Senin, 22 Juni 2015

2015 #55: Silang Hati

Pojok bumi, 20xy
Cintaku,Belahan jiwaku,
Sepertinya sudah lama kita tidak saling menyapa melalui jalur ini. Waktu berjalan begitu cepat tanpa kita sadari. Seperti kebiasaan kita, kali ini aku juga akan berbagi cerita tentang sebuah buku padamu.
Kadang sebuah buku berjodoh dengan cara yang unik. Sering kali kalimat itu kau ucapkan ketika kita menemukan buku buruan, atau mendapatkan sebuah buku bagus dengan cara yang tak terduga. 
Demikian juga dengan buku yang aku kubagi dengan dirimu kali ini. Sebenarnya aku bukan pembaca kisah dengan genre ini, tapi selalu ada pengecualian untuk beberapa penulis. Dan Mbak Sanie salah satunya. Buku ini justru aku temukan di lapak buku bekas. Menilik tahun terbitnya, lama juga waktu yang terlewati hingga buku ini sampai ke tanganku.
Penulis: Sanie B. Kuncoro & Widyawati OktaviaEditor: Ayuning Proofreader: Alit Tisna Palupi, Gita RomadhonaPenata letak: Wahyu suwarni, Dian Novitasaridesain sampul: Dwi Anissa AnindhikaISBN 13:9789797804794ISBN10: 9797804798Halaman: 332Cetakan: Pertama-Oktober 2012Penerbit: Gagas Media
Buku ini merupakan bagian dari proyek Gagas Duet yang diusung oleh penerbit. Dua orang penulis yang masing-masing membuat sebuah kisah, namun memiliki benang merah antara kedua kisah mereka. Kedua kisah mengambil tokoh dua pria muda yang sama-sama mencintai alam. Mereka menikmati lembabnya udara, tetes embun di pagi hari, mie instan yang dimasak dan lainnya. Dan tentunya pencarian kasih mereka pada seorang gadis.
Tidak hanya kedua tokoh pria muda, kedua gadis yang menjadi tokoh pendamping dalam kedua kisah juga memiliki persamaan, sama-sama berurusan dengan kegiatan masak-memasak. Gadis yang satu memiliki semacam kafe, sementara yang lain hanya menjadikan sebagai hobi.
Percayakah kau, aku sampai tersenyum-senyum sendiri saat membeli bahan coklat di toko kue langgananku. Membayangkan adengan romantis antara Aria dan sang gadis yang melibatkan sebuah cetakan kue.
Kita akan mulai disuguhi mengenai kisah seorang pria bernama  Rajesh dalam Senandung Hujan buatan Mbak Sanie. Rajesh memiliki seorang kekasih, dulu. Namun dunia mereka yang sangat berbeda membuat sang gadis memutuskan sudah saatnya mereka mengambil jalan sendiri-sendiri.
Tentu kau akan bertanya, seberapa besar berbeda keduanta? Kita juga memiliki banyak perbedaan, hanya kedanan kita terhadap buku serta kompromi tingkat tinggi yang membuat kita bisa saling mengisi. Aku mencintai sinar matahari, sementara kau selalu merindukan sejuknya pendingin ruangan. Aku menikmati suapan makan melalui tangan, sementara kau sangat fasih mempergunakan aneka sendok dan garpu.
Sejak sekolah tingkat pertama hingga kuliah, aku sering mengisi liburan dengan sahabat menimati alam. Tidur beralas terpal, mandi hanya wajah dan makan ala kadarnya. Kau selalu mencela dengan mengatakan jorok. Sementara aku sering mengomentari kisahmu saat sekolah yan sibuk dengan aneka proyek ilmiah, masa kuliah yang dibarengi dengan kerja sambilan di luar negeri.
Kurang lebih seperti itu Rajesh dan sang gadis. Rajesh menyukai bau rerumputan. Baginya setiap lumpur yang meninggalkan noda tak hilang memiliki cerita tersendiri. Bagi sang gadis, urusan aneka menonton live musik merupakan hal penting, bercengkrama dengan riang ala sosialita lebih menarik dibandingkan menghangatkan diri di depan api unggun.
 "Kusadari juga bahwa kau juga tidak nyambung dengan duniaku. Kalau selama ini kau selalu menjadi pendengar yang baik, itu lebih karena kesabaranmu belaka. Kurasa kebersamaan kita hanyalah berdsarkan pada ikatan yang rapuh.  Kita telalu berbeda," ucap sang gadis.
Perpisahan tersebut ternyata berdampak besar lebih dari yang Rajesh Kira. Sering kali raganya ada bersama para sahabat, sementara pikiran dan jiwanya melanglang buana entah ke mana.Untungnya ia memiliki banyak sahabat yang membantunya untuk bangkit. Dalam upayanya menata hati, ia menemukan sosok lain dalam rintik hujan.
Sementara itu, meski bersemangat membantu Rajesh, Aria sebenarnya juga memendam kisahnya sendiri. Persimpangan, kisah lainnya, karya Widyawati Oktavia menyuguhkan kisah tentang Aria yang berbeda dengan perjalanan pencarian cinta Rajesh.
Aria mencintai perempuan itu. Dan wanita itu juga mencintainya. Mereka bahkan sama-sama menyukai bau rerumputan. Seharusnya tak ada masalah dalam urusan cinta. Namun bukanlah sebuah kisah cinta jika tak ada riak-riak masalah. 
Butuh waktu agak lama bagi Aria untuk bisa menentukan di mana hatinya harus berlabuh. Lebih baik terlambat dari pada tidak. Aria hanya ingin melakukan yang terbaik, seperti yang disarankan sang gadis.
Begitulah cinta.Bisa datang dan pergi semaunya.Melewati jalan yang berliku, atau langsung tanpa halangan. 
Dan, kisah dalam buku ini memberikan peringatan, bahwa keberadaan seseorang justru lebih berarti sesudah seseorang itu tidak berada di dekat kita lagi. Kehilangan justru memperlihatkan arti seseorang. Untuk itu jagalah apa yang sudah ada jangan sampai pergi.
Sebenarnya aku masih kurang menikmati kisah yang ada dalam buku ini. Mungkin dengan mempertimbangkan ketebalan halaman yang pastinya akan berpengaruh pada harga jual, aku merasakan alur yang seakan dipenggal demi memenuhi kuota halaman. Penulis seakan belum memaksimalkan kemampuannya dalam membuat sebuah kisah.

Tokoh Rajesh misalnya, sepertinya Mbak Sanie belum menggali lebih dalam konflik yang ada. Tiba-tiba dengan begitu saja gadis yang mencampakannya mendadak mencari dan menyatakan kerinduan. Semudah itukah? Bukankah ada tahapan yang bisa dijadikan bumbu cerita.
Begitu juga dengan kisah Aria. Konflik yang ada pastinya bisa lebih menantang lagi. Dengan begitu banyak hambatan yang bisa mereka lalui, tentunya akan membuat ikatan kasih keduanya semakin kuat.
Padahal latar belakang dan ide cerita lumayan unik. Sayang eksekusinya tidak maksimal. Andai kisah ini dilanjutkan masing-masing menjadi sebuah novel, pasti aku akan membacanya. Dengan catatan ada yang memberi tahu tentang terbitnya novel tersebut.
Kejutan!Aku menemukan kesalahan cetak di halaman 81. Mungkin karena terlalu mencolok sehingga aku jadi mengetahuinya, padahal aku orang yang paling tidak mau tahu soal itu selama tidak terlalu mengganggu. Tercetak, "Tahan se-zbentar nyerinya." 
Salah satu hal  yang membuatku menyukai buku ini, selain  sang penulis, adalah desain yang memanfaatkan ukuran kover belakang lebih panjang sehingga bisa ditekuk hingga menyerupai sebuah amplop.  Dengan demikian aku tak perlu sibuk mencari pembatas buku yang terselip di dalam. Kesulitannya, hanya jika tanpa sengaja pembatas itu terbuka. Untunglah masih ada "panahan" yang ku pakai untuk menandakan bagian mana yang sebaiknya ada dalam review.
Gambar daun kering dan layang-layang putus membuatku merasa itulah gambaran perasaan Rajesh dan Aria saat tidak bersama kekasih hatinya. Kering bagaikan daun, melayang-layang tak tahu harus bagaimana. Bingkai foto di bagian belakang seakan menandakan bahwa hati keduanya sebenarnya sudah tertambat, namun mereka tak menyadari sosok yang mengurung
Sebuah kalimat di halaman 83 membuatku kian merindukanmu. "Pilek sedikit, tapi segera sembuh dengan semangkok mi instan panas yang pedas."  Dahulu, sekedar iseng kita sering membuat mie instan dalam kemasan di kostmu. Tinggal masukan air panas, tunggu sebentar dan siap disajikan. Aku jelas sibuk menambahkan rasa pedas, sementara kau lebih sibuk mengusir rasa pedas. Aku bersemangat mencoba segala rasa selama mengusung rasa pedas, sementara kau jelas menjauhi rasa pedas. Semangat kompromi untuk mengatasi perbedaan yang membuat kita menjadi dekat.

Kau tahu cintaku,Sahabat kita sering menyatakan betapa "sehatinya" kita. Jika yang satu ke kanan, maka yang lain tanpa juga akan menuju ke kanan tanpa perlu dikomando. Jika yang satu memesan menu, maka ia akan memesankan untuk yang lain tanpa perlu bertanya panganan apa yang diinginkan. Karena pilihannya pasti selalu sesuai dengan selera yang lain. Sering kali tanpa perjanjian, kita mempergunakan baju dengan warna senada. Bahkan sering kali sama-sama memakai kaos dari sebuah acara. Hanya dengan saling melihat kita sudah memahami apa yang dirasa, diinginkan, akan dilakukan dan akan dikatakan oleh yang lain. Sehati, bagaikan sepasang rel kereta api kata mereka. Rel kereta api akan selalu bersebelahan, seiring sejalan satu dengan yang lain. Namun tidak pernah menyatu pada suatu titik. Banyak yang tak menyadari itu. Begitulah aku dan dirimu. Selalu seiring sejalan namun entah kapan menjadi satu titik.
Oh ya, buku ini kubawa ke Solo beberapa waktu yang lalu. Khusus untuk meminta sang tukang cerita membubuhkan tanda tangan. Sekali lagi, lebih baik telat buku ini berada dalam koleksiku dari pada tidak pernah berada. Dan buku ini akan tetap berada di sana sampai kau mengambil untuk membacanya.
Gara-gara Rajesh dan Aria aku jadi makin merindukanmu.Saat seperti ini, membuatku jadi teringat lagu yang sering kau senandungkan saat berupaya agar aku mengikuti maumu, sekedar untuk memilih tempat makan misalnya.
............................................................I close my eyes The moment I surrender to you Let love be blind Innocent and tenderly true So lead me through tonight But please turn out the light 'Cause I'm lost every time I look at you
Loves all of you dear

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar