Jumat, 19 Juni 2015

2015 #54: Half Wild (The Half Bad Trilogy #2)


Penulis: Sally Green
Penerjemah: Reni Indardini
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Penata aksara: Farida Rahmitania
Desain sampul: Fahmi ilmansyah
ISBN: 9786020989594
Halaman: 476
Cetakan: Pertama 2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 79.000

ngiiiiiiiiing 
ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing ngiiiiinggggggggg
Suara itu benar-benar mengganggu Nathan


Nathan sudah mulai belajar mengendalikan "amarah" dalam dirinya. Ia tidak lagi bersikap sembrono, bertindak seenaknya dan menganggap seisi dunia adalah musuhnya. Memang belum banyak perubahan yang terjadi, minimal ia terlihat  lebih santun  dan pendiam dibandingkan sebelumnya.

Sepertinya begitu.
Namun ternyata anugrah yang dimiliki dari sang ayah membuatnya kadang lepas kendali. Bagaimana ia bisa mengendalikan hewan yang berada dalam tubuhnya jika hewan itu begitu buas dan liar. Nathan bahkan lupa apa yang dialaminya saat bertransformasi. Yang ia tahu ketika tersadar ada sosok tercabik-cabik secara mengenaskan  di dekatnya. 

Berada diantara penyihir hitam dan putih sudah membuat hidup Nathan menderita, sekarang ditambah dengan anugrah yang tidak bisa ia kendalikan. Musuhnya bertambah! Ia tidak hanya harus menghadapi para penyihir yang membencinya karena ia merupakan penyhir campuran. Nathan sekarang harus berupaya menaklukan hewan liar dalam tubuhnya. 

Hewan bertindak berdasarkan insting, tidak melihat baik atau buruk. Begitulah Nathan bertindak saat menjadi hewan.   Nathan harus berupaya lebih keras untuk mengendalikan kemampuannya agar tidak membahayakan teman-teman dekatnya yang hanya sedikit. Jika tidak, tak ada lagi yang bisa membantunya menemukan Annalise, gadis yang dicintai namun mungkin juga telah mengkhianatinya. Cinta memang urusan rumit!

Ternyata dalam dunia penyihir juga ada perebutan kekuasan. Beberapa penyihir putih yang tidak suka dengan sikap penyihir yang mulai berkuasa, justru bekerja sama dengan penyihir hitam untuk menggulingkannya dan membuat tatanan dunia baru. Mereka yang selama ini bertentangan  menjadi dekat. Mungkin pepatah yang menyebutkan musuh dari musuhmu adalah sahabatmu benar adanya. Mereka mereka bergabung dalam PPB, Persekutuan Penyihir Bebas.

Dibandingkan buku pertama, kisah dalam buku ini lebih kompleks. Nathan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, ia harus memilih kekasih atau ayahnya. Ia harus mempertimbangkan membunuh orang yang pernah menyakitinya dalam pertempuran atau membiarkan orang itu hidup demi orang yang dicintainya. Bagaimana Nathan harus memilih, bersikap dan bertindak digambarkan lebih rumit dalam buku ini.

Bersahabatan Nathan dengan Gabriel misalnya. Meski Nathan pernah melukai mata Gabriel, namun mereka tetap bersahabat. Bahkan Gabriel memberikan hadiah Nathan sebuah pisau yang bagus, sementara Nathan membantu Gabriel menemukan jati diri. Ketika ada sosok lain yang dicintai Nathan, mereka tetap bisa menjaga sikap.

Bagian paling menyentuh buat saya adalah saat Nathan bertemu dengan ayahnya. Selama ini ramalan yang beredar adalah kematian sang ayah oleh Nathan, tapi tidak ada yang tahu kenapa dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Marcus, ayah Nathan tetap memperlakukan Nathan sebagai layaknya sikap seorang ayah pada anaknya. Ia mengajari Nathan cara mengendalikan anugrahnya, "Kita semata-mata menemukan bagian lain dari diri kita. Bagian dari diri kita yang justru lebih membumi. ialah yang kita butuhkan untuk bertahan hidup tanpa dia, percuma saja kita tetap hidup. Asalkan kita menpercayaiya, dia juga akan percaya pada kita. Akrabkan dirimu dengannya sedekat mungkin."
Bahkan Marcus membuat mereka yang pernah mencelakai Nathan terluka, darah bayar darah. Agak menakutkan juga, tapi begitulah caranya menunjukan rasa sayang. Kalimat berikut membuat saya ikut merasakan kebahagian Nathan, "Malam itu, kembali ke wujud manusia, ayahku dan aku menyaksikan matahari terbenam."

Urusan kisah cinta tetap menjadi bumbu dalam kisah ini. Untunglah kisah cinta yang ada tidak berkesan menye-menye, namun justru penuh kejutan dan misteri yang diuntai secara masuk akal.

Kelebihan lain dari buku ini adalah banyaknya urusan pertarungan yang luar biasa heboh. Dari jumlah korban, uraian luka, cucuran darah hingga proses selama pertarungan berlangsung. Penulis juga sudah lebih mendalam menguraikan sebuah kisah jika ditinjau dari sisi Nathan. Tidak berkesan kaku lagi narasinya.

Kekurangannya adalah bagian pembuka yang memuat  begitu banyak baris tertulis bunyi serupa telepon genggang yang korslet atau terganggu sinyalnya.

Untuk urusan kover selain mengusung warna biru yang membuat saya suka, sosok dengan dua wajah dan satu tubuh ini sangat mewakili asal-usul Nathan, setengah penyihir hitam dan setengah penyihir putih.

Penasaran.
Jadi bagaimana nasib kisah cinta Nathan selanjutnya.
Apakah ia berhasil membalas dendam orang yang membunuh keluarganya.
Bagaimana....
Semoga cepat terbit buku ketiganya.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar