Jumat, 10 November 2017

2017 #55: Kisah Kehidupan Seorang Pemilik Toko Buku


Judul asli: Kisah Hidup A.J Fikry
Penulis: Gabrielle Zevin
Alih bahasa: Eka Budiarti
Editor: Rosi L. Simamora
ISBN: 9786020375816
Halaman: 280
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp
Rating: 4/5


" Daddy menangis?"
"Aku tadi membaca," jawab A.J

Ada dua hal kenapa sebuah buku yang saya baca bisa penuh dengan aneka penanda. Pertama, menurut saya buku ini sangat menarik sehingga banyak hal yang layak untuk dibagikan saat membuat review. Kedua, buku tersebut berisikan hal yang biasa-biasa saja sehingga saya merasa bingung untuk memilih mana yang dianggap layak untuk dimasukkan dalam review.

Buku ini, jelas masuk dalam golongan yang pertama. Selain kisahnya yang memang sungguh menawan, kalimat-kalimat yang ada juga sungguh luar biasa indah. Terlalu sayang untuk diabaikan. Terlalu banyak yang saya beri tanda untuk dijadikan bahan dalam review, jadi bingung sendiri.

Kisahnya dimulai dengan pertemuan A.J si pemilik toko buku dengan seorang penjual buku. Sang wiraniaga merupakan pengganti dari sosok yang semula bertugas mengirim daftar buku ke toko A.J.  Pertemuan pertama jauh dari mengesankan. Sikap A.J yang kurang ramah sejak sang istri meninggal, dianggap sebagai penolakan biasa. Bagi penerbit, toko buku A.J juga bukan pasar potensial, walau biasanya daftar pesanan untuk musim panas lumayan menjanjikan.

Kehidupan berjalan seperti biasa, hingga sebuah paket tanpa terduga berada di dalam toko buku dan ditujukan bagi sang pemilik toko.  A.J sungguh terkejut, ia tak mengira akan mendapatkan paket itu, apalagi jika diingat sikap tak ramahnya pada orang sekitar. Kelak,  paket tersebut ternyata mampu  mengubah seluruh kehidupannya.

Sejak meneriman paket tersebut, A.J mulai kembali bersemangat untuk hidup. Tak mudah memang mengingat usia dan kesehatannya. Tapi sejak ada paket tersebut, tak ada yang tak mungkin bagi A.J. Ia  bahkan mulai mempertimbangkan untuk jatuh cinta dan memulai kehidupan baru.

Kisah dalam buku ini memang tidak bisa dikatakan berakhir dengan bahagia, tapi juga tak ada unsur kesedihan yang begitu pilu. Penulis mengakhiri kisah dengan cara yang manis tapi jauh dari kesan menye-menye. Membuat pembaca merasa terharu.

Secara garis  besar,  kisahnya terbagi dalam dua bagian. Dimulai sejak A.J masih bersikap menyebalkan, dan diakhiri dengan bagian yang mengisahkan bagaimana toko buku tersebut berganti kepemilikan.

Buku ini tidak hanya  berkisah perihal  kehidupan seorang pemilik toko buku, namun juga mengenai hubungan antara antar manusia. Bagaimana interaksi yang terjadi kadang menimbulkan efek diluar dugaan. Tak heran jika ratingnya di Goodreads lumayan tinggi 3,98.

Dalam buku ini,  banyak nama pengarang dan bukunya disebutkan dalam buku ini. Misalnya, ada Danielle Steel dan Jeffery Deaver di halaman 26.  Ada The Lion, the Witch and the Wardrobe di halaman 105, The lighting Thief di halaman 156, Indian Camp dari Hemingway di halaman 191 dan lainnya.
Terdapat pula ulasan singkat dari sudut pandang A.J mengenai sebuah novel tiap memulai sebuah bab. Bukan sembarang novel, biasanya novel yang disebut dalam bab tersebut.

Bahkan segala hal dalam buku ini dikaitkan dengan buku. Misalnya saat A.J menggendong seorang bayi, ia memperkirakan bobotnya setara dengan berat 24 karton buku hardcover. Bahkan ketika ia sedang menilai seorang wanita, "Jika Jenny itu buku, ia adalah buku paperback yang baru  saja dikeluarkan dari kardus-tidak ada halaman yang dilipat sebagai pertanda, tidak ada bekas air di halamannya, tidak ada garis tanda  pernah dibuka di punggung buku."

Pembaca tidak saja mendapat hiburan, tapi juga mendapat pencerahan mengenai bagaimanakah dunia pedagangan dalam bidang buku sebenarya. Kadang, ada sebuah buku yang laku terjual dalam waktu singkat, tapi ada juga yang berakhir di area obralan.

Salah seorang pekerja dunia buku pernah memberi tahu saya bahwa buku kumpulan cerpen merupakan buku yang agak susah dijual. Kecuali penulisnya sudah memiliki nama, atau ada suatu yang khusus. Misalnya dibuat oleh para artis, atau untuk amal. Dalam buku ini, ternyata hal tersebut juga diungkapkan oleh A.J sang pemilik toko buku. Kalimat  tersebut ada di halaman 18-19,  "Aku juga akan mengakui sesekali aku lemah terhadap kumpulan cerpen. Tapi pelanggan tidak pernah mau membelinya."

Bagaimana toko buku milik A.J berkembang mengikuti perkembangan zaman dengan mulai mengadakan acara dengan penulis dan membuat semacam klub membaca, bisa dikatakan merupakan cermin kondisi untuk berusaha bertahan dari banyak toko buku di tanah air.

Buku ini jelas banyak mengandung kata-kata yang menarik untuk dikutip atau dijadikan bahan perenungan. Ada dua kalimat favorit saya . Pertama kalimat yang ada di halaman  101, 
"Terkadang buku-buku tidak menemukan kita hingga saat yang tepat."
Kalimat kedua, terdapat di halaman 263,
"Kata-kata yang tak bisa kautemukan, kaupinjamKita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian. Kita tidak sendirian."
Untuk urusan kover, versi penerbit ini dan beberapa versi dari negara lain yang mempergunakan ilustrasi toko buku, tumpukan buku atau sekedar kata-kata lebih membuat pembaca penasaran akan isi kisah. Sementara kover versi  Algonquin Books of Chapel Hill    serta   Penguin Canada Books Inc. justru menghilangkan unsur penasaran. 


Seperti yang saya sebutkan di atas, kisah ini ditutup dengan manis. Bagian akhir yang mengisahkan tentang seorang  wiraniaga yang senang bekerja demi buku mau tak mau membuat saya jadi teringat pada diri sendiri. Seperti juga saya, ia percaya buku dapat membantu menyelamatkan hidupnya. Buktinya ia sampai membuat tato kutipan C.S Lewis di pergelangan tangannya. Begitulah, hanya penggila buku yang paham bagian ini.

Kisah yang indah.

Sumber gambar:
Foto dari buku Kisah Hidup A.J Fikry 


































Tidak ada komentar:

Posting Komentar