Selasa, 01 November 2016

2016 #121: Kisah Siwa Kesatria Wangsa Surya

Judul buku: Siwa: Kesatria Wangsa Surya
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparin
Penyunting: Shalahuddin Gh
Penggambar sampul: Umam Bucah
ISBN: 9786026799159
Halaman: 427
Cetakan: Pertama-Oktober 2016
Penerbit: Javanica
Harga:Rp 88.000
Rating: 3.75/4

....Dia bukan dari Sapta Sindhu. Bukan Wangsa Surya maupun Wangsa Chandra. Tapi ketika dia datang, dia akan berada di pihak kami.  Lehernya akan berubah nila ketika dia minum Somras.
 
Nilakantha, leher nila

Semula Siwa hanya ingin menyelamatkan rakyatnya dan membawa mereka dalam kehidupan yang lebih baik. Sebagai pelindung Suku Guna memang sudah tugasnya. Bukannya ia takut pada musuh, Suku Pakrati, hanya saja jika berkompromi pada keadaan dapat membuat rakyatnya hidup lebih baik kenapa tidak. Kompromi yang ia lakukan adalah pindah dari desa mereka di kaki Gunung Kaisha ke negeri terkaya dan terkuat seantero Bharatawarsa, Meluha.

Tak terduga, ternyata ia dianggap sebagai seorang penyelamat Wangsa Surya. Gara-gara  sehabis meneguk minuman yang disajikan lalu Siwa dan seluruh sukunya menderita sakit. Ia diminta untuk mandi guna menyelamatkan nyawa. Tak dikira, lehernya terasa dingin, saat ia melihat pantulannya ternyata lehernya berwarna nila. Ini sesuai dengan ramalan besar tentang seorang penyelamat yang datang dari jauh dan lehernya akan berwarna nila sehabis minum ramuan tertentu.

Segenap wangsa memperlakukannya dengan sangat hormat. Setiap kata-kata Siwa adalah perintah, bahkan mampu mengubah peraturan dalam tatanan kehidupan yang sudah berlaku sekian lama. Ia diminta bertemu dengan raja dan pembesar lainnya. Mereka bahkan meminta Siwa memberikan berkah. Hidup Siwa menjadi tak sama lagi sejak itu.
 
Meski dipuja banyak orang, namun Siwa juga memiliki kebiasaan yang kurang disukai. Ia suka menikmati ganja. Misalnya pada halaman 14 disebutkan bahwa ganja memberinya kenikmatan yang melenakan, menghentikan sejenak pikirannya yang kacau dan membiarkan dirinya merasakan saat-saat penuh keriangan. Beberapa kali disebutkan tentang Siwa dan beberapa tokoh dalam kisah ini mengisap cangklop yang diisi daun ganja.  Bagian ini sepertinya untuk membuat keseimbangan antara kebaikan atau kehebatan Siwa dengan kekurangan yang ia miliki.

Berbagai adegan seru pertempuran akan kita temui dalam buku ini seiring dengan perjuangan Siwa membantu Wangsa Surya.  Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam bathin Siwa juga menjadi bumbu-bumbu yang menarik untuk disimak. Mungkinkah Siwa salah memilih sekutu? Kenapa begitu mudah musuh dikalahkan padahal mereka memiliki bantuan tenaga pendekar sakti? Banyak kejanggalan yang dirasa Siwa.

Selain mendapat banyak hiburan serta informasi mengenai kebudayaan India, buku ini juga memberikan pengetahuan mengenai banyak hal lain. Misalnya kenapa daun berwarna hijau, lalu warna hijau  juga bisa berbeda pada beberapa daun. Penjelasan ilmiah ada dalam buku ini bagi mereka yang belum tahu. Plus penjelasan secara filosofi kehidupan.

Resusitasi atau pernafasan buatan ternyata juga sudah dipergunakan dalam pertolongan pertama sejak dahulu. Kisah pada halaman 56 mengenai petugas yang melakukan pertolongan pertama pada Nandi bisa disebut sebagai resusitasi. Lebih lengkap mengenai resusitasi bisa dilihat di sini.

Senjata semacam tombak namun memiliki tiga mata, disebut Trisula diperkenalkan oleh Siwa dalam kisah ini. Dengan mempergunakan Trisula, pemakainya seolah-olah menyerang dengan tiga tombak sekaligus.

Sepertinya saya akan sangat senang jika tinggal di Meluha. Selain kehidupan masyarakat yang digambarkan teratur, mereka juga sangat menyukai warna biru yang menunjukkan langit.  Bahkan dianggap sebagai sebagai warna yang paling suci. Disusul warna hijau yang mewakili alam. Perpaduan kedua warna tersebut membuat sejuk hati yang melihat.

Minuman yang dipercaya oleh rakyat Meluha dapat membuat seseorang hidup di puncak kemudaan serta menunda kematian, Somras, membuat saya sedikit berpikir. Bagaimana mereka mengatasi jumlah penduduk di sana? Keseimbangan jumlah penduduk timbul karena ada kelahiran juga kematian. Jika kematian ditunda bagaimanakah dampaknya bagi masyarakat, meski kelahiran sepertinya juga dibatasi.

Perihal kasih sayang juga mendapat perhatian dalam kisah ini. Seorang ayah akan melakukan apapun untuk kebahagian putrinya, termasuk melakukan pelanggaran hukum atau mengubah peraturan yang berlaku. Bukan hal yang dibenarkan tapi bisa dipahami.  Kasih sayang juga menjadi kekuatan bagi seseorang. Bagi seorang pria kekuatan terbesar adalah keinginan yang kuat untuk membuat orang yang dicintanya terkesan pada  dirinya. Sementara bagi wanita kekuatan terbesar adalah kebutuhan untuk dipahami, dicintai, dan dihargai sebagai dirinya sendiri. 

Tidak selalu isi buku ini menggambarkan adegan serius. ada beberapa bagian yang mengundang tawa dari makna kalimat maupun dari kata-kata yang lucu. Misalnya ketika salah satu tokoh menceritakan betapa ia selalu ingin berada di luar rumah sebelum mertuanya bangun. Lengkap semua rasa ada dalam buku ini, kesal, bahagia, marah, cemburu, malu, bangga. 

Salah satu tokoh yang saya kagumi karena kesetian dan keberaniannya adalah Nandi.  Nandi merupakan orang yang berhasil membujuk Siwa untuk jebol desa ke Meluka. Selanjutnya bisa dikatakan ia menjadi orang kepercayaang Siwa. Dalam mitologi Hindu, disebutkan bahwa Nandi merupakan lembu kendaraan Siwa. Kedekatan yang sangat wajar. 
http://www.filmreno.net/

Membaca kata Siwa yang terdapat di kover, saya langsung teringat pada sebuah serial layar kaca yang mengisahkan tentang percintaan Siwa dengan Sati, Mahadewa judulnya.  Sosok Siwa dengan  ular melinggar dengan posisi siap mematuk sejajar leher, merupakan hal yang paling saya ingat. Pikiran liar saya sering iseng, untung yang dipergunakan bukan ular asli. Selain urusan bisa ular yang mematikan, tentunya agak susah membuat seekor ular tetap dalam posisi seperti itu.  Oh ya, cerita  cinta dalam film berbeda dengan yang ada dalam buku ini.

Saya sempat teringat sebuah uraian dalam buku Manusia, Mitos dan Mitologi karangan Zeffry. Disebutkan bahwa sering kali terjadi salah tafsir pengertian mitologi. Menurut etimologinya, mitologi berasal dari kata Myth yang berasal dari kata Yunani mutos, secara harafiah merujuk pada pengertian cerita atau sejarah yang dibentuk dan diriwayatkan sejak dan tentang masa lampau. Kata myth mengalami perkembangan menjadi mite.  

Mite sendiri dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan cerita (folklore), dongeng, serta legenda yang telah menjadi tradisi, yang mengisahkan tentang kosmologi, kosmogoni, maupun theogoni. 

Cenderung dipahami sebagai kisah atau legenda kuno mengenai dewa-dewi. Padahal istilah mitologi dapat digunakan untuk menunjukkan kepada sekumpulan mite dan mitos yang sudah menjadi tradisi, yang terdapat  dalam suatu masyarakat tertentu.  Mitologi juga merupakan sebuah disiplin ilmu yang mempelajari mite dan mitos yang berbentuk dan yang dibentuk dari suatu masyarakat tertentu.
Sebuah deret simbol mengusik rasa ingin tahu saya. Letaknya ada di akhir bagian. Apakah ada makna khusus? Atau sekedar hiasan semata? Sepertinya harus buka buku tentang simbol atau tanya pada Profesor Langdon ^_^

Beberapa buku dari penerbit ini mengusung nuansa kover senada, punggung alias geger seorang pria tanpa busana Bisa kita sebut ciri dari penerbit ini. Mungkinkah buku kedua dibuat dengan gambar senada? Atau seperti yang diiklankan di bagian belakang buku ini? Mari kita tunggu

Catatan kecil bagi penerbit, agar memperhatikan hasil cetakan. Beberapa halaman buku menunjukan kualitas tinta yang kurang baik. Seperti terkena cipratan tinta. Mungkin terjadi saat proses cetak. Tidak mengganggu bacaan, hanya kurang elok dilihat saja. 

Saya akan sangat merekomendasikan buku iniSelain kisah unik yang bisa mengibur, buku ini juga mengajak kita untuk merenung sejenak guna memaknai kehidupan dengan lebih arif. Pencerahan kehidupan serta pesan moral banyak sekali terdapat dalam buku ini. Jika dikaji lebih dalam, bagaimana pengetahuan dan keyakinan  bisa saling berdampingan dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang baik. Menciptakan ketenangan jiwa tapi tetap waspada akan berbagai bahaya.

Tapi, saya tidak merekomendasikan membaca buku ini saat berpergian dengan kendaraan umum. Terlalu terpesona dengan kisah, bisa membuat pembaca terlewat lokasi berhenti. Bisa terbawa jauh nanti. Plus tidak direkomendasikan bagi pembaca ala lompat halaman. Satu saja halaman yang dilewati alias maka bukan tidak mungkin pembaca akan kehilangan detail yang menghubungan seluruh kisah.

Bagi saya, ini merupakan buku yang sangat cocok dinikmati sambil duduk di bawah pohon kala senja hari. Menikmati semilir angin dan ditemani dengan teh hangat. Butuh energi untuk mengikuti ke mana Siwa melangkah. Untuk sinopsis bisa dibaca di sini. Juga untuk memesan langsung.

Semoga buku kedua dan ketiga bisa segera terbit. Akhir yang dibuat dengan cara menyebalkan, sungguh membuat saya makin menanti buku selanjutnya.  




2 komentar:

  1. Buku ini sudah wara-wiri di beberapa blogger buku dan reaksi mereka setelah baca sangat bagus. Saya mungkin mengatakan kalau buku ini menjadi variasi bacaan yang akhir-akhir ini digempur bacaan romance. Mungkin gitu, hehe :)

    BalasHapus