Selasa, 22 November 2016

2016#125: Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe


Penulis: Olivier Johannes Raap
Penyunting: Sigit
ISBN: 9786028174800
Halaman: 190
Cetakan: Pertama-2013
Penerbit: Galang Pustaka 
Rating: 3,5/5

Kartu pos ibarat mesin waktu. Kita bisa melihat apa yang terjadi ratusan tahun lalu
~Pra, Goodreads Indonesia~

Seperti buku sebelumnya,  Soeka Doeka Djawa Tempo Doeloe, buku ini juga mengajak pembaca untuk mempelajari serta menikmati sejarah dengan cara yang berbeda, melalui berbagai kartu pos yang pernah terbit di tanah air. Bagi saya yang kurang meyukai membaca teks seputar sejarah, tentunya cara ini merupakan cara yang paling menyenangkan untuk mempelajari, minimal membuat melek sejarah.

Terdapat sembilan bagian atau topik dalam buku ini. Dimulai dari Pedagang Kecil, Pertokoan dan Warung, Kerajinan, Pengabdian dan Penjual Jasa,  Keahlian, Seniman, Pemerintahan, Pertanian dan Perikanan, hingga  Perindustrian dan lain-lain. Kondisi yang ada dalam kartu-kartu pos  tersebut umumnya diambil dari situasi sekitar tahun 1890-1940. 

Pada bagian Pedagang Kecil kita akan melihat foto pedagang  tuak, penjual minuman, tukang es, dan lainnya. Melihat aksi penjual tebu, saya jadi ingat zaman sekolah. Saat itu masih ada pedagang air tebu yang menjual tebu potongan. Anak-anak sekolah asyik mengulum potongan tebu tersebut. Begitulah, kadang kenangan bisa muncul dengan melihat sebuah gambar.

Semua pasti tahu Toko Kelontong, namun tak banyak yang tahu bahwa  Kelontong adalah alat musik kecil yang berbunyi kalau diputar. Zaman dahulu pedagang kelililing Tionghoa memakainya saat berdagang. Ketika artinya si pedagang mampu membuat toko, maka tokonya disebut Toko Kelontong meski alat musik itu sudah tidak ada lagi. Dewasa ini Toko Kelontong diartikan sebagai sebuah toko yang menjual berbagai keperluah sehari-hari. 

Mereka yang mengalami masa kecil tahun 70-an tentu pernah melihat orang yang sibuk memungut puntung rokok. Sisa tembakau yang ada diolah menjadi rokok utuh yang kemudian dijual lagi, umumnya rokok ilegal yang diproduksi. Profesi itu sempat banyak ditemukan zaman dahulu. Entah sekarang, sepertinya saya sudah tak pernah menemukan orang yang memunguti puntung rokok.

Jasa Penukar Uang ternyata juga sudah ada sejak zaman dahulu. Pada bab Pengabdian dan Penjual Jasa di halaman 75, terlihat sosok seorang perempuan yang berprofesi sebagai penukar uang. Mereka umumnya bereda di dekat keramaian, seperti pasar. Saat hari raya tentunya penghasilan mereka meningkat seiring dengan banyaknya orang menukar uang. Data yang ada menyebutkan kartu pos tersebut  terbit sebelum tahun 1906 di Yogyakarta. Manfaat uang logam disebutkan sebagai alat tukar juga sebagai alat kerikan. 

Beberapa profesi seperti tukang siram jalan, kusir cikar per, jongos mobil, pemukul gembreng (memukul semacam gong kecil guna menarik perhatian orang untuk mengikuti lelang), memang sudah tidak ada lagi. Tak perlu jongos mobil untuk mengoperasikan sebuah mobil. Supir merangkap tugas memelihara mobil dan membuatnya mengkilat. Pedagang kelontong  sudah jarang berkeliling kampung menjajakan sutra, jika ingin membeli sutra silahkan menuju toko.

Tugas Kusir Glinding untuk mengangkut beban berat seperti bambu, jagung, tebu sekarang sudah digantikan oleh kendaraan semacam truk. Meski di beberapa daerah mungkin masih ada profesi ini, penyebutannya mungkin berubah seiring waktu.

Profesi tukang  pengasah pisau, pembuat perahu, tukang patri, dukun, pada bagian Keahlian masih bisa ditemui di kampung-kampung walau jarang. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi kebutuhan akan keahlian mereka mulai tergantikan.  Namun ada profesi yang justru muncul kembali.  

Sebagian besar foto yang dijadikan kartu pos sepertinya diambil di studio foto, bukan di tempat umum. Model diminta berdiri (bisa juga duduk atau tiduran tergantung kehendak fotografer) dengan latar belakang yang dibuat sesuai dengan profesi model yang di foto. Kadang, ada tambahan asesoris atau model lain atas dasar estetika semata. Tapi hal tersebut tidak mengurangi makna dari sebuah foto.

Dengan melihat isi buku ini, saya mendapat pencerahan mengenai kehidupan sosial pada zaman dahulu. Perkembangan ekonomi pastinya terlihat dalam buku ini. Dari yang sebagian besar penduduknya yang memiliki profesi sebagai petani, berkembang berbagai pekerjaan lain sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hukum permintaan dan penyediaan kebutuhan terjadi dengan sendirinya. Tidak hanya itu, cara berpakaian alias perkembangan busana bisa terlihat dalam buku ini. Unik.

Mungkin karena ingin menyampaikan informasi yang lengkap seputar kartu pos, kadang uraian yang diberikan terlalu panjang. Bahkan untuk hal yang sepertinya tak diperlukan uraiannya. Karena pengetahuan pembaca tidak sama, bagi mereka yang sudah tanya banyak hal seputar sejarah, tentunya hal ini akan mengganggu. Tapi bagi orang awam seperti saya, ada gunanya membaca banyak detail

Kadang, kita bisa belajar dari cara yang tak biasa.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar