Minggu, 11 September 2022

2022 #23: Bird Box: Upaya Menyelamatkan Diri Dengan Bantuan Burung-Burung

Penulis: Josh Malerman
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Yuli Pritania
ISBN: 9786023859634
Hal: 400
Cetakan: Pertama-September 2019
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 89.000
Rating: 4/5

Mengetahui batas pikiran manusia sama dengan mengetahui kekuatan penuh makhluk-makhluk ini. Kalau menyangkut pemahaman, maka akibat dari perjumpaan apa pun dengan makhluk-makhluk ini pasti sangat berbeda di antara dua orang. Batas pikiranku berbeda dengan batas pikiranmu

-Bird Box, hal 280-

Sangat paham bahwa buku dan film memiliki perbedaan dalam banyak aspek. Maka, sebuah buku yang diangkat menjadi film, atau sebuah film yang dijadikan buku, pasti memiliki perbedaan. Kenapa saya tetap ingin menikmati keduanya? Karena dengan menikmati kedua versi, saya bisa menikmati kisah dari dua sisi, sisi cetak dan sisi audiovisual.

Saya juga jadi bisa mengetahui bagaimana persepsi sesorang ketika mengubah sederetan kalimat panjang menjadi adegan dalam film. Atau, bagaimana mendeskripsikan suatu adegan menjadi sebuah kalimat efektif dan mudah dipahami

Buku ini, eh saya ralat, saya coba menggabungkan vesi cetak dan film. Dikisahkan mengenai seorang wanita yang membawa sepasang anak kecil mengarungi sungai selama sekian hari guna menuju sebuah tempat yang aman. 

Telah terjadi kekacauan sekitar 4-5 tahun lalu, dimana mendadak banyak orang melakukan bunuh diri setelah melihat "sesuatu". Bahkan ada yang juga membunuh orang yang berada di dekatnya. Hingga akhir  kisah, tak ada informasi lebih lanjut mengenai apa dan dari mana "sesuatu" itu berasal.

Dalam buku, hanya disebutkan burung-burung akan bertingkah aneh jika ada "sesuatu" berada di sekitar mereka. Sementara dalam film, ditambahkan infromasi "sesuatu' yang tak terlihat keberadaannya diikuti oleh angin. Dan tentunya juga burung-burung yang ramai menciap.

https://www.goodreads.com/
book/show/60421455

Rumah hanyalah tempat yang aman. Mereka yang berlindung dalam rumah menutup semua jendela atau  apa saja yang membuat seseorang bisa memandang ke luar. Untuk bertahan hidup, mereka harus memakai penutup mata ketika berada di luar rumah, bahkan ketika sedang mencari persediaan makanan.

Meski berada dalam rumah, bukan berarti mereka 100% aman dari bahaya. Bisa saja "sesuatu" berada di depan pintu rumah dan siap menyusup masuk ketika ada yang baru kembali dari mencari bahan makanan.

Mereka yang selamat belakangan tidak hanya berurusan dengan "sesuatu" tapi dengan orang-orang yang sudah dipengaruhi oleh "sesuatu" namun bersikap layaknya orang umum. "sesuatu" mempengaruhi mereka untuk membuat semakin banyak orang membuka tutup mata, atau memandang ke luar rumah, kemudian akhirnya bunuh diri

Demi keamanan, beberapa orang yang selamat mempergunakan burung-burung sebagai alarm keberadaan "sesuatu". Jika saya tak salah ingat, dalam film burung-burung  yang dipelihara oleh Malorie-tokoh utama, diperoleh dari swalayan yang mereka jarah. Siapa yang mengira mereka membutuhkan bantuan burung-hewan berukuran kecil untuk bertahan hidup.

Meski agak aneh awalnya melihat tak ada yang protes ketika ia memilih membawa sangkar burung yang lumayan besar dibandingkan sekantong makanan misalnya. Kenapa tidak dibawa tanpa sangkar? Atau diganti sangkar yang lebih kecil. Pastinya bisa ditemukan di sekitar area swalayan.

Sementara dalam buku ini, pada halaman 173-174 dan 205, disebutkan bahwa burung-burung tersebut ditemukan  dalam kotak di garasi seorang pemburu. Mereka tak tahu jenis apa dan bagaimana burung-burung itu bisa bertahan hidup. Mungkin saja pemiliknya memberikan makan banyak.

Ketika mengarungi sungai, dalam versi film  baru burung-burung dimasukkan dalam kotak supaya lebih mudah dibawa. Bagian ini membuat saya mengira jika judul kisah diambil dari bagian yang mengisahkan tentang keberadaan burung-burung dalam kotak.
https://www.goodreads.com
/book/show/42110777-bird-box

Akhir kisah buku dan film sama-sama membahagiakan (sudah bisa diduga).  Baik Malorie, dan kedua anak kecil tersebut bisa mencapai tempat yang aman. Di sana mereka menemukan kenyataan yang mengejutkan! Tidak saja karena jumlah yang berada di sana terbilang banyak, namun juga bagaimana kondisi fisik mereka yang berhasil selamat! 

Oh ya, adegan orang yang mendadak bunuh diri dalam film, sempat membuat saya mengira ini menyerupai adegan dalam film atau buku The Cell karya Stephen King. Serupa tapi tak sama ternyata. Ada sesuatu, yang tak kasat mata yang mempengaruhi seseorang melalui pandangan. Sementara dalam Cell, pengaruh melalui jaringan telepon.

Namanya juga saya he he he. Bagaimana ketiga orang tersebut bertahan di sungai menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah mereka sama sekali tak pernah berhenti? Bagaimana urusan untuk buang hajat? Apakah tubuh mereka benar-benar mampu bertahan tanpa makan selama di sungai? 

Dalam buku saya temukan jawaban dari rasa penasaran saya. Misalnya pada halaman  239 ditulis,"Kakinya dibasahi kencing, air, darah, dan muntahan." Begitulah, salah satu manfaat menikmari versi film dan buku, saling melengkapi.

Kedua anak yang begitu patuh  sedikit meragukan bagi saya, karena umumnya anak-anak seusia itu pasti jarang bisa mengikuti perintah dengan baik dan benar dalam waktu yang lama. Andai dalam film dibuat keduanya sedikit melawan peraturan, tidak hanya dengan menyusul dan meninggalkan perahu. tapi sesuatu yang khas anak-anak. Seperti memaksa untuk makan sesuatu, atau minta sesuatu tentunya akan membuat kisah menjadi semakin seru ^_^.
https://www.goodreads.com/
book/show/44305641-bird-box

Tapi bisa saja pengalaman sekian tahun bersembunyi membuat keduanya menjadi sangat taat perintah. Apapun itu, bisa dikatakan keduanya menjadi kekuatan bagi si tokoh wanita untuk mampu bertahan menghadapi segala hal. Tentunya dengan bantuan burung-burung yang mereka pelihara.

Kembali, jadi teringat sebuah kisah.  Adegan bertahan hidup membuat saya teringat pada kisah The Revenant karangan Michael Punke masih dari penerbit yang sama. Bagaimana tokoh dalam kisah itu, Hugh Glass berupa bertahan hidup perlu diacungi jempol.

Baik Hugh Glass maupun Malorie, keduanya sama-sama berjuang keras untuk bertahan hidup, meski sumber kekuatan keduanya berbeda. Yang satu karena dendam, sementara yang lain untuk memberikan kehidupan lebih baik, terlepas dari marabahaya bagi kedua anak yang masih kecil. 

Bagian paling menyentuh bagi saya adalah ketika  wanita hamil yang selama ini tinggal bersama Malorie berhasil dibujuk untuk melihat keluar, ke jalanan, kemudian mulai terpengaruh untuk meloncat keluar dari lantai 2. Malorie dengan segala bujuk rayu berhasil membuat wanita itu menyerahkan bayinya sebelum melompat keluar. Memilukan!

Sebuah kisah yang menarik! Namun, jika diperhatikan dengan seksama, sebenarnya ide kisah yang diolah penulis adalah hal yang biasa, seputar bagaimana seseorang bertahan hidup. Kelebihan kisah ini adalah kemampuan penulis membangkitkan ketegangan pembaca sejak lembar pertama secara konsisten.

Apalagi kisahnya diceritakan dengan alur maju mundur. Film dibuka dengan adegan Malorie yang memberikan arahan keras pada sepasang anak kecil sebelum keluar rumah. Kemudian menuju pada adegan ketika Malorie sedang bercakap-cakap dengan adik perempuannya lalu pergi ke dokter bersama.
https://www.goodreads.com/
book/show/58987764-bird-box

Kekurangannya adalah detail kecil yang terlewat oleh penulis maupun pada film (pada film entah urusan sutradara atau penulis skenario?). Sebagai contoh, mobil yang dipakai untuk menjarah swalayan bisa dikatakan memiliki garasi yang tidak terlalu besar, kemana begitu banyak barang yang sudah mereka siapkan untuk dibawa? 

Kemudian, kenapa saat para tokoh turun dan mobil tidak terlihat mereka mengoptimalkan ruangan yang ada untuk membawa bahan makanan? Mereka melenggang turun seakan baru kembali dari belanja bulanan, bukan mencari persediaan makanan. Untuk yang tertarik menonton film, silakan simak dulu ulasannya di laman berikut.  

Bagaimana para tokoh bertahan hidup menujukkan bahwa kepandaian dan kebijaksanaan harus seiring dan sejalan. Waspada perlu, namun bukan berarti menjadi paranoid. Percaya sesama harus, tapi bukan berarti percaya membabi buta. Kerjasama menjadi perekat diantara mereka untuk bisa menghadapi segala rintangan.

Dalam situasi mendesak, manusia cenderung akan mengeluarkan segala potensi secara optimal. Sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka duga mampu dilakukan. Malorie, ternyata mampu mendayung selama sekian hari, ia mampu menjalani hari-hari dengan mempergunakan penutup mata yang menyebabkan penglihatannya menjad sangat terbatas.

Terlepas dari kekurangan yang ada (menurut versi saya lho), saya akan merekomendasikan kisah ini bagi mereka yang sedang butuh bacaan atau tontonan untuk memicu motivasi diri. Ayolah, Malorie dengan tutup mata saja bisa bertahan hidup, masak kita kalah! Tak ada yang tak mungkin selama kita yakin bisa dan mau berusaha.

Rasanya tak ingin meletakkan buku sebelum kisah berakhir. Novel Bird Box mendapat Bram Stoker Award Nominee for Best First Novel (2014), Shirley Jackson Award Nominee for Novel (2014), Goodreads Choice Award Nominee for Horror (2014), James Herbert Award Nominee (2015), This is Horror Award for Novel (2014).  Lumayan bukan?

Informasi pada laman mizanstore.com disebutkan bahwa penulis kisah ini adalah seorang anggota band The High yang beraliran rock.  Dalam Goodreads (di sini), disebutkan ada buku kedua dari kisah ini. Mari menunggu, apakah diterjemahkan juga oleh penerbit, atau kita terpaksa membaca versi bahasa Inggris, bagi yang mampu ^_^.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com/








Minggu, 14 Agustus 2022

2022 #22: Menikmati Dua Kisah Klasik

Seperti penggila buku lainnya, urusan beres-beres koleksi sepertinya tidak akan pernah selesai.  Kalau selesai juga hanya sesaat. Baru selesai membereskan sebuah lemari,  hasil sortiran buku dari lemari tadi juga perlu dirapikan. 

Apakah akan masuk ke lemari yang lain, atau akan masuk dalam kardus buku untuk hibah? Apakah perlu dibetulkan jika ada kerusakan, atau dibiarkan apa adanya saja dulu? Pekerjaan yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan dalam waktu cepat.

Belum lagi diselingi dengan memori yang muncul terkait sebuah buku. Membuat kegiatan memilah terhenti dialihkan dengan membolak-balikkan buku tersebut. Membaca sambil lalu beberapa halaman, mempertimbangkan apakah keputusan untuk mengeluarkan dari koleksi sudah tepat, atau  sebaiknya mengencarikan tempat di rak yang lain.

Hasil beres-beres yang lampau (maksudnya sangat lampau he he he) membuat saya menemukan dua buku klasik yang nyaris terlupakan. Seingat saya, semula ingin memasukkan datanya dalam Goodreads, namun karena ada kendala data buku yang kurang lengkap sehingga belum jadi saya kerjakan. Dan seperti biasa! Buku ini tertimbun saudara-saudaranya yang datang belakangan.

Buku dengan judul Kesombongan dan Prasangka karangan Jane Austen, bisa membuat penggila buku terpana sesaat. Memang ada karangan Jane Austen dengan judul itu? Saya pun berpikir seperti itu ketika pertama kali melihatnya di lapak buku bekas.

Namun ketika membaca nama tokoh dan beberapa paragraf awal, saya langsung yakin ini merupakan terjemahan dari Pride and Prejudice.  Mungkin saat itu sedang ada kebijakan mengalihkan bahasa semua judul, dugaan saya semata. 

Dalam 80 halaman, kisah yang  diceritakan kembali oleh Antonius Adiwiyoto, diterbitkan oleh P.T  Gramedia pada tahun 1976 dengan kode GM 76.086, buku ini merupakan bagian dari Seri Elang.  Sementara Seri Elang sendiri merupakan bagian dari Bacaan Remaja. Seri ini memuat aneka cerita khayal klasik. Dan tentunya juga disediakan ilustrasi yang memikat.

Kisah yang dipublikasikan pertama kali pada tahun  28 Januari 1813 ini menceritakan tentang kisah cinta  keluarga menengah Inggris di akhir abad ke-19. Antara  Elizabeth Bennet  dengan Fitzwilliam Darcy.  
Sumber: Buku  Kesombongan dan Prasangka
Keduanya bertemu tak sengaja pada sebuah pesta dansa. Mr, Darcy yang memiliki sifat tertutup dan menampilkan kesan sombong, tak sengaja melontarkan hinaan dan didengar oleh  Elizabeth. Bibit kebencian  dan aneka prasangka mulai muncul dalam hatinya. 

Meski sudah membaca beberapa versi, namun terbitan Gramedia kali ini tetap menarik untuk dibaca. Cara Antonius Adiwiyoto mengisahkan ulang bisa dikatakan cukup sukses. Melakukan pengurangan pada beberapa bagian cerita tanpa menghilangkan esensi kisah bukan hal yang mudah.

Selanjutnya, buku yang saya temukan adalah Julius Caesar karangan Shakespeare. Versi yang saya temukan terjemahan dari Asrul Sani, merupakan usaha penterjemahan sastra dunia yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1976. Bekerja sama dengan PT Dunia Pustaka Jaya, buku  setebal 130 halaman ini diterbitkan tahun 1979 dengan kode Seri: PJ 428 01 79. Suatu usaha yang patut diajungi jempol dan didukung.

Bentuknya bukan sebuah kisah namun semacam skenario drama perihal  konspirasi pembunuhan atas sosok Julius Caesar, sosok yang hidup pada abad pertama sebelum masehi. 

Meski demikian, pembaca tak akan mengalami kesukaran menkmatinya. Kembangkan imajinasi Anda, bayangkan saja sedang menonton sebuah pertunjukan. Apalagi  pada halaman awal, sudah diberikan informasi tentang siapa saja pelaku serta  peranannya dalam kisah ini. 

Sekedar tambahan pengetahuan bagi para pembaca buku ini, pada halaman kover belakang diberikan informasi tentang sosok  William Shakespeare. Mulai dari biodata seperti kelahiran, pendidikan, hingga status pernikahan. Dilanjutkan dengan informasi perihal karya-karya yang sudah dihasilkan.

Kedua buku tersebut sebenarnya bisa ditemukan dalam aneka versi terjemahan di tanah air, terutama sekali karena sudah masuk kategori bisa dicetak bebas. Bahkan jika kemampuan bahasa Inggris Anda lumayan, versi digital bisa ditemukan dengan mudah di internet secara gratis. Meski demikian, keduanya tetap akan berada lama rak buku ini saya karena keunikan judul serta asal muasal terbitnya.

Seru!
Semoga masih ada buku-buku unik seperti ini dalam timbunan yang belum sempat dibongkar.



2022 #21: Membaca 12 Kisah Horor

Judul Asli: Minyak Bulan
Penulis: Amala Kh dan kawan-kawan
ISBN: 9786235393001
Halaman: 158
Cetakan: Pertama- Mei 2022
Penerbit: AT Press Jabodetabek
Harga: Rp 73.000
Rating: 3.25/5
 
Seperti  yang  sering  saya  sampaikan, biasanya  ketika membaca kumpulan  kisah, saya akan membaca Daftar Isi   kemudian  memilih  mana  kisah yang  akan dibaca terlebih dahulu. Begitu  seterusnya hingga seluruh kisah selesai dibaca.

Demikian juga dengan buku ini. Prinsipnya saja, hanya karena tak ada nama pengarang pada Daftar Isi, maka saya membaca dengan mencari karya penulis yang saya kenal terlebih dahulu. Kebetulan ada  2 orang, Falesha Libertalea Taufik alias Libby alias  Bob, dan Ruwi Meita. Kemudian dilanjutkan dengan membaca kisah lain yang judulnya terlihat menarik.

Kisah yang ditulis oleh Ruwi Meita, tak hanya sekedar kisah horor, tapi juga mengusung konten lokal tentang balian-tabib, dari pelosok Kapuas Hulu. Sang balian menciptakan Minyak Bulan melalui ritual panjang dan rumit dengan khasiat tak terbayangkan.

Mungkin hanya perasaan saya, sepertinya Ruwi tidak mengeluarkan semua kemampuannya dalam menulis cerita kali ini. Seakan ada yang ditahan. Mungkinkah untuk menghormati penulis-penulis lain yang baru mulai menulis kisah horor? Apapun itu, tentunya merupakan suatu kebanggaan bisa berada satu buku dengan penulis horor sekaliber Ruwi Meita. 

Memilih karyanya sebagai judul buku ini merupakan langkah cerdas yang layak diacungi jempol. Pertama untuk bersikap adil pada para penulis yang sedang dalam proses belajar,  tak ada karya yang diistimewakan dengan dijadikan judul. Kedua, hal ini juga berguna untuk promosi.

Bagaimana kedekatan Bob dengan Mama sudah diketahui khalayak luas.  Mereka bagai dua sahabat baik, besti-istilah zaman sekarang. Kedekatan itu terlihat dari kisah yang diangkat. Hanya saja,  aneka momen kedekatan yang sering ditampilkan dalam media sosial, berbeda jauh dalam kisah ini.

Dengan berbagai cara, Ma Bob digambarkan selalu ingin memberikan yang terbaik. Bunda Selalu Tahu yang Terbaik bagi anaknya. Hanya saja, cara yang ditempuh sungguh menakutkan! Jika ada yang mengatakan bahwa cinta seorang ibu luar biasa, maka  bacalah kisah ini. Cinta ibu yang luar bisa menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang lain.

Tak perlu menduga-duga, ini sekedar kisah yang dibuat seorang anak dengan mengambil sosok orang tua sebagai tokoh. Kalau sampai ada yang menduga betapa "kejam dan menakutkannya" sosok Ma Bob, semata karena kesuksesan Bob menuliskan kisah.


Secara keseluruhan, buku ini memuat  12 kisah horor. Tiap kisah yang ada unik dan tak ada yang sama. Vellichor  (Revalinna Ranting) berkisah tentang kengerian  yang dirasakan seorang gadis yatim-piatu. Ia begitu takut seluruh pengetahuan yang ia peroleh dari buku-buku tua menghilang jika meminum obat yang kerap disodorkan suster.

Rencana (Tiana Yuthi) memberikan pembelajaran bagi pembaca, bahwa perbuatan baik juga harus dilakukan dengan bijak, jika tidak ingin disalahgunakan, Karena kejahatan bisa muncul dari mana saja dan dilakukan oleh siapa saja.  

Kisah Empat Puluh (Wesiati Setyaningsih)  menunjukkan bahwa cinta bisa ditunjukkan  dengan cara yang tak biasa.  Termasuk  demi menutupi keburukan orang terkasih, ia dibuat meninggal saat masih dianggap mulia oleh orang banyak. Begitulah cinta, indah tapi juga rumit.

Dimanakan pun kita berada, sepantasnya menjaga sikap, apa lagi jika berada di Ambuwaha (Amala Kh). Karya ini mengingatkan pada karya Hilman (kalau tidak salah)  yang sempat dimuat bersambung di majalah Hai. Berkisah tentang  para pendaki gunung yang dihukum karena memetik Edelweiss dengan sembarangan. 

Anak yang Bertemu Makhluk Kegelapan (Aulia Hazuki) memberikan peringatan keras agar kita jangan sembarang menyimpan, membuang, dan membaca dokumen seseorang. Karena kita tak akan pernah tahu akibat menyeramkan apa yang akan timbul. 

Ada orang yang mampu melihat suatu peristiwa dalam  benaknya, serta bisa membaca Tarot. Kartu yang Terbuka (Indy Shinta)  kadang bisa sangat menakutkan apalagi  jika yang dilihat adalah nasib buruk salah satu sahabat sendiri. 

Mungkinkah diri kalian juga diikuti oleh makhluk yang membawa Sial (Kana)? Coba ditelaah, jangan-jangan kesialan yang sering menimpa karena dampak dari perjanjian  luhur dahulu. Bukan kalian yang membuat perjanjian tapi kalian yang terkena dampaknya. Segera cari tahu agar kalian segera terbebas dari kesialan yang selalu menimpa.

Korban dari Ikatan Setan: Darah Perawan (Yozaf F. Amrullah) meninggal kehabisan darah dengan luka gigitan di pergelangan tangan kanan. Apakah muncul salah satu ilmu sesat  di Jawa Tengah? Sang pelaku bisa berada di antara kita. Waspadalah selalu!

Alih-alih merasa ketakutan, saya tertawa terbahak-bahak membaca kisah Dasar Gembul (Upiek Widowati). Jadi ingat film horor ala tanah air yang membuat penonton tertawa, bukan ketakutan mencekam. Unsur rasa takut berbaur dengan rasa geli. Unik!

Siapa yang bisa menebak kedalam duka Hati Mamak (Bayu Febri)? Sejak Bapak meninggal dibunuh perampok demi mempertahankan uang sepuluh juta yang akan dibelikan HP, kehidupan keluarga mereka tidaklah sama. Mamak seakan menerima semua hal dengan diam pasrah, tapi siapa yang bisa tahu bagaimana sesungguhnya isi hati Mamak?. Mata dibayar mata! 

Dari Kata Pengantar saya ketahui bahwa  Kelas Menulis Book Camp gelaran Himpenan (Himpunan Penulis Indonesia) melakukan pendekatan dengan metode pengalaman.  Mereka yang tergabung diajak untuk menjelajahi wilayah-wilayah penulisan baru guna memicu kreatifitas.

Menurut saya pribadi, dengan tidak mengesampingkan aneka metode pengajaran literasi lainnya, cara dengan learning by doing-dalam  Kelas Menulis Book Camp disebut metode pengalaman, memberikan keuntungan tersendiri dalam proses  belajar menulis yang dilakukan.

Umumnya, seseorang akan ingat apa yang menjadi kesalahan-dalam hal ini bisa kita sebut sebagai "hal yang kurang tepat" ketika  belajar menulis cerita. Ia akan ingat mana langkah yang harus diambil agar karyanya menjadi lebih baik, dengan mengingat "kurang tepat" yang pernah ia lakukan.

Metode ini juga bisa mengurangi waktu belajar yang diperlukan untuk menulis. Mereka langsung terjun menulis dengan bekal penulisan dasar. Tiap orang akan mengembangkan pengetahuan dengan caranya masing-masing, karena pada dasarnya tiap  orang adalah unik, demikian juga dengan cara mereka belajar dan menyerap pelajaran.

Secara keseluruhan, buku ini lumayan "mencekam" bagi mereka yang memiliki nyali kecil, sangat tidak disarankan untuk membacanya. Apalagi pada malam hari. Efek tidak bisa tidur, bahkan merasa ketakutan mendalam, bukan tanggung jawab penulis dan penerbit.

Ilustrasi yang mulai muncul pada kisah  Ambuwaha  sebenarnya agak mengganggu,  karena ilustrasinya berbentuk sama,  sementara kalimat yang diangkat berbeda. Sehingga berkesan monoton. 

Belum lagi sosok manusia jerami yang dijadikan ilustrasi lebih mengingatkan pada tokoh yang ada di kisah Penyihir dari Oz.  Dalam kisah itu, Boneka Jerami menemani perjalanan Dorothy demi memenuhi keinginannya memiliki otak. Ia digambarkan sebagai sosok yang riang. Bukannya merasa takut, melihatnya malah ingin tertawa.  Oh ya coretan perihal The Wizard of Oz  karya Frank Baum bisa menuju ke sini

Mungkin karena keterbatasan ilustrasi maka sebuah ilustrasi dipakai beberapa kali. Padahal bisa diakali dengan membuat ilustrasi berupa petikan kalimat yang dianggap paling menarik dari kisah, kemudian didesain dengan aneka bentuk huruf yang menimbulkan kesan seram. Tak ada yang akan sama.

Pada blurd terlihat penerbit memberikan "bocoran" dua kisah yang ada. Kisah yang dibuat oleh Ruwi Meita bisa djadikan ajang promosi  seperti yang disebutkan di atas, jika disebutkan juga nama penulisnya. Tapi alasan mengapa hanya mengambil 1 kisah dari  seluruh kisah yang lain, menjadi pertanyaan tersendiri. 

Akan lebih baik jika memberikan penggalan seluruh kisah yang ada. Jika tidak memungkinkan, cukup karya Ruwi Meita sebagai daya jual ditambah, atau hanya memberikan informasi perihal tujuan dan isi buku ini. Kalimat, "Kedua belas cerita dalam kumpulan cerita pendek...."

Oh ya, saya hanya menyebutkan nama satu penulis, sisanya disebutkan "dkk" karena begitulah cara penulisan informasi buku yang dibuat lebih dari 3 orang. Bukan berarti nama tersebut paling berkontribusi, namun karena nama penulis disusun berdasarkan abjad.  Umumnya ditulis 3 nama, maafken saya yang sedang malas he he he.

Sekedar mengingatkan,  horor menurut KBBI adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat. Selanjutnya disebutkan, berasa takut atau khawatir (karena melihat sesuatu yg menakutkan atau mengalami keadaan yang membahayakan). Sementara takut sendiri memiliki arti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana; kondisi takwa; segan dan hormat; tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dsb).

Dalam laman geniusbeauty, disebutkan bahwa saat otak bereaksi terhadap kondisi menegangkan, ia akan menghasilkan energi tambahan yang mengaktifkan neurotransmiter (glutamat, dopamin dan serotonin). Sehingga tubuh berada dalam kondisi waspada untuk beberapa saat. 

Selain itu, sinyal ancaman yang melewati hypothalamus (bagian otak terkait sistem glandular di tubuh) akan menstimulasi kelenjar adrenal untuk memproduksi adrenalin, lalu menghasilkan opiates yang memiliki efek anestesi/ pembiusan. 

Saat reaksi phobic turun pada titik ini, akhir kisah dalam film memberikan pengalaman positif yang dapat diaplikasikan di kemudian hari. Kemudian ketika selesai proses 'horor' tersebut dan tubuh kembali lebih tenang, saaat itulah sistem imun menjadi lebih kuat untuk beberapa saat.

Sebuah buku yang layak dikoleksi.









Jumat, 05 Agustus 2022

2022 #20: Tangkapan

Penulis: Kenzaburō Ōe
Penerjemah: Titik Andarwati
Editor: Yudhi Herwibowo
ISBN: 978-623-7245-88-9
Halaman: 80
Cetakan: Pertama-2022
Penerbit: bukuKatta
Harga: Rp  44.000
Laman: http://bukukatta.blogspot.com/2022/02/tangkapan-kenzaburo-oe.html
Rating: 3.25/5

Diterjemahkan dari salah satu novela berjudul  Prize Stock yang ada di buku Teach Us to Outgrow Our Madness (1977) merupakan naskah pemenang Akutagawa Prize 1958.

Menemukan kalimat tersebut pada bagian awal buku, serta keterangan bahwa penulis merupakan peraih Nobel Kesusastraan 1994, muncul rasa penasaran. Jika ini merupakan karya peraih nobel, kenapa jarang wara-wiri di beranda perbukuan?

Apakah isinya yang dianggap terlalu berat karena ditulis oleh pemenang nobel, sehingga banyak yang enggan membaca? Atau kurangnya publikasi sehingga jarang dikenal orang? Atau pendistribusian karya ini yang sangat terbatas? Banyak hal yang bisa membuat sebuah karya bagus tidak dikenal luas.

Dalam 80 halaman, pembaca diajak mengikuti petualang sepasang kakak-adik  yang tinggal di desa yang terletak di punggung gunung. Akses menuju kota sangatlah susah, apalagi ketika tanah longsor menghancurkan jembatan gantung, jalur tercepat menuju kota.

Sebuah pesawat musuh jatuh  terbakar di perbukitan pada suatu malam, menyisakan bagian ekor saja.  Seorang tentara musuh yang ada dalam pesawat ternyata selamat, hanya mengalami luka-luka. Ia berhasil menyelamatkan diri dengan terjun mempergunakan parasut. Tentara yang ditangkap, memakai jaket warna khaki dan celana, sepatu bot. Hal utama yang paling membuat warga desa berkerumun ingin melihat adalah karena warna kulitnya.

Yups! Warna kulitnya hitam dan tubuhnya yang besar menjadi mencolok dibandingkan seluruh penduduk desa. Meski ia sudah dipasangi rantai besi perangkap babi hutan di kedua pergelangan kakinya, tetap saja menimbulkan rasa takut bagi warga desa.
 
"Kurasakan kembali keterkejutan dan ketakutanku tadi malam ketika tentara kulit hitam itu dibawa ke desa. Apa yang sedang dilakukannya di ruang bawah tanah? Tentara hitam itu meninggalkan ruang bawah tanah,  membantai orang-orang, dan anjing-anjing di desa lalu membakar rumah-rumah." Kalimat yang ada di halaman 26 seperti cukup untuk menggambarkan rasa ketakutan yang dirasakan sang kakak.

Sambil  menunggu keputusan pemerintah pusat akan nasib tentara kulit hitam, ia dikurung di ruang bawah tanah. Urusan memberi makan, ternyata menjadi masalah selanjutnya. Wanita yang bertugas memasak, menolak untuk memberikan makanan,  ia bahkan menyarankan salah satu dari kedua kakak-adik yang memberi makanan. Pilihannya jelas bukan! Jatuh pada sang kakak.

Rasa takutnya, berubah menjadi rasa congkak. Ternyata banyak anak-anak lain yang begitu ingin melihat tentara kulit hitam dari dekat. Keduanya dengan cerdik mengatur agar anak-anak itu juga bisa melihat dengan  "membantu"  membawa 'tong' tentara hitam dari ruang bawah tanah ke tumpukan kompos di luar. Yang dimaksud dengan 'tong' adalah wadah buang air si tentara.

Perlahan, keberadaannya mulai diterima warga desa. Ia mulai sering dibawa jalan-jalan di sekitar desa, menerima makanan langsung dari pemberi.  Ia bukan lagi dianggap sebagai bahaya, hanya penduduk yang berbeda.
"Sama seperti anjing-anjing pemburu, anak-anak, serta pepohonan, tentara kulit hitam itu telah menjadi bagian dari kehidupan desa"
Akhir kisah yang sesuai dengan dugaan saya, meski sempat merasa dugaan saya salah.  Ternyata, segala sesuatu yang terlihat indah tidaklah selalu indah. Tentara kulit hitam pada dasarnya bukanlah bagian dari warga desa. Ia tetap memiliki keinginan untuk bertahan hidup, keluar dari desa, bahkan mungkin kembali ke negaranya dengan selamat.

Judul kisah ini-Tangkapan, sangat sesuai dengan seluruh isi cerita. Karena mengisahkan tentang seorang tentara kulit hitam yang ditangkap dan bagaimana kondisi desa di mana ia tinggal sebagai tangkapan alias tahanan.

Pastinya jangan mengharapkan ada adegan peperangan, atau adu tembak seperti yang ada dalam kisah perang. Nyaris tak ada bagian yang mengisahkan tentang peperangan, meski kisahnya tentang seorang tentara yang ditangkap musuh

Untuk kover, saya tak ingat ada bagian yang mengisahkan bagaimana ia diikat seperti itu. Mungkin imajinasi saya yang tak bisa membayangkan adegan seperti itu. Atau saya yang kurang teliti membaca. Gambar helm yang ada di depan si tentara, dibuat seperti helm yang dipakai para tentara.  Namun untuk wajah anak-anak yang ketakutan sangat sesuai dengan deskripsi yang ada pada cerita.

Membaca terjemahan  tentara yang ditangkap menjadi tentara kulit hitam, rasanya memang lebih pas. Terutama untuk menghindari adanya kesan rasis. Tapi kenapa pada halaman 73 muncul kata "negro"? Mungkinkah terlewat diterjemahkan?
https://www.nobelprize.org/prizes/
literature/1994/oe/fact
s/

Apa yang dilakukan oleh anak-anak desa pada tentara kulit hitam dihalaman 56-57, sebaiknya tidak dibaca oleh anak-anak. Hal tersebut mungkin saja menjadi hal yang biasa pada kehidupan masyarakat di suatu tempat. Sama dengan yang sering dilakukan tokoh bernama Sumbing dalam kisah ini. Butuh bimbingan orang tua bagi remaja yang membaca buku ini.

Kembali, mungkin saya yang kurang teliti. Membaca buku ini sambil beberapa kali membaca secara sambil lalu, tidak menemukan perihal perang yang dimaksud dalam kisah. Apakah Perang Pasifik? Hanya disebutkan bahwa tentara musuh jatuh saja.

Sekedar saran, buku ini bukan jenis buku yang bisa dinikmati dengan cara kebut semalam. Para pelalap  buku cepat harus mengurangi kecepatan membacanya sehingga pesan-pesan yang disampaikan secara tersembunyi bisa lebih ditangkap maknanya.

Buku ini sangat perlu dibaca bagi para mahasiswa sastra Jepang secara khusus, serta pemikmat sastra secara umum. Karena memberikan pengetahuan perihal bagaimana karya sastra pada saat itu. Disamping itu, juga memberikan informasi perihal kehidupan masyarakat  Jepang ketika mengalami perang.  

Penerbit Katta yang sepertinya sering menerbitkan karya sastrawan Jepang, patut diacungi jempol dalam usahanya menerbitkan karya bermutu. Para penyuka kisah sastra Jepang tak perlu mengalami kesusahan lagi jika ingin mencari karya penulis Jepang.

Karya penulis kisah ini, Kenzaburō Ōe, banyak dipengaruhi oleh sastra Prancis dan Amerika.  Demikian juga dengan anak pertamanya Hikari, yang diangapnya telah mempengaruhi karier sastranya. Karyanya sarat isu-isu  politik dan  filosofis. Ia menerima nobel sastra namun menolak Ordo Kebudayaan Jepang.

Sepertinya Prize motivation  yang diambil dari laman berikut layak untuk dikutip.
“who with poetic force creates an imagined world, where life and myth condense to form a disconcerting picture of the human predicament today”







Sabtu, 16 Juli 2022

2022 #19: Study in Mikrolet

Penulis: Agung Al Badamy
Editor: Selfietera
Halaman: 207
Cetakan: Pertama-Oktober 2017 
Penerbit:  Phonex Publisher
Rating: 3.25/5

Hanya di tempat yang gelap sempurna, kita mampu melihat berkas cahaya.
-Study in Mikrolet, hal 105-

Buku dengan kover hitam ini juga saya peroleh dari Mas Teguh. Suatu kebetulan! Mengingat buku beliau juga didominasi dengan warna hitam. Judulnya unik, jika diterjemahkan secara harafiah menjadi Belajar di Mikrolet.

Semula saya agak ragu membaca buku ini, karena mengira termasuk buku yang biasanya dibuat untuk konsumsi remaja, ala percintaan alay. Ditambah melihat ilustrasi  mobil yang ada, jauh dari bentuk mikrolet yang dijadikan judul kisah. Jika kisahnya terkait mikrolet, kenapa ilustrasinya bukan mikrolet?

Iseng, mencoba menilik ke GRI. Ternyata ada versi lain. Ratingnya lumayan juga.  Versi yang ada di GRI sudah mempergunakan mikrolet sebagai ilustrasi. Lengkap dengan ISBN. Saya tak tahu apa berbedaan dengan yang saya miliki, namun tak ada salahnya mencoba membaca. Jika ingin mengintip versi lainnya bisa meluncur ke  sini.

Setelah Persembahan, dalam Daftar isi terlihat bahwa buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama diberi judul Undangan Kematian, yang terdiri dari beberapa sub bagian, antara lain Belajar di Mikrolet;  Petualangan Beruang Merah; Jengkol Sang Ahli Mesin; Undangan Kematian; hingga Drama Terakhir.

Sementara bagian kedua diberi judul Semarang-Sidoarjo. Terdapat 6 sub bagian, mulai dari Pak Erot;Teka-teki di Sidoarjo; Mbah Maherel, hingga Pesta Pura Durjana. Ditambah Epilog dan informasi tentang penulis.

Dikisahkan seorang pria muda-Gaston  tergesa-gesa duduk dalam mikrolet di bagian depan. Sang supir menyodorkan helm full face padanya. Suatu perbuatan yang aneh, apa gunanya helm dalam mikrolet? Ternyata memang sangat berguna jika sang supir mengemudi ala pembalap formula.

Chilock, demikian nama sang supir ternyata seorang pengamat ulung. Ia bisa mendapat informasi tentang seseorang dari hanya mengamatinya saja. Misalnya, ia tahu di mana seorang penumpang akan turun walau ia tak memberitahukan. 

Bersahabatan keduanya yang baru seumur jagung, berkembang kian menarik. Terutama ketika Gaston menemani Chilock memecahkan sebuah misteri pembunuhan atas ajakan detektif sahabatnya. Gaston yang sejak awal sudah kagum akan kemampuan deduksi Chilock kian dibuat terpesona.

Apalagi ternyata, dalam peristiwa yang sedang diselidiki tersebut, ada sosok lain yang juga memiliki kemampuan deduksi seperti Chilock. Sayangnya keduanya ternyata memiliki urusan dimasa lalu yang kurang menyenangkan.

Bagian pertama cukup menghibur. Misteri yang dibuat lumayan membuat penasaran, walau ada beberapa hal yang membuat saya harus membaca ulang beberapa uraian.  Terutama pada bagian pemecahan. Ada penjelasan yang mendadak begitu saja muncul, padahal sebelumnya tak pernah disinggung.

Sementara untuk bagian kedua, entah bagaimana meski disebutkan memang perlu dibuat, kesannya terlalu dipaksakan. Kalau pun harus dibuatkan bagian khusus yang membahas tentang salah satu sosok dalam kisah, tak perlu melebar menjadi sekian banyak halaman.

Semangat membaca  saya yang semula begitu berkobar-kobar, langsung luluh ketika membaca bagian kedua. Seakan penulis berupaya menunjukkan kemampuan menulisnya melalui  penjelasan banyak hal sedetail mungkin. Padahal ada beberapa hal yang sebaiknya dibiarkan begitu saja.

Asal mula kedua tokoh utama juga diuraikan dalam buku ini. Termasuk apa yang membuat Gaston mendadak bisa berada dalam mikrolet yang dikemudikan oleh Chilock. Keberanian Gaston untuk menerima tawaran tinggal sementara di tempat Chilock menunjukkan betapa  galau dan kacau perasaannya, hingga mau diajak tinggal bersama orang tak dikenal.

Kisah dalam buku ini, mengingatkan pada pasangan Watson dan Holmes, serta  persahabatan antara Kapten Arthur Hastings dan Hercule Poirot.  Alamat kost Chilock disebutkan Jalan Bakery nomor 122A, kamarnya berada di lantai 2. Sementara itu  Inspektur Gembret sahabatnya, mengingatkan pada Inspektur Japp.

Tapi, ada juga bagian yang mengingatkan saya pada Detektif Kogoro Mouri yang  dikenal sebagai Kogoro Tidur karena dianggap memecahkan misteri sambil tidur. Ia merupakan karakter fiksi dalam anime dan manga Detektif Conan. Meski Poirot juga melakukan pemaparan misteri dengan gaya mengumpulkan semua orang yang dianggap terlibat.

Jelas tidak bisa menyalahkan penulis jika mengambil ide dari kedua pasang tokoh detektif kenamaan tersebut. Para pencinta kisah detektif sudah sangat akrab dengan sosok keduanya. Seakan-akan detektif harus memiliki pendamping. Seperti Kapten Kosasih dan Gozali, karya S. Mara Gd. Kesempatan menerjemahkan karya Agatha Christie membuat beliau mampu menciptakan duo sosok tersebut dengan apik.

Ditambah lagi, pada kover bagian dalam ada  tulisan Penelusuran Benang Merah. Selain menunjukkan bacaan seperti apa yang digemari penulis, hal ini bisa dianggap  menunjukkan  siapa penulis kisah misteri yang mempengaruhi karyanya.

Dalam Goodreads disebutkan bahwa Penelusuran Benang Merah adalah buku pertama dari serial Sherlock Holmes karangan Arthur Conan Doyle. Dalam buku tersebut, pertama kali Dr. Watson bertemu dan berkenalan dengan Holmes. Dalam buku ini demikian juga, pertama kalinya Gaston bertemu dengan Chilock. 

Dengan judul asli A Study in Scarlet, kisah yang terbit pertama kali tahun 1887  di Beeton's Christmas Annual, bisa disebut sebagai kisah detektif pertama kali yang memperkenalkan manfaat kaca pembesar sebagai alat  bantu dalam melakukan penyelidikan.

Pada situs berikut, disebutkan bahwa cerita detektif memiliki ciri khas, yaitu ragam cerita yang mengungkapkan rahasia suatu pembunuhan. Dalam cerita detektif pertama-tama harus ada mayat atau peristiwa kematian sebagai hasil kejahatan (crime) atau pembunuhan. Untuk mencapai efek ketegangan, dalam alur pokok cerita detektif selalu diselingi flashback, yakni secara bertahap diperlihatkan apa yang menjadi motif pembunuhan dan siapa pelakunya.

Selanjutnya disebutkan bahwa dalam proses pengungkapan rahasia itu terlebih dulu diciptakan konflik berupa kesimpangsiuran atau keragu-raguan tentang siapa pelaku pembunuhan. Setiap orang yang pernah berhubungan dengan korban tak luput dari sasaran kecurigaan. 

Di akhir cerita baru ditunjukkan bahwa ternyata pelaku pembunuhan bukan orang yang disangka-sangka. Ia bisa orang terdekat dengan korban, salah satu anggota keluarganya, anak wayang yang belum balig, orang yang sudah tua renta, dan sebagainya dengan berbagai alasan yang sangat berkaitan dengan kejiwaan yang mengalami gangguan (pathologist).

Di tanah air, angkutan kota-angkot dimulai pada tahun 1943, zaman penjajahan Jepang. Tujuan semula adalah agar warga bisa bepergian dengan kendaraan bermotor.   Dalam KKBI, mikrolet/mik·ro·let/ /mikrolét/ adalah  alat angkutan umum penumpang di kota (mirip mikrobus). Mikrolet merupakan singkatan dari mikro oplet.

Hem..., jika dalam buku ini kedua tokoh utama saling bertemu, apakah ada kemungkinan muncul buku-buku selanjutnya? sayang saja jika potensi yang ada tidak diasah dan dikembangkan secara optimal.


Sabtu, 09 Juli 2022

2022 #18: Menikmati Arum Manis

Judul asli: Arum Manis
Penulis: Teguh Affandi
Editor: Mirna Yulianti
ISBN: 9786020661964
Halaman: 149
Cetakan: Pertama-Mei 2021
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Harga: Rp 75.000
Rating: 4/5

Api membesar. Suara emprit bersuitan, suara ayam berkokok ketakutan. Sesaat sebelum Kiai Toha sadar bahwa belum disaksikannya Tuhan keluar dari rumah Melly. Bila demikian, sama saja dia memerintahkan membakar Tuhan. Dia lari ke depan. Dengan surban serta gerakan tangan seadanya, Kiai Toha berusaha memadamkan api. Andung mencegah, karena takut orang suci itu jatuh mati dalam kobaran.

 - Arum Manis, hal 93-

Buku Arum Manis: Cerita Bukan tentang Cerita Kita merupakan buku perdana dari Mas Teguh, begitu saya bisa menyapa sang penulis. Setelah menempuh "kehamilan" selama 10 tahun, akhirnya "anak pertama" Mas Teguh lahir juga. Kami, para sahabat mendukung dengan cara sederhana, membeli buku versi original buku ini.

Pada halaman awal, pembaca akan menemukan  kutipan dari tokoh Patrick Star. Yups! Patrick yang ada dalam serial  Spongebob Squarepants. Jangan  biarkan hatimu berjalan menjauh, kecuali pikiranmu memiliki kaki dan mengikutinya, begitu katanyaSepertinya penulis sangat mencintai dan terinspirasi oleh tokoh bintang laut itu.

Kata pengantar dengan judul Duice et Utile  sepanjang lebih dari 5 halaman dari Budi Darma, menyambut pembaca menikmati kisah dalam buku ini. Sungguh beruntung, seorang Budi Darma masih sempat menyempatkan waktu untuk memberikan kata pengantar bagi karya perdana. Kata pengantar tersebut ditulis tahun 2019, sebelum beliau wafat.

Setelah itu,  pembaca akan menemukan aneka kisah yang secara keseluruhan terbagi dalam tiga bagian utama. Bagian pertama, Saya, berisikan  tujuh kisah. Mulai dari Tembok Apartemen yang Bicara; Arum Manis; dan Aroma Kenanga

Sementara bagian kedua diberi judul Anda, dimana terdapat  delapan kisah dalam bagian tersebut.  Hujan Mawar di Lempuyangan; Naga dalam Mulut Kartika; Perjamuan Serigala; hingga Kematian Calon Pengarang

Sedangkan bagian terakhir berjudul  Dia, memuat tujuh,  Radian dan Kulkus Barunya; Olfaktori; Angin Tak Dapat Membaca; dan Pohon Pu Tao Tua. Sebagai tambahan informasi, pada bagian akhir terdapat Riwayat Publikasi, serta informasi Tentang Penulis.

Rasanya tak perlu meragukan kepiawaian seorang Teguh dalam meracik kata. Seiring waktu,  keterampilannya meningkat, terasah dengan berbagai tempaan, yaitu tugas sebagai editor. Panjangnya riwayat publikasi karya merupakan bukti tak terbantahkan.

Setelah membaca kisah  Tembok Apartemen yang Bicara, ungkapan yang pas adalah, kecepatan gosip melebihi kecepatan cahaya. Aroma Dapur Tetangga, membuat saya tertawa karena teringat kisah seseorang. Ia lupa rumah yang berhempit membuat suara sekecil apapun bisa didengar tetangga, termasuk suara erangan nikmat saat memadu kasih.

Peristiwa di Kedai Kopi memberikan pesan agar tidak sembarangan menyalahkan  hujan sebagai penyebab bersemainya kembali cinta. Bukan salah hujan, tapi salahkan dirimu yang bertindak bodoh! 

Jemini dan Tuan Busu Klaten, mengajarkan kita untuk menghormati orang dengan tidak bisa  bersikap seenak udel. Apalagi orang itu orang yang memberi kita pekerjaan. Cari mampus saja!

Kisah Arum Manis yang diangkat menjadi judul buku ini, membuat saya tertawa dan (nyaris) menangis secara bersamaan. Tertawa karena teringat pada kekonyolan yang  (mungkin juga pernah) dilakukan saat anak-anak, serta jajanan kegemaran.

Selanjutnya (nyaris) menangis, karena membayangkan kelakukan bejat seseorang telah menimbulkan trauma berkepanjangan, bahkan menghancurkan kehidupan seorang anak kecil! Penulis berhasil meluluhlantahkan perasaan saya. Hiks... tertawa diawal, menangis kemudian.

Rasa cinta dan setia ternyata tidak abadi, bisa hilang dikarenakan hal tak terduga. Demikian kesimpulan saya setelah menamatkan kisah Aroma Kenanga. Alih-alih setia dan mendampingi istri, tokoh aku dalam kisah ini justru lebih memikirkan tentang kenanga yang tumbuh pada sosok perempuan lain. 

Dan..., masih banyak lagi kisah memukau yang bisa ditemukan dalam buku ini. Tiap kisah yang disajikan, membutuhkan seni tersendiri untuk menikmatinya. Buka pikiran untuk menikmatinya. Seperti kata Budi Darman, Fiksi bisa "tidak masuk akal" karena pengaruh imajinasi pengarangnya, dan bisa juga "masuk akal" karena pengarang tidak lain adalah produk berbagai permasalahan sosial.

Jika dicermati, banyak metafora yang akan ditemui. Mas Teguh mempergunakan aneka  buah dan sayuran. Bahkan pada tiap awal bagian, terdapat gambar apel, atau jeruk ya, serta pisang pada beberapa bagian.

Kelebihan lain adalah kisah yang ada dalam buku ini memiliki kemiripan dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin tidak semua, namun bagi saya lumayan mengalami beberapa hal. Hayo tebak yang mana he he he.

Secara keseluruhan, selain membuat perasaan saya membaca naik-turun seperti roller coaster, buku ini membuat saya melanggar beberapa aturan yang saya buat sendiri untuk menikmati sebuah buku.Dimulai dengan membaca secara berurutan, padahal biasanya untuk buku jenis ini saya akan mulai membaca dari judul kisah yang diambil menjadi judul buku.

Menurunkan kecepatan membaca, adalah langkah selanjutnya. Isi buku ini bak candu, seperti layaknya  Aroma Kenanga, ingin terus dbaca.  Tapi saya harus pandai mengatur rasa kecanduan saya. Sehingga buku ini bisa dinikmati lebih lama.

Selain hiburan, pembaca juga mendapat pengetahuan. Misalnya perihal perbedaan mangga pakel dan kueni di halaman 61. Konon di tanah air  menurut laman  berikut, terdapat 13 jenis mangga yang populer di tanah air. 

Menurut situs tersebut, mangga Kweni (dalam buku tertulis kueni)  berbentuk lonjong, dengan ujung membulat, tidak berlekuk dan berparuh. Bobotnya rata-rata 350 g, dan panjangnya sekitar 11 cm.Kulit buah halus berlilin, yang terdapat bintik- bintik berwarna putih kehijauan. Buah yang sudah masak, bagian pangkalnya berwarna hijau. Daging buah berwarna kuning, berair dan berserat kasar, beraroma khas kweni. Rasanya cukup manis dengan sedikit rasa terpenti.

Sementara mangga Pakel, buahnya lonjong, dengan panjang antara 12-15 cm. Warnanya hijau kelabu. Permukaan kulit buah terdapat bercak berwarna coklat, dan bergetah. Daging buah memiliki serat yang kasar, rasanya sedikit asam dengan sedikit rasa manis bercampur rasa terpentin. Aromanya khas yang cukup kuat. Bobot buah bisa mencapai 500 gram.

Untuk urusan kover, andai ada penilaian tersendiri, saya akan memberikan bintang 5. Kover karya Orkha Creative terbilang unik, ditambah dengan warna hitam yang menjadi latar. Mengambil mangga untuk menyesuaikan dengan judul kisah sepertinya hal yang umum akan dilakukan oleh banyak orang. 

Tapi mengubah mangga menggantikan gambar anatomi organ tubuh, sepertinya jarang dilakukan orang. Coba diingat, dalam salah satu buku pelajaran sekolah, ada gambar tentang organ dalam tubuh manusia. Gambar dalam kover ini menyerupai hal tersebut, hanya bedanya semua organ diganti dengan mangga.

Maka, saya meletakkan buku ini di atas tumpukan mangga di kedai buah, kemudian mulai memotret. Rencananya untuk dijadikan tampilan kover catatan ini. Sayangnya peristiwa kehujanan membuat foto-foto tersebut raib. Dan saya yang jadi eror, butuh waktu lumayan lama untuk bisa mencari ide lagi. Maafken Mas Teguh, padahal catatan ini sudah selesai dibuat saat launching lalu.

Saya beruntung karena ikutan pemesanan awal sehingga mendapat beberapa  bonus. Salah satu yang paling membuat saya teringat pada sosok Mas Teguh adalah lembaran Angka Kecukupan Gudrids (AKG).  Lembar yang berisikan informasi perihal jumlah cerpen dan judulnya, mengingatkan pada kebiasaan Mas Teguh untuk mempergunakan kertas sebagai pembatas buku. Jadi adaikata pembatas buku asli buku ini raib, ada cadangannya.

Tentunya kata Gudrids yang ada tidak berhubungan dengan situs pembaca Goodreads. Sekedar seru-seruan semata. Ide yang menarik sebenarnya. Pembaca jadi bisa tahu ada kisah apa saja dalam buku ini tanpa perlu membuka Daftar Isi.

Jika ada yang ingin berkomunikasi dengan Mas Teguh, bisa meluncur ke IG: Teguh Afandi, twitter:@afaditeguh, atau surel teguhafand@gmail.com.

Jadi pingin menikmati buah mangga original, yuk....