Rabu, 16 November 2016

2016 # 124: Bukan Pasar Malam

Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Desain sampul: Ong Hari Wahyu ISBN:9793820039 
ISBN13: 9789793820033
Cetakan: Sembilan- Oktober 2010
Penerbit:Lentera Dipantara 
Rating: 4/5

"... mengapa kemudian kita harus bercerai-cerai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam."
~hal 95~

Bagi penggila buku, ada kisah disetiap buku yang mereka miliki. Contohnya buku ini. Ceritanya saya sedang ndeprok  (duduk di lantai sembarangan) menunggu teman seperjuangan yang sibuk memilih buku di area obralan penerbit G. Karena mendekati hari terakhir, selain harga yang dibuat sama, posisi buku juga sudah membuat mereka yang melihat dan mencari langsung termehek-mehek. Iseng, saya menengok sebuah kardus  yang berada dekat saya. Saya memang tidak membongkar isinya karena sudah terlalu letih. Namun rupanya pembeli lain terlalu bersemangat membongkar sehingga kardus tersebut sobek satu sisi. Mata saya menangkap sebuah buku tipis dengan kover nuansa biru, lalu saya membaca tulisan Toer yang tersembul dari punggung buku.

Jangan-jangan..., naluri berburu saya langsung bangkit. Lupa lelah, segera serbu kadus tersebut dan membongkar tumpukan yang ada agar bisa melihat buku tersebut. Eh..., ternyata kardus tersebut berisi  buku dari beberapa penerbit. Terdapat terbitan Pustaka Jaya yang langsung pindah dalam kerajang saya. Dan buku yang tadi menggoda mata saya memang buku  karangan Pramoedya Ananta Toer berjudul Bukan Pasar Malam, tergolek dengan manis sekitar 5 eksemplar. Langsung raup semua, pindahkan dalam keranjang belanja. 

Dua buku segera saya masukan dalam daftar belanja untuk kantor berikut buku-buku temuan lain seperti Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi,  Kota Gresik 1896-1916,  Sukarno Orang Kiri Evolusi & G30S 1965, Menimbang Sitor Situmorang dan lainnya. Sebenarnya ingin juga mereka berada dalam rak saya, tapi demi pendidikan anak bangsa dan agar tidak jadi penghancur buku, sebaiknya mereka ada di perpustakaan (semoga keputusan saya benar).

Dari tiga buku tersisa, satu saya serahkan pada pembeli lain yang memohon dengan wajah memelas agar diberikan kesempatan untuk membeli satu saja. Maka sisanya untuk saya, dan satu lagi untuk teman. Pas lima buku ^_^. Bagi beberapa orang, mungkin sudah sering menemukan harta karun seperti buku ini sehingga kegembiraan saya bisa dianggap aneh. Tapi begitulah adanya.

Buku ini mengisahkan tentang seorang anak yang pulang kampung karena mendapat  pemberitahuan sekitar dipenghujung tahun 1949,  bahwa ayahnya sakit. Selain untuk menjenguk sang ayah, tokoh utama dalam kisah ini juga ingin menebus rasa bersalah karena mengirim surat dengan bahasa yang kasar pada sang ayah karena dianggap tidak mengurus adiknya yang menderita TBC dengan benar. Ia juga ingin memperkenalkan istrinya pada keluarga di Blora.

Kenyataan yang ia hadapi di Blora sungguh mengguncangkan jiwa. Rumah keluarga sudah tua dan reyot, justru sang bapak yang tergolek lemas di rumah sakit. Batuk darah beberapa kali terjadi dan tidak ingin dijenguk kecuali oleh keluarga. Istrinya, semula ia menemukan kedamaian namun belakangan baginya sang istri terlalu cerewet. Terutama sekali perihal keinginan untuk pulang ke rumah mereka di Jakarta.

Kondisi fisik sang ayah memang membuat hati miris. Sering kali ia minta sesuatu bukan kerena perlu, hanya sekedar ingin semata. 

"Anakku, es!" kata ayah bila kami memasuki kamarnya.

Dan setelah es itu melalu kerongkongannya, ia berseri-seri. 

Setiap kali sang ayah melihat jam, artinya anak-anak diharapkan segera pulang dari rumah sakit. Meninggalkannya dalam kesendirian. Semua sudah paham akan maknanya. Mereka akan segera pamit karena hari sudah malam.

Tidak hanya berkisah mengenai penyesalan sang anak, tapi pembaca juga akan diajak mengetahui bagaimana kehidupan pada masa pascakemerdekaan saat itu. Terdapat sentilan mengenai penguasa yang sibuk mengurus dan memperkaya diri, serta pejuang yang mengubah arah perjuangannya demi ambisi kekuasaan.  

Ternyata si ayah  sakit  akibat beragam kekecewaan yang dipendam dalam hati karena keadaan yang terjadi setelah kemerdekaan. Kekecewaan tersebut ternyata berakibat besar padanya.  Sakit dua bulan lalu berpulang. 

"Hanya yang bisa kukatakan dengan pasti, dan barangkali inilah yang tak Tuan ketahui, ialah: ayah Tuan gugur di lapangan politik." Salah satu sindiran yang ada dalam buku ini. Meski tipis, namun buku ini banyak mengandung sindiran-sindiran pada kehidupan sosial saat itu. 

Simak saja kalimat yang ada di halaman 61. 
" Dunia ini memang aneh, Adikku," kataku lagi, "kalau suatu keluarga itu bisa timbul mengatasi keluarga-keluarga yang lain, orang-orang menjadi dengki. Ada saja mereka punya bahan untuk memaki dan menghina-hinakan di belakang layar. Tapi ada sebuah keluarga yang runtuh, ramai-ramai orang menyoraki dan turut meruntuhkannya. Aku tahu, Adikku, inilah adat di kota kecil. Karena, Adikku, penduduk kota kecil ini tak mempunyai perhatian apa-apa selain dirinya sendiri, keluarga, dan lingkungannya. Lain dengan di kota besar. Banyak yang masuk ke dalamperhatian mereka. Karena itu, Adikku, lebih baik engkau jangan turut campur dalam kepentingan-kepentingan mereka..."

Sungguh ironi! Sosok ayah yang sudah berjuang demi kemerdekaan tanpa pamrih harus dirawat di rumah sakit seadanya karena tak memiliki uang untuk berobat ke sanatorium. Telah ia korbankan segala yang ia punya, tenaga, darah hingga keluarga. Ia sama sekali tak pernah mengeluh atau  meminta balas jasa. Hanya kejam rasanya jika tak ada yang peduli saat ia sakit seperti itu.

Saya jadi ingat pada banyak pejuang kemerdekaan kita yang kurang beruntung. Untuk bertahan hidup mereka kadang harus bekerja serabut. Bahkan sekedar rasa hormat dari sekitar pun sering tidak mereka alami. Padahal tanpa mereka, kita belum tentu bisa menikmati kehidupan seperti sekarang. Sedih. 

Dalam KBBI disebutkan bawah yang dimaksud dengan  Pasar Malam adalah : 1) pasar yang dibuka pada malam hari; 2) tempat berlangsungnya berbagai-bagai pertunjukan (kedai, rumah makan, dan sebagainya), diadakan pada malam hari untuk beberapa hari lamanya dalam rangka memperingati (merayakan) sesuatu. Pembaca diajak menelaah mencari hubungan makna sesungguhnya dari kata Pasar Malam dalam kisah ini.  Makna yang saya tangkap mungkin akan berbeda dengan yang orang lain tangkap. Perbedaan adalah hal wajar, Terpenting bisa menangkap makna yang terkandung.


Kisah ini merupakan kisah kedua yang saya baca dalam minggu, dimana penulis tidak sibuk memberi nama para tokohnya. Sang anak lelaki yang menjadi tokoh hanya disebut sebagai aku. Adik-adiknya juga tak diberi nama, hanya digambarkan berdasarkan urutan kelahiran. Umumnya disebut sebagai Adikku. Sang istri juga demikian. Meski tanpa nama, pembaca tetap bisa menikmati peran yang dimainkan tiap individu dalam kisah ini.

Novel ini pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1951. Menilik isinya, tak heran novel ini sempat dilarang pada 30 November 1965. Selanjutnya kisah ini diterbitkan di luar negeri. Baru pada tahun 1999 diterbitkan kembali oleh Bara Budaya, Yogyakarta. Serta  oleh Lentera Dipantara pada tahun 2004.

Justru karena dilarang maka banyak yang merasa penasaran ingin membacanya. Apa lagi generasi muda.  Semoga para pembaca bisa memetik hikmah dari kisah ini. Tiap orang mungkin mendapat kesan dan pesan yang berbeda, tapi pastinya semua setuju, sang ayah bisa berpulang dalam kondisi bahagia, di rumah dan dikelilingi anak-anaknya. Harta termahal di dunia.

Sumber gambar: 
https://www.goodreads.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar