Jumat, 26 Juni 2015

2015#57: Ledakan Maha Dasyat Tambora


Judul asli: Tambora: Ketika Bumi Meledak 1815 Penulis: Agus Sumbogo
Penyunting: Endah Sulwesi
Pemindai Aksara: Destia Yuliana
Penggambar Letak: Maulana Hudaya Putra
ISBN: 9786027202481
Halaman: 352
Cetakan: Pertama-2015
Penerbit: Exchange 
Harga: Rp 65.000 

 
Apakah pasukan kaveleri Napoleon bisa menang atas Inggris dan Prusia jika letusan Tambora tidak terjadi?

Apakah novel Darkness (Lord Byron), The Vampir (Dr John Palidori)serta  Frankenstein (Mary Shelley) tetap akan tercipta oleh penulisnya jika tidak terjadi letusan Tambora yang menyebabkan   kegelapan menyelimuti Bumi ?

Entahlah

Tidak ada yang bisa menebak akhir dari sebuah peristiwa alam. Namun akibat letusan maha dasyat itu, Kesultanan Tambora, Kesultanan Sanggar serta Kesultanan Pekat lenyap dari bumi nusantara. Dunia berada dalam kegelapan.

Sebenarnya saya agak takut saat harus mereview buku ini. Maklum membaca nama orang-orang yang berada di balik terbitnya buku ini merupakan sosok yang saya acungi jempol. Ada Ratu Peri Endah Sulwesi sebagai penyunting dan Masalah (panggilan sayang untuk Mas Shalahuddin Gh-tapi meski begitu dijamin beliau bukan tukang pembuat masalah). Berani-beraninya mengomentari buku ini. Tapi saya anggap saja sebagai latihan buat diri saya sendiri. 

Kisah dimulai dengan sosok perempuan muda, Lesly yang merasa penasaran akan  suara gaduh diikuti getaran serta munculnya sinar putih  dari museum pribadi ayahnya, Profesor Thomas Wilson.

Bukan rahasia umum lagi, sifat kaum muda, semakin dilarang maka semakin penasaran. Begitu juga dengan Lesly, meski sang ayah sudah melarangnya masuk ke dalam museum pribadinya, ia tetap nekat demi memuaskan rasa ingin tahunya. Siapa yang mengira, hal tersebut membawanya menjadi saksi peristiwa meletusnya Gunung Tambora tahun 1815.

Dalam museum tersebut, Lesly menemukan sebuah tengkorak kepala manusia dan kopiah emas dari Pulau Sumbawa.  Pada musim panas tahun 2004 Profesor Thomas Wilson sempat melakukan ekpedisi penggalian tiga kesultanan yang terkubur abu vulkanik dan lahar Gunung Tambora yang meletus pada tahun 1815. Sayangnya ekspedisi itu dihentikan. Tanpa sengaja sebuah benda  bertuah dengan daya magis yang hebat terbawa hingga ke tempat tinggalnya, Rhode Island-Amerika

Pada tanggal 10 dan 11 April 2015 akan diadakan peringatan dua abad meletusnya Tabora, mungkin itu sebabnya kedua benda tersebut yang selama ini berada di museum pribadi profesor bereaksi secara mistis. 


"Kalau kalian mengembalikan kedua benda itu kepada yang berhak, kalian akan mendapat imbalan, yakni diberi kunci memasuki lorong waktu untuk mengetahui misteri di balik letusan Tambora. Barang ini adalah kunci pembuka waktu. Setelah kamu ke Tambora, kamu akan mengetahuinya," demikian suara yang keluar dari tengkorak kepala manusia tersebut. Intinya meminta agar Lesly mengembalikan kedua artifak tersebut  ke tanah asalnya.

Saya agak bingung pada bagian ini. Bagaimana bisa Lesly yang sehari-hari mempergunakan bahasa Amerika bisa mengeri apa yang kata yang keluar dari tengkorak kepala tersebut, saya rasa pastilah mempergunakan bahasa ibu, minimal bahasa Indonesia. Kalau berdasarkan film dan buku-buku petualangan sih begitu.   

Saat  Lesly   bercerita pada teman-teman soal apa yang dilihatnya di museum pribadi sang ayah, tak ada yang percaya. Malah cenderung menganggapnya mulai ketularan sifat aneh dari ayahnya. Hanya satu orang, Jeff yang percaya akan ucapannya. 

Meski Jeff sering dianggap sebagai sosok yang  tidak biasa, bagian ini juga membuat saya penasaran. Kenapa Jeff mendadak mau percaya begitu saja akan cerita Lesly hingga mau membuktikan kebenaran kisahnya dengan ikut ke rumahnya? Ada apa dengan Jeff? 

Guna membuat kisah kian seru, penulis memasukan dua orang lokal, Uma serta Wayan, guna membantu upaya Lesly. Hal ini memang perlu dilakukan mempertimbangkan situasi dan kondisi Lesly serta Jeff yang tidak paham kondisi lapangan.

Singkat kata, keduanya berupaya mengembalikan kedua benda tersebut ke asalnya, sesuai dengan ucapan yang mereka dengar. Bukan hal yang mudah memang. Tapi tekat mereka serta rasa ingin tahu yang besar membuat segala hal menjadi mungkin. Kembali saya agak bingung, bagaimana mereka bisa paham bahasa yang dipergunakan penduduk sekitar. Karena melewati ruang dan waktukah atau bagaimana?

Mereka berempat menjadi saksi bagaimana kehidupan masyarakat yang berlangsung saat itu, politik adu domba Belanda hingga ikut merasakan dan melihat rangkaian peristiwa mencekam meletusnya Tambora. 

Konon Efeknya sampai hingga Eropa. sebelum tahun 1815, sudah ada tiga ledakan Gunung Tambora, namun tidak begitu besar. Puncak letusannya terjadi pada  bulan April 1815 dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Itu berarti  10 kali lebih dahsyat bila dibandingkan dengan ledakan gunung Krakatau.

Letusan  tersebut juga menyebabkan perubahan iklim global anomali pada 1816, dengan rata-rata suhu global turun 0,40-0,70 derajat Celsius yang mengakibatkan sinar matahari terhalang masuk ke permukaan bumi dan menghasilkan penurunan suhu. Fenomena pendinginan global pada 1816 tersebut tercatat sebagai dekade terdingin kedua di belahan bumi utara sejak 1400 Masehi. Kejadian ini dikenal juga dengan sebutan “Year without Summer”

Buku ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang menyukai kisah dengan latar belakang sejarah dengan bumbu petualangan  yang membuat kita teringat akan kisah Indiana Jones, tapi  sangat sedikit kisah romantis, buku ini layak masuk koleksi.

Sebuah kalimat di halaman 56 membuat kedua alis saya bertemu. Kotak kayu berisi tengkorak kepala manusia dan kopiah emas tentunya merupakan benda yang berharga, lalu kenapa dengan santainya Lesly memamerkan pada Uwa dan Wayan di teras hotel. Bagaimana jika ada yang berniat jahat merebut? Duh, korban kebanyakan nonton film petualangan saya.

Jika memang misi mengembalikan  tengkorak kepala manusia dan kopiah emas merupakan misi penting, kenapa Lesly dan Jeff tidak langsung menuju Mataram esok harinya begitu tiba di Bali? Kenapa malah menunggu keberangkatan hingga tiga hari dengan alasan menikmati Bali? Sungguh bertolak belakangan dengan uraian di halaman 74, dimana saat Lesly bertanya pada Uma apakah mereka bisa menikmati keindahan di Pulau Lombok,  Uma justru mengingatkan akan tujuan utamanya ke sana. Mereka sepakat akan menikmati keindahan pulau saat misi selesai.

Selain mendapat informasi mengenai kronologi meledaknya Tambora, pembaca juga mendapat banyak pengetahuan tentang muatan lokal setempat. Misalnya tentang asal mula nama Tamboro pada halaman 59. Tambora berasal dari kata Ta yang berarti mengajak serta Bora yang artinya menghilang, dengan demikian Tambora berarti mengajak menghilang, hijrah dari dunia yang menyengsarakan
Ada upacara heko rasa, yaitu upacara dimana seorang rato rasana'e atau pimpinan majelis hadat  melakukan keliling negeri sambil membagikan sedikit makanan. 

Penulis juga membagikan semangat untuk melakukan penyebaran agama Islam,  dalam kisah ini juga disebutkan tentang seorang pemuka agama yang dihormati penduduk.

Tentunya juga mengajak untuk saling menghormati keyakinan masing-masing. "Walau agamanya berbeda, caranya juga berbeda, tetapi harapannya tetap sama, yakni mohon diberi petunjuk oleh Yang Maha Kuasa. Ketika keduanya khusyuk berdoa, alam sekitarnya pun terasa sepi...." Tertulis di halaman 98

Sebenarnya saya merupakan orang yang kurang cepat memahami urusan teknologi. Tapi kalimat di halaman 294 membuat saya merasa lebih tahu soal teknologi. Tertulis ucapan Lesly, "Sayang, aku tidak membawa alat rekam. Pasti akan sensasional di negaraku." Agak aneh juga jika kita hubungkan dengan kalimat yang ada di halaman 89, "Setelah puas menikmati pemandangan lingkungan barunya, Lesly baru teringat barang-barang bawaannya, seperti ransel. kamera dan ponselnya." Bukankah pada kamera saat ini juga bisa untuk merekam? Jika Lesly memang ingin merekam sesuatu harusnya ia bisa mempergunakan telepon genggamnya. Telepon genggam milik saya tetap bisa dipergunakan untuk memotret atau mendengarkan lagu meski tidak ada sim card-nya. Lalu kenapa milik Lesly yang bersal dari negara maju tidak?

Jika diperhatikan dengan seksama, kover dengan nuansa warna hitam membuat warna merah yang bisa kita asumsikan sebagai ledakan Tambora menjadi sangat kontras.  Kalimat, "ketika bumi meledak 1815" makin membuat kesan dasyatnya peristiwa terasa. Agak menyeramkan, tapi membuat penasaran.

Saya sangat menunggu buku ini dijadikan film seperti yang diuraikan oleh penerbit tentang rencana membuat film berdasarkan buku ini. Selain bisa belajar sejarah dengan cara yang menyenangkan, tentunya seru juga mengikuti kisah petualangan Lesly dan teman-teman.

Oh ya, ada sebuah istilah yang sepertinya layak menjadi bahan renungan agar kita bisa lebih menjadi sosok yang mawas diri, Ayat Alam Hayat. Apa itu? Temukan saja dalam buku ini he he he.


Sumber gambar: http://nusantaranger.com

2 komentar: