Minggu, 14 Agustus 2011

Lomba resensi Serambi 2011: Kat Medium Penakut


Judul: Suddenly Supernatural: Kat Si Medium Penakut
Penulis: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penyunting : Pujia Pernami
Pewajah Isi : Aniza
Halaman : 161
Penerbit: Atria

Kadang, ada orang yang berada diwaktu dan tempat yang tepat. Salah satunya Kat. Semula ia hanya ingin memanfaatkan kamera hadiah ulang tahun ketiga belasnya untuk membuat proyek komunikasi dasar. Ia akan membuat semacam kisah,  dengan menggunakan dua bentuk. Dengan bantuan kamera barunya ia akan membuat bentuk gambar serta tertulis.

Saat ia membidik  beberapa gambar di rumah sebelah, tanpa sengaja ia menangkap sebuah wajah pucat. Aneh, padahal selama ini rumah itu kosong. Lalu siapa wajah yang berada di balik jendela itu? Kat merasa penasaran. Apa lagi saat ia menemukan tulisan TOLONG AKU di jendela itu. Sebenarnya Kat adalah sosok anak remaja biasa. Tidak biasa  100 % juga..., ia memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan hantu, kemampuan menjadi medium.  Kemampuan itu dimilikinya sejak ia berulang tahun yang terakhir. Bagi beberapa orang ini mungkin berkah, bagi yang lain merupakan musibah. Bagi Kat, ini merupakan gabungan keduanya. Kadang ia merasa beruntung bisa melihat dan mengetahui banyak hal, namun karena ia belum mampu mengendalikan kelebihannya justru menjadi bumerang. Untuk yang satu ini, saya sangat mengerti bagaimana perasaan Kat.

Jika pada buku pertama Kat berurusan dengan arwah pemain musik, maka pada buku ini  Kat harus mulai belajar menguasai kemampuannya. Kemana ia pergi, ia akan melihat banyak arwah dan arwah itu juga melihat dia. Belakangan malah kian banyak yang mengantri untuk bisa dilihat Kat. Hal ini jelas membuat Kat ketakutan! Ia menjadi seorang medium penakut. Apalagi saat ia mengetahui kamarnya dipenuhi oleh bola arwah,  sebuah bola yang mewakili satu atau sekumpulan arawah.

Ternyata setelah ditilik, Kat juga remaja biasa terutama saat berurusan dengan seorang pria yang terlihat mendekati ibunya. Melihat bagaimana Kat bertahan menutup diri terhadap seseorang yang mampu membantunya mengenal dan menguasai kemampuan barunya hanay karena orang itu adalah teman ibunya sungguh mengharukan.  Mengetahui bagaimana Kat dengan setianya membantu sahabatnya  Jac untuk menentukan jalan hidupnya membuat ia tak ada bedanya dengan remaja lainnya.

Dibandingkan buku pertamanya, kisah dalam buku kedua ini lebih menyegarkan. Konflik yang ada juga khas remaja yang menderita akibat kedua orang tuanya berpisah. Pesan moral yang disampaikan juga tidak berkesan menggurui. Sang penulis, Eizabeth Cody Kimmel sudah lebih piawai dalam memainkan emosi pembaca.

"Jadi bagaimana caranya seseorang bisa  mengetahui ada makhluk lain sementara yang lain tidak?"  Sebuah pertanyaan sederhanan dilontarkan oleh seorang sahabat. Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini saya harus menerangkan cara kerja sebuah radio secara panjang lebar. Andai saja buku ini sudah terbit, mungkin saya hanya perlu menunjuk satu halaman yang menerangkan proses tersebut.

Lalu bagaimana nasib wajah anak laki-laki yang terlihat di jendela?
Tulisan TOLONG AKU?Hubungannya dengan koma berkepanjangan seorang remaja?

Baca sajalah... ceritanya lebih menarik dibandingkan dengan buku pertama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar