Selasa, 17 November 2020

2020#46: Kota Perfect Dari Kacamata Violet Brown

Judul  asli:A Place Called Perfect
Penulis: Helena Duggan
Penerjemah:  Nadya Andwiani
Penyunting: Aprilia Wirahma
ISBN: 9786230402005
Halaman: 348
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Harga: Rp 85.000

Tiba-tiba, pekik menakutkan membelah malam. Tanaman-tanaman yang tadinya tidur membentangkan kelopak masing-masing untuk menyingkap massa bola mata merah dan memekik. Tanaman-tanaman itu melontarkan diri ke arah .... 

~A Place Called Perfect, halaman 167~

Pernahkan kalian begitu ingin membaca sebuah buku karena tergoda  iklan yang bersliweran? Begitu ingin membaca,  sehingga segala pertimbangan seakan tak penting? Kemudian, ketika akhirnya buku itu ada ditangan, rasanya tak ingin berhenti membaca sampai kisahnya tamat. Masa bodoh dengan situasi sekitar, kita seakan ikut dalam petualangan yang ada dalam buku itu.

Pernah?
Saya pernah. Untuk beberapa buku, misalnya Harry Potter, saya mengalami kehebohan sepert itu. Setelah lama tak mengalami sensasi serupa, melalui buku ini, kembali perasaan itu muncul. Mendengar ada info diskon 30% di sebuah toko kesayangan, segera saya hubungi marketing favorit saya. Ternyata, di tokonya tidak ada program itu. Masa bodoh! Saya tetap  membeli, padahal dihitung-hitung 30% dari harga jual lumayan juga.

Karena sesuatu dan lain hal, ia baru bisa mengantarkan buku pesanan saya jam 10 malam! Tidak masalah! Saya tunggu. Pada pukul 22.10 WIB buku mulai saya baca, setelah tentunya melewati protokol kesehatan terlebih dahulu. Sekitar dini hari ini, saya beranjak tidur dengan senyum bahagia, seperti Violet yang juga menemukan kebahagiannya kembali.

Kenapa bisa begitu? Hem..., mungkin karena saya begitu penasaran dengan kata kacamata yang ada di kover. Kemudian kisah yang mengusung kacamata sebagai tema bisa dibilang jarang. Sebagai pengguna kacamata,  ada kedekatan emosi yang membuat saya menjadi tertarik dengan kisah ini. Mungkin, jika Anda juga pengguna kacamata, Anda akan mengalami hal yang sama seperti saya. Meski seharusnya tak perlu alasan khusus untuk menikmati sebuah buku.

Violet Brown, ibunya-Rose, ayahnya-Eugene, pindah ke sebuah kota yang bernama Perfect. Sang ayah adalah seorang optalmonologi, seorang ahli bedah mata. Ia   mendapat penawaran yang begitu menggiurkan dari dua saudara kembar,  Edward dan George Archer. Namun untuk bisa mendapat pekerjaan itu, mereka harus bersedia pindah ke Perfect. Kesempatan sekali seumur hidup yang tak akan mereka lewatkan.

Kota Perfect, seperti arti kata tersebut, merupakan sebuah kota yang sempurna baik dari kondisi kota maupun kehidupannya. Nyaris tak bisa  ditemukan cela dari kota tersebut. Kehidupan berjalan sempurna dengan peraturan yang dibuat dan ditaati setiap orang. Sarana dan prasarana juga menjanjikan.

Faktanya ada satu kekurangan kota tersebut yang  membuat penguasa kota Edward dan George Archer membutuhkan jasa ayah Violet.  Tiap penduduk kota tersebut mempergunakan kacamata. Bukan sembarang kacamata, namun kacamata khusus yang membuat mereka bisa melihat kondisi sekitar. 

Setiap orang yang memasuki kota, perlahan akan mengalami penurunan penglihatan, menjadi buram.  Sudut-sudut visi akan mengabur, selanjutnya berakhir dengan kebutaan. Namun dengan mempergunakan kacamata khusus, mereka bisa melihat kembali.

Kacamata tersebut diproduksi oleh Edward dan George Archer,    berbentuk persegi dengan sepuh emas, mempergunakan lensa tipis berwarna rose. Lengan kacamata yang mengait di belakang telinga berbentuk datar, kotak dan persegi, kemudian menjepit sisi-sisi kepala pemakainya. Jika kacamata itu terlepas, maka mereka tak akan bisa melihat lagi. 

Bisa kita katakan, seluruh penduduk kota Perfect tergantung pada kacamata tersebut. Demikian juga dengan Violet dan keluarganya. Sehari setelah kedatangan mereka, seperti warga kota yang lain, mereka juga harus mempergunakan kacamata khusus tersebut. 

Entah kenapa, Violet merasa ada yang aneh dengan kota itu. Ia sering mendengar suara-suara tanpa wujud. Belum lagi sikap penduduk yang aneh menurutnya. Mereka seakan tidak hidup secara normal, tidak natural. Semua terlalu tertib sehingga menjadi janggal.

Tak ada yang percaya pada Violet. Setiap kali ia menyampaikan  rasa penasarannya, pasti ia dikira berhalusinasi, bahkan diduga menderita SAPDDK (Sindrum Anak Pemarah dengan Disfungsi Ketidakpatuhan sehingga harus diberikan obat untuk mengatasi hal terseebut. 

Ternyata Violet tidak sendiri. Ada anak lain yang juga merasakan hal yang sama, "Seperti yang kau bilang, hampir seolah-olah orang tua mereka bukanlah orangtua mereka lagi. Ada sesuatu yang melanda orang-orang di Perfect. Aku tidak tahu apa tepatnya, tetapi aku cukup yakin itu ada hubungannya dengan kacamata."

Keduanya berusaha memecahkan misteri yang ada di sana. Itu artinya mereka harus berurusan dengan pihak yang tak ingin rahasia kelam kota teersebut terungkap. Bahaya menjadi bayangan kedua anak tersebut. Meski seperti kisah yang lain, akhir kisah ini berujung bahagia, namun prosesnya sungguh luar biasa!

Menurut https://www.alodokter.com, Miopi atau rabun jauh adalah salah satu kelainan refraksi mata. Kondisi ini terjadi karena mata yang tidak dapat memfokuskan cahaya pada tempat yang semestinya, yaitu pada retina mata. Gejala utama rabun jauh adalah kaburnya penglihatan ketika melihat benda-benda yang jauh, misalnya tulisan di papan tulis atau rambu lalu lintas.

Sementara untuk kisah ini,  penjelasan kenapa penduduk kota mengalami kebutaan ada di halaman 17X.  Saya tak mungkin menuliskannya di sini, bisa merusak keseruan pembaca lainnya ^_^. Namun secara singkat, kacamata yang mereka pakai membuat mereka melihat segala sesuatu sesuai dengan yang diinginkan oleh pembuat kacamata. 

Dalam kisah ini, ada bagian yang mengingatkan  saya pada kisah Peter Pan, anak yang tak diketahui asal-usulnya. Dalam kisah ini, sosok tersebut  pada akhirnya akan mendapat kebahagiaan.

Kalimat di halaman 184 membuat saya teringat pada salah satu penulis kisah fantasi, "Imajinasi dapat dicuri dan disembunyikan, tetapi begitu dibebaskan dan diberi jalan, imajinasi akan selalu menemukan pemilik yang sebenarnya." Membaca kisah fantasi membuat kita menjadi berimajinasi hingga menjadi kreatif.

Nilai kekeluargaan sangat terasa dalam kisah ini. Dimulai dari upaya Violet untuk memecahkan misteri yang terjadi di kota agar bisa membuat kedua orang tuanya bersikap seperti sebelum menjadi penduduk kota Perfect. Upaya seorang wanita bertahan hidup demi pria yang dicintai dan menjaga keselamatan sang anak. Mengharukan.

Semula saya merasa bahagia ketika menemukan ada bagian yang mengisahkan tentang kegemaran warga Perfect minum teh. Disela-sela jam pelajaran, sambil mendiskusikan buku, sebut saja semua kegiatan yang terpikirkan, akan ada jeda untuk minum teh. 

Jika diperhatikan dengan seksama, pada kover juga terdapat gambar poci teh.  Belakangan, rasa bahagia berubah menjadi sedih. Kenapa? Baca buku ini, pasti kalian akan sependapat dengan saya. Oh, ya sekedar berbagi saja, komentar mengenai buku tentang teh  antara lain ada di sini. Sementara untuk seputar sejarah teh, silakan meluncur ke sini.

Pada halaman 335, ada adegan yang membuat saya tertawa, mirip adegan kartun, namun untuk situasi saat itu merupakan hal yang paling tepat. Disebutkan juga mengenai buku  The world's One Thousand Worst Eye Ailments. kira-kira apakah benar ada buku itu, atau hanya sekedar pelengkap cerita?

Sang penulis, Helena Duggan sering disebut tidak pernah dewasa karena begitu piawai meracik kisah seru untuk anak-anak. Banyak yang beranggapan hanya mereka yang bisa berpikir seperti anak-anak yang mampu menghasilkan suatu karya yang begitu menarik bagi anak-anak. Padahal kisah ini juga menarik bagi orang dewasa seperi saya lho. 

Mungkin benar, dalam diri seseorang selalu ada jiwa anak-anak yang terpendam. Dan jiwa anak-anak saya begitu menikmati kisah ini sehingga tak ragu merekomendasikan pada "anak-anak" yang lain. Informasi lebih lanjut mengenai penulis bisa dilihat pada tautan berikut.

Menurut data Goodreads, ada 3 buku dalam seri ini. Saya langsung was-was, khawatir hanya buku pertama yang terbit, sementara buku selanjutnya entah kapan akan muncul. Menunggu nasib baik penjualan buku pertama. 

Buku yang mengembangkan imajinasi saya. Mendadak jadi mengkhayal, bagaimana jika suatu saat kacamata yang saya pakai bisa untuk melihat....


Sumber gambar

1. https://www.goodreads.com







Tidak ada komentar:

Posting Komentar