Minggu, 25 September 2011

The Freak Show, Are U Freak?



Judul : The Freak Show
Penulis :  Rino Sutan Sinaro
Editor :  Anggoro Gunawan
ISBN : 978-602-99331-0-9
Halaman : 124
Penerbit : QuickSTART Foundation
              www.quickstart.co.id

Saat   kuliah dulu, saya menerima begitu saja perkataan dosen yang menyebutkan bahwa media massa bisa mempengaruhi kehidupan dan kepribadian seseorang. Bahkan media massa bisa  dijadikan sebagai salah satu alat membentuk opini publik.

Seiring dengan waktu serta perkembangan dunia  pertelevisian, saya kian percaya kalimat tersebut benar adanya.  Seorang anak kecil  berusia sekitar 9 tahun menjadi pesakitan di depan hakim akibat dituduh membunuh temannya. Inspirasinya  didapat dari menonton tv, padahal apa itu membunuh ia mungkin belum memahami.

Dahulu, perempuan Indonesia rajin merawat diri dengan menggunakan ramuan tradisional seperti lulur dan bedak dingin. Maksudnya  agar kulit menjadi kuning langsat, bersih dan harum. Sekarang, semua berlomba-lomba memakai  pelembab agar kulit menjadi putih seperti perempuan dari Negeri Sakura. Mereka ingin secantik dan seputih bintang iklan yang ada di televisi. Kriteria cantik telah bergeser akibat iklan di televisi. Lalu bagaimana nasib sesama perempuan yang terlahir dengan kulit berwana gelap, lalu apakah mereka jadi tidak cantik? Sungguh salah!

Beberapa anak  sekolah mendaftar di sebuah lembaga pendidikan karena terinspirasi dengan ikon yang bersemangat menceritakan bagaimana bermanfaatnya lembaga pendidikannya itu. Mereka merasa dengan ikut bergabung dalam lembaga pndidikan itu akan membantu proses perjalanan penuh rintangan memasuki perguruan tinggi demi menggapai cita-cita. SEMANGAT!

Televisi bagaimana juga memiliki dua mata sisi, baik dan buruk. Kita memang tidak bisa memaksakan semua hal jika bersinggungan  dengan kata iklan!  Peter Collett, Psikologi dari Oxford menyebutkan bahwa jika iklan disela diantara adegan-adegan yang menarik dari suatu program yang banyak disukai orang, makin banyak waktu yang dihabiskan oleh pemirsa untuk melihat iklan itu. maka wajarlah jika banyak produsen yang berlomba memasang iklan pada sebuah program yang dianggap menyedot pemirsa.

Dalam Bab II Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia disebutkan kesaksian konsumen harus dilengkapi dengan pernyataan tertulis berdasarkan pengalaman yang sebenarnya. Nama dan alamat pemberi kesaksian harus dinyatakan dengan jelas dan sebenarnya. Faktanya berapa banyak iklan yang memenuhi kritria ini? Belum  lagi pertimbangan  jahilnya masyarakat kita jika melihat nomer telepon seseorang dipasang.

Rino Sutan Sinarno memberikan sebuah pencerahan seputar iklan serta sinetron yang tayang di televisi. Sebagai seorang motivator, Rino mengajak kita untuk bisa menerima diri kita apa adanya. Novel yang memuat aneka anekdot seputar dunia pertelevisian ini sungguh layak dibaca agar kita tidak terkena racun iklan  dan sinetron tentunya tanpa melakukan pertimbangan-pertimbangan yang logis.

Sinetron memang merupakan hiburan, dari sisi komersial  pun sudah menjadi ladang iklan dengan pemasukan yang fantastis. Tapi berapa banyak sinetron kita yang dibuat dengan cerita menawan dan mendidik tanpa mengurangi unsur komersil? Yang banyak malah sinetron kejar tayang dengan aneka macam masalah seakan-akan kehidupan ini isinya hanya masalah saja!

Kisah tentang televisi masa depan yang dikemas dengan apik oleh Rino bukannya sebuah impian kosong tanpa dasar. Andai saja televisi itu benar-benar ada maka banyak keuntungan positif yang bisa diambil. Dari sisi iklan, posisioning membuat masyarakat mau menerima pesan iklan dengan lebih rasional. Hidup tentunya menjadi lebih menyenangkan. Semua wanita pasti mau  membeli sebuah produk agar bisa memiliki kulit indah dan sehat tanpa harus mengkhawatirkan apa warna kulit mereka.

Dari sisi hiburan, masyarakat mendapat hiburan yang sesuai dengan realita. Sinetron dibuat dengan mengambil kasus yang ada disekitar kita bukan yang dipanjang-panjangkan demi rating. Misi televisi sebagai sebuah sarana mendidik dan menghibur bisa  terpenuhi sekaligus.

Dalam dunia periklanan rating adalah  istilah yang biasa digunakan untuk mengukur efektivitas penggunaan pesawat televisi atau radio sebagai media penyampaian pesan iklan.  Rating  adalah sebuah ukuran yang menunjukkan bagian dari sejumlah individu atau rumah tangga yang melihat atau mendengar suatu program pada suatu waktu tententu, yang biasanya dinyatakan dalam persentasi (Manajemen Periklanan- Rhenald Khasali)

Kisah mengenai sepak terjang Budhiastuity dengan Cherio radio sungguh membuat kita ditarik dalam alam hinggar-binggar letevisi ke bumi realita.  Jangan lupa mengintip http://www.facebook.com/ModernTV? untuk bisa memahami bagaimana  kacau balaunya isi siaran televisi kita. Ayo dukung sebuah televisi yang mendidik!

Secara pribadi, saya sangat ketat jika berurusan dengan senetron. bagi saya beberapa senetron justru dibuat dengan cerita yang sungguh luar biasa konyolnya. Selama penayangan saya tak henti-hentinya melakukan aksi protes sepihak. rasanya masyarakat kok dibodohi, apa lagi jika samapi  bertindak seperti yang dilakukan oleh tokoh utamanya. Selain adegan kekerasan yang membahayakan, ada juga kisah yang membuat saya terheran-heran. Seorang anak angkat mengawini mantan istri bapak angkatnya. Laaah piye sih dunia ini???

Begitu juga dengan iklan! Setelah sempat menjadi korban iklan dan mengetahui banyak yang terjebak oleh iklan, bagi saya iklan hanyalah sekedar informasi sebuah produk belaka.Ditonton sebagai bahan informasi dan menghormati hasil kerja rekan-rekan tim kreatif iklan.

Buku yang menawan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar