Senin, 01 Juni 2015

2015 #52: Misteri di Balik jari Kelingking yang Hilang




Judul: Konstantinopel, Misteri di Balik jari Kelingking yang Hilang
Pengarang : Sugha
Penyunting: Ambra
Pemeriksa aksara: RN
Tata sampul: Aan
Tata isi: Violet V
Preacetak: Antini, Dwi, Wardi
ISBN: 9786022960881
Halaman: 272
Cetakan: 1, April 2015
Penerbit: DIVA Press
Harga: Rp 40.000


Agak heran juga saat menemukan buku ini diantara buntelan sajen dari King of Buntelan aka Dion Yulianto. Pertama jelas sudah, karena ini buntelan dari Dion. Bayangkan, Dion rela berbagi *pingsan dengan anggun*. Kedua karena kovernya mengusung warna merah. Dion tahu saya tidak suka warna merah, tapi kalau sampai tetap mengirim buku ini tentunya ada sesuatu yang spesial. Baiklah, mari kita baca.

Hemmm
Hemmm
Kok.....
Eh.......
Ah.......
Mari membuat repiu


Ben, benimle butun, goturecegim, birer-birer 
(silahkan manfaatkan perangkat alih bahasa ya)

Cinta Clarissa, Januar Tan, Felix Marpalele, Juan Sandjaya, Roman Abdurrahman, Ine Wijaya serta Sandra Sienna Dewi bersahabat ketika sama-sama menempuh pendidikan di Istambul, Turki. Sebagai sesama perantauan di luar negeri tentunya membuat mereka memiliki ikatan batin satu dengan lainnya. Mereka menyebut diri sebagai Konstantinopel.

Sayangnya, ketika kembali ke tanah air pershabatan tersebut mulai mencari jalannya masing-masing. Perbedaan kepentingan serta pihak yang juga ikut campur dalam persahabatan tersebut. Hal tersebut membuat mereka sudah tidak seakrab dahulu mesti tetap menjalin  komunikasi dengan sesama.

Suatu ketika,  terjadi pembunuhan dengan korban dua dari anggota Konstantinopel. Jelas pembunuhan bukan kecelakaan penurut pihak kepolisian, karena kelingking kiri kedua korban hilang! Belum lagi pesan yang disampaikan saat pembunuhan ketiga.

Adalah Putra Bimasakti, Bima, seorang lulusan terbaik Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN). nasib membawanya menjadi asisten Waka BIN. Ternyata bukan hal yang mudah. hari pertama saja ia sudah membuat kesalahan. Belum lagi fakta dirinya dijadikan ajang taruhan, berapa lama ia mampu bertahan menjadi asisten Waka BIN.

Tak diduga Bima langsung mendampingi Pak Catur, Waka BIN untuk menyelesaikan urusan pembunuhan berantai yang mulai meresahkan masyarakat. Secara tidak langsung, hal ini juga berpengaruh pada isu sosial dan politik mengingat  salah satu anggota Konstantinopel, Cinta Clarissa merupakan anak angkat presiden.

Dengan mengambil latar belakang situasi pemilihan umum, bercampur dengan persahabatan, penulis membuat kisah ini menjadi menarik dan tidak biasa.  Beberapa bagian tentang pengumuman jumlah suara serta siapa partai yang menduduki tempat teratas membuat saya seakan-akan terseret akan kenangan sama pemilihan umum berlangsung di negara kita.

Hanya mungkin lain kesempatan, penulis perlu mempersiapkan diri dengan lebih baik agar  detail-detail yang bisa membuat pembaca menebak siapa pelaku kejahatan tidak terlihat sejak awal.

Tentunya juga agar kisah yang dibuat  menjadi lebih masuk akal.Kadang hal sepele justru membuat sebuah kisah menjadi menarik atau tidak masuk akal.

Kelakuan Bima pada hari pertama kerja misalnya, membuat kedua alis saya bertemu. Tak heran jika atasannya merasa marah, sikapnya sangat jauh dari profesional. Terlambat masuk kerja, tidak tahu di mana ruang atasan, bahkan tak mengenali wajah atasannya. Belum lagi pertanyaan yang tidak pada tempatnya. Spektakuler sekali! Minimal  sebelum masuk kerja, seharusnya ia sudah berinisiatif mencari tahu di mana ruang atasannya,  seperti apa wajah atasannya. Terpenting sudah mengatur waktu jam berapa harus bersiap berangkat agar tidak terlambat.  Seperti itukah lulusan  terbaik STSN?

Beberapa hal janggal lainnya juga saya temui dalam buku ini. Tercetak di halaman 28, "Pagi-pagi sekali, Pak Catur menjemput Bima untuk kembali ke Polda." Bukannya Pak catur adalah atasan Bima? Bagaimana bisa dalam kantor seperti itu seorang atasan menjemput bawahan? Bahkan kantor biasanya pun aneh buat saya. Apa lagi bagi seorang Waka BIN  menjemput asisten yang baru bekerja sehari. 

Hobi saya sering menonton kisah detektif membuat rasa penasaran dengan kalimat yang di halaman 30. Sepengetahuan saya, setiap kali  menyisir TKP, para petugas mempergunakan sarung tangan, gunanya agar sidik jari yang menempel pada sebuah benda yang mungkin saja sebuah petunjuk tidak hilang. Baik karena terkena sidik jari petugas atau hal lainnya. Maka sangat aneh jika seorang Waka BIN bisa dengan santainya memungut sebuah benda yang diduga milik korban. Kemudian kapolda langsung merebutnya. Waduh!

Memang tidak perlu dijelaskan proses petugas sedang menggunakan sarung tangan. Tapi dari alur cerita, disebutkan bahwa pada mulanya mereka hanya ingin melihat TKP dimana lokasi jenasah korban berada berbeda dengan lokasi terjadinya tabrakan. Kecil kemungkinan mereka sudah mempersiapkan diri dengan mempergunakan sarung tangan.

Akan lebih masuk akal jika ditulis, "Ia seperti tengah mengamati sesuatu di tanah, kemudian mengeluarkan sapu tangan dan memungut benda  itu."

Terakhir yang membuat saya terpesona adalah aksi hiroik ala Bima. Jika kita menonton tayangan televisi, memang seru rasanya melihat adegan tembak-tembakan antara penjahat dan pihak kepolisian. juga  adegan kejar-kejaran hingga harus melompati pagar tinggi, menarik seseorang dari mobilnya untuk dipergunakan mengejar penjahat. Tapi apakah dalam dunia nyata ada yang bisa melakukan semua itu tanpa celaka? Belum tentu. Jika diubah dengan lebih manusia tentunya kisah ini akan semakin menarik. Pembaca makin merasa unsur kedekatan dengan tokoh Bima.

Meski kover depan buku ini mengusung warna merah,  kover bagian belakang justru mengusung warna berbeda, hitam dengan tulisan putih. Demikian juga dengan warna punggung buku. Seandainya dibuat dengan warna berbeda, putih misalnya tentu akan menimbulkan kesan semakin unik.

Oh ya, saya coba menelaah makna gambar yang ada di kover. Sepertinya itu gambar sidik jari. Mengingat dalam kisah ini banyak disebutkan mengenai sidik jari juga jari kelingking yang hilang.

Konon tidak ada satu orang pun yang memiliki sidik jari yang sama di dunia ini. Pola sidik jari selalu ada dalam setiap tangan dan bersifat permanen. Setiap jari pun memiliki pola sidik jari berbeda. Itu sebabnya sidik jari sering dipergunakan sebagai identifikasi.

Belakangan malah sudah mulai marak trend analisa sidik jari anak-anak untuk mengetahui minat dan bakatnya. Sehingga orang tua tinggal  mengarahkan sesuai dengan minat dan bakat anak berdasarkan hasil test. Apakah akurat atau tidak entahlah.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar