Selasa, 13 Agustus 2013

我爱 Lisa

Penulis: Riawani Elyta
Penyunting: Della Firayama
Ilustrator: Evelline Andrya & Angelika Charletta
ISBN: 602-220-099-7
Halaman: 352
Penerbit: Bukuné
Harga: Rp  55.000

Kita akan selamat dan baik-baik saja. Selama kita yakin tentang itu.


Kata Beijing yang membuat saya meminjam buku ini. Saya memang selalu tertarik dengan hal yang berurusan dengan Mandarin. 

Buku ini menawarkan kisah cinta seorang gadis keturunan bernama Lisa. Saat kecil kedua orang tuanya berpisah dan Lisa tinggal  bersama ibunya sebagai anak tunggal. Sang ayah berada di Beijing. Ketika ibunya meninggal maka sang ayah meminta Lisa untuk pergi ke Beijing dan ikut tinggal bersamanya.

Di Beijing ternyata sang ayah sudah menikah lagi dengan Vivian dan mempunyai dua anak tiri laki-laki dan seorang anak perempuan. Butuh waktu bagi Lisa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keluarga barunya. Baik dari adat istiadat dan bahasa. Ternyata Lisa sama sekali tidak mengerti bahasa ibu hingga sang ayah mengirimnya untuk mengikuti kursus bahasa.

Hal yang wajar, karena Bahasa Mandarin tidak memilik abjad ABC namun setiap huruf mempunyai bunyi dan arti yang berbeda. Belum lagi nada yang diucapkan. Salah ucap nada bisa berakibat fatal. Kata Ma bisa berarti
Māma = 妈妈, sementara Mǎ berarti kuda.Tak heran jika Lisa harus belajar keras agar bisa berkomunikasi dengan orang sekitar.

Ternyata sang ayah juga meminta Lisa bekerja di restoran yang dimilikinya. Di sana Lisa yang semula hanya bisa memasak mie instan ditempa untuk segera menjadi koki handal terutama dalam hal menyajikan sup. Bukan hal yang mudah bagi Lisa hanya karena semangatnya dan mungkin juga sedikit kepandaian memasak yang diturunkan dari sang ayah membuatnya bisa memasak dalam waktu singkat.

Sang ayah juga menangguhkan permohonan kuliah Lisa, selain soal biaya  sang ayah juga takut jika Lisa kuliah maka rasa tetariknya akan restoran akan berkurang. " ...Karena ini tidak hanya soal uang, tetapi juga soal kesetiaan...Dan ujung-ujungnya, seperti juga perempuan-perempuan modern di kota ini, kamu merasa bahwa bekerja di kantor-kantor milik perusahaan akan jauh lebih menyenangkan ketimbang mengurus restoran (halaman 106).

Lisa ternyata tidak hanya mampu meracik sup. Ia membuat hati seorang laki-laki yang tak pernah mengatakan cinta jatuh hati padanya.  Ternyata kisah cintanya tak selezat sup buatannya. Ki.h baik lagiegigihan Lisa patut ditiru dan diberi acungan jempol. Dengan terbiasa segala hal memang menjadi lebih mudah dan mendorong kita untuk terus berusaha melakukan yang leb

Kisah dalam buku ini memang mengisahkan tentang perjalanan cinta Lisa di Beijing (baca Peiching). Sebagai bumbu penyedap diberikan kondisi ayahnya yang sakit, restoran yang harus diwarisinya serta keharusan menempa diri menjadi koki handal dalam waktu sekejap. Sayangnya walau ada Beijing, bagaimana kondisi kota Beijing berikut tempat pariwisata yang tersohor tidak cukup diulas. Memang ada kisah dimana Lisa ikut rombongan turis mengunjungi beberapa tempat pariwisata, hanya sayang bagian ini seakan dikisahkan secara terburu sekedar untuk menyebutkan ada beberapa lokasi pariwisata yang layak dikunjungi. Informasi yang disampaikan sekedar sambil lalu saja. Sungguh sayang, padahal jika menceritakan tentang kisah cinta di Beijing minimal pembaca juga mendapat tambahan informasi mengenai kota Beijing, lokasi romantis misalnya tentunya akan lebih greget.

Ilustrasi membuat buku ini kian menarik hanya saja beberapa ilustrasi mengambil obyek yang sama walau diambil dari sudut yang berbeda. Banyak obyek yang bisa dijadikan ilustrasi atau momen indah  yang diubah menjadi bahasa gambar. 

Sudut buku yang dibuat melengkung tidak lancip seperti buku-buku lainnya membuat buku ini mempunyai ciri khas tersendiri. Meski untuk menyampulnya membutuhkan ekstra perhatian. Hal Sederhana namun membuat buku ini berbeda.

Penulisan bab atau bagian membuat kedua alis saya bertemu. Penulis menulis angka lima misalnya dengan menggunakan rangkaian  hànzì (Aksara Tionghoa disebut hànzì dalam Bahasa Mandarin). yang serupa dengan aksara latin. Masalahnya setiap huruf yang digunakan mempunyai bunyi sendiri sehingga jika dirangka malah menjadi kata yang aneh.

Beberapa kalimat dengan menggunakan Bahasa Mandarin memaksa saya membuka catatan dan kamus yang mulai berdebu karena lama tak disentuh.  Kata besok seharusnya adalah Míngtiān =  明天 bukan Ming dien. Demikian juga menurut Google terjemahan. Penasaran saya coba intip kata pergi yang ditulis chu, ternyata seharusnya qù=去. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Pertama saya sudah lama berhenti kursus sehingga tidak tahu perkembangan Bahasa Mandarin yang penulisannya bisa disederhanakan oleh pemerintah, mungkin ucapan juga. Kedua penulis menuliskan apa yang terdengar alias ditulis sesuai ucapannya.

Salah satu Koki handal di restoran itu  bernama Daniel mengatakan, "...kesedihan bisa lenyap seiring waktu. Untukku, kesedihan bisa lenyap seiring kesibukan...." Banyak cara untuk menghilangkan kesedihan, salah satunya dengan mengalihkan perhatian dengan bekerja. Hanya saja jangan sampai konsentrasi terganggu akibat terlalu sedih hingga pekerjaan bukannya menjadi selesai malah kacau.

Seandainya buku ini ditulis ulang dengan gaya bercerita tidak  lambat tentunya akan lebih menawan. Sayang sekali saya terpaksa memberi dua setengah bintang.


www.engineeringinchina.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar