
Khusus berisi ulasan seputar buku, tak lain dari yang berkaitan dengan buku, didedikasikan untuk para pekerja dunia buku. Sebagai ucapan terima kasih kepada para Peri Buku dan bukti eksistensi diri sebagai anggota Ordo Buntelan
Senin, 08 Maret 2021
2021 #9: Berkelana Bersama 7 Penulis Lewat Buku

Minggu, 28 Februari 2021
2021 #8: Menikmati Racikan Kata Zelfeni Wimra
Penulis: Zelfeni Wimra
Penyelia naskah: Teguh Afandi
ISBN: 9786020649856
Halaman: 153
Cetakan: Pertama- Januari 2021
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 70.000
Rating: 3,5/5
Setiap liang dalam tubuh mampu memberikan kenikmatan. Buktikan dengan memutarbulu ayam di dalam telinga. Atau mengupil hidung. Bisa juga dengan memasukkan makanan atau minuman yang enak ke dalam liang kerongkongan. Tuhan merahasiakan kenikmatan ke dalam liang-liang itu
~ Ramuan Penangkal Kiamat, Sejumlah Cerita, hal 32~
Beberapa saat yang lalu, saya ketiban buntelan dari salah seorang editor di G. Sebetulnya ia sedang WFH selama pandemi, namun karena akan ada perubahan tata ruang di kantor maka ia terpaksa berangkat ke kantor dengan kereta api pertama.
Di kantor, ia membereskan meja agar barang-barang pribadi atau dokumen terkait pekerjaan tidak tercerai-berai hingga ada tata ruang yang baru. Beberapa buku yang ada di mejanya segera meluncur ke rumah saya. Semoga sering beres-beres ya Mas X.
Sayangnya saya tak mendapatkan pembatas buku. Padahal saya penasaran apakah pembatas buku yang biasanya menjadi sisipan akan dibuat seperti kover atau ada kreasi lagi.
Terdapat sembilan belas kisah dalam buku ini. Angka yang agak aneh menurut saya, biasanya saya menemukan kumpulan cerpen-kumpulan kisah menurut buku ini, dengan jumlah yang cenderung genap. Tak masalah! Yang utama cerita yang disajikan bisa memukau pembaca.
Pembaca akan dimanjakan dengan aneka tema yang unik seperti sejarah, agama, adat, dan kehidupan masyarakat terutama di Minangkabau.
Ada kisah Jamin Tersenyum; Kopiah yang Basah; Mengasah Ludah Murai; Si Mas yang Pendusta; Rentak Kuda Manggani; Rendang Kumbang; Sihir Batu Bata; dan Tuan Alu dan Nyonya Lesung. Tentunya tak ketinggalan Ramuan Penangkal Kiamat yang menjadi judul buku ini.
Ada kalimat yang sangat bagus dalam kisah ini, bahkan menurut saya perlu diingat oleh setiap orang. Pada halaman 68 tertulis,"Amai Tuo sering mengingatkan untuk berhati-hati bila berdoa dengan kata-kata. Doa itu samaran dari perasaan tak berdaya dan kalah. Setiap yang bergerak pada jiwa dan yang bergerak pada tubuh adalah doa."
Seseorang bijak pernah berkata bahwa kata-kata adalah doa. Maka berhati-hatilah dalam mengeluarkan kata-kata, apalagi jika sedang dalam kondisi emosi. Jangan sampai sebuah doa tidak baik terucap.
Pada kisah Rendang Kumbang, pembaca akan menemukan kisah tentang seorang istri yang mendadak begitu cemburu pada sang suami. Terutama ketika melihat ada yang membuatkan teh telur bagi suaminya.
Biasanya, jika sang suami meminta teh telur, maka pada malam hari tempat tidur akan porak-poranda. Jangan-jangan... Untuk menghilangkan kegelisahan hati, ia memohon nasihat dukun pati.
Bagian ini menunjukkan bahwa seorang tokoh yang dianggap pandai, masih memiliki peran dalam kehidupan sosial masyarakat. Pada kisah ini yang dipanggil dukun pati adalah sosok yang dianggap penting.
Selain kisah tersebut, dalam buku ini juga ada kisah yang menceritakan bagaimana peran sosok yang dianggap penting dalam kehidupan bermasyarat. Ada sosok Jumin bin Kahwaini dalam kisah Bila Jumin Tersenyum; Buya Mukaram pada Gantungan Baju Buya; serta Mak Malin pada Mengasak Lidah Murai untuk dijadikan contoh.
Sepertinya sudah lama sekali saya tak mendengar (dalam hal ini membaca) tentang sulfa di halaman 31. Bubuk putih tersebut biasanya ditaburkan pada bagian tubuh yang luka setelah dibersihkan terlebih dahulu. Bagi orang awam bubuk itu dianggap memiliki kemampuan bisa menghentikan darah yang keluar dari luka, serta mencgah infeksi.
Rentang waktu penerbitan antara tahun 2007 hingga 2017. Adapun kisah Rumah Berkucing Lapar serta Ramuan Penangkal Kiamat sama sekali belum pernah dipublikasikan.
Jumat, 26 Februari 2021
2021 #7: Sebuah Kitab Yang Tak Suci
Selasa, 23 Februari 2021
2021 #6: Mengenal Sejarah Bahasa Indonesia
Dalam lima bab serta 111 halaman, pembaca akan mendapat informasi mengenai sejarah Bahasa Indonesia secara lengkap. Mulai dari kelahiran bahasa Indonesia, Kongres Pemuda I, Kongres Pemuda II, hingga Kongres Bahasa Indonesia I. Serta perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.
Sebagian besar isi buku ini menitikberatkan pada kajian masa lampau bahasa, yaitu sejarah bahasa. Pembaca akan diberikan berbagai paparan ilmiah perihal sejarah pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.
Sehingga, jika seseorang mendapati informasi yang menyebutkan bahwa tanggal 2 Mei 1926 merupakan hari lahir bahasa Indonesia, dan pengusul nama adalah M. Tabrani, sudah paham secara benar berdasarkan sejarah.
Terdapat
juga informasi mengenai perbedaan antara dialek dan ragam bahasa. Dialek merupakan variasi bahasa menurut
penutur atau pemakai bahasa. Misalnya dialek Betawi, dialek Banyumasan.
Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian. Ada dialek sosial, karena penggunanya berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan. Kemudian ada Idiolek, merupakan ciri bahasa seseorang. Entah dari lafal, gramatik atau pemilihan kata.
Pada saat usulan Muh Yamin untuk mempergunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu ditolak, tidak membuat Bahasa Melayu punah. Beberapa daerah seperti Sumatra Utara, Kalimantan Barat, dan Riau masih mempergunakannya. Demikian juga beberapa negara tetangga.
Buku
ini sangat perlu dibaca oleh para generasi muda agar paham dan makin mencintai
bahasa pemersatu bangsa. Juga bagi para penikmat sejarah dan pemerhati bahasa,
sebagai tambahan referensi.
Dari
111 halaman, uraian mengenai sejarah bahasa hanya 46 halaman, Latar Belakang Pustaka 1 halaman, Indeks 3
halaman, Tentang Penulis 1 halaman. Dengan demikian Lampiran memerlukan 60
halaman. Ada baiknya bagian uraian lebih dipertajam lagi paparannya.
Meski demikian, bagian Lampiran sungguh menarik. Ada tentang artikel atau cerita yang diambil dari aneka media massa dan tahun, iklan, serta Pembukaan Kongres Perempuan Indonesia. Sepertinya saya lebih menikmati bagian ini ^_^.
Ada beberapa kalimat yang ada di halaman 22 bisa dikatakan agak mengganggu. Mengapa harus mempergunakan kata jasa? Bukankah tiap sosok yang terlibat dalam Kongres Pemuda I dan II memiliki peranan dan jasa bagi bangsa.
Harimukti Kridalaksana, sang penulis, memiliki nama lengkap K.P.H. Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana Martanegara. Lahir di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, pada 23 Desember 1939. Merupakan seorang pakar sastra berkebangsaan Indonesia. Beliau merupakan salah satu guru besar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia serta penggagas Pusat Leksikologi dan Leksikografi.
Rabu, 10 Februari 2021
2021 #5: Cerita-Cerita Dari Pulau Buru
Salah satu tugas terbaru untuk tahun 2021 adalah membuat anotasi koleksi perpustakaan berbahasa Indonesia, singkatnya resume sebuah buku. Bagi teman-teman fungsional pustakawan, kegiatan tersebut mendapat angka kredit sebesar 0.008. Karena saya milih untuk tidak menjadi pustakawan, maka anotasi tersebut sekedar memenuhi SKP semata.
Mengusung semangat literasi, Kantor Bahasa Maluku sebagai salah satu UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan program pelatihan menulis, penerbitan antologi cerita rakyat serta gebyar literasi di Provinsi Maluku.
Pemerintah Kabupaten Buru menyambut kegiatan tersebut dengan menyelenggarakan program Gencar (Gerakan Bopolo Membaca). Salah satu wujud nyatanya adalah buku setebal 210 ini, Antologi Cerita Pulau Buru.
Berisikan 37 cerita rakyat yang ditulis oleh para guru sebagai hasil dari pelatihan penulisan kisah rakyat. Walau kisah yang ada dalam buku ini belum mencakup seluruh cerita rakyat yang ada di Pulau Buru, namun diharapkan mampu menjadi rujukan bagi penguatan pendidikan karakter siswa dan pengenalan jati diri. Tentunya juga untuk mengisi kekurangan tersediaan bahan bacaan terkait kisah rakyat dari Pulau Buru yang beredar di masyarakat umum.
Judul-judul kisah yang ada antara lain adalah Ular Siluman Gunung Tarawesi (Nurfia, S.Pd); Gunung Kakusang Garuda (Marwiah Polanunu, S.Pd); Misteri Sungai Waehaka (Kamaria, S.H); Persaudaran Nusa Laut dan Ambalau (Khatijah Suneth, S.Pd); Sebab Bernama Pantai Merah Putih (Ahmad S.Pd); Teror Buaya di Teluk Namlea (Amrus Tahir,B.A); Tsunami Di Desa Lala (Lutfi Siompo); dan lainnya.
Keseruan membaca antologi adalah kita bisa membaca kisah secara acak. Dari Daftar Isi, pembaca bisa menemukan mana kisah yang akan dibaca terlebih dahulu. Atau jika ingin membaca dari halaman awal sampai akhir secara berurut juga tak ada masalah.
Kisah pertama yang menarik perhatian saya adalah Asal Mula Pohon Kayu Putih dari Muhamad Buton. Maklum, sebagai penggemar kayu putih garis keras, segala hal terkait kayu putih akan menarik perhatian saya ^_^. Apalagi, ini merupakan kisah dari daerah tempat asal kayu putih.
![]() |
| Pulau Buru |
Senin, 08 Februari 2021
2021 #4: Keajaiban Konsultasi Dari Toko Kelontong Namiya
Cetakan: Pertama-Desember 2020
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Semula, sekedar iseng untuk menghabiskan waktu, mereka menjawab surat tersebut. Dengan berupaya berpikir bijaksana, saran yang diberikan merupakan hasil diskusi ketiganya.Belakangan, ketiganya mulai merasakan keanehan.
Pertanyaan juga hal-hal yang sepele seperti bagaimana mendapat nilai bagus tanpa belajar. Jawaban masalah yang bersifat humor seperti itu jawaban akan ditempel langsung di bawah surat pertanyaan.
Belakangan, orang dewasa juga mulai mengirimkan surat dengn meletakkan di kotak penyimpanan botol susu. Untuk masalah yang lebih serius, tentunya jawaban tidak akan ditempel di dinding
Bagi Kakek Yuji, pada dasarnya mereka yang mengirim surat ke Toko Kelontong Namiya adalah orang-orang yang ingin menceritakan masalah mereka.
Para tokoh dalam kisah ini ternyata terhubung secara tak langsung. Seorang ibu yang meninggal akibat kecelakaan lalu anaknya dirawat di rumah yatim-piatu. Di sana sang anak berteman dengan seorang gadis yang menjadi penyanyi terkenal guna mengenang jasa seorang penyanyi yang menyelamatkan adiknya dari kebakaran.
Segala hal yang dipertimbangkan dengan seksama, jika tidak akan membawa dampak yang luar biasa. Demikian pemikiran pemilik toko kelontong. Ia takut sarannya akan berdampak kurang baik, sehingga sebelum memberikan saran, ia meminta informasi lebih lengkap sebagai dasar untuk memutuskan sesuatu.
Rabu, 03 Februari 2021
2021 #3: Kisah Kehidupan Seorang Gadis Minimarket
Pertanyaan tersebut muncul begitu saya selesai membaca buku ini. Untuk bisa menyatakan diri kita "normal", maka perlu dipertimbangkan versi "normal" mana yang akan kita ikuti. Belum lagi versi yang kita pilih, tentunya memiliki banyak syarat yang harus dipenuhi untuk bisa dikatakan "normal". Acapkali, sesuatu yang normal bagi dan beberapa orang, justru menjadi hal yang aneh bagi orang lain.
Cara saya memperlakukan koleksi Little Women sebagai contoh. Dengan membungkus buku dengan plastik, lalu menempatkannya pada boks plastik dengan serap lembab, dan membuat semacam katalog, akan dianggap wajar bagi sesama penggila buku. Namun tidak begitu anggapan mereka yang kurang menyukai buku.
Demikian juga yang terjadi dengan Keiko. Baginya, kehidupan yang ia jalani adalah hal yang wajar. Daripada menangisi anak burung yang mati, lebih baik membawanya pulang untuk diolah menjadi makanan. Ia tak paham kenapa ibu dan temannya malah memilih untuk mengubur anak burung itu.

Bekerja paruh waktu selama 18 tahun sebagai pegawai minimarket, merupakan hal yang normal untuknya. Terutama sekali karena minimarket memiliki buku panduan. "Aku bisa menjadi pegawai toko berkat adanya buku panduan yang sempurna, dan tanpa panduan itu, aku sama sekali tak tahu bagaimana caranya menjadi manusia normal." Dengan demikian ia tak perlu mencari contoh untuk memenuhi standar normal, cukup dengan mengacu pada apa yang tertera pada buku panduan saja.
Sekian lama bekerja, membuat seakan-akan seluruh sel dalam tubuhnya sudah terkait dengan minimarket. Ia minum air mineral yang dibeli dari minimarket, makanan yang ia masukkan dalam tubuh juga dibeli dari minimarket. Tak jarang, mimpinya juga terkait pekerjaannya di sana. Ia bahkan merasa bisa mendengarkan "suara" minimarket.
Bagian ini membuat saya agak penasaran. Kenapa pihak manajemen tidak mengangkatnya menjadi supervisor atau apalah namanya. Kenapa setelah sekian lama bekerja, ia yang tak diberikan kesempatan untuk maju?
Apalagi pada bagian yang mengisahkan bagaimana ia secara otomatis menyusun barang di sebuah minimarket yang ia masuki sehingga membuat pembeli berbelaja barang yang semula tak terjual. Hal ini membuktikan pengalaman dan kompetensi dirinya yang sudah mumpuni. Hem..., mungkin saya yang kurang paham sistem pekerja di Jepang.
Kisah ini sebenarnya tak sesederhana dari yang kita bayangkan. Kelucuan yang ditampilkan dalam kisah ini menyimbangi keseriusan tema yang diangkat oleh penulis. Dimana pandangan masyarakat pada seseorang sering kali membuat kehidupan seseorang menjadi kacau. Seseorang yang terlihat atau memiliki pandangan berbeda, akan langsung menjadi sasaran perundungan.
Dari sisi kejiwaan, sepertinya apa yang dilakukan Keiko bisa disebut sebagai tindakan orang yang mau keluar dari zona nyaman. Ia takut menghadapi banyak hal. Sehingga ketika ia sudah merasa nyaman berada dalam kondisi tertentu, maka ia tak ingin meninggalkan rasa kenyamanan yang ia miliki. Mereka yang belajar ilmu psikologi, tentu bisa menjelaskan lebih lengkap dari pada saya ^_^.
Sebagai pelengkap kisah, penulis menghadirkan tokoh Shiraha. Bisa dikatakan ia dan Keiko saling melengkapi. Shiraha yang semula juga bekerja paruh waktu di minimarket yang sama. Shiraha dipecat karena kerjanya yang dianggap tidak baik. Selama bekerja ia juga tak menunjukkan sikap yang terpuji.
Sesungguhnya ia hanya ingin mencari jodoh. Seorang perempuan yang mau mengurus dirinya, memberikan modal untuk ide usaha impiannya. Terutama sekali untuk menjawab pertanyaan banyak orang mengenai statusnya. Jika ada yang bertanya, maka ia bisa menjawab bahwa ia punya seorang kekasih.
Mendadak saya jadi teringat pada ucapan beberapa sahabat. Ada yang mengeluh karena sering ditanya kenapa belum juga hamil padahal sudah menikah selama sekian tahun. Stres akibat sering ditanya membuatnya menjadi berulang kali gagal hamil.
Sahabat yang lain, berkisah mendapat tekanan dari keluarga karena ia dan suaminya hanya memiliki satu orang anak. Mereka diharapkan memiliki anak banyak, terutama anak laki-laki supaya ada yang meneruskan nama keluarga. Kehidupan rumah tangga mereka yang selama ini harmonis menjadi sering muncul pertengkaran, terutama sehabis menghadiri acara keluarga.

Iseng, saya mampir ke situs Goodreads untuk melihat aneka kover buku ini. Versi terbitan Gramedia memang menarik, menawarkan nuansa seorang pekerja keras yang menyerahkan keseluruh kehidupannya untuk menjadi pekerja teladan.
Sebuah buku yang perlu dibaca oleh kaum muda sehingga mereka bisa mengambil hikmah dari kehidupan Keiko. Juga oleh mereka yang ingin maju namun takut menghadapi berbagai tantangan.
Jumat, 29 Januari 2021
2021#2: Panduan Membaca
Penulis: Mortimer J. Adler, Carles Van Doren
Level kedua adalah Level Membaca Inspeksional/ Skiming/Pramembaca. Seseorang mulai bisa menjawab pertanyaan sederhana, seperti jenis buku apakah yang sedang ia baca? Apa perihal buku itu? Bagaimana strukturnya? Apa sajakah bagian-bagian buku tersebut?
Membaca dalam buku ini adalah suatu kegiatan yang serius dan membutuhkan tanggungjawab moral. Karena begitu selesai membaca, seyogyanya kita melakukan telaah pada bacaan tersebut. Jika bermanfaat, maka harus dibagikan pada banyak pihak.Jika ada hal yang perlu mendapat perhatian khusus, maka saya akan memberikan tanda (dengan post it atau sejenisnya pada halaman tersebut), lalu menuliskan hal yang dirasa penting dikertas lain dan diselipkan pada plastik penyimpanan buku tersebut. Tentunya dengan menambahkan keterangan dari halaman berapa catatan tersebut diambil.












