
Penyunting              : Nuraini Mastura
Penyelaras Aksara  : Eka Mustamar
ISBN                     : 978-979-433-588-8
Halaman                 : 515
Penerbit                  : Mizan Fantasi
Harga                      : Rp 58.000

"Sepertinya aku bisa disebut sebagai malaikat," bisiknya dengan sangat lembut. "Malaikat yang terbuang."

"Apa aku tidak salah dengar,  Viola? Mereka berdua sedang memperebutkanmu?"

Buku ini justru saya baca setelah terbuai oleh adiknya, Tetra Mars.
Dalam buku ini dikisahkan bagaimana Viola Mondru bertemu pertama kali dengan  Slaven Dulton.

Viola  sedang dirundung kesedihan  Cita-citanya untuk tampil sebagai balerina di tempat bergensi pupus. Persyaratan baru  telah diumumkan, ia membutuhkan seorang pengiring. Namun ia belum juga menemukan seseorang yang mampu memainkan musik indah. Musik yang mampu membuat dirinya terbuai  dan menyatu dalam untaian nada.

Tanpa sengaja ia bertemu dengan Slaven. Pertemuan, mereka awalnya justru kocak dan penuh perselisihan. Siapa yang mengira cowok yang menyebalkan itu justru mampu menggubah sebuah musik indah yang belum pernah di dengar Viola.  Saat mendengar musik yang digubah Slaven, kaki-kaki Viola bergerak dengan lincahnya seakan menyatu dengan musik. Viola menari dengan sangat indahnya seakan ia dilahirkan hanya untuk menari saja.

Sungguh seru!  Adegan awal pertemuan Slaven dan Viola membuat saya tertawa lepas. Dahulu pertemuan saya dengan seseorang juga berawal dari makanan. Beliau dengan percaya dirinya mencomot konsumsi yang disediakan untuk tim fotografi saya yang bertugas meliput  PSAU! Bayangkan panas-panas di lapangan eh dengan tenangnya dia membiongkar air minum, buah  dan cemilan tim saya. Sebagai ibunya anak-anak, otomatis saya segera mencegah pencurian itu. Dengan wajah heran dia malah mendengarkan saya yang sedikit mengomel,  alih alih minta maaf. Sejak itu pesona pe de saya  (katanya lho) yang membuat ia ingin tahu lebih jauh soal saya.

Sudah....sudah,  kembali ke Viola yah....Viola sendiri sudah mempunyai kekasih sehingga ia tidak terlalu menanggapi kelakuan aneh Slaven. Slaven seakan ingin  selalu mendominasi Viola. Ia selalu berupaya membuat Viola memilih antara Daniel sang kekasih atau Slaven. Segala cara ditempuh Slaven untuk memisahkan Daneil dan Viola. Di lain sisi Karen sepupu Viola dan para sahabatnya terus berlomba mencari perhatian Slaven. Namun sepertinay hati Slaven sudah tertutup untuk gadis lain.

Banyak kejadian aneh yang menimpa Viola, Slaven yang mendadak memiliki sayap namun menyangkal pernah terbang menyelamatkannya, guru yang menentang kisah kasihnya, hingga gagalnya usahanya untuk mempertunjukkan balet yang telah dilatihnya selama ini. Viola menuntut Slaven memberikan jawaban atas kejanggalan-kejanggalan yang dialaminya. Usaha keras Slaven menutupi segala kejanggalan sia-sia belaka. Ia terpaksa membuka jati dirinya.

Semuanya menunjukkan satu hal pasti, Slaven adalah seorang malaikat, Aggelos. makhluk suci. Slaven sedang menjalankan tugas khusus saat ia mendadak kehilangan ingatan. Untunglah ada Zero, Cupid yang setia menemaninya dan membantunya saat ia kebingungan.

Dibandingkan buku kedua. Buku ini jelas berbeda. Bisa dianggap buku ini adalah dasar saja. Dengan membaca buku ini, kita akan lebih memahami berbagai macam strata malaikat yang dibangun oleh Harry. Apa berbedaan diantaranya, bagaimana dunia manusia di mata mereka dan sebagainya.

Harry terilhat sangat berkembang di buku keduanya.  Saya seakan membaca dua buku dari dua penulis yang berbeda namun mengusung kisah yang sama. Harry rupanya  belajar dari kekurangan sehingga dalam Tetra Mars dan buku-buku selanjutnya (semoga) ia bisa  lebih berespresi dan mengeksplorasi konflik dengan manis

Di buku pertama ini Harry sudah menunjukkan tanda-tanda kisah yang  akan berkembang kian menarik dan menegangkan. Hanay saja, tidak bsai dipungkuri caranya bertutur dalam buku ini belum sepiawai dalam buku kedua.

Walau bagaimana buku ini layak dibaca.

Foto dari :
http://melorot.blogspot.com/2011/01/wujud-dari-penampakan-malaikat-jibril.html

Jumat, 03 Juni 2011

Shadowland, Rumah Bagi Jiwa-jiwa yang Tak Lagi Ada


Judul                 : Shadowland
Penulis              : Alyson Noel
Penerjemah       : Nuraini Mastura
Desain Sampul  : Windu Tampan
ISBN               : 978-979-433-620-5
Halaman           : 433
Penerbit           : Mizan Fantasi
Harga              : Rp 54.000

Demi cintaku padanya
Akan kulakukan apapun
Jika perlu  menyerahkan hidupku
Asalkan dia selamat....

Damen ......sayang.... ada sesuatu yang harus kukatakan padamu...
Ever mana yang lebih penting, rumah besarku atau hatiku????

Tak ada yang bisa meragukan betapa besarnya cinta Ever untuk Damen. Saat Damen sedang meregang nyawa, apapun dilakukannya untuk menyelamatkan kekasih hati, belahan jiwanya. Masalahnya setiap kali Ever  mencoba untuk membantu atau berbuat sesuatu, ia  justru membuat segalanya menjadii lebih buruk alih-alih memperbaiki keadaan.

Ever memang berhasil mendapatkan obat penawar bagi Damen. Damen memang selamat, tapi karena kepanikan Ever ia tak menyadari telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Damen memang selamat, tapi mereka tidak bisa bersentuhan. Sekali saja kulit mereka bersentuhan maka DNA mereka bisa  bertukar. Jangan dibayangkan bagaimana efeknya!  Ramon  telah berhasil menipu Ever yang begitu dibutakan oleh semangat menyelamatkan Damen.

Jika Ever merasa bersalah dan tertekan, maka Damen justru menanggapi dengan sikap yang sangat ekstrim. Ia menganggap semuanya adalah karma dari hidupnya selama 600 tahun dengan kemewahan dan kesombongan. Untuk menebus kesalahannya, ia segera mengubah gaya hidupnya, tidak hanya sekedar mengubah tapi benar-benar berubah hingga membuat banyak orang termasuk Ever terperangah.

Damen segaja meninggalkan mobilnya BMW M6 Coupe hitam seharga seratus sepuluh ribu dollar dengan mesin menyala di pinggir jalan agar diambil orang! SINTING! Lukisan Picasso dan Velazques yang mendadak raib dari rumahnya. Demikian juga nasib buku-buku yang ditandatangani oleh  Shakespeare dan Bronte bersaudara.GILA!  Bagi banyak orang semuanya merupakan barang yang tak ternilai harganya, barang yang tak tergantikan. Tapi bagi Damen semuanya hanyalah barang, tak ada yang memiliki arti sesungguhnya selain Ever.

Ever telah mengalami banyak rekarnasi sebelum akhirnya saat ini bisa berada di sisi Damen. Dari sosok gadis pelayan muda di Perancis, seorang putri Puritan di New England, warga kalangan atas genit di Inggris, seorang model inspirasi dengan rambut merah indah. Setiap kelahirannya kembali sangat dinantikan oleh Damen dengan suka cita.

Kadang takdir berada di luar jangkauan kita......
Jadi bagaimakah takdir Ever dan Damen?
Bersatukah mereka  atau.......
semuanya masih belum terbaca dengan jelas karena tertutup kabut bayang-bayang semu

Secara keseluruhan kisah dalam buku ini memang berkembang. Dalam buku ini ada tokoh baru yang membuat kisah menjadi kian menarik. Ada yang terancam kematian Ada yang kehilangan kemampuannya dan terusir  dari shadowland. Seru! Jalinan  ceritanya tak terduga, selalu ada konflik dan peristiwa baru, walau tak seperti sinetron kerjar tayang kita yang nyeleneh.

Tapi entah kenapa  untuk buku yang ini saya kurang merasa greget yang sama seperti buku terdahulu.  Ceritanya  perlahan tapi pasti mengarah ke menye-menye! .Bahasa yang digunakan oleh keduanya terasa aneh. Ever sepertinya kian terpuruk dalam rasa bersalah sehingga bertingkah nyeleneh. Sementara Damen menghukum diri dengan cara yang kian aneh dan berakibat membuat Ever makin  merasa bersalah setiap saat

Tapi namanya juga Ever. Kecintaannya terhadap Damen adalah kekuatan terbesarnya. Ia mungkin aneh, tapi jika berurusan dengan Damen ia akan menjadi sosok yang kuat, pandai dan kretaif. Usaha Ever untuk mencari penangkal bagi Damen tetap menjadi topik utama dalam buku ini,  ditambah banyak kejutan tentunya. Seru sih... 

Jangan lupa mengintip  http://www.youtube.com/watch?v=njNPxIW6sV8

Ke mana kau pergi mantraku akan ikuti
Ke mana kau sembunyi mantraku akan temukan
Ke mana kau beristirahat mantraku akan berada
Dengan tali ini tindakanmu terputus
Dengan darahku pengetahuanmu terbatas
Dengan mantra ini aku mengikat kau pada dirimu

Goresan tangan Windu Tampan sangat sesuai dengan imajinasiku terhadap isi buku ini.

Untung Surapati dalam Uraian Yudhi Herwibowo

Penulis              : Yudhi Herwibowo
Editor                : Sukini
Desain Sampul  : Rendra TH
Desain Isi          : Rendra TH
ISBN                : 978-602-98549-1-6
Halaman           : 660
Penerbit           : Metamind
Harga               : Rp  81.000

Dan, embusan angin memeradukan tetes-tetes air di atas daun-daun.
Lalu menyatu satu demi satu, lalu bergulir jatuh....

Buku bertema sejarah sepertinya bukan favorit saya

Andai saya mau membaca buku sejarah, walau dibuat menjadi roman sejarah tak lain karena faktor penulisnya. Jika bukan Mas Yudhi, belum tentu buku ini saya lirik. Bukan tidak menghormati pahlawan, tapi memang saya bukan penyuka bacaan sejarah. Saya hanya penyuka karya mas Yudhi yang kebetulan kali ini menulis roman sejarah

Untuk buku kali ini Mas Yudhi mengambil sosok Untung Suropati . Untung Suropati lahir di Bali sekitar tahun 1660 , wafat di Bangil, Jawa Timur pada 5 Desember 1706). Tidak ada yang tahu siapa orang tuanya secara jelas. Dalam buku ini disebutkan ia merupakan anak dari I Gusti Ngurah Jalantik. Saat mengungsi ke daerah barat anak keduanya terpisah dari rombongan. Untung kecil ditemukan oleh para pedagang budak. Ia diberi nama si kurus .

Sejak memiliki si kurus sebagai budak, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Bahkan Moor selamat dari berbagai bahaya. Maka sejak itu si kurus dipanggil Untung. Awalnya Untung, Pande dan Suzane bersahabat erat. Namun sejak Pande memutuskan untuk melarikan diri, hubungan Untung dan Suzane berkembang kearah yang tak terduga.

Tanpa memikirkan resiko dan pandangan masyarakat, seorang anak perempuan petinggi Belanda menjalin kasih dengan bekas budak. Sungguh hal yang memalukan saat itu! Moor sangat marah! Ia menjebloskan Untung ke penjara. Namun dengan bantuan Suzane, Untung berhasil melarikan diri dan mengajak tahanan lainnya.

Berkat ilmu kanuragan yang dipelajarinya dari Ki Tembang, Untung mampu bertahan melawan pasukan yang mengejarnya. Ki Tembang sendiri sudah pernah memberikan peringatan kepada Untung untuk menjauhi Suzane. " Selain itu, ada baiknya engkau ... engkau mencoba menjaga jarak dengan putri majikanmu itu. Kupikir, ini akan baik untuk semuanya ... Tapi, kadang perasaan yang bergerak dari hati kita, sama sekali tak lagi bisa kita halangi ...." Tapi begitulah cinta, siapa yang bisa menolak saat ia melebarkan pesonanya....

Untung dan kawan-kawannya melarikan diri hingga berada di Tanah Mati. Mereka membentuk pasukan dan mulai menjalankan misi mengusir Belanda agar bisa hidup layak di tanahnya sendiri. Mereka mulai melakukan perampokan pada rombongan VOC yang melewati daerahnya. Mereka dikenal dengan sebutan Begal dari Tanah Mati

Walau bagaimana jua....
Kenangan akan cinta selalu membayang-bayangi setiap langkah seseorang
Bahkan langkah seorang Untung sekali pun
Hingga ia harus berhadapan dengan sebuah pilihan
Berkhianat atas nama cinta
atau.....
Bertahan dan meredam cinta
Tentang hati....
Memanglah tak bisa sesederhana itu

Sedikit sekali yang memahami siapa sosok Untung sesungguhnya, buku ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai Untung Suropati,yang karena semangat juangnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

Misalnya saja nama Surapati yang berada di belakang namanya. Surapati merupakan gelar yang diberikan oleh Sultan Cirebon kepada Untung. Untung dan pasukannya membantu Sultan Cirebon menghancurkan keberadaan pos VOC yang dinilai makin menggerogoti kewibawaan kesultanan. Sayangnya aksi tersebut mengusik Raden Surapati, anak angkat sang sultan. Ia tak mengira apa yang dilakukan Untung berdasarkan permohonan ayahandanya. Ia mempermalukan Untung di hadapan orang banyak dengan menuduhnya sebagai gerombolan perampok!

Hal ini jelas membuat sultan sangat murka dan ganti mempermalukannya tanpa sengaja di hadapan orang banyak. Sakit hati, kembali membuat Raden Surapati menyusun sebuah siasat untuk menghabisi Untung. Disewanya pendekar bayaran untuk membunuh Untung. Saat siasatnya terlihat tak berhasil ganti ia membunuh para pendekart bayaran. Tapi kedoknya sudah terlebih dahulu terbuka! Ia dihukum mati atas semua tindakannya. Sebagai ungkapan penyesalan dan tanda terima kasih atas penghancuran pos VOC, Untung diberi gelar Surapati. Seterusnya ia dikenal dengan nama Untung Surapati.

Terus terang saya membutuhkan waktu lama membaca buku ini, sekitar 3 hari! Masalahnya bukan pada kisah yang dituturkan, namun banyak sekali nuansa sejarah yang dipaparkan dengan teramat sangat mendetail. Bagi saya yang tidak menyukai sejarah sungguh menyiksa! Kepala saya jadi terasa cenyut-cenyut meminjam judul sebuah lagu. Buku yang berat! Ingin rasanya saya lewati halaman yang memaparkan sebuah data sejarah. Tapi jika saya lewati tentunya saya tidak bisa mengerti runtutan sebuah peristiwa. Dilema.....!

Walau bagaimana banyaknya nuansa sejarah yang dipaparkan buku ini masih juga mengusung ciri seorang Yudhi. Simak saja kalimat berikut, " Lalu, sebuah perulangan terus terjadi. Bunga yang tumbuh, menguncup, bermekaran, layu kemudian mati. Lalu, kembali tumbuh, untuk menguncup lagi, bermekaran lagi, layu lagi, kemudian kembali mati...... Seiring iring-iringan burung-burung bangau yang masih membelah angkasa secara teratur dan kecipakan ikan yang memainkan nada-nada gembira di sepanjang sungai..."

Ciri lain terlihat pada penamaan bab yang ada dalam buku ini, Perempuan yang Menangis Bersama Rembulan, Sebuah Ikatan di Ujung hari, Dukungan Penuh Gelora, Kabar yang Mengoyak Jiwa, Perempuan Bermata Bunga, Selingkar Cincin Berukir Daun Bertaut, Lelaki yang Menepis Kematiannya, atau Pertemuan di bawah Jejatuhan Daun. Benar-benar bernuansa seorang Yudhi

Syukur banyak cerita segar yang memberi saya kekuatan dalam menuntaskan buku ini. Misalnya saja aneka makanan yang diuraikan dengan bersemangatnya pada halaman 299. Saya jadi merasa berada di Solo. Mungkin saja makanan tersebut justru tidak bisa ditemui di Solo, namun menyebutkan makanan khas daerah Jawa selalu membuat saya merasa rindu pulang ke Solo.

Informasi seputar tokoh yang di tuangkan dalam bagian yang diberi judul karakter sangat membantu saya memahami cerita. Dengan banyaknya tokoh yang berada dalam buku ini, kadang saya sering lupa. Untuk mengatasinya saya tinggal kembali ke bagian awal dan menyegarkan ingatan saya. Gampang dan sangat membantu.

Tembang yang ada, mengingatkan saya pada para eyang kakung. Dahuku saya sering mendengarkan beliau berdua menembang. Jangan tanya saya apa artinya, apa lagi maknanya.Sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, kemampuan Bahasa Jawa saya jelas jauh dibandingkan dengan Dion. Apa lagi dahulu saya suka menjaga jarak jika harus berhadapan dengan para eyang, maklum aturannya bisa membuat keringat dingin. Tapi, setiap kali alunan tembang terdengar, saya selalu merasakan suasana nyaman. Lingkungan sekitar terasa berbeda. baru belakangan saya memahami apa isi tembang yang sering mereka dendangkan.

Sesuai prinsip saya, setiap buku yang dibaca harus diselesaikan bagaimana juga.
Setiap buku yang diberikan sebagai hadiah HARUS direview bagaimana juga caranya....! SEMANGAT!
Semoga repiu ala kadarnya tidak terlalu mengecewakan

nuli bakal lahir
sawijining manungsa kang linuwih, kapilih
kang miwiti uripe nyarina batur najis
nanging ing titiwancine piyambake
bakal madeg raja tinresnan
kang bakal kalebu ati marang kawulane
nganti salawase


Ssst Mas Yudhi sudah bisa menulis status di FB sekarang………….?

Kamis, 02 Juni 2011

Jangan Coba-coba Bertarung Melawan Kematian!


Judul           : Mortlock
Penulis        : Jon Mayhew
Penerjemah : Leinovar
Editor          : Heni Setiani
Genre          : Novel Petualangan Fantasi,
                     Thriller, Horror
ISBN           : 979-1122-79-2
Halaman       : 386
Penerbit        :  LiniKata
Harga            : Rp 75.000

"Demi cacing-cacing yang menjadi teman tidurku,
Tanah dingin yang menjadi selimutku,
Dan ketika badai menerpa,
Tubuhku tergelak dan tidur."

Siapa pun akan merinding ketakutan jika berbicara soal kematian! Sedikit yang menyadari bahwa setiap hari ulang tahun yang kita lewati berarti  kian mendekatkan kita akan kematian. Jika bisa, banyak yang ingin  lolos dari kematian. Itu sebabnya manusia terus berusaha menemukan kekuatan untuk bertarung melawan kematian. Aneka legenda seputar itu juga berkembang, mulai  dari pil abadi, air  panjang umur hingga Bunga  Amarant.

Tiga orang sahabat Sebastian Mortlock, Thorlough Corvis dan Edwin Chrimes menjelajah hingga ke gurun pasir penuh jebakan di ujung dunia untuk menemukan bunga ini. Konon menurut  berita yang tersebar, bunga ini memiliki kekuatan untuk menghidupkan yang sudah tak bernyawa. Sebuah kekuatan besar dalam sesuatu yang sangat rapuh, kekuatan dari kehidupan dan kematian!

Mereka memang berhasil menemukan bunga itu. Tinggi Bunga Amarant  sekitar satu kaki, memiliki kelopak-kelopak lembut seperti beludru membungkah ke atas, nyaris menyerupai tulip. Bunga itu bercahaya, dan cahayanya berdenyut menghasilkan seberkas cahaya merah  berkedip dan menerangi permukaan kelopak bunga. Sungguh bunga yang cantik.

Namun sesuatu hal yang menakutkan menimpa  mereka disana!  Mereka merasa diawasi!  Tanaman rambat mengeluarkan suara bergemerisik di sekeliling mereka. Sosok-sosok samar kemudian menyembul di antara bayangan. Aroma manis meruap di udara. Dan muncul wajah sangat tirus yang menyeringai di antara tanaman rambat! Mereka dicekan kengerian yang luar biasa!

Mereka diserang oleh para penjaga Amarant! Untungnya mereka bisa lolos.  Membawa bunga  itu keluar dari habitatnya ternyata sangat berbahaya. Ketiganya lalu melakukan sumpah darah, mereka tidak akan membawa Amarant keluar dari tempatnya berada. Bunga cantik itu ternyata  membahayakan!

Tapi sumpah hanyalah sumpah! Salah seorang dari mereka bertiga berkhianat!  Semula sahabat, sekarang mereka berseteru saling menuding  siapa yang mengambil bunga itu. Bunga itu ternyata membawa dampak tanpa mereka sadari. Setiap yang pernah berada  di dekatnya menjadi  memiliki kemampuan istimewa. Hidup mereka tidaklah sama jika pernah berada di dekat Amarant

Salah satunya Corvis yang telah menjadi  Lord Corvis. Ia mampu menghidupkan makhluk yang sudah tak bernyawa dan menjadikannya sebagai  pasukan.  Lord Corvis  menghimpun pasukan dari kaum ghul-gagak malam, pemakan bangkai dengan tujuan yang sangat jelas, mencari si pencuri Amarant  serta menggunakan Amarant menjaga ketertiban dunia (katanya!)

Secara garis besar, ceritanya lumayan menarik. Idenya segar, selama ini saya baru beberapa kali membaca sebuah kisah dengan mengambil bunga sebagai latar belakang cerita.Bunga Amarant sebenarnya merupakan bunga jenis biasa, tetapi warga Yunani kuno percaya bunga ini abadi, mereka mengaitkan tanaman itu kepada Artemis dan  Diana, dua dewi pemburuan dalam keyakinan Yunani dan Romawi.

Kovernya juga menawan. Penerbit seakan sengaja membuat edisi hardcover. Saat melihat di tumpukan buku baru, terus terang kover memang yang pertama menarik perhatian saya. Saat diperhatikan  sisi pinggir kertas yang sengaja diberi warna hitam kian menambah nuansa menyeramkan tapi sangat sesuai dengan tulisan yang ada di kover, "Kematian bukanlah sebuah akhir..."

Disetiap  bergantian bab, kita akan menemukan aneka kalimat yang diambil dari berbagai sumber.  Kesamaannya hanya satu, kalimat tersebut menyebutkan seputar kematian. Ada yang bernada suram, menakutkan namun ada juga yang lucu, tapi tetap saja semuanya  membicarakan hal seputar kematian. Contohnya kalimat berikut, " Apabila aku mati  dan berada dalam kubur, diselimuti tanah dingin, Burung Kutilang akan datang dan menyanyi. Dan hari pun berlalu."

Sayangnya, kertas yang digunakan   tipis dan berkerut di beberapa bagian. Hal ini mungkin saja terjadi mengingat  nyaris setiap sisi pinggir mendapat sentuhan warna hitam kelam. Kertas juga jadi berbayang, sehingga saat kita membaca sebuah halaman, isi halaman di belakangnya  juga ikut terlihat secara sama-samar. Seandainya dipakai kertas yang lebih tebal tentunya kian menarik. Layak sekali dibandingkan  dengan harga jual yang ikut naik karenanya.

Beberapa bagian  menggelitik nalar saya. Misalnya  saja kisah di halaman 141.  "Gagak merah dengan busana kebesaran mengepak dengan gagahnya ....sosok perempuan jangkung keluar dari kereta...." Saya menangkapnya sang gagak berubah menjadi sosok seorang perempuan jangkung dan berjalan turun dari kereta menghampiri... (sensor!)

Tapi tak jauh dari kalimat tersebut tertulis, " Kemudian ghul itu berubah dan berjalan dengan langkah-langkah panjangnya ke kereta kuda...." Saya jadi bingung nih! Tadi sosok ghul berubah menjadi seorang perempuan, lalu disebutkan berubah lagi. Berarti kembali menjadi ghul .   Lalu bagaimana ghul bisa  berjalan dengan langkah-langkah panjang ke kereta kuda????? Bukannya ia menjadi burung gagak?  Duh saya kok tidak menemukan penjelasannya dalam buku ini, apa saya yang kurang teliti saat membaca.


Alur ceritanya memang cocok untuk anak-anak sesuai dengan sasaran penulisnya. Pesan moralnya jelas. Tapi kesan Dark Gothick Fantasy kok sedikit mengkhatirkan bagi saya. Nuansa suram dan horornya yang tidak biasa apakah bsia diterima oleh anak-anak kita?  Memang makin ke belakang kesan suramnya kian berkurang, mungkin harus didampingi oleh orang tua saat mereka membaca buku ini.

Saat pertama membaca,  saya sempat dicekam ketakutan, terbawa suasana yang dihadirkan oleh buku ini. Apalagi buku ini saya baca lewat tengah malam. Berawal dari tidak bisa tidur, iseng saya ambil salah satu buku dari tumpukan pekerjaan rumah saya. Kok yang terambil ini. Walhasil saya jadi kian sulit tidur.

Silahkan ditilik  www.jonmayhew.co.uk untuk mengetahui  lebih lanjut hal-hal seputar buku. Selain buku ini penulis  juga menulis The Demon Collector


Sebaris kalimat bijak yang ada dalam buku ini layak diperhatikan. Kematian tidak ada artinya apabila kau tidak bisa mengendalikannya  Sebaiknya memang mempersiapkan diri menghadapi kematian, alih-alih sibuk bertempur melawan hal yang sudah pasti.
Sudah siapkah Anda?????

Minggu, 29 Mei 2011

Saya (juga) memang tidak pernah jadi dewasa

Gara-gara membaca posting  beloved Lita Saya memang tidak pernah jadi dewasa
 http://www.facebook.com/notes/lita-soerjadinata/saya-memang-tidak-pernah-jadi-dewasa/10150207449812068 ( Ssst ijin pakai judul  sis ^_^ ) Saya jadi ikutan tertarik mengintip jajaran buku yang ada di rak buku GRI. Dari jumlah buku yang dibaca jelas meningkat. Tahun 2010 ada 206 buku (campuran cergam komik, novel de el el) sementara tahun 2011 hingga hari ini  baru 93 buku (65 novel, fiksi de el el sisanya cergam dan komik). Tentunya masih bisa bertambah mengingat sekarang baru penghujung bulan Mei.

Jumlah halaman juga bertambah. Tahun lalu ada 58.206 halaman! (kaget sendiri) Tahun ini untuk sementara ada  21.551 halaman. Menilik tahun terbitan, ternyata sebagian besar merupakan buku baru, keuntungan menjadi anggota Ordo Buntelan nih ^_^

Sekarang soal bintang yang menandakan penilaian kita terhadap sebuah buku. Untuk tahun 2010 ada 22 buku yang diberi  bintang 5,  tapi ada juga 5 buku yang diberi bintang 2. Saya memang tidak akan pernah memberikan bintang 1, minimal bintang 2.  Anggaplah sebagai penghargaan atas usaha menerbitkan sebuah buku pada pihak-pihak  terkait. Sementara untuk tahun 2011, sudah ada 9 buku yang mendapat bintang 5, sementara bintang 2 ada 5 buku.

Saat menilik siapa penulis yang sering saya baca, mau tak mau saya tertawa. Pantas...................!
Saya memang penggemar sosok Conan, maka jelasnya pengarang bukunya akan menempati posisi paling atas. Sampai saat ini sudah ada 60 buku Conan, belum yang kisah khusus. Ada juga penulis yang saya baca bukunya karena ketiban tugas mengurusi launchingnya. Saya nyaris membaca lebih dari 50 % buku karangannya, jika tidak bagaimana bisa membuat Siaran Pers plus repiu.

Lengkapnya adalah :
 1. Gosho Aoyama 97
2  Enid Blyton 77
3. Hergé 37
4. Morris 35
5. Masashi Ueda 33
6. Motohiro Katou 31
7. Boy S. Sabarguna 27
8.  R.A. Kosasih 24
9. S. Mara Gd 23
10.  Peyo 21
10. Kanari Yozaburo 21
12.  Agatha Christie 20
12.  Robert Arthur 20
14.  John Grisham 19
15.  L.E. Blair 18
15. William Arden 18
15. Takeshi Maekawa 18

Kalau begini, musti setuju sama salah satu iklan telepon genggam  (kurang lebih) "Di setiap diri seseorang ada unsur anak-anak" Ngajak salaman Sis Lita

Sekalian mengintip list buku yang saya baca. Ternyata untuk bulan ini, sampai tadi pagi hanya membaca 10 buku. jauh dari produktif yahh! Bukunya antara lain:

    Judul buku                              Pengarang                      Hal        Bintang
1. Buku Pintar Mitologi Dunia      Nurla Isna Aunillah          168          3
2. The Count of Monte Cristo    Alexandre Dumas              568         5
3. Red Riding Hood                   Sarah Blakley-Cartwright  341         4
4. Miss Billy                                Eleanor H. Porter             308         3
5. Tetra Mars                            Harry K. Peterson             507          5
6. Fatamorgana di Segitiga Emas Suryatini N. Ganie            211         3
7. Treasure island                    Robert Louis Stevenson       352         3
 8. Math doesn't Stuck             Danica McKellar                 350         4
9. Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib  Diana AV Sasa 265         4
10. Untung Suropati                Yudhi Herwibowo                660         3

Buku yang paling berkesan tahun 2011, tetap Pearl  of China

Hayuh mana list kalian?Tercapai tidak  target kalian tahun ini?
Latah yang positif nih  memacu semangat membaca

Kisah Cinta Abadi Viola Mondru dan Slaven Dulton


Judul            : Tetra Mars
Penulis         : Harry K. Peterson
Penyunting   : Nuraini Mastura
Halaman      : 507
ISBN          : 978-979-433-617-5
Penerbit      : Mizan Fantasi.
Harga         : Rp 84.000

Aku mulai merindukannya... hatiku mulai melolong di tengah kekosongan yang sudah menggerogotiku sekian lama. Aku ingin segera melihat wajahnya, merasakan emosinya, meraba permukaan wajahnya, bahkan sekalipun mendengar teriakannya...

Viola Mondru 
Slaven Dulton 
Kisah terlarang...

Romantis..... ?  Memang
Menye-menye......? Jauhhhhhhhhhhhhhhhh!

Saat pertama kali membaca  draf buku ini bermula karena rasa kasihan. Nama sang tukang cerita Harry K. Peterson terus terang belum pernah saya dengar. Pertanyaan pun saya lontarkan ke teman-teman di Komunitas Fantasi, ada yang menyebutkan bahwa Harry adalah seorang lelaki tua alias kakek-kakek berusia 72 tahun. Siapa yang tak mau merasa salut plus kasihan. Bayangkan di usia 72 tahun masih semangat  menulis kisah setebal itu (draf yang saya terima terdiri dari 429 halaman A4). Tapi kasihan juga kalau naskah ini tidak diberikan  komentar walau bagaimana isinya, minimal sebagai penyemangat. Komentarnya yang sederhana sajalah.

Selesai membaca, rasa kasihan berubah menjadi rasa kagum! Gaul sekali kakek ini! Kisah yang ditulisnya memang mengenai kisah cinta terlarang yang belakangan mulai bermunculan.Tapi lokasi kejadiannya sungguh luar biasa. Tetra Mars berkisah mengenai  cinta antara  terlarang antara manusia, Viola Mondru serta malaikat bernama Slaven Dulton. Cerita yang biasa memang, tapi sang penulisnya  membuatnya menjadi  sangat tidak biasa.

Belakangan,  saya baru tahu bahwa sang penulisnya bukanlah seorang kakek gaul tapi seorang lelaki gaul he he he. Harry mampu membuatku mendadak melo dengan untaian kata-katanya. Sampai-sampai  seorang megira aku teramat merindukannya saat membawa penggalan kalimat Harry di status FB saya.  Sebenarnya sih.... sedikit, tapi tidak seperti Viola yang teramat merindukan Slaven kok ^_^

Viola dan Slaven sangat memahami bahwa hubungan mereka akan saling menyakiti satu dengan lainnya. Namun saat yang satu berupaya untuk pergi, maka ia membuat yang lain sangat menderita. Sementara ia sendiri meredam rasa rindu yang mendera. Sungguh kisah cinta yang rumit. Tapi mereka menikmati rasa cinta dengan segala kepedihan itu dengan keyakinan akan makna cinta itu sendiri.

Entah bagaimana Viola bisa  hidup tanpa kehadiran Slaven di sisinya.Setiap helaan nafasnya adalah Slaven. Detak jantungnya berdetak nada  Slaven. Aliran darahnya membawa nama Slaven.  "...Aku berteriak kencang... menangis. Aku ingin menjerit sekuatnya. Bahkan aku rela menggantikan posisinya agar dia terbebas dari neraka itu...." Sungguh tak ada yang bisa meragukan betapa cinta Viola terhadap Slaven. Bahkan Karen, sepupu Viola yang berusaha menjauhkan mereka sekedar untuk melindungi Vola tak mampu menahan gejolak kisah cinta mereka yang membara.

Saat Viola galau, sosok cupid bernama  Zero malah memintanya menjauhi Slaven. Hatinya kian miris.  Viola sangat tahu Quierro dan Dyfed tidak bisa bersatu. Dunia mereka berbeda. Dunia manusia dan dunia malaikat.  Tapi ia tidak bisa mebohongi hatinya, betapa ia memuja Slaven. Harry dengan piawainya menciptakan sebuah dunia yang diperuntukkan bagai malaikat dengan strata guna mempertajam konflik ksiah kasih Viola dan Slaven.

Slaven juga sangat mencintai Viola. Ia rela melepaskan kesempatan menjadi malaikat dengan strata tertinggi yang sangat diimpikan setiap malaikat  guna  menepati janjinya pada Viola. Ia rela melakukan apapun demi bersama Viola. Demi memuaskan rasa rindunya kepada Viola maka Slaven memutuskan untuk kembali ke dunia manusia. Keputusan yang ditentang banyak malaikat. Ia bahkan rela.... ah baca sendiri sajalah, saya sudah terrlalu banyak membocorkan isi kisah ini ^_^

Pemilihan judul juga mengasyikan  untuk ditelaahi. Jika membaca dengan teliti, sebenarnya kisahnya  sudah bisa diduga mengenai apa.  Kata-kata Four Choces menandakan ada 4 pilihan . Mengacu pada kata Mars, pembaca yang jeli bisa menebak bahwa itu untuk menyebutkan sosok seorang lelaki. Sedangkan tetra adalah empat. Jadi bisa diduga tentang apa.

Secara garis besar, kekuatan novel ini ada pada kepiawian seorang Harry memilih kata dan merangkaikannya menjadi sebuah kalimat. Setiap kata seakan diplih dengan teliti dan sudah sepatutnya berada di sana. Banyak kata romantis yang dituturkan dengan elegan sehingga tidak berkesan menye-menye.  Misalnya saja  perkataan Viola, "Ya, sampai kapan pun Slaven pasti akan kembali. karena dia... adalah takdirku" atau kata-kata Slevan "... memuaskan semua  kerinduan yang sudah hampir membunuhku."

Bicara soal kekurangannya..., mungkin ada pada beberapa kisah yang  dibuat terlalu ala film alias terlalu luar biasa. Penulis sendiri mengakui bahwa ia terbawa pengaruh kisah cinta ala negara pengguna kain sari dan kota perfilman dunia. Andai kata bobotnya lebih disesuaikan tentunya akan membuat cerita kian menarik tidak terlalu dramatis  layaknya sinetron kejar tayang kita.Kover juga terasa aneh. Seharusnya gambar malaikat dibuat kian tersamar serta tak berkesan menggunakan semacam celana penuh paku-paku ala emtal.

Harry sengaja bermain didaerah yang sedikit sensitif. Malaikat digambarkan sebagai sosok yang juga memiliki rasa cemburu, iri hati bahkan jatuh cinta. Tapi namanya juga fantasi... apakah sih yang tak mungkin selama penjelasan sesuai nalar. Jika menilik pembagian kisah fantasi, maka buku besutan Harry ini bisa dimasukan dalam kategori Contemporary Fantasy.Genre ini membaca kisah supranatural atau sihir dalam kehidupan saat ini.

Saya sangat tidak sabar menunggu buku pamungkasnya. Duh senang rasanya jika berkesempatan mengintip buku ketiganya sebelum yang lain membacanya.

Selama  saya membuat review, hanya  ada beberapa buku yang saya buatkan review lebih dari 1 kali. Selama ini hanya Fantasi Fiesta 2010, Ranah 3 Warna, sekarang Tetra Mars. Dan baru kutipan dari Tetra Mas yang saya pergunakan lebih dari sekali sebagai status di FB.  Rokemen kok....

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

 Ssst Dion, kelanjutan kisah yang waktu itu jadi kurir
Cocok nih suasananya

Dahulu....
Aku tak tahu kenapa, sungguh
kau acapkali mampir dalam kehidupanku
Sesaat bayangan dirimu berkelebat di hadapanku, sepertinya
Lain waktu kau menyusupi pikiranku hingga mengganggu konsentrasiku

Kau memang hanya orang biasa
Terlalu biasa untuk dikagumi malah
Sering kali kau justru menyebalkan
Namun ada sesuatu dalam dirimu yang mampu menarik perhatianku

Jangan  tanya kenapa!
Karena sampai detik ini aku juga tak tahu
Hanya satu hal yang kutahu dengan pasti
Kau membawa warna baru dalam kehidupanku

Pasti ada yang salah dikepalaku
Hingga berkata YA

Sekarang.........
Kau dengan segudang hal menjengkelkan
ditambahkan sedikit kebaikan
Ternyata mampu memporakporandakan hatiku
Memberikan hanya yang terbaik untukku

Untung ada yang salah di kepala mereka
Hingga menampik dirimu
keuntungan untukku

Happy  anniversary dear
Sepertinya baru  kemarin utusanmu datang
Membawa seikat bunga dan barisan kata yang kutahu bukan buatanmu
Dengan sedikit ancaman dan paksaan ku minta ia melakukan  hal yang sama
kubuat kantormu heboh seperti kau buat kostku heboh dulu

Terima kasih telah memilihku untuk menghabiskan waktu bersama....
Ternyata aku tidak salah melangkah

Tuh.....pasti kepalaku sedang error waktu itu
Sampai mau jadi kurir lagi plus bikin ini
*bongkar2 kotak obat cari obat anti error*

Selasa, 24 Mei 2011

Buku Sakti Para Resensor

Judul                    : Berguru pada Para Pesohor
Penulis                 : Diana AV Sasa, Muhidin M. Dahlan
Pewajah Isi          : Cahyo Purnomo Edi
Pewajah Sampul  : Eddy Susanto
Pemeriksa Aksara : Gita Pratama
Halaman              :  254
ISBN                  : 978-602-98997-0-2
Cetakan               : I, April 2011
Penerbit               : 1 # dbuku
Harga                  : Rp 50.000

Saya penggemar novel???
Hem…. Saya segera melirik rak-rak  buku saya. Sepertinya disana juga ada buku agama,  pengetahuan umum, motivasi, sejarah  dan kamus. Ada satu lemari kecil dua susun khusus untuk buku-buku seputar Bahasa Mandarin. Geser sedikit ada bagian khusus untuk buku seputar wayang, disebelahnya berjejer cergam. Lalu ada satu rak khusus untuk buku-buku marketing. Di bagian bawahnya tersusun dengan rapi komik-komik.  Tak ketinggalan buku-buku untuk swap. Sepertinya sih isi rak buku saya beragam.

Tapi tunggu  sebentar……………….., saya mendadak melihat tumpukan PR. Mau tak mau saya  jadi meringis sendiri melihat tumpukan buku yang harus saya resensi. 99,9% adalah novel. Walah! Pantas saja saya disebut penggemar novel. Padahal saya membaca apa saja asal bukan cerita menye-menye. Hanya saja memang saya lebih suka meresensi novel karena meresensi saya anggap sebagai hiburan. Buku motivasi misalnya, jarang saya resensi kecuali buku itu saya anggap memiliki pengaruh besar bagi diri saya.

Kalau  mau ditilik ulang seluruh resensi saya, ada juga seputar  pengetahuan umum, komik, manajemen serta undang-undang.  Mungkin efek menjadi  anggota Ordo Buntelan,  sebutan Suhu Tanzil buat saya dan para sahabat, sebagian besar buntelan buku  yang saya terima memang novel . Tapi minimal penulis buku ini tidak latah mengira saya seorang laki-laki.

Saat buku ini mendarat setelah melalui perjalanan panjang , saya langsung terpesona pada pemilihan kertas untuk kover. Sangat jarang kover menggunakan bahan seperti yang dipakai  buku ini. Segera saya pamerkan ke salah satu sahabat yang juga memiliki penerbitan Dandy, biar dia tergoda. Pemilihan warna kover serta ilustrasi atau apalah namanya juga tak kalah menggoda.

Sayang…., kok tidak ada tanda tangan penulisnya yah? Sebagai buku yang dijual terbatas, tentunya dengan tambahan tanda tangan mereka yang berada di balik terbitnya buku ini akan memberikan  nilai lebih. Tentunya selain isi buku yang memang unik.

 Membaca buku ini membuat mata saya kian terbuka. Selama ini meresensi saya lakukan sebagai hiburan menyalurkan hobi dan ungkapan terima kasih kepada pemberi buku. Jarang sekali saya bersemangat mengirim ke media massa. Jika mengirim juga bukan mengharapkan  pundi-pundi rupiah yang bakalan diterima. Tapi karena merasa buku itu sangat layak untuk disebarluaskan keberadaannya. Pola berpikir saya sedikit berubah setelah membaca buku ini

Dalam buku ini, disebutkan juga hal mendasar mengenai perbedaan antara ringkasan buku (Book Report) serta resensi buku (book review).  Kedua istilah ini umumnya dipakai di luar negeri, sementara untuk kawasan tanah air cukup dikenal resensi saja.  Ringkasan buku berisi informasi mengenai penulis, judul, waktu dan tempat penerbitan serta tak ketinggalan isi buku. Sementara resensi buku lebih bersifat pribadi.  Resensi mengandung isi seperti ringkasan, tapi mengulas lebih dalam serta memasukkan pendapat pribadi si pembuat resensi.

Secara garis besar buku ini bisa  dijadikan panduan bagi mereka yang ingin menjadi seorang peresensi buku alias resensor, Sedangkan bagi  yang sudah menggeluti dunia ini, anggaplah sebagai penyegaran serta ajang berbagai ilmu.

Sayangnya buku ini sedikit sekali mengulas mengenai bagaimana cara mempromosikan sebuah buku pada bagian penulis mengajak menerbitkan sebuah buku. Selama di GRI, saya berkesempatan bertemu dengan banyak penerbit  dan toko buku sehubungan dengan  tugas saya sebagai Koordinator Khusus Kerja Sama Penerbit dan Toko Buku.  Beberapa mengeluhkan sulitnya menangani kegiatan pemasaran dan promosi bagi sebuah buku. Apalagi jika penulisnya adalah orang baru.  Belum lagi kadang penulisnya juga tak mau bekerja sama membantu. Menyusun sebuah rencana pemasaran, bagaimana berpromosi serta apa yang harus dilakukan saat buku sudah  ada sepertinya kurang dibahas secara mendalam.

Satu lagi tambahan informasi, belakangan ini ada bermunculan script  Agency.  Dengan bergabung kesebuah  script  Agency,  maka petugas penulis hanyalah PENULIS sebuah buku apapun bentuknya, baik novel, puisi , buku memasak, kumpulan tips bahkan buku pelajaran. Semua sudah diatur oleh mereka. Penulis tinggal berkonsentrasi  guna menghasilkan karya terbaiknya. Salah satu yang layak dilirik adalah  Kurniaesa Script Agency.

Setiap orang memiliki berbagai macam gaya saat meresensi sebuah buku. Ada yang menggunakan bahasa sehari-hari alias bahasa pergaulan, ada juga yang menggunakan bahasa resmi.  Cara penulisan juga bermacam-macam, ada yang mengulas isi buku secara berimbang,  menambahkan pengetahuan sehubungan buku itu, atau  sengaja membuat resensi pendek agar pembacanya penasaran akan isi buku itu. Dalam buku ini tentu saja juga diulas bagaimana meresensi dengan baik dan benar serta  gaya dalam meresensi.

Sehubungan dengan buku ini, saya jadi teringat beberapa pertanyaan sahabat seputar bagaimana saya membaca dan meresensi buku. Untuk membaca sudah sering saya ungkapkan rahasia dapur saya. Sedangkan untuk resensi rasanya masih sungkan. Saya belumlah mendekati setengah dari para guru, masih perlu belajar banyak. Untuk kali ini anggaplah saya sedang mohon petunjuk mengenai cara saya meresensi  di hadapan para master.

Untuk saya pribadi, ada beberapa hal saat HARUS saya lakukan saya membuat resensi.
Dari  mana buku itu berasal, apakah hadiah atau hasil berburu ke toko buku. Mungkin orang akan menyebut saya  bersikap tidak adil tapi memang begitulah adanya. Buku yang saya peroleh dari pemberian entah penerbit atau sahabat bagaimana pun isinya harus dibaca sampai tuntas dalam waktu singkat dan dibuatkan resensi.

Soal penilaian sebuah buku memang tergantung selera pembaca masing-masing. Tapi saya membaca dan meresensi sebagai ungkapan terima kasih atas hadiah yang dikirimkan. Untuk bisa meresensi artinya saya harus menuntaskan membaca buku itu.  Dan entah bagaimana caranya saya juga harus bisa membuat resensinya.

Belakangan saya sangat bersyukur dengan banyaknya buntelan yang mendarat. Namun seiring waktu, saya mulai berbagi dengan para sahabat. Buku-buku yang bukan genre saya, jika dikirim oleh penerbit, dengan sepengetahuan mereka saya kirimkan kembali ke para sahabat yang saya yakini mampu meresensi buku dengan genre tersebut.  Semua pasti senang!  Buku tersebut berada di tangan orang yang tepat, diresensi dengan tepat dan saya juga tidak merasa bersalah melihat buku itu tertumpuk tanpa daya.

Namun jika buku yang saya baca merupakan hasil berburu ke toko buku tentunya perlakuannya akan beda. Andai ternyata tidak menarik, saya memang akan membacanya sampai tuntas, tapi tidak untuk meresensinya dengan panjang lebar. Paling saya cukup memberikan bintang dan komen singkat  pada rak buku saya di GRI.

Berusaha  menemukan kelebihan dan kekurangan buku itu secara adil.  Bicara soal adil sepertinya sebuah hal yang teramat susah. Bagaimana bisa adil jika kita sangat menyukai sebuah buku. Pastilah yang ada hanyalah pujian setinggi langit!  Cara yang saya tempuh adalah dengan menaikkan kadar kekaguman pada sebuah buku. Misalnya bintang 2 untuk buku yang saya sangat tidak mengerti isinya, bintang tiga untuk biasa saja, bintang empat untuk buku yang membuat saya terpesona, bintang lima untuk buku yang mampu memporak-porandakan emosi.  Saya tidak akan memberikan bintang 1. Bagaimana pun juga usaha penulis untuk membuat sebuah buku serta upaya penerbit menghadirkan buku tersebut layak diberikan penghargaan 1 bintang, terlepas bagaimana isinya. Bintang itu diberikan tanpa melihat siapa penulis bukunya, yang saya lihat adalah isinya.

Sekedar info, buku yang paling saya sukai selama tahun 2011, sampai saat ini adalah Pearl of China dari Penerbit Qanita. Saya membaca sambil menangis tanpa perduli berada di transjakarta, membaca ulang tanpa jeda serta menangis saat mendiskusikan dengan seseorang. Menyentuh!

Tapi biar bagaimana saya juga manusia. Kadang dalam membuat resensi , saya tanpa sadar memasukan penilaian terlalu pribadi untuk sebuah buku. Misalnya saja saat buku besutan penulis favorit saya diterjemahan dengan bahasa yang kacau balau menurut versi saya. Langsung resensi saya sebagian besar berisi kekecewaan akan buku itu. Beberapa sahabat sempat menyebutkan bahwa itu resensi yang terlalu terbuka mengungkapkan kekecawaan terhadap sebuah buku. Untuk pihak penerbit berlapang hati menerima kritikan yang saya lontarkan dengan teramat sangat jujur. Belakangan gantian saya yang merasa tidak enak hati karena mereka tetap berbaik hati mengirimi saya buku.

Jika saya merasa tidak bisa  menemukan kekurangan buku itu, maka saya mulai mengintip ulang resensi para sahabat. Menelaah ulang uraian mereka mengenai kekurangan buku. Biasanya saya menemukan beberapa point yang lolos dari pengamatan saya yang terlalu terpesona akan isi sebuah buku.

Resensi itu harus memberikan pengetahuan tambahan selain menguraikan isi cerita.  Itu sebabnya saat membuat resensi sebuah buku saya membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada membaca sebuah buku. Dari sebuah buku yang ada, saya mencari kira-kira sisi mana yang bisa ditonjolkan sebagai tambahan pengetahuan. Kadang butuh lebih dari 2 buku referensi untuk membuat sebuah resensi pendek. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk jalan-jalan  di dunia maya

Contohnya saat membuat resensi buku Wolfsangel. Awalnya ketebalan buku membuat saya meringis, apalagi kisahnya termasuk sedikit suram.Ternyata kisahnya cukup menawan walau memang berkesan suram dan kejam.  Buku tersebut  ternyata sarat akan nuansa rune, yang membawa kesan magis dalam cerita. Maka tambahan pengetahuan seputar rune sepertinya layak diberikan untuk para sahabat pembaca resensi saya.

Dengan membaca resensi Wolfsangel, selain memahami kisah seputar manusia setengah dewa yang dibesarkan oleh serigala serta kembarannya, pembaca akan mengerti asal usul rune, apa manfaatnya serta bagaimana cara  mendapatkan rune. Pengetahuan dan hiburan diperoleh bersamaan dengan sekali membaca resensi.

Pembaca dibuat tertarik untuk membeli dan membaca buku yang diresensikan.  Resensi sering dijadikan ajang promosi oleh para penerbit, sepertinya itu sudah menjadi rahasia umum. Para penerbit sering mengirimkan buku untuk diresensi dengan harapan pembaca resensi tertarik untuk membeli dan membaca buku itu. Sasaran promosi memang tidak hanya pembaca buku saja. Mungkin saja buku itu dibeli untuk diberikan sebagai hadiah bagi seseorang.

Bagi saya, resensi dibuat agar para sahabat bisa ikut menikmati sebuah cerita yang menarik. Mereka  tidak harus membaca sebuah karya yang kurang layak dibaca, tentunya semuanya dari sisi saya. Mereka boleh setuju boleh saja tidak,  minimal mereka mendapat gambaran mengenai cerita yang ada dalam sebuah buku.

Jika kebetulan ada dana yang berlebih, semoga mereka bisa mengalihkan dana tersebut untuk membeli buku yang saya resensi dan memasukannya dalam koleksi pribadi mereka. Jika mereka bukan pembaca hanya kebetulan mampir membaca resensi saya, semoga mereka tertarik dan membeli untuk para kerabat yang menurut mereka layak diberikan buku itu. Syukur malah jadi ikutan suka membaca.

Ciri khas  itu resensi buatan saya. Dari sisi marketing, sebuah produk baik harus memiliki suatu sisi khas yang membedakan dengan produk lain agar mampu bersaing di pasaran. Demikian juga dengan resensi yang saya buat! Resensi merupakan produk dari olah pikir. Dibutuhkan proses panjang untuk bisa membuat sebuah resensi. Proses yang saya lalui untuk membuat resensi dimulai dari membaca buku, memberi tanda hal-hal yang menarik, mencari referensi,merangkai kata-kata, men-scan gambar, terakhir menyusun tampilan agar menarik.

Ada dua yang menjadi ciri saya saat membuat resensi buku. Pertama adalah kalimat pembuka yang diambil dari kata-kata yang saya anggap mampu menarik perhatian pembaca. Setelah perhatian didapat, sisanya tinggal membuat pembaca betah membaca resensi saya. Pemilihan ini saya lakukan karena ingin menerapkan prinsip marketing.

Pada halaman 127 tertulis, ” Jenis lead ini adalah yang paling sering dan umum digunakan banyak penulis karena menjadi penyelamat ketika mati-gaya tak menemukan paragraf pertama  yang menyentak. Baiklah jika dianggap begitu ^_^ Tapi memang itulah ciri saya, bukan karena mati gaya lho he he he

Ciri kedua adalah membuat resensi dalam bentuk cerita. Yang sudah sering saya gunakan adalah kisah tentang seorang wanita paruh baya yang biasa dipanggil grandnie. Grandnie ini mempunya satu putra tunggal dan seorang cucu kesayangan yang kelak akan mewarisi perpustakaan pribadinya. Perpustakaan itu bukan sembarang perpustakaan, tapi sebuah perpustakaan  pribadi yang menjadi impian semua penggemar buku, dari  koleksi, fasilitas serta  sistem keamanan. Namanya juga cita-cita boleh khan dirintas dari sekarang. Dialog antara grandnie dan cucu kesayangannya yang berisi resensi buku.

Dalam buku ini  terdapat daftar alamat penyedia resensi buku di internet. Ada partner in crime and my beloved sista, dengan buntelan buku-nya. Ada guru-guru saya, Ibu Peri  Endah S dan Suhu Tanzil, saudara sebuku di GRI seperti Amang dan  Helvry Ada juga beberapa sahabat di dunia maya yang belum pernah saya temui secara fisik tapi sudah merasa dekat dihati (ehem). Untuk yang satu ini, saya harus mengucapkan terima kasih kepada jagoan neon yang membuatkan bloq, walau tujuan awalnya hanya untuk mendapat tambahan uang jajan. Xiexie  baupe...!

Tapi beberapa sahabat yang lain seperti Luckty belum saya temui namanya dalam buku ini. Mungkin saat cetakan kedua data yang ada sudah kian terkini..

Tersedia juga daftar berbagai media massa yang menyediakan kolom resensi, walau dengan aneka nama. Wah bisa saja kelak salah seorang sahabat menulis resensor pada kolom pekerjaannya. Apa sih yang tidak mungkin jika kita yakin bisa.

Senin, 23 Mei 2011

Treasure Island


Judul             : TREASURE ISLAND
Penulis          : Robert Louis Stevenson
Penerjemah   : Mutia Dharma
Penyunting    : Ida Wajdi dan Pujia Pernami
ISBN             : 978-979-024-465-8
Halaman       : 352
Penerbit        : Atria,  April 2011
Harga           : Rp 43.000

…….
Minumlah dan biarkan iblis beraksi…
Yo-ho-ho dan sebotol rum

Kedua alis saya segera beradu saat membaca kalimat tersebut. Sepertinya saya pernah membaca kalimat yang sama dalam suatu kisah.  Ingatan saya membawa kembali sebuah kisah  bacaan saat  kecil. Kalimat Yo-ho-ho dan sebotol rum  ada dalam kisah Misteri Nuri Gagap dari seri Trio Detektif.  Hanya  saja kalimatnya  sedikit berbeda, Yo-ho-ho dan tuak satu botol! Maklumnya kalimat itu begitu berkesan sehingga saat ada kalimat yang serupa tapi tak sama, saya langsung merasa tidak nyaman. Padahal dalam beberapa film mengenai bajak laut, kalimat yang dipakai adalah Yo-ho-ho dan sebotol rum .

Bukan itu yang membuat saya tertarik membaca buku ini.  Semula saya sempat mengira kisah dalam buku ini sama seperti kisah-kisah bajak laut lainnya. Tapi nama besar sang penyunting, IDA WAJDI membuat saya melirik buku ini. Biasanya buku-buku dengan sentuhannya, serta rekannya Jia, mampu  membuat  saya terlena. Kisah yang mereka tawarkan sungguh menggoda.

Cara menyampaikan cerita dalam buku ini unik.  Seorang remaja  berusia 17 tahun bernama Jim Hawkins , anak pemilik penginapan Laksamana Benbow Inn bertindak sebagai narator untuk sebagian besar isi buku. Khusus untuk bab 16-18, Dr.  Livesey yang menjadi narator. Ada  6 bagian dan 34 bab dalam buku ini.

Kisahnya dimulai saat Jim dan ibunya sedang menggeledah barang milik Billy Bones, seorang pelaut yang menginap. Mereka bukan mau mencuri, namun mencari haknya. Billy  Bones sang pelaut baru saja meninggal! Masalahnya ia belum membayar uang sewa kamar. Lalu bagaimana Jim dan ibunya bisa bertahan jika tak ada uang. Maka mereka sepakat untuk menggeledah kamar Billy. Disana mereka menemukan sebuah peti kayu yang segera mereka buka paksa.

Baru saja mulai menggeledeh isi peti, mereka mendengar suara-suara ribut di sekitar rumah. Ternyata para bajak laut mendekati penginapan dan memaksa masuk.  Beberapa waktu yang lalu sempat terjadi bentrok antara  Billy dan seorang bajak laut buta. Takut akan bahaya yang bakalan menimpa, Jim dan ibunya terpaksa melarikan dri dan bersembunyi. Mereka hanya sempat mengambil sejumlah uang dengan aneka mata uang. Jim juga  sempat mengambil gulungan kertas minyak.

Gulungan kertas minyak yang diambil Jim membawanya, Dr.  Livesy serta  Hakim Trelawney menjadi pemburu harta karun!Hakim Trelawney membeli sebuah kapal yang diberi nama "Hispaniola" dan menyewa beberapa kru. Petualangan seru segera dimulai....!


 Lalu apakah Jim berhasil mendapatkan harta harun itu? 
Kenapa ada 17 nyawa awak kapal Hispaniola melayang?
Sepertinya musti kalian baca sendiri dalam buku ini yaaa.

Secara garis besar ceritanya memberikan beberapa pesan moral yang perlu kita ingat. Antara lain:
1. Berhati-hatilah dalam berkata-kata karena bisa membahayakan diri sendiri
2. Jujur bisa menjadi kunci keselamatan
3. Kekayaan dan kekuasaan  bisa membutakan jiwa seseorang
4. Kita tidak pernah tahu siapa kawan sejati kita.

Roberth  Louis Stevenson  adalah putra dari   Thomas Stevenson dan Margaret Isabella Balfour,  lahir pada 13 November 1850 . Ia merupakan  novelis dan penyair Skotlandia . Stevenson  termasuk pengarang yang produktif.  Karyanya pertama kali  muncul diusia lima belas tahun.

Treasure Island  diterbitkan  sebagai buku pertama kali pada tanggal 23 Mei 1883.  The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde pada tahun 1886. Karya itu hanya butuh  waktu tiga hari penulisan dan Kidnapped  pada tahun 1886 di mana kedua cerita tersebut  mengenai Skotlandia zaman dahulu.    Sepanjang hidupnya Stevenson  menerbitkan lebih dari tiga puluh buah termasuk kumpulan cerita pendek, novel-novel, esei-esei, buku-buku kisah perjalanan dan sajak-sajak.

Beberapa karyanya antara lain:
Novel
  • The Hair Trunk or The Ideal Commonwealth (1877) Unfinished and unpublished.
  • Treasure Island (1883)
  • The Black Arrow: A Tale of the Two Roses (1883)
  • Prince Otto (1885)
  • Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde (1886),
  • Kidnapped (1886)
  • The Master of Ballantrae (1889
  • The Wrong Box (1889)
  • The Wrecker (1892).
  • Catriona (1893)
  • .The Ebb-Tide (1894
  • Weir of Hermiston (1896).
  • St. Ives: being the Adventures of a French Prisoner in England (1897).
Kumpulan cerita pendek
  • New Arabian Nights (1882)
  • More New Arabian Nights: The Dynamiter (1885)
  • The Merry Men and Other Tales and Fables (1887)
  • Island Nights' Entertainments (1893)
  • Fables (1896)
Puisi
  • A Child's Garden of Verses (1885)
  • Underwoods (1887)
  • Ticonderoga: A Legend of the West Highlands (1887)
  • Ballads (1891)
  • Songs of Travel and Other Verses (1896)
Perjalanan
  • An Inland Voyage (1878)
  • Travels with a Donkey in the Cévennes (1879)
  • The Silverado Squatters (1883)
  • Across the Plains (1892)
  • The Amateur Emigrant (1895)
  • The Old and New Pacific Capitals (1882)
  • Essays of Travel (London: Chatto & Windus, 1905)
Pada  3 Desember 1894  Stevenson, berpulang. Guna mengenang penulis dan kisah Treasure Island,  di California bisa  ditemui Robert Louis Stevenson State Park. Taman ini terletak di off Route 29 Negara antara Calistoga dan Middletown. Jika berkunjung kesana, kita akan ditawarkan pemandangan indah dan perjalanan  mengasyikan ke puncak Gunung Saint Helena. Pada cuaca cerah jika beruntung kita dapat melihat  puncak Gunung Shasta.  Di sebelah utara kita bisa mendapati hutan cemara.

--------------------------------------
Repiu ini merupakan versi kesekian kalinya.
Kisah menawan dalam buku ini membuat saya berulang kali tanpa sengaja "membocorkan" isi cerita. Akhirnya saya putuskan untuk "membuang" repiu yang ada, hanya menyisakan kisah ditemukannya sebuah gulungan kertas minyak yang ternyata adalah.... UPS!  Saya mulai lagi membocorkan isi cerita.

Satu yang bisa saya sebutkan dengan jelas adalah kisah ini sungguh menarik. Tidak seperti kisah bajak laut pada umumnya. Banyak pesan moral, kisah menawan serta kejutan yang tak terduga. Kita bisa belajar geografi sedikit dari buku ini. Seharusnya saya tak meragukan pilihan Sis Ida *mendadak mendengar tawanya menggema.....*

Sabtu, 21 Mei 2011

Neneng, Kartini Zaman Sekarang



Judul            : Fatamorgana Di Segitiga Emas
Pengarang    : Suryatini N. Ganie
ISBN             : 978-979-22-7118-8
Halaman       : 104
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

 Sangat menyedihkan, malah menyakitkan jika ingin bekerja dan berguna bagi masyarakat, tetapi diharuskan tidak melakukan apa-apa oleh beberapa hal yang sebenarnya sama sekali tidak perlu dilakukan ~ R.A Kartini

Seberapa  dekat kalian dengan eyang putri?
Lupakan pertanyaan saya itu!
Sebenarnya yang ingin saya tanyakan seberapa bangga kalian terhadap eyang putrimu?

Saya jelas sangat bangga! Kedua eyang putri saya sangat hebat! Saya mungkin hanya  seujung kuku dibandingkan beliau berdua. Setiap kali beliau  berkata, "Eyang dulu juga begitu" saya merasa di atas angin. Minimal sudah kian mendekati,  walau menyamai apa lagi melampaui  kiprah  beliau sangat jauh. Beliau berdua menggagas aneka sekolah, perkumpulan istri, aktif di lingkungan, suatu saat mengemudikan mobil dilain waktu membatik, juga menjadi tim P3K dan belajar menembak saat perjuangan. Saya jelas sangat jauhhhhhhhhhhhhh!

Rasa bangga juga yang membuat seorang  Suryatini N. Ganie menciptakan novel berdasarkan surat-surat eyang buyut putrinya yang kita kenal dengan nama R.A Kartini. Buku Minum Teh Bersama Kartini dan Fatamorgana di Segitiga Emas terlihat sekali terinspirasi dari surat-surat R.A Kartini. Karakter tokoh dan plot mengikuti jaman tanpa berbenturan dengan sumber inspirasinya. Manis sekali perpaduannya. Lokasinya juga berada dibanyak tempat, dalam serta luar negeri membuktikan kiprah wanita Indonesia yang kian  mendunia.

Kisah yang ada dalam buku ini  diramu dengan menarik! Tentang bagaimana seorang perempuan dengan keuletan, kesederhaan dan semangatnya untuk maju berusaha mengubah hidupnya. Dari bukan siapa-siapa menjadi seorang lady. Dari tak berpunya hingga melimpah ruah. Tidak ada yang mungkin jika kita ingin mengubah nasib kita.

Semuanya belum cukup, ada satu lagi bekal yang harus selalu diingat, mau belajar! Dengan belajar kita jadi bisa dan percaya diri, maka semuanya akan terselesaikan dengan baik. Contohnya Neneng, tokoh dalam buku ini. Nama aslinya  sungguh indah, tapi seperti kebiasaan orang kampungnya, setiap anak perempuan dipanggil Neneng.  Maka sejak ia lahir, sekolah, bekerja dan sampai kapanpun, orang akan memanggilnya Neneng.

Neneng sadar akan kemampuan dirinya. Ia mau belajar, menerima segala kritikan  dengan  lapang sebagai  tempaan guna maju. Semangat dan keuletannya jangan ditanya! Sepertinya juga R.A Kartini, Neneng sangat mau membuka diri untuk segala hal yang berbau pengetahuan. Ia belajar dengan tekun dan cepat! Neneng nekat kabur ke Jakarta karena tidak mau dijadikan istri kesekian seorang teman bapaknya. Ia memilih setia pada sang kekasih dari pada dikawinkan paksa. Di Jakarta nasib membawa Neneng kekehidupan yang tak pernah ia bayangkan.

Bisa dibilang Neneng sungguh bejo, meminjam istilah eyang putri saya. Bejo kurang lebih berarti beruntung. Setiap yang disentuhnya menjadi emas! Pertama kerja dengan kemampuan seadanya tidak membuat ia minder, justru ia belajar dengan tekun dan ulet! dari seorang pembantu pribadi, ia  menjadi tangan kanan pemimpin tertinggi. Belakangan ia bahkan memiliki perusahaan sendiri, walau didapat dengan cara yang unik

Sayangnya saya merasa banyak sekali  unsur bejo dalam cerita ini. Bagaimana perjuangan Neneng guna meraih posisinya, bagaimana ia merendam rindu terhadap keluarga dan pujaan hati kurang dikupas. Semuanya terasa serba kebetulan sekali. Di beberapa bagian saya justru merasa kisah Neneng dibuat hanya agar sesuai dengan kata-kata yang dikutip dari Kumpulan Surat R.A Kartini. Sebenarnya masih banyak yang bisa dikembangkan dari plot yang ada hingga tak hanya  menjadi sebuah buku setebal  104 halaman saja.

Sosok Neneng dan para wanita yang ada dalam buku ini digambarkan sebagai perempuan yang ulet, menjunjung kesetaraan, mau belajar serta menjalani hidup dengan bersyukur. Serta sekali lagi unsur bejo yang sepertinya menghinggapi setiap tokoh. Selalu saja mereka berada dalam situasi serba kebetulan. Misalnya baru kaget  ditawari mundur dengan iming-iming bonus besar ada tawaran kerja di tempat baru yang menjanjikan. Para tokoh membuat saya (sedikit)  cemburu, sedikit saja unsur bejo dilimpahkan ke saya rasanya akan membuat hidup lebih ceria he he he

Pada hal 48,  disebutkan   terjadi percakapan antara  Neneng dan  Ulrich. Percakapan berlanjut hingga halaman 49, tapi kenapa yang ditulis nama Melati? Bukankah seharusnya Neneng? Hingga percakapan itu selesai, semuanya menggunakan nama Neneng, kecuali satu kali nama Melati muncul. Mungkin salah edit ya….

Sebuah  kalimat pada halaman 51 membuat saya jadi teringat pada almarhumah eyang putri  saya tercinta.  Kalimatnya adalah, “ Malam itu di suite, Neneng salat.” Mungkin karena pengaruh dialek, eyang putri , bude dan pakde saya akan menyebut sholat dengan salat. Rasanya sudah lama sekali saya mendengar seseorang menyebutkan kata itu. Jadi kangen Solo……

Suryatini N. Ganie lahir  pada  17 Oktober 1930 di Situbondo, Jawa Timur. Beliau menguasai 10 bahasa, 7 diantaranya adalah bahasa asing.  Sunggu wanita yang sangat pandai! Menjadi wartawati dan penulis sejak tahun 1950, antara lain di Harian Merdeka,  Majalah Keluarga, Indonesian Observer, Harian Kompas dan Majalah Femina, pemimpin redaksi Majalah Selera,    Garuda in Flight Magazine, The Sunday Observer, Guide to Jakarta Tourism Magazine, Mercantile Club Magazine, dan The Jakarta Post.

Semasa  hidupnya, penghargaan yang telah beliau terima antara lain:
-  Women in Travel (WIPI) for Gastronomy (1974)
-  Adhikarya Wisata dari Departemen Pariwisata dan Telekomunikasi RI, (1995 dan 1997)
-  Adhikarya Bhoga Nugraha dari Departemen Pangan dan Pertanian RI( 1999)
Semasa hidupnya? Sayang beliau sudah berpulang pada hari Selasa,1 Maret 2011  Di RS Metropolitan Medical Center Jakarta. Jika tidak mungkin saya bakalan nekat mengunjungi beliau untuk belajar banyak hal. Walau  beliau sudah tiada  karya-karyanya tetap akan dikenal banyak orang

Beberapa karya beliau adalah
+ Not Only Nasi Goreng, exclusively for Garuda in-flight sales (edisi bahasa Inggris)
+ Pesisiran Food- Exotic Food of Indonesian Harbor Towns (edisi bahasa Inggris)
+ Aneka Ragam Menu Makanan bergizi dari Seluruh Propinsi di Indonesia (Departemen Kesejahteraan Rakyat).
+ Pinggan Nusantara- Resep-resep dari 26 Propinsi di Indonesia (Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti)
+ Bagamana Sebaiknya? (Buku Etiket yang disusun bersama Ratmini Soedjatmoko dan Raharty Soebijakto).
+ Upaboga di Indonesia -- Ensikolopedia Pangan dan Kumpulan Resep (Gaya Favorit Press).
+ Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara -- Rahasia Kuliner R.A. Kartini, R.A. Kardinah, R.A. Roekmini. (Gaya Favorit Press).

Sedangkan  surat-surat R.A Kartini yang menjadi sumber inspirasi Suryatini N. Ganie  tertuang dalam buku habsi Gelap Terbitlah Terang. Sebuah buku yang dengan malu terpaksa saya akui belum berada dalam lemari buku saya, kesalahan fatal nih! 

Dalam buku  Pahlawan yang digugat terbitan Bukukatta,  R.A Kartini termasuk dalam daftar pahlawan yang digugat.
Buku itu juga menyebutkan  beberapa kontroversi yang menjadi pertanyaan banyak kalangan, yaitu :
1. Ada pihak yang mempertanyakan bagaimana bisa  kita memperingati kelahiran Kartini  yang hanya berjuang  dari dalam kamar.
2.  Keotentikan dan orisinalitas pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya  diragukan
3. R.A Kartini dianggap tidak konsisten dalam memperjuangkan pemikiran nasib perempuan Jawa.
4. R.A Kartini dianggap hanya  berbicara untuk ruang lingkup Pulau Jawa saja
5. Adanya anggapan persinggungan R.A Kartini dengan perlawanan melawan penjajahan Belanda sepertinya umumnya pahlawan yang kita kenal sangat tidak jelas
6 .Dibandingkan dengan R. Dewi Sartika yang lebih progresif, R.A Kartini hanya dikenal  berdasarkan pemikirannya.  Sedangkan R. Dewi Sartika tak hanya  berpikir namun juga mengimplementasikan pemikirannya dalam gerak nyata.
7. Penetapan tanggal kelahiran R.A Kartini sebagai hari besar juga diperdebatkan.
8.  Dalam buku Dutch Culture Overseas :Colonial Practice in the Netherland Indies 1900-1942 karya Frances Gouda, disebutkan Kartini tidak menyinggung nasib-nasib perempuan dari kelas lebih rendah.


Terlepas dari kontroversi yang ada,  di Negeri Belanda R.A Kartini dijunjung tinggi sebagai pejuang emansipasi di Hindia-Belanda. Pemerintah Daerah Den Haag mulai tahun 2007 secara khusus menyediakan Trophy Kartini untuk perorangan atau organisasi di Den Haag yang berjuang dalam bidang emansipasi ala Kartini.

Buat saya pribadi, saya merasa terpacu untuk selalu belajar dan bisa banyak hal. Malu juga terhadap Eyang Suryatini N. Ganie yang bisa  7 bahasa asing. Dua saja belum saya kuasai dengan sempurna. Ijasah saya belum ada apa-apanya dibandingkan ijasah dari sekolah kehidupan beliau

Satu kalimat favorit saya, "Mengerjakan apa yang tidak disukai demi orang tercinta, itu sesuatu yang patut dihargai" ada di halaman 32. Menarik!

Jadi, apakah  kalian  bangga  pada Eyang Putri ????

Sumber gambar:
http://www.wgsawards.com/aoe2003/AwardsFinalists/AsianCuisineArticle.html
http://www.bukukita.com/babacms/displaybuku/36899.jpg

Repiu kali ini khusus buat Ady Ahmad. Terima kasih berat untuk buku-bukunya.
Serta para  Kartini abad ini.....