Senin, 26 Agustus 2013

Samudra di Ujung Jalan Setapak



Judul Asli: The Ocean at The End of The Lane
Penulis: Neil Gaiman
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang
ISBN: 978-979-22-9768-3
Halaman: 264
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 50.000

Jauh tinggi di langit, di situlah mereka: dan hitam, hitam-kelam, begitu hitam sehingga tampak seperti bintik-bintik, bukan makhluk-makhluk hidup yang nyata. Mereka mempunyai sayap, tapi mereka bukan burung. Mereka lebih tua daripada burung, dan mereka terbang berputar-putar, berputar-putar dan melingkar-lingkar, belasan jumlahnya, ratusan barangkali, dan masing-masing makhluk yang bukan burung itu mengepak-ngepak turun dengan perlahan, amat sangat perlahan.

Aku pernah ada dalam tubuhmu.

Kadang, suatu peristiwa dalam kehidupan  membuat kita mengenang masa lalu.  Cerita dimulai dengan adegan saat tokoh utama dalam buku ini  (yang tidak mendapat nama hanya cukup dipanggil  Aku) harus kembali ke kampung halamannya untuk memberikan pidato singkat pada pemakaman orang tuanya.  Saat mengemudikan mobil menuju rumah adiknya guna  menjamu para pelayat, tanpa sadar ia mengendarai mobil menuju kearah rumah pertanian lama milik keluarganya. Rumah pertanian tersebut sudah dijual lebih dari tiga puluh tahun lalu.

Menyusuri jalan hingga jalanan berubah menjadi jalan setapak, tepat di ujung jalan terdapat Pertanian Hempstock.  Keluarga Hempstock yang diingatnya bukanlah orang biasa, mereka bisa dikatakan spesial jika aneh dianggap terlalu kasar.  Rasa penasaran dan sedikit kenangan tentang masa lalu membuatnya memutuskan untuk segera mampir bertegur sapa dengan anggota keluarga yang mungkin masih tinggal di sana.

Kenangan akan masa lalu  juga yang membuat Aku  menuju ke kolam bebek yang ada di dekat rumah Pertanian Hempstock.  Dulu, saat ia berusia sekitar tujuh tahun, ia berkenalan dengan Lettie Hempstock tanpa disengaja.  Aku dititipkan sejenak ke  Pertanian Hempstock dikarenakan sang ayah harus menuntaskan perkara mobil mereka yang ditemukan dalam keadaaan luar biasa di dekat pertanian mereka.

Keluarga Aku pada awalnya merupakan keluarga yang berkecukupan. Mereka tinggal di sebuah rumah nyaman dengan banyak kamar. Namun belakangan, kondisi keuangan mereka tidak sebagus dahulu. Guna menyelesaikan masalah keuangan, kamar Aku disewakan kepada siapa saja yang tertarik serta mampu membayar. Salah satunya penambang opal. 

Suatu hari, mobil keluarga Aku hilang dan ditemukan di pinggir jalan dekat Pertanian Hempstock. Dalam mobil ditemukan jasad penambang opal yang sudah mati. Kematiannya ternyata bukan kematian biasa tapi  akibat bunuh diri. Tak ada yang menduga kematian tersebut justru menjadi awal dari rentetan bangkitnya kekuatan magis serta makhluk misterius yang sudah ada sejak zaman purba. Bukan hanya itu, banyak hal buruk yang menimpa Aku.

Selanjutnya, Neil  Gaiman memanjakan pembaca dengan aneka kisah yang luar biasa. Susah bagi saya membuat review tanpa membocorkan isi kisah yang menawan ini. Beberapa hal memang sepertinya tidak masuk akal, tapi justru disanalah terlibat betapa besar kehebatan seorang Neil Gaiman. Ia mampu membuat suatu hal yang tidak biasa bisa diterima dengan akal sehat dengan mengajukan alasan yang logis. 

Penulis yang satu ini mampu membuat kisah memukau tanpa perlu banyak halaman. Singkat, padat tapi menawan. Kata-kata yang dipilih untuk menggambarkan sesuatu hal sangat singkat tapi tepat sehingga efisiensi penggunaan kata bisa tercapai. Imajinasi kita bebas dalam mengikuti kisah ini tanpa ada paksaan. Gambaran saya mengenai kolam bebek tentu tidak sama dengan yang lain tapi tak menjadi masalah, Neil  Gaiman sudah memberikan batasan kolam bebek sisanya terserah imajinasi kita.

Tengok pada bagian Lettie mengumpulkan aneka perlengkapan guna menyelamatkan Aku dari makhluk jahat yang mengejarnya. Ada botol bayangan berisi banyak bayangan yang dilarutkan dalam cuka

Kelereng mata kucing yang sudah gompal, serta mobil-mobilan rusak. Untuk melawan makhluk yang usianya nyaris setua bumi ini tentunya dibutuhkan benda-benda yang tidak biasa bukan? Makhluk itu butuh mata untuk bisa melihat arah kembali, butuh sesuatu anggaplah kendaraan untuk menuju ke tempat asalnya.  Benda-benda tersebut dilihat dari manfaat dan maknanya bukan wujudnya. Menawan

Buku ini juga mengajarkan  agar dalam situasi tertentu kita harus  mengikuti petunjuk mereka yang ahlinya. Aku sudah mendapat pesan untuk tetap memegang tangan Lettie apapun yang terjadi. Saat spontan ia menangkap makhluk yang terbang ke arahnya, menyerupai sekumpulan sarang laba-laba dan kain busuk yang mengepak-ngepak dan menggeliat-liat, maka ia membiarkan dirinya terhubung dengan makhluk misterius jahat  yang kelak bakalan membuatnya celaka. Jika  saat itu ia tetap memegang tangan Lettie tanpa sekalipun melepaskannya tentunya kisahnya akan beda.

Menariknya dalam buku ini menyinggung soal nama sejati. Saat akan mengusir makhluk misterius, Lettie menanyakan siapa namanya. Dengan mengetahui namanya maka Lettei bisa menguasai dan membuatnya menurut. Beberapa kisah yang mengusung tema sejenis juga mengungkapkan tentang hal ini. Berhati-hati memberikan nama sejatimu karena hal itu bisa membuatmu celaka.

Point ini membuat saya  teringat pada kisah masa lalu. Pantas saja (mantan) pacar saya begitu semangat bertanya perihal nama lengkap saya, nama yang tertulis  di akte. katanya karena sang ibunda ingin tahu. Padahal selama ini ia cukup puas dengan mengetahui nama panggilan saya, bahkan memberikan panggilan sayang sendiri. Hemmm............

Lettie tokoh pendamping utama Aku sempat menyinggung perihal  tanaman Mandrake. Rupanya khasiat tanaman ini memang sudah diakui banyak kalangan. Terbukti selain sering disebut dalam kisah Harry Potter, tanaman ini juga terdapat di beberapa kisah sejenis lainnya.

Kover buku memperlihatkan seorang gadis seakan berenang di dalam air. Menilik judulnya terdapat kata "Samudra" saya duga tentunya tokoh utama dalam buku ini adalah seorang perempuan dan salah satu bagian dari kisah ada yang memuat adegan berenang bahkan tenggelam. Ternyata tokoh utama dalam buku ini hanya disebutkan Aku, seorang pria. Terlihat pada awal kisah dimana tertulis, " AKU memakai jas hitam dan kemeja putih, dasi hitam dan sepatu hitam, semuanya licin mengilap...." Mungkinkah sang tukang desain sampul ingin memberikan gambaran tentang sosok Lettie yang hebat? Seperti kata Aku, keluarga Hempstock memang tidak biasa. Tiga perempuan mengerjakan seluruh urusan pertanian. Perempuan tertua menyatakan pernah menyaksikan peristwa Ledakan Besar, Perempuan paling muda mampu membawa samudra dalam ember untuk mengobati Aku.

Judul yang dipilih menyebutkan mengenai samudra. Dalam kisah ini, Lattie menganggap kolam bebek  yang ada di dekat rumahanya sebagai samudra. Besarnya memang lebih cocok disebut kolam namun kolam kecil tersebut ternyata mampu membuat Aku bertahan hidup dari serangan makhluk jahat yang pernah berada dalam tubuhnya. Sesuatu yang sepertinya kecil justru memiliki kekuatan yang luar biasa hebat. Di dekat kolam bebek itu juga Aku duduk dan memutar kisah hidupnya saat berusia tujuh tahun.  Sementara karena pertanian itu letaknya di ujung jalan setapak maka tepat jika disebutkan Samudra di ujung jalan.

Danau dan laut  dibedakan oleh luasnya.  Danau merupakan cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi air dimana seluruh cekungan tersebut dikelilingi daratan.  Bisa juga diartikan sebagai sejumlah air yang terkumpul di suatu tempat karena aliran sungai, mata air bahkan gletser yang mencair. Air yang dimaksud bisa air tawar atau air asin.

Lima bintang dari lima sepertinya tidak berlebihan bagi buku ini.

Sumber gambar:
http://melissadouthit.com/2012/05/18/neil-gaimans-commencement-speech/ 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar