Minggu, 28 Juni 2020

2020 #24: Mantra Orang Jawa Ala Sapardi


Penulis: Sapardi  Djoko Damono
Penyelia naskah: Mirna Hasanbasri
ISBN: 9786020642932
Halaman:66
Cetakan: Pertama- Mei 2020
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 70.000
Rating:3.25/5

gerah serakah
aku terengah
wahai air
wahai angin
wahai Hyang Maha
siram aku
dengan hakekat-Mu
:
segala tawar
segala segar

Mantra Pengusir Gerah, halaman 56

Suatu saat, saya sedang menjalankan "tugas negara" ke Penerbit Gramedia. Di sana secara tak sengaja, saya mendapatkan info bahwa bakalan terbit  beberapa buku baru dari Sapardi. Mohon dirahasiakan, demikian pesan para sahabat. Baiklah. Setelah sekian lama, ternyata memang benar ada buku baru yang muncul, salah satunya buku ini.

Seperti tak ada yang meragukan kemampuan olah kata seorang Sapardi. Begitu disebutkan buku puisi-baca mantra, saya yang bukan penggemar puisi saja tertarik untuk membeli dan mengoleksinya. Iming-iming tanda tangan saat pemesanan awal juga menjadi salah satu faktor.  


Apa lagi seingat saya, buku ini pernah diterbitkan oleh salah satu penerbit. Saya makin penasaran dengan perubahan apa yang muncul dalam buku ini.  

Pasti ada perubahan, jika tidak bukan penebit Gramedia namanya. Mereka selalu menyajikan hal baru dalam tiap buku yang diterbitkan ulang siapa pun yang menuliskannya. Selalu ada hal berbeda yang ditawarkan sehingga saya tergoda untuk membeli.
Ketika akhirnya buku ini tiba, seperti dugaan saya,memang terdapat beberapa perubahan dalam buku ini dibandingkan buku sebelumnya. Tinggal mencari seperti apa perubahan yang terjadi. Bukan iseng, tapi begitulah kebiasaan saya jika membeli buku yang sama untuk kedua kalinya.

Terdapat lebih dari 50 mantra dalam buku ini, lebih banyak dibandingkan buku sebelumnya. Mulai dari asal-muasal manusia; bunyi & sunyi; biji mantra; mantra pengasih 1-9; mantra mengusai orang; mantra wewe putih; mantra batu terbang; sungai; hingga mantra menjelang tidur. 

Pada buku sebelumnya, Doa Hari Lahir,  diubah  menjadi Mantra Hari Lahir pada buku edisi baru. Lalu Makna Air menjadi Air pada edisi revisi.  Beberapa judul yang ada pada buku sebelumnya namun tidak ada pada buku edisi revisi antara lain Keteguhan; ilmu; mantra jayabrana; ajian semar mesem. 

Sementara pada versi baru pembaca akan menemukan mantra pengusir gerah; jopa-japu; mantra  wewe putih;  mantra menjelang tidur dan beberapa lagi.

Oh ya mantra yang ada pada kover, merupakan Mantra Mengeja Abjad dari halaman 24. Untuk mantra yang lain, sepertinya saya tak perlu memberikan banyak komentar. 

Dari sisi bahasa, terlihat rangkaian huruf yang dijalin menjadi sesuatu yang indah. Sementara dari sisi makna, jika dielaah lebih dalam, banyak hal yang terkandung dalam bait-bait tersebut.

Dari sisi ukuran buku, jelas mengalami perubahan yang signifikan. Ukurannya bertambah besar dibandingkan edisi yang lalu. Jika dulu bisa dimasukkan dalam saku, ukuran sekarang  tentunya butuh saku yang lumayan besar. 

Untuk kover,  batik dengan nuansa warna biru pastinya membuat saya bahagia. Urusan blangkon sempat membuat saya heran. Sepertinya bukan blangkon dari Solo. Ternyata dugaan saya benar, pada pengantar di halaman viii disebutkan dari mana asal blangkon tersebut.

Dari bagian tentang blangkon, saya memperoleh kesan bahwa seorang Sapardi pada dasarnya menerima segala perbedaan. Tidak banyak menuntut. Walau mengatakan "apa  pula bedanya" namun beliau tetap merasa perlu memberikan klarifikasi. Hem..., saya penasaran sepertinya ada kisah  dibalik blangkon pada kover.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mantra diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain. 


Sementara  menurut  majalah pendidikan.com. mantra adalah kumpulan kata-kata yang didukung oleh kekuatan mistis atau magis. Mantra juga termasuk dalam puisi lama, yang dalam masyarakat Melayu tidak dianggap sebagai karya sastra, tetapi lebih terkait dengan kebiasaan dan kepercayaan.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa mantra sering dianggap memiliki kekuatan. Mereka yang dianggap mampu merapal mantra, secara otomatis juga dianggap melakukan banyak hal terkait urusan gaib. 

Maka tak heran jika sejak awal buku, Sapardi  Djoko Damono sudah mengingatkan agar pembaca tak begitu saja percaya dengan hal-hal yang mungkin muncul dari membaca mantra tersebut. Beliau melihat dari sisi lain, dari keindahan bahasa. Namun bagi mereka yang percaya, silakan saja.

Seperti yang saya sebutkan di atas, saya bukan penikmat puisi yang fanatik. Tapi saya bisa menikmati karya ini. Jadi penasaran membaca buku barunya satu lagi. Berburu diskon ah ^_^.

























Selasa, 09 Juni 2020

2020 #23: Misteri Terakhir #1

Penulis: S. Mara Gd
ISBN: 9786020637112
Halaman: 448
Cetakan: Pertama- April 2020
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rating: 4/5
Harga: Rp 98.000

Maestro memang mantap!
Semula saya sengaja  membeli buku pertama saja. Alasannya sederhana, timbunan yang lumayan tinggi di rumah. Selain itu,  dengan model yang dibagi menjadi tiga buku seperti ini, mungkin saja kisah sederhana sengaja dibuat panjang. Atau buku ini terdiri dari beberapa bagian yang bisa berdiri sendiri. Dugaan saya lho, ceritanya lagi sok tahu wkwkwk.

Ternyata saya salah!
Justru setelah tamat buku pertama ini, tak sabar segera membaca buku kedua dan ketiga.  Buku pertama ini bisa dikatakan sebagai landasan kisah, bagian pembuka. Beberapa tokoh diperkenalkan pada buku ini.  

Seperti biasa,  Daftar Pelaku sudah dicantumkan pada halaman 5-9. Lumayan banyak para tokoh, beberapa sudah bisa ditemukan dalam buku ini. Yang lain menunggu giliran pada buku selanjutnya. Ternyata lumayan banyak juga tokoh yang ikut berperan dalam misteri kali ini.

Kisah dimulai dengan pembicaraan pernikahan  kedua  anak gadis Kapten Kosasih. Selanjutnya terjadi juga pembicaraan perihal pernikahan antara putri Kapten Kosasih, Dessy dengan sahabat sekaligus tangan kanannya Gozali. 

Kisah percintaan yang lumayan unik juga. Bagian ini memberikan  isyarat bahwa keluarga Kapten Kosasih percaya akan kebesaran jiwa Gozali   walau dari sisi keuangan  bisa dikatakan biasa saja, cenderung sederhana malah. Namun kepribadian Gozali yang matang dianggap adalah "harta" bagi mereka.

Memasuki halaman  112-114  mulai timbul masalah yang bisa mengarah pada sebuah kasus. Sebelumnya pada halaman 109-110 terjadi pembicaraan beberapa tokoh mengenai suatu hal. Naluri penasaran saya mulai tergelitik, kenapa hal seperti itu mulai dibahas ya? Apakah mengarah pada suatu peristiwa besar kelak. Baiklah mari kita lanjutkan membaca!

Selain banyak kisah yang dibuat untuk menjadi landasan cerita pada buku kedua dan ketiga, banyak juga kisah tentang hubungan antar tokoh dalam buku pertama ini. Misalnya percakapan di halaman 72, tentang bagaimana seorang tokoh bisa menerima pasangannya berselingkuh disaat ini divonis menderita penyakit berbahaya.

"Pasangan itu harus timbal-balik, saling  memberi. Aku seperti spons, aku cuma bisa menyerap dan menyerap, aku nyaris tidak bisa memberinya apa-apa, aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan. Dia yang terus memberikan kasih dan kekuatannya padaku." Suatu pemikiran yang unik bukan? Umumnya seorang wanita akan merasa tersakiti dan marah ketika tahu suaminya berselingkuh.

Salah satu yang membuat saya penasaran adalah 
adegan percakapan sebelum tidur antara Kapten Kosasih dan istrinya di halaman 374, "Malah ya, Bu, kalau aku mendadak mati, aku bisa mati dengan tenang karen tahu si Goz pasti akan menggantikan tempatku sebagai pelindung dan pemimpin keluarga ini. Aku bisa mati dengan tenang karena tahu istri dan anak-anakku semua pasti bakal aman di tangannya. Aku yakin Goz akan membela keluarga ini dengan naywanya sendiri." Duh, kenapa saya punya perasaan tak enak mengenai percakapan ini ya?

Sama curiganya dan anehnya saya ketika menemukan ada orang yang bisa begitu saja akrab dengan orang lain di halaman 337. Saking mudah akrabnya, malah tokoh kita itu bisa  sampai mengakui berbohong peihal pengakuan telah memiliki pasangan yang sebelumnya ia sampaikan. Kurang pas saja rasanya, naluri saya merasakan bakalan ada kisah terkait adegan pertemuan kedua tokoh ini di pesawat udara.

Saya penasaran dengan kata mbodet di hal 255. "Itulah kalau mbodet. Kira-kira salah satu dari semua wanitanya ini yang membunuhnya," kata Kosasih. "Kalau memang demikian, aku cuman bisa bilang dia pantas mendapatkan ganjaran itu!" 

Oh ya saya menemukan ada pembahasan tentang mata-mata kelas dunia, Matahari disebut pada hal 168.Keren! Penulis bisa memasukkan suatu unsur pengetahuan sehingga pembaca tak hanya terhibur namun juga pendapat ilmu.

Baiklah..., mari kita lanjut buku selanjutnya!
Jika buku pertama saja sudah menawan, bagaimana selanjutnya!




Rabu, 20 Mei 2020

2020 #22: Mendalami Resensi

Judul asli: Inilah Resensi: Tangkas Menilik dan Mengupas Buku
Penulis: Muhidin M. Dahlan
ISBN: 9789791436601
Halaman: 256
Cetakan: Pertama- Februari 2020
Penerbit: I: BOEKOE
Harga:Rp 65.000
Rating:3.75/5

"Tak ada resensi buku tanpa lewat praktik membaca.... Meresensi adalah menuliskan kembali apa yang tersirat maupun tersurat dalam buku yang dibaca."
~Muhidin M. Dahlan~

Urusan meresensi bagi beberapa orang merupakan hal yang rumit. Sementara bagi yang lain, semudah mengedipkan mata.  Membuat resensi sebenarnya tak terlalu sulit, hanya butuh hanya latihan dan membaca buku pedoman bagaimana membuat resensi agar bisa menghasilkan karya yang  makin baik.

Salah satu buku yang bisa dibaca adalah Inilah Resensi:Tangkas Menilik dan Mengupas Buku besutan Muhidin M. Dahlan. Dalam 256 halaman, pembaca akan mendapatkan informasi langkah-langkah untuk membuat resensi. 

Selain itu, juga akan ditemukan bagaimana cara agar pembaca bisa menikmati dan menyerap inti buku. Dengan demikian ia bisa membuat sebuah resensi yang baik. Karena dengan paham dan menikmati sebuah buku, seseorang bisa menceritakan ulang dengan lebih baik berikut memberikan informasi kelebihan dan kekurangan dari buku ini dengan lebih obyektif.

Guna membuat pembaca lebih mudah memahami, penulis memberikan contoh resensi dari berbagai buku yang dibuat oleh perensesi. Hal ini membuat teori yang diberikan menjadi mudah dipahami karena tersedia contoh menerapannya secara langsung.

Buku ini juga memuat beberapa padanan istilah yang dipergunakan seperti  peresensi alias pengupas alias penilik buku. Ir.Sukarno, Presiden pertama kita menyebutnya sebagai tilikan, semacam apresiasi bagi buku yang dibaca. 

Pada salah satu bagian, disebutkan bahwa untuk menarik minat maka buatlah judul yang menarik perhatian. Misalnya dengan mempergunakan kata-kata yang bombastis. Setelah orang tertarik membaca judul, umumnya akan meneruskan dengan membaca isinya.

Saya jadi teringat resensi yang dibuat oleh beberapa sahabat. Setiap orang memiliki cirinya masing-masing. Tak ada yang salah atau benar menurut saya. Tak ada yang paling baik, karena tiap tulisan memiliki pembacanya masing-masing.

Jangan lupa untuk selalu ingat perbedaan antara blurd, sinopsis serta resensi. Blurd merupakan  konten promosi yang ada di bagian belakang buku. Tujuannya agar  calon pembaca merasa tertarik akan isi buku tersebut.

Sementara sinopsis merupakan versi singkat dari isi buku. Untuk buku non fiksi, akan disebutkan tujuan penulisan buku serta apa yang ingin dicapai dari membaca buku itu, ditambah dengan uraian singkat tentang isi buku. Jika buku itu novel, maka akan dijelaskan inti kisah, latar belakang peristiwa, awal mula konflik hingga solusinya. 

Resensi merupakan tanggapan pribadi atas isi sebuah buku. Umumkan akan disebutkan kelebihan serta kekurangan dari buku itu, dengan alasan yang masuk akal dan jelas.  Akan dicantumkan juga beberapa referensi terkait topik yang dibahas jika memungkinkan. Tergantung pada si pembuat resensi.

Penulis-Muhidin M. Dahlan, membuat buku ini berdasarkan pengalamannya selama ini. Tiap orang tentunya mempunya pengalaman yang berbeda. Tentunya mempunya tips dan triks yang membuat bagaimana karyanya diminati banyak orang,

Muhidin M. Dahlan lahir  pada 12 Mei  1978 di Donggala, Sulawesi Tengah. Ia juga merupakan seorang  Guru Utama di program Kelas Menulis Kreatif yang diselenggarakan Radio Buku. Pendiri Yayasan Buku Indonesia dan  databuku.id ini bisa melalui surel di gusmuh12@gmail.com atau twitter  @warungarsip | @radiobuku, atau laman MUHIDINDAHLAN.RADIOBUKU.COM.

Beberapa karyanya antara lain; Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (2003); Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan (2009);  Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku (2009); Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku (2011); Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor (2016).














Senin, 04 Mei 2020

2020 #21: Kisah Petualangan Raffles Holmes & Co.

Penulis: John Kendrick Bangs
Penerjemah: Armyanti Aprellia
Editor: Anton WP
ISBN: 9786237245292
Halaman: 144
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: BukuKatta
Harga:Rp 55.000
Rating: 3.75/5

Jika kulakukan dengan cara Raffles saja, aku bisa saja menjadi milyuner di dunia yang berlimpahan uang dan kemewahan ini, karena orang-orang kaya di sini sangat teledor-tapi jika begitu ke mana perginya hati nuraniku? Di sisi lain, jika hanya menggunakan cara Holmes, aku akan mati kelaparan, tapi dengan kombinasi itu-ah-ada cukup uang, Sobatku, dengan sedikit ketenangan hati.

~Raflles Holmes &Co, hal 49~

Serupa dengan Sherlock Holmes yang membutuhkan Dr  John A Watson  untuk menuliskan kisah-kisahnya,  Arthur J. Raffles  yang membutuhkan Harry "Bunny" Manders.  Atau  Hercule Poirot  yang  didampingi Kapten Arthur Hasting.  Maka wajarlah jika seorang  campuran Holmes dan Raffles juga membutuhkan pendamping untuk bisa mendokumentasikan kegiatannya. Setiap tokoh besar memiliki pendamping, demikian juga dengan seorang Raffles Holmes.
   
Entah bagaimana dunia harus menerima,  ketika seorang detektif  jatuh cinta dan menikah dengan seorang anak pencuri budiman. Dua sosok yang berlawanan menjalin hubungan keluarga melalui sebuah pernikahan. Belum jelas "jalur" mana yang dipilih oleh anak keturunan mereka. Tentunya akan menarik untuk disimak.

Dalam versi ini, disebutkan bahwa Holmes jatuh cinta pada putri tunggal Raffles-Maejorie. Mereka bertemu ketika Holmes sedang menyelidiki sebuah kasus.  Cinta mengalahkan segalanya, Holmes menikahi Maejorie dan kasus ditutup tanpa penyelesaian. Sebuah hal yang tak biasa mengingat selama ini seorang Holmes selalu bisa menyelesaikan kasusnya,

Pernikahan tersebut melahirkan sebuah anak laki-laki yang dikenal dengan nama Raffles Holmes. Buku ini menawarkan sesuatu yang unik, kisah yang disampaikan langsung dari mulut Raffles Holmes  dan dicatat oleh Mr Jenkins seorang penulis. Terdapat 8 kisah mengenai  sepak terjang Raffles Holmes sendiri,  1 kisah mengenai pertemuan dirinya dengan Jenkins, serta kisah mengenai asal mula  dirinya.

Kisah favorit saya adalah kisah Nostalgia Nervy Jim Si Penjambret di halaman 97. Pertemuan tak sengaja antara  Raffles Holmes  dengan Nervy Jim, yang semula mengira ia adalah Sherlock Holmes tokoh yang membuatnya dipenjara,  membuat Holmes berada dalam sebuah petualangan yang tak terduga. 

Ternyata Nervy Jim lebih menyukai kehidupannya di penjara. Ia tak usah memikirkan bagaimana cara mencari makan, di mana ia tinggal, semua kebutuhan terpenuhi.  Maka muncul permintaan anehnya agar Holmes muda membuatnya dipenjara. Bukan Raffles Holmes jika tidak bisa memecahkan masalah tersebut.

Ketika itu, hukuman untuk pencuri lumayan lama. Dengan berada lama di penjara maka kehidupan Nervy Jim akan terpenuhi  sekitar 5-15 tahun, lumayan lama juga.  Ironi bukan, ketika tempat yang paling aman dan nyaman bagi seseorang justru berada di tempat yang tak diinginkan oleh kebanyakan orang. 

Dari kisah-kisah yang disampaikan, terlibat sekali bagaimana Holmes mewarisi kecerdikan ayahnya. Tak ada masalah yang tak bisa ia selesaikan. Ditambah seperti juga Holmes dan Raffles, ia memiliki kepandaian menyamar yang sangat mumpuni. Unsur Raffles dalam dirinya muncul dalam upaya mencari keuntungan dalam tiap tindakan. 

Contohnya, bagaimana ia tak sengaja berada dalam Kasus Kamar 407. Kecerdikannya membuatnya tahu sedang terjadi sebuah tindak kejahatan. Dengan melibatkan diri dalam kasus tersebut, ia tak hanya membantu pihak lain menggagalkan sebuah kejahatan, tapi juga mendapat keuntungan bagi dirinya.

Atau jika perlu, Raffles Holmes menciptakan sebuah kasus, seperti Kasus Tanda Terima Bagasi Kuningan, lalu dengan cerdiknya mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Sisi baiknya muncul ketika ia membagi dua keuntungan yang ia peroleh dari aksinya dengan Jenkins. 

Jika menilik kisah kemunculan J.A Raffles, keberadaannya diciptakan pada tahun 1898 oleh EW Hornung,  ipar dari Sir Arthur Conan Doyle. Raffles diciptakan sebagai sosok yang berlawan dengan Holmes. Seorang olahragawan profesional,  ramah dan menarik, namun ternyata adalah pencuri profesional yang hanya mencuri milik si kaya. Doyle sendiri yang menyarankan agar Raffles dipertahankan  sebagai sebuah seri.

Memadukan dua sifat yang berbeda dalam satu orang tentunya akan menjadi suatu kisah yang seru. Selain kisah pemecahan misteri, pembaca juga akan disuguhi bagian pertentangan batin dalam sosok Holmes Raffles. Bagian ini  paling menarik

Untung ada Jenkins! Keberadaan Jenkins tak hanya menjadi juru catat kisah Raffles Holmes, namun juga menjadi penjaganya. Ia harus memastikan sisi Raffles dalam diri Raffles Holmes  tidak menguasai dirinya.   Dengan kata lain Jenkins harus selalu mengingatkan agar sahabatnya itu tidak melakukan perbuatan yang menyimpang. Contohnya ada dalam kisah  Kasus Stomacher Berlian Mrs Burlingame.

Lebih jelas, simak yang tertera di halaman 38, " Raffles dalam diriku juga mengatakan demikian, tapi Sherlock Holmes yang ada dalam nadiku berkata lain-aku tak bisa menyimpannya,..." Meski sukses memecahkan misteri pencurian benda berharga, godaan tetap saja muncul.

Pada halaman 39, terlihat jelas pertentangan batin dari seorang anak yang berasal dari dua "jalur" yang sangat bertentangan. "Dari sisi ayahku," katanya serasa mendesah. "Dari sisi ibuku, itu sedikit sulit." Tugas  Jenkins  tidaklah semudah yang ia kira.

Dari sudut pandang saya, tak hanya Raffles Holmes yang mendapatkan keuntungan dari penjualan kisah-kisah yang dicatat oleh Jenkins.  Keduanya saling memberikan keuntungan. Sebenarnya, menurut saya Jenkins lebih mendapat keuntungan dari sisi keuangan. Tak hanya royalti yang ia bagi berdua dengan Holmes, tapi juga mendapat keuntungan dari kiprah Holmes memuaskan sisi Raffles dalam dirinya.

Pembaca akan menemukan banyak paragraf dengan kalimat yang panjang. Paragraf yang ada di halaman 55 sebagai contoh. Terdiri lebih dari 20 baris. Kemudian pada hal 103, terdapat lebih dari 60 baris. Butuh konsentrasi ekstra untuk menamatkan sebuah paragraf seperti itu. Tapi percayalah, usaha sepadan dengan hasil.

Kover buku ini juga menarik. Kesannya mewah dengan nuansa abu-abu dengan ilustrasi gambar beberapa pernak-pernik seperti siluet wajah, pipa, topi dan kaca pembesar yang langsung mengingatkan saya pada sosok Sherlock Holmes. Sementara untuk sosok Raffles, saya masih belum yakin mana yang bisa merepresentasikan dirinya.

Mungkin karena pembaca kita lebih sering dicekoki dengan sosok Holmes. Sementara pengenalan akan sosok Raffles selama ini tak seperti Holmes. Seingat saya baru ada beberapa buku  terjemahan yang beredar dengan mengusung Raffles sebagai tokoh utama.

Bacaan yang cocok bagi segala umur mulai lagi remaja. Bagi mereka yang menyukai kisah detektif,  buku ini wajib dibaca karena Anda akan menemukan trik yang tak biasa. Apalagi fans berat  kisah-kisah Sherlock Holmes, buku ini wajib dibaca. Sosok Raffles Holmes menyerupai ayahnya Sherlock Holmes namun dalam versi yang lebih sesuai dengan jiwa anak muda. 

Sang penulis, John Kendrick Bangs (27 Mei 1862 - 21 Januari 1922) diakui sebagai penulis satire ternama Amerika di zamannya, dan pelopor Fantasi Bangsian modern, aliran penulisan fantasi yang menceritakan kehidupan sesudah kematian dalam seluruh atau sebagian plotnya. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1906.

Buku ini mengembalikan sensasi membaca yang sempat hilang beberapa waktu lalu. Melalui buku ini, membaca tak hanya sekedar mengisi waktu luang, memenuhi target RC di GRI, atau mengurangi timbunan yang terbengkalai. Buku ini menimbulkan lagi rasa penasaran melahap tiap halaman, tersenyum puas ketika suatu kisah tamat. Semangat membacaku bangkit kembali melalui buku ini. 

Spektakuler

Rabu, 29 April 2020

2020 #20: Menikmati Aneka Kisah Mitologis Dari Tanah Air

Judul asli: Dewi Duri dan Cahaya Kunang-kunang: Sehimpun Cerita Mitologis
Editor: Triyanto Triwikromo
ISBN: 9786024812669
Halaman: 192
Cetakan: Pertama-Februari 2020
Penerbit: KGP
Harga: Rp 65.000
Rating: 3.5/5

"Agnum su tubhyam varuna svadhavo, hrdi stoma upasritas cid astu sam nah kseme sam u yoge no astu, yuyam pata svastibhih sada nah."

Semoga pujaan ini berkesan pada-Mu, O Maruna yang bebas. Semoga kami selamat dalam beristirahat, semoga kami selamat dalam bekerja. Lindungi kami dengan berkahmu.

~Mantra pemujaan terhadap dewa samurera, air, dan langit Maruna,  Kesatria Pulau Garam, Mega Fitriyani, halaman  59~

Sebenarnya sudah lama sejak saya tahu bahwa Mas Yudhi Herwibowo memenangkan Sayembara Penulisan Cerpen Mitologi yang diselenggarakan oleh Universitas Ivet Semarang pada tahun 2018. Namun baru pada tahun 2020 karyanya bersama karya beberapa penulis lain bisa dinikmati dalam bentuk buku.

Dalam buku ini, terdapat 16  kisah yang dikemas ulang dari mitos  yang ada di tanah air hingga menciptakan sebuah mitos baru. Beberapa kisah sudah mengalami penyesuaian dengan kondisi saat ini. Tentunya dengan tujuan agar mudah diterima oleh pembaca.

Karya Mas Yudhi yang berjudul Dewi Duri, sepertinya tak perlu diberikan komentar lagi. Karena pembaca bisa membaca ulasannya dari sang editor pada halaman xxii-xxv, lumayan panjang bukan? Bisa dianggap sebagai wujud pertanggungjawaban panitia mengapa memilih  Dewi Duri sebagai pemenang pertama.

Secara singkat, kisah tersebut memberikan sebuah jawaban kenapa tangkai bunga mawar dipenuhi duri. Ciri khas Mas Yud berupa akhir yang bisa beragam, tergantung pemahaman pembaca, diberikan istilah apera aperta oleh editor. Mengacu pada ungkapan Umberto Eco  dalam The Role of the ReaderJika ingin lebih jelas, silakan baca catatan kakinya di halaman xxv ^_^.

Demikian juga dengan kisah Mengapa Kunang-kunang Sudah Tak Ada Lagi karya Prihadi Kurniawan, serta  kisah Ketika  Bumi Berbentuk Kubus karya Rio Johan. Sebagai pemenang sayembara, keduanya juga mendapat ulasan yang lumayan panjang pada esai yang dibuat oleh sang editor.

Sementara untuk karya lainnya seperti Sadam dan Sadam  (Sudya Gemilang), Perang Anak-anak  Langit (Ruwi Meita), Perihal Tiga  Butir Telur Dewa Antaboga di Dalam Hikayat Dendam Ular dan Katak Sawah (Guntur Alam), Kesatria Pulau Garam  (Mega Fitriyani), Nenekku Buaya (Munar Muhtar), Dewi Pohong (Mira Tri Rahayu) dan lainnya, diberikan ulasan singkat saja.

Kisah Perihal Tiga  Butir Telur Dewa Antaboga di Dalam Hikayat Dendam Ular dan Katak Sawah, memporak-porandakan hikayat Dewi Sri yang selama ini dikenal masyarakat. Bagi para petani Dewi Sri adalah pelindung bagi padi yang mereka tanam, karena padi adalah penjelmaan dari Dewi Sri.
Tapi dalam kisah ini, justru Dewi Sri menjadi ular sawah, sementara padi merupakan dua saudara kembarnya yang buruk rupa dan jahat.

Jika pada umumnya seorang ibu akan melakukan apa saja demi keselamatan anaknya, maka dalam kisah ini justru sang ibu lebih mementingkan keselamatqn dirinya hingga rela membunuh  anaknya sendiri. Meski setelah itu ia menangis makam  anaknya selama beberapa waktu.

Membaca kisah Nenekku Buaya dari Munar Muhtar, mengingatkan pembaca akan Teori Darwin. Digambarkan bahwa binatang berevolusi untuk bisa bertahan hidup.  Dimulai dari   buaya yang berusaha mencari sumber makanan baru,  beberapa berevolusi menjadi seba (monyet), kemudian dalam kisah ini ada yang berevolusi menjadi  tau (manusia).

Meski digambarkan bahwa tau,  seba,  dan buaya merupakan satu keturunan yang berevolusi, dikisahkan kenapa buaya tidak suka jika ada tau dan seba  yang memasuki daerah kekuasaannya. Seba bisa dikatakan cukup tahu diri dengan berusaha seminim mungkin berurusna dengan buaya.

Tapi tidak dengan tau. Seiring jumlah yang bertambah, tau bahkan mulai menguasai tempat tinggal seba. Bahkan mulai memasuki wilayah buaya hingga mengakibatkan  kemarahan mereka.  Kisah yang unik.

Pada bagian akhir buku, terdapat semacam informasi seputar penulis yang karyanya ada dalam buku ini. Beberapa nama menyajikan informasi yang lumayan padat. Tapi ada juga penulis yang hanya diberikan informasi tempat di mana ia tinggal saja.  

Umumnya para penulis  memang sudah memiliki pengalaman yang mumpuni untuk bisa meraih penghargaan dalam sayembara ini. Namun terdapat juga beberapa penulis yang usianya terbilang muda. 

Hal ini sungguh menggembirakan! Minimal melalui kegiatan ini, sudah  muncul beberapa penulis muda berbakat yang masih memiliki banyak waktu untuk terus mengembangkan kariernya  dalam dunia penulisan.

Buku ini juga akan memanjakan pembacanya dengan aneka ilustrasi yang menawan. Tiap kisah dilengkapi dengan satu halaman penuh ilustrasi hitam-putih. Untuk kover, diambil dari ilustrasi Dewi Duri dengan sentuhan warna sehingga lebih menarik  minat pembaca yang melihatnya. Saya paling suka ilustrasi di halaman 119, dari kisah Dewa Hutan dan Kutu Api (Abdul Hafedz Mubarak).

Saya  juga terhibur hingga tertawa, ketika membaca kalimat di halaman 117. Terdapat kalimat yang menyebutkan merek sebuah alat rumah tangga plastik kenamaan, Tupperware. Begitu terkenalnya hingga menimbulkan fenomena dikalangan ibu rumah tangga, sehingga penulis menjadikannya sebagai salah bagian dari cerita Dewi Hutan dan Kutu Api.

"Perhatikan," bisiknya kemudian, "Tupperwere!" dan dalam sekejap kertas mantera itu berganti wujud menjadi sebuah benda kotak dengan warna mencurigakan. "Ini dapat digunakan untuk menyimpan makanan agar tetap segar dan tidak mudah rusak."

Secara keseluruhan, kisah yang ada akan membuat pembaca mendapat bacaan dari sisi yang berbeda. Mitologi memang masih jarang dilirik penulis untuk diolah menjadi kisah menarik. Maka sayembara ini sungguh merupakan langkah awal yang layak diacungi jempol.


Oh ya, bagi mereka yang masih kurang paham mengenai apa itu mitologi, bisa diintip pada KKBI, tepatnya di sini.  Jadi ingat  juga beberapa kalimat dalam  dalam Classical Mythology karangan Mark P.O Morford dan Robert J. Lenardon. 

Disebutkan bahwa Myth is a comprehensive (but not exclusive) term for stories primarily concerned with the gods and humankind's relations with them. Saga, or legend (and we use the words interchangeably), has a perceptible relationship to history; how-ever fanciful and imaginative, it has its roots in historical fact.These two categories underlie the basic division of the first two parts of this book into "The Myths of Creation: The Gods" and "The Greek Sagas: Greek Local Legends." Interwoven with these broad categories are folktales, which are often tales of adventure, sometimes peopled with fantastic beings and enlivened by ingenious strategies on the part of the hero; their object is primarily, but not necessarily solely, to entertain. Fairytales may be classified as particular kinds of folktales, defined as "short, imaginative, traditional tales with a high moral and magical content;" a study by Graham Anderson identifying fairytales in the ancient world is most enlightening.

Sebuah buku yang layak berada dalam rak buku penggemar kisah mitologi.



Senin, 27 April 2020

2020 #19: Jakarta Ketika Saat Itu


Judul: Djakarta Dewasa Ini
Halaman: 295
Tahun Terbit: 1957
Penerbit: Djawatan Penerangan Kota Praja Djakarta Raya
Rating:3/5

Indonesia sedang berjuang melawan Covid-19. Banyak yang bisa kita lakukan untuk membantu. Cara yang paling  adalah dengan diam di rumah. 

Dengan diam di rumah maka Anda membatasi interaksi dengan orang lain, hal ini akan memutus mata rantai penyebaran virus. Mudah bukan? Hanya diam di rumah saja saja telah berbuat sesuatu bagi bangsa tercinta.

Kita harus pandai mensiasati keadaan hingga tidak merasa jenuh di rumah. Bagi saya penggila buku, cara yang paling budah adalah membereskan rak buku dan membabat habis timbunan yang selama ini hanya dipandang saja he he he.

Maklum, sebagai penganut Hukum Kekekalan Timbunan, yang utama adalah timbun dulu, baca kemudin. Saat ini menjadi waktu  yang tepat untuk mulai babat timbunan. Sekaligus  menatanya dalam rak.Tak sengaja, saya menemukan ini. Sepertinya menggoda, mari kita baca.

Saya agak ragu, ini majalah atau buku? Melihat isinya yang banyak memuat aneka iklan, layak disebut majalah. Namun melihat artikel yang ada lalu melihat tulisan  Isi Buku, bisa jadi ini adalah buku.

Sementara kita anggap saja ini adalah buku yang dicetak dengan mengandalkan banyak iklan untuk menutupi biaya cetak. Bukankah sekarang saja banyak buku seperti itu? Kita sebut buku saja kalau begitu.

Ternyata pada Kata Pengantar, penasaran saya terjawab. "....Dan achirnya kepada para pemasang iklan tidak lupa pula kami haturkan terima kasih." Pantas, banyak sekali iklan yang ada. Iklan yang ada begitu beragam, ada iklan tentang kantor lelang, pabrik roti, bank, pabrik kapal,  hotel, perusahan import-export, dan banyak lagi. Ukurannya juga beragam dari satu halaman penuh hingga 1/4 halaman.

Secara garis besar, buku ini berisi tentang aneka informasi mengenai  Jakarta sebagai Ibukota negara. Disajikan dalam bentuk  8 artikel utama yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Upaya melakukan alih bahasa artikel merupakan hal yang patut diacungi jempol. Hal ini bermanfaat guna mengenalkan keberadaan Jakarta bagi warga asing.

Tata letak yang kurang tepat membuat saya mengira tak semua artikel diterjemahkan. Susunannya semua artikel dalam bahasa Indonesia dahulu, baru terjemahan dalam bahasa Inggris. Namun ternyata setelah artikel Sedjarah Ringkas,  langsung diletakkan artilel versi bahasa Inggrisnya, History.

Upaya melakukan alih bahasa artikel merupakan hal yang patut diacungi jempol. Hal ini bermanfaat guna mengenalkan keberadaan Jakarta bagi warga asing, apalagi ketika buku ini terbit pada tahun 1957, situasi Indonesia belum seperti saat ini. Sayangnya, ilustrasi berupa foto yang ada dalam artikel bahasa Indonesia tidak ditemukan dalam versi alih bahasanya. Demikian juga sebaliknya.


Pada   bagian buku, terdapat  informasi alamat-alamat  yang dianggap perlu diketahui oleh masyarakat luas. Misalnya alamat Menteri Kabinet XVIII, Kelurahan, Perwakilan Luar Negeri, Organisasi Pedjuang Daerah, Bank, hingga Toko Keriting  Rambut dan Perusahaan Bunga, dan masih banyak lagi. Bahkan ada nama, alamat dan serta nomor telepon wartawan perwakilan kantor berita asing.

Pada artikel pendidikan, diuraikan mengenai jumlah sekolah yang ada di Jakarta saat itu. Sekolah rakyat (baik negeri atau swasta-disebut partikelur dalam buku ini) jumlahnya bertambah dengan signifikan, naik nyaris  3 kali lipat sejak zaman  penjajahan Belanda.

Disebutkan juga mengenai minat yang tinggi untuk memasuki perguruan tinggi. Hal ini membuat bermunculan berbagai perguruan tinggi dan akademi swasta yang diakui oleh pemerintah.  Demikian juga kementrian yang mengadakan akademi, jumlahnya lumayan banyak.

Sedangkan pada bagian Sedjarah Singkat, pembaca akan diingatkan  mengenai asal mula kota Jakarta. Dimulai dari nama Sunda Kelapa aebagai pelabuhan Kerajaan Padjajaran, Djajakarta,  kedatangan Jan Pieterzoon Coen,  diadakannya trem asap pada tahun 1818, pembentukan Sekolah Tinggi Kehakiman tahun 1924, Stovia pada tahun 1927, hingga  pembacaan proklamasi tahun 1945.

Dimulai dengan tiga  iklan satu  penuh, lalu gambar pohon kelapa di pinggir pantai, pembaca akan diajak menyelusuri Jakarta dalam arti yang berbeda dengan kondisi saat ini. Bagi mereka yang lahir sesudah tahun 1957, ini bisa menjadi informasi yang berguna. 

Bahkan jika kita perhatikan iklan yang ada secara seksama, kita bisa mendapat gambaran mengenai kondisi sosial pada saat itu. Apa usaha yang sedang berjalan, kebutuhan masyarakat, hingga  bagaimana iklan yang menarik saat itu.


Harap dimaklumi, karena buku ini dicetak dengan dana dari pemasangan iklan, maka sangatlah wajar jika lebih banyak iklan dari pada artikel yang ada dalam buku ini. 

Oh ya, saya juga menemukan beberapa gambar sebagai pemantas. Misalnya gambar Kampus FKUI di Salemba, Danau Lembang, kebun nanas dan jeruk di Pasar Minggu, serba beberapa foto menarik lagi.

Melihat tulisan Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya pada kover, saya merasa agak heran kenapa buku ini bisa berada dalam timbunan saya. Sebenarnya berada dalam timbunan hasil IRF yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia beberapa tahun lalu. 

Dugaan saya, buku ini dianggap majalah lalu tak ada yang ingin mengadopsinya. Akhirnya buku ini terdampar ditimbunan buku yang saya bawa pulang. Pada akhir kegiatan, buku-buku yang tersisa di meja bookswap memang disumbangkan pada beberapa taman bacaan. Entah  bagaimana ini bisa berada dalam timbunan saya.

Anggap sajalah memang jodohnya  buku ini ada pada saya.












Minggu, 19 April 2020

2020 #18: Kisah Perjalanan Sebilah Keris Sakti

Judul asli: Sang Keris
Penulis: Panji Sukma
ISBN: 9786020638577
Halaman:110
Cetakan: Pertama-Februari 2020
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 65.000
Rating: 3.25 1/5

Sensasi baru kembali kau rasakan. Sepintas kau teringat dengan sensasi itu, sebuah sensasi saat kau digunakan tuanmu untuk menusuk seorang raja yang dianggap sebagai keturunan Wisnu, darah raja itu mengalir melewati dirimu dan sejak saat itu kau tak pernah lagi menikmati merasakan sensasinya. 
~Sang Keris~

Suatu saat,  tanpa sengaja saya melihat foto tentang peluncuran buku yang merupakan Pemenang Kedua Sayembara Lomba Dewan Kesenian Jakarta 2019  di laman FB Mas Teguh Afandi.  Penasaran juga dengan judul yang cukup unik.

Sejauh ini,  saya percaya akan rekomendasi buku yang  beliau berikan. Mungkin saja, rekomendasi dilakukan terkait tugasnya sebagai editor. Namun ketika secara pribadi saya tanyakan bagaimana tanggapannya tentang kisah ini, dan mendapatkan jawaban yang makin membuat penasaran, segera buku ini menambah panjang daftar belanja.

Keteledoran saya yang membuat buku ini tertumpuk sehingga terlewat untuk segera dibaca. Tapi begitulah jodoh saya dengan buku ini, ketika mencari bacaan ringan sebelum tidur, buku ini menampakkan dirinya ^_^. 

Dengan ilustrasi wajah  yang nyaris memenuhi seluruh kover, dan dominasi warna bernuansa coklat, buku ini akan mampu  membuat penikmat buku setidaknya melirik tumpukan buku ini saat dipajang di toko  buku. 

Jika diperhatikan dengan seksama, ilustrasi wajah yang terpasang menjadi pertanda setting kisah dalam buku ini. Sejak zaman kerajaan  Jawa kuno hingga saat ini. Oh ya, ilustrasi keris justru tersembunyi pada bagian dalam. Begitu pembaca membuka plastik pembungkus buku, akan terasa ada bagian kover yang  sengaja ditekuk. Di sanalah ilustrasi tokoh kita tercetak dengan menawan. 

Sebagai sosok yang dibesarkan dalam budaya Jawa, saya tentunya mengenal keris. Dalam artian saya tahu  wujud keris, bagaimana cara merawat, serta makna keris dalam kehidupan. Walau tak cukup mendalam, tapi cukup untuk menghargai proses pembuatan sebuah keris dan memahamai maknanya dalam kehidupan.

Kata "Keris" pada judul jugalah yang menjadi  pemikat  utama untuk membaca buku ini.  Maafkan minimnya pengetahuan saya seputar bacaan yang pernah diterbitkan, namun saya belum pernah menemukan dan membaca  kisah yang menjadikan sebilah keris sebagai tokoh utama (jika ada yang tahu tolong kabari saya ya). Tentunya buku ini menawarkan sesuatu yang beda dari versi saya. 

Setelah membaca,  saya jadi tahu, ini bukan  kumpulan cerpen dengan benang merah keris. Tapi merupakan sebuah buku yang menjadikan keris Kanjeng Kyai Karonsih  sebagai tokoh utama  dengan rentang waktu peristiwa dari zaman Kerajaan Jawa Kuno, Majapahit hingga Indonesia pada abad 21. 

Dengan halaman yang hanya seratusan, banyak hal  yang menjadi serba tanggung bagi pembaca pencinta detail seperti saya. Tiap bab menyajikan kisah yang berbeda dengan kisah yang lain, sehingga tiap kisah  menurut saya bisa dikembangkan menjadi kisah yang lebih menarik lagi. 

Ketika saya membaca pertanggungjawaban juri pada blurd,  "... beberapa dapat berdiri sebagai cerita  tersendiri...." ternyata apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini serupa dengan penilaian dewan juri. Siapa tahu, kelak  penulis mengembangkan beberapa bab menjadi kisah yang lebih  menarik lagi. Apa saja bisa terjadi bukan?

Konsekuensinya tentu akan menambah jumlah halaman yang ada pada tiap bab, secara otomatis menambah keseluruhan jumlah halaman buku. Maka harga  jual tak akan menjadi seperti yang sekarang. Karena perubahan  ketebalan buku otomatis  akan berpengaruh pada harga jual. 

Dari Buku Tosan Aji: Pesona Jejak Prestasi Budaya
oleh Prasida Wibawa
Sementara itu, penerbit juga harus memperhatikan tingkat kemampuan daya beli masyarakat, pada lagi dalam situasi seperti sekarang. Suatu hal yang mungkin akan menjadi pertimbangan penerbit jika ingin melakukan cetak ulang dengan revisi. Kembali, siapa tahu? Optimis sajalah kita ^_^.

Keris Kanjeng Kyai Karonsih diceritakan merupakan keris yang memilki kesaktian luar biasa. Kadang ia sukarela membantu sang pemilik, dilain waktu ada rasa enggan untuk melakukan sesuatu. Keberadaanya berpindah-pindah dari seorang empu, preman pasar, raja, penari, hingga terpasang di sebuah museum. Bahkan ada saatnya ia tak berwujud keris. 

Para tokoh yang lumayan banyak, mengikuti kisah yang beragam ada 15 kisah membuat para tokoh mendapat "jatah" tampil yang sangat singkat. Sepertinya saya  baru mulai akrab  beberapa tokoh, cerita sudah berganti dengan tokoh baru lagi.  

Saya coba mengingat beberapa nama tokoh, yang muncul adalah nama Lembu Peteng, Arya Matah, Ki Ageng Mangir, Ki Narto Sabdo, Suji, Raden Patah serta Perempuan Perancis. Tak banyak ternyata.

Beberapa nama mengusik ikatan saya akan cerita yang pernah saya dengar atau baca. Lembu Peteng misalnya. Kisahnya lumayan sering dibagikan dalam berbagai bentuk. Kisah romantis antara Ki Ageng Mangir dengan putri musuhnya juga kerap disampaikan secara lisan, kebenarannya memang masih harus dikaji ulang.  Atau sosok dalang legendaris Ki Narto Sabdo yang selalu sukses memukau penonton  ketika beraksi.

Jika telaah lebih lanjut, Keris Kanjeng Kyai Karonsih mewakili watak manusia dalam kehidupan. Ketika ia merasa besar kepala dan tersanjung ketika berhasil membantu seseorang menjadi raja, mirip dengan sifat seseorang yang menjadi sombong ketika meraih kedudukan tertentu.

Lain waktu, ketika ia dianggap sudah berjasa dan disimpan dalam tempat khusus di ruang senjata, bahkan sang raja sudah mulai jarang menemuinya, ada rasa tercampakkan. Sangat mirip dengan banyak orang yang mendadak merasa kehilangan wibawa ketika sudah memasuki masa purna bakti. Perlakuan orang dirasakannya berbeda ketika ia masih menjabat.

Selain mendapat hiburan dengan membaca kisah ini,  penulis memberikan banyak informasi mengenai kebudayaan  Jawa bagi pembaca. Bentuknya bisa dalam penyebutan sesuatu hal dalam sebuah kalimat lalu dijelaskan dalam catatan kaki, atau menjadikannya sebagai bagian dari setting kisah. 

Penyebutan empat unsur besi alam yang ada dalam keris pada halaman 6 misalnya, merupakan contoh pemberikan informasi budaya Jawa yang langsung 
melekat pada kisah. Demikian juga  pada halaman 38.  Ketika  Empu Jati Kusuma  sedang meminta Dewi Sasmitarasa  menjelaskan  mengenai bagian keris.

Untuk pengenalan yang diberikan sebagai catatan kaki, biasanya berupa ungkapan atau istilah yang sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, bisa dilihat pada halaman 1, yaitu berupa catatan kaki untuk kata wilah-besi sumber suara pada gamelan, serta demung-salah satu nama inatrumen gamelan. 

Bagi pembaca yang kurang memahami bahasa Jawa, catatan kaki  yang ada memang sangat membantu untuk memahami kisah. Meski beberapa kata terkait keris sebenarnya sudah menjadi kata umum yang bisa dilihat di KBBI. 

Namun dengan jumlah yang lumayan banyak, kesannya terlalu berlebihan saja. Saya melihat ada 90 catatan kaki. Luar biasa bukan! Dilain sisi, hal ini 
menciptakan suasana Jawa yang kental dalam kisah. 

Membaca buku ini membuat saya jadi teringat akan buku Sejarah Keris  dari Arief Staifuddin Huda. Disebutkan pada halaman 45, bahwa  kata keris tertua tercatat pada prasasti  Tukmas yang ditemukan di Karangtengah yang berangka tahun 650 M.  Sementara itu, masih dari buku yang sama, pada halaman 29 terdapat gambar  parung Bhairawa  Sumatra Barat, dimana pisau yang digenggam menurut  Karsten Sejr Jensen adalah  cikal bakal keris.
Dari Buku Petunjuk Praktis Merawat Keris
oleh Ki Dwidjosaputroption

Membaca nama beberapa empu, saya teringat akan semacam daftar nama empu  dan hasilnya dari buku Tosan Aji: Pesona Jejak Prestasi Budaya karangan Prasida Wibawa di halaman 58-59. Lumayan banyak juga ternyata. 

Meski keris sudah cukup dikenal dalam masyarakt, namun tak semua orang tahu mengenai bagaimana cara yang benar membuka dan menyarungkan keris. Apalagi membawanya. Membuat saya membuka buku Petunjuk Praktis Merawat Keris dari Ki Dwidjosaputra. Ternyata ada langkah tertentu yang harus dilakukan. 

Secara singkat, menurut saya ini merupakan sebuah novel yang menawarkan alur non-liner bagi pembaca yang mencari bacaan unik. Apakah Anda berani menikmati sebuah kisah yang tak biasa?

Sumber gambar:
1. Tosan Aji: Pesona Jejak Prestasi Budaya oleh Prasida Wibawa
2. Petunjuk Praktis Merawat Keris oleh Ki Dwidjosaputro