Sabtu, 02 Juli 2022

2022 #17: Kisah Seorang Perawan Desa

Judul asli: Perawan Desa
Penulis: W.R. Supratman
Editor: Bandung Mawardi
ISBN: 9786237245834
Halaman: 100
Penerbit: bukuKatta
Harga: Rp 60.000
Rating: 3/5

"Itu belum seberapa. Orang Belanda kalau dihukum di bui Semarang masih enak. Dapat makanan baik, roti dan kentang, tidur pakai bulzak, bisa belajar ini dan itu sehingga mereka malah senang sekali. Keluar dari bui ada yang bisa dapat diploma. Tetapi, orang Bumiputera, bagaimana? Kalau jadi orang rantai, belum tentu ia tidak mati."

- Perawan Desa, hal 32-

Kereta api-Sneltrein bisa dikatakan merupakan alat transportasi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Dengan tarif relatif murah dan jangkauan tempuh yang luas, tak heran jika menjadi pilihan banyak orang. Demikian juga dua orang gadis dalam kisah ini. Sitti Adminah  alias Mince dan Sarlilah alias Sarce memilih kereta api untuk berpergian ke Bandung pada Sabtu, 3 Juni. 

Perjalanan yang semula ditempuh berdua,  menjadi kian ramai  dengan kehadiran  Subagio, Seorang pria yang   menaiki kereta saat mulai melaju. Kebetulan hanya di tempat mereka masih tersedia tempat kosong, maka Subagio meminta izin untuk bergabung.  

Sepanjang jalan, mereka  menghabiskan  waktu dengan berbagai kegiatan, salah satunya mengobrol dan membaca.  Salah topik adalah tentang berita seorang Belanda bernama Van Stelan, pegawai departemen Financien yang mencuri uang milik Gouvernement dalam jumlah lumayan. Ketiganya kemudian berpisah dengan riang gembira dengan janji akan bertemu jika dapat.

Selanjutnya,  buku ini mengisahkan tentang bagaimana kehidupan masyarakat saat itu. Misalnya pada bagian IX, Desa Ciharum, mengisahkan tempat tinggal Sitti Adminah. Demikian juga dengan bagian XI, Paman Tani. 

Bagaimana perbedaan perihal pernikahan antara anak-anak Belanda dengan bangsa kita, juga dibahas dalam buku ini.  Ada juga bagian yang mengisahkan tentang sebuah peristiwa yang nyaris membuat Subagio dihajar penduduk kampung.

Mince yang  mendapat pendidikan HBS di Batavia dan hidup dalam lingkungan pergaulan Eropa, mulai merasakan kebosanan berada di kampung halaman. Tak ada teman yang bisa diajak bercakap-cakap, tak ada undangan pesta yang harus didatangi. Maka ketika Subagio datang untuk menjenguk, disambutnya dengan hati riang.

Apa yang kemudian terjadi antara keduanya, dijelaskan dengan kalimat kiasan dengan sejuta makna, membuat pembaca mengartikannya sendiri. Di situlah gadis dan pemuda itu bersenang-senangan, Bulu Badannya berdiri, atau Perasaan kedua orang muda itu baik dikira-kirakan saja. Mereka berpeluk-pelukan, bercakap-cakap, dan bercium-ciuman."

Kisah ini ditutup dengan hal yang mungkin sudah bisa ditebak oleh pembaca saat ini. Perlu diingat, saat kisah ini dibuat, gaya bercerita seperti yang digunakan oleh penulis berbeda dengan gaya bercerita yang biasa digunakan saat ini. 

Penulisan nama, Siti Adminah dan Sarlilah menjadi Mince dan Sarce, serta pembicaraan perihal  orang Indonesia yang bergaya hidup meniru bangsa Eropa, bisa kita anggap merupakan penjabaran bagaimana kehidupan sosial saat itu.  

Bagi banyak masyarakat ketika, sepertinya ada keinginan untuk meniru kehidupan bangsa Eropa. Dari sekedar nama panggilan, cara berpakaian,hingga bagaimana pandangan mereka tentang kehidupan. Seperti tokoh dalam kisah ini.

Kisah ini juga menampikan sosok penjahat. Ternyata penjahat tersebut sering dikira  sebagai seorang pribumi. Ia telah memakan banyak korban. Seorang Nyai bahkan melaporkannya juga. Hal ini seakan memberikan pesan ketidaksukaan mendalam dari penulis pada Belanda.

Surat kabar Sin Po juga disebut dalam kisah ini. Sebagai salah satu kontributor, sepertinya penulis tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa mempromosikan korannya. Termasuk juga dengan menyelipkan adegan membaca koran dalam kisah ini.

Untuk kover, kereta api dan seorang gadis, sudah sangat mengambarkan kisah yang ada dalam buku ini. Sebelum membaca, andai saya tidak membaca blurd, maka dengan melihat kover, saya akan menebak bahwa ini kisah tentang seorang gadis yang bepergian dengan kereta api.

Pakaian yang dikenakan oleh sang gadis, langsung mengingatkan pada pakaian yang dipakai para pemain di film perjuangan. Pakaian yang digunakan noni-nona Belanda. Sedangkan warna coklat, membuat kesan klasik.

Karena saya membeli saat PO, maka saya termasuk beruntung mendapatkan bonus buku Lagu-lagu Ciptaan W.R. Supratman karangan Mas Yud yang dicetak terbatas, serta sebuah  mini notes eksekutif.

Mungkin saya adalah satu dari sekian banyak orang yang tak tahu tentang novel ini. Mengenai sosok W.R. Supratman yang merupakan seorang jurnalis, sudah banyak orang yang mengetahui. Termasuk perihal bagaimana sang kakak ipar-Willem van Eldik,  membuatnya jadi menyukai musik dan piawai memainkan biola. 

Penerbit ini sempat memberitahu saya bahwa setidaknya tercatat ada  tiga roman karya  W.R. Supratman, yaitu Perawan Desa, Darah Moeda dan Kaoem Fanatiek. Perawan Desa  dicetak sebanyak 2.000 eksemplar, tapi belum sempat diedarkan sudah disita karena dianggap bacaan yang harus dimusnahkan.

Secara keseluruhan, buku ini perlu dibaca oleh mereka yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat ketika itu. Tepatnya sekitar saat Kongres Pemuda II. Bagi para sastrawan serta mereka yang bekerja dalam dunia penulisan, buku ini bisa menjadi inspirasi. Mereka yang mengagumi sosok W.R. Supratman tentunya akan menyukai buku ini.

Sang penulis, Wage Rudolf Soepratman(sering ditulis W.R. Supratman),  lahir 19 Maret 1903, wafat 17 Agustus 1938 merupakan seorang  guru, wartawan, violinis, dan komponis . Sosok  beliau  dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia, "Indonesia Raya", serta merupakan anggota dari grup musik jazz Black and White Jazz Band. 
https://holopis.com/

Hari Musik Nasional  ditetapkan berdasarkan tanggal lahir versi pertamanya, 9 Maret.  Beliau mendapat diberikan gelar sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan surat keputusan Presiden RI No.16/SK/1971 tanggal 20 Mei 1971. Melalui Surat Keputusan Presiden RI No.017/TK/1974 tanggal 19 Juni 1974 Presiden RI, beliau mendapat anugerah Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama.

Dikutip dari  https://www.kai.id, sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864. Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) menggunakan lebar sepur 1435 mm.

Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) pada tanggal 8 April 1875. Rute pertama SS meliputi Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan NISM dan SS mendorong investor swasta membangun jalur kereta api seperti Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

Selanjutnya, disebutkan juga bahwa saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki tujuh anak perusahaan/grup usaha yakni KAI Services (2003), KAI Bandara (2006), KAI Commuter (2008), KAI Wisata (2009), KAI Logistik (2009), KAI Properti (2009), PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (2015). 

Tahun 2022 ini, KAI juga mendapat banyak penghargaan, yang terbaru pada Maret 2022 adalah  Penghargaan untuk Kategori Perlindungan Konsumen di Masa Pandemi  dari  Harian Pagi Tribun Jawa Barat dalam kegiatan   Editor Choice Award.

Buku yang luar biasa!

Sumber Gambar:
https://holopis.com/

---------------------

Seperti yang pernah saya sebutkan, membaca sebuah buku dengan membuat komentar atas buku tersebut merupakan dua hal yang membutuhkan kecepatan berbeda. Saya bisa membaca dengan cepat,membuat komentar juga tak butuh lama. Tapi  mencari foto kover yang menarik, beda lagi urusannnya.

Setelah beberapa hari sebelum sampai kantor, saya sengaja turun di stasiun Pancasila. Niatnya menunggu ada dua kereta yang bersisihan, dengan buku ini berada di antara kereta tersebut. Berhasil! Tapi karena HP saya iseng ikutan mandi hujan, maka harus diopname. Beberapa foto raib! Jangan ditanya bagaimana, begitu faktanya.

Suasana hati langsung kacau, Butuh beberapa hari untuk bersemangat lagi untuk mencari foto. Walau hasilnya tak seperti foto awal. Begitulah saya, kadang suasana hati berpengaruh juga ^_^.

Rabu, 29 Juni 2022

2022 #16: Seputar Perpustakaan, Buku, dan Penerbitan

Judul asli: Perpustakaan dan Buku: Wacana Penulisan & Penerbitan
Penulis:Wiji Suwarno
Editor: Meita Sandra
ISBN: 9789792548648
Halaman: 139
Cetakan: Kedua-2020
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Harga: Rp 46.000
Rating: 3.25/5 

Perpustakaan dan buku seperti halnya keping mata uang, berbeda tapi untuk menjadi bernilai keduanya harus ada
-Perpustakaan dan Buku: Wacana Penulisan & Penerbitan hal 30-

Buku setebal 139 halaman ini  berisikan  penjabaran 3 dunia, yaitu dunia perpustakaan;  dunia buku, termasuk hak cipta buku,  bagaimana teknis menulis yang benar; serta seputar dunia penerbitan. Menarik bukan? Beberapa buku yang pernah saya baca hanya membahas tentang perpustakaan saja, teknik menulis atau hanya tentang seluk-beluk menerbitkan buku.

Terdiri 8 bagian, mulai dari Pendahuluan; Empat Pilar Perpustakaan; Buku dan Aspeknya; Terbitan Buku di Perpustakaan; Katalog,  KDT dan ISBN; HAKI;Teknik Menulis Buku; dan Memacu dan Memicu Minat Baca Dari Perpustakaan. Tentunya ditambah dengan Daftar Pustaka; Indeks; serta Biografi Penulis.

Sesuai dengan judulnya, Pendahuluan; Empat Pilar Perpustakaan, serta Terbitan  Buku di Perpustakaan isinya menekankan perihal perpustakaan serta buku yang ada dalam koleksi perpustakaan. Sementara    Buku dan Aspeknya,  serta Katalog,  KDT dan ISBN menekankan informasi seputar buku.  HAKI dan Teknik Menulis Buku memberikan informasi bagaimana hak cipta terkait dengan karya berupa buku, serta cara menulis sebuah buku. 

Bagian Memacu dan Memicu Minat Baca Dari Perpustakaan, bisa disebut merupakan bagian yang terkait dengan ketiga komponen, perpustakaan, buku, serta penerbitan. Judul yang unik, membuat saya penasaran dengan arti memacu dan memicu, kenapa harus ditulis keduanya ya?

Kata memacu menurut KBBI adalah membuat agar berlari cepat; mencepatkan, seperti tertera di  sini.  Sedangkan memicu adalah menarik  picu; menggerakkan sesuatu yang berakibat membahayakan. Lebih jelasnya ada di sini. Hem, jadi apakah kedua kata tersebut tepat digunakan? Silakan tentukan sendiri ^_^
 
Bagian yang mengulas tentang perpustakaan, membuat saya teringat pada  Ibu Luki Wijayanti, Kepala Perpustakaan UI diawal saya bergabung. Saya yang tak punya ilmu tentang perpustakaan, banyak belajar dari obralan dan arahan beliau. Berbekal dengan pengetahuan dan pengalaman seputar buku, membuat saya bekerja berdasarkan ilmu praktis alias learning by doing..

Jika kita membuka buku, ada halaman yang membuat informasi terkait buku. Dari info siapa penulis, alih bahasa jika buku terjemahan, ISBN, halaman, hingga KDT. Meski sama-sama dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional RI, keduanya merupakan hal yang berbeda.  Katalog Dalam Terbitan (KDT), memberikan deskripsi tentang buku tersebut, antara lain nama penulis; judul buku; edisi; deskripsi fisik; dan ISBN.

ISBN-International Standard Books Numbers, merupakan sederetan angka unik yang menjadi ciri sebuah buku. Bisa dikatakan, ISBN merupakan KTP-nya buku.  Dengan demikian sebuah buku menjadi mudah dibedakan dibandingkan buku yang lain. Meski demikian, saya sering menemukan buku yang ketika dicek ISBN-nya ternyata  juga dipakai buku lain.

Mengutip dari laman Perpustakaan nasional RI,  ISBN diberikan oleh Badan Internasional ISBN yang berkedudukan di London. Di Indonesia, Perpustakaan Nasional RI merupakan Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit yang berada di wilayah Indonesia. 

Selanjutnya disebutkan, Perpustakaan Nasional RI mempunyai fungsi memberikan informasi, bimbingan dan penerapan pencantuman ISBN serta KDT (Katalog Dalam Terbitan). KDT merupakan deskripsi bibliografis yang dihasilkan dari pengolahan data yang diberikan penerbit untuk dicantumkan di halaman balik judul sebagai kelengkapan penerbit.

Mengacu pada judul bagian ini, tertulis Katalog, KDT, dan ISBN, namun kenapa yang dibahas hanya KDT serta ISBN? Jika dicetak ulang lagi,  bagian ini sebaiknya disesuaikan. Bisa dengan menambahkan uraian tentang apa yang dimaksud dengan Katalog, atau mengganti judul dengan KDT dan ISBN saja.  

Unesco memberikan definisi buku sebagai,  A book is a non-periodical printed publication of at least 49 pages, exclusive of the cover pages, published in the country and made available to the public. Seiring waktu, definisi tersebut ditambah dengan  setidaknya dicetak sebanyak 50 eksemplar dan  disebarkan pada khalayak umum.
 
Sedangkan dalam UU Sistem Perbukuan yang disahkan pada 27 April 2017  pada Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 menyebutkan  Buku adalah karya tulis dan/atau karya gambar yang diterbitkan berupa cetakan berjilid atau berupa publikasi elektronik yang diterbitkan secara tidak berkala. 

Selanjutnya pada Bab II: Bentuk, Jenis, dan Isi Buku, Pasal 5 menyebutkan,  Buku cetak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan karya tulis yang berupa teks, gambar, atau gabungan dari keduanya yang dipublikasikan dalam bentuk cetak.

Pantas saya tidak pernah mendapatkan buku yang  kurang dari 49 halaman serta memiliki ISBN. Ternyata ada ketentuan khusus. Juga menjadi penengah keributan mana yang lebih baik antara buku cetak dan buku elektonik. Padahal semuanya tergantung pada kenyamanan membaca masing-masing orang (menurut saya).

Sekedar informasi, UU Sistem Perbukuan terdiri dari  XII Bab dan 72 Pasal. Bab I berisi  ketentuan umum. Bab II mengatur mengenai bentuk, jenis, dan isi buku. Bab III memuat aturan terkait hak dan kewajiban masyarakat dan pelaku  perbukuan. 

Sedangkan, Bab IV mengatur mengenai wewenang dan tanggung jawab pemerintah baik pusat dan daerah. Kemudian, Bab V memuat pemerolehan naskah buku. Bab VI mengatur tentang penerbitan, dan pencetakan Buku, serta pengembangan buku elektronik. Bab VII mengatur tata cara pendistribusian buku.

Bab VIII memuat aturan mengenai penggunaan buku. Bab IX memuat aturan terkait penyediaan buku. Bab X memberikan rambu-rambu terkait peran serta masyarakat. Adapun aturan mengenai pengawasan dicantumkan dalam Bab XI. Dan Bab XII memuat ketentuan penutup.
Menulis bukan saja sekedar menata huruf sehingga menjadi kalimat yang saling berhubungan.... Menulis adalah suatu keterampilan.
Setuju? Saya sangat setuju! Buku ini juga memberikan pengetahuan dasar apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang penulis. Bakat memang perlu, namun ada hal lain yang juga harus mendapat perhatian untuk bisa menjadi seorang penulis.

Perihal Indonesia yang disebutkan menduduki peringkat rendah terkait minat baca, sempat membuat keramaian. Hal tersebut kontras jika dibandingkan dengan animo ketika ada acara pembelian buku dengan potongan harga, serta jumlah buku yang laris manis terjual di Big Bad Wolf-BBW, terutama buku anak.

Seorang penulis muda berbakat bercerita bahwa di suatu daerah, minat baca rendah karena tidak ada buku baru yang menarik di perpustakaan setempat. Nyaris semua buku yang menjadi koleksi sudah dibaca masyarakat sekitar. Karena tak ada pengembangan koleksi, alias tidak ada buku baru, tentunya mereka malas untuk membaca.

Persoalan minat baca sebenarnya tak sesederhana itu. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Ada baiknya ketika buku ini mengalami cetak ulang, bagian Memacu dan Memicu Minat Baca Dari Perpustakaan, juga mengalami perubahan  dengan menambahkan topik atau mengulas peristiwa seputar minat baca yang sedang marak terjadi.

Terkait perpustakaan, ternyata tidak semua pustakawan menyukai kegiatan membaca. Padahal, seperti yang ditulis dalam buku ini, perpustakaan dan buku adalah dua sisi mata uang, saling melengkapi. Jika seseorang memilih menjadi pustakawan, wajar seandainya ia diharapkan menyukai kegiatan membaca, sehingga bisa melakukan pengembangan koleksi dengan cara memilih bahan pustaka (baca:buku) dengan tepat.

Hal ini berlaku bagi pustakawan yang bekerja di segala jenis perpustakaan. Beberapa pustakawan yang saya kenal berdalih bahwa tugas pustakawan tak hanya terkait buku, masih banyak hal lain. Memang betul, tapi rasanya aneh buat saya jika bekerja di tempat yang terkait buku tapi tak mencintai buku.

Beda halnya dengan mereka yang bukan pustakawan namun bekerja di perpustakaan.  Karena bisa saja mereka bertugas sebagai petugas kebersihan, atau bagian keuangan, yang tidak secara langsung berhubungan dengan tugas dan fungsi perpustakaan terkait buku.  Aneh, tapi tidak seaneh jika pustakawan yang demikian.  Ini menurut saya, jika ada yang memiliki pendapat berbeda, silakan saja ^_^.

Secara garis besar, buku ini perlu dibaca oleh para mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan. Bagi para pustakawan, buku ini bisa memberikan penyegaran pengetahuan. Sedangkan bagi para penggila buku, merupakan tambahan pengetahuan.

Pada beberapa bagian, pembahasan sebaiknya ditambah sehingga bisa memberikan pengetahuan yang lebih mendalam. Perihal DDC-Dewey Decimal Classification di halaman 60, misalnya. Minimal bisa menjadi pengetahuan tentang bagaimana mengelola buku, apalagi tersedia DDC daring.

Oh ya, sekedar berbagi bagi yang belum tahu,  teman-teman yang tak memiliki pengetahuan terkait ilmu perpustakaan namun ingin mengelola koleksi seperti perpustakaan, termasuk membuat koleksinya memiliki nomer di punggung buku-nomor panggil, bisa mencoba Slim's Senayan-Senayan Library Management System.

Sehabis membaca buku ini jadi ingin curhat. Banyak yang mengira saya adalah seorang pustakawan karena bekerja di perpustakaan (kala itu ^_^). Padahal tidak semua orang yang bekerja di perpustakaan adalah pustakawan.  

Butuh  pendidikan khusus, seperti lulus pendidikan resmi jurusan ilmu perpustakaan, atau mengikuti pendidikan seperti kursus terkait ilmu perpustakaan. Andai mereka sudah membaca buku ini, tentunya tidak akan salah.

Mau bagaimana lagi he he he. Kecintaan saya pada buku membuat saya mencintai  bekerja di perpustakaan. Penggila buku mana yang menolak bekerja dikelilingi buku? Kalau pun saat ini memilih meninggakan perpustakaan, itu karena ingin mewujudkan mimpi selanjutnya, memiliki perpustakaan sendiri plus Puri Little Women.

Buku yang menarik. 

Selasa, 21 Juni 2022

2022 #15: Kisah Cullen Post dan Quincy Miller

Judul asli: The Guardians-Para Pelindung
Penulis: John Grisham 
Barokah Ruziati
ISBN: 9786020659459
Halaman:440
Cetakan: Pertama-8 April 2022
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 107.000
Rating: 3.25/5


Kita berada di bisnis yang sama, bisa dibilang begitu. Kau Memecahkan kejahatan untuk mengurung orang. Aku memecahkan kejahatan untuk membebaskan orang.
-The Guardians-Para Pelindung, hal 293-

Kisah ini dbuka dengan sosok Duke Russell, 38 tahun,  yang sedang bersiap menikmati makan terakhir ketika ia mendapat informasi  perihal penangguhan hukuman matinya. Sang pengacara,  Cullen Post, mengaturnya menikmati santapan lezat tersebut sebelum akhirnya pihak penjara juga mendapat informasi. 

Selama empat tahun Post berjuang membuktikan Duke tidak bersalah  atas tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita bernama Emily Broone. Duke memang memiliki catatan kejahatan tapi tidak ada perihal kekerasan. Ia adalah korban salah tangkap, sementara penjahat sesungguhnya masih bebas berkeliaran di luar sana.

"Well, Mr Post, kelihatannya Anda benar. Klien Anda telah dibebaskan oleh tes DNA. Ketujuh rambut kemaluan itu milik Mr. Carter."  Vonis Duke atas dakwaan pemerkosaan dan pembunuhan tingkat satu  dibatalkan dan dicabut. Ia bebas! Sekarang giliran  penjahat sesungguhnya dihukum.

https://www.goodreads.com/book/
show/43701061-the-guardians


Cullen Post bukan sekedar pengacara, ia juga seorang pendeta Episkopal. Suatu ketika ia merasa  muak dengan kehidupannya sebagai pengacara kriminal. Dalam masa "mencari jati diri" ia bertemu dengan Vicki Gourley, pendiri Guardian Ministris yang dioperasikan di  Savannah, Georgia. Tujuan mereka adalah membebaskan  tahanan yang dianggap tidak bersalah atau salah tangkap dari hukuman.

Sejauh ini sudah lumayan klien  yang  mereka tangani. Sembilan orang berhasil mereka bebaskan, 1 orang gagal, beberapa  terbukti memang bersalah. Ada juga yang sedang dalam proses upaya pembebasan. Mereka sangat hati-hati ketika memutuskan untuk menerima klien. 

Klien selanjutnya adalah seorang pria  kulit hitam bernama Quincy Miller  yang ditahan selama 22 tahun dengan tuduhan membunuh pengacaranya, Keith Russo di Seabrook, Florida.

Bisa dikatakan Quincy Miller merupakan sosok yang direkayasa untuk dihukum demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Terbukti dengan kejadian yang nyaris membuat nyawanya hilang ketika berlangsung proses banding. Seakan ada yang tak ingin ia bebas dan pembunuh sesungguhnya tertangkap.

Bukan Post  jika menyerah begitu saja. Ia bertahan dengan segala keyakinan bahwa kliennya tidak bersalah. Berbagai cara ia tempuh untuk bisa mendapatkan banding dengan menyodorkan bukti baru, termasuk menyewa  sebuah rumah yang dianggap telah dikutuk oleh penghuni terakhirnya.

Bagian ini, meski bukan hal utama, justru merupakan bagian favorit saya. Bagaimana Post mencari bukti guna menyelamatkan Quincy Miller sementara ada perasaan tak nyaman memasuki rumah yang sudah lama kosong, tanpa ada listrik untuk pencahayaan dan dianggap terkutuk. 

Meski tak ada adegan seru seperti kisah The Client, banyak juga bagian yang bisa membuat membaca merinding. Misalnya ketika  Tyler Townsend, pengacara yang membela Quincy dalam persidangan awal  bercerita perihal penculikan yang ia alami. Dimana ia menyaksikan orang dilemparkan hidup-hidup ke mulut buaya sebagai peringatan agar tidak membela Quincy.
https://www.goodreads.com/book/
show/55215679-cartada-final


Ternyata urusan tuduhan pembunuhan terhadap Keith Russo terkait dengan hal lain. Ada hal besar yang terjadi dibalik pembunuhan itu!  Tak heran jika banyak pihak yang tak ingin kasus ini dibuka lagi. 

Saya sempat berharap ada adegan seru dan menegangkan ketika membaca bagian yang menyebutkan seseorang yang diduga bagian dari kartel hadir dalam sidang. Ternyata kisahnya bisa dianggap berlangsung dengan lebih tenang.

Keberuntungan kali ini berpihak pada keduanya. Setelah berhasil menemukan bukti-bukti yang selama ini dicari, serta mendapat bantuan dari banyak pihak yang ternyata juga memiliki kepentingan dalam kasus ini. Jika boleh meminjam istilah, menggunakan ikan kecil sebagai umpan supaya mendapatkan ikan besar.

Kisah ini mirip dengan salah satu novel penulis, The Innocent Man-Tak Bersalah yang sudah diangkat menjadi Film Seri Dokumenter Netflix. Mirip dalam arti sama-sama tentang seseorang yang dipenjara atas tuduhan yang tak pernah ia lakukan. Singkatnya, akibat salah tangkap. Dan  kedua buku tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata.

Kalimat dari The Innocent Man  yang paling membuat saya merinding sekaligus penasaran untuk membacanya adalah,
"Jika kau percaya bahwa di Amerika orang tak bersalah sampai dinyatakan bersalah, buku ini akan mengejutkanmu. Jika kau percaya hukuman mati, buku ini akan mengusikmu. Jika kau percaya sistem peradilan pidana adil, buku ini akan menyulut kemarahanmu."

Sementara dalam buku ini,  Guardian Ministries juga terinspirasi dari sosok James McCloskey, pendiri Centurion Ministries. Ada kasus yang juga menjadi inspirasi kisah di Texas. Sayangnya nasib tokoh tersebut tidak seberuntung Quincy Miller, hingga tahun 2019, permohonan bandingnya ditolak untuk kesekian kali.

Karena tak memiliki pengetahuan dalam bidang hukum, membaca karya John Grisham membuat saya mendapat tambahan pengetahuan tentang hukum. Misalnya pada halaman 21 tertera kata exoneree. Lalu ada afidavit, sumpah palsu, dan beberapa hal lagi.

Bagi mereka yang tertarik tentang hukum di Amerika, para mahasiswa hukum, buku ini layak dibaca. Karena  bisa menjadi tambahan pengetahuan selain hiburan.  Apalagi terkait bagaimana hukum diterapkan dengan benar, walau bisa saja terjadi kesalahan dalam sistem. 

Menurut buku ini, 10% dari semua orang yang dipenjara merupakan orang yang tidak bersalah. Quincy Miller bisa kita anggap merupakan salah satu sosok yang beruntung dari 10% tersebut. Tepat sekali pemberian judul buku ini. Karena Post dan teman-temannya merupakan pelindung bagi orang-orang yang mengalami nasib seperti Quincy Miller

Ah! Saya nyaris lupa berterima kasih pada sang tukang alih bahasa, Sis Uchi. Semula saya hanya bertanya bagaimana tanggapannya akan isi buku ini. Bukan sebagai penerjemah, namun sebagai pembaca. Maklum saya sempat kecewa dengan beberapa karya John Grisham yang menurut saya ngak banget.

Pertanyaan saya dijawab dengan janji memberikan satu eksemplar buku. Baiklah. Walau bagaimana saya tetap akan membuat komentar apa adanya. Dan bagi saya, buku ini memang menarik namun tak sebegitu menariknya dibandingkan karya-karya beliau yang lain.

Entah standar saya yang berubah, atau penulis sudah mengurangi urusan aksi dalam karyanya, lebih menekannya pada taktis pekerjaan dalam bidang hukum. Seperti bagaimana pengacara berusaha mencari bukti untuk membebaskan kliennya dengan cara yang lebih mengandalkan otak (sedikit otot akan menambah kisah lebih seru), atau bagaimana menggali informasi dengan tepat.

Untuk urusan kover, beberapa kover mengambil tema mobil yang melaju di jalan. Ini menunjukkan bagaimana tokoh kita, Post, banyak menghabiskan waktu di jalan, dari mengunjungi klien, hingga mencari bukti baru.  Meski ada juga yang mengambil tema lain seperti yang dlakukan penerbit Gramedia.

Satu kalimat yang tak bisa bilang dari benak saya, "Kenapa kami harus merayakan setelah seorang lelaki tak bersalah dibebaskan." Kenapa? Bukanlah wajar jika seseorang yang tak bersalah bebas, lalu kenapa harus ada perayaan?

Demikianlah kehidupan ini.























Minggu, 12 Juni 2022

2022 #14: The Ladies of Grace Adieu

Penulis: Susanna Clarke
Ilustrator: Charles Vess
ISBN: 0747587035 
ISBN13: 9780747587033
Cetakan: Oktober 2006
Halaman: 235
Penerbit: Bloomsbury UK
Rating: 3.25/5

Dasar saya teledor he he he! Buku ini termasuk dalam buku yang belum dibaca sampai tamat karena terlupa ditaruh di mana. Ditambah dengan bahasa asing, makin membutuhkan waktu bagi saya untuk menuntaskan buku ini.

Lalu kenapa nekat beli, padahal sadar diri kemampuan bahasa Inggris minim? Apalagi kalau bukan karena harga murah untuk ukuran hardcover, nama pengarang,   euforia pertama kali mengunjungi BBW (yups sudah lama kan ^_^). Plus kalimat yang ada di bagian belakang buku,
Magic, madam, is like wine and,  if you are not used to if, it will make you drunk
Susanna Clarke saya kenal melalui kisah Jonathan Strange & Mr Norrell. Kisah yang menunjukkan betapa serius penulis menggarap riset. Buku yang tak terlupakan dengan catatan kaki yang berjibun!

https://www.goodreads.com/book/
show/24936370-damy-z-grace-adieu
Secara keseluruhan, terdapat delapan cerita dalam buku ini Mulai dari The Ladies of Grace Adieu; On Lickerish Hill; Mrs Mabb; The Duke of Wellington Misplaces His Horse; Mr Simonelli, or the Fairy Widower; Tom Brightwind, or How the Fairy Bridge was Built at Thoresby; Antickes and Frets;  hingga John Uskglass and the Cumbrian Charcoal Burner. 

Oh ya, sebelum menikmati kisah-kisah yang ada dalam buku ini, pembaca disambut dengan semacam pengantar oleh  Professor James Sutherland, Director of Sidhe Studies, University of Aberdeen.

Karena ini antologi, maka saya mulai dengan membaca kisah yang juga dijadikan judul buku ini, kisah The Ladies of Grace Adieu, baru dilanjutkan kisah-kisah lainnya, tergantung suasana hati ketika memilih.

Sihir kembali menjadi topik dalam buku ini. Tiga orang wanita, 
Cassandra Parbringer, Nona
  Tobias, dan Nyonya Fields bisa disebut sebagai orang yang memahami dan bisa mempraktekan sihir. Suatu yang hal yang dianggap tak bisa bagi wanita pada abad ke-19 di Gloucestershire.
https://www.goodreads.com/
book/show/35174142--

Secara tak langsung, kisah ini juga berhubungan dengan karya Susanna Clarke yang lain. Pada kover buku bahkan dituliskan secara jelas  bahwa pengarang buku ini adalah pengarang yang sama dengan yang membuat kisah Jonathan Strange & Mr Norrell.

Meski demkian, jangan minta saya untuk cek pada halaman berapa mereka disebutkan dalam seri itu ya, bisa pegal mengecek begitu banyak catatan kaki^_^.  Masih ingatkan berapa banyak catatan kaki yang ada dalam buku tersebut? Fantastis!

Sementara kisah  On Lickerish Hill  bisa dianggap sebagai pelesetan dari kisah Rumplestiltskin yang dipopulerkan oleh Grimm Bersaudara. Jika dalam kisah asli diceritakan perihal seorang gadis yang berhasil memintal jerami menjadi emas berkat bantuan seorang bertubuh kerdil, maka berbeda dengan yang ada dalam kisah ini. Oh ya cerita 
Rumplestiltskin bisa dibaca di sini.

Membaca kisah The Duke of Wellington Misplaces His Horse,  yang mengambil setting salah satu buku karangan Neil Gaiman yang terkenal, Stardust, membuat saya ingin membaca ulang buku tersebut. Dalam buku tersebut,  Charles Vess juga menjadi ilustratornya.  
https://www.goodreads.com/book/
show/42939005-les-dames-de-gr-ce-adieu

Tanpa membaca keterangan yang ada pada awal kisah, para penikmat kish fantasi pasti bisa menebak ketika membaca kalimat berikut, " The People of the village of Wall in_ shire are celebrated for their independent spirit, It is not their way to how down before great men.... In late September of that year the Duke happened to spend one night at The Seventh Magic in Wall...."

Saya penasaran, kenapa belum ada yang menerjemahkan dan menerbitkan buku ini ya? Atau sudah ada tapi saya tidak tahu. Mengintip Goodreads, buku ini telah mendapatkan beberapa apresiasi, yaitu Locus Award Nominee for Best Collection (2007), World Fantasy Award Nominee for Best Collection (2007), Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Adult Literature (2007).

Sementara penulis sendiri, juga telah memperoleh banyak apresiasi atas karya-karyanya.  Ada Mythopoeic Award for Adult Literature untuk karyanya Jonathan Strange & Mr Norrell (2005),  British Book Awards Newcomer of the Year Award-Best new author (2005), serta Women's Prize for Fiction untuk karyanya Piranesi (2021).

Sungguh, saya berharap ada penerbit yang mau menerbitkan versi terjemahan.  Tak menutup kemungkinan, versi terjemahan mendapat bintang lebih he he he. Para penikmat kisah fantasi di tanah air, tentunya akan menyukai kisah ini, seperti mereka menyukai kisah Jonathan Strange & Mr Norrell.





Jumat, 27 Mei 2022

2022 #13: Kumpulan Dongeng Untuk Penulis

Penulis: Lawrence Schimel
Alih bahasa: Ronny Agustinus
ISBN: 9786020788272
Halaman: 38
Cetakan: Pertama-Maret 2022
Penerbit: Marjin Kiri
Harga: Rp 32.000
Rating:  4.25/5

Entah itu dari orang tua atau guru, saudara, atau pasangan, kadang hanya butuh satu tusukan duri kecil kritik untuk menidurkan seorang penulis yang hendak mekar itu selama seratus tahun, seumur hidup, untuk sekian lama sampai tak ada lagi pangeran yang tersisa buat membabat semak-semak duri itu. Atau kalau memang ada si pangeran, dia tidak bisa membayangkan bahwa dia perlu repot-repot untuk itu.

-Kumpulan Dongeng Untuk Penulis, hal 8-

Banyak cara untuk tertarik pada sebuah buku. Salah satunya dari judul. Begitu menemukan promosi tentang buku ini dari penerbit di media sosial, saya sudah tertarik untuk memiliki buku ini.  Dongeng seperti  apa yang  akan disajikan oleh penulis dalam buku ini? Apakah mengusung penulis sebagai tokoh, atau dongeng yang ditulis ulang menurut versi penulis? Penasaran.

Dasar saya, kadang keinginan berbanding lurus dengan ingatan untuk eksekusi. Ingin memiliki, namun sering kelupaan untuk order. Untung menemukan pada salah satu lapak langganan. Oh ya,  yang tertarik  tapi malas keluar rumah, atau sering lupa pesan buku ciamik seperti saya,  bisa langsung menuju ke laman berikut..

Begitu mendarat, langsung menemukan kekurangan buku ini! Halamannya terbilang tipis, hanya 38 halaman. Hal menarik apa yang bisa disampaikan "hanya" dalam 38 halaman? Tentunya butuh keterampilan mumpuni untuk membuat  38 halaman menjadi  kisah menawan. Penulisnya juga baru saya kenal.  Menggoda!

Menilik kover,  membuat  teringat pada dongeng Putri Salju dan Tujuh Kurcaci, Rapunzel, Si Itik Buruk Rupa, Jack dan Kacang Ajaib, Si Kerudung Merah serta Putri Duyung (The Little Mermaid) tanpa perlu membaca blurd  (itu sih saya ^_^).  Gambar yang ada di bagian bawah, apel yang  seakan menutupi laptop, membuat saya langsung teringat merek yang mempergunakan lambang apel yang digigit pada salah satu sisi.

Pada Daftar Isi, saya menemukan ada 13 kisah dalam buku ini. Semakin menarik!  Artinya ada 13 kisah dalam 38 halaman. Mulai dari kisah Putri Duyung; Sinderella; Pohon Jintan; Putri dan Kacang Polong; hingga Jack dan Pohon Buncis.  

Butuh beberapa saat untuk mencerna judul-judul tersebut. Alih-alih Sinderella saya lebih akrab dengan Cinderella .   Jack dan Kacang Ajaib, bukan Jack dan Pohon Buncis, atau Putri Salju dan Tujuh Kurcaci bukan Putri Tidur.  Perbedaan ini  menambah keinginan untuk membaca.

Kisah Itik Buruk Rupa yang asli, berkisah tentang telur angsa yang entah bagaimana dierami dan menetes bersama anak itik. Ia dianggap berbeda dan buruk rupa hingga bertemu dengan keluarga aslinya. 

Para penggila buku, sering dianggap sosok yang aneh, jauh dari keren. Banyak film yang menggambarkan penggila buku (dan pustakawan) sebagai sosok yang lemah, berkaca mata tebal, sering gugup jika berada dalam keramaian, sukar diajak bercakap-cakap, dan tak modis. 

Tapi, seorang penggila buku tak selamanya begitu. Seorang penyanyi K-Pop dikenal suka membaca. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca.  Tiap buku yang ia baca langsung laris dipasaran. Versi terjemahan, bermunculan di negara tempat fansnya berada.
https://www.goodreads.com/book/
show/819034.Fairy_Tales_for_Writers

Para penggila buku, seperti juga si itik buruk rupa, akan berubah menjadi sosok yang anggun jika berada bersama sesama penggila buku. Bukan salah mereka jika terlihat "berbeda", hanya saja kebetulan mereka berada di lingkungan yang kurang tepat semata.

Jack dan Pohon Buncis, bisa dikatakan satu-satunya kisah yang berakhir bahagia, menurut saya.  Kadang akhir yang bahagia itu memang ada, bahkan di dunia penerbitan, demikian yang tertera di halaman 37.

Jack tetap bersemangat menuliskan kisah walau sang ibu menganggapnya buang waktu. Dibawanya kisah yang ia tulis kehadapan penebit besar, ia bertemu dengan dua editor, penentu layak atau tidaknya naskah diterbitkan.

Seorang penolak, yang lain menerima dan  melupakannya  untuk sesaat sebelum akhirnya menyadari ia bisa menghasilkan telur emas lewat karya Jack. Sang ibu yang tak paham soal penulis tapi sangat paham soal uang, maju membela kepentingan Jack. Karyanya laris manis, pendapatan melebihi uang muka.

Duh, kenapa saya jadi teringat nasib naskah seseorang yang berada lebih dari setahun ditangan salah seorang editor penerbit besar. Kalau ditolak, tak ada masalah artinya memang karyanya belum memenuhi standar yang berlaku di sana. Masalahnya ia sudah diminta membuat revisi. 

Setelah revisi dilakukan, mendadak editor menjadi orang yang paling sulit dicari! Setahun tanpa khabar. Mencoba mencari tahu juga sia-sia. Untunglah ia tak kecil hati dan tetap menulis, jika tidak, bisa saja kita kehilangan sebuah karya besar yang tak akan pernah terbit karena penulisnya meratapi php yang diberikan editor tadi.

Kalimat di halaman 15 pada kisah  Sinderela, membuat saya ingin segera menuntaskan beres-beres buku yang belum atau sepertinya tak akan terbaca,

Kadang seorang teman meminjamimu rok, mengantarmu ke pesta, atau cuman menggenggam tanganmu, tindakan murah hati yang sepele, yang pada akhirnya mengubah hidupmu 
Mendapat begitu banyak perhatian dari sesama penggila buku, saya sering menerima hadiah buku. Namun dengan keterbatasan waktu, apalagi dikantor baru, sangat minim waktu yang saya miliki untuk bisa menikmati semuanya. 

Biasanya, saya tawarkan buku-buku tersebut pada para sahabat. Dengan demikian, saya berharap informasi tentang buku itu tak akan berhenti pada saya. Si penerima  bisa memberikan ulasan,  sekedar bintang di GRI atau  posting di sosmed. Sehingga karya tersebut bisa dikenal luas. 

Penerima juga bisa mendapatkan kebahagian dari buku tersebut, siapa tahu itu buku idaman tapi karena sesuatu dan lain hal ia belum bisa memilikinya. Sungguh, saya tahu sekali bagaimana rasanya ingin memiliki sebuah buku namun kondisi sedang tidak memungkinkan. Hal sepele yang mungkin bisa membuat hidup si penerima menjadi lebih baik atau lebih bahagia.


Kisah dalam buku ini merupakan dongeng yang diceritakan ulang menjadi kisah yang berbeda. Menambah  aneka kisah yang dibuat dengan cara serupa, seperti Snow White & The Huntsman (Lily Blake) dan The Lunar Chronicles (Marissa Meyer). Perbedaan dengan kisah lain adalah para tokoh dan setting  mengambil dunia penulisan dan penerbitan. 
https://www.goodreads.com/book/show/
52797829-cuentos-de-hadas-para-escritores

Meski berkesan suram dengan akhir kisah yang kurang menyenangkan, buku tidak bertujuan membuat seseorang menjadi takut  untuk menjadi penulis. Atau pembuat penulis pemula menjadi patah arang.

Sebaliknya, buku ini menjadi penyemangat. Memberikan dorongan, bahwa tak mudah memang menyelami dunia tersebut. Menjadi penulis bukan hal mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Mengetahui segala hal yang mungkin bisa terjadi, membuat seseorang akan lebih waspada.

Selain mereka yang memilih profesi sebagai penulis, para pekerja dunia buku, mereka yang memiliki ketertarikan pada dunia penulisan dan penerbitan  juga disarankan untuk ikut menikmati kisah ini. Demikian juga mahasiswa sastra, perlu membaca buku ini.

Untuk  urusan alih bahasa, siapa yang meragukan kemampuan Mas Ron. Kalimat mengalir dengan lancar, dan mudah dipahami tanpa mengurangi makna. Pembaca bisa merasakan emosi yang disampaikan penulis dengan baik.

Dalam buku ini terdapat dua ilustrasi yang terletak pada bagian depan dan akhir buku. Keduanya masih terkait dengan isi buku. Saya lebih menyukai ilustrasi yang berada di bagian belakang buku, gambar buku terbuka lalu tumbuh pohon dari bagian tengah. Menawan!

Hati senang rasanya membaca buku incaran dan menemukan isinya tak berbeda jauh dengan yang diharapkan. Secara keseluruhan buku ini layak diberikan bintang 5, karena terlalu tipis sehingga rasanya kurang puas membacanya, maka saya berikan bintang 4,25 saja

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com

Jumat, 20 Mei 2022

2022 #12: Kisah Detektif Melacak Tunangan Hilang

Judul asli: All She Was Worth-Melacak Jejak
Penulis : Miyuki Miyabe
Penerjemah : Gita Yuliani K.
Editor: Ariyanti E. Tarman
ISBN: 9786020658179
Halaman: 480
Cetakan:  Kedua-Maret 2022
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 110.000
Rating: 3.25/5

Kalau ada orang mengajukan permohonan kartu kredit atau membeli dengan angsuran, perusahaan pemeringkat kredit lebih dahulu memeriksa dengan cermat bahwa orang  tersebut tidak pernah gagal membayar kredit atau setidaknya tidak gagal membayar kredit sejumlah sangat besar
-All She Was Worth, hal 28-

Ketika seorang kerabat yang tak lama bertemu mendadak menyampaikan ingin berkunjung, maka hal tersebut menjadi   janggal.  Shunsuke Honma sudah lama-lebih dari  tiga tahun, tak bertemu dengan Jun Kurisaka. Bahkan ketika istri Honma meninggal,  ia tak datang.  Tentunya ada yang sangat penting hingga  Jun ingin bertandang.

Jun  yang  berkerja sebagai seorang bankir  membutuhkan jasa  untuk menyelidiki tunangannya yang bernama Shoko Sekine. Ia menghilang begitu saja, padahal hubungan mereka  dalam kondisi baik-baik saja.  Shoko menghilang ketika Jun menyinggung tentang kartu kredit. 

Jun ternyata hanya tahu sedikit perihal tunangannya, ini menjadi tantangan tersendiri  bagi Honma. Kebetulan, ia sedang cuti  karena kecelakaan, jadi ada waktu luang untuk membantu kerabat.

Honma hanya mendapat info bahwa Shoko  adalah seorang anak tunggal yang yatim-piatu. Ia berasal dari Utsonomiya. Informasi terakhir ia bekerja di Mesin Kantor Imai dan sempat mengalami kebangkrutan sehingga menemui pengacara Mizoguchi & Takada.

Misteri semakin berkembang, hasil penyelidikan Honma membuahkan penemuan yang luar biasa. Sosok   Shoko  yang dikenal  di Imai  ternyata berbeda dengan Shoko yang menjadi tunangan Kurisaka. Kejutan!

Jun merasa kesal, mengira Honma sedang mengada-ada. Ia memutuskan untuk menghentikan penyelidikan  hilangnya sang tunangan. Meski demikian, Honma tetap melanjutkan penyelidikan  karena rasa penasaran. Ia merasa ada misteri yang lebih besar dari sekedar menghilangnya seorang gadis.

Penyelidikan selanjutnya mengarahkan Honma pada perusahaan bernama Rosaline, pengecer pakaian dalam import yang melakukan transaksi melalui pos, barang mewah dengan harga terjangkau. Dari penyelidikan di sana, sedikit demi sedikit misteri terkuak.

Buku ini penuh dengan kejutan!
Lalu apa hubungannya antara dua orang yang berbeda namun mempergunakan identitas yang sama dengan perusahaan pengecer pakaian dalam import, serta dengan kuburan burung peliharaan saat kecil? Semuanya ada dalam kisah ini ^_^.

Meski bagian awal alur kisah mengalir dengan cepat, namun akan terasa sedikit membosankan dibagian tengah. Hal ini dikarenakan banyak terdapat uraian terkait dengan kegiatan ekonomi  dan  politik yang terjadi di Jepang pada era 90-an. Pembaca diharap sabar.

Hidup di Jepang, dalam kisah ini di Kota Tokyo, tidak seindah yang sering terlihat di aneka film atau drama. Masyarakat di sana cenderung konsumtif.  

Dengan pendapatan yang tidak seberapa, tak sedikit yang berusaha memenuhi gaya hidup dengan meminjam uang. Seakan tak peduli dari mana sumber uang asal gaya hidup impian bisa tercapai. Mereka yang terjerat hutang kartu kredit, hingga rentenir makin bertambah.

Salah satu solusi adalah mengajukan Kebangkrutan Pribadi-menyatakan kepada kuasa hukum seseorang  tidak mampu membayar segala hutang kreditnya, Memang ia tak akan diuber-uber penagih hutang,  tapi tindakan ini juga berdampat buruk bagi dirinya. Ia akan dimasukkan dalam daftar hitam seluruh instansi perbankan serta sulit mendapatkan pekerjaan tetap.

Pada halaman 177 disebutkan bahwa di bawah undang-undang Jepang, orangtua dan anak-anak, suami dan istri berbagi kewajiban hanya atas hutang di mana ada tandatangan bersama. Maka seharusnya  penagih hutang tak bisa mengancam Shoko. Tapi begitulah penagih.

Kisah ini mengingatkan saya pada kondisi yang terjadi di sekitar kita. Terbujuk dengan iming-iming pinjaman mudah dengan bunga rendah, tak sedikit yang terjerat dengan pinjaman daring alias pinjaman online. Dengan hanya mengisi formulir melalui aplikasi, berfoto dengan memegang KTP, dalam waktu singkat pinjaman mendarat dalam rekening.

Jika tak bisa membayar cicilan, teror mulai dirasakan peminjam. Tak hanya terdapat dirinya tapi juga pada mereka yang dijadikan kontak darurat. Dahulu, malah semua kontak yang ada di HP si peminjam juga akan mendapat pesan, dari nada manis, ancaman, hingga pesan  atau gambar seronok! Depresi karena tak bisa membayar hutang dan merasa malu, bisa berujung hal yang tak diinginkan.

Setahu saya belum ada Kebangkrutan Pribadi di tanah air. Si peminjam akan tetap dicari untuk menyelesaikan urusan hutangnya. Jika ia berhasil menyembunyikan diri, pindah rumah dan kantor, ia akan masuk daftar hitam di Bank Indonesia sebagai nasabah yang bandel.

Permintaan kredit untuk urusan apapun akan sulit dipenuhi. Konon butuh 10 tahun untuk membersihkan datanya (informasi salah satu aplikasi daring yang menitipkan pesan untuk seseorang melalui wa saya).

Penagih juga  ada yang sampai mendatangi rumah kontak pribadi dan melakukan intimidasi.  Intinya tugas mereka menagih harus bisa diselesaikan dengan baik, bagaimana pun caranya. Karena pendapatan mereka tergantung dari suksesnya menagih.

Bagian yang menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan bisa mendapatkan data diri seorang, patut dicermati. Beberapa perusahaan bergerak dalam usaha menjual data, entah dari mana mereka bisa mendapatkannya. 

Saya jadi merasa perlu waspada jika ada penawaran diskon, souvernir atau iming-iming lain sebagai imbalan mengisi survei dan sejenisnya. Dipikir-pikir, murah sekali data pribadi saya jika bisa ditukar dengan voucher diskon 10% dengan minimal belanja sekian-sebagai contoh.

Oh, ya selain soal hilangnya seorang gadis, terdapat juga kisah pendamping alias kisah sisipan (menurut istilah saya) tentang hilangnya anjing kesayangan dua remaja. Bagian ini justru mengandung kalimat yang paling saya suka.

Dan kalau mereka melihat sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka menghancurkannya begitu saja. Lalu, belakangan mereka mencari alasan

Kover buku ini, dengan wajah wanita yang dibuat samar yang terbentuk dari susunan kota-kotak (begitulah maksudnya) sangat sesuai dengan isi kisah. Kita memang tidak pernah tahu siapa sesungguhnya jadi diri orang lain, baik sahabat bahkan pasangan kita.
Segala yang terlihat belum tentu sesuai dengan yang sesungguhnya. Bisa saja yang terlihat itu untuk menyamarkan suatu hal yang ingin ditutupi. Waspada  setiap saat sangat dianjurkan, namun bukan berarti harus selalu curiga pada orang.

Memuaskan rasa penasaran saya, pada GR terpampang versi cetakan pertama yang terbit tahun 2016  dengan warna merah. Saya lebih menyukai versi cetakan pertama, karena kesan misterius lebih terasa dibandingkan cetakan pertama. Meski untuk tampilan, warna merah lebih membuat mata saya melirik tumpukan buku ini.

Novel tersebut ternyata pernah dijadikan obyek penelitian untuk skripsi Bidang Ilmu Sastra Jepang. Hem, menarik juga membaca ulasan sebuah novel dengan cara yang berbeda. Pilihan  obyek penelitian yang menarik! Lengkapnya ada di sini. 

Secara keseluruhan, kisah ini layak dibaca oleh  pasangan muda, agar lebih teliti dalam memahami bagaimana sesungguhnya sosok pasangannya. apa lagi jika sudah sampai tahap pertunangan. Jangan sampai ikut terjerat urusan hutang, bahkan kasus kriminal.

Juga bagi mereka yang tertarik pada Sastra Jepang, serta perkembangan ekonomi di Asia. Juga terkait kehidupan sosial di negara Asia, lebih tepat pada kehidupan masyarakat di Jepang.

Karya ini telah mendapat apresiasi seperti Naoki Prize 直木三十五賞 Nominee (1992),  serta 山本周五郎賞 Yamamoto Shūgorō Prize (1993). Selain itu, sudah banyak negara yang menerbitkannya. 


Sumber gambar:
https://www.goodreads.com