Rabu, 21 Desember 2016

2016 #133-136: Seri Folklor Anak

Mencari buku untuk anak menurut saya gampang-gampang susah. Selain urusan bahan yang diupayakan bisa tahan agak lama (mempertimbangkan kelakuan anak-anak yang masih kurang paham bagaimana merawat buku), ukuran, harga (saya sempat terkejut melihat harga sebuah buku anak), urusan isi pastilah menjadi hal yang dipertimbangkan dengan sangat matang.

Salah satu yang bisa menjadi pilihan adalah Seri Folklor.  Secara garis besar, folklor merupakan legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Melalu folklor juga dipergunakan sebagai sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. 

Perkenalan pertama saya dengan seri ini melalui kisah Legenda Pohon Beringin. Dalam pengantar cerita disebutkan bahwa kisah tersebut dalam Motif-Indeks Stith Thompson bernomor A2681.10 dengan judul Origin of Bayan Tree. Ilustrasi dengan warna hijau serta tulisan  seri folklor anak bilingual langsung menggoda mata saya. Dengan iming-iming potongan harga, segeralah buku ini masuk dalam keranjang belanja.

Buku seri ini cocok dijadikan souvenir unik bagi mereka yang bertandang ke luar negeri atau sebagai oleh-oleh. Dengan penyajian dwi bahasa,  ini merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya kita ke luar negeri. Bagian yang mempergunakan bahasa Indonesia bisa dibaca oleh anak-anak Indonesia (tentunya orang dewasa juga boleh ikut membaca), sementara yang berbahasa Inggris, tentunya akan dibaca oleh mereka yang memahami bahasa Inggris. 

Belakangan, saya menemukan tanpa sengaja judul-judul yang lain. Namun semuanya tidak berada dalam koleksi saya karena merupakan titipan sesama penggila buku bagi anak mereka. Senang rasanya bisa ikut membantu orang tua menularkan semangat membaca, apala lagi kisahnya seputar. Belum lama, saya menemukan kembali beberapa dari seri ini, baiklah kali ini saya menyediakan tempat di rak buku saya. 

Dalam buku ini disebutkan nama pengarang. Pengarang yang dimaksud kali ini adalah yang mengisahkan dalam bentuk tulisan, bisa dikatakan sebagai orang yang menceritakan ulang kisah ini Penerbitnya adalah Grasindo.


Judul: Legenda Pohon Beringin
Pengarang: Murti Bunanta
Ilustrasi: Hardiyono
Konsultan Bahasa Inggris: Katherine Paterson
Penerjemah: Ida Bagus Putra Yadnya
Desainer buku:LeBoYe
ISBN: 97890817869
Halaman:32

Kisah ini malah mengingatkan saya pada cerita Rama dan Sinta. Raja bijaksana yang memiliki banyak istri, dimana salah seorang istrinya ternyata memiliki rasa cemburu. Ia ingin anaknya yang menjadi raja, padahal sang anak bukan putra mahkota. Berbagau cara dilakukan hingga akhirnya sang raja menurut. Belum puas, ia bahkan melakukan tindakan keji yang berbuntut pada perginya sang anak dari istana. 

Pesan moral juga sepertinya lebih cocok untuk para orang tua agar lebih bersikap adil dan tidak memiliki perasaan pilih kasih. Juga untuk lebih bisa bersikap bijak dalam bersikap.

Judul: Hua Lo Puu
Pengarang: Murti Bunanta
Ilustrasi: Hardiyono
Konsultan Bahasa Inggris: Margaret Read MacDonald
Desainer buku:LeBoYe
ISBN: 9789790813496
Halaman: 32

Merupakan kisah dari Maluku Utara. Masyarakat di sana tidak ada yang mengusik burung karena kisah ini. Mereka mengingat kebajikan burung yang menjaga seorang anak kecil sementara orang tuanya sibuk bekerja hingga agak sulit meluangkan waktu untuk menengok anaknya yang menangis. Si Ibu memang harus bekerja keras mengurus ladang, namun tak ada salahnya meluangkan sedikit waktu untuk memperhatikan bayi

Belakangan karena kasihan, burung-burung meletakkan sehelai bulunya hingga membuat anak itu tertidur. Tak lama sang bayi berubah menjadi burung. Diharapkan agar  para orang tua lebih memperhatikan anaknya apa pun alasannya. 

Judul: Si Kelingking
Pengarang: Murti Bunanta
Konsultan Bahasa Inggris: Katherine Paterson
Penerjemah: Murti Bunanta
ISBN: 9789790817357

Kelingking merupakan kisah dari Jambi. 
Sepasang orang tua yang sudah mendambakan anak, berbgaia cara ditempuh hingga memperoleh anak walau hanya sebesar kelingking. Walau kecil, tapi ia mampu melawan raksaksa yang mengganggu desa dan negaranya. 

Hatinya terpaut pada sang putri raja hingga beberapa kali orang tuanya mengirim utusan untuk meminang. Beberapa kali pula lamaran mereka ditolak hingga akhirnya sang putri sendiri yang memutuskan untuk menerima sebagai ucapan terima aksih karena berhasil mengalahkan raksaksa pengacau. Sang raja yang tidak terima, tetap berupaya menggagalkan pernikahan tersebut.

Akhir kisah sudah bisa ditebak, Si Kelingking dan Putri hidup bahagia selamanya. Pesan moral kisah ini adalah agar kita tidak memandang rendah orang hanya karena kondisi fisiknya saja.  Ingat juga untuk tidak memberi janji jika tak sanggup menepati. 

Judul: Ni Terong Kuning
Pengarang: Putu Oka Sukanta
Ilustrasi: I Ketut Nama
Editor Penyelia: Murti Bunanta
Konsultan Bahasa Inggris: Katherine PFaterson
Penerjemah: Ida Bagus Putra Yadnya
ISBN:9789790813465
Halaman: 40

Merupakan kisah dari Buleleng di Bali Utara. Menurut informasi yang tertera, dalam daftar Motif-Indeks Stith Thompson dongeng ini bernomor S22.4, S351.1 dan R 168

Seorang ayah yang sangat menyukai sambung ayam sehingga memiliki begitu banyak ayam. Sang istri yang kebagian tugas mengurus ayam-ayam tersebut. Suatu ketika ia hendak pergi jauh. sebelum berangkat ia  berpesan agar jika sang istri melahirkan anak laki-laki maka anak tersebut harus dirawat dengan baik. Namun jika anak perempuan maka harus diberikan sebagai makanan ayam-ayam aduannya.

Sang ibu yang sangat menyanyangi bayi perempuannya berusaha untuk menyelamatkan sang bayi dengan menitipkan pada ibunya. Sayangnya, sang suami yang mengetahui perbuatannya segera menyuruhnya membawa kembali sang anak untuk dibunuh dan dijadikan makanan ayam. Untunglah berkat bantuan para bidadari ia berhasil selamat. 

Kisahnya menarik, tapi saya merasa  kisah seperti ini kurang cocok untuk anak-anak. Seorang anak akan berpendapat bahwa mungkin saja seorang ayah bersikap kejam terhadap anak perempuannya. Sebaiknya kisah yang disajikan justru untuk memupuk rasa kasing sayang diantara keluarga.

Terlepas dari isi kisah,  serial ini menawarkan ilustrasi yang sangat indah. Memang indah bagi saya belum tentu indah bagi anak-anak, namun beberapa anak sesama penggila buku juga menyukai seri ini. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ilustrasi buku ini memang menawan. 

Bagi anak-anak yang belum bisa membaca, para orang tua bisa mengenalkan dengan menceritakan versi singkat mereka dengan mempergunakan gambar yang mempersona. Diharapkan sang anak akan mulai tertarik mendengarkan selanjutnya terpicu untuk bisa membaca sendiri kisah yang ada.

Saya jadi bisa memahami kenapa harga seri ini lumayan mahal, jika saya bandingkan dengan buku-buku yang saya beli. Tapi menurut saya, manfaat yang diterima dari membaca buku seperti ini sangat banyak. Mengenal dan melestarikan budaya bangsa, sambil belajar bahasa Inggris. 

Semoga kelak, seri ini bisa dicetak ulang ^_^ Tapi harus ada bimbingan orang tua saat membacanya.
-------

Stith Thompson (7 Maret 1885 – 13 Januari 1976) merupakan sosok  sejarawan folklor Amerika Serikat. Dia terkenal karena kontribusinya dalam sistem klaisifikasi Aarne-Thompson.  Sistem klasifikasi tersebut adalah indeks yang dipergunakan untuk mengklasifikasi cerita-cerita rakyat. Lebih lanjut bisa dilihat pada link berikut. Atau ke link ini.

2016 #132: Buku dan Kelamin Dalam Pertaruhan

Judul : Perpustakaan Kelamin, Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti

ISBN : 978-602-14549-3-0 
Halaman: 229
Cetakan: Pertama-Mei 2016
Penerbit : Semesta
Rating: 4/5

Edan
Edan
Edan

Penulis yang sering mempergunakan ungkapan edan, dan pembaca iseng yang menghitung berapa jumlah kata edan dalam buku ini. Sampai hitungan kesekian saya berhenti ^_^

Kisahnya mengenai seorang ibu yang membesarkan anak semata wayang dengan cara yang unik. Seorang diri, sang ibu memicu rasa penasaran anak pada sebuah ruangan penuh dengan buku. Setelah mencintai buku, selanjutnya bersama-sama mendiskusikan isi sebuah buku. Bisa dipastikan seluruh hidupnya diperuntukan untuk menikmati buku. Jangan tanya berapa jumlah uang yang ia habiskan. Sekian tahun, menyisihkan uang panen tentunya menghasilkan jumlah buku yang lumayan.


Sang ibu, Ambu Harian, juga tidak mengirim anaknya, Hariang ke sekolah. Pelajaran diberikan melalui buku-buku yang ada dalam koleksinya. Hal yang sangat luar biasa bagi saya, orang tua yang tidak mengirim anaknya sekolah di zaman ini. Meski demikian, pengetahuan Hariang cukup mumpuni. Tinggal serumah dengan ibu yang sangat paham mengenai banyak hal dan dikelilingi buku yang melimpah membuat Hariang menjadi sosok yang unik. 

Meski kagum pada sosok Hariang, saya nyaris lupa ia juga manusia biasa yang memiliki kekurangan. Hingga rasa kagum tersebut mendadak berkurang membaca bagian yang menyebutkan mengenai Hariang dan Kekasihnya. Penulis sepertinya sengaja menciptakan sosok Hariang sebagai sosok yang seimbang, baik namun memiliki kekurangan yang manusiawi.

Membaca buku ini, tidaklah mudah (bagi saya). Tiap lembarnya memberikan informasi yang lumayan padat. Kepala saya yang agak kurang pandai butuh waktu untuk mencerna informasi yang saya peroleh. Perlahan tapi pasti, akhirnya buku ini selesai juga. Rasanya seperti sedang mempersiapkan diri untuk menjalani ujian sertifikasi pengadaan.

Para penggila buku akan sangat dimanjakan dengan berbagai informasi mengenai buku. Dari asal mula buku, buku yang mengubah hidup banyak orang, ditemukannya kertas yang membuat buku menjadi lebih ramah bagi pembacanya. Tentunya juga terdapat judul buku-buku bagus yang layak dibaca namun sepertinya kurang publikasi.

Buku karangan Fernando Baez, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa diulas khusus dalam buku ini. Penulis menjadikannya sebagai bahan diskusi PAKU (Pasukan Anti Kuliah), komunitas pencinta buku yang diikuti Hariang.  Lumayan panjang diuraikan diskusi tesebut. Seandainya saya belum membaca buku itu, mungkin saya akan mengurungkan niat untuk membeli dan membacanya. Untuk apa? Cukup membaca bagian yang memuat tentang diskusi buku tersebut, intinya nyaris sama dengan yang saya peroleh ketika membaca buku itu. Terdapat juga uraian mengenai nama-nama penulis papan atas yang karyanya wajib dibaca. Buku yang sangat memanjakan penulis dan karyanya.

Bagian yang mengisahkan kebiasaan Hariang buang hajat sambil membaca buku di halaman 26 membuat saya meringis. Hayuh, mengaku, bukankan banyak diantara penggila buku yang begitu hanyut dalam kisah sehingga enggan melepaskan buku yang ia baca. Hingga akfivitas buang hajat sekali pun dilakukan bersama buku yang sedang dibaca. 

Jadi ingat kegiatan Kepergok Membaca beberapa waktu lalu. Salah satu foto yang paling menarik memuat seorang pria yang terkejut ketika pintu kamar mandi dibuka dan ia dipotret. Kondisinya saat itu ia sedang duduk di kloset dan memegang buku, kurang lebih begitu. Ekspresi kagetnya sungguh menarik he he he. Untung tidak ada bagian pribadi yang terfoto, bisa kena pasal pornografi nanti.

Demikian juga dengan keengganan sang ibu untuk memiliki pesawat televisi. Sudah dua tahun sang ibu menjualnya. "Kalau ibu melihat acara-acara televisi, bangsa Indonesia semakin terlihat tidak bermutu." Setuju bu! Mari membaca saja. Walau belakangan ada beberapa acara yang mengandung unsur pendidikan yang tinggi, jumlahnya masih teramat sangat sedikit.


Daftar Pelarangan Buku di Indonesia yang ada di halaman 196-205 membuat saya merasa minder. Ternyata saya tidak cukup mengenal dunia perbukuan di tanah air. Beberapa buku pernah saya baca judul dan berita tentang pelarangannya. Namun masih banyak yang juga belum pernah saya dengar.

Sekedar iseng, saya meluncur ke ruangan UIANA, sebutan bagi tempat penyimpanan seluruh karya civitas UI. Mulai mencari pada kataloq, menelusuri rak dan menemukan skripsi yang disebutkan dalam buku ini. Kondisi seperti kena angin topan kata salah satu sahabat. Maklum usia sudah cukup lumayan.  Tidak masalah kondisinya, terpenting isinya.

Dengan membaca judul saja, seseorang akan tergelitik untuk (minimal) bertanya-tanya. Apa hubungan kelamin dengan buku? Apakah buku ini memuat berbagai hal seputar kelamin dalam sebuah perpustakaan? Atau perpustakaan yang isi tak lain adalah kelamin? Banyak lainnya. Penulis mampu membuat siapa saja yang melihat judul buku ini tertegun sesaat.    

Sayangnya, akhir kisah ini membuat penilaian saya yang lumayan tinggi menjulang, turun tiada tara (halah sok lebay kali). Saya sempat menduga ada orang yang mengambil kesempatan dari kesulitan orang lain.  Bahkan bukan tidak mungkin ada orang yang sengaja menciptakan suasana yang menyulitkan orang lain. Ketika dugaan saya terbukti benar, langsung merasa kesal. Kenapa kisah yang seru harus diakhir ala film begini. 

Oh, apa hubungannya kelamin dengan buku dalam kisah ini? Sungguh terkait! Justru itu inti dari kisah ini. Gara-gara kelamin, sebuah perpustakaan hancur, dan untuk perpustakaan juga sebuah kelamin harus dikorbankan! Lebih lengkap silahkan baca saja langsung ya ^_^

Membaca uraian mengenai Penggandrungan Buku di halaman 27-28, maka saya bisa dikategorikan dalam:
1. Bibliofil = orang yang membeli buku dan membacanya. Terbukti dengan jumlah buku yang saya baca dan review.
2. Biblionarsis = orang yang mengoleksi buku, penuh dengan ensiklopedia lengkap, dan menempatkannya di rak khusus. Tengoklah koleksi Little Women dan Alice in Wonderland saya ^_^
Untungnya belum sampai menjadi Bibliokleptomania, pencuri buku!

Jika kalian, masuk golongan yang mana?